
Usai latihan bersama, Raisa dan Aqila berencana pergi untuk makan bersama. Paman Elvano pun pergi melanjutkan urusannya yang tertunda karena melatih dua gadis.
Di kedai makan, Raisa dan Aqila bertemu dengan Morgan dan Rumi.
"Kalian berdua ada di sini, Morgan, Rumi!? Biasanya kalian pasti ada di Resto Burger Petir!" sapa Aqila
"Terserah kami, dong! Kami juga ingin makan yang berbeda sesekali." Kata Morgan
"Kalian berdua habis dari mana, Raisa, Aqila?" tanya Rumi
"Kami habis berlatih tadi," jawab Raisa
"Kenapa tidak bilang? Kalau tahu, kami pasti datang menonton!" ujar Morgan
"Latihan ini tidak direncanakan," kata Aqila
"Kukira kau ada di rumah, Raisa. Sebelum aku pergi menjalankan misi, katamu ingin berkeliling desa. Jadi kukira kau sedang istirahat setelah berkeliling, makanya aku tidak mencarimu," ucap Rumi
"Aku hanya ingin mencari kegiatan lain yang bisa dilakukan karena bosan," kata Raisa
"Apa besok kalian berdua akan berlatih lagi?" tanya Rumi
"Mungkin. Tapi, percuma saja jjka ingin menonton karena yang paling seru adalah latihan hari ini," jawab Aqila
"Kenapa kau beranggapan latihan besok tidak lebih seru dari yang kalian berdua lakukan hari ini?" tanya Morgan
"Karena kami mengetahui pentingnya bagian dari latihan hari ini, kalau besok mungkin hanya akan mengulangi latihan yang seperti hari ini. Itu membosankan!" jawab Aqila
"Memangnya apa yang seru dari latihan kalian berdua hari ini?" tanya Rumi
"Kalian berdua tidak melihatnya! Tadi itu Raisa hebat sekali!" ungkap Aqila
"Aku jadi penasaran, nih," kata Morgan
"Tidak lebih hebat dari Aqila. Hari ini dia menguasai sihir teleportasi!" ungkap Raisa
Suasana menjadi canggung. Karena mereka tahu penguasaan sihir teleportasi yang Aqila raih didapatkan dari penderitaan yang Raisa alami.
"Ya, kami juga tahu kalian berdua memang hebat!" kata Rumi
Raisa menyarankan Aqila untuk pergi makan di tempat yang berbeda agar bisa menghindari Rumi sementara waktu yang biasanya berada di Resto Burger Petir langganan mereka. Namun, usahanya sia-sia karena ternyata Rumi dan Morgan juga ada di sana.
Usai makan bersama, akhirnya Raisa pulang bersama Rumi. Berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan dengan mesra.
Selama di perjalanan menuju ke rumah, keduanya hanya diam. Mungkin sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rumah Rumi telah terlewat dan sampai di rumah Raisa. Rumi mengantar Raisa sampai ke depan pintu rumahnya.
"Sudah sampai! Kau masuklah, Raisa. Istirahat dengan baik, ya," kata Rumi
"Kau tidak ingin masuk sebentar saja, Rumi?" tawar Raisa bertanya.
"Tidak usah. Kan, tadi kita sudah makan bersama. Kau istirahat saja," tolak Rumi
"Baiklah," kata Raisa tidak ingin memaksa.
Rumi melihat pedang yang Raisa bawa.
"Ini pedang milikmu? Kau latihan berpedang hari ini? Apa kau senang selama latihan tadi?" tanya Rumi seolah sedang mengulur waktu karena tidak ingin terlalu cepat pisah dengan Raisa.
Raisa mengangguk.
"Untunglah, aku masih memiliki pedang ini di rumahku, jadi aku bisa berlatih hal yang kusuka. Aku merasa senang, kata Paman Elvano, teknik berpedangku cukup bagus meski berlatih saat baru pulih dari sakit. Itu artinya aku sudah pulih sepenuhnya!" ungkap Raisa
"Syukurlah. Aku tidak punya hak untuk melarangmu melakukan sesuatu yang kau suka, tapi aku harap kau tidak memaksakan diri," ucap Rumi
Raisa tersenyum dan mengangguk.
