
Akhirnya Raisa tidak perlu merasa kedinginan lagi setelah suhu sekitar ditingkatkan dengan api abadi suci.
"Akhirnya terasa hangat juga," kata Raisa.
"Tapi, aku jadi merasa sedih ... " lirih Rumi
"Lho, ada apa? Kenapa merasa sedih?" tanya Raisa
"Aku jadi tidak bisa memberikan kehangatan secara langsung padamu," jawab Rumi
Rumi langsung merasa lemas dan meletakkan kepalanya untuk bersandar pada ceruk leher milik Raisa.
"Dasar ... suamiku ini manja sekali. Kau masih bisa memberikan kehangatan untukku kok," ujar Raisa
"Benarkah?" tanya Rumi sambil mulai jahil menciumi leher jenjang milik istrinya itu.
"Uuh ... tapi, tetap tidak boleh lebih dari berpelukan, ya, Sayang. Karena kita di sini hanya dan tidak lebih untuk menjalankan misi," jawab Raisa yang sempat mengeluarkan lenguhan pelan.
"Ya, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali," ujar Rumi
"Sudah ... aku ingin mandi lebih dulu," kata Raisa
Rumi langsung menegakkan kembali kepalanya.
"Kita mandi bersama saja," kata Rumi
"Rumi, kan, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak-"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa selain kita hanya akan mandi bersama," ucap Rumi
"Kau hanya perlu menikmati dan menenangkan diri dan percayakan semuanya padaku. Malam ini aku akan menjadi pelayan pribadi terbaikmu," sambung Rumi dengan penuh semangat dan rasa percaya diri.
"Baiklah. Aku akan percayakan dan serahkan semuanya padamu, Pria Tampanku," kata Raisa yang hanya ingin mengikuti permainan sang suami.
Rumi pun mulai membuka satu per satu kancing serta menanggalkan jaket tebal panjang milik Raisa dari tubuh istrinya itu. Lalu, pria tampan itu mengangkat dan menggendong tubuh Raisa ala bridal style untuk beranjak bersama menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar penginapan tersebut. Raisa memekik pelan karena merasa terkejut saat Rumi menggendong tubuhnya dengan tiba-tiba.
"Apa benar aku tidak perlu melakukan apa-apa dan hanya diam menikmati saja?" tanya Raisa
"Ya. Karena kau adalah Ratuku ... Dewiku," jawab Rumi
Raisa terkekeh pelan. Wanita itu langsung bersandar dengan manja di dalam pelukan Rumi yang menggendong tubuhnya.
"Kau ingin mandi biasa atau berendam, Ratuku?" tanya Rumi saat telah membawa Raisa hingga masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya berendam air hangat di malam hari lebih baik," jawab Raisa
"Baiklah," kata Rumi
Rumi pun menurunkan tubuh Raisa di samping bathtub dalam posisi berdiri, lalu kedua tangannya dengan cekatan mulai melepaskan sweater panjang yang melekat pada tubuh istrinya itu. Namun, saat kedua tangan Rumi hendak membuka kancing kemeja miliknya, Raisa menghentikan gerakan tangan suaminya itu. Sepertinya wanita itu masih saja malu-malu.
"Hmm ... lebih baik kau isi bak mandinya dengan air hangat saja lebih dulu," ujar Raisa
"Baiklah, Ratuku ... " patuh Rumi
Saat Rumi mengisi bathtub dengan air hangat, Raisa pun bergerak melepaskan pakaiannya satu per satu hingga akhirnya tubuhnya polos sempurna. Saat bathtub terisi penuh dengan air hangat, Raisa pun langsung masuk ke dalam bathtub tersebut untuk menyembunyikan tubuh polosnya di dalam air hangat itu.
Setelah menyiapkan sabun dan peralatan mandi lainnya, Rumi pun bergerak melepaskan pakaiannya sendiri satu per satu dan beranjak masuk ke dalam bathtub berisi air hangat yang sama dengan Raisa.
Berada di balik punggung Raisa, Rumi membantu istrinya itu membersihkan diri. Mulai dari membantu memakaikan sabun, menggosok seluruh tubuh, hingga memakaikan shampo.
