Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
109 - Boneka Kelinci Untuk Farah.


__ADS_3

Keesokan harinya...


Di pagi hari, setelah mandi dan membersihkan diri, tentunya Raisa sedang bersiap dengan memilah pakaian yang akan digunakannya hari ini. Tak lupa, Raisa juga berias diri secukupnya dengan riasan yang tetap natural namun dapat menonjolkan aura positif dari dalam dirinya sendiri...


Saat sedang melihat pantulan dirinya di depan cermin, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Raisa pun langsung mendekati ambang pintu kamarnya dan menaruh sebelah telinganya dan menempelkan di daun pintu kamarnya.


"Siapa ya?" Tanya Raisa dengan suara sedikit kencang dari dalam kamar di balik pintu kamarnya.


"Ini, aku. Falah, Onty!" Jawabnya bersuara khas anak kecil dari luar.


Setelah mengetahui siapa yang menghampiri dan mengetuk pintu kamarnya, Raisa pun membukakan pintu kamarnya untuk keponakan kecilnya itu. Terpampanglah diri mungil di depan pintu kamarnya dan langsung melangkahkan kecilnya ke dalam kamar utama tersebut.


Farah langsung masuk dan mendudukkan dirinya di atas ranjang kasur meski harus sedikit berusaha memanjat dengan kaki kecilnya. Raisa pun menghampiri keponakan kecilnya di ranjang kasur setelah menutup kembali pintu masuk kamarnya.


"Aunty kira siapa yang datang ke kamar pagi-pagi... Ternyata, Farah, toh yang datang!" Kata Raisa


Setelah masuk dan duduk di atas ranjang kasur di dalam kamar Raisa, Farah hanya terus diam dengan wajah yang sedikit lesu. Padahal, biasanya Farah selalu ceria. Raisa pun tahu ada sebab yang membuat Farah menekuk wajahnya atau yang sering disebut merajuk alias ngambek.


"Loh, keponakan Aunty kenapa nih? Kok pagi-pagi udah cemberut aja? Terus tumben pagi-pagi udah bangun langsung ke sini? Kok ga sama Mami? Mami mana?" Tanya Raisa


"Mami ada, di lual. Ada yang nanyain Onty... Aku bilang aja, aku yang panggilin Onty, telus aku langsung lali aja ke sini." Jawab Farah


"Terus, Farah kenapa sedih gitu mukanya? Semalam bukannya udah main sama Mami Papi dan Om juga? Emang mainnya gak seru?" Tanya Raisa yang duduk di samping keponakan kecilnya itu.


"Selu sih, eh gak selu deh! Aku belum dapat boneka yang aku suka, tapi Mami Papi sama Om malah langsung ajak pulang!" Ungkap Farah


"Emangnya Farah sama sekali gak dapat hadiah dari permaian semalam?" Tanya Raisa


"Hadiah sih dapat, ada boneka beluang juga." Jawab Farah


"Oh, begitu. Jadi, sekarang ceritanya Farah lagi ngambek nih sama Mami Papi dan Om juga?" Ujar Raisa


Farah mengangguk kecil...


"Mami Papi dan Om Raihan bukannya gak mau menangin hadiah boneka yang Farah suka, tapi karena kemarin mainnya udah malam jadi udah harus pulang." Ucap Raisa


Farah hanya diam tak menanggapi ucapan Raisa. Rupanya anak kecil itu sangat merasa kesal...


"Semalam Aunty juga main loh, dapat banyak hadiah mainan juga, boneka juga ada. Seru deh, pokoknya!" Cerita Raisa yang kembali beranjak berdiri menghampiri suatu tempat di dalam kamarnya dan mengambil sesuatu dari sana.


Setelah mengambil sesuatu itu, Raisa berbalik kembali menghampiri Farah dengan menyembunyikan suatu barang yang diambilnya barusan tadi di balik tubuhnya.


"Aunty punya sesuatu buat Farah. Nih, boneka kelinci!" Kata Raisa sambil menunjukkan sebuah boneka kelinci dan memberikannya pada Farah.


"Wah, kelinci! Lucu banget bonekanya! Makasih ya, Onty!" Girang Farah yang dengan cepat mengambil boneka kelinci yang Raisa berikan padanya.


"Sama-sama, cantik! Sekarang jangan cemberut dan sedih lagi ya..." Ujar Raisa


Farah pun mengangguk sambil meneluk boneka kelinci pemberian dari Raisa.


