Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 156 - Hukuman Tanda Cinta.


__ADS_3

Burung raksasa 2 dimensi sihir ciptaan Ian mendarat di Desa Daun setelah memasuki portal sihir teleportasi yang dibuka oleh Aqila saat fajar menyingsing di langit pagi yang indah.


Suasana musim dingin jadi sedikit menghangat karena adanya sinar matahari di pagi hari.


Satu per satu turun dari atas punggung burung raksasa sihir 2 dimensi ciptaan Ian, begitu juga dengan Rumi yang turun bersama dengan memeluk Raisa. Sedari tadi Raisa hanya meringkuk lemas di dalam pelukan Rumi, mungkin karena wanita itu lelah terus terjaga di dunia ilusi asing Sang Dewa.


"Aku baru merasakannya sekarang, lelah sekali ... " lirih Raisa


"Kau butuh istirahat yang banyak, Raisa," ujar Aqila


"Istirahatlah dengan baik, Raisa," kata Chilla


Rumi pun langsung bergerak menggendong Raisa ala bridal style. Pria itu tidak membiarkan sang istri terus berdiri di dalam kondisinya yang tampak lelah dan lemah. Wanita cantik itu pun tidak menolak perlakuan manis dari sang suami mungkin karena benar-benar merasa kelelahan dan terus bersandar pada dada milik sang suami.


"Sekali lagi terima kasih untuk semuanya," ucap Raisa dengan suara pelan, matanya terus berkedip tanda kelelahan.


"Semuanya, terima kasih banyak. Aku akan langsung nembawa Raisa pulang untuk istirahat," ucap Rumi


"Ya, kalian berdua istirahatlah dengan baik. Kalian berdua pasti lebih lelah dari pada kami semua," ujar Morgan


"Kita semua sudah kembali ke Desa Daun jadi kita semua sudah bisa sama-sama merasa tenang," kata Devan


"Kalau begitu, kami pun akan pulang untuk istirahat," ujar Ian


Mereka semua pun saling membubarkan diri. Rumi pun membawa Raisa pulang sambil terus menggendongnya di dalam pelukannya.


Setibanya di rumah, Rumi langsung membawa Raisa masuk ke dalam kamar dan mendudukkan sang istri di atas ranjang, lalu dengan perlahan merebahkan tubuh wanita cantik itu supaya bisa istirahat dengan baik.


"Sekarang kau bisa istirahat dengan tenang. Aku akan di sini untuk menemanimu," ujar Rumi


"Jangan tinggalkan aku," pinta Raisa


Rumi hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.


"Melebihi siapa pun, aku sangat berterima kasih padamu karena kau sudah mau menjemputku pulang. Tadinya kupikir aku tak akan bisa bertemu dan melihatmu lagi," ucap Raisa sambil meneteskan air mata di wajahnya.


"Aku tak akan membiarkan itu terjadi karena aku pun tak akan sanggup jika kehilanganmu dan hidup tanpa dirimu," kata Rumi sambil menghapus air mata di wajah sang istri.


"Sekali lagi aku minta maaf karena tindakanku telah membuatmu merasa khawatir," ucap Raisa


Rumi pun ikut membaringkan diri di samping sang istri.


"Kau tidak perlu mengucapkan apa pun lagi padaku. Aku mengerti karena kita adalah pasangan suami istri. Aku tidak akan khawatir lagi karena kau sudah ada di sini sekarang, bersama denganku. Dan kau pun tidak perlu merasa khawatir lagi karena aku akan terus menemani istirahatmu di sini. Pejamkanlah matamu," ujar Rumi


Rumi pun memeluk tubuh sang istri untuk menyalurkan kenyamanan dan kehangatan, sedangkan Raisa pun meringkukkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami dan membenamkan wajahnya pada dada milik sang suami.


"Rasanya aku ingin tidur sepuaanya karena di sana aku tidak bisa tidur dengan baik karena terus memikirkan dan merindukan dirimu. Padahal selain tidak bisa tidur dengan baik, di sana aku juga tidak bisa makan dengan baik," ujar Raisa


"Sekarang tidurlah lebih dulu. Baru setelah itu aku akan membelikan makanan untuk kita makan bersama," kata Rumi


Raisa pun mengangguk pelan di dalam pelukan sang suami. Dalam keadaan dua matanya yang telah terpejam karena merasa lelah, wanita itu pun tertidur dengan cepat dan masuk ke dalam dunia mimpinya yang indah. Rumi terus membelai rambut dan kepalanya dengan lembut dan penuh cinta kasih sambil sesekali mengecup pelan puncak kepala sang istri karena itulah istri cantiknya itu bisa terlelap dengan cepat dan mudahnya.


