
Setelah kembali, Chilla langsung mengambil kue yang dibuat Raisa, Rumi, dan anak-anak. Ada dua toples kue yang tersisa dan Chilla menguasai satu toples kue untuk seorang diri.
"Kalian cicipilah kue yang kami buat sambil istirahat. Aku akan buatkan minuman untuk kalian," ucap Raisa yang bergerak bangkit menuju ke dapur.
"Aku ikut untuk membantumu, Raisa," kata Rumi yang mengekori Raisa menuju ke dapur.
"Rumi makin dekat saja dengan Raisa, sampai mengikuti ke mana pun Raisa pergi," gumam Chilla
Usai membuat minuman di dapur, Raisa kembali. Namun, Rumi-lah yang membawakan minuman yang Raisa buat dari dapur. Rumi benar-benar membantu Raisa sampai membagikan minuman pada teman-teman.
"Bagaimana dengan pengaturan yang dibuat hari ini?" tanya Raisa
"Pemimpin desa sudah dipilih, petugas dan sistem keamanan sudah dibuat. Tersisa kegiatan berpenghasilan yang masih belum ditentukan," ungkap Aqila
"Semua sesuai keinginan dan dugaanmu. Para warga menantikan bantuanmu besok. Kau pasti sudah punya rencana, kan, Raisa?" ujar Devan bertanya.
"Rencana memang sudah ada, tapi entah akan bagaimana jadinya besok. Dan aku juga masih butuh bantuan untuk besok," ucap Raisa
"Tenang saja. Kami akan membantumu besok," kata Rumi
"Ya. Walau pun pengaturan hari ini pun sudah cukup melelahkan," ujar Morgan
"Benar. Pemilihan hari ini membutuhkan waktu lama," kata Ian
"Aku tidak ikut besok, aku akan di sini saja. Aku akan buatkan makanan bersama anak-anak untuk selepas pulang kalian seperti yang dilakukan Raisa dan Rumi hari ini," tutur Chilla
"Kami semua akan pergi besok. Kau tidak apa tinggal sendiri bersama anak-anak? Kau tidak akan kewalahan bersama dan menjaga mereka?" ujar Morgan bertanya.
"Tidak akan. Aku cukup dekat dengan anak-anak. Lagi pula, masih ada Ibu pengasuh juga di dini," jawab Chilla
"Kalau begitu, terserah kau saja," kata Devan
Keesokan harinya.
Hari ini, rombongan Raisa sudah ke luar dari panti asuhan saat hari menjelang siang. Meninggalkan Chilla, mereka berenam kembali mengumpulkan warga di suatu tempat.
"Kami sebagai warga Desa Bambu sangat senang dan berterima kasih pada kalian yang sudah bersedia membantu kami dalam banyak hal. Terutama pada Raisa yang berperan penting dalam penyelamatan desa dan yang katanya akan membantu kami memilihkan kegiatan berpenghasilan yang cocok untuk desa kami hari ini. Tidak melupakan jasa lainnya juga dalam membantu desa kami, saya sebagai perwakilan dari semua warga desa berterima kasih pada kalian semua."
"Raisa, Tuan ini adalah Pemimpin Desa yang berhasil dipilih kemarin. Tuan Ednan," ungkap Morgan
"Selamat atas terpilihnya Abda sebagai Pemimpin Desa, Tuan Ednan. Harapan warga desa sekarang ada pada tangan Anda," ucap Raisa sambil menjabat tangan Tuan Ednan.
"Terima kasih atas ucapannya. Kami tidak akan menemukan akhir seperti ini kalau bukan karena bantuan kalian semua," ucap Tuan Ednan, Pemimpin Desa Bambu yang baru terpilih.
"Sudah merupakan tugas kami untuk membantu," ujar Raisa
"Mengenai bantuan untuk memilihkan kegiatan berpenghasilan yang cocok ...."
"Benar! Mengenai itu ... di pinggiran desa ini terdapat hutan yang lebat dan subur, saya berpikir hal ini karena tanah di sini yang subur. Jadi, bagaimana kalau kegiatan berpenghasilan itu adalah berkebun? Namun, untuk itu dibutuhkan lahan kosong dengan tanah yang luas," tutur Raisa
"Desa kami adalah desa terpencil yang cukup luas. Penduduknya pun tidak terlalu padat, jadi lahan tanah kosong di sini masih ada. Silakan ikuti kami ke tempat yang tepat," ujar Tuan Ednan
Pemimpin Desa dan beberapa warga pun beranjak ke suatu tanah lapang bersama Raisa dan teman-teman.
