
Semua terdiam saat mendengarkan penjelasan dari Raisa. Mereka seolah mengerti, tapi tidak benar-benar mengerti karena bagaimana pun juga mereka tidak merasakan langsung pengalaman dan tidak memiliki kemampuan yang sama seperti Raisa.
"Kalau Raisa bisa sihir apa aja?" tanya Arka
"Tanya Kak Raina, deh ... aku udah pernah cerita sama Kak Raina. Aku itu tipe orang yang malas mengulang cerita panjang, apa lagi tadi aku juga udah kasih penjelasan yang panjang juga," jawab Raisa
"Raisa itu orangnya gak mau repot sama kayak aku, tapi sku lebih parah dan aku juga malas ceritainnya sama kamu. Tanya Raihan aja, dia juga ikut diceritain sama Raisa," kata Raina
"Semua yang Raisa sebutkan tadi, Raisa bisa menguasai sihir itu semua. Kecuali 3 jenis sihir yang benar-benar berbeda yang hanya ada di dunia ini. Yaitu, mengubah ukuran tubuh, mengendalikan patung boneka, dan menghidupkan lukisan ... itu sihir yang tidak Raisa kuasai," ungkap Rumi
"Yang Kak Raisa jelaskan tadi itu cuma mencakup semua yang selama ini dia tahu, jenis sihir dari dunia ini dan dunia kita. Mungkin sebenarnya ada lebih banyak lagi jenis sihir yang belum diketahui. Aku rasa seperti itu," ujar Raihan
"Kamu benar, Raihan ... tuh, kamu tahu!" seru Raisa sambil terkekeh kecil.
"Kalau Kak Rumi, bisa menguasai sihir apa aja?" tanya Raihan
"Kalau aku, awalnya hanya bisa menguasai sihir elemen udara dan petir. Itu pun aku butuh merapal mantra jika ingin mengeluarkan sihirnya. Namun, sejak aku bersatu dengan Niran yang merasuk ke dalam diriku, aku jadi menguasai elemen sihir lainnya seperti, api dan air. Serta kini sudah bisa mengeluarkan sihir tanpa merapal mantra. Ini semua karena kemampuan bawaan setelah bersatu dengan Niran. Lalu, aku juga punya kemampuan dan tenaga sihir khas ular yang menurun dari ayahku," ungkap Rumi
"Selain itu, aku menguasai beberapa pembuatan lingkaran sihir, ilusi, dan pengubah wujud," sambung Rumi
"Artinya Rumi hanya gak mnguasai satu elemen sihir dasar, yaitu tanah. Sayang sekali ... padahal Raisa seolah bisa menguasai semuanya," ujar Arka
"Itu karena telah dikatakan bahwa Raisa adalah reinkarnasi dari jiwa Sang Dewi Kebajikan Teratai Putih yang bahkan Sang Kaisar Dewa saja tunduk karena cinta dan kekuatan yang diberikan Sang Dewi untuknya," ungkap Rumi
"Bukannya dikatakan juga kalau Rumi adalah reinkarnasi dari jiwa Sang Kaisar Dewa?" tanya Bu Vani
"Itu karena hanya setengah dari jiwa Sang Kaisar Dewa yang berenkarnasi di dalam tubuh ini," ungkap Rumi
"Selain memang hanya setengah jiwa Sang Kaisar Dewa yang bereinkarnasi di dalam tubuh ini, sebenarnya Sang Kaisar Dewa tidak lebih hebat dari permaisurinya, Sang Dewi Kebajikan Teratai Putih. Hal ini karena sifat Sang Kaisar Dewa yang tidak sebaik Sang Dewi Kebajikan Teratai Putih. Sebagai Permaisuri dari Sang Kaisar Dewa, Sang Dewi Kebajikan Teratai Putih memiliki sifat yang berbudi luhur, lugas, tegas, bijak, adil, pemberani, dan penuh kasih sayang. Sedangkan Sang Kaisar Dewa sendiri lebih terkesan dengan sifat angkuhnya. Lalu, Permaisurinya itu punya julukan lain ... yaitu, Dewi Perang yang Berkeadilan Tinggi," sambung Rumi
Sedari tadi, hanya Farah yang terdiam dan hanya menyimak sambil memerhatikan para orang dewasa itu mengobrol. Karena dirinya sendiri tidak begitu mengerti dengan topik yang terkesan berat untuk anak seusianya. Gadis kecil itu hanya sadar bahwa yang sedang dibicarakan adalah suatu hal yang hebat.
