Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 97 - Dunia Milik Berdua.


__ADS_3

Di pagi hari, Raisa terbangun dan langsung turun dari ranjang. Ia memungut handuk kimono yang dipakai semalam yang tergeletak di atas lantai dan kembali memakainya untuk membalut tubuhnya. Sebelum beranjak ke kamar mandi, wanita berstatus sebagai istri itu merapatkan selimut yang menutupi tubuh polos suaminya hingga sebatas dada. Lalu, ia pun bergegas ke luar dari kamar tidur untuk beranjak masuk ke kamar mandi.


Pergulatan semalam bersama sang suami itu bukan yang pertama kali baginya, jadi kali ini Raisa lebih mudah bergerak meski juga tidak terlalu bebas karena tetap saja sekujur tubuhnya terasa pegal meski tidak separah saat pengalaman pertamanya.


Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, Raisa kembali masuk ke kamar tidur dan langsung hendak membangunkan sang suami. Sebelum dibagunkan, Rumi sudah lebih dulu membuka matanya karena merasa kehilangan sang istri yang tidak ada di sampingnya saat tidur.


Begitu sadar sepenuhnya, kelima indera Rumi langsung aktif dengan tajam terutama indera penciumannya yang mampu menangkap aroma harum tubuh sang istri setelah mandi.


"Kau sudah wangi saja, Sayang," puji Rumi


"Kau sudah bangun? Kalau begitu, cepat bangkit dan mandi," ujar Raisa


"Ini ... pakai dulu handukmu," sambung Raisa sambil menyerahkan handuk kimono milik Rumi pada suaminya itu.


Menjadi suami yang baik dan menurut dengan istri, Rumi pun langsung bangkit dari ranjang dan memakai handuk kimono ysng diberikan oleh Raisa.


"Aku mandi dulu, ya, Sayang," kata Rumi


Raisa hanya mengangguk kecil.


Rumi pun ke luar dari kamar tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu, Raisa langsung berpakaian dan memilihkan pakaian untuk digunakan Rumi nanti. Karena ingin pergi ke daerah dengan suhu rendah, Raisa mengenakan pakaian tebal dan menyiapkan pakaian yang sejenis untuk suaminya.


Setelah rapi dengan pakaian yang membalut dirinya, Raisa bergegas ke luar dari kamar menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Raisa pun mengeluarkan barang belanjaan yang masih tersimpan di dalam ruang penyimpanan sihirnya sejak kemarin. Sambil memasak untuk sarapan, Raisa juga merapikan barang belanjaan dan menaruh pada tempat yang tepat.


Saat Raisa hampir selesai memasak, Rumi ke luar dari kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan dapur dengan hanya memakai handuk kimono miliknya.


"Sayang, kau sedang masak, ya? Masakannya harum sekali. Aku jadi lapar," ujar Rumi


"Ya, aku sudah hampir selesai. Kita harus cepat, jadi kau juga cepatlah berpakaian. Pakaianmu sudah kusiapkan di dalam kamar, ada di atas ranjang," ucap Raisa


"Tidak perlu terlalu terburu-buru juga. Masih ada waktu," kata Rumi yang berjalan mendekati Raisa dan memeluk istrinya itu dari belakang.


Rumi menjadi manja dengan menaruh dagunya pada ceruk leher Raisa.


"Aromanya harum sekali. Aku jadi lapar," gumam pelan Rumi mengulangi kata-katanya yang penuh arti.


Entah yang dimaksud dengan aromanya yang harum itu masakan Raisa atau Raisa itu sendiri dan entah yang membuatnya jadi lapar itu karena ingin segera memakan masakan sang istri atau memakan yang membuat masakan tersebut. Yang jelas kata-katanya menggunakan nada suara yang menggoda.


Raisa pun berbalik dengan cepat dan langsung menyambar bibir suaminya itu sekilas, lalu wanita itu kembali fokus pada masakan yang kini sedang ia hidangkan di atas piring.


