Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
65 - Pergi Bersama.


__ADS_3

Rumi sudah sadarkan diri dan Raisa pun telah terbangun...


"Demamnya sudah turun, kau sembuh! Suhu tubuhmu sudah kembali normal." Ujar Raisa yang memeriksa suhu tubuh Rumi dengan menyentuh dahi Rumi menggunakan punggung tangannya.


Tangan Rumi pun terulur untuk menggenggam tangan Raisa yang menyentuh dahinya. Rumi menarik turun tangan Raisa yang berada di dahinya dan terus menggenggamnya. Raisa pun terus menatap Rumi yang berada di sampingnya.


"Sejak kapan kau sampai di sini? Bagaimana bisa kau menemukanku di sini? Apa kau yang menolongku?" Tanya Rumi bertubi-tubi.


"Entahlah, aku tertidur di sini, jadi aku tidak tau pasti kapan saat aku sampai di sini setelah memasuki gerbang portal teleportasi antar dimensi, tapi aku sampai belum lama ini. Saat aku tiba, aku bertemu Morgan dan yang lain. Kau tau kan, semua memiliki tanda pendeteksi dariku? Kalian bisa mengetahui adanya bahaya menyerang kalian atau salah satu antara kalian. Morgan yang menanyai satu persatu dari kalian semua mengetahui semua baik-baik saja, kecuali kau yang tak dapat dihubungi karena sedang dalam perjalanan pergi ke tempat orangtuamu. Setelah mengetahui dari Morgan bahwa kau mungkin berada dalam bahaya saat perjalanan menuju tempat orangtuamu, aku langsung pergi mencarimu. Ya, aku yang menolongmu. Kalau tidak, apa kau lihat ada orang lain di sini yang mungkin telah menolongmu?" Ungkap Raisa menjawab beberapa pertanyaan dari Rumi


"Lalu, tempat apa ini? Kau yang membuat dinding yang membentuk gubuk ini? Dan bagaimana cara kau menolongku?" Tanya Rumi lagi.


"Ya, tempat yang seperti gubuk dari tanah ini aku yang membuatnya dengan sihirku. Aku menolongmu dengan cara-" Raisa menggentikan ucapannya dan tak melanjutkan kalimatnya.


Mengingat apa yang telah Raisa lakukan untuk berusaha menolong dan menyelamatkan Rumi, membuatnya malu dan salah tingkah. Matanya langsung menjauhi tatapan Rumi dan beralih menatap tak menentu ke asal arah. Jantungnya berdebar kencang. Bahkan pipinya mulai muncul semburat rona kemerahan.


"Kenapa kau malah diam, Raisa? Kenapa saat aku bangun tadi aku melihatmu sedang memelukku? Pakaianku juga kenapa terbuka? Kenapa juga tangan dan tubuhmu terasa dingin? Bibir dan wajahmu juga memucat dan terasa dingin juga?" Tanya Rumi lagi dengan bertubi-tubi.


Mendengar pertanyaan Rumi yang terus bertubi-tubi malah membuat Raisa semakin salah tingkah dan malu. Rona merah pada wajahnya pun bahkan semakin bertambah merah.


"Kenapa kau hanya diam? Jawab aku, Raisa." Ujar Rumi yang memaksa Raisa menjawab pertanyaannya.


"Iya-iya, akan kujawab! Tadi kau mengalami demam tinggi yang hebat. Untuk menurunkan demammu yang tak kunjung turun, aku terpaksa memeluk tubuhmu dengan tubuhku yang sudah kuselimuti dengan sihir elemen es. Supaya es yang menyelimuti tubuhku dapat menurunkan demammu, aku terpaksa membuka beberapa kancing pakaianmu untuk menempelkan es pada tubuhku pada kulit tubuhmu, dengan begitu suhu tubuhmu yang tinggi baru bisa turun dan kembali normal. Itu alasan yang menjelaskan semuanya termasuk pakaianmu yang terbuka. Makanya tubuhku jadi terasa dingin. Aku tadi bahkan membantumu meminum obat pereda demam." Jelas Raisa tanpa melihat ke arah Rumi.


"Oh. Apa dengan kondisiku tadi aku juga bisa meminum obat?" Tanya Rumi


Bluushh~


Untuk ke sekian kalinya, wajah Raisa kembali memerah. Bahkan terlihat sampai merah padam saking malunya!


"Aku menyuapimu dengan mulutku untuk membantumu agar meminum dan menelan obat itu. Bahkan aku juga menyuapimu untuk memakan roti sebelum itu." Jawab Raisa dengan suara pelan hampir seperti orang yang bergumam pelan. Raisa tertunduk malu saat menjawabnya.