"Rumi, kalau cuaca malam ini bagus... Maukah kau pergi ke luar bersamaku? Aku sedang ingin melihat pemandangan malam berdua denganmu," ajak Raisa
"Ya, aku mau. Nanti malam, aku yang akan menjemputmu," kata Rumi
"Terima kasih, Rumi," ucap Raisa
"Ya. Kau masuklah ... " kata Rumi
Raisa pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk, Raisa melihat ke luar jendela. Melihat Rumi perlahan melangkah pergi menjauh dari rumahnya.
Malam harinya.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Rumi pun datang menjemput Raisa ke rumahnya. Begitu Rumi mengetuk pintu, Raisa langsung membuka pintu rumahnya.
"Rumi, kau sudah datang, ya ... " sapa Raisa dengan senyuman manis yang lebar.
"Ya. Kau sudah siap? Ayo, kita pergi!" ujar Rumi
"Ya, ayo!" kata Raisa
Rumi mengulurkan tangannya untuk digenggam Raisa. Raisa tersenyum dan menerima uluran tangannya, lalu menggenggam tangan Rumi. Rumi pun bali menggenggam tangan Raisa dengan erat.
"Kau hanya terlihat senang saat aku datang, tapi begitu ke luar dari rumahmu.... Kau langsung terlihat sedih." Rumi merasa bingung.
"Apa terlihat seperti itu? Aku sedang banyak pikiran, makanya mengajakmu pergi ke luar. Kalau terus berdiam di rumah, rasanya aku bisa stress!" ujar Raisa
"Kau ingin pergi ke mana?" tanya Rumi
"Aku ingin ke tempat yang pemandangannya indah, tapi hanya ada kita berdua. Aku ingin kau menemaniku untuk menenangkan diri," jawab Raisa
"Apa kau tahu tempat seperti itu?" tanya balik Raisa.
"Ya. Aku akan menemanimu," jawab Rumi
Raisa dan Rumi pun terus berjalan sambil bergandeng tangan hingga tiba di suatu tempat.
Di sana adalah taman yang tersembuyi oleh pohon-pohon rindang di sekitarnya. Sewaktu pagi, akan ada banyak anak yang bermain bersama teman dan keluarganya di sana. Namun, akan menjadi sepi saat malam tiba.
__ADS_1
Raisa berjalan ke dekat bangku panjang di taman tersebut dan duduk di sana. Rumi pun ikut duduk di sampingnya.
Raisa merasakan udara malam menyapa dan membelai lembut kulit tubuhnya~
"Di sini nyaman sekali! Sepi, bagus untuk tempat menyendiri dan menenangkan diri." Raisa bergumam.
Raisa terdiam menikmati suasana di sana. Rumi membiarkannya cukup lama.
Pandangan Raisa menengadah ke atas. Melihat jutaan bintang yang menghiasi langit malam, juga terlihat sebuah bulan yang meringkuk berbentuk sabit menemani banyaknya sinar kecil bintang.
"Tempat ini benar-benar indah. Aku suka. Terima kasih sudah membawaku ke tempat ini, Rumi," ucap Raisa
"Keindahan seperti ini hanya sementara. Tidak sebanding dengan keindahan yang senantiasa kau miliki, Raisa," ungkap Rumi
Rumi berhasil membuat Raisa tersenyum indah seperti kata-katanya.
"Apa kau hanya ingin aku menemanimu melihat pemandangan malam di sini? Apa kau tidak berniat menceritakan masalah yang mengganggu pikiranmu padaku?" tanya Rumi
Kali ini, kata-kata Rumi berhasil membuat Raisa kembali terdiam.
"Lucu sekali rasanya! Padahal sebelumnya, aku memintamu putus denganku dan malah menghilang. Tapi, sekarang aku justru memintamu menemaniku saat aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku egois sekali, bukan?" ujar Raisa bertanya sambil tersenyum miris meremehkan dirinya sendiri.