---


Di jalan menuju rumah, Aqila dan Morgan melihat Monica yang terus menunggu di depan rumah sambil bersandar di dinding pagar dengan raut wajah berharap cemas.


Raut wajah Monica langsung berubah jadi sumringah begitu melihat sosok kakak lelaki dan kakak iparnya yang sudah kembali.


"Kak Morgan, Kak Aqila!" seru Monica memanggil.


"Monica, kenapa kau ada di sini? Jangan bilang kau terus menunggu di sini?" tanya Aqila


"Kakak, bagaimana dengan kak Raisa? Apa dia selamat dan sudah pulang?" tanya balik Monica tanpa menjawab pertanyaan dari sang kakak ipar.


"Tenanglah, Monica. Raisa sudah pulang dengan selamat, jadi kau tidak perlu merasa khawatir lagi," jawab Morgan


"Kalau begitu, aku harus cepat menjenguknya," ujar Monica


"Sebaiknya jangan sekarang. Raisa harus banyak istirahat untuk saat ini," kata Aqila


"Lebih baik kau juga istirahat dulu, Monica. Jangan sampai kau menjenguk Raisa dengan raut wajahmu yang buruk dengan lingkar mata hitam itu. Kau hanya akan membuat Raisa merasa khawatir saat dia melihatmu yang seperti ini nanti. Tenang saja karena kita akan menjenguk Raisa bersama-sama nanti," ucap Morgan

__ADS_1


"Bilang padaku dan jangan lupa ajak aku saat kakak ingin menjenguk kak Raisa nanti. Jangan tinggalkan aku," pinta Monica


"Tentu saja karena itu sudah pasti. Lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat di rumah," kata Morgan


"Baiklah, aku pulang dulu. Kakak berdua juga istirahatlah," sahut Monica sambil tersenyum.


Monica pun beranjak pulang menuju ke rumah orangtuanya, Tuan Nathan dan Nyonya Hani. Karena di sana adalah rumah kakak dan kakak iparnya.


---


Saat ini Tuan Nathan masih sedang mengerjakan setumpuk berkas di ruang kerja pribadinya di kantor pemimpin desa ditemani oleh Tuan Rafka selaku penasehatnya sekaligus ayah dari Devan.


Saat telepon di sana berdering, Tuan Rafka menggantikan Tuan Nathan untuk menjawab dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo?"


"..."


"Baiklah. Aku akan memberi tahukan kabar ini padanya."


"Siapa yang menelepon tadi?" tanya Tuan Nathan usai Tuan Rafka mengakhiri panggilan.


"Itu dari istrimu, Hani. Dia mengabari, kata Monica, dia sudah bertemu dengan Morgan dan Aqila yang sudah kembali ke desa. Itu berarti mereka yang pergi dalam misi penyelamatan Raisa sudah kembali dan Raisa pun telah kembali dengan selamat," ungkap Tuan Rafka


"Syukurlah mereka bisa kembali dengat cepat dan selamat," ujar Tuan Nathan


"Tidak disangka mereka semua bisa kembali dengan cepat. Padahal saat kita menyelamatkan Hani dan Hellen dulu membutuhkan waktu sekiranya 3 hari baru bisa kembali ke desa," ucap Tuan Rafka


"Ya, mereka memang generasi baru yang lebih hebat dari pada kita yang dulu," kata Tuan Nathan


---


Sore harinya.


Rumi ikut tertidur dengan lelap di samping Raisa sambil memeluk istri cantiknya itu. Namun, pria itu sudah terbangun sejak beberapa jam yang lalu. Hanya saja Rumi tidak ingin mengganggu atau pun membangunkan Raisa yang tidur dengan sangat lelap karena tampak sangat merasa kelelahan.


Sejak bangun dari tidurnya, Rumi merasa senang karena bisa memandangi wajah cantik sang istri yang sedang tidur sepuasnya. Rumi pun mulai membelai kepala dan rambut sang istri dengan lembut, berharap sang istri dapat terbangun karena dirinya mulai bosan dengan suasana sunyi seolah sepi dan seorang diri.


