
Rumi masih belum memberi tahu Raisa maksud tujuannya datang ke sana.
"Kau menemuiku sampai ke sini karena ingin apa?" tanya Raisa
"Selain karena merindukanmu, aku ingin ikut menemani keseharianmu," jawab Rumi
..."Masa Rumi datang tanpa persiapan atau tujuan apa pun?" Raisa membatin....
"Kau selalu bercerita, jika kau sibuk akhir-akhir ini. Apa kau ada acara di waktu ini?" tanya Rumi
"Sebenarnya aku ada jadwal pemotretan sebentar lagi," ungkap Raisa
"Kalau begitu, aku ikut denganmu saja," ujar Rumi
Drrt... drrttt!
Ponsel Raisa bergetar tanda panggilan masuk. Raisa pun mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Sebentar, ya. Aku terima telepon dulu," kata Raisa
Rumi mengangguk.
"Halo ...."
"Sa, jadwal pemotretan lo, kan, masih 1 jam lagi. Tapi, jam segitu gua ada pemotretan sama model lain. Karena waktunya bentrok, lo bisa datang pemotretan sekarang gak?"
"Sekarang, ya? Bisa, sih. Nilam, Maura gak bisa ikut karena ada acara lain, tapi aku mau ajak temanku ke sana. Boleh gak?"
"Pantesan tadi gua hubungin Nilam, Maura, gak ada yang angkat. Mungkin sibuk sama acaranya. Boleh kok, kalau lo mau bawa teman. Santai aja."
"Oke. Kalau begitu, aku otw ke sana sekarang, ya."
"Sip, gua tunggu. Makasih, ya."
"Ya, sama-sama."
Tut!
Sambungan telepon terputus.
"Siapa yang barusan menelepon? Otw, itu apa?" tanya Rumi
"Tadi itu bos pemotreran. Otw itu bahasa keseharian di sini. On the way, artinya menuju ke ... tempat tujuan. Seperti itu," jelas Raisa
Rumi mengangguk mengerti.
"Jadwal pemotretanku dimajukan, jadi aku harus pergi sekarang. Aku sudah bilang pada bosku ingin ajak teman. Apa kau jadi ingin ikut denganku, Rumi?" tanya Raisa
"Ya. Aku ingin ikut denganmu," jawab Rumi
Setelah ditelepon dan meminta izin pada Daffa selaku bos, Raisa pun mengajak dan membawa Rumi ke stutio pemotretan bersamanya.
"Teman lo cowok, Sa?" tanya Daffa begitu Raisa sampai di studio bersama Rumi.
"Ya. Namanya, Rumi. Gak apa, kan, dia ikut ke sini?" tanya balik Raisa.
"Gak apa kok. Santai," jawab Daffa
"Baju untuk pemotretannya udah siap, Daff?" tanya Raisa
"Udah, ada di ruang ganti. Lo bisa langsung ganti baju. Di saja juga udah ada penata rias yang siap bantu lo," jawab Daffa
"Ya udah, aku ganti baju dulu. Rumi, kau tunggu di sini, ya," ujar Raisa
Rumi mengangguk.
Raisa pun beranjak menuju ke ruang ganti untuk berganti busana sekaligus berias.
"Udah berapa lama kenal sama Raisa?" tanya Daffa membuka pembicaraan dengan Rumi.
"Lumayan lama," jawab Rumi
"Teman Raisa tipe orang yang cuek dan pendiam," batin Daffa menerka.
Rumi sibuk memerhatikan kondisi di dalam studio pemotretan tanpa memedulikan Daffa.
"Oke, Daff. Aku udah siap," kata Raisa yang baru kembali dari ruang ganti dengan profesional tanpa malu seperti dulu lagi.
Melihat Raisa berpenampilan berbeda, Rumi terpana menatapnya.
"Kayaknya, Rumi, ini bukan sekadar teman biasa. Dia menatap Raisa sambil terpesona," batin Daffa
"Oh, ya. Rumi, kenalkan dulu ... ini bosku, Daffa," ujar Raisa memperkenalkan Rumi pada Daffa selaku bosnya.
Daffa langsung mengulurkan tangannya mengajak Rumi berkenalan sambil berjabat tangan.
Rumi yang tidak mengerti dengan maksud uluran tangan Daffa pun melirik ke arah Raisa.
Raisa mengangguk sebagai isyarat agar Rumi menerima jabat tangan Daffa. Rumi pun mengikuti arahan dari Raisa dan menjabat tangan Daffa.
"Gua, Daffa."
"Rumi ...."