Mereka semua pun berhenti di sebuah lahan kosong yang lapang.
"Ya. Di sini cocok untuk lahan perkebunan sederhana yang akan dibuat," kata Raisa
"Sebenarnya ada satu masalah," ucap Tuan Ednan
"Apa itu?" tanya Aqila
"Kemarau yang melanda kami dua bulan lalu masih terasa dampaknya bagi kami. Sungai di sini masih terus menyusut karena mengering," Jawab tuan Ednan
"Bagaimana dengan sumur?" tanya Ian
"Sumur di sini sudah lebih dulu mengering sampai tidak ke luar air sedikit pun," jawab Tuan Ednan
"Kalau begitu, tinggal kita buat sumur yang baru," ujar Raisa
"Bagaimana caranya?" tanya Rumi
"Ian, gunakan jurus lukisan hidup milikmu. Buat hewan yang bisa menggali ke bawah tanah untuk menemukan sumber air di dekat sini, setelah itu sumur akan dibuat di atasnya," ungkap Raisa
"Aku mengerti," kata Ian
Ian langsung menggambarkan tikus tanah dengan kuas pada kertas sihirnya dan gambar itu kemudian menjadi hidup. Ian memerintah tikus tanah buatannya dengan sihir untuk menemukan sumber air di bawah tanah.
Ian berjalan menyesuaikan jalan tikus tanah buatannya di bawah tanah. Lalu, berhenti di suatu tempat dan di sana tikus tanah buatannya muncul ke permukaan dari bawah tanah.
"Sumber air ditemukan dibawah sini," ungkap Ian
"Bagus! Tidak begitu jauh dari tempat yang akan dijadikan kebun, ini akan mempermudah semuanya. Terima kasih, Ian," ucap Raisa
Setelah menemukan lokasi sumber air, Raisa bersiap membuat sumur di sana.
Raisa pun menggukanan sihir elemen tanahnya untuk membuat lingkaran dinding tepi untuk sumur. Setelah menbuat dinding tepi sumur, Raisa masuk ke dalamnya dan dengan menggunakan sihirnya melubangi tanah dengan ukuran yang sudah ditentukan. Terus memerosok ke dalam tanah.
"Raisa, lubang sumur sudah kau buat dalam. Apa sumurnya sudah mengeluarkan air?" tanya Devan
"Masih belum, tapi aku butuh bantuan!" teriak Raisa dari dalam sumur.
"Bawakan obor untuk penerangan. Di sini gelap!" pinta Raisa melanjutkan.
Di permukaan langsung membuat obor seperti yang Raisa minta. Selesai dibuat, Morgan dan Rumi masuk ke dalam sumur yang sedang Raisa buat untuk membawakan obor sebagai penerangan.
"Kami akan menemanimu di sini sambil memegangi obornya," kata Rumi
"Raisa, bukankah kau bisa menggunakan sihirmu untuk mengeluarkan api dari tanganmu sebagai penerangan?" tanya Morgan
"Aku butuh bantuan karena harus fokus membuat lubang untuk dijadikan sumur sampai ada air yang ke luar dari tanah. Aku tidak ingin pingsan karena menggunakan dua elemen sihir sekaligus saat harus bekerja keras. Kalau aku pingsan, kalian juga yang akan repot," jawab Raisa
"Baiklah," patuh Morgan
__ADS_1
"Jangan sampai itu terjadi. Kalau kau lelah, istirahat saja dulu. Jangan sampai kau pingsan sungguhan," ucap Rumi
"Tidak apa. Aku masih sanggup meneruskan," kata Raisa
"Kau pasti sangat bekerja keras. Lihatlah ... kau berkeringat banyak," ujar Rumi seraya menyeka keringat dari wajah Raisa menggunakan ujung pakaiannya.
"Oh, yang benar saja! Apa di sini aku harus menonton kemesraan kalian berdua?" gumam Morgan
Penggalian menggunakan sihir terus dilakukan. Raisa terus membuat tanah menjadi dalam sampai menemukan sumber air yang ke luar dari bawah tanah.
"Kau sudah membuat sumur ini sangat dalam. Apa benar akan ada air yang ke luar dari tanah?" tanya Morgan
Raisa tiba-tiba menghentikan sihirnya untuk membuat sumur lebih dalam.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Morgan lagi.