"Raisa, kau sudah bangun, Sayang? Aku tidak mengganggu tidurmu, kan?" tanya Rumi


"Tidak kok. Terima kasih karena kau sudah mau terus menemaniku di sini sampai aku terbangun dari tidur," jawab Raisa


"Aku sendiri yang mau menemanimu di sini, jadi kau tidak perlu berterima kasih," kata Rumi


"Aku merasa sangat puas tertidur tadi, tapi aku masih sangat nyaman berada di dalam pelukanmu seperti ini. Sudah berapa lama aku tidur?" tanya Raisa


"Aku pun tidak tahu tepatnya sudah jam berapa sekarang dan berapa lama kau tertidur, tapi aku rasa sekarang sudah mulai sore," jawab Rumi


"Aku tidak menyangka akan tidur dalam waktu selama ini. Kau pasti merasa lelah karena terus memelukku selama aku tidur," kata Raisa


"Meski begitu, aku tidak pernah merasa lelah berada di sampingmu sambil memelukmu seperti ini dan aku merasa senang karena kau bisa istirahat dengan sangat baik. Namun, aku jadi merasa kesepian karena kau tidur sangat lama dan aku jadi merasa tidak sabar menunggumu bangun tidur. Maaf, jika sentuhanku tadi malah membangunkan dirimu. Itu karena aku jadi merasa paranoid dan takut kau tidak bangun lagi dan meninggalkan aku meski berada sangat dekat denganku. Maafkan pikiran bodohku ini," ujar Rumi


"Harusnya kau tidak perlu takut saat aku ada di dekatmu. Karena sudah kubilang, aku tak akan mudah atau setidaknya tidak akan terlalu cepat untuk ma-" Belum sempat Raisa menyelesaikan kalimat ucapannya, bicaranya terpotong karena Rumi sudah lebih dulu mendaratkan ciuman di bibirnya dan membungkam mulutnya.


CUP!


Rumi mendaratkan ciuman ringan dan lembut pada bibir sang istri, lalu melepas tautan bibirnya secara perlahan dan terus menatap sang istri tanpa henti.


"Rumi, kenapa kau tiba-tiba?"


"Sudah kubilang, aku benar-benar memohon padamu untuk jangan terlalu mudah mengatakan dan membahas soal kata mati. Aku sungguh tidak ingin kehilangan dirimu," ungkap Rumi dengan tatapan mata yang memancarkan rasa takut dengan jelas.


Rumi yang merasa takut kehilangan. Namun, malah Raisa yang menangis. Air menetes ke luar dari mata wanita cantik itu.


"Maafkan aku. Karena tindakan cerobohku yang pergi dan membuatmu merasa khawatir seperti ini. Aku sungguh telah bersalah. Kuharap kau tidak membenciku," ucap Raisa


"Kau ini ... sayang, apa yang kau bicarakan, sih? Apa maksudmu itu? Aku sama sekali tidak pernah membencimu. Aku ini sangat mencintaimu. Kau tidak perlu bilang maaf karena kau sama sekali tidak bersalah," ujar Rumi


Rumi pun mengusap air mata Raisa dengan kedua ibu jari miliknya.


"Sudah, kau tidak perlu menangis lagi. Jangan sampai menyia-nyiakan air matamu yang berharga ini. Kau pasti merasa lelah. Apa kau merasa haus? Apa kau ingin minum?" tanya Rumi

__ADS_1


Raisa pun hanya mengangguk kecil karena sibuk menyudahi isak tangisnya. Rumi pun langsung melepaskan pelukannya dan beranjak turun dari atas ranjang untuk beralih mengambilkan air minum untuk sang istri tercinta.


Sementara sang suami mengambilkan air untuk dirinya minum, Raisa pun bangkit dari posisi tidurnya dan beralih duduk di atas ranjang. Tak butuh waktu lama, Rumi pun kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya dan memberikan gelas air tersebut pada sang istri.


Rumi pun duduk di tepi ranjang di dekat posisi duduk sang istri. Tak lupa, pria itu juga membantu sang istri untuk minum dengan cara terus memegangi gelas air tersebut.


"Ini untukmu. Diminum dulu airnya," kata Rumi yang menyodorkan gelas air putih pada sang istri tanpa melepaskan tangannya.


Rumi terus memagangi gelas aur tersebut hingga membantu sang istri untuk minum. Usai Raisa meminum air, sang suami pun menaruh gelas air tersebut di atas meja samping ranjang.


"Sebenarnya apa saja yang Arion lakukan hingga membuatmu tidak bisa makan dan tidur dengan baik? Apa dia hanya tahu menculikmu saja?" tanya Rumi dengan raut wajah kesal. Namun, belum sempat Raisa menjawab, pria itu sudah lebih dulu mendahului sang istri untuk bicara.


