Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
28 - Melepas Rindu.


__ADS_3

•••


Di hari pekan ini, setelah sarapan bersama, Raisa memilih untuk kembali kamar tidur pribadinya.


Di dalam kamarnya, Raisa kembali berkutat di atas kasur empuknya yang nyaman itu...


Tidak hanya untuk sekadar menjadi kaum rebahan, Raisa kembali membuka buku-buku pelajarannya yang tebal.


Raisa membuka bukunya di atas kasur dan belajar dalam posisi telungkup dengan santainya...


Raisa kembali membandingkan teori-teori yang ada pada buku tercetak dengan teori yang dijelaskan oleh guru kelasnya yang telah ia tulis di buku catatan. Memilah cara yang paling mudah baginya untuk mengerjakan soal. Ia juga kembali memahami soal-soal yang pernah dikerjakannya. Lalu, ia juga kembali membaca hafalannya yang harus terus ia ingat. Ia sudah menandakannya, hal-hal yang menjadi garis besar. Hal yang paling inti yang menjelaskan banyak pemahaman dalam kalimat yang lebih singkat.


Saat kembali pada rumus-rumus yang memusingkan, Raisa melakukan perhitungan yang lebih teliti. Saat menemukan kesulitan, Raisa membutuhkan bantuan. Dan memilih untuk membuka kalkulator pada ponselnya.


Saat membuka kunci ponselnya dan beralih pada menu... Raisa kembali memerhatikan angka-angka rumit pada bukunya dan hanya menekan asal ikon kalkulator pada layar ponselnya. Saat hendak menghitung di kalkulator, yang dilihatnya di layar ponselnya bukanlah angka-angka pengoperasian aplikasi kalkulator, melainkan tampilan berkas-berkas file pada ponselnya.


Raisa memincingkan matanya... Ternyata ia salah pencet, rupanya!


Bukannya menekan opsi kembali pada ponselnya, Raisa malah membuka suatu berkas gambar pada ponselnya~


Raisa kembali menatapi satu persatu hasil potret gambar di dunia asing yang berbeda dimensi itu. Menggeser untuk mengganti lihat foto yang lain.


Raisa kembali merindukan teman-temannya di sana. Tak hanya itu... Ia juga rindu akan momen yang ia lewati bersama mereka semua. Resah, gelisah, canda, tawa, senda gurau, bahkan kekesalan yang menghiasi momen tersebut kembali terlintas di benaknya.


Raisa pun kembali tersenyum dalam lamunan~


"Aku ga tau harus senang atau sedih... Aku merasa bahagia kalau ingat momen-momen itu, tapi, aku merasa rindu kalau lihat foto-foto ini. Rindu itu menyesakkan dada... Berat!" Gumam Raisa sembari melihat foto momen kebersamaannya dengan teman beda dunianya di dimensi asing.


"AKKHHH...!! Pengen ketemu lagi~ Kenapa sih keberadaan mereka harus di dimensi lain yang ga jelas letak pastinya di dunia ini!?! Yang bahkan ga diketahui koordinatnya di peta! Bukannya ga jelas lagi, melainkan memang bukan di dunia ini! Dunia mereka berbeda dengan duniaku di sini... HAAA~~" Gerutu Raisa yang kesal dengan kenyataan bahwa dunianya berbeda dengan dunia orang-orang yang ingin dia temui karena sudah sangat merindukan mereka.


Saat tengah melihat-lihat foto-foto tersebut, Raisa kembali mengingat ucapannya yang sudah seperti janji. Bukan janjinya yang mengatakan akan kembali berkunjung ke dimensi sana, melainkan foto-foto itu sendiri. Mengenai janji Raisa yang akan mencetak semua foto itu dan membawanya kembali dan memberikan itu pada mereka semua yang terdapat dalam foto.


"Aku lupa tentang itu! Aku harus cetak foto-foto ini..." Kata Raisa saat kembali mengingatnya.


.


.


.


Saat mencari alat cetak foto di rumahnya, ternyata alat tersebut rusak.


"Yah, kok rusak sih!? Mau cetak foto penting, nih! Ga tau kalau lagi darurat apa?!" Kesal Raisa yang mengomel sendiri.


"Kenapa sih, kok sampe ngomel-ngomel sendiri gitu?" Tanya wanita paruh baya yang baru saja datang menghampiri Raisa, ternyata adalah Bu Vani, Ibu Raisa.


"Ibu, maaf ya... Raisa jadi heboh sendiri. Printer kapan rusaknya, Bu? Padahal Raisa mau pake." Ucap Raisa


"2 minggu lalu udah rusak. Ibu lupa minta Bapak untuk servis-in, karena Bapak sibuk terus. Emang mau nge-print foto apa? Penting banget? Buat tugas? Emang ga bisa pake printer kertas? Kalo printer kertas ada di kamar Raihan." Ujar Bu Vani


"Ga penting banget sih... Yang mau kucetak ini foto, jadi harus pake printer ini. Yaudah deh, nanti aku keluar aja buat cetak fotonya." Kata Raisa. Padahal sebelumnya, jelas ia katakan bahwa foto itu penting dan harus dicetak cepat karena darurat.