"Aku merasa sudah dekat dengan air, hanya perlu membuat lubang sedikit lagi," hawab Raisa
Raisa menyentuh tanah dengan kedua tangannya, lalu ia menghentakkan kakinya membuat lubang yang lebih kecil dari pada lubang yang ia buat di sekelilingnya untuk dijadikan sumur. Lubang kecil itu dibutuhkan sebagai tempat ke luarnya air yang akan memenuhi seisi sumur yang telah dibuat. Dan benar saja, dari lubang kecil yang Raisa buat mulai muncul percikan air yang ke luar dari bawah tanah. Raisa pun membuat lubang kecil itu sedikit lebih besar. Air yang memercik ke luar dari tanah pun menjadi aliran air yang lebih besar.
"Kau berhasil, Raisa! Air ke luar dari dalam tanah!" seru Morgan
"Saatnya kita ke luar dari sumur ini," kata Rumi
Rumi tak membiarkan Raisa menggunakan sihirnya lagi. Ia pun memeluk pinggang Raisa dan melompat tinggi menggunakan sihirnya untuk ke luar. Begitu pun Morgan yang ikut melompat ke luar menggunakan sihirnya.
Usaike luar dari dalam sumur, Raisa langsung melepaskan pelukan Rumi darinya dan menjauh dari lelaki itu...
"Sumur sudah dibuat, airnya pun sudah mulai ke luar, hanya perlu menunggu airnya memenuhi sumur ini. Kalian bisa tenang," ucap Raisa
"Terima kasih untuk Nona yang sudah memecahkan masalah kekurangan air kami dengan membuat sumur ini. Terima kasih banyak," ucap Tuan Ednan
Raisa pun tersenyum.
"Kalau begitu, kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan ke hal berikutnya," ujar Rumi
Raisa pun mencari tempat untuk duduk dan beristirahat. Aqila pun menariknya untuk duduk bersama.
"Kau pasti lelah, ya, Raisa? Istirahatlah dulu," ujar Aqila
"Apa kau butuh sesuatu, Raisa? Aku akan coba carikan untukmu," ujar Rumi yang menghampiri dan bertanya.
"Aku hanya ingin minum, tapi aku lupa membawa dari panti tadi," jawab Raisa
"Baik. Akan segera kubawakan air minum untukmu," kata Rumi yang langsung bergegas pergi mencari air minum untuk Raisa.
Tak butuh waktu lama, Rumi kembali membawa sebotol air minum yang langsung diberikan pada Raisa.
"Aku mendapatkannya dari rumah warga terdekat. Minumlah," kata Rumi
"Terima kasih, Rumi!" ucap Raisa yang langsung nenenggak air dari botol pemberian Rumi.
Setelah istirahat sejenak, mereka kembali untuk mewujudkan rencana membuat kebun.
"Jika, semuanya selesai lebih cepat, maka lebih baik. Setelah itu akan ada banyak waktu untuk istirahat. Jadi, tidak masalah ... " ujar Raisa
Sekarang mereka kembali ke tanah kosong yang akan dijadikan kebun. Di hadapan sudah ada lahan luas yang menanti untuk dibuat perubahan.
Raisa berlutut di tanah. Tangannya menyentuh tanah dan merabanya dengan pelan. Saat itu juga tanah di sana sudah menjadi lahan yang siap dibuat jadi perkebunan. Itu dibuat sedemikian rupa agar hasilnya baik.
"Kau butuh bantuan apa lagi, Raisa?" tanya Aqila
"Untuk saat ini tidak ada," jawab Raisa masih dengan posisi berlutut di tanah.
Raisa bersiap menggunakan sihir untuk langkah selanjutnya.
"Tunggu, yang benar saja! Masa kau mau menyelesaikan semuanya seorang diri, Raisa!?" heran Devan bertanya
Pada detik selanjutnya, tanah di hadapan sudah ditumbuhi beraneka tanaman. Itu semua Raisa lakukan dengan menggunakan sihirnya. Kebun dibagi menjadi dua macam. Di sebelah kiri ditumbuhi beberapa jenis sayur-sayuran juga beberapa pohon buah-buahan dan di sebelah kanan ditumbuhi beberapa jenis bunga.
Semua orang yang melihat apa yang sudah terjadi pun terperangah kagum. Setelah menggunakan sihirnya, Raisa pun bangkit berdiri.
"Wah, hebat sekali!"
"Kau benar-benar melakukan semuanya sendiri, ya, Raisa ... " takjub Ian
"Tidak juga. Aku juga sempat meminta bantuanmu, kan, Ian ... " ujar Raisa
"Benar, yang benar saja! Masa kau hanya meminta bantuan pada Ian untuk melakukan semuanya kali ini?!" protes Morgan
"Tidak. Setidaknya Morgan dan Rumi sempat diminta untuk membawakan obor ke dalam sumur. Yang benar-benar tidak melakukan apa pun hanya aku dan Devan," ucap Aqila
Raisa tersenyum kecil.
