
Raisa melihat luka tusukan pada tubuhnya~
Darah merembes dari balik pakaiannya...
Warna merah mendominasi warna gaunnya yang berwarna putih dengan kontras...
Oh, tidak!
Lengan kirinya tertusuk batang es tajam hingga rasa dinginnya menusuk sampai ke tulang...
Raisa mulai merasakan mati rasa pada tangan kirinya itu.
Tak bisa terus menerus seperti ini. Ia tak boleh menunjukkan kelemahannya pada lawan. Di saat seperti ini ia tak boleh lemah...
Jangan sampai lawan menyadari kelemahannya itu!
Raisa tetap pada rencana awalnya...
Walau kemungkinan sangat kecil, ia tetap harus melakukannya. Berusaha lebih baik dari pada hanya menunggu hasil dengan berdiam diri...
Raisa terus berusaha melumpuhkan ke lima lawannya saat ini untuk sementara, lalu ia bergegas terbang menuju tempat persembunyian pelaku yang telah banyak mengendalikan orang~
"JANGAN HANYA MENJADI PENG*C*T! Terus bersembunyi dan mengandalkan orang lain untuk menggantikanmu bertarung. Kalau kau merasa hebat sampai bisa mengendalikan mereka, lebih baik kau langsung berhadapan denganku!" Ucap Raisa
Raisa mendarat di dekat pelaku itu bersembunyi...
"Cih, benar-benar tak bisa meremehkanmu! Musuhku~" Ujar pelaku dengan nada meremehkan di akhir kalimatnya.
"Ternyata itu, KAU!!! Kenapa kau mau berbuat kekacauan di dunia yang tentram ini, HAH!?! Berhentilah mengganggu mereka yang tak bersalah! Lawanmu adalah AKU!!" Geram Raisa masih ditutupi penyamarannya.
Raisa melayangkan serangan langsung pada pelaku sihir berjubah hitam itu~
BUGH!
BUGG BUGH~
Entah itu serangan pukulan atau sihir yang dilayangkan, Raisa terus menujukan serangannya langsung pada si pelaku...
Wajah pelaku sudah terlihat penuh memar karena serangan Raisa.
"Aku memang tak bisa meremehkamu. Tapi, kau pun tak boleh meremehkanku! Dan, yang paling penting... Jangan sampai aku mendapati kau tengah lengah!!"
HAP!
GREP~
UGH...
Seseorang muncul dan menyerang Raisa dari belakang!
Ia berhasil menangkap dan mencekik Raisa dari belakang...
"Bagaimana dengan kejutan yang kusiapkan untukmu? Dia adalah orang yang memergoki aksiku di sini. Aku telah menyiapkan hadiah untukmu... Kau terharu, bukan? HAHAHAHA~"
"Lagi-lagi boneka yang kau buat dengan kejahatanmu... Sudah kubilang, lawan aku jika kau berani dan merasa benar-benar hebat! JANGAN KAU LIBATKAN ORANG-ORANG YANG TAK BERSALAH!!! DASAR, PENG*C*T!!" Marah Raisa
Kebetulan sekali pelaku itu membuatnya mencekik Raisa...
Raisa lebih leluasa mematahkan sihir jahat pengendali pikiran itu~
GREP!
Raisa mencekal tangan seseorang yang mencekiknya dari belakang. Menarik kuat tangannya ke arah depan lalu memutar ke arah belakang, memelintirnya untuk memblokir pergerakkannya...
Melihat Raisa telah memegang kendali pada orang yang dikendalikannya, si pelaku pun kabur! Berlari menjauh dari sana~
Seseorang yang Raisa tahan terus memberontak karena masih terpengaruh sihir pengendali pikiran...
Satu tangan Raisa digunakan untuk menahan tangan orang itu di belakang tubuhnya, lalu tangan lain Raisa mengulur ke arah depan kepala orang itu. Menyentuh bagian dahinya, lalu Raisa berkata tepat di telinganya...
