Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 92 - Yang Tertunda.


__ADS_3

Di sisi dunia lain.


"Akhirnya Rumi dan Raisa bisa menikah juga," kata Morgan


"Ya. Seperti yang kita semua harapkan," sahut Aqila


"Semoga pernikahan mereka berdua bisa selalu bahagia," ujar Bibi Sierra


"Ya. Semoga saja," sahut Paman Elvano


Saat itu mereka berempat baru bertemu lagi setelah dari pesta pernikahan Raisa dan Rumi. Dan mereka masih saja membicarakan tentang pasangan suami istri baru itu dan mereka semua tersenyum. Termasuk juga Paman Elvano.


Paman Elvano memang mengharapkan yang terbaik untuk kehidupan pernikahan Raisa dan Rumi karena merasa kisah cinta pasangan itu lebih kurangnya sama seperti pengalaman cintanya dengan sang istri. Paman Elvano bahkan menyempatkan diri untuk menyiapkan kejutan sebagai hadiah sederhana untuk pernikahan Raisa dan Rumi yang ia tinggalkan di rumah pengantin baru itu, yang tepatnya ditinggalkan di dalam kamar utama.


•••


Raisa langsung tercengang saat membuka pesan chat berisi foto yang mampu mengejutkannya kiriman dari Rumi.


"Apa-apaan ini? Kenapa bisa jadi ada yang seperti ini?"


Sambil menggenggam ponsel miliknya itu, dengan cepat Raisa beranjak menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai atas. Begitu sampai di lantai atas rumah, ia langsung berlarian membuka pintu kamar utama. Bersamaan dengan Raisa yang membuka pintu dan memasuki kamar utama, Rumi juga baru saja membuka pintu dan ke luar dari kamar mandi di sana.


"Rumi, apa-apaan foto yang kau kirimkan padaku itu? Bagaimana bisa kamar kita-"


Raisa terdiam, tubuhnya seolah membeku saat melihat tampilan kamar tidurnya sama persis seperti pada foto yang dikirimkan oleh Rumi padanya.


"Aku baru saja selesai mandi. Tapi, kenapa kau bertanya padaku? Memangnya bukan kau yang menyiapkan kamar dengan seluruh isi tampilannya seperti ini?" tanya Rumi


"Setelah membeli rumah ini, memang aku yang menyiapkan kamar ini dengan seluruh isinya, tapi tidak dengan yang ada di atas ranjang itu," ungkap Raisa


"Lalu, siapa yang menaruhnya di atas ranjang seperti itu?" tanya Rumi lagi.


Raisa menggeleng pelan pertanda tidak tahu.


Tidak ada yang istimewa dari isi kamar utama itu. Tampilan dekorasinya pun sederhana seperti kamar biasa pada umumnya. Namun, di atas ranjang kasur berukuran king size itu telah ditaburi kelopak bunga mawar merah berbentuk hati. Taburan kelopak bunga berbentuk hati itu pun tidak begitu istimewa, apa lagi jika berada di dalam kamar pengantin baru. Yang membuat bingung adalah siapa yang menaruh taburan bunga itu di sana? Raisa dan Rumi pun mengaku dan merasa bukan masing-masing dari merekalah pelakunya.


"Aku pikir kau yang menyiapkan tampilan ini untuk dijadikan kejutan untukku karena begitu aku masuk memang sudah seperti ini tampilannya," kata Rumi


"Aku malah berpikir sebaliknya. Aku mengira kau menyiapkan ini sebelum aku naik dan masuk ke dalam kamar ini, lalu kau menunjukkannya lewat foto yang tadi kau kirimkan padaku," ucap Raisa


"Pikirkanlah ... sebelum menikah aku lebih sering berada di rumah orangtuaku, sebelumnya kau juga sibuk mempersiapkan pernikahan kita. Selain kau dan aku yang tahu tentang rumah ini hanya-"


"Apa mungkin ini perbuatan Paman Elvano? Tapi, bagaimana dia bisa tahu kalau kita akan menggunakan kamar ini?" tanya Rumi yang mencoba menebak setelah Raisa menggantungkan kalimat ucapannya.


"Paman Elvano pasti bisa menebak kalau kita akan menggunakan kamar ini setelah aku mengajaknya berkeliling di dalam rumah ini dan saat aku mengatakan ini adalah kamar utama. Aku tidak tahu apa benar dia yang melakukannya, tapi jika bukan kau atau aku ... hanya tersisa Paman Elvano saja yang mungkin melakukannya," jelas Raisa


Dengan adanya taburan kelopak bunga berbentuk hati di atas ranjang, meski pengaruh keberadaannya hanya sekecil itu sudah bisa membuat suasana kamar itu menjadi tampak romantis. Bahkan membuat wajah Raisa merona merah karena pengaturan efek romantis di dalam kamar itu.