"Sekarang aku butuh bantuanmu, Aqila. Jurus sihirmu membuatmu bisa menirukan jenis sihir apa pun. Jadi, tolong sirami kebun ini untuk yang pertama kalinya. Dengan jumlah air yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Kau bisa, kan?" pinta Raisa
"Oh, baiklah. Aku mengerti," kata Aqila
Dengan menggunakan sihirnya, Aqila menyirami kebun untuk pertama kalinya dengan air yang ke luar dari dua jari tangannya. Ke segala arah di tanah kebun baru itu, Aqila tidak melewatkan satu titik pun daat menyirami tanaman di sana.
"Nah, sekarang sudah ada kebun ini untuk kegiatan berpenghasilan desa ini. Kebun pun sudah disirami untuk pertama kalinya secara keseluruhan. Ke depannya jagalah baik-baik kebun ini, jangan serakah saat memanen hasilnya. Kebun ini dibuat untuk kegiatan bersama seisi desa, jadi semua warga berhak atas hasil dari kebun ini," ungkap Raisa
"Di sini ada tanaman sayur-sayuran dan pohon buah yang belum berbuah, jadi butuh perawatan dari kalian sampai semuanya berbuah matang untuk dipanen. Lalu, ada tanaman bunga yang sudah mulai muncul kuncupnya, jadi mungkin kalian akan bisa memanen bunganya lebih dulu. Untuk hasilnya bisa kalian jual agar menghasilkan uang atau mungkin dikonsumsi sendiri, itu terserah pada kalian. Koordinasikan dengan semua warga desa cara yang baik dalam merawat kebun ini. Karena semua warga berhak atas hasil kebun, jadi semua warga juga harus merawat kebun dengan baik," lanjut Raisa menjelaskan.
"Kami semua tidak tahu harus mengatakan apa, tapi yang jelas kami semua sangat amat berterima kasih. Kami akan berusaha merawat kebun pemberian ini dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi, terima kasih banyak!" ucap Tuan Ednan
Semua warga yang hadir pun sibuk mengucapkan banyak terima kasih.
"Di sini sudah selesai semua, kan? Kalau begitu, kita kembali saja. Kau pasti lelah, Raisa," ujar Rumi
Raisa mengangguk kecil.
"Ternyata benar hanya aku yang tidak melakukan apa pun kali ini. Sungguh merepotkan," dumel Devan
__ADS_1
Setelah berpamitan, mereka berenam pun kembali menuju ke panti asuhan. Setibanya di panti asuhan, mereka telah disambut dengan hidangan yang dibuat oleh Chilla dan anak-anak di sana. Akhirnya mereka semua pun makan bersama.
"Besok kita istirahat selama sehari di sini, sambil berpikir kembali mungkin masih ada hal yang perlu dilakukan di Desa Bambu. Kalau memang sudah tidak ada hal yang perlu dilakukan lagi, lusa kita kembali ke Desa Daun," ucap Raisa
"Kakak-kakak sudah akan pulang?"
"Kami akan rindu pada kakak-kakak dong!"
Menanggapi itu, Raisa yang tersenyum canggung sekilas. Yang lain pun sama canggungnya dengan Raisa.
Keesokan harinya.
Setelah sarapan pagi, Raisa dan teman-teman ditarik oleh beberapa anak untuk ke luar dari panti asuhan menuju halaman di sana.
"Pelan-pelan, anak-anak! Kenapa kami ditarik ke luar seperti ini?" ujar Raisa bertanya.
"Kakak-kakak, hari ini waktunya kami ditugaskan untuk merapikan halaman. Bantu kami mengerjakannya, ya."
"Baiklah, akan kami bantu. Tapi, Raisa sudah terlalu lelah kemarin, jadi biarkan Raisa istirahat dan kami yang akan membantu kalian," ucap Rumi
"Ya, tidak apa. Kalau begitu, akan aku ambilkan tikar untuk Kak Raisa duduk di sini."
"Kalau memang harus istirahat, kenapa tidak biarkan Raisa masuk ke dalam lagi saja?" tanya Chilla
"Begini, Kak. Di dalam, sebagian anak sedang belajar dengan Ibu. Pelajaran hari ini adalah yang paling sulit mereka kuasai, mereka tidak bisa diganggu karena nanti jadi tidak fokus dan Ibu bisa marah. Biarkan mereka belajar di dalam, kita di sini saja. Kak Raisa juga tidak mungkin akan berdiam diri di dalam kamar saja, kan, karena bisa bosan."