"Maaf, ya, Daffa. Rumi, bukan orang sini, dia dari luar. Jadi, kebiasaannya agak beda dari kita," ungkap Raisa
"Oh, pantes. Auranya aja udah beda," kata Daffa
"Aku pemotretan dulu, ya, Rumi. Kamu tunggu di sini. Ayo, Daff ... " ujar Raisa
Rumi pun menunggu sambil menyaksikan pemotretan yang dilakukan Raisa.
Selama pemotretan, Rumi terus terpaku menatap Raisa tiada henti dan tanpa berpaling. Daffa yang sesekali curi pandang ke arahnya, menyadari bahwa Rumi memiliki rasa tak biasa pada Raisa.
"Oke. Cukup, Raisa. Sini, lihat hasilnya bareng-bareng," kata Daffa
Raisa pun menghampiri Daffa.
"Sini, Rumi. Ikut lihat hasil fotonya juga," ajak Raisa
Rumi yang penasaran pun ikut mendekati Daffa seperti Raisa.
Daffa memperlihatkan hasil jepretannya pada layar kamera miliknya.
"Raisa, cantik! Seperti biasa," puji Rumi
"Ya. Dia gak lagi malu-malu kayak di awal, sekarang udah lebih percaya diri. Pesona kecantikannya semakin terlihat ke luar," ucap Daffa
__ADS_1
"Syukur, deh ... " lega Raisa
"Rumi, juga ganteng, lho! Mau coba jadi model kayak Raisa?" tanya Daffa memberi penawaran.
"Tidak. Aku tidak bisa," tolak Rumi
"Kalau emang gak bisa, nanti bisa dibantu diarahin kok. Wajah kamu ganteng, penampilan juga menarik. Sayang, lho, kalau menolak begitu aja," ujar Daffa sedikit memaksa.
Rumi yang merasa bingung harus memberi respon seperti apa, menatap Raisa seolah meminta bantuan.
"Maksud kamu apa, Daff? Kok keukeuh banget, padahal Rumi udah menolak," bingung Raisa berniat membantu.
"Sebenarnya gua lagi butuh model lelaki baru, tapi masih belum dapat karena kurang adanya peminat. Pas lihat Rumi, jadi merasa sayang aja kalau menyia-nyiakan tampangnya yang oke," ungkap Daffa
"Padahal kalau mau, bisa dipasangin sama Raisa untuk pemotretan berdua atau minta bantuan Raisa kasih arahan buat lo, Rumi," sambung Daffa
"Dengan Raisa? Kalau begitu ... aku mau," kata Rumi memutuskan.
"Rumi, kau yakin?" tanya Raisa
Rumi mengangguk.
"Biar aja, Sa. Bagus, kan, kalau dia mau coba," kata Daffa
"Kalau begitu, Rumi ... lo bisa ganti baju di ruang ganti. Di dalam sana nanti ada yang bantu lo pilih bajunya," sambung Daffa seraya menunjuk ke arah ruang ganti.
Rumi pun beranjak masuk le dalam ruang ganti. Setelah ke luar, Rumi berpenampilan berbeda yang lebih menonjolkan karismanya.
Raisa yang menunggunya berganti busana pun menghampirinya sambil tersenyum lembut.
"Di mana, Daffa?" tanya Rumi
"Dia sedang ke toilet sebentar," jawab Raisa
"Pakaianmu sedikit kusut. Apa di dalam tadi tidak ada orang yang merapikan pakaianmu?" tanya Raisa melanjutkan.
Raisa mendekat untuk merapikan pakaian yang dikenakan oleh Rumi.
"Tidak. Mereka hanya menambahkan sedikit riasan di wajahku. Tapi, aku tidak terlalu suka dan tidak suka dengan mereka, jadi aku segera ke luar," jawab Rumi
"Raisa, bagaimana dengan penampilanku sekarang?" tanya Rumi melanjutkan.
"Keren sekali! Seperti biasa, kau terlihat tampan. Aku sampai tidak bisa berhenti tersenyum saat melihatmu," jawab Raisa memuji.
"Itu, sih, kau memang selalu tersenyum. Itu membuatmu selalu terlihat sangat cantik," ucap Rumi
"Kenapa kau jadi ikut memujiku?" tanya Raisa
"Itu bukan pujian, melainkan kenyataan. Akulah yang memujamu," jawab Rumi
"Kau berlebihan," kata Raisa
Daffa kembali dari toilet dan langsung menyaksikan tingkah laku Raisa dan Rumi yang terlihat mesra.
"Baru ditinggal sebentar udah mesra-mesraan aja! Kayaknya mereka berdua punya hubungan spesial yang gak bisa diungkapkan," batin Daffa
"Yo, Rumi! Udah siap?" tanya Daffa
"Sudah," jawab Rumi
Rumi pun mengikuti perkataan Daffa dan siap untuk memulai pemotretan.