Mungkin penyebab rona merah pada wajah Raisa tidak hanya itu saja, melainkan juga dengan penampilan Rumi saat itu juga.


Rumi yang baru saja selesai dan ke luar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kimono itu sudah mampu membuat Raisa menjadi salah tingkah. Dengan dada milik suami tampannya yang terpampang nyata karena tidak tertutup sempurna di balik handuk kimono yang dipakai oleh Rumi saat itu mampu membuat Raisa jadi tidak fokus meski terlihat serius saat membahas siapa pelaku yang menabur kelopak bunga berbentuk hati di atas ranjang di sana.


Melihat penampilan Rumi yang seperti itu telah berhasil membuat Raisa merasa gerah seakan mabuk dan ingin segera melarikan diri dari sana untuk mengatur kembali perasaannya yang sedang kacau.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan lagi. Aku sudah selesai mencuci piring di bawah tadi dan karena kau sudah selesai mandi, kini giliranku yang akan mandi," ujar Raisa


Dengan cepat Raisa membuka pintu lemari pakaian dan menyambar pakaian tidur dari dalamnya dan dengan langkah cepat pula, Raisa bergegas menuju ke kamar mandi.


"Oh, ya, Rumi ... di dalam lemari pakaian sudah kusiapkan beberapa pakaian untukmu termasuk pakaian tidur. Jadi, segeralah berpakaian dengan benar." Setelah mengatakannya, Raisa langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci rapat pintu kamar mandi tersebut dari dalam.


Rumi tersenyum dan terkekeh pelan saat lagi-lagi melihat tingkah laku Raisa yang seolah sedang melarikan diri darinya. *emang benar kok.


Rumi pun langsung beralih membuka pintu lemari pakaian dan mencari pakaian tidur yang warnanya serasi dengan warna pakaian tidur yang Raisa bawa masuk ke dalam kamar mandi barusan. Meski hanya sekilas, Rumi sempat melihat dengan jelas warna pakaian tidur yang Raisa bawa dan ia pun menemukan pakaian tidur lelaki dengan warna yang sama, yaitu warna hijau daun.


Rumi pun memakai pakaian tidur itu dengan leluasa karena Raisa pun sedang berada di dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Raisa telah usai membersihkan diri dan kini sedang mengeringkan tubuh dan hendak memakai pakaian tidur. Setelah berpakaian, Raisa pun menatap pantulan dirinya di dalam cermin yang ada di sana.

__ADS_1


Raisa bercermin sambil memikirkan sesuatu. Dari awal masuk ke dalam kamar mandi sampai usai berpakaian setelah membersihkan diri, masih saja terbayang-bayang oleh Raisa di dalam benaknya penampilan Rumi sehabis mandi dengan handuk kimono yang masih memperlihatkan bagian dada bidangnya yang terlihat seksi.


Tak disangka lelaki muda berusia 24 tahun itu mampu membuat gadis berusia 26 tahun menjadi semakin tergila-gila hingga mabuk kepayang setelah menikah hanya dengan menatapnya. Atau mungkin itu adalah bawaan hormon setelah menikah?


Saat menikah Raisa memang telah memasuki usia 26 tahun dan Rumi telah memasuki usia 24 tahun.


Semakin memikirkan tentang suaminya membuat Raisa semakin merasa tegang.


Raisa pun beranjak ke luar dari kamar mandi setelah menenangkan pikirannya dengan penampilannya yang sudah rapi dengan menggunakan pakaian tidur berwarna hijau daun.


Begitu ke luar dari kamar mandi, Raisa melihat Rumi yang duduk bersandar pada dipan sambil meluruskan kedua kakinya di pinggir ranjang dengan menggunakan pakaian tidur yang warnanya serasi dengan warna pakaian tidurnya.


Saat kedua matanya bertemu pandang dengan sepasang mata milik Rumi, seketika saja Raisa langsung kembali merasa tegang dan gugup. Perhatiannya pun beralih pada taburan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati di atas ranjang.


"Lho, taburan bunganya masih ada di atas ranjang? Kenapa tidak kau buang saja?" tanya Raisa


Raisa pun berjalan mendekat ke arah ranjang dari sisi lain.


"Sepertinya pelaku taburan bunga ini memang Paman Elvano. Ada jejak sihir pada setiap kelopak bunga agar tidak layu. Seperti yang telah diketahui, dengan kemampuan sihir yang dimiliki Paman Elvano dapat memudahkannya menggunakan jurus sihir apa pun dengan menirunya hanya sekali lihat saja," jelas Rumi


Sepertinya Raisa tidak begitu mendengarkan perkataan Rumi karena hanya fokus pada taburan kelopak bunga di atas ranjang.