Belakangan ini Farah memang sedang menggemari kelinci. Namun, karena tidak diperbolehkan membeli dan memelihara langsung hewannya, Raina dan Arka berjanji akan membelikan boneka berbentuk hewan ysng lucu itu. Belum ada kesempatan memenuhi janji itu, semalam Farah melihat boneka kelinci yang menjadi hadiah bila memenangkan salah satu permainan di pasar malam. Tapi, belum sempat memainkan permainan berhadiahkan boneka kelinci itu, Farah sudah terlihat mengantuk dan Raina memutuskan untuk mengajaknya pulang. Itulah sebab merajuknya Farah pagi ini...


"Sekarang kan udah senang karena dapat boneka kelinci kesukaan Farah, kalau begitu udahan ngambeknya sama Mami Papi dan Om Raihan ya..." Bujuk Raisa


"Tapi, bonekanya kan dali Onty bukan Mami Papi atau Om!" Kata Farah yang masih merasa kesal di hatinya.


"Boneka kelincinya masih mau gak nih?" Tanya Raisa dengan sedikit ancaman.


"Mau, Onty!" Cepat Farah yang langsung memeluk erat boneka kelincinya dengan erat takut Raisa akan mengambilnya kembali.


"Kalau begitu, habis ini langsung baikan sama Mami Papi dan Om ya. Farah, kan anak baik. Marah sama orangtua itu gak baik loh. Keponakan Aunty kan pintar, pasti mengerti kan?" Ujar Raisa yang mencoba membujuk Farah sekali lagi untuk berbaikan dengan Raina, Arka, dan Raihan.


"Ngelti, Onty. Nanti aku langsung baikan deh sama Mami Papi dan Om." Patuh Farah


"Pintar! Boneka ini Paman Rumi yang kasih buat Aunty loh... Sekarang boneka kelincinya udah jadi punya Farah, jadi rawat baik-baik ya." Ucap Raisa


"Pasti dong, Onty! Ini kan udah jadi boneka kesayangan aku! Paman ganteng, baik ya." Ujar Farah


Raisa tersenyum sambil mengusap lembut rambut halus Farah~


Boneka berbentuk kelinci yang Raisa berikan pada Farah memang pemberian dari Rumi untuknya dari sekian banyak hadiah yang dimenangkan dari banyaknya permainan yang semalam dimainkan...


..."Rumi, memang ganteng dan baik, tapi dia juga jadi jahil sekarang!" Batin Raisa...


"Aunty udah selesai siap-siapnya nih... Sekarang kita ke luar bareng, yuk!" Ajak Raisa


"Ayo, Onty!" Kata Farah


Raisa pun bangkit dari duduknya dan mengulurkan satu tangannya membantu Farah turun dari duduknya di tepi ranjang kasur. Farah pun menerima uluran tangan Raisa dan menggenggamnya dengan erat dengan sebelah tangannya yang tetap memeluk boneka kelinci kesayangannya...

__ADS_1


Keduanya pun beranjak ke luar dari kamar utama tersebut menemui yang lain untuk segera sarapan bersama.


Saat ke luar dari kamar utama, ternyata semua orang sudah lengkap menunggu Raisa dan Farah.


"Dari kamarin, cuma Kak Raisa doang nih yang paling lama ke luar dari kamar." Kata Raihan


"Iya, nih, maaf. Tadi habis ngobrol dulu sama Farah." Ucap Raisa


"Farah, pintar nih udah mau panggilin Onty ke luar dari kamar. Sini sama Mami, Sayang..." Ujar Raisa


Farah pun melepaskan genggaman tangannya dari Raisa dan dengan gemasnya berlarian kecil menghampiri Raina lalu memeluk kaki jenjang Mami-nya itu.


"Eh, udah gak ngambek lagi?" Tanya Arka


"Emangnya Farah ngambek kenapa?" Tanya Raihan yang tidak sadar jika Farah juga merajuk padanya.


"Kamu mah gak berasa ya, kalau Farah juga ngambek sama kamu? Tapi, yang penting udah gak ngambek lagi." Ujar Raisa


"Ngambeknya udahan aja, aku mau baikan aja sama Mami Papi dan Om Ehan. Soalnya kata Onty, anak baik gak boleh suka ngambek sama orangtua." Ucap Farah


"Eh, anak Papi bawa boneka kelinci punya siapa tuh?" Tanya Arka


"Punya aku dong, Pih. Onty yang kasih ke aku karena aku udah mau jadi anak yang baik." Jawab Farah


"Terima kasih ya, Raisa. Farah, udah bilang terima kasih sama Onty belum?" Ujar Raina


"Udah dong, Mih!" Kata Farah


"Oh, jadi ngambeknya gara-gara gak bisa dapatin boneka kelinci waktu main semalam di pasar malam, toh!" Ucap Raihan yang baru menyadari alasan Farah merajuk.