"Katamu, aku akan dipasangkan dengan Raisa?" tanya Rumi
"Pemotretan berdua sama Raisa bisa dilakuin nanti, sekarang lo pemotretan sendiri dulu," jawab Daffa
Dari awal melihatnya, Rumi sudah kurang suka dengan Daffa. Terlebih lagi sekarang Daffa membohonginya untuk melakukan pemotretan seorang diri padahal mulanya berkata akan dipasangkan dengan Raisa. Namun, saat melihat Raisa seperti menantikan penampilannya saat melakukan pemotretan, Rumi pun menyanggupi pemotretan tersebut.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Rumi
"Cukup bersikap biasa aja," jawab Daffa
"Apa tema pemotretan kali ini?" Raisa ikut bertanya saat melihat Rumi kebingungan.
"Karena Rumi model pemula, pemotretan kali ini mengambil tema dari pesona diri sendiri, jadi temanya Cool," jawab Daffa
Pemotretan dengan Rumi sebagai modelnya pun dimulai.
"Rumi, itu kaku banget, ya. Raisa, coba lo kasih arahan," ujar Daffa
"Rumi, kau cukup bersikap seperti biasa. Coba kau bayangkan sedang berinteraksi dengan teman-teman atau berada di tempat yang kau suka. Dengan sedikit gaya," ucap Raisa memberi pengarahan.
Diberi arahan seperti itu, Rumi malah menatap lurus ke arah Raisa. Karena kesukaannya adalah Raisa!
Namun, pemotretan mulai berjalan mulus sedikit demi sedikit.
Daffa pun mulai menyadari pengarahan yang tepat untuk Rumi.
"Bagus! Terus tatap Raisa! Sekarang coba bayangin saat-saat lo melirik Raisa dengan kagum atau saat lo lihat senyuman Raisa secara diam-diam. Coba tunjukin aja ekspresi lo saat pandangan lo tertuju ke Raisa dengan sikap seperti biasa," ucap Daffa
..."Kenapa jadi aku?" batin Raisa tersipu malu saat dirinya menjadi pusat perhatian Rumi....
Hasil pemotretan pun semakin bagus seperti yang diharapkan Daffa.
"Oke. Sekarang, kita coba ambil pemotretan berdua. Raisa sama Rumi," ucap Daffa
"Aku? Kamu yakin?" tanya Raisa
"Iya. Udah, sana samperin temanmu yang tampan itu," ujar Daffa
"Kami perlu ganti baju lagi gak?" tanya Raisa lagi.
"Gak usah. Baju kalian udah cocok," jawab Daffa
Raisa pun melangkah menghampiri Rumi.
"Rumi, kau tidak usah merasa tegang lagi," kata Raisa
Rumi mengangguk.
"Kayaknya, sekarang lo yang lagi gugup, deh, Raisa," ceplos Daffa
"Aku tidak gugup," bantah Raisa
"Ya udah. Ayo sekarang kita mulai pemotretannya," kata Daffa
Pemotretan berpasangan antara Raisa dan Rumi pun dimulai.
__ADS_1
Kini Raisa mengambil alih untuk memberi arahan agar Rumi bisa mencocokkan gaya dengan dirinya. Keduanya berpose dengan apik dan mesra.
"Raisa, apa kau biasanya melakukan pemotretan seperti ini dengan lelaki lain juga?" tanya Rumi berbisik di tengah proses pemotretan.
"Tidak. Biasanya aku melakukan pemotretan sendiri atau berdua dengan sesama perempuan. Baru kali ini aku melakukan pemotretan berdua dengan lelaki, yaitu denganmu," jawab Raisa berbisik
"Syukurlah," gumam Rumi
"Ya. Bagus, seperti itu ... " kata Daffa
Rumi terlihat begitu menikmati melakukan pemotretan bersama Raisa, begitu pun sebaliknya. Daffa pun merasa senang karena bisa mendapat hasil foto yang bagus.
"Penampilan Raisa sekarang udah bisa lebih alami di depan kamera dari pada awal jadi model yang masih kaku, padahal tadi dia terlihat gugup pas gua suruh pemotreran bareng Rumi. Ini sih fix! Hubungan mereka berdua bukan cuma hubungan biasa," batin Daffa
"Oke, cukup! Kerja bagus, Raisa, Rumi. Thanks! Sekarang lo berdua bisa ganti baju lagi," ujar Daffa
Raisa pun kini bisa bernafas lega setelah sesi pemotretan berakhir. Sedangkan, Rumi sangat menyayangkan tidak bisa berdiri berdekatan lagi dengan Raisa dengan mesra.
"Ayo, Rumi! Kita ke ruang ganti," ajak Raisa
Rumi pun mengikuti Raisa menuju ke ruang ganti.
Ruang ganti sedang kosong karena sedang waktunya istirahat. Hanya ada Raisa dan Rumi di sana.