"Harusnya tadi aku merapikan dan membuang semua kelopak bunga ini dulu," gumam Raisa sambil mengumpulkan kelopak bunga yang ditabur di atas ranjang dan hendak membuangnya.


Rumi yang melihat Raisa tidak fokus padanya dan hanya fokus pada taburan kelopak bunga di atas ranjang pun bergerak menangkap dan menggenggam kedua tangan istrinya itu. Raisa pun menatap ke arah suaminya yang sudah kebih dulu menatap ke arahnya.


Wajah Raisa langsung merona merah saat bersitatap dengan sang suami. Jantungnya berdebar sangat kencang dan darahnya berdesir dengan hebat. Saat itu Rumi tersenyum ke arahnya.


"Sepertinya kau tidak harus membuang kelopak bunga itu. Kita harus menghargai usaha orang yang ingin membuat hubungan kita semakin mesra dengan meletakkan taburan bunga itu di atas ranjang ini. Siapa pun pelakunya, entah itu Paman Elvano atau bukan," ucap Rumi


Raisa pun membuang pandangannya dan sibuk menatap ke arah lain. Melihat sang istri mencoba melarikan diri darinya lagi, Rumi pun langsung menarik kedua tangan Raisa yang berada dalam genggamannya.


Saat Rumi menarik sang istri untuk mendekat ke arahnya, kelopak bunga yang sudah Raisa kumpulkan berterbangan begitu saja dari tangan cantiknya. Seolah menjadi seperti kamar itu ditaburi kelopak bunga dari atas yang membuat suasana semakin romantis.


Rumi menarik Raisa hingga masuk ke dalam dekapan hangatnya hingga wajah istrinya itu bersentuhan dengan dada miliknya yang berada di balik pakaian tidurnya itu. Membuat Raisa dapat mendengar suara detak jantung milik sang suami yang tak jauh berbeda dengan detak jantungnya.


Ternyata Rumi selalu menyadari saat Raisa yang seolah melarikan diri darinya itu. Sungguh membuat Raisa menjadi merasa malu.


"Rumi ... " Raisa berusaha melepaskan diri dari dalam dekapan Rumi. Namun, usahanya gagal dan tubuhnya kembali menegang saat Rumi meniup pelan ke arah belakang telinga kirinya.


Fyuuuhh~


Dengan udara yang dihembuskan pada bagian belakang telinga kirinya, Raisa merasa merinding disko karena memang di sanalah area sensitifnya. Raisa pun terdiam untuk menenangkan dan mengontrol dirinya yang mulai sulit untuk dikendalikan.


Rumi sudah lebih dulu mengetahui bahwa bagian belakang telinga sebelah kiri adalah bagian sensitif Raisa karena sebelum menikah dulu Rumi suka menjahili gadis yang ia cinta yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Merasa tidak ada respon dari sang istri, Rumi pun beralih menciumi bagian belakang telinga kiri Raisa yang menjadi area sensitifnya itu.


"Uhh ... " Raisa mencoba menahan suara des*han yang lolos ke luar dari mulutnya begitu saja.


Merasa sudah mulai mendapat respon meski sedikit, Rumi pun melanjutkan aksinya dengan memberikan gigitan kecil pada daun telinga kiri Raisa.


Raisa bergidik pelan karena terkejut dan merasa ada gelenjar aneh yang menyerang dari dalam dirinya. Seolah sesuatu dari dalam dirinya terasa dibangkitkan begitu saja oleh perbuatan sang suami. Namun, Raisa tidak menyangka Rumi akan bertindak berani sampai sejauh ini. Bahkan Raisa tidak tahu dari mana suami yang lebih muda 2 tahun darinya itu mempelajari perbuatan nakal seperti itu. Atau mungkin itu sudah bagian dari naluriah seorang lelaki dewasa?


"Rumi, jangan menggodaku ... " Suara Raisa terdengar lirih karena masih berusaha menahan hasratnya yang semakin tak terkendali itu.


"Tak apa. Aku hanya menggodamu, bukan orang lain. Kan, kita sudah sah," kata Rumi


"Tidak perlu malu, aku ini suamimu," sambung Rumi


Rumi pun menangkup wajah Raisa dan menegakkan kepala sang istri yang terus menunduk agar mau menatap ke arahnya.


Rumi pun mengunci kedua manik mata Raisa ke dalam tatapannya yang teduh dan sedalam samudra. Pandangan mata Raisa yang telah terkunci oleh kedua mata sang suami pun merasa dirinya seolah terkena pengaruh sihir cinta.