"TENANG~ DENGARKAN KATA-KATAKU!! Sekarang, kau tak lagi dalam kendalinya... Sadarlah~" Ucap Raisa tepat di telinganya dengan memasukkan sihir murni pada kata-katanya dan pada tangannya yang menyentuh dahi orang itu pun mengeluarkan sinar~
Sriiingg~
Tubuh orang itu yang mulanya menegang karena terus memberontak kini mulai melemas...
Raisa pun melonggarkan cekalannya pada orang tersebut dan melepasnya~
Lalu, Raisa beralih berdiri di hadapannya. Orang itu terkejut dengan penampilan seseorang di depannya!
"Tenanglah, kau baik-baik saja sekarang... Lupakanlah hal buruk yang terjadi padamu dan jangan sampai pikiranmu kosong. Jangan sampai ada yang memengaruhi dan mengendalikan pikiranmu lagi. Sekarang, pergilah dari tempat ini. Di sini tidak aman... Cepat!!" Tutur Raisa
Orang itu terlihat bingung dengan apa yang ia dengar...
Namun, kemudian ia mengingat apa yang terjadi padanya sebelum hilang kesadarannya. Ia pun memilih untuk mengabaikannya, tak memikirkannya seperti kata Raisa. Lalu, ia pun pergi... Sebelum hal buruk lainnya menimpa dirinya lagi.
"Terima kasih banyak... Aku akan segera pergi dari sini!" Ucapnya sebelum benar-benar pergi dari tempat itu...
Raisa hanya mengangguk mengiyakannya~
"Huh, orang itu kabur!~" Gumam Raisa. Orang yang dimaksudnya adalah si pelaku sihir jahat...
Satu orang sudah terbebaskan dan pergi~
__ADS_1
Dan terlihat kelima korban yang dikendalikan itu masih terus mengamuk dan menghampiri Raisa. Ternyata si pelaku berniat mengalahkan Raisa dengan memanfaatkan orang-orang telah dipengaruhi pikirannya olehnya sendiri...
...'Kalau dia benar-benar ingin mengalahkanku, apa itu artinya dia telah menyadari sesuatu? Seperti aku yang sudah mengetahui siapa dirinya...' Batin Raisa...
Ini bukan saatnya berspekulasi!
Raisa masih harus menyelesaikan misinya. Menyadarkan kelima orang itu agar terbebas dari pengaruh sihir pengendali pikiran...
Baru saja Raisa tersadar dari pikiran-pikirannya yang menerka-nerka, kelima orang yang dikendalikan itu sudah berada di sekitarnya...
Berhasil mengepungnya!
Mereka mulai kembali menyerang Raisa dari segala arah... Dan Raisa terus berusaha keras menghindari serangan mereka~
DRAP DRAP!
DRAPP~
Segerombolan orang berjubah hitam berlarian datang mendekat~
...'Ah, itu! Bala bantuan lawan?! Si*l! Orang-orang dari mana lagi yang dia kendalikan? Atau itu teman-temannya? Ada banyak sekali yang datang...!' Batin Raisa...
Salah satu orang dari mereka sedikit menyingkapkan jubah yang menutupi di bagian wajahnya...
"Raisa~"
"Kalian!?" Pekik Raisa terkejut bukan main...!
Saking terkejutnya, Raisa sampai mengeluarkan tenaga sihirnya dalam jumlah besar tanpa disadarinya, membuat kelima orang yang terpengaruh sihir terjungkal di tanah...
"Raisa, kami datang~"
"Bagaimana bisa kalian datang ke sini??" Tanya Raisa kebingungan penuh tanya.
"Kami menyadari seseorang membutuhkan bantuan..." Katanya dengan angkuhnya.
"Hei, sombong sekali kau, Morgan! Bukankah sebelumnya kau sangat mengkhawatirkan keadaan Raisa?" Ucapnya, seorang gadis. Gadis yang selalu tak mau kalah dari orang bernama Morgan tadi dan menimpali ucapannya. Dia adalah Aqila...