"Aku tahu maksudmu dan aku juga sudah memberimu morning kiss-nya. Sekarang kau cepatlah bersiap-siap, Suamiku Sayang," ucap Raisa


Rumi tersenyum senang. Sepertinya pria itu kalah telak. Namun, ia masih ingin lebih dari sekadar kecupan bibir dan tidak ingin kalah dari istri manisnya itu.


Rumi pun menggerakkan kedua tangannya untuk membalik tubuh Raisa hingga menghadap ke arahnya.


"Sudah kubilang, masih ada waktu dan camilan pengganjal laparnya masih belum cukup. Berikan aku yang lebih," ucap Rumi


Raisa mendengus pelan sambil tersenyum menatap ke arah wajah suami tampan yang ada di hadapannya itu.


"Dasar ... aku memang tidak bisa menang darimu dalam hal ini," ujar Raisa


"Tapi, kau juga suka, kan, Istriku Sayang?" tanya Rumi sambil mengeratkan rengkuhan kedua tangannya pada pinggang Raisa dan memangkas jarak antara mereka berdua.


"Tentu saja. Karena itu aku akan memenuhi permintaanmu itu," jawab Raisa sambil tersenyum dengan sangat manis.


Raisa pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Rumi. Pasangan suami istri itu pun saling mendekatkan wajah mereka untuk saling mendaratkan bibir masing-masing. Tak ingin berlama-lama berada di permukaan, Raisa pun menggigit kecil bibir sang suami agar dapat akses untuk memperdalam ciuman mereka. Rumi pun mengikuti permainan sang istri dengan membuka rongga mulutnya. Begitu lidah Raisa masuk untuk mengakses bagian dalam rongga mulutnya, Rumi pun ikut menjulurkan lidah untuk masuk ke dalam rongga mulut istrinya itu.


Keduanya asik dan terhanyut dalam permainan yang diciptakan satu sama lain yang terasa manis nan membabukkan itu. Merasa telah cukup, Raisa pun lebih dulu mengakhiri ciuman mereka dengan memberikan kecupan manis pada sudut bibir suami tampannya itu. Wanita itu pun bergerak mendorong dada sang suami.


"Sudah cukup, Sayang ... " kata Raisa dengan suara lirih dan nafas yang agak tersenggal.


"Baiklah. Kau manis sekali, Sayangku." Setelah merasa puas, Rumi pun memberikan pujian pada istrinya yang terasa sangat manis baginya itu.


Rumi pun mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya dan mengecup singkat pipi kanan Raisa sebelum akhirnya beranjak dari dapur menuju ke kamar tidur. Raisa hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan mendapati suaminya bertingkah seperti itu.

__ADS_1


Raisa pun beralih melanjutkan pekerjaannya. Wanita itu beranjak menata hidangan sarapan yang telah dibuat olehnya di atas meja makan mungil di sana.


Setelah berpakaian dengan rapi, Rumi pun beranjak ke luar dari kamar tidur untuk sarapan bersama Raisa. Menu sarapan hari ini adalah nasi goreng sosis telur keju dan teh lemon hangat.


Raisa dan Rumi pun duduk saling berhadapan pada kedua susi meja makan yang terletak di tengah dengan hidangan sarapan yang menunggu untuk disantap bersama.


"Makanlah, Sayang. Aku harap kau tidak bosan dengan menu makanan yang kubuat ini," kata Raisa


"Maksudku memasak nasi goreng lagi adalah karena akan mendatangi wilayah bersuhu rendah ... kupikir makanan berlemak yang masih hangat ini dapat mempertahankan ebergi tubuh kita dalam waktu yang lama nanti di sana," sambung Raisa yang seolah harus memberi penjelasan.