"Aku siap-siap keluar dulu deh ya, Bu. Sekalian izin..." Lanjut Raisa


"Foto apa sih yang mau dicetak? Foto siapa?" Tanya Bu Vani


"Fotoku sama teman-teman, Bu..." Teriak Raisa yang telah berlarian masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap ganti baju pergi.


"Hadeuh~ Anak itu... Kalo lagi semangat, ada-ada aja kelakuannya!" Gumam Bu Vani


•••


Raisa baru saja kembali dari tempat percetakan foto...

__ADS_1


Dengan membawa beberapa foto yang berhasil dicetak di tangannya, ia tersenyum saat melihat cetakan foto-foto itu.


Setelah puas melihat-lihat semua foto itu, Raisa memasukkan semua foto itu ke dalam tas yang dibawanya. Tas yang sama yang dibawanya ke dunia yang berbeda di dimensi lain itu melengkapi perasaan bahagia dan rindu yang ia rasakan.


Saat hendak melangkah pergi dari tempat itu, dua orang datang berlarian ke arahnya...


"Raisa!~ Seneng banget bisa ketemu kamu di sini. Udah lama banget kan, kita ga ketemu..." Ujarnya sangat antusias saat bertenu dengan Raisa


"Iya, nih... Aku kangen pake banget, tau!" Katanya yang tak kalah antusiasnya.


Mereka adalah teman perempuan Raisa semasa SMP. Karena pernah berhenti sekolah selama setahun lamanya karena sakit, kini Raisa tak pernah lagi bertemu keduanya saat sekolah. Mereka memang pernah satu sekolah, namun tidak satu angkatan karena berbeda satu tingkatan kelas. Dan kini keduanya telah lebih dulu lulus di tahun lalu...


"Wah... Kebetulan banget ketemu kalian berdua di sini. Aku juga kangen banget!" Girang Raisa. Saat bertemu teman lamanya. Andien dan Hasna~


"Karena udah kebetulan ketemu di sini, gimana kalo kita ngobrol-ngobrol bareng dulu sambil nongkrong?" Tanya Hasna, mengajak Raisa.


"Setuju! Aku tau caffe bagus deket snini, lho... Kita ke sana, yuk!" Ujar Andien


"Aku emang udah izin mau ke luar sama ibu, sih... Yaudah deh, ayo! Nanti, gampang tinggal aku kabarin ke rumah..." Ucap Raisa


•••


Raisa, Andien, dan Hasna pun memilih dan memasuki suatu caffe. Caffe tersebut bernama Prince Caffe~


Kebanyakan caffe setempat lebih sering buka di jam 10.00 WIB, tapi, caffe tersebut telah buka di jam 08.00 WIB, lebih dulu buka dua jam lebih awal.


Dan kini, mereka bertiga mengunjungi caffe pada jam 09.30 WIB


Raisa dan kedua temannya pun duduk di masing-masing kursi salah satu meja. Setelah mengabari jika akan pulang lebih lama karena sedang bertemu teman ke rumah melalui pesan chat HPnya, pesanan Raisa dan kedua temannya pun datang.


Ketiganya pun menikmati yang telah dihidangkan sambil mengobrol...


"Kamu apa kabar, Raisa?" Tanya Hasna


"Aku baik kok. Tapi, sekolah lagi sibuk-sibuknya nih." Jawab Raisa


"Kalian juga, gimana kabarnya? Kalau kalian, lagi sibuk apa sekarang?" Tanya Raisa


"Aku juga baik kok. Sekarang aku kuliah sambil bantu katering Mama-ku di rumah." Jawab Andien


"Aku juga... Aku kuliah sambil kerja sampingan di swalayan." Susul Hasna


"Wah, kuliah ya? Seru dong, dapat teman baru lagi... Kalau aku belum kepikiran buat lanjut kuliah sih nantinya. Ga kepikiran sama sekali malah. Aku lagi kepengen bepergian ke lain tempat, cari pengalaman baru, banyak belajar hal baru, juga kerja kalau memungkinkan." Ucap Raisa


"Seru juga, tuh! Ajak-ajak kita juga dong nanti..." Ujar Andien


"Hehe, masih dalam rencana kok..." Kata Raisa disertai kekehannya.


Raisa berkata seperti itu karena sudah menjadi rencana pastinya untuk dilakukan nanti setelah kesibukan sekolahnya benar-benar selesai, terlebih lagi jika ia telah lulus sekolah. Ia akan kembali pergi ke dunia lain di dimensi asing itu. Berkunjung dan menemui teman-teman dunia lainnya.


Namun, Raisa harus menutupi itu semua. Karena, itu adalah bagian dari rahasia besarnya.


Saat mereka bertiga asik berbincang, pengunjung lainnya masuk ke dalam caffe dan menghampiri Raisa di meja mereka. Pengunjung itu adalah dua orang gadis yang mengenal Raisa.


"Raisa, kamu di sini? Halo, Kak..." Tanyanya seraya menyapa Andien dan Hasna.