Segerombolan orang berjubah hitam yang datang menghampiri ternyata bukanlah teman-teman atau orang dari pihak lawan. Justru mereka adalah bala bantuan yang datang untuk Raisa sendiri!
Mereka adalah teman-teman Raisa yang datang melintasi dimensi ruang dari dunia lain.
Devan, Ian, Chilla. Morgan, Aqila, Rumi. Billy, Marcel, Dennis. Sanari, Amy, Wanda, dan bahkan juga Sandra...
"Sekarang bukan waktunya berbasa-basi! Mereka kah yang membuatmu dalam kesulitan, Raisa? Ayo, hajar mereka!" Ujarnya, Billy sudah bersiap melakukan serangan.
"JANGAN!!~" Pekik Raisa melarang keras.
"Kenapa kau melarangnya, Raisa? Bukankah mereka yang membuatmu kesulitan sampai kau terluka seperti ini? Lihatlah, kau berdarah!" Ucapnya, seorang lelaki yang bernama Rumi.
"Sihir pengendali pikiran? Siapa pelakunya?!" Tanya Devan
"Aku sedang memburu pelakunya. Dia sempat lari menjauh dan hanya memanfaatkan mereka untuk melawanku." Jawab Raisa
"Tapi, sepertinya mereka sudah tak punya banyak tenaga lagi... Lihatlah, mereka tak banyak berkutik dan menyerang balik." Ucap Wanda
"Itu karena aku tak sengaja mengeluarkan banyak tenaga untuk melumpuhkan mereka saat kalian datang tadi. Dan tadi, aku sempat bertarung dengan pelaku yang mengendalikan pikiran mereka. Dan menyerang beberapa titik vitalnya walau tak sampai membahayakan nyawanya tapi sepertinya dia cukup kewalahan sampai tak sanggup lagi mengeluarkan tenaga sihirnya untuk mengendalikan mereka. Dan, tolong jangan sebut namaku secara langsung. Aku sedang dalam penyamaran saat ini." Jelas Raisa
"Pantas saja kau terlihat aneh dengan penampilanmu itu. Tapi, untuk apa kau berbuat demikian? Lihatlah, topengmu itu!?" Tanya Ian
"Akan kujelaskan nanti. Aku harus membekuk pelakunya sebelum tenaganya pulih kembali." Ujar Raisa
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Tanya Amy
"Bagaimana pun, kami ke sini untuk membantumu." Kata Dennis
"Perintahkanlah kami melakukan sesuatu, akan kami lakukan!" Kata Marcel
"Kami siap membantumu!" Kata Sanari
"Tolong bantu aku tahan mereka di sini. Bagaimana pun pengaruh sihir belum diputus, aku harus mengalahkan pelakunya terlebih dulu. Kalau tidak, dia akan terus mengerahkan sihir pengendali pikirannya ke orang-orang. Kalian juga berhati-hatilah..." Pinta Raisa
Raisa pun bergegas pergi, ia terbang untuk mencari jejaksi pelaku yang kabur melarikan diri.
Mendengar yang Raisa pinta, beberapa dari mereka pun melakukan sihir penyegel untuk menahan pergerakan kelima orang yang pikirannya dikendalikan oleh sihir.
"Kita sudah mencoba jauh-jauh datang ke sini, ternyata yang dikhawatirkan sudah bisa menangani masalahnya sendiri." Gumam Chilla
"Walaupun tak sia-sia tapi sepertinya keberadaan kita di sini tak banyak membantunya karena dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Ujar Wanda
"Ini membosankan jika kita hanya diam di sini. Bagaimana pun aku ikut ke sini untuk melihat siapa teman kalian yang berjasa itu. Tapi, yang kita lakukan hanya diam, huh!" Sebal Sandra
Raisa pun melihat bayangan punggung seseorang yang berusaha bersembunyi dari keadaan sekitar. Ia pun mendarat di dekatnya~
"Ternyata benar dugaanku, kau ada di sini dan mulai kehabisan tenaga!" Lontar Raisa mengejutkan si pelaku yang melihat kedatangannya.