"Aku tidak pernah bosan dengan masakan buatanmu dan aku juga menyukainya. Lagi pula, terakhir kita makan nasi goreng sudah dari seminggu yang lalu," ungkap Rumi


"Aku sangat bersyukur punya istri yang memerhatikan selera makanku dengan membuat masakan yang berbeda di setiap harinya hingga aku tidak pernah bosan sama sekali dengan ragam rasanya," sambung Rumi


"Tapi, kau masih belum pernah mengatakan padaku makanan favoritmu hingga saat ini," timpal Raisa


"Sayang, aku sungguh bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan. Aku akan mengatakan jika rasa makanannya yang tidak sesuai seleraku, tapi sejauh ini aku selalu menyukai setiap rasa masakanmu. Aku tidak berbohong," jelas Rumi


"Iya, sih. Makanya kau selalu memesan makanan yang sama dengan Morgan saat bersama teman berhargamu yang bagai matahari itu," sindir Raisa


"Sayang, bagimu aku ini siapa dan apa?" tanya Rumi


"Tentu saja ... kau adalah suami tercintaku. Kau adalah bintang favoritku bagai idola yang paling kusuka," ungkap Raisa


"Kalau begitu, jangan ingin jadi matahariku jika kau sudah cemburu dengan matahari yang lain. Jadilah, bulan agar kau bisa selalu bersamaku, bintangmu," ujar Rumi


Raisa merasa senang mendengar perkataan dari Rumi yang terdengar romantis itu. Tapi, wanita itu masih tidak ingin kalah dan menyembunyikan perasaan senangnya itu.


"Bulan dan bintang memang selalu berada di satu waktu, yaitu malam hari, tapi ada kalanya juga salah satu dari keduanya tidak muncul di langit malam," ucap Raisa


"Ya, baiklah. Lebih dari bulan, matahari, atau bintang ... kau adalah alam semesta bagiku," kata Rumi


"Sementara kau adalah udara bagiku. Yang membuatku bisa bernafas dan terus hidup," ujar Raisa


"Kau adalah duniaku," ungkap Raisa dan Rumi secara bersamaan.


Pasangan suami istri itu melanjutkan sarapan bersama hingga akhirnya juga berakhir bersama. Saat itu, Rumi mengulurkan tangannya dan ibu jarinya meraih keju yang menempel pada sudut bibir Raisa.


"Kau makan terburu-buru sekali hingga tidak sadar ada keju yang tertinggal di bibirmu," ucap Rumi yang lalu dimasukkannya keju itu ke dalam mulutnya sendiri hingga pria itu berakhir mengulum ibu jari sekaligus menjilatnya.


"Sangat manis," kata Rumi dengan tatapan mata dan nada suara yang menggoda.


Wajah Raisa langsung mengeluarkan semburat merah yang merona pada kedua pipinya. Wanita itu langsung berbalik badan dengan dalih menaruh piring kotor ke dapur. Padahal di belakang suaminya, ia sibuk mengatur detak jantungnya yang berdebar secara abnormal.


Setelah mengatur perasaannya, Raisa kembali menghampiri Rumi dan bersiap-siap untuk berangkat pergi menjalankan misi.


"Sudah mendekati waktu janjian. Ayo, kita berangkat menemui yang lainnya sekarang," ujar Raisa


"Baiklah. Ayo," kata Rumi


Raisa dan Rumi pun beranjak ke luar dari rumah. Pasangan suami istri itu langsung menuju ke stasiun kereta sambil saling bergenggaman tangan dengan erat.


Raisa dan Rumi tiba di pintu masuk stasiun tempat janjian saat yang lain sudah menunggu keduanya di sana.


"Tumben sekali kalian berdua datang hampir mepet dengan waktu yang dijanjikan?" tanya Ian


"Lain kali datanglah lebih awal," celetuk Amon


"Maaf," sesal Raisa


"Sudahlah, maklumi saja. Namanya juga masih pengantin baru. Toh, Raisa dan Rumi juga tidak datang terlambat," ujar Chilla


"Ayo, kita langsung berangkat saja," kata Devan


Raisa, Rumi, Amon, Sanari, Chilla, Ian, dan Devan pun beranjak bersama masuk ke dalam nenuju area pemesanan tiket. Mereka bertujuh pun naik dan masuk ke dalam gerbong kereta setelah menunggu usai membeli tiket.

__ADS_1


Perjalanan menuju ke Negara Salju kali ini mungkin membutuhkan waktu yang panjang karena jarak yang jauh dari wilayah Negara Api di bagian barat daya menuju ke wilayah bagian paling utara.