"Hai, semua... Tumben kamu nongrong di caffe, Sa. Kamu kan jarang banget ke luar, biasanya belajar terus di rumah, anak rumahan." Ujarnya


Kedua pengunjung itu tak lain adalah Maura dan Nilam.


"Eh, kalian... Tadi, aku emang lagi ke luar dan kebetulan ketemu temanku, Andien dan Hasna. Jadi, aku mampir ke caffe sebentar sekalian ngobrol-ngobrol. Kalau kalian?" Ucap Raisa


"Aku berdua Nilam cari makan, biasalah, wisata kuliner setempat..." Kata Maura

__ADS_1


"Abis itu, baru mau main ke rumah kamu bawa oleh-oleh wisata kulinernya." Ujar Nilam


"Ga usahlah segala bawa oleh-oleh kalau main ke rumahku. Toh, lagi pula sekarang aku di sini. Karena udah ketemu, kenapa ga sekalian gabung aja? Boleh kan, Ndien, Sna?" Raisa menanyakan pada kedua temannya yang lain untuk mengajak teman sekolahnya.


"Boleh, kok. Lebih banyak orang lebih seru." Ujar Hasna


"Ayo, duduk..." Kata Andien yang mempersilahkan Maura dan Nilam untuk duduk bersama mereka.


"Makasih, Kak." Ucap Maura


"Kita duduk ya, Kak." Kata Nilam


"Panggil nama aja kali. Ga usah formal gitu, ah. Umur kita kan cuma beda dikit..." Ujar Hasna


"Iya, Raisa juga seumuran sama kita, tapi kalian tetep manggil dia nama doang." Ucap Andien


"Dulu, mereka juga hampir manggil aku kakak setelah tau umurku lebih tua setahun. Ga usah sungkan gitu, ah. Kalian semua kan temanku. Pokoknya, kita semua teman!" Ucap Raisa


"Ngomong-ngomong, kalian udah saling kenal, kan?" Tanya Raisa pada keempat temannya.


"Kenal kok. Maura sama Nilam kan?" Ujar Andien


"Terus, Andien dan Hasna. Kita kan pernah makan bareng di kantin. Waktu kelas 2, Andien dan Hasna kelas 3. Walau beda angkatan, kita kan tetep satu sekolah." Ucap Nilam


"Aku kira kamu ga bakal ke luar rumah karena sempet kambuh sakit selama 2 minggu waktu itu." Ujar Maura


"Salit kamu kambuh lagi, Sa? Kok aku ga tau?" Tanya Hasna


"Itu udah lama kok. Aku juga langsung berobat dan cepat sembuh. Ga usah dibahas lagi, ah! Yang penting, sekarang kan aku sehat-sehat aja..." Ungkap Raisa


"Syukur deh, kalo gitu..." Kata Andien


"By the way, kamu awalnya ke luar rumah mau ngapain?" Tanya Nilam


"Iya, tuh... Tadi, ketemu Raisa di depan toko percetakan foto. Kamu ngapain di sana, Sa?" Ujar Hasna


"Percetakan foto... Kamu cetak foto yang waktu itu kamu srmbunyiin ya, Raisa? Foto cowok, kan? Mana coba liat hasil cetak fotonya." Ucap Nilam dengan semangatnya.


"Eh, enggak kok. Kebetulan aja tempat yang aku tuju tadi ngelewatin tempat percetakan foto. Aku ga ke sana..." Dusta Raisa


"Bohong banget, tuh! Jelas-jelas, dari jauh tadi aku lihat kamu lagi pegang beberapa lembar foto." Ujar Andien


"Ga mau ngeliatin fotonya ke kita, gapapa deh... Paling enggak, ceritalah cowok mana dan kayak apa sih yang bikin kamu tertarik sampe mukamu merah walau cuma ngebayangin dia..." Pinta Maura


"Sampe segitunya? Fix, kamu harus cerita." Antusias Hasna


"Jangan bahas cowok, ah. Aku ga gitu kok..." Elak Raisa menyangkal.


...'Padahal aku pengen banget cerita tentang aku yang pergi bertemu mereka di sana. Tapi, itu ga mungkin! Apa lagi soal cowok... Aku ga tau, apa aku benar-benar suka sama Rumi atau enggak. Bukan! Aku memang menyukainya bahkan mungkin lebih, aku mengakuinya... Tapi, perasaan ini ga seharusnya ada, ga sepantasnya aku merasa seperti ini. Aku dan dia... Mustahil! Kami ga mungkin bersama. Karena kami berada di dunia yang berbeda. Bahkan, bagi kalian sosoknya tuh ga pernah ada!' Batin Raisa...


"Raisa, ga seru, ah!" Sebal Nilam


"Bahas cowok mah, emang ga ada serunya! Kita bahas hal lain aja..." Ujar Raisa dengan ekspresi yang terlihat agak sedih.


Keempat teman Raisa jelas melihat raut wajah sedih itu. Menyadari itu, mereka langsung mencari topik lain. Mengganti pembicaraan dengan hal lain...


-Sahabat yang pengertian dan baik hati~


.


.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2