"Kalau begitu, Raisa mungkin bisa bantu mengajari mereka," kata Aqila
"Tidak perlu!"
"Kenapa kalian terkesan sangat melarang kami untuk masuk?" selidik Morgan
"Bukan begitu!"
"Sudahlah, dengarkan saja mereka. Mungkin mereka yang di dalam memang tidak ingin diganggu dan mereka yang di sini sangat ingin kita menemani mereka," ujar Raisa
"Kami akan mengikuti ingin kalian dan tetap di sini," lanjut Raisa
"Baik! Kalau begitu, aku ambilkan tikar dulu."
Satu anak kembali masuk dan ke luar dengan membawa gulungan tikar. Lalu, ia menggelar tikar tersebut di sana.
"Kak Raisa, duduk saja di sini. Istirahat sambil lihat pemandangan kami yang sedang bekerja."
"Baiklah, terima kasih. Aku akan menyemangati kalian dari sini," ucap Raisa yang lalu duduk di atas tikar yang digelar untuknya.
"Jadi, dirimu sungguh enak, ya, Raisa ... " sindir Ian
"Sudahlah, mulai saja bekerja! Meski ini merepotkan," kata Devan
Raisa tersenyum. Ia mengerti jika Ian iri melihat Raisa bisa bersantai.
"Semangat, ya! Siapa yang lelah istirahatlah di sini bersamaku," ujar Raisa
Kecuali Raisa, yang lain pun membantu anak-anak merapikan halaman. Seperti memotong dan mencabut rumput, merapikan letak tanaman dan bunga, dan lain-lain. Sementara yang lain bekerja, Raisa berkutat dengan buku dan pulpennya.
Saat sedang asik, ada seorang anak yang menghampiri Raisa.
"Kak Raisa, sedang apa?"
"Aku sedang mencatat."
"Apa yang Kak Raisa catat?"
"Ini rincian kegiatan selama misi untuk dilaporkan pada Pemimpin Desa kami, tapi ini rahasia, ya, karena mungkin ini akan jadi kejutan bagi kakak yang lain."
"Oh, aku mengerti."
"Hei, jangan malas-malasan, dong!"
"Iya-iya, aku, kan, hanya penasaran dengan apa yang dilakukan Kak Raisa dan bertanya padanya."
"Lalu, apa yang Kak Raisa lakukan?"
"Katanya, itu rahasia."
Anak yang menghampiri Raisa ditarik oleh anak lainnya untuk kembali bekerja. Mendengar apa yang dibicarakan dua anak tersebut, kini Rumi-lah yang menghampiri Raisa.
Begitu Rumi mendekat, Raisa langsung menutup buku dan menaruh pulpen miliknya.
"Raisa, kau sedang serius menulis apa?" tanya Rumi
"Inicl ... rahasia," jawab Raisa seraya tersenyum ringan.
"Kau membuatku penasaran saja," kata Rumi
"Tunggulah, nanti kau juga akan tahu," ucap Raisa
"Kalau begitu, kau akan memberi tahu rahasiamu itu cepat atau lambat?" tanya Rumi lagi.
"Mungkin," jawab Raisa lebih singkat dari pada sebelumnya.
Raisa sudah mengatakan bahwa itu rahasia dan tidak ingin memberi tahu Rumi. Rumi pun hanya bisa diam menahan rasa penasarannya.
..."Rahasia ini mungkin tidak akan membuatmu terkejut, Rumi. Tapi, dia terlihat sangat penasaran. Apa aku beri tahu saja tentang catatan misiku ini? Toh, dia juga bukan tipe orang yang akan memberi tahu pada yang lain. Tapi, aku sudah terlanjur mengatakan padanya bahwa ini rahasia. Sudahlah, aku akan memberi tahunya jika dia bertanya lagi padaku nanti," batin Raisa...
Raisa mencatat rangkaian kegiatan selama misi karena bisa sangat berguna. Jika, nanti ia sendiri yang akan ditugaskan untuk memberi laporan misi hanya tinggal berikan catatannya saja. Jika tidak, ia bisa berikan catatannya untuk disalin oleh anggota yang lain dan pastinya yang mendapat tugas tersebut akan merasa senang. Memikirkannya saja sudah membuat Raisa merasa senang. Namun, Rumi adalah tipe orang yang tidak peduli pada hal seperti itu, jadi Raisa berpikir tidak perlu memberi tahunya karena tidak akan membuatnya terkejut.
.
•
Bersambung...
__ADS_1