Padahal Raisa lebih dulu memberikan boneka kelinci pada Farah lalu baru membujuknya untuk berbaikan pada Raina, Arka, dan Raihan. Tapi, Farah malah mengatakan Raisa memberikan boneka kelinci padanya karena ia telah jadi anak yang baik karena sudah berniat ingin berbaikan dengan kedua orangtua dan Om-nya. Ternyata, Farah adalah anak yang pandai bicara juga...


"Udah pada ngumpul semua kan? Ayo, kita ke meja makan dan sarapan bareng. Teman-teman Raisa juga udah nunggu di sana." Ujar Bu Vani yang mengajak yang lain menuju ke meja makan.


"Iya, Bu." Patuh semuanya menyahuti.


Mereka semua pun beranjak menuju ke meja makan bersama. Raina pun beralih menggendong Farah untuk menuju ke meja makan.


Sesampainya di meja makan, mereka pun langsung duduk di posisi masing-masing...


"Selamat pagi, Raisa, semuanya..." Sapa Rumi


"Selamat pagi, semuanya! Terima kasih atas makanannya ya, Bu Weni, Pak Danu." Ucap Raisa


"Sama-sama, Neng Raisa." Balas Pak Danu


"Seperti biasa, setelah selesai masak di sini, kami mau langsung izin pulang." Ujar Bu Weni


"Silahkan, Bu Weni, Pak Danu." Kata Pak Hilman


Setelah selesai menghidangkan makanan di atas meja, Bu Weni dan Pak Danu pun langsung berpamitan untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Setelah pulangnya Bu Weni dan Pak Danu, semua pun memulai sarapan dengan tenang.


Saat sarapan, sering kali Rumi mencuri pandang ke arah Raisa. Raisa yang mengetahuinya hanya mengabaikan tanpa niat untuk membalas tatapan dari Rumi. Respon Raisa pada Rumi jadi lebih dingin...


Setelah selesai sarapan, Raisa pun membereskan peralatan bekas makan yang ada di meja makan dan membawanya ke dapur. Beberapa temannya ikut membantunya memindahkan peralatan makan tersebut. Yang terakhir membawa piring-piring bekas makan adalah Rumi yang mana membuatnya bertemu dengan Raisa di dapur.


"Raisa..." Panggil Rumi


"Piring kotornya kau tinggalkan saja di sini dan kau bisa kembali." Ujar Raisa


"Aku ingin bicara denganmu sebentar saja." Ucap Rumi


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku ingin mencuci piring. Kau kembali saja." Tolak Raisa


"Aku bisa membantumu mencuci piring." Kata Rumi


"Tidak perlu!" Ketus Raisa


Selama percakapan singkat ini, Raisa sama sekali tidak menatap Rumi sebagai lawan bicaranya. Rumi merasa aneh dengan sikap Raisa sejak pagi hari ini. Rumi menyadari jika Raisa sedang menghindarinya lagi, namun berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini Raisa seperti bukan menghindar karena sedang merasa malu-malu. Cara menghindar kali ini lebih menuju pada mengabaikam. Sepertinya, Raisa sedang marah padanya. Itulah yang Rumi pikirkan dalam benaknya...


"Ternyata, kamu ada di sini, Raisa... Ada Rumi juga!" Ujar Raina yang baru saja memasuki area dapur.


Baru saja, Rumi ingin kembali bicara pada Raisa... Tiba-tiba, Raina datang dan itu membuatnya mengurungkan niat untuk bicara.


"Kamu dan Rumi balik lagi sana. Biar kakak yang cuci semua piringnya." Ucap Raina


"Biar Raisa aja, Kak. Kakak sama Rumi aja yang balik, sana..." Ujar Raisa

__ADS_1


"Gapapa, biar kakak aja." Keukeuh Raina


"Tapi, piringnya kan banyak. Biar aku bantu deh. Rumi, kau kembali saja sendiri." Kata Raisa


"Raisa, kamu balik aja sama Rumi. Biar Ibu yang bantu Raina." Ujar Bu Vani yang tiba-tiba sudah berada di dapur.


"Anggap aja ini sebagai rasa terima kasih dari kakak karena kamu udah mau kasih boneka kelinci buat Farah, katanya boneka itu juga asalnya dari Rumi kan? Kakak berterima kasih banget loh... Dari sebelum ini pun, Farah kalau ngambek itu susah banget dibujuknya. Karena kamu, Farah langsung mau baikan dan udahan ngambeknya." Ucap Raina


"Karena udah ada Ibu dan Raina di sini yang cuci piring, kamu dan Rumi balik aja. Gak mungkin juga kan kalau ramai-ramai orang di dapur, sempit..." Ujar Bu Vani


"Ya sudah, aku balik ke depan ya, Bu, Kak." Kata Raisa yang langsung beranjak pergi dari dapur.


