Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
56 - Rencana Selanjutnya.


__ADS_3

"Selamat pagi, Raisa. Semoga harimu bisa lebih indah dari malammu dan hari sebelumnya. Aku pergi dulu... Kita akan bertemu lagi nanti!" Ucapnya, Rumi yang telah terbangun lebih dulu dari Raisa.


Rumi pun bangkit. Menatap Raisa dan mengelus pelan rambut halusnya. Lalu, pergi dari sana sesegera mungkin. Kali ini, Rumi memilih jendela sebagai jalan keluarnya...


Tak menunggu waktu lama, Raisa pun membuka matanya dan terbangun.


"Semalam aku bermimpi indah lagi!" Riang Raisa seraya tersenyum bahagia.


Dengan senyum yang terus merekah pada bibir merahnya, Raisa merentangkan kedua tangannya. Merenggangkan otot-ototnya yang kaku selama semalaman tertidur. Ia juga menghela nafas panjangnya dengan lega... Ia berpikir, akan mengalami hari yang baik karena mimpi indahnya semalam.


Dengan rasa semangatnya memulai hari baru, Raisa pun bangkit dan menuruni ranjang kasurnya menuju kamar mandi pada kamar tidur tersebut untuk membersihkan diri.


Raisa tak tau, bahwa lagi-lagi apa yang dianggapnya mimpi itu padahal bukanlah sekedar mimpi melainkan benar-benar terjadi. Ini sudah yang kedua kalinya... Namun, Raisa tak menyadari hal itu!


...


"Ah, kalian sudah bangun, Devan, Ian?" Tanya Morgan yang berada sekamar dengan beberapa teman lelakinya.


"Kaulah yang terlambat bangun karena sudah berada di dalam kamar pun kau masih saja asik bermain permainanmu." Ujar Devan


"Di mana Rumi?" Tanya Morgan lagi.


"Mungkin di kamar mandi." Jawab Ian


Tepat pada waktunya, Rumi pun masuk ke dalam kamar.


"Kau habis dari mana, Rumi?" Tanya Morgan


"Mandi." Singkat Rumi menjawab.


Terlihat Rumi membereskan alat mandi sederhananya ke dalam barang bawaannya.


"Kau terlihat ungin pergi. Mau ke mana kau, Rumi?" Tanya Devan


"Ke halaman depan. Aku duluan." Ujar Rumi


Mereka berada dalam satu kamar. Morgan, Rumi, Devan, dan Ian. Kamar tidur yang mereka tempati tidak disertai kamar mandi di dalamnya, itu sebabnya Rumi kembali ke kamar setelah mandi. Dan setelahnya, Rumi pergi ke halaman luar di depan vila. Sebenarnya mandi hanyalah sebuah alasan supaya tak ada yang curiga...


Tak ada yang tau, bahwa yang bersama mereka bertiga adalah Rumi palsu jelmaan ular sihir. Dan Rumi palsu itu ke luar meniju halaman depan vila adalah untuk menemui Rumi yang asli.


Rumi palsu berperan menjadi sosok Rumi untuk melengkapi kebersamaan dengan teman sekamarnya saat tidur di malam hari. Agar tidak ada yang tau bahwa keberadaan Rumi asli yang menemani Raisa saat tidur malamnya. Untuk mengabulkan harapan permintaan Raisa... Menjadikan mimpi lain yang memang sudah nyata menjadi kenyataan walau hanya dalam diam.


Peran Rumi palsu adalah berpura-pura. Menggantikan Rumi asli. Rumi palsu terbangun sangat pagi saat merasakan pergerakan dari Rumi asli yang juga terbangun dari tidurnya.


Rumi palsu langsung menuju halaman depan vila. Saat dirasa semua masih sibuk dengan kegiatan pagi meraka yang sedang bersiap-siap memulai hari baru, inilah saatnya bertemu sosok Rumi asli.


Begitu ke luar dari pintu utama vila, sosok Rumi palsu itu langsung terurai menjadi wujud aslinya, yaitu beberapa ekor ular sihir. Ular-ular sihir itu merayap menuju pemiliknya. Menemui sang pemilik sihir, sosok Rumi asli. Tanpa perlu perintah lagi, ular-ular sihir itu merayap masuk ke dalam pakaian Rumi, kembali menjadi satu dengan pemiliknya.


"Bagus, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang curiga." Gumam Rumi


...


Raisa keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan pakaiannya. Ia hanya perlu merapikan penampilan wajah dan rambutnya. Ia pun beranjak ke arah meja rias untuk menyempurnakan penampilannya.


Saat merias diri dengan penampilan sederhananya yang biasa, Raisa terus menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Saat itu, ia merasa sejuk. Sejuknya udara pagi dengan nakalnya membelai lembut kulit halusnya. Raisa menyadari keanehan... Dari mana asal udara ini? Karena udara ini bukanlah kesejukan dari AC yang terletak di dalam kamar. Ia melihat dari pantulan dalam cermin, gorden kamarnya bergoyang-goyang dan tak jarang tersingkap karena ulah angin dari luar.


Raisa menoleh... Tenyata jendela kamarnya terbuka! Sejak kapan? Kenapa ia tak menyadarinya?


Raisa pun melangkah mendekati jendela...


...'Kapan jendela ini terbuka? Aku tidak merasa membukanya. Apa dari kemarin sudah terbuka dan aku yang lupa menutupnya? Tapi, jika begitu, harusnya aku merasa lebih dingin tadi malam. Ini malah sebaliknya, aku merasa sangat hangat tadi malam.' Batin Raisa...


Kata hangat mengingatkannya dengan mimpi tadi malam. Raisa bermimpi tertidur dengan Rumi di sampingnya yang terus nemeluknya. Malamnya begitu hangat karena ia bermimpi tertidur dalam pelukan sang lelaki pujaan hatinya. Tanpa terasa ia tertidur sangat pulas semalaman tadi. Mengingat itu, membuat senyumnya kembali mengembang dengan indah pada bibirnya. Bahkan ia merasa malu sendiri sampai timbul rona merah di pipinya...


Tanpa disadari, Raisa melamunkan kembali mimpi indahnya semalam. Dan lamunan itu buyar seketika saat manik matanya menangkap sosok yang dikenalnya melalui jendela di depannya. Itulah sosok yang ia mimpikan semalam!


Raisa pun melangkahkan kakinya ke luar dari jendela menuju halaman depan vila yang luas. Menghampiri sosok di mimpinya semalam yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rumi.


Raisa berjalan mendekati Rumi yang hanya terpaku diam...

__ADS_1


"Hayoo! Rumi, kau melamun!?" Sapa Raisa yang memberikan pekikan di awal kalimatnya.


Kedatangan Raisa mempu mengejutkan Rumi yang sedang melamunkan kejadian semalam.


"Raisa, kau datang?" Tanya Rumi memberi respon.


"Ya. Tumben kau melamun, biasanya walau diam kau adalah orang yang peka pada persekitaran. Sedang memikirkan apa?" Ujar Raisa


"Memikirkanmu." Jujurnya


Walau terkejut dengan jawaban Rumi, Raisa tetap berusaha tenang.


"Eh, kenapa malah aku?" Tanya Raisa


"Tak sabar untuk bertemu lagi denganmu. Dan aku senang kau datang menemuiku! Kita bertemu lagi lebih awal sekarang." Jawab Rumi


"Aku juga senang bertemu denganmu lebih awal." Kata Raisa dengan senyuman manisnya yang terus merekah dengan indahnya.


...'Aku memang selalu menantikan untuk bertemu denganmu di setiap harinya. Bahkan setiap saat!' Batin Raisa...


"Kau terlihat senang, Raisa. Apa ada hal baik?" Tanya Rumi


"Ya, ada." Singkat Raisa


"Apa itu?" Tanya Rumi lagi, penasaran.


Bukannya langsung menjawab, Raisa malah terkekeh kecil...


Dengan gerakan cepat dan begitu tiba-tiba, Raisa menelusupkan tangannya menggandeng tangan Rumi. Rumi sedikit terlonjak kaget dibuatnya...


Penuh rasa heran, Rumi menatap Raisa dengan jantung yang berdebar cepat dan kencang.


"Terima kasih, Rumi! Berkat ucapan doamu semalam, aku kembali bermimpi indah. Malam yang kulewati begitu menyenangkan!" Ucap Raisa


Setelah meengucapkan itu pada Rumi, Raisa melepaskan begitu saja gandengan tangannya pada Rumi. Dan berjalan menjauh darinya dengan terus menatapnya...


'Raisa, aku senang kau merasa begitu bahagia. Aku juga!' Batin Rumi


"Semoga harimu lebih indah dari harimu sebelumnya!" Teriak Rumi


"Ya, semoga saja. Terima kasih!" Teriak balas Raisa yang masih berjalan mundur dengan terus menatap Rumi.


Setelah itu, Raisa berbalik dan berjalan maju kembali ke dalam vila melalui pintu utama.


...'Raisa, bodoh! Kenapa kau melakukan itu tadi? Kau kekanakan! Kendalikanlah dirimu!' Batin Raisa mengumpati dirinya sendiri....


Raisa melihat kedua tangannya. Begitu bodohnya ia menggandeng tangan Rumi begitu saja tadi. Sungguh memalukan sekali dirinya itu! Ia terus merutuki perbuatannya itu!


Raisa pun masuk ke dalam vila dengan mengabaikan dan menyembunyikan perasaannya. Tak mau terpaku pada sesuatu yang ada di dalam hatinya, Raisa terus melanjutkan harinya...


Mulai membuat sarapan untuk semua temannya, lalu melakukan seperti rencananya yang akan mengajak teman-temannya mengunjungi suatu tempat pada liburan mereka.


•••


Hari-hari cepat berlalu, waktu terus berputar kian berganti...


Kini sudah saatnya mengadakan makan bersama memakan daging panggang seperti yang Raisa janjikan.


Waktunya BBQ!


Suasana sore hari mendekati senja yang akan berganti menjadi malam sangat mendukung suasana kebersamaan antara mereka semua...


Mereka semua sedang menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk memulai acara memanggang daging. Para lelaki sibuk mempersiapkan alat sedangkan para gadis sibuk mempersiapkan bahan. Dan masing-masing semuanya, Raisa lah yang memandu. Raisa lah yang mengerahkan perintah untuk mempersiapkan segalanya. Ya, mereka semua baru ingin memulai...


"Alat panggangnya diletakkan di tempat yang lebih terbuka di halaman ini ya. Supaya asapnya tidak terlalu masuk ke dalam vila yang menyebabkan bau nantinya." Ucap Raisa


Beberapa teman lelaki pun bahu membahu menggotong pemanggang daging itu dan meletakkannya di tengah halaman vila.


"Para gadis akan menyiapkan bahannya. Mencuci dan memotong daging, juga jagung, sayuran, dan bahan lainnya yang akan dipanggang. Para lelaki tolong mulai bakar arangnya supaya cepat menjadi bara dan cepat memanggang daging." Ujar Raisa

__ADS_1


Semua pun sibuk pada bagiannya masing-masing. Saat ini yang terlihat seperti terbagi menjadi 2 kubu. Kelompok lelaki dan para gadis. Tentunya, Raisa memilih bergabung pada kubu para gadis. Mempersiapkan bahan seraya mengobrol dengan riang bersama. Penuh canda tawa...


"Ah, Raisa! Bahan sayurannya belum dicuci. Tadi hanya sempat mencuci daging dan jagung, yang lainnya belum." Kata Wanda


"Kalau begitu, ayo, masuk. Untuk mencucinya dan menyiapkan minuman untuk yang lain." Ujar Raisa


"Aku akan ikut untuk membantu!" Kata Sanari


Raisa pun kembali masuk ke dalam vila untuk mencuci bahan yang belum sempat dicuci bersama Sanari, Aqila, dan Sandra, juga untuk mempersiapkan lainnya yang belum tersedia. Sedangkan Wanda, Amy, dan Chilla, lebih memilih melanjutkan bagiannya pada bahan-bahan yang sudah ada tersedia di sana.


"Kita cuci dulu bahan yang belum tercuci sampai bersih. Sandra, tolong ambil dan siapkan bumbu-bumbu untuk memanggang nanti. Aqila, tolong siapkan minuman. Siapkan saja dulu air putih untuk sekarang. Tapi, tetap siapkan minuman berasa juga setelahnya. Minuman berasa disiapkan untuk nanti saat makan, sedangkan air putih untuk sekarang karena mungkin yang lain sudah merasa haus karena lelah mempersiapkan semuanya." Ucap Raisa


Semua pun mulai melakukan seperti perkataan Raisa. Sanari, mencuci bahan dengan Raisa yang membantunya. Sandra, menyiapkan segala macam bumbu. Bumbu manis, pedas, asin, gurih. Seperti kecap, saus, lada, garam, dan lainnya. Aqila, sibuk dengan banyak gelas dan mengisinya.


"Sanari, lanjutkan dulu ya. Aku tinggal sebentar... Aku mau mengambil sesuatu yang mungkin akan berguna nanti. Tidak akan lama, aku akan segera kembali!" Ujar Raisa


Raisa pun meninggalkan dapur dan mencari sesuatu di suatu tempat di vila.


Tak butuh waktu lama pun, Raisa kembali ke dapur menemui gadis lainnya.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Raisa


"Ya, kami akan membawanya ke halaman." Jawab Aqila


"Mana barang yang mungkin dibutuhkan yang kau ambil itu?" Tanya Sandra


"Ada padaku. Ayo, aku bantu kalian membawa semua ini." Kata Raisa


Raisa sempat bingung harus membantu siapa dan apa yang akan dibawanya. Namun, pilihannya jatuh untuk membawa box es yang sebelumnya telah disiapkan.


Saat mereka hendak keluar, tiba-tiba 3 orang teman lelaki datang untuk membantu. Marcel, Dennis, dan Rumi.


"Ada apa kalian datang ke mari?" Tanya Sandra


"Kalian sepertinya akan repot, kami datang untuk membantu." Jawab Dennis


"Siapa tau akan ada barang yang bisa kami bantu membawanya." Kata Marcel


"Raisa, kau akan membawa kotak itu sendirian? Pasti berat, aku akan membantumu." Ujar Rumi


Rumi yang melihat Raisa membawa box es itu langsung menghampirinya. Tangannya beralih memegang box yang sedang Raisa angkat sendiri.


Tangan Rumi yang meraih box itu bersentuhan dengan tangan Raisa yang berada di bawah box yang dibawanya.


Raisa terkejut! Ia tak bisa jika saling bersentuhan dengan Rumi seperti ini... Tingkah aneh gelagapannya akan langsung muncul seperti sekarang. Darahnya mendesir cepat, jantungnya berdebar kencang, pandangannya mulai memandang asal arah tak karuan. Sibuk menyembunyikan kegugupannya...


"Ah, benda ini memang berat! Bantu bawakan untukku ya. Aku akan membantu bawaannya Aqila. Sanari, Sandra, kalian bisa membawa sayuran dan bumbu itu masing-masing dengan kalian sendiri, kan? Aku membantu Aqila karena barang bawaannya cukup banyak." Ucap Raisa setelah langsung melepas box yang dibawanya.


Saat Rumi akan membantu Raisa membawa box es itu bersama, Raisa langsung melepaskan box itu untuk meminta Rumi membawanya sendiri. Dan, Raisa langsung beralih pada Aqila untuk membantunya membawa nampan lain berisi gelas-gelas bawaannya yang banyak.


"Bumbu-bumbu yang kubawa tidak terlalu banyak. Aku bisa membawanya sendiri." Ujar Sandra


"Aku juga bisa mengatasi semua sayuran ini sendiri." Kata Sanari


"Aku bantu bawa apa ya? Aku bantu kau bawa kotak itu saja, Rumi." Ujar Marcel


Marcel pun mendekati Rumi dan ikut meraih box es tersebut. Rumi melihat Dennis melangkahkan kakinya seperti akan menghampiri Raisa. Maka, Rumi langsung melepas box itu pada genggaman Marcel.


"Marcel, kau bertenaga kuat. Aku akan membantu Raisa dan Aqila saja membawa nampan lainnya juga. Atau biarkan Dennis membantumu membawa kotak itu." Ucap Rumi


Dennis pun menghentikan langkahnya melihat perlakuan Rumi. Ia pun langung beralih membantu Marcel membawa kotak es. Sedangkan, Rumi langsung menyambar nampan yang membawa gelas-gelas di dekat Raisa.


Rumi bertindak cepat seolah takau Dennis yang mengisi kekosongan di sisi Raisa. Ia ingin berjalan beriringan dengan Raisa, bukan melihat lelaki lain yang melakukan hal demikian.


"Baiklah, ayo! Kita kembali ke halaman. Yang lain pasti menunggu." Kata Aqila


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2