"Kau- si*l*n! Apa yang kau lakukan sampai membuat pergerakan dan tenaga sihirku terganggu!?" Geramnya
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Itu KAU! Kenapa kau berbuat demikian dan terus mempertahankan usahamu yang akan sia-sia itu?! Kenapa tidak kau lepaskan sihirmu yang memengaruhi pikiran mereka yang tak bersalah? Maka, aku pun tidak akan menyakitimu lebih dari ini..." Ucap Raisa
"Sia-sia katamu!? Hanya karena kau mendapatkan bantuan, kau anggap ini akan berakhir dengan kekalahanku? Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku tidak akan membiarkan nyawa kawanku sia-sia... Aku akan membalaskan DENDAM MEREKA!!!" Marahnya
"Apa maksudmu dengan itu? Kawan...?" Tanya Raisa menyelidiki lebih dalam maksud si pelaku melakukan penyerangan beruntun belakangan ini.
__ADS_1
Mata seorang yang berada di hadapan Raisa kini terbelalak menyala-nyala. Dirinya telah diliputi oleh emosi dan amarah yang membara seperti api~
-
"Apa kita hanya perlu diam seperti ini saja? Kalian lihat ke mana perginya, Raisa? Aku masih khawatir dengannya terutama karena dia terluka..." Ujar Sanari yang terlihat cemas
"Benar. Bukankah kita datang untuk membantunya? Apa kita hanya perlu diam di sini?" Bingung Amy
"Tapi, dia yang meminta kita menahan mereka dan berjaga di sini. Berarti dia bisa menyelesaikannya sendiri." Ucap Devan
"Ketua kelas dan Amy benar. Kita harus membantunya!" Ujar Morgan lalu berlari menyusul arah pergi Raisa...
"Aku juga khawatir padanya. Aku harus memastikannya sendiri~" Kata Rumi
"Aku juga ikut melihatnya! Tujuanku ke sini memang ingin melihat kehebatannya..." Ucap Sandra
"Hei, kalian jangan mengambil kesimpulan dan memutuskannya sendiri dong!" Teriak Devan
"Morgan itu pasti akan berbuat seenaknya. Aku akan mengawasinya!" Ujar Aqila ikut menyusul
"Aku pergi bersamamu, Aqila..." Kata Sanari
"Kalian... Huh, merepotkan saja!" Pekik Devan mau tak mau mengikuti mereka menyusul Raisa
Morgan, Rumi, Aqila, Sandra, Sanari, dan Devan pun berlalu bergegas mencari Raisa untuk menyusulnya. Sedangkan yang lain tetap menahan kelima orang terpengaruh sihir pengendali pikiran dengan sihir penyegel dan mengawasi mereka...
---
Saat emosi yang meliputi amarahnya memuncak, seperti punya kekuatan kembali, si pelaku mulai kembali menyerang walaupun tenaganya masih belum pulih sepenuhnya. Yang penting baginya hanya keinginan untuk balas dendam!
"Hei, berhentilah! Kalau kau terus menyerangku dalam kondisi itu, kau sendiri yang akan mengalami luka. Beberapa titik tubuhmu masih kubekukan..." Ujar Raisa berusaha bernegoisasi.
"Kalau begitu, kau pulihkanlah tubuhku seperti semula! Supaya aku bisa terus membalaskan dendamku padamu dengan bebas!!"
"Dendammu takkan bisa menyelesaikan masalah... Bicarakanlah masalahmu baik-baik padaku. Apapun yang membuatmu seperti ini aku minta maaf dan aku akan mencoba menyelesaikan masalahmu dengan solusi terbaik. Tapi, berhentilah berbuat onar di sini!" Nego Raisa
"Maaf... Katamu? ITU SAJA TIDAK CUKUP! SOLUSIMU TAKKAN MENGHIDUPKAN KEMBALI SEMUA KAWANKU YANG SUDAH MATI!!!"
Emosi si pelaku sudah meledak-ledak. Amarahnya yang terus memuncak sudah tak dapat lagi tertahankan! Semuanya meluap bersamaan tenaga sihirnya yang tersisa untuk menyerang Raisa dengan bebatuan tajam dengan sihir elemen tanahnya~
"Hah!?"
Raisa terpental karena sihir bebatuan tajam yang mengenai dirinya bersamaan emisi yang meluapkan tenaga sihir si pelaku.
Raisa terseret mundur cukup jauh. Ia pun terkejut dengan reaksi si pelaku yang membludak!
"Apa kau ingat sekarang?! Kau bersama teman-temanmu itu menahanku bersama para kawanku di dimensi asing! YANG MEMBUAT MEREKA SEMUA TERBUNUH!! KAU TELAH MEMBUNUH MEREKA SEMUA!!!"
...'Jadi inilah alasannya mengamuk dengan penuh dendam seperti ini...?' Batin Raisa...
"Bukan salahku mereka semua tewas. Aku tidak membunuh mereka!" Ucap Raisa
Bukannya meredakan amarah si pelaku, ia malah tak terima dengan apa yang didengarnya dan tambah meluapkan emosinya...
Kini si pelaku menyerang Raisa dengan elemen air tingkat lanjut. Membekukan air dari sihirnya menjadi es dan menghujani Raisa dengan es tajam.
Raisa pun terus menghindari serangan yang menghampirinya itu~
"AWAS!!~" Teriaknya
Sepasang benda panjang dan lentur meliliti tubuh Raisa dan menyeretnya menjauh dari serangan si pelaku~
Raisa terus bergerak mundur dan berakhir dalam pelukan seseorang...
Ternyata benda yang meliliti tubuhnya adalah sihir memanjangkan tangan yang tak lain dimiliki temannya yang menyusulinya. Yaitu, Rumi.
Rumi meliliti tubuh Raisa dengan sihir tangannya yang panjang dan terus menyeretnya ke dalam pelukannya tanpa melepasnya. Raisa menolehkan pandangannya dan mendapati Rumi dengan wajah khawatirnya...
"Rumi, kenapa kau?" Tanya Raisa
"Berhati-hatilah... Kau sudah terluka, jangan sampai kau terluka oleh es tajam itu seperti waktu itu lagi. Aku tak bisa melihatmu seperti itu lagi..." Ucapnya, Rumi yang khawatir.
"Tenanglah, Rumi. Aku bisa mengatasinya, aku mulai menguasai ini..." Kata Raisa
Raisa melihat yang lain juga datang menghampiri selain Rumi. Ada Morgan, Aqila, Devan, Sanari, dan Sandra...
"Kau... Tidak apa-apa?" Tanya Sanari pada Raisa
"Aku tak apa. Rumi, bisa kau lepaskanku?" Ujar Raisa
"Oh, maaf... Kau lebih baik pulihkan kondisimu dulu, obati lukamu." Ucap Rumi yang melepaskan tangannya yang memeluk Raisa.
"Jadi, dia yang membuatmu kesulitan itu?!" Geram Morgan yang siap melayangkan serangannya pada si pelaku.
"Morgan, hati-hatilah... Hatinya sedang diliputi dendam, dirinya dikuasai amarah. Kau bisa terluka karenanya..." Teriak Raisa
Morgan pun terlibat dalam pertarungan dengan si pelaku san Aqila bersamanya membantu dan mengawasinya...
"Kau diam saja, Sandra?" Tanya Devan
"Kau juga sama! Aku di sini cuma mau melihat langsung kehebatan orang yang sering kalian sebut-sebut itu..." Kata Sandra
.
__ADS_1
•
Bersambung...