
"Kau juga tau tentang hal yang terjadi saat itu, Raisa? Saat itu bahkan kami terlambat mengetahuinya. Kenapa kau malah mengetahuinya dengan sangat jelas?" Tanya Bibi Rina
"Dan, Anda tidak merasa heran saat Raisa mengetahui tentang saat itu, Tuan Rommy?" Tanya Paman Garry
Bibi Rina dan Paman Garry sama-sama merasa heran dengan sikap Tuan Rommy yang terlihat biasa dan santai setelah mendengar Raisa yang mengetahui tentang kejadian besar yang disembunyikan itu.
"Raisa adalah gadis ajaib, misterius, hebat, dan luar biasa yang sedang banyak dirumorkan. Banyak hal yang diketahuinya... Aku sudah memaklumi itu." Ucap Tuan Rommy
"Pujian yang terdengar dari orang-orang itu terlalu berlebihan! Aku memang misterius karena bukan berasal dari dunia sini dan yang membuatku dikatakan ajaib adalah karena aku mengetahui banyak hal yang terjadi di dunia sini melalui mimpiku, tapi bukan berarti aku mengetahui semuanya. Selain dari itu, rasanya aku tidak pantas menerima pujian yang berlebihan utu. Aku juga sudah pernah melihat kejadian yang terjadi saat itu melalui mimpiku. Apa hal itu adalah hal yang dirahasiakan? Makannya Bibi dan Paman jadi kaget dan heran? Kalau begitu, aku mohon maaf atas kelancanganku ini." Ujar Raisa
"Kami berdua memang kaget dan heran karena kau mengetahui hal itu dengan sangat jelas. Tapi, kau tidak perlu sampai memohon maaf, Raisa. Walau dirahasiakan pun, ada juga beberapa orang yang mengetahui hal itu. Sekarang pun kau termasuk dari salah satu orang itu." Tutur Bibi Rina
"Kalau begitu, aku juga akan merahasiakan hal ini dengan sebaik mungkin." Kata Raisa
"Bagus, kalau begitu! Sekarang serahkan saja masalah sekarang ini pada kami. Kau tidak perlu lagi khawatir soal Rumi ini, Raisa." Ujar Paman Garry
"Ya, aku mengerti. Aku pun berjanji! Akan selalu melindungi dan menolong Rumi saat aku bersama dengannya." Ucap Raisa
"Raisa, sebagai orangtua dan sekaligus mewakili anakku, aku berterima kasih karena kau telah nenyelamatkan Rumi dari bahaya yang ia alami ini. Terima kasih banyak atas bantuanmu." Ungkap Tuan Rommy
"Sama-sama, Tuan. Anda tidak perlu begitu sungkan denganku. Sebagai temannya, memang sudah seharusnya aku menolongnya yang sedang dalam kesulitan termasuk juga menyelamatkan nyawanya." Ujar Raisa
"Dan, seperti yang kau lakukan pada Rina maupun Garry, kau juga bisa memanggilku dengan sebutan Paman. Kau juga boleh langsung memanggilku dengan sebutan Ayah." Ucap Tuan Rommy
"Eh!? Maaf, Tuan?" Kaget Raisa yang juga merasa bingung.
Apa maksud ucapan Tuan Rommy? Adakah maksud terselubung dalam ucapannya itu? Itu membuat Raisa bingung juga sekaligus salah tingkah karena hampir membuatnya salah paham...
Bibi Rina dan Paman Garry pun sedikit terkejut mendengar apa yang Tuan Rommy ucapkan.
"Kalau kau memanggil Tuan Rommy dengan sebutan Paman atau Ayah, kau ganti saja panggilanku dan Garry dengan sebutan Kakak. Usia tidak tau berbeda dengan Logan, Kakaknya Rumi." Ujar Bibi Rina
"Raisa, bahkan tau tentang Logan?" Tanya Paman Garry
"Dia bahkan juga tau tentang Johan!" Kata Bibi Rina
"Ah, maaf. Aku anggap ucapan Tuan Rommy tadi sebagai tawaran. Akan kupikirkan lagi tentang ucapan Anda tadi. Karena sepertinya aku masih belum pantas memanggil Anda dengan sebutan itu. Tapi, terima kasih atas kebaikan Anda sekalian." Ucap Raisa
"Kau terlalu merendah, Raisa. Kamilah yang seharusnya berterima kasih padamu." Ujar Bibi Rina
Raisa hanya tersenyum merespon perkataan Bibi Rina...
"Terserah kau saja. Kau bisa memikirkannya, kau juga bisa bertanya-tanya pada Rumi tentang hal ini." Kata Tuan Rommy
"Ah, baiklah." Sahut Raisa
Apa maksud perkataannya ini lagi? Tuan Rommy benar-benar mampu membuat Raisa salah paham dan salah tingkah sendiri!