"Kau bisa duluan ganti baju dengan bajumu tadi. Aku setelahmu saja dan menunggu di sini," ucap Raisa
"Baiklah," kata Rumi
Rumi pun masuk ke dalam pass room untuk berganti pakaian. Setelahnya, Raisa pun mengganti pakaiannya.
Begitu ke luar dari pass room, Raisa dikejutkan dengan Rumi yang berdiri tepat di depan pintu.
"Mengejutkanku saja! Kenapa kau tidak menunggu sambil duduk?" tanya Raisa yang berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruang ganti.
Lalu, Raisa pun duduk di atas sofa di sana. Rumi ikut duduk di sampingnya.
"Raisa, biasanya saat pemotretan ... apa kau hanya berdua saja dengan Daffa?" tanya Rumi
"Tidak. Biasanya aku ke sini bersama Maura dan Nilam. Memangnya kenapa?" Raisa balik bertanya setelah menjawab.
"Aku tidak suka saat memikirkan kau hanya berdua dengan Daffa. Aku tidak terlalu suka dengannya," jawab Rumi
"Kenapa? Daffa, itu hanya teman sekolahku dulu dan sekarang menjadi bosku," ujar Raisa
"Tidak ada alasan khusus untuk tidak menyukai seseorang," kata Rumi
"Kau aneh," heran Raisa
Raisa menoleh ke arah Rumi di sampingnya. Namun, Rumi malah mendekatkan wajahnya. Membuat Raisa harus menghindari Rumi yang terus mendekatkan wajahnya.
"Rumi, ada apa denganmu?" tanya Raisa
"Raisa, apa kau tidak tahu alasanku jadi aneh seperti ini? Aku jadi seperti ini karena dirimu," ungkap Rumi
"Apa kau cemburu?" tanya Raisa menebak.
"Menurutmu?" Rumi terus mendekatkan wajahnya membuat Raisa terpojok hingga posisi tubuhnya nyaris rebahan di atas sofa.
Rumi sudah hampir menindih tubuhnya. Raisa pun menahan dada Rumi dengan kedua tangannya.
Kriiett~~
"Ekhem! Tempat ini bukan buat mesum, ya ... " tegur Daffa memperingati Raisa dan Rumi.
Raisa langsung mendorong tubuh Rumi dan kembali duduk dengan tegak.
"Daffa, ini gak seperti yang kamu lihat!" Raisa berusaha memberi penjelasan. Namun, ia sudah terlanjur merasa malu untuk berkata-kata.
"Ya, ya. Kalau udah selesai ganti baju, cepat ke luar aja," kata Daffa
"Pantes aja lama. Untung gua cek ke dalam," gumam Daffa yang beranjak pergi menjauh dari sana.
"Kau ke luar dulu saja. Aku mau hapus riasan wajah dulu," kata Raisa
"Kenapa dihapus? Itu membuatmu terlihat semakin cantik," ujar Rumi
"Aku tidak biasa berias wajah. Lebih nyaman jika wajahku terlihat alami tanpa riasan," jelas Raisa
"Hmm. Ya, seperti apa pun itu, kau tetap cantik. Ya sudah, aku ke luar dulu," ucap Rumi
Rumi pun meninggalkan ruang ganti dan pergi menemui Daffa.
"Lo suka sama Raisa, ya?" tanya Daffa
"Sepertinya itu sudah terlihat jelas," kata Rumi
"Jaga dia baik-baik. Jangan sakiti dia," pesan Daffa
"Tadi aku hanya menggodanya sedikit, bukan serius ... " ungkap Rumi yang mengerti maksud di balik pesan yang disampaikan Daffa.
"Baguslah, kalau lo mengerti," ujar Daffa
"Jangan kasar dengan Raisa," ucap Rumi
"Maksudnya ... bahasa lo-gua?" tanya Daffa dengan maksud perkataan Rumi.
"Ya. Meski kalian berteman, gunakanlah bahasa yang baik," jelas Rumi
"Itu cuma kritik biasa, tapi kenapa gua berasa auranya mengerikan banget, ya?" Batin Daffa bergidik ngeri.
"Daff, lihat hasil foto tadi, dong ... " pinta Raisa begitu ke luar dari ruang ganti.
"Sini, lihat bareng-bareng. Tadi aku udah seleksi fotonya yang bagus-bagus," ucap Daffa
"Aku? Tumben banget ... " Raisa merasa heran dengan cara bicara Daffa yang tiba-tiba saja berubah.
"Ya. Berkat kritikan seseorang, aku jadi berubah," kata Daffa
"Sa, temanmu seram juga, ya ... " bisik Daffa
Raisa hanya bisa terkekeh geli.
.
•
Bersambung...
__ADS_1