"Raisa, aku mencintaimu," ungkap Rumi dengan tulus dan penuh dengan kelembutan di setiap katanya.


"Aku juga mencintaimu," balas Raisa

__ADS_1


Rumi tersenyum saat mendapat respon baik dari sang istri. Raisa pun membalas dengan senyuman yang tampak sangat cantik di mata sang suami hingga Rumi merasa sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Sayang, bisakah kita melakukan hal yang sudah tertunda selama dua hari ini?" tanya Rumi


Wajah Raisa kembali merona dengan lebih merah dari pada sebelumnya saat mendengar kata hal yang ... tertunda. Perasaannya kembali menjadi tak karuan dan jantungnya berpacu dengan sangat cepat.


"Kita ini masih pengantin baru, kan?" tanya Rumi menambahkan.


"Ya." Raisa menjawab dengan malu-malu.


"Istriku, kau menjawab pertanyaanku yang mana?" tanya Rumi lagi.


"Kedua-duanya," jawab Raisa


"Benarkah, boleh? Kau mengizinkanku melakukannya malam ini juga? Atau kau masih ingin menundanya karena merasa lelah?" tanya Rumi untuk ke sekian kalinya.


"Kau tidak perlu izin dariku. Karena seperti yang kau bilang, kau ini suamiku ... kita sudah sah. Kau bisa melakukannya kapan pun kau mau karena sudah jadi tugas dan kewajibanku untuk melayanimu," jawab Raisa


"Lalu, apa kau sudah siap ... Istriku Sayang?" Sepertinya ini akan menjadi pertanyaan Rumi untuk yang terakhir kalinya.


Raisa menatap wajah Rumi dengan sendu karena malu, lalu gadis cantik itu mengangguk pelan sebagai pemberian jawaban untuk pertanyaan sang suami.


Rumi tersenyum. Lelaki tampan itu merasa sangat senang saat mendapat respon berupa lampu hijau yang paling terang untuknya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rumi mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri. Lalu, di detik selanjutnya bibir keduanya telah menyatu.


Seolah tak bisa lagi menahan hasrat yang membara, keduanya berciuman dengan sangat panas dan terkesan terburu-buru karena perasaan keduanya yang telah sama-sama menggebu-gebu. Namun, permainan keduanya tetap terasa lembut dan manis bagi satu sama lain.


Setiap inci pada bibir Raisa tak luput dari bibir Rumi yang menjamahnya dengan mesra. Tak sampai di situ, kali ini Raisa berinisiatif membuka rongga mulutnya untuk memberi ruang dan kesempatan agar Rumi bisa memperdalam ciumannya. Setelah mendapat akses jalan masuk, lidah Rumi langsung menyapu seluruh isi rongga mulut Raisa dan mengobrak-abriknya. Lidahnya mencari pasangan untuk menari bersama dan sesekali saling membelit mesra.


Nafas sepasang suami istri yang sedang bercumbu itu sama-sama terengah-engah di sela aksi keduanya.


Kedua tangan Raisa yang diletakkan pada dada milik Rumi secara tak sadar mengenggam erat pakaian yang masih bertahan membalut tubuh suaminya seiring usahanya untuk meraih oksigen yang kian menipis.


Keduanya pun saling memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri secara beriringan untuk saling memberi kesempatan untuk bernafas dan meraup oksigen di sekitar di sela-sela ciuman juga saling berbagi nafas.


Di malam yang terasa panas itu, keduanya tak lagi saling menahan diri. Des*han dan lenguh*n panjang lolos begitu saja dari mulut keduanya.


"Hahh~ Aahhh ... uhh!"


"Eumpthh ... ahh~ Haahh."


Rumi bergerak merebahkan tubuh Raisa yang semula terduduk di ranjang. Raisa pun tak melakukan penolakan dan hanya pasrah menuruti arahan sang suami.


Raisa dan Rumi memang sama-sama masih menjadi gadis dan lelaki yang bersegel sampai saat ini. Namun, sepertinya keduanya akan segera berubah menjadi wanita dan pria malam ini juga karena keduanya akan segera melakukan unboxing.


"Ahh! Rumi ... hhh~" racaunya memanggil nama sang suami di tengah permainan panas itu.


Kini Raisa telah berbaring di atas ranjang di bawah kukungan Rumi yang tatapan matanya seolah bercampur ganas dan lembut di saat yang bersamaan. Namun, sebenarnya pandangan Rumi sudah tidak jelas dan nampak buram berkabut yang menandakan dirinya sudah berhasrat tinggi.


Dan kelanjutannya adalah ...


.


.


.


Nungguin, ya?


Adegan selanjutnya dapat dibaca pada episode berikutnya.


Jumpa lagi besok ... (kalau tidak ada halangan).


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2