"Rupanya, kau juga sudah tahu tentang semua itu, ya, Rumi ..." ujar Raisa
"Ya, aku mengetahui semua itu dari Niran setelah alu memintanya untuk menceritakan kehidupan masa lalu kita. Kau pasti sudah lebih dulu mengetahui tentang semuanya dan kau mengetahuinya dari mimpi ajaibmu. Kenapa kau tidak pernah memberi tahu padaku soal semua ini?" tanya Rumi
"Karena jika aku memberi tahukannya padamu sebelum kau tahu sendiri, kau pasti tidak percaya karena merasa itu tidak mungkin dan karena kau merasa dirimu rendah dan akulah yang jauh lebih hebat darimu. Aku tidak suka itu dan aku lebih tidak suka jika orang menganggap diriku tinggi (kemampuannya) dan hebat. Apa lagi sebenarnya aku masih tidak bisa terlalu percaya kalau pernah memiliki kehidupan masa lalu dan merupakan reinkarnasi dari seorang Dewi. Itu benar-benar sulit dipercaya hingga saat ini," jelas Raisa
"Dari dulu bahkan di kehidupan masa lalu, kau memang lebih hebat dariku," ucap Rumi
"Tuh, kan ... selalu saja kau seperti ini," kata Raisa
"Mana ada, sih, orang yang gak suka dipuji kalau dirinya hebat? Kak Raisa cuma merendah untuk meroket," ujar Raihan
"Hei, bocah! Kakakmu ini gak menganut pepatah yang seperti itu! Hal yang paling utama kuingat adalah pepatah yang mengatakan ... di atas langit masih ada langit dan semakin berisi maka padi akan semakin merunduk. Jadi, kakakmu ini tidak ingin bersombong diri," ucap Raisa
"Gak sombong, tapi galak!" seru Raihan
Mereka semua mengobrol sambil duduk ditemani Sang Phoenix dan Sang Naga Suci yang masih berubah wujud menjadi burung merak dan ular.
Hari dan langit pun sudah berubah menjadi gelap lumayan lama setelah melakukan pertunjukan aksi berpedang dan tarian harmonisasi pengendalian api suci.
"Kak Rumi, aku juga mau dong diajari cara menggunakan pedang," pinta Raihan
"Kenapa harus minta diajari sama kakak iparmu yang cukup sibuk? Kenapa gak belajar dari kakak aja?" tanya Raisa
"Karena aku tahu Kak Raisa pasti berubah jadi seram kalau lagi mengajar," jawab Raihan
"Jangan merepotkan kakak iparmu. Setidaknya Kak Raisa gak lebih seram dari Kak Raina, jadi jangan mengeluh dan belajar aja yang benar dari kakak," ujar Raisa
"Iya juga, sih ... " gumam Raihan
"Seni bela diri kamu udah bagus karena belajar taekwondo, tapi harus lebih bersungguh-sungguh kalau mau belajar berpedang. Jadi, persiapkan diri aja," ucap Raisa
"Mulai lagi, deh ... berubah jadi guru killer, mode on!" seru Raihan
"Tenang aja karena pelatihannya gak dimulai sekarang juga," kata Raisa sambil tersenyum simpul.
"Kalau ada waktu untuk berkumpul bersama seperti ini, aku juga akan ikut mengajarimu, Raihan," ujar Rumi
"Janji, ya ... jangan ingkar. Seenggaknya aku lebih tenang kalau ada Kak Rumi," kata Raihan
"Jangan ribut lagi. Lebih baik kita pulang aja karena hari udah malam," ucap Pak Hilman
"Iya, ya ... gak terasa bercerita dan mendengar cerita seputar sihir bisa juga jadi bikin lupa waktu," ujar Bu Vani
__ADS_1
Mereka semua pun bangkit berdiri dan bersiap untuk kembali pulang.
"Kalau begitu, aku akan kembali masuk ke dalam dirimu, Raisa," ujar Helio
"Aku juga," kata Niran
Dari wujud burung merak dan ular, Helio dan Niran pun berubah wujud menjadi roh bola api dan kembali merasuk ke dalam diri Raisa dan Rumi.