"Tidak apa, Raisa. Aku senang karena artinya bisa menjadi orang yang kau andalkan dan jadi tempatmu bersandar. Yang penting kau masih mencintaiku, aku sudah cukup dengan itu," ucap Rumi
"Apa kau tidak lagi merasa bingung dan ingin bertanya? Aku mencintaimu dan percaya akan cintaku padamu... Tapi, kenapa aku masih saja bisa merasa khawatir tentang masa depan yang belum tentu terjadi?" tanya Raisa
"Sudah tidak perlu lagi. Aku hanya ingin berusaha memahami dan menerima pilihanmu," kata Rumi
"Terserah kau masih ingin mendengarnya atau tidak, tapi sekarang aku ingin mengatakannya. Sepertinya alasannya adalah karena aku terlalu mencintaimu!" ucap Raisa
Mulai dari situ, Rumi menjadi serius ingin mendengar apa yang akan Raisa katakan...
"Aku sudah terlalu mencintaimu dan sangat menginginkanmu, Rumi. Mengetahui dunia kita sudah berbeda sejak awal, aku tidak ingin menghadapi kenyataan saat kita harus dipisahkan oleh dunia kita masing-masing dan merasakan sakitnya patah hati. Itulah sebabnya sejak awal aku tidak pernah berani lebih dulu mengajakmu untuk berpacaran meski sudah sadar jika aku mencintaimu. Itu sebabnya aku sempat ragu saat kau yang akhirnya mengajakku berpacaran. Karena sebenarnya sejak awal aku sudah dibebani oleh pikiran yang mungkin akan berpisah denganmu," ungkap Raisa
"Harusnya sejak awal aku membuat batasan denganmu, harusnya aku tidak membuatmu merasakan perasaan yang sama denganku, yaitu cinta. Yang pada akhirnya kau juga harus merasakan perasaan yang sama lagi denganku, yaitu sakitnya patah hati karena putus cinta. Harusnya aku saja yang merasakan cinta itu sekaligus patah hati karena cinta! Biarkan saja, aku yang merasakan semua perasaan menyakitkan itu. Terkadang mencintai itu terasa lebih menyakitkan saat kita harus merasakan kehilangan dan perpisahan. Ada kalanya, orang yang kita cintai dan ingin kita jaga adalah orang yang harus kita dorong jauh dari sisi kita karena kalau terlalu dekat dengannya, maka akan terlalu mudah juga untuk menyakitinya," tutur Raisa melanjutkan.
"Sekarang aku sudah bisa lebih mengerti. Terima kasih sudah bersedia mengatakannya padaku dan maaf sudah membuatmu merasakan perasaan yang begitu menyakitkan ini," ucap Rumi
"Tidak perlu bilang maaf, ini bukan salahmu. Akulah yang ceroboh hingga bisa dipermainkan oleh perasaan cinta ini," kata Raisa
"Mencintai bukanlah kecerobohan. Aku justru berterima kasih karena kau mau mencintaiku. Cinta itu seperti kehidupan yang terkadang memang terasa menyakitkan," ungkap Rumi
"Ternyata, kau lebih bijak dariku. Ada juga orang yang mengatakan cinta itu seperti kehidupan... Aku hanya perlu menjalaninya apa adanya dan mengikuti kata hatiku, maka apa pun hasilnya aku akan merasa puas. Dan soal cinta, kalau jodoh pasti tidak akan ke mana. Tapi, seperti orang bohoh! Seolah aku meminta petunjuk, tapi aku tidak percaya dan takut tertipu dengan petunjuk yang diberikan. Aku ini p*c*nd*ng yang tidak percaya diri! Sangat menyedihkan!" ucap Raisa
Rumi berhambur memeluk tubuh Raisa dengan erat.
"Jangan berkata seperti itu, Raisa. Bagaimana pun dirimu, kau tetaplah orang yang aku cintai. Kau mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan aku menerima semua itu karena aku mencintaimu apa adanya. Sama sepertimu yang mencintaiku ... " ujar Rumi
"Aku merasa sangat serakah dan egois! Aku hanya ingin kau bisa memahamiku tanpa peduli dengan perasaanmu. Namun, aku juga merasa sangat beruntung," kata Raisa
Raisa memejamkan matanya merasakan nyamannya berada di dalam pelukan Rumi. Air matanya menetes, namun tidak sederas biasanya. Karena Raisa merasa lega setelah mengatakan semuanya.
Perlahan, Rumi pun melepaskan pelukannya. Raisa pun menghapus air matanya. Keduanya pun saling bertatapan mata~
"Raisa, sebenarnya sekarang aku sedang merasa takut. Setiap kali kau membahas soal ini, kau selalu menghilang setelahnya. Entah itu, saat kau ingin putus denganku, lalu memilih menghilang untuk membiasakan diriku. Atau saat aku yang hampir kehilanganmu setelah insiden kau yang bertarung dengan Sang Dewa. Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu denganku, kan, Raisa?" ujar Rumi berakhir bertanya.
"Sebenarnya aku memang ingin pergi. Kau tahu, kan, aku merindukan keluargaku. Kepulanganku ke duniaku kali ini mungkin akan lebih lama dari biasanya. Mungkin akan terasa sangat lama bagimu," jujur Raisa
"Beberapa tahun, mungkin 5 tahun ... " ungkap Raisa bersuara pelan.
"Itu lama sekali!" kata Rumi
"Kau pasti tahu, kan, Rumi. Meski aku ingin berusaha untuk menerimanya, sebenarnya aku merasa sedih setelah kehilangan kemampuan sihirku. Aku ingin membiasakan diri di mana tidak ada hal-hal seperti sihir di sana, aku ingin melupakan semua hal tentang sihir yang kumiliki. Aku tidak berniat melupakanmu atau hal yang sudah kulewati di sini, karena semua itu sangat berharga. Anggap saja aku sedang memulihkan diri, tapi kali ini aku butuh waktu yang lebih lama," ucap Raisa
"Aku tidak tahu dan lebih tidak bisa membayangkan apa aku sanggup melewati hari-hariku tanpamu dalam waktu yang sangat lama, tapi aku akan menerima apa pun keputusanmu. Lakukanlah sesuai keinginanmu. Setidaknya kau sudah mengatakan keputusanmu ini padaku, aku sudah berterima kasih," ujar Rumi
"Lagi-lagi kau bersedia menerima keputusan egoisku. Kau orang yang baik, Rumi!" kata Raisa
Raisa pun bergerak menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi. Sedangkan Rumi menggenggam tangan Raisa dengan sangat erat.
"Kapan kau akan kembali ke duniamu?" tanya Rumi
"Entahlah. Mungkin beberapa hari lagi. Bisa juga besok atau lusa," jawab Raisa
Dalam benaknya, Rumi harus menyiapkan hatinya saat harus pisah dari Raisa dalam waktu yang begitu lama.
"Setelah dari sini, ayo kita makan bersama sebelum pulang," ajak Rumi mengalihkan topik dari pembicaraan tentang perpisahan.
"Baiklah, ayo!" setuju Raisa
•••
Keesokan harinya.
Aqila pun sampai di tempat latihan. Morgan dan Rumi menyusulnya. Di sana sudah ada Raisa dan Paman Elvano yang siap memulai latihan.
"Halo, semuanya! Kami datang untuk melihat-lihat, tidak akan mengganggu. Jadi, lanjutkan saja latihannya!" ucap Morgan
Tak heran melihat Rumi dan Morgan datang setelah memberi tahu mereka tentang latihan yang dilakukan dengan Paman Elvano kemarin. Raisa pun tersenyum saat bersitatap dengan Rumi.
Seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, Raisa dan Aqila kembali saling berhadapan dalam pertarungan. Kali ini keduanya bertarung menggunakan belati sebagai senjata.
Namun, kali ini Raisa terlihat tidak fokus hingga membuatnya terus dipaksa mundur sejak awal. Seperti tidak ada perlawanan dan pasrah begitu saja.
Raisa pun terpental mundur setelah mendapat serangan besar dari Aqila~
"Ada apa denganmu hari ini, Raisa? Kau terlihat tidak bersemangat? Padahal penampilanmu kemarin sangat baik?" tanya Paman Elvano
"Kali ini senjata yang digunakan berukuran lebih kecil hingga harus bertarung jarak dekat. Dari dulu aku kurang percaya diri saat bertarung jarak dekat karena lebih mengandalkan kemampuan sihir. Maaf, aku jadi tidak fokus," jawab Raisa
"Paman Elvano, bahkan memuji penampilan Raisa kemarin. Sebenarnya, seperti apa sih pertarungan mereka berdua kemarin? Kau pasti juga merasa penasaran, kan, Rumi?" ujar Morgan bertanya.
Rumi hanya mengangguk. Sebenarnya, dari pada merasa penasaran tentang yang terjadi kemarin, Rumi lebih merasa khawatir pada Raisa yang tidak bisa fokus pada pertarungan.
"Sepertinya bukan hanya itu saja. Apa ini tentang rencana kepulanganmu ke duniamu?" tebak Paman Elvano
"Tunggu! Apa!? Raisa, kenapa kau tidak memberi tahu kami jika kau ingin pergi?!" ujar Aqila menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Kau masih belum memberi tahu teman-temanmu, Raisa? Kukira karena kau berlatih dengan Aqila kemarin, setelahnya kau langsung bercerita dengannya." Paman Elvano menduga yang ternyata salah.
"Selalu saja seperti ini! Raisa, kau selalu tidak langsung berterus terang dengan kami! Apa Rumi sudah tahu tentang ini? Apa kau menyangka akan seperti ini, Rumi?" ujar Morgan bertanya.
"Aku sudah tahu semalam. Aku hanya tidak menyangka dengan hal yang lain," kata Rumi
Tebakan Paman Elvano benar! Raisa memang kepikiran tentang rencana kepulangannya. Kepikiran saat memutuskan ingin pergi sangat lama dan meninggalkan tempat yang disukainya.
"Aku belum memutuskan kapan akan pergi, jadi aku bekum memberi tahu kalian. Aku berencana memberi tahu teman-teman saat sudah yakin ingin pergi," ungkap Raisa
"Kapan pun kau ingin, beri tahu saja aku. Aku akan membantumu agar bisa pulang ke duniamu," kata Paman Elvano
"Menurut Paman, kapan sepantasnya aku pergi? Aku tidak ingin saat pulang, keluargaku merasa khawatir jika aku terlihat lemah. Makanya, aku memutuskan untuk latihan agar bisa menjadi lebih kuat supaya keluargaku tidak merasa khawatir melihatku saat pulang. Apa menurut Paman Elvano, sekarang aku sudah cukup terlihat kuat?" Raisa meminta pendapat Paman Elvano.
"Melihat penampilanmu kemarin, artinya kau sudah pulih sepenuhnya. Kau sudah cukup kuat untuk bisa pulang," ucap Paman Elvano
Yang lain terdiam. Penasaran kapan Raisa memutuskan untuk pergi ke dunianya.
"Kalau begitu, aku akan pergi besok lusa. Mohon bantuanmu, Paman Elvano," kata Raisa
"Sekarang kalian sudah tahu kapan aku akan pergi, kan?" Raisa lanjut bertanya.
Yang lain pun tidak menyangka, Raisa akan memilih keputusan yang begitu mendadak. Namun, mereka mengerti perasaan Raisa yang ingin kembali pada keluarganya hingga tidak bisa melarang.
Rumi berjalan mendekat ke arah Raisa...
"Kau sudah tidak fokus saat berhadapan dengan Aqila, lebih baik kau melawanku saja. Kuharap kau bisa lebih fokus saat melawanku, Raisa!" ucap Rumi
"Kalau begitu, Aqila bisa latihan sihir dengan Paman Elvano. Aku berlatih tarung dengan Rumi saja," ujar Raisa
"Kalau begitu, hanya aku saja yang tidak melakukan apa-apa di sini?! Paman Elvano, latih aku juga! Kau, kan, juga guruku!" Morgan merengek.
Raisa dan Rumi pun saling berhadapan dengan serius. Raisa tidak lagi merasa tidak fokus karena telah membuat keputusan.
"Wah, sekarang Raisa sudah bisa fokus! Bagaimana bisa dia melakukannya?" tanya Morgan nerasa heran.
"Kemarin aku bahkan hampir dikalahkan olehnya. Dia memiliki siasat untuk membuatku tidak bisa menggunakan sihirku yang bisa memprediksi gerakannya. Katanya, caranya adalah berpikir tanpa berpikir," ungkap Aqila
"Gerakan dikendalikan oleh pikiran. Jadi, tidak memikirkan apa pun adalah kunci agar tidak ada yang memprediksi gerakannya. Bertarung tanpa banyak berpikir adalah siasat terbaik saat kau tidak mengkhawatirkan atau memikirkan apa pun selain fokus pada pertarungan itu sendiri," jelas Aqila melanjutkan.
"Ternyata, seperti itu. Raisa memang hebat!" kata Morgan
•••
2 hari kemudian...
Hari ini, Raisa akan pergi ke dunia asalnya. Aqila dan Rumi ikut mengantar kepergiannya, juga ada Paman Elvano yang akan membukakan portal teleportasi untuknya.
Paman Elvano menunggu sampai Raisa siap untuk pergi dan Raisa pun sudah lebih dulu berpamitan dengan Aqila. Aqila bahkan memegangi sepucuk surat dari Raisa yang belum boleh dibuka hingga setelah ia pergi.
Kini saatnya Raisa mengucapkan perpisahan dengan Rumi.
"Jaga diri dan kesehatan selama di sana, ya, Raisa!" pesan Rumi
Raisa mengangguk.
"Kali ini, selama aku pergi, aku ingin fokus pada pekerjaanku di sana. Kau dan yang lain juga fokus saja di sini. Untuk sementara waktu harap kita tidak saling berjumpa dulu. Bisa, kan?" ujar Raisa bertanya.
"Meski sedikit tidak rela, aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini. Jadi, aku akan menahan diri," kata Rumi
"Andai saja ada yang bisa menghubungkan dunia kita, seperti ponsel. Sayangnya jaringan internet antar dunia kita tidak terhubung, jadi, kita tidak bisa komunikasi sama sekali!" ucap Raisa
"Cara untuk berkomunikasi? Ada! Kau bawalah ular sihirku ke duniamu, Raisa. Ular ini bisa menjadi alat komunikasi bagi kita. Setidaknya kita bisa saling bertukar suara dan kabar," ujar Rumi yang langsung mengeluarkan ular sihir miliknya dan memberikan pada Raisa.
"Hihi. Baiklah, ularnya kumasukkan ke dalam tasku, ya. Akhirnya ada cara untuk kita bisa saling berkomunikasi," kata Raisa yang langsung memasukkan ular sihir berukuran kecil tersebut ke dalam tas pinggang miliknya.
"Harusnya dari dulu saja kau bawa ular sihirku jika kau kembali ke duniamu. Ini baru terpikirkan sekarang!" ucap Rumi
Ular sihir milik Rumi memang bisa berfungsi sebagai media penghantar pesan suara yang artinya juga bisa untuk alat komunikasi. Hanya saja, cara ini baru terpikirkan sekarang oleh Rumi.
"Meski begitu, Terima kasih, ya! Aku pergi dulu!" ucap Raisa
"Kau sudah siap, Raisa?" tanya Paman Elvano
Raisa mengangguk sebagai jawabannya.
Paman Elvano pun menggunakan sihirnya untuk membuka portal teleportasi~
"Aku hanya membuka portalnya untukmu, Raisa. Kau bisa pergi sendiri dari siniu" ucap Paman Elvano
Raisa mengangguk mengerti. Ia pun melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
"Sampai jumpa!~" Raisa mengucapkan salam terakhir.
Raisa pun memasuki portal teleportasi dan keberadaan sosoknya menghilang di depan mata dalam sekejap~
Setelah Raisa pergi, Paman Elvano pun segera menutup portal teleportasi yang telah dibukanya.
"Hei! Di mana, Raisa?" tanya Morgan yang baru saja sampai di sana.
"Kau terlambat, Morgan! Raisa sudah pergi!" kata Aqila
"Yah, sayang sekali!" Morgan bergumam.
"Kau tidak apa, kan, Rumi?" tanya Morgan
"Ya," jawab Rumi sambil tersenyum tipis.
...***...
...--"--...
Kutipan Author :》
"Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya pada season baru. Author umumkan season pertama selesai sampai di sini!
Sampai jumpa lagi~~"
__ADS_1
^^^Salam: Author^^^
^^^Dilawrsmr.^^^