"Apa? Aku tidak bisa nendengarmu..." Sahut Rumi


"Aku tau kau bisa mendengarku. Tidak usah pura-pura tidak mendengarku! Jangan membuatku semakin malu untuk mengulanginya lagi!" Ujar Raisa dengan sedikit emosi yang kembali menghadap menatap Rumi.


Merasa emosi karena Rumi yang berpura-pura tidak mendengarnya, tanpa sadar Raisa malah menoleh untuk menatap tajam Rumi. Padahal ia tak mau dan tak bisa menatap lelaki itu untuk saat ini. Raisa pun hanya mampu menundukkan kepalanya agar tidak ditatap dan menatap Rumi.


"Maafkan aku yang melakukan semua itu tanpa seizinmu. Aku tidak bermaksud apa-apa atau bersikap tidak sopan atau kurang ajar terhadapmu." Kata Raisa


HUGS!


Rumi pun berhambur memeluk tubuh Raisa dengan sangat erat yang berada di sampingnya. Saat dipeluk oleh Rumi, tubuh Raisa ditarik ke dalam dekapannya sampai membuat Raisa mendongakkan kepala saat berada dalam pelukannya.


"Aku tau kau tidak bermaksud melakukannya jika saja tadi aku baik-baik saja. Kau tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu bingung dan kesulitan. Dan, terima kasih karena telah menolong dan menyelamatkanku." Ucap Rumi


"Hmm. Sama-sama. Tapi, bagaimana bisa kau sampai seperti ini? Siapa orang-orang yang menyerangmu itu? Apa motif mereka berbuat ini semua terhadapmu?" Ujar Raisa


"Entahlah. Aku tidak tau motif dan siapa mereka. Tapi, Raisa... Lain kali jangan seperti ini. Jangan membahayakan dirimu hanya demi menyelamatkanku. Kau kan lemah terhadap dingin. Bagaimana bisa kau malah menyelimuti dirimu dengan es untuk menolongku?" Ucap Rumi


"Bukan hanya sebatas itu saja. Kau kan temanku. Aku juga sudah berjanji untuk melindungi dan menyelamatkan siapa pun itu, terlebih lagi jika itu adalah kau, Rumi." Kata Raisa


"Ternyata kau masih menganggapku hanya sebatas teman untukmu. Tapi, tak apa. Yang penting aku bisa memelukmu seperti ini dan kau tak menolakku. Aku sangat senang!" Batin Rumi


Jantung Raisa terus berpacu dalam kecepatan saat berada di dalam pelukan Rumi. Walau dengan begini, Raisa juga dapat merasakan dan mendengar suara detak jantung Rumi yang sama cepat dan kencangnya dengan miliknya, tetap saja ia merasa gugup. Raisa pun berusaha melepaskan pelukan Rumi. Namun, hasilnya nihil! Raisa tak bisa melepaskan pekukan Rumi yang terlalu erat.


"Sudah cukup, Rumi. Lepaskanlah aku." Pinta Raisa


"Tidak mau. Kau sudah memelukku bahkan sampai menyelimuti tubuhmu dengan es untuk menurunkan demamku. Sekarang kau kedinginan. Biarkan aku memelukmu untuk menghilangkan dingin yang kau rasakan pada tubuhmu. Seperti ini, sebentar lagi saja." Ujar Rumi


"Baiklah, sebentar saja." Kata Raisa


Raisa pun membiarkan Rumi memeluk tubuhnya dengan erat sebentar lagi. Rasanya nyaman sekali dan sangat hangat... Raisa pun membenamkan wajahnya pada leher Rumi.


Saat Raisa yang membenamkan wajahnya pada leher Rumi, Rumi dapat merasakan dingin dari wajah dan bibir Raisa di lehernya.

__ADS_1


Akhirnya, Rumi pun melepaskan pelukannya pada tubuh Raisa. Dan Rumi pun menatap dalam-dalam wajah Raisa, lalu tangannya menangkup kedua pipi Raisa yang terasa begitu dingin.


"Raisa, wajah dan bibirmu terasa dingin bahkan sampai memucat. Ini pasti karena ulahmu yang ceroboh malah menyelimuti dirimu sendiri dengan es. Haruskah aku menciummu supaya bibirmu tidak lagi dingin seperti sekarang ini?" Ujar Rumi


Mata Raisa terbelalak kaget saat mendengar perkataan Rumi yang ingin menciumnya. Perkataan Rumi bahkan bisa dibilang meminta izin terlebih dulu pada Raisa.


Rumi pun mulai memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa. Terus semakin mendekat...


DEG... DEG!


DEG~


Sett~~


Raisa pun menoleh dan memalingkan wajahnya dari wajah Rumi yang terus mendekati wajahnya hendak menciumnya.