"Kau tidak perlu menjawab peryanyaanku barusan. Aku lupa bahwa aku tidak ingin kau membahas tentang dirinya lagi," kata Rumi


"Kau sendiri yang membahasnya, tapi kau sendiri yang tidak ingin aku membahas tentang dirinya," sahut Raisa sambil tersenyum.


"Kalau bukan karena sifat jahatnya, Arion sangat baik padaku. Dia menyiapkan banyak makanan untukku dan karena Negeri Rembulan adalah dunia ilusi ciptaannya, dia mengatur suhu di sana dengan baik agar aku tidak merasa kedinginan. Namun, membiarkan suasana musim dingin terus berlangsung di sana karena aku bilang ingin melihat pemandangan bersalju. Syukurlah sekarang dia sudah berubah menjadi baik," samhung Raisa


CUP!


Lagi-lagi, Rumi menyambar bibir sang istri.


"Sudah kubilang, aku tidak suka dan tidak ingin memdengar kau membahas tentang dirinya," ujar Rumi


"Namun, kenapa kali ini kau menbiarkan aku bicara sampai selesai?" tanya Raisa yang bingung karena Rumi baru mencium bibirnya untuk membungkamnya setelah wanita itu selesai bicara.


"Karena terlepas aku tidak ingin kau membahas tentang dirinya, aku lebih merindukan suara indahmu," ungkap Rumi


"Sepertinya aku memang sudah banyak bersalah padamu dan pantas menerima hukuman," kata Raisa


"Kalau begitu, terimalah hukuman tanda cinta dariku ini," ujar Rumi


Rumi pun mengulurkan satu tangannya untuk meraih tengkuk Raisa dan bergerak mencium bibir sang istri dengan penuh cinta. Tangannya itu menekan tengkuk Raisa dengan lembut untuk memperdalam ciumannya. Keduanya pun memejamkan kedua mata masing-masing untuk menikmati cumbuan yang sudah lama tidak dirasakan itu.


Usai mencium bibir, tak lupa Rumi juga memberi kecupan pada pipi dan kening sang istri.


"Apa kau sudah cukup menerima hukuman ini, Sayangku?" tanya Rumi usai melepas cumbuannya sambil mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya.


"Sudah cukup. Seperti biasa, kau sangat hebat dan aku menyukainya," ungkap Raisa sambil terkekeh kecil.


"Aku juga bisa bersikap sangat baik untukmu. Sekarang coba kau katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Rumi


"Tidak ada. Aku hanya ingin mandi," jawab Raisa sambil bergerak dan berusaha turun dari ranjang.


"Biar aku bantu kau pergi ke kamar mandi," kata Rumi yang langsung bergerak cepat menggendong Raisa ala bridal style dan beranjak menuju ke kamar mandi.


"Rumi, aku bisa sendiri. Jadi, tolong turunkan saja aku," pinta Raisa


"Tidak apa. Toh, jaraknya sangat dekat dan aku sedang tidak terima penolakan," sahut Rumi


"Justru sangat dekat, jadi aku bisa berjalan sendiri. Tapi, ya ... sudahlah. Aku memang tidak bisa menolak perlakuan manis dari dirimu ini," gumam Raisa


Rumi menggendong Raisa hingga masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkan sang istri di sana.


"Sudah cukup. Tolong turunkan aku di sini," kata Raisa yang lalu langsung menggiring sang suami untuk berjalan ke luar dari dalam kamar mandi.


"Apa perlu aku mandikan dirimu juga, Sayang?" tanya Rumi


"Tidak perlu, aku sungguh bisa sendiri. Terima kasih karens sudah mengantarku sampai di sini," ungkap Raisa yang lalu memberikan kecupan di bibir sang suami dengan singkat dan kemudian menutup pintu kamar mandi dengan rapat hingga menguncinya.


"Kalau kau butuh sesuatu atau bantuan, panggil saja aku," ujar Rumi dari luar kamar mandi.


"Baiklah, Sayangku ... " sahut Raisa dari dalam kamar mandi.


"Aku benar-benar merindukanmu, Raisa. Istriku sayang," batin Rumi sambil memegangi bibirnya yang tadi berciuman dengan sang istri.


Rumi pun menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping pintu kamar mandi. Ia terus menunggu tak jauh dari sana karena khawatir Raisa butuh bantuan dan memanggilnya.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2