"Baiklah. Ayo, kita pulang," kata Rumi
Mereka semua pun berjalan bersama kembali menuju ke rumah.
"Pak, yakin besok mau pada pulang ke Jakarta?" tanya Raisa
"Iya. Lagi pula, kami semua udah di sini selama seminggu, jadi besok udah harus pulang," jawab Pak Hilman
"Belum kok, hari ini masih hari keenam, besok baru hari ketujuh. Kita bisa jalan-jalan lagi besok dan besok lusanya baru pulang ke Jakarta. Gak perlu sampai ada perjalanan pulang juga, mudah aja kalau mau pulang ke Jakarta," ujar Raisa
"Karena besok hari ketujuh, makanya harus pulang ke Jakarta supaya liburan kita gak lebih dari seminggu," kata Pak Hilman
"Mau pending pulang juga di sininya Kak Raisa gak tahu mau ajak kita ke mana, kan?" tanya Raihan
"Kami bisa ajukan permintaan jasa misi untuk meminta pemandu wisata seperti yang disarankan teman-teman tadi," jawab Raisa
"Di lain waktu, kamu dan Rumi bisa ajak kami berlibur di sini lagi. Selain Bapak dan Arka harus kerja, adik sama keponakanmu juga sebentar lagi udah akan mulai masuk sekolah," ujar Bu Vani
"Benar juga, sih ... " gumam Raisa
"Onty Icha, sebenarnya aku senang bisa liburan ramai-ramai bareng Onty Icha sama Uncle Rumi, tapi Onty Icha juga udah ajarin aku kalau aku harus rajin belajar dan masuk sekolah, jadi aku bakal sabar ... tunggu kesempatan untuk kita liburan bareng-bareng lagi lain kali," ujar Farah sambil memeluk pinggang Raisa.
Raut wajah murung Raisa karena merasa sedih harus berpisah dengan keluarganya pun berubah dan kembali tersenyum.
"Farah, pintar banget. Iya, deh, Onty Icha juga bakal sabar tunggu kesempatan liburan bareng lagi di lain waktu," ucap Raisa
"Jangan sedih, ya, Onty ... " kata Farah
"Onty Icha gak sedih kok, nih ... Onty senyum. Malam ini Farah istirahat dan bobok yang benar, ya, karena besok udah harus pulang ke Jakarta," ujar Raisa
Farah pun mengangguk dengan patuh.
"Kamu sama suami kamu pulang dan langsung masuk ke rumah aja, Raisa. Istirahat," ucap Bu Vani
"Tapi, belum sampai ke rumah satu lagi," kata Raisa
"Kamu gak usah antar sampai rumah sana. Dekat banget juga. Lebih baik kamu langsung istirahat dan masuk ke dalam rumah sama suami kamu," ujar Raina
"Benar, nih?" tanya Raisa
"Ya ampun, Raisa ... rumahnya dekat banget dari sini kok. Gak usah khawatir," ujar Arka
"Ya udah. Aku dan Rumi langsung masuk ke dalam rumah, ya," kata Raisa
"Dadah, Onty Icha, Uncle Rumi ... " Farah melambaikan tangannya.
Raisa dan Rumi pun membalas melambaikan tangan. Begitu keluarganya terus beranjak menuju ke rumah (Raisa), Rumi pun menggenggam tangan Raisa untuk mengajak istrinya masuk ke dalam rumah (Rumi).
Setelah masuk ke dalam rumah, Raisa dan Rumi langsung menaruh tas belanja di atas sofa. Lalu, Rumi menarik Raisa untuk memeluk istrinya sejenak.
"Kau selalu bertanya pada yang lain, apakah mereka merasa senang setelah jalan-jalan bersama? Kau sendiri ... apa kau merasa senang setelah jalan-jalan hari ini?" tanya Rumi yang lalu melepaskan pelukannya dan beralih membelai rambut sang istri dengan lembut.
"Ya, aku merasa senang," jawab Raisa sambil tersenyum tipis.