"Aku tidak apa, kau tak harus melakukannya. Aku tidak mengizinkanmu." Tolak Raisa


Melihat Raisa menolaknya, Rumi pun kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Raisa dan menarik kembali sepasang tangannya yang menangkup kedua pipi Raisa.


"Baiklah. Maafkan aku." Kata Rumi


"Tidak, kau tidak salah. Aku bahkan bersikap lancang padamu sebelumnya. Hanya saja, aku... Aku hanya-" Ucapan Raisa terhenti dan ia tak bisa melanjutkannya lagi. Ia tak tau harus mengatakan apa.


"Tidak apa, itu juga bukan salahmu. Kau hanya berusaha menyelamatkanku tadi. Aku berterima kasih padamu. Sudahlah, tak perlu diungkit lagi. Sebaiknya kita ke luar dan pergi dari sini." Ucap Rumi


Rumi pun bangkit dari posisi duduknya dan berdiri mendahului Raisa. Lalu, Rumi ke luar dari gubuk tanah buatan Raisa. Raisa pun bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri dan ikut menyusul Rumi ke luar dati gubuk tanah itu. Setelah ke luar, Raisa pun membatalkan sihir tanahnya yang membuat gubuk tersebut sampai jadi menghilang. Di sana kembalilah hanya menjadi tanah tandus tak bertuan yang sangat hampa.


"Rumi, ayo! Kita ke tempat orangtuamu tinggal. Kau kan memang mau ke sana dan aku sudah bilang pada teman yang lain untuk segera mencari kita ke sana. Takutnya mereka sudah pergi mencarimu ke sana." Ucap Raisa


"Aku memang mau melanjutkan perjalanan ke sana. Kau mau ikut denganku, Raisa?" Ujar Rumi bertanya.


"Tentu saja. Aku akan menemanimu ke sana. Berdua lebih baik dari pada kau pergi ke sana sendiri. Jaga-jaga, takut masih ada orang yang memiliki niat buruk terhadapmu. Aku sudah datang ke dunia ini, juga sudah mengatakan agar teman-teman yang lain mencarimu ke tempat orangtuamu. Kalau aku tidak ikut ke sana, aku harus ke mana dan akan bersama siapa?" Tutur Raisa


"Baiklah. Ayo, kita ke sana." Kata Rumi


"Ah, tenaga sihirku tidak cukup untuk memunculkan sayap yang sama denganku pada punggungmu. Sepertinya tenaga sihirku sudah hampir habis dan tinggal tersisa sedikit saja. Padahal akan sangat cepat menempuh perjalanan jika bisa terbang." Ungkap Raisa


"Tak apa, kau terbanglah. Aku akan berjalan di bawah sini." Kata Rumi


"Tak bisa begitu. Aku tidak tau tempat orangtuamu itu, hanya kau yang tau tempatnya. Makanya kita harus pergi menuju ke sana bersama-sama." Ujar Raisa


Rumi dan Raisa pun sama-sama terdiam memikirkan sebuah cara. Lalu, Raisa pun mengulurkan tangannya.


"Begini saja, kau genggamlah tanganku. Akan kubawa kau terbang bersamaku. Kau tunjukkan jalannya, kita terbang dan pergi bersama-sama." Ujar Raisa seraya mengulurkan tangannya.


Rumi pun meraih uluran tangan Raisa dan menggenggamnya dengan erat. Raisa mulai bersiap untuk mengudara...


"Baiklah, aku ikut katamu saja." Kata Rumi


"Bagus, genggam yang erat! Bersiaplah, kita akan terbang!" Ujar Raisa


Raisa pun mulai mengepakkan sayap di balik punggungnya. Perlahan tapi pasti, ia dan Rumi mulai terangkat ke udara~


"Ke arah mana kita harus pergi?" Tanya Raisa saat berhasil terbang membawa Rumi.


"Terus ke arah kiri." Jawab Rumi


Raisa pun mengikuti arahan Rumi untuk terbang ke arah kiri.


"Baiklah. Apa kau tidak takut terbang seperti ini, Rumi?" Ujar Raisa


"Aku tidak pernah takut. Apa lagi saat bersamamu, Raisa. Berdua denganmu seperti ini membuatku nyaman dan terasa semakin aman." Ungkap Rumi


Tanpa ia perlihatkan, Raisa merasa malu mendengar jawaban dari Rumi. Itu membuatnya salah tingkah!

__ADS_1


Tak mau merasa canggung selama perjalanan mengudara ini, Raisa pun mencari topik untuk mengobrol.


"Apa kau ingat wajah orang-orang yang menyerangmu, Rumi?" Tanya Raisa


"Ingat. Tunggu, bagaimana bisa kau tau kalau ada yang menyerangku, Raisa?" Ujar Rumi yang balik bertanya.