Selama perjalanan berada di dalam kereta, mereka berempat akan makan dan mungkin juga tidur sambil menunggu waktu pemberhentian di lokasi tujuan.


Saat waktu makan tiba, satu per satu dari mereka pun memesan makan di dalam gerbong kereta tersebut.


"Kau ingin memesan makanan apa, Rumi?" tanya Raisa


"Entahlah. Aku lebih suka makanan buatan istriku," jawab Rumi


"Setelah menikah, kau pasti selalu makan masakan buatan Raisa, ya, Rumi?" tanya Sanari


Rumi hanya mengangguk sebagai ganti jawaban dari pertanyaan Sanari.


"Pasti enak selalu bisa menyantap makanan lezat buatan orang tercinta," kata Chilla


"Sebenarnya aku bawa kotak makanan berisi bekal yang kubuat dari rumah, tapi itu hanya roti isi sandwich. Apa kau mau?" tanya Raisa pada sang suami yang berada dan duduk tepat di sampingnya itu.


"Tentu saja ... aku mau," jawab Rumi


Kotak makan berukuran sedang muncul begitu saja karena Raisa mengeluarkannya dari ruang penyimpanan sihir miliknya. Ia pun membuka kotak makan itu dan menyodorkannya pada Rumi.


"Makanlah ... aku buat lumayan banyak," kata Raisa


"Wah ... sepertinya enak," celetuk Chilla yang ngiler begitu melihat tumpukan roti isi sandwich yang berada di dalam kotak makan milik Raisa.


"Kalau kau mau, ambil saja," ujar Raisa


"Karena kau yang menawarkan langsung dengan senang hati aku akan mengambilnya. Terima kasih, Raisa," ucap Chilla yang tangannya terulur mengambil satu potong roti isi setelah Rumi.


"Yang lain juga mau? Ambil saja," tawar Raisa


"Tidak usah. Untuk kau dan Rumi saja," kata Sanari mewakili yang lain untuk menolak kebaikan Raisa.


Raisa pun mengambil satu potong roti isi untuk ia makan sendiri.


"Pantas saja Rumi sangat suka makanan buatanmu, Raisa. Rasanya memang lezat," ujar Chilla


"Roti isi tidak sepenuhnya dimasak. Aku hanya membuatnya sesuai selera. Syukurlah jika memang rasanya enak," ucap Raisa


Memang, selain isian yang berupa daging dan telur yang dimasak. Bahan lainnya seperti keju, selada, dan roti tawarnya adalah bahan siap jadi.


Raisa hanya memakan 1 potong roti isi, sedangkan Rumi memakan 2 potong roti isi sekaligus juga saling suap-menyuap kentang goreng dengan Raisa yang juga disiapkan sebagai pendamping oleh istrinya itu.


"Apa aku boleh minta 1 potong roti isinya lagi? Akan kutukar dengan sebungkus keripik kentang favoritku," tawar Chilla


"Hei, Chilla ... apa kau tidak malu meminta makanan orang lain saat kau sudah memesan dan makan banyak makanan?" tanya Ian mencibir.


"Toh, aku bukan meminta makananmu," jawab Chilla dengan ketus.


"Boleh saja karena aku juga suka keripik kentang yang pernah kau berikan dulu. Ambil saja lagi roti isinya," kata Raisa


"Aku hanya akan ambil satu lagi saja kok dan ini keripik kentang untukmu. Terima kasih," ucap Chilla


"Terima kasih kembali." Raisa dan Chilla pun saling bertukar makanan. Sepotong roti isi dengan sebungkus keripik kentang.


Setelah makan bekal buatannya, Raisa pun membuka bungkus keripik kentang pemberian Chilla dan memakannya serta gantian kali ini ia yang menyuapi Rumi untui ikut memakan keripik kentang itu bersama.


"Enaknya jadi pengantin baru ... dunia serasa milik berdua," sindir Devan yang menyaksikan Raisa dan Rumi yang saling suap-suapan.


Raisa terkekeh kecil, sedangkan Rumi tetap menunjukkan wajah datarnya dengan tatapan penuh cinta yang hanya tertuju pada istri cantiknya.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2