Raisa hanya menerima perlakuan suaminya yang memanjakan dirinya dengan senang hati. Saat itu, Rumi menyempatkan diri untuk menghirup aroma sabun yang harum pada tubuh Raisa. Pria tampan itu memeluk tubuh sang istri dari belakang hingga langsung membuat tubuh Raisa menegang seketika.
"Rumi, kau bilang ... tidak akan melakukan apa-apa selain hanya kita akan mandi saja," ucap Raisa
"Benar ... tapi, biarkan aku seperti ini sebentar saja," kata Rumi
..."Benarkah hanya sebentar dan kau bisa menahan dirimu setelah ini?" batin Raisa...
Setelah memeluk tubuh Raisa beberapa saat, Rumi pun melanjutkan aktivitas mandi bersama istrinya itu. Pria tampan itu benar-benar melayani sang istri sepenuhnya hingga berakhir memakaikan handuk kimono pada tubuh polos sang istri dan tubuhnya sendiri serta mengeringkan rambut Raisa menggunakan sihir elemen udara yang ia dapat setelah Sang Naga Suci bersatu ke dalam dirinya. Pria tampan itu pun beranjak ke luar dari kamar mandi dengan kembali menggendong tubuh Raisa ala bridal style.
Setelah itu, Rumi merebahkan tubuh Raisa di atas ranjang serta ikut merebahkan dirinya di samping tubuh Raisa. Lalu, ia pun menutupi tubuhnya bersama sang istri yang sama-sama hanya terbalut handuk kimono menggunakan selimut tebal hingga sebatas dada. Rumi pun langsung memekuk tubuh Raisa dengan erat di balik selimut tersebut.
"Apa kita tidak perlu mengenakan pakaian lebih dulu?" tanya Raisa
"Tidak perlu. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita langsung istirahat dan tidur saja," jawab Rumi
__ADS_1
"Baiklah, terserah kau saja ... " pasrah Raisa
Raisa pun bergerak mengecup singkat bibir Rumi dan kembali meringkuk ke dalam pelukan hangat suaminya itu, lalu memejamkan kedua matanya secara perlahan.
"Karena setelah ini aku juga harus meniduri adik kecilku yang sedari tadi sudah jadi besar di bawah sana. Untuk malam ini dia harus menahan diri," batin Rumi
"Selamat malam, Suamiku ... "
"Selamat malam, Istriku Sayang."
Rumi menelan ludahnya dengan susah payah karena malam ini ia harus kuat menahan dirinya. Setelah itu, pria tampan itu pun menutup kedua matanya secara perlahan. Pasangan suami istri itu pun terlelap begitu saja dalam keadaan saling berpelukan di balik selimut tebal di dalam kamar penginapan tersebut.
•••
Pagi hari di keesokan harinya.
Raisa terbangun dari tidurnya masih setia dengan berada di dalam pelukan hangat Rumi. Wanita itu mengerjapkan matanya perlahan, lalu tersenyum saat melihat wajah polos suami tampannya yang masih terlelap. Ia merasa telah menjadi wanita yang sempurna dan istri yang bahagia karena mendapat jodoh dan suami yang sangat baik dan perhatian sekaligus peduli terhadapnya bahkan bersedia memanjakan dirinya.
..."Terima kasih, Rumi. Kau telah melengkapi hidupku dan menjadikan hari-hariku lebih berwarna di setiap saatnya. Hidupku tidak berarti tanpa kehadiranmu, Sayang ... aku mencintaimu, Suamiku," batin Raisa...
Tanpa memudarkan senyuman di bibirnya, Raisa mulai mengusik tidur suami tampannya itu. Jemari tangannya mulai jahil menyentuh lembut wajah dan mencolek kecil hidung Rumi. Suaminya itu menggelengkan pelan kepalanya karena terusik dengan setiap sentuhan dari jemari lentik sang istri. Raisa pun terkekeh pelan.
"Aku tahu kalau kau juga membangunkan aku dengan cara yang sama seperti ini saat berada di atas kereta," gumam Raisa
Raisa pun mulai menggoyang pelan tubuh Rumi untuk membangunkannya dari tidur lelapnya.
"Rumi, Sayang ... ayo, bangun, Suamiku."
Bukannya bangun atau sekadar membuka mata, Rumi malah semakin menggeratkan pelukannya pada tubuh Raisa dan merengkuh pinggang istrinya itu untuk saling mendekatkan tubuh mereka berdua.