"Aku juga kembali ya, Bibi, Kak Raina. Permisi..." Pamit Rumi yang langsung mengejar langkah kaki Raisa.


"Raisa, kau sedang marah padaku ya?" Tanya Rumi


Raisa hanya diam tak menjawab. Ia pun mempercepat langkah kakinya meninggalkan Rumi yang berjalan di belakang...


Jika sudah seperti ini, Rumi jadi yakin... Bahwa, Raisa sedang marah padanya! Itu sebabnya, Raisa terus menghindar dan mengabaikannya. Cara bicara Raisa pun berubah menjadi ketus tidak seperti biasanya.


Jika seperti ini, Rumi jadi merasa resah dan gelisah. Hatinya takut jika kemarahan Raisa akan terus berlanjut padanya dan akhirnya akan memengaruhi hubungan mereka berdua...


Raisa dan Rumi pun tiba kembali di tempat berkumpul.


Rumi duduk di suatu tempat dan meminta Raisa duduk di sampingnya...


"Duduk di sini saja, Raisa..." Pinta Rumi sambil menepuk tempat di sampingnya.


Raisa mengabaikan Rumi dan berpindah ke tempat lain lalu duduk di sana berjauhan dengan Rumi.


"Aku akan duduk di sini." Kata Raisa


"Aku sengaja mendekatinya agar dia bisa duduk di sampingku, tapi dia malah dengan sengaja menjauh dariku. Ini sudah sangat jelas bahwa dia marah padaku. Kesalahan apa yang kuperbuat sampai Raisa marah?" Batin Rumi


Raisa memilih duduk di dekat Raihan dan Arka juga bersama Farah. Tanpa melirik ke arah Rumi sedikit pun, ia terus saja mengabaikan.


Dengan adanya Farah dapat mempermudah Raisa untuk menjauhi Rumi karena Raisa bisa hanya terfokus pada keponakan kecilnya saja tanpa harus menghiraukan Rumi...


"Aku ingin ke kamar dulu, ingin mengambil sesuatu dari sana." Ujar Raisa


"Aku ingin ke toilet." Kata Rumi


Rumi pun beranjak dari tempatnya setelah Raisa pergi.


Bukannya menuju langsung menuju ke toilet, Rumi terlebih dulu berhenti di persimpangan ruangan. Ia menggunakan sihirnya untuk menciptakan dirinya yang palsu dengan sihir ularnya. Ia mengirimkan dirinya yang palsu menuju ke toilet karena sebenarnya itu hanyalah alasannya saja, Rumi yang palsu akan ke toilet agar jika ada yang mencari keberadaannya tetap akan menemukannya di toilet walau hanya sosoknya yang palsu. Sedangkan sosok asli Rumi beranjak menemui Raisa di kamarnya, inilah tujuannya yang sebenarnya...


Rumi masuk ke dalam kamar Raisa tanpa bersuara dan itu membuat Raisa terkejut saat berbalik dan melihat keberadaan sosok Rumi di belakangnya.


"Rumi! Bagaimana bisa kau masuk ke dalam sini tanpa bersuara?!" Kaget Raisa


"Raisa, kumohon beri aku kesempatan untuk bicara berdua denganmu." Bukannya menjawab pertanyaan dari Raisa, Rumi malah memohon untuk diberi kesempatan bicara dengan wajah yang sungguh-sungguh.


Raisa mengerti maksud Rumi dan apa yang akan dibicarakannya, ia pun langsung bersikap acuh tak acuh.


"Kau masuk tanpa izin, ke luarlah!" Tegas Raisa


"Apa kau marah padaku? Aku minta maaf... Apa salahku yang membuatmu sampai menjauhiku lagi?" Ujar Rumi


"Kalau kau tak ingin ke luar, tak apa. Kau bisa tetap di sini, aku yang akan ke luar." Kata Raisa


Raisa pun berjalan mengabaikan Rumi bahkan melewati tepat di depan lelaki itu~


GREP!


Rumi menahan kepergian Raisa dengan mencekal lengannya...


"Maafkan aku, Raisa. Kumohon jangan diamkan aku seperti ini." Mohon Rumi


"Kau berkata seperti itu, tapi kau sendiri tak tahu apa kesalahanmu?" Ujar Raisa dengan nada dingin.


"Aku memang tidak mengerti alasan di balik kemarahanmu. Jadi, kumohon katakanlah agar aku bisa memperbaikinya." Ucap Rumi


"Aku tidak suka!" Ketus Raisa dengan cepat dan tegas.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2