"Mereka semua akan kembali ke Jakarta besok," gumam Rumi
"Ya, sudah diputuskan seperti itu," kata Raisa
"Sayang, aku ingin ke luar sebentar menemui teman-teman. Ada yang ingin aku katakan pada mereka. Apa kau ingin ikut?" tanya Rumi setelah berpikir sejenak.
"Aku tidak ikut dulu, ya, aku ingin tetap di rumah. Apa kau akan lama di luar?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Tidak akan lama. Kau istirahat saja," jawab Rumi
"Baiklah. Pulang cepat, ya," kata Raisa
Rumi mengangguk kecil sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menunggu. Aku pergi dulu," kata Rumi
Kini giliran Raisa yang mengangguk sambil tersenyum.
Rumi pun mengecup kening Raisa, lalu beranjak pergi ke luar dari rumah.
Setelah Rumi pergi, Raisa langsung membereskan barang belanjaan yang dibeli saat berbelanja tadi dan menaruhnya ke tempat yang seharusnya serta menatanya dengan rapi.
Usai beres-beres, Raisa langsung beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, wanita itu kembali bergerak menuju ke dapur untuk memasak sambil menunggu Rumi pulang. Ia ingin begitu suaminya pulang, makanan sudah siap dan keduanya bisa langsung makan malam bersama.
Saat Raisa sedang menata makanan di atas meja berkaki pendek, pintu rumah telah terbuka dan Rumi yang baru saja pulang pun masuk ke dalam rumah.
Raisa langsung berdiri tegak untuk menyambut kepulangan sang suami.
"Selamat datang. Kau sudah pulang. Cepat sekali," sambut Raisa atas kembalinya Rumi di rumah.
"Aku memang tidak akan pergi berlama-lama, tapi apa ini? Kubilang tidak perlu menungguku," ujar Rumi
"Tidak bisa seperti itu, ini belum terlalu malam. Jadi, aku memasak untuk makan malam kita setelah mandi tadi," ucap Raisa
"Padahal tidak perlu masak dan makan juga tidak apa, kan kita sudah banyak makan hari ini sast jalan-jalan tadi," kata Rumi
"Jangan seperti itu dong. Kan, makanannya sudah siap," ujar Raisa
"Baiklah, maaf. Tentu saja kita harus makan karena kau sudah memasak," ucap Rumi
Rumi pun bergerak untuk memeluk tubuh Raisa. Raisa pun tersenyum.
"Mandilah dulu. Setelah itu, kita makan bersama," kata Raisa
Bukannya melepaskan pelukannya dengan sang istri, Rumi malah semakin mempererat pelukannya juga menelusupkan wajahnya di antara helaian rambut istrinya dan meletakkan wajahnya pada ceruk leher Raisa.
Raisa yang terkejut saat Rumi tiba-tiba memeluknya pun sedikit melangkah mundur dan kakinya membentur meja pendek yang sudah dihidangkan makanan di atasnya. Untung saja tidak ada piring yang terjatuh atau makanan yang tumpah meski meja sempat bergoyang.
"Kau mengagetkan aku dengan tiba-tiba memelukku seperti ini, Sayang. Sampai aku menendang mejanya, untung saja tidak ada makanan yang jatuh," ujar Raisa
"Sayang, kau harum sekali ... " puji Rumi
"Suamiku, bukan waktunya untuk seperti ini. Nanti makanannya keburu dingin," kata Raisa
"Baiklah. Kalau begitu, aku mandi dulu," ujar Rumi
Rumi pun menarik diri dan melepaskan pelukannya. Pria itu mengecup singkat bibir sang istri, lalu ia pun beranjak menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Rumi ke luar dari kamar mandi, dengan cekatan Raisa langsung membantu suaminya itu mengenakan pakaian. Lalu, wanita itu langsung menarik Rumi untuk segera makan bersama.
Usai makan malam, saat Raisa hendak membereskan bekas makan, Rumi langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Kau sudah memasak seorang diri tadi, sekarang giliranmu untuk istirahat. Biar aku yang membereskan bekas makannya," ucap Rumi
"Kau ini bicara apa? Sudah menjadi tugasku, sekarang aku akan membereskan bekas makannya," ujar Raisa
"Sudah kubilang, biar aku saja. Piringnya bisa dicuci nanti, aku hanya akan menaruhnya di dapur," kata Rumi
"Baiklah," singkat Raisa
Akhirