
Raisa nampak berpikir keras.
Ia nampak gentar. Ia sangat khawatir dan ingin berbuat yang terbaik.
Walaupun demikian, pengalaman bertarung seperti saat ini, baru pertama kali dirasakannya. Mengingat di dunianya telah langka ditemukan orang spesial seperti dirinya. Raisa sungguh bingung harus melakukan apa.
Melihat semua bertarung kecuali dirinya, Raisa semakin merasa gemetar. Ini benar-benar pengalaman baru untuknya!
"Hei, kau jangan diam saja!! Kau menipu kami ya?! Kenapa diam saja di situ?!" teriak Morgan, kesal melihat Raisa.
Raisa mendengar itu dan tersadar.
Ya, ini bukan saatnya untuk gentar bergemetar. Inilah saatnya untuk membuktikan tekadku dan membuat mereka percaya padaku!~
- Pikir Raisa.
'Bahkan, Aqila yang kutau masih dalam kondisi yang belum fit saja sedang bertarung. Ini bukan satnya untuk bingung! Sampaikanlah pada mereka rasa percaya diri yang kupunya. Biarkan mereka melihatnya. Aku bukan p*ng*cut! Buat mereka percaya!' batin Raisa kembali bertekad.
"Hei, bocah-bocah ingusan! Kalian takkan menang dari kami! Lihatlah, temanmu yang gemetar ketakutan itu!!"
"Ya, kalian semua akan mati di sini!"
Mendengar itu, membuat Raisa geram! Ingin segera ia bungkam mulut para penjahat itu!!
Raisa pun mengepalkan tangannya!!!
"Kalian semua, menjauhlah sejauh-jauhnya dari sana!!" teriak Raisa
Raisa berpikir untuk mengurus semuanya seorang diri dengat cepat.
"Apa kau gila!!?" bentak Devan dengan keras.
Raisa tak punya pilihan lain! Begitu ia menggerakkan tangan dan kakinya, banyak yang terjadi.
Pertama, Raisa menggunakan sihir pengendali elemen tanah. Menggerakkan tanah yang di atasnya terdapat kawan-kawannya untuk bergerak mundur dengan kontrolnya.
"Perhatikan keseimbangan kalian," ujar Raisa
"Kau mau apa dengan menarik mundur kami semua?!" geram Billy
"Kau berpikir apa saat memundurkan kawan-kawanmu, ha!?"
Hahahahahah~
Saat musuh hendak bergerak maju. Raisa yang menggerakkan kedua tangannya mampu mengontrol pergerakan mereka semua. Tubuh semua musuh tiba-tiba saja menjadi kaku!
Raisa sudah memikirkan beberapa perangkap.
Pertama, Raisa melapisi semua tubuh musuh dengan es yang super tebal!
Lalu, ia buat sekeliling mereka banyak sekali jebakan es super tajam.
__ADS_1
Kemudian memerangkap mereka semua dalam dinding tanah super tebal!
Dan membuat sungai lava di sekitarnya~
"Cepat! Semua perangkap itu tak mampu bertahan lama. Kita semua harus pergi dari sini!" ucap Raisa
"Ian, bawa beberapa orang menaiki burung ciptaanmu tadi untuk pergi," ujar Raisa
"Sanari, panggil hewan sihirmu! Nao*," titah Raisa
*hewan mistis dari alam lain yang memiliki kekuatan luar biasa, yang menjalin kontrak dengan Sanari.
"Baik!" patuh Sanari
Sanari merapalkan mantra dan mendatangkan hewan sihirnya, Nao. Seekor hewan perpaduan antara macan dan monyet.
Saat Nao muncul, Raisa dengan sihirnya memunculkan sepasang sayap pada hewan sihir tersebut.
"Nao, kupercaya padamu. Kau pasti bisa melakukannya," kata Raisa pada Nao.
"Sanari, bawalah beberapa orang bersama Nao. Kau dan Ian, pergilah pimpin jalan untuk kita pergi dari sini," ucap Raisa
Ian membawa beberapa orang bersamanya menaiki burung ciptaannya, Sanari pun demikian dengan menaiki Nao yang sekarang bersayap.
"Ke mana?" tanya Ian
"Ke mana saja. Kita akan pergi beriringan," jawab Raisa
"Percayakan padaku. Aku akan membawa yang lain. Kita akan pergi melalui jalur udara," jelas Raisa
"Bagaimana kau membawa kami?" tanya Marcel
"Yang lain, saling berpegang tanganlah!" ucap Raisa
Raisa memejamkan matanya. Lalu terbentanglah dari punggungnya sepasang sayap seperti burung.