"Masih terlalu pagi, Sayang. Ayo, tidur sebentar lagi saja," kata Rumi dalam keadaan kedua matanya yang masih terpejam.
"Kita bukan sedang berada di rumah, Sayang. Ayo, bangun ... " ujar Raisa
"Kalau kau bangun sekarang, aku akan memberikanmu pelayanan penuh seperti semalam kau melayaniku dengan sangat baik. Kali ini aku yang akan menjadi pelayan terbaik untukmu," sambung Raisa sambil berbisik tepat pada salah satu telinga Rumi.
Seketika saja, Rumi langsung membuka kedua matanya. Raisa pun beranjak duduk di atas ranjang dan bangkit dari posisi tidurnya.
"Benarkah itu?" tanya Rumi sambil sesekali mengerjapkan kedua matanya.
"Kalau begitu ... baiklah," ujar Rumi dengan penuh semangat langsung beranjak duduk dan bangkit dari posisi tidurnya.
"Tapi, maaf ... aku tidak bisa menggendong tubuhmu seperti yang kau lakukan untukku semalam," kata Raisa seraya terkekeh kecil.
"Ayo ... " Raisa pun menarik satu tangan Rumi untuk menggiring sang suami masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
Rumi tersenyum senang mendapat inisiatif dari sang istri yang ingin memanjakan dirinya. Rumi pun merasa sangat antusias dengan perhatian istrinya pagi itu.
Tanpa berendam di dalam bathtub dan hanya mandi biasa, di dalam kamar mandi, Raisa mulai melepaskan handuk kimono yang melekat pada tubuhnya dan juga pada tubuh suami tampannya.
Di awali dengan menyalakan shower dengan mode air hangat, Raisa pun mulai membantu membersihkan tubuh suaminya. Memberi sabun, menggosok tubuh seluruh permukaan tubuh Rumi, hingga memberi shampo dan membersihkan seluruh permukaan kepala Rumi. Tak lupa, Raisa juga membersihkan dirinya sendiri.
Ke luar dari kamar mandi, Raisa bahkan membantu Rumi mengenakan pakaian pada tubuh suaminya itu. Sedangkan Rumi hanya berdiam diri menuruti setiap perlakuan dari sang istri dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.
"Suami tampanku sekarang sudah rapi," kata Raisa
Raisa pun mendudukkan Rumi di tepi ranjang.
"Kau duduk di sini dulu. Aku ingin berpakaian dulu," ujar Raisa
Raisa membalikkan tubuhnya dan mulai berpakaian sambil membelakangi Rumi yang terus menatapnya tanpa berkedip atau mengalihkan pandangan darinya. Pria tampan itu berdecak kagum di dalam hati, ia tidak pernah merasa bosan memandangi istri cantiknya itu meski hanya dapat melihatnya dari belakang seperti saat ini.
Setelah berpakaian dengan rapi, Raisa kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatapnya tanpa berkedip.
"Hei ... kenapa kau menatapku sampai seperti itu?" tanya Raisa yang hampir salah tingkah saat ditatap dengan lekat oleh Rumi.
"Istriku memang sangat cantik ... kau nomor 1," puji Rumi sambil tersenyum bahagia.
"Apa kau tidak pernah bosan mengatakan pujian seperti itu padaku?" tanya Raisa sambil terkekeh pelan.
"Aku tidak akan pernah bosan sedikit pun," jawab Rumi
Rumi pun mengulurkan satu tangannya untuk menarik lengan Raisa hingga istrinya itu jatuh dan duduk di atas pangkuannya.
"Mana pelayanan terakhirnya ... morning kiss?" tanya Rumi menagih istri cantiknya.
__ADS_1
Lagi-lagi Raisa terkekeh kecil dibuat oleh suami tampannya itu.
"Ada ... di sini," kata Raisa yang menyentuh bibir Rumi dengan jari telunjuknya.
Rumi mengangguk kecil.
Raisa tersenyum dan bergerak menarik dagu suaminya itu untuk mendaratkan bibirnya pada bibir milik Rumi.
Setelah bibir keduanya menempel sempurna, Raisa pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Rumi dan bergelayut dengan manja. Rumi pun membalas memeluk pinggang Raisa dengan erat.
Ciuman itu seperti biasa terasa begitu memabukkan. Membuat keduanya tidak pernah bosan dan seolah tidak ingin melepaskan tautan bibirnya satu sama lain. Namun, pada akhirnya Rumi-lah yang menyerah dan menghentikan kegiatan morning kiss dengan istrinya itu.
"Sudah cukup. Kalau terus berlanjut, bisa-bisa aku tidak sanggup menahan diri untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar ciuman," ujar Rumi sambil mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya menggunakan ibu jarinya.
"Baiklah," kata Raisa sambil tersenyum manis.
"Apa lagi aku begitu menikmati perlakuan darimu saat mandi tadi. Asal kau tahu saja, aku jadi sulit mengendalikan diri saat ini," batin Rumi
Saat itu, tiba-tiba saja pintu kamar tersebut diketuk dari luar.
Tok-tok-tok!
"Raisa, Rumi ... apa kalian berdua sudah bangun? Kalian masih ada di dalam, kan?" Suara yang melontarkan pertanyaan dari luar kamar setelah mengutuk pintu adalah milik Chilla.
"Ya, kami masih ada di dalam sini. Kami akan segera ke luar," jawab Raisa dengan sedikit berteriak dari dalam kamar.
"Kami akan menunggu kalian berdua di luar untuk sarapan bersama," pekik Chilla
Tak ada lagi suara dari arah luar kamar tersebut.
Raisa pun segera beranjak bangkit dari atas pangkuan Rumi.
"Ayo, Sayang ... kita ke luar. Yamg lain sudah menunggu kita," kata Raisa
"Baiklah," patuh Rumi yang ikut bangkit berdiri.
Keduanya pun melangkah ke luar dari kamar untuk beranjak menemui pasukan misi lainnya sambil saling bergenggaman tangan dengan erat.
Masih dengan pakaian serba tebal, Raisa dan Rumi melenggang bersama menghampiri teman-teman lainnya ke ruang makan penginapan tersebut.
Menghampiri teman-temannya yang duduk berkumpul di salah satu meja makan, Raisa dan Rumi pun ikut bergabung dan duduk bersama di kursi yang kosong di sana.
"Maaf, sudah membuat kalian semua menunggu," kata Raisa
"Sudahlah, tidak apa. Tapi, untungnya kalian berdua tidak terlalu lama. Kalau tidak aku akan kelaparan," ujar Chilla
"Ayo, kita pesan makanannya," sambung Chilla dengan penuh semangat jika sudah membicarakan soal makanan.
Mereka pun memesan makanan untuk sarapan dan menunggu pesanan diantarkan.
"Raisa, terima kasih sudah membantu kami mencarikan orang-orang yang hilang di desa ini. Kalau bukan karena kau yang menangani masalah soal Veron yang diduga adalah monster, orang-orang yang hilang itu tidak akan mudah ditemukan," ucap Devan
"Tidak masalah. Hanya kebetulan saja menemukan orang-orang yang hilang itu," kata Raisa
"Rupanya, memang benar orang-orang yang hilang itu berkaitan dengan dugaan munculnya monster misterius yang tetnyata adalah Veron," ujar Sanari
"Jadi, apa keputusan kalian berempat setelah ini? Apa kalian akan langsung kembali ke Desa Daun? Misi kalian untuk menangani masalah monster misterius sudah selesai dan hanya tersisa masalah orang-orang yang hilang sebelumnya yang harus dihukum, kan?" tanya Ian
"Masalah orang-orang yang sempat hilang itu adalah misi kami bertiga dan kalian tidak termasuk ke dalamnya," sambung Ian
* Kalian berempat dimaksudkan kepada Raisa, Rumi, Amon dan Sanari.
Sedangkan kami bertiga dimaksudkan kepada Ian, Devan, dan Chilla.
"Sepertinya lebih baik kami berempat juga ikut melanjutkan misi kalian hingga tuntas, tidak butuh waktu lama lagi. Supaya kita bisa kembali ke Desa Daun bersama-sama seperti saat kita pergi ke sini," ujar Raisa
"Kau setuju, kan, Amon?" Raisa bertanya sambil menoleh ke arah Amon.
"Terserah ... Aku ikut saja," jawab Amon
Setelah itu, pesanan menu sarapan mereka bertujuh pun datang. Dan mereka pun mulai sarapan bersama.
.
•
__ADS_1
Bersambung.