"Aku melihat ke dalam memorimu dan aku berhasil walau hanya terlihat samar-samar." Ungkap Raisa


"Kemampuanmu semakin bertambah hebat. Luar biasa!" Puji Rumi


"Tak usah berlebihan. Apa kau menyadari orang-orang yang menyerangmu itu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhmu, Rumi?" Ujar Raisa


"Tidak. Aku hanya fokus untuk mengalahkan mereka dan membuat meraka pergi. Aku tak sadar ada sesuatu yang aneh pada diriku setelah mereka pergi, ternyata mereka menyuntikkan sesuatu padaku!" Ungkap Rumi


"Ya, itu adalah racun! Racun itu sepertinya sangat ganas sampai bisa mengalahkan daya tahan tubuhmu yang kuat dan berhasil membuatmu demam hebat. Sepertinya musuhmu mengenalimu dengan baik sampai tau kelemahanmu. Sebebarnya siapa mereka dan racun apa yang mereka gunakan padamu?" Ucap Raisa bertanya-tanya.


"Aku juga tidak tau." Kata Rumi


"Setelah sampai nanti, kau masih harus menjalani pemeriksaan dengan orangtuamu. Aku takut masih ada bagian dari racun itu di dalam tubuhmu." Ujar Raisa


"Ya, aku takkan membuatmu khawatir lagi. Akan ku ikuti sesuai perkataanmu." Kata Rumi


Perilaku Rumi yang mau menuruti keinginan sesuai perkataannya, membuat Raisa tersentuh. Dirinya merasa jahat karena telah menghindari dan mengabaikan perasaan Rumi.


"Raisa, apa kau tidak tau di mana tempat orangtuaku tinggal? Kau tidak melihatnya dalam mimpi ajaibmu?" Tanya Rumi


"Aku tidak bermimpi dan memimpikan tentang semua hal. Aku hanya tau tempat orangtuamu terlihat seperti apa, tapi tidak tau letak pastinya di mana. Aku menemukanmu yang pingsan karena diracuni pun karena kau terhubung dengan tanda dari lambang kekuatanku. Kalian hanya bisa menyadari dan mengetahui ada seseorang yang dalam bahaya dengan tanda yang kuberikan di telapak tangan kalian itu. Tapi dengan adanya tanda itu pada kalian, hanya aku yang bisa tau langsung posisi keberadaan kalian yang sedang dalam bahaya. Karena akulah inti dari kekuatannya." Jelas Raisa


"Apa kau juga tau seperti apa orangtuaku?" Tanya Rumi lagi.


"Ya, aku tau." Jawab Raisa


Raisa dan Rumi kembali saling terdiam. Raisa tau Rumi tak ingin membahas lebih jauh tentang orangtuanya, jadi ia lebih memilih diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Rumi karena sudah tak ada hal lain lagi yang ingin ia bicarakan. Rumi tak ingin membicarakan tentang orangtuanya karena tak tau harus memulainya dari mana. Orang lain pun tak banyak yang tau tentang orang tua Rumi. Karena ada sejarah kelam pada masa lalu orangtuanya.


---


Di lain tempat, akhirnya...


"Lihat, tandanya sudah berubah menjadi warna hijau!" Ungkap Aqila


"Benar! Kalau begitu, kita langsung perhi menuju tempat orangtua Rumi saja. Ayo, cepat!" Ucap Morgan


Morgan pun langsung bangkit dari posisinya dan berlalu pergi dengan berlari. Devan, Aqila, dan yang lain pun mulai mengikuti dan mengejarnya. Untuk menyusul Rumi dan Raisa ke tempat orangtua Rumi tinggal.


"Morgan, tunggu! Dasar, merepotkan saja!" Decih Devan


"Hei, jangan tinggalkan kami!" Teriak Chilla


"Amy, kau yakin ingin ikut dengan kami ke tempat orangtua Rumi? Apa kau tidak apa jika sampai bertemu orangtua Rumi yang menyeramkan? Kerabat Rumi juga sangat galak lho... Jangan sampai saat tiba di sana, kau malah terus menangis keras!" Ujar Ian


"Hei, Ian! Kau jangan menakuti Amy seperti itu dong!" Tegur Wanda


"Hiiy~ Tidak apa! Demi Raisa dan Rumi, demi mereka berdua teman kita, aku takkan takut dan menangis!" Ucap Amy meneguhkan pendiriannya.


"Hei, Ian! Jangan-jangan malah kau yang takut dengan orangtua dan kerabat Rumi?!" Ujar Sandra


"Aku, tentu saja tidak! Aku sudah pernah ke sana dan bertemu langsung dengan mereka." Kata Ian


"Sudah pernah bertemu bukan berarti kau tidak takut kan?" Ejek Sandra


"Kubilang, tidak begitu!" Tegas Ian


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2