Raisa menggenggam seorang di tangan kirinya yang juga sudah berpegangan dengan beberapa orang teman, begitu juga pada tangan kanannya.
"Genggam tanganku! Kalian tetaplah berpegangan tangan, jangan dilepas! Jangan melihat ke bawah!" ucap Raisa
"Kita pergi!!"
"Baik!"
"Ayo, Nao. Kau pasti bisa," ujar Sanari sembari menyemangati Nao.
Raisa pun membawa yang lainnya terbang bersamanya.
Semua pergi dari lokasi dengan cara terbang dengan masing-masing yang membawanya.
•••
__ADS_1
"Keberadaan kita sudah cukup jauh. Semua mendaratlah!~" ucap Raisa
Raisa pun perlahan terbang lebih rendah dan kemudian mendarat. Begitu pula Ian dan Sanari.
Setelah mendarat, sayap dipunggung Raisa pun memnghilang. Begitu pun sayap pada hewan sihir Sanari, Nao, juga ikut lenyap.
"Menurut perhitunganku, mereka takkan mengejar ke sini dengan cepat. Untuk sementara, kita aman," kata Raisa
"Bagaimana kau yakin dengan itu?" tanya Morgan
"Selain memerangkap mereka dengan beberapa jebakan. Aku telah melumpuhkan tubuh mereka untuk sementara. Walaupun mereka bebas dari jebakan, akan sulit bagi mereka bergerak secara normal dalam beberapa waktu," jelas Raisa
"Raisa, Bagaimana kau bisa melakukan semua itu tadi? Banyak sihir sekaligus. Memangnya tenagamu tidak terkuras habis?" ranya Amy
"Itu tidak penting. Yang penting bagiku adalah untuk memastikan kalian selamat dan melindungi kalian. Sekarang adakah kalian yang terluka?" ujar Raisa bertanya.
"Tidak usah memikirkan kondisi kami, kami semua baik-baik saja. Kau istirahatlah dengan baik dulu, tenagamu pasti telah terkuras banyak," ucap Sanari
Bagaimana tidak? Raisa menangani 10 orang dewasa sejaligus sendirian dengan banyak sihir yang dilakukannya.
"Tidak apa. Apa kalian pernah mendengar? Di saat terdesak dan saat ingin melindungi sesuatu yang berharga, seseorang pasti bisa melakukan apapun. Kalian adalah orang-orang yang berharga bagiku. Jika kalian berada di posisiku, pasti kalian juga melakukan hal yang sama. Maaf, tadi aku datang dan bereaksi terlambat," ujar Raisa
Semua yang mendengarnya merasa terenyuh. Kecuali Devan yang sedaritadi diam, nampak berpikir.
"Aku juga minta maaf sudah berbuat semauku tanpa berdiskusi dengan kalian, terutama dengan Devan. Padahal kau adalah ketuanya di sini. Yang kupikirkan tadi hanya menyelamatkan kalian dan tidak mau membiarkan kalian terluka," ucap Raisa
"Tidak apa. Yang penting sekarang, kita semua selamat," kata Aqila
"Benar. Ya, kan, Devan? Hei, Devan! Raisa bicara padamu. Kenapa daritadi kau diam saja?" ujar Morgan bertanya.
"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," kata Devan
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Raisa
"Jika mereka semua tadi repot-repot mengejar kita sampai ke sini ... aku hanya menduga-duga, mungkin saja di dunia kita sana keadaannya sudah jauh lebih berbahaya," ucap Devan
"Kau benar! Kenapa aku tidak terpikirkan sampai sana ... " ujar Morgan
"Itu karena kita sibuk melawan musuh tadi. Kalau begitu, kita harus segera kembali ke sana!" ucap Aqila
"Raisa, kau bisa membantu Paman Elvano membuka portal untuk kembali sebelumnya, kan? Kau bilang ingin membantu kami, kan? Bisakah kau membantu kami untuk kembali?" tanya Devan meminta bantuan pada Raisa.
"Ya, Raisa. Tolong bukakanlah portal ke dimensi dunia kami. Kami harus segera kembali," ujar Morgan
"Eh? Tapi, Paman Elvano menitipkan Aqila dan mempercayakan yang lainnya termasuk kalian semua padaku. Dia tidak mau membiarkan kalian bertemu bahaya," tolak Raisa secara halus.
[¤: Author harap, untuk adengan pelarian di episide ini, kalian para pembaca mengerti dan bisa membayangkannya.]
.
•
__ADS_1
Bersambung...