..."Ucapannya tadi dan perkataannya barusan... Apa sebenarnya maksud Tuan Rommy? Memanggilnya dengan sebutan Paman atau bahkan Ayah!? Apa dia menyadari sesuatu dari hubunganku dan Rumi atau suatu perasaan apa yang kusembunyikan dalam hatiku? Bertanya-tanya dengan Rumi tentang hal ini? Apa maksudnya aku perlu bertanya pada Rumi, apa dia memperbolehkan dan menyetujuiku memanggil Ayahnya dengan sebutan demikian? Memanggilnya dengan sebutan Ayah seperti anaknya saja. Apa dia mau menganggap dan mengangkatku sebagai putrinya atau maksud yang lain? Ah, ini membingungkan! Membuatku salah paham saja!" Batin Raisa sedikit gelisah karena salah tingkah....
Raisa berusaha keras menahan ekspresinya sebisa mungkin agar tidak terlihat memalukan saat dirinya sedang merasa sedikit salah paham dan agak salah tingkah di depan ketiga anggota keluarga Rumi.
"Maaf, Bibi Rina, aku melupakan sesuatu. Bisakah aku memintamu mengambilkan sesuatu untuk Rumi makan? Dia harus makan sebagai asupannya." Pinta Raisa yang mengalihkan topik pembicaraan.
Saat Raisa menyuapi Rumi untuk memakan beberapa gigitan roti dengan menggunakan mulutnya sendiri itu tidak dapat dihitung benar-benar makan. Rumi butuh makan sebagai asupannya saat ini. Dan Raisa mencoba meminta Bibi Rina untuk mengambilkan Rumi makanan.
"Kau perhatian sekali pada Rumi, Raisa. Baiklah, akan kuambilkan makanan untuk Rumi." Kata Bibi Rina
"Aku bisa pergi sendiri kembali menemui Rumi. Aku pergi dulu, Tuan Rommy, Paman Garry." Pamit Raisa
Raisa pun ke luar dari ruangan lab untuk kembali menemui Rumi. Dan Bibi Rina juga pergi dari ruangan itu untuk mengambilkan makanan untuk Rumi sesuai permintaan Raisa.
---
Raisa pun kembali menuju ruang pemeriksaan tempat Rumi berada dan Bibi Rina beranjak menuju dapur menyiapkan makanan untuk membawakannya pada Rumi sesuai permintaan Raisa.
__ADS_1
"Hai, Rumi! Aku kembali. Tidak lama, kan?" Ujar Raisa yang baru saja kembali menemui Rumi di ruang pemeriksaan.
"Raisa, akhirnya kau kembali juga! Bagiku beberapa waktu ini tetap saja lama. Aku ingin selalu bersamamu, Raisa." Ungkap Rumi
Raisa baru saja meredakan perasaan salah tingkahnya setelah bertemu Tuan Rommy dan ke luar dari ruangan lab. Sekarang saat kembali menemui Rumi dan mendengar ucapannya, lagi-lagi membuat Raisa jadi salah tingkah dan merasa malu.
..."Ayah dan anak memang benar memiliki gen yang sama. Perlakuannya pun juga sama persis! Membuat orang berdebar-debar salah tingkah dan salah paham saja! Berada dekat dengan mereka membuatku olahraga jantung saja!" Batin Raisa...
Raisa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rumi. Ia berusaha semampu mungkin untuk tetap santai menghadapi lelaki anak dari seseorang tadi saat ini.
"Kau membicarakan apa saja tadi dengan Ayah?" Tanya Rumi seolah menginterogasi Raisa.
"Membicarakan tentangmu! Aku memberikan botol yang berisi apa yang kau muntahkan saat aku mendetoks racun dari dalam tubuhmu. Kata Ayahmu, dengan itu bisa mengenali jenis racun, penawar, dan pelaku yang menggunakannya padamu." Ungkap Raisa
"Masih harus mengonsumsi penawar? Bukankah semua racun itu sudah lenyap dari tubuhku?" Tanya Rumi
"Hampir. Tapi, masih ada sisa bekas racun yang masih dalam proses ke luar dari dalam tubuhmu. Butuh penawar untuk mempercepat proses penguapan racun itu agar ke luar dari dalam tubuhmu." Jawab Raisa
"Hanya itu? Apa ada hal lain lagi yang kau bicarakan bersama dengannya? Aku menunggumu lama hanya untuk kau membicarakan itu dengannya?" Tanya Rumi bertubi-tubi seakan sedang menyelidiki Raisa.
"Ah, aku juga membahas ini dengan Tuan Rommy! Kejadian kau yang diracuni ini kan kali kedua, aku membahas kali pertamamu teracuni sesuatu. Aku tidak tau kalau hal itu ternyata dirahasiakan. Aku jadi lancang asal membicarakannya." Jawab Raisa menjelaskan
"Kau juga tau tentang itu, Raisa? Hal utu tidak dirahasiakan, tapi kami tidak membicarakannya dengan luas saja." Ucap Rumi
"Itu sih sama saja, Rumi! Ya, aku mengetahui hal itu dan melihatnya di dalam mimpiku." Kata Raisa
"Apa tidak ada hal lain lagi yang kau bicarakan dengan Ayahku tadi?" Tanya Rumi seakan sedang mengeruk harapan melalui pertanyaannya.
"Hal lain seperti apa, memangnya?" Tanya balik Raisa seolah tak tau maksud pertanyaan Rumi.
"Apa pun itu, entahlah. Hal khusus, misalnya. Mungkin kau lupa sudah membicarakannya tadi, ingat-ingatlah lagi." Ujar Rumi terus mendesak Raisa dengan terus berharap.
"Hal khusus seperti apa? Sepertinya tidak ada deh!" Gumam Raisa
Dari balik pintu Bibi Rina terus melangkah masuk ke dalam ruang pemeriksaan menghampiri Rumi dan Raisa. Ia sudah dapat mendengar percakapan Rumi dan Raisa sejak ingin belok masuk ke dalam ruangan tersebut.
Bibi Rina terus melangkah menghampiri Rumi dan Raisa dengan membawa makanan di atas nampan pada kedua tangannya.
"Mungkin yang dimaksud Rumi yang ingin didengarnya adalah tawaran Tuan Rommy untukmu soal panggilannya? Kau tidak mengatakan itu pada Rumi atau bertanya-tanya padanya seperti kata Tuan Rommy, Raisa?" Ujar Bibi Rina saat datang mendekati Rumi dan Raisa.
Bibi Rina pun meletakkan nampan makanannya di atas meja di sana.
"Ah, akhirnya Bibi Rina datang! Dia membawakan makanan untukmu, Rumi." Sorak Raisa
Raisa mencoba mengalihkan topik yang dibicarakan Bibi Rina. Ia sudah berusaha menutupi dan tidak mengungkit hal itu. Tapi, kenapa Bibi Rina harus membicarakannya?
"Aku yang meminta Bibi Rina untuk membawakanmu makanan. Makanlah, kau harus makan." Kata Raisa
"Apa maksud ucapan Rina tadi? Kau menyembunyikan apa dariku, Raisa? Apa yang dikatakan Ayah tadi?" Tanya Rumi
"Kita bahas itu nanti. Kau makan saja dulu, kau kan belum makan." Ujar Raisa
"Aku kan sudah makan. Kan kau sendiri yang- hmmpt..." Ucapan Rumi terpotong karena ada yang menahannya.
Ternyata itu Raisa yang membekap mulut Rumi, menutupi mulut Rumi dengan tangannya. Rumi pun tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Sudah kubilang, itu tidak cukup! Kau harus makan lagi. Dan jangan bahas tentang itu lagi!" Tegas Raisa sedikit kesal.
"Apa yang mau kau katakan, Rumi? Memangnya Raisa kenapa?" Tanya Bibi Rina
Raisa menoleh ke arah Rumi dan ia menggeleng kecil. Meminta Rumi untuk tidak mengungkap hal yang ingin Rumi katakan tadi. Mata Raisa memerlihatkan ekspresi memohon. Di balik tangan Raisa yang menutupi mulut Rumi, Rumi tersenyum melihat ekspresi panik disertai memohon Raisa.
"Tidak apa kok, Bibi. Tadi Rumi memakan sedikit makanan, jadi ia harus makan lagi. Tapi, dia malah tidak mau makan." Ucap Raisa
"Oh, begitu. Kau harus makan, Rumi. Kasihan Raisa yang sudah perhatian padamu tapi kau malah tidak peduli pada dirimu sendiri. Nanti Raisa jadi sedih, jadi jangan seperti itu." Ujar Bibi Rina
__ADS_1
Raisa melihat Rumi seolah mengatakan, "Jangan kau katakan hal yang ingin kau katakan tadi. Jangan bahas hal itu di depan orang lain."
Rumi pun mengangguk kecil pertanda mengerti.
"Yasudah. Kau makanlah, Rumi. Aku juga sudah membawakan camilan untuk Raisa. Kalian nikmatilah. Aku pergi dulu." Ucap Bibi Rina
Bibi Rina pun berbalik melangkah pergi meninggalkan Rumi dan Raisa. Sebelum benar-benar ke luar dari ruang pemeriksaan, Bibi Rina menoleh...
"Aku tidak ingin tau atau memaksa kau mengatakan hal yang Raisa minta kau rahasiakan. Rahasia kalian berdua cukup kalian berdua saja yang tau. Seperti itulah masa-masa muda. Kalian nikmatilah waktu berdua kalian. Aku tidak akan mengganggu." Ucap Bibi Rina dengan senyuman penuh artinya.
Setelah mengucapkan itu, Bibi Rina langsung beranjak ke luar dari ruang pemeriksaan meninggalkan Rumi dan Raisa untuk menikmati waktu berdua.
Setelah Bibi Rina pergi, Raisa langsung menghela nafas lega. Namun, tangannya masih saja menutupi mulut Rumi.
Rumi pun meraih tangan Raisa yang menutupi mulutnya dan menggenggam tangan gadis itu. Di balik tangan Raisa, Rumi mengecup telapak tangan Rumi dengan mesra. Raisa amat terkejut, lantas menarik kembali tangannya dari genggaman Rumi~
"Apa yang kau lakulan, Rumi?!" Sontak Raisa bertanya.
Pipi Raisa bersemu merah. Dirinya jadi salah tingkah.
Rumi terkekeh pelan melihat ekspresi Raisa yang salah tingkah itu.
"Lalu, apa yang kau sembunyikan dariku? Hmmm?" Tanya Rumi memojokkan situasi Raisa.
"Baik. Akan kukatakan sambil kau makan." Kata Raisa
Raisa mengambil piring makanan Rumi dan menaruhnya di pangkuan Rumi, menyuruhnya untuk makan.
Rumi pun menyuap satu sendok makanan ke dalam mulutnya...
"Maka, katakanlah..." Pinta Rumi di sela-sela aktivitas mengunyah makanannya.
Huft~
Lagi, Raisa menghela nafas panjang...
"Aku tidak tau maksud Ayahmu. Tapi, Tuan Rommy menawariku untuk memanggilnya dengan sebutan Paman seperti yang aku lalukan mengubah panggilanku pada Nona Rina dan Tuan Garry menjadi Bibi Rina dan Paman Garry. Tuan Rommy bahkan mengizinkan dan memperbolehkanku memanggilnya dengan sebutan Ayah, sama sepertimu. Tapi, kubilang padanya untuk memikirkan tawarannya lebih dulu." Ungkap Raisa
"Kenapa kau harus memikirkannya dulu? Kenapa kau tidak langsung memanggilnya dengan sebutan Paman atau bahkan Ayah? Toh, dia yang mengizinkan dan memintanya sendiri padamu." Tanya Rumi
"Kau tidak mengerti. Aku merasa tidak pantas." Kata Raisa
"Kenapa kau merasa tidak pantas? Ayahku sendiri yang mengatakan boleh." Heran Rumi
Ayah dan anak memiliki sifat yang sama. Tuan Rommy sudah membuat Raisa salah paham yang akan membuatnya mengira sudah mendapat restu dari orangtua untuk menjalin hubungan dengan anaknya. Sekarang, Rumi membuatnya salah paham mengira dirinya sangat diinginkan oleh lelaki itu.
Tentu, Raisa tidak bisa sembarangan menerima tawaran semacam ini atau mengubah panggilannya pada seseorang.
Saat Raisa bingung harus memberi jawaban seperti apa pada Rumi, suara riuh ramai dan heboh terdengar datang dari luar tempat itu. Beberapa orang pun datang hingga masuk dan menemui mereka berdua di ruang pemeriksaan. Tenyata mereka yang datang adalah teman-teman yang datang dari jauh ke tempat orangtua Rumi itu. Dari Desa Daun sampai tempat orangtua Rumi tinggal berada terbilang jauh dan mengharuskan menempuh waktu perjalanan yang cukup lama.
"Rumi, Raisa, kami datang!" Soraknya terdengar seperti suara seorang gadis. Yang itu adalah Wanda.
Mereka semua pun satu persatu masuk ke dalam ruang pemeriksaan menampakkan diri masing-masing. Morgan, Aqila, Devan, Ian, Chilla, Amy, Wanda, dan Sandra.
Mereka semua menghampiri Rumi dan Raisa di sana.
"Kalian sudah datang!" Seru Raisa
Raisa dan Rumi pun menyambut kedatangan teman yang lain di sana. Semua sangat heboh menanyakan keadaan Rumi dan Raisa. Dan menanyakan apa saja yang mereka lewati dan apa yang telah terjadi.
Mendapat kehebohan dari teman-temannya yang baru saja datang. Raisa dan Rumi sibuk menanggapi dan menjawab pertanyaan mereka satu persatu.
Sampai akhirnya, Rumi dan Raisa melupakan topik yang mereka berdua bicarakan tadi. Dan Raisa merasa sedikit bersyukur karena Rumi teralihkan oleh teman-teman yang datang sampai akhirnya melupakan pembahasan mereka berdua. Raisa pun merasa sangat senang dengan kedatangan teman-temannya itu.
.
__ADS_1
•
Bersambung...