
"Aku gak tahu kalau Kak Raisa jago bela diri. Kakak pernah ikut latihan bela diri cabang apa?" tanya Lina
Raisa menggeleng.
"Aku gak pernah ikut belajar bela diri yang khusus seperti itu. Aku cuma belajar sendiri dari apa yang pernah aku lihat di televisi atau dari youtube atau juga yang kulihat secara langsung dengan cara mengingat-ingat gerakan, lalu aku banyak latihan duel sama teman-temanku," ungkap Raisa
"Ternyata, begitu ... " Lina memang berkata seperti itu. Namun, wajahnya terlihat tak percaya.
"Sepertinya, kemampuan yang Raisa miliki itu bakat dari lahir."
"Bakat dari lahir apanya? Jangan bicara berlebihan," kata Raisa
..."Tapi, aku memang dapat kemampuan sejak tahu kalau aku bisa menggunakan sihir. Ada yang bilang itu takdir. Apa itu juga termasuk bakat dari lahir?" batin Raisa...
"Bohong! Mana ada yang namanya bakat dari lahir. Belajar secara otodidak pun gak bakal punya kemampuan sebesar itu. Mereka semua emang berlebihan," batin Lina
"Lina, emangnya kamu gak pernah lihat adegan aksi Raisa di TV? Semua adegan aksi itu Raisa lakukan sendiri, lho ... tanpa pakai stund woman atau stundman," ujar Maura
"Oh, ya? Aku gak tahu. Aku jarang ada di rumah untuk nonton TV. Jadi, gak pernah nonton," kata Lina
"Sok pamer banget, sih!" batin Lina yang sebenarnya sangat tidak suka.
Usai pemotretan, Raisa dan Lina pun kembali berganti pakaian dengan milik mereka berdua masing-masing seperti semula. Dan akhirnya pun semuanya membubarkan diri dari studio pemotretan.
Dari studio pemotretan, Raisa dan teman-teman pergi makan bersama di restoran. Termasuk, Maura dan Nilam yang juga ikut serta.
Karena datang dalam jumlah banyak, beberapa meja dijadikan satu untuk mereka semua. Untunglah mereka dapat posisi di dekat dinding, jadi tidak akan mengganggu pelanggan lain.
"Akhirnya bisa makan juga," gumam Chilla kegirangan.
"Pasti sedari tadi isi pikiranmu hanya ada makanan," kata Ian
"Sudah, jangan ribut. Pesan saja makanannya. Aku yang akan bayar semua," ucap Raisa
"Kamu yakin bisa traktir semuanya? Apa gak bayar sendiri-sendiri aja?" tanya Maura
"Soal hitung-hitungan gampanglah ... lagi pula, gak pakai uangku semua untuk bayar. Kan, upah teman-temanku ada di dalam rekeningku. Aku bisa pakai uang mereka dulu," jawab Raisa
"Ya. Kami serahkan upah kami pada Raisa juga maksudnya untuk hal seperti ini," kata Dennis
"Aku jadi manager kamu ... sekarang kamu udah kayak jadi manager teman-teman kamu aja, Raisa," ujar Nilam
"Ya ... bisa dibilang semacam itu," sahut Raisa
__ADS_1
Usai semuanya memasan makanan, tiba-tiba saja Lina datang menghampiri mereka semua.
"Halo, Kak Raisa, Kak Rumi ... kalian juga makan di sini, ya. Kebetulan banget, aku boleh ikut gabung di sini juga, ya," ujar Lina
"Oh ... hai, Lina. Boleh kok. Silakan aja. Makin ramai, makin seru," kata Raisa
Hanya Raisa yang bicara dan menganggap seperti itu, tapi terlihat jelas jika yang lain tidak menyukai kehadiran Lina di sana.
"Lina, kamu mengikuti kami ke sini, ya?" tanya Nilam
"Enggak kok. Kan, sudah kubilang ... ini kebetulan," jawab Lina
"Ya. Kebetulan yang disengaja," gumam Nilam menyindir.
Lina pun meminta pelayan untuk menambah kursi untuknya duduk di sana bersama yang lain. Sekaligus memesan makanan untuknya.
"Suasananya jadi kayak lagi pesta, ya," ujar Lina
"Pesta apa? Pesta karena Raisa berhasil mengalahkanmu tadi?" tanya Chilla menyindir.
"Itu maksudnya apa? Kan, tadi itu cuma untuk pemotretan, bisa dibilang cuma akting. Itu bukan sungguhan," jawab Lina seraya tertawa kecil dengan canggung karena malu.
"Kenapa harus bahas itu, sih? Pasti sengaja mau bikin aku malu. Kayaknya semua teman Kak Raisa gak ada yang suka sama aku, mereka sinis semua. Aku juga gak suka kalian kok, tenang aja. Aku cuma suka sama Kak Rumi," batin Lina
"Wah ... pesanan kakak-kakak semua udah datang, ya. Kalian semua makan dulu aja, gak usah tunggu sampai makananku datang. Aku pesan terakhir, jadi mungkin pesananku datang paling akhir juga," ucap Lina
"Emangnya siapa juga yang mau nunggu sampai makanan kamu datang. Kamu juga bukan siapa-siapa di sini," batin Maura
"Selamat makan, semuanya!"
"Makanan Kak Rumi sama kayak punya Kak Raisa, ya? Apa itu makanan kesukaannya Kak Rumi?" tanya Lina
Lina bicara seolah jika itu memang makanan kesukaan Rumi, maka Raisa meniru Rumi memakan makanan tersebut.
"Bukan, ini kesukaan Raisa. Aku meminta Raisa untuk memilihkan makanan untukku dan samakan dengan punyanya. Aku suka semua yang Raisa suka," ungkap Rumi
"Ternyata, begitu ... " kata Lina
"Lagi-lagi Kak Raisa ... apa Kak Rumi suka sama Kak Raisa? Apa mereka berdua pacaran? Jangan sampai, deh! Tapi, kan, Kak Raisa bilang Kak Rumi cuma temannya. Artinya aku masih punya kesempatan," batin Lina
"Lina, gak usah panggil Rumi atau teman-temanku yang lain dengan panggilan kakak. Setahuku, usia kalian sama ... sepantaran, mereka juga bukan senior kamu. Kecuali Maura dan Nilam, kamu bisa panggil teman-temanku yang lain dengan nama mereka," ucap Raisa
"Begitu, ya. Kalau begitu, kita bisa terdengar jadi lebih akrab lagi dong Kak- maksudku ... Rumi," ujar Lina
__ADS_1
Rumi tidak menanggapi, hanya fokus pada makanannya dan Raisa yang ada di sampingnya saja.
"Memanggil kami dengan sebutan kakak, apanya? Yang ada, dia hanya tertarik memanggil Rumi saja," sindir Chilla
Lina hanya mampu tersenyum canggung.
"Omong-omong, soal pemotretan tadi ... aku kasih kesempatan lebih buat Kak Raisa, loh. Aku juga mengalah di akhir, makanya Kak Raisa bisa menang. Kan, aku menghormati Kak Raisa sebagai seniorku," ujar Lina
"Kami sudah tidak membahas tentang itu lagi supaya kau tidak malu, kau malah mengungkit hal itu lagi. Kau yang cari masalah sendiri," ucap Chilla
"Tapi, emang benar, kan ... " Lina merasa tidak mau kalah dan tidak terima.
Raisa hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Tidak benar, kau salah! Awalnya, Raisa-lah yang mengalah padamu, tapi kau malah memprovokasi gerakan Raisa dan memaksanya untuk melawanmu dengan serius. Akhirnya, kau malah berhasil Raisa kalahkan. Rencanamu gagal dan kau termakan oleh rencanamu sendiri," ucap Aqila yang sudah tidak tahan dengan sikap Lina yang seolah merendahkan Raisa.
"Mana ada orang yang mau kalah. Aku juga gak merencanakan itu semua," kata Lina
"Kau memang tidak berencana untuk kalah karena kau berpikir bisa menang melawan Raisa. Itu karena kau tidak tahu kemampuan Raisa yang sesungguhnya. Kau memang orang yang tidak mau kalah. Kau pikir Raisa tidak punya kemampuan dan akan kalah saat melawanmu. Makanya, kau mengajukan bela diri sebagai tema untuk pemotretan. Rencana awalmu adalah membuktikan bahwa kau lebih hebat dari pada Raisa. Tidak sangka, ternyata kau tidaklah lebih hebat dari pada dirinya," ungkap Morgan
"Emangnya siapa yang bakal tahu kemampuan lawan? Semua orang cuma tahu kemampuan diri sendiri," ujar Lina
"Kau salah lagi. Semua orang memang lebih tahu kemampuan dirinya sendiri dibanding orang lain ... siapa pun itu, tapi untuk melawan orang lain ... setidaknya harus mengetahui seberapa besar kemampuan lawan supaya bisa berhasil mengalahkannya. Kau tidak tahu aturan ini berarti dua hal. Yaitu, kau telah merendahkan kemampuan Raisa dan memandang tinggi dirimu sendiri," ucap Ian
"Aku gak begitu kok. Jangan salah paham. Gak ada yang kalian tahu, kalian juga gak punya kemampuan kayak Kak Raisa," kata Lina
"Wah ... ini namanya kau hanya berniat mencari muka di depan Raisa setelah diam-diam merendahkannya dan merendahkan kami semua," ujar Amon
"Lagi-lagi, kau salah, Lina. Kami juga punya kemampuan seperti Raisa. Kaulah yang tidak tahu, di tempat asal kami ... kami semua adalah jajaran polisi. Kaulah yang tidak tahu tentang kami, tapi hanya asal menduga tentang kami. Sedangkan kami hanya mendiagnosa masalah yang kau ciptakan sendiri saat melihatnya secara langsung," ucap Devan
"Sudah, jangan ribut saat makan. Kita semua harus saling menghormati dan sopan santun satu sama lain," kata Raisa
Lina pun diam merasa semua menyudutkannya. Akhirnya, pesanan makanannya datang.
"Akhirnya, makananku datang juga. Kalau begitu, aku makan dulu. Selamat makan, semuanya ... " ujar Lina
Sudah tidak bisa bicara apa pun lagi, Lina pun hanya fokus pada makanannya. Setelah selesai makan, Lina langsung pamit pergi seorang diri. Mungkin ia merasa sangat malu setelah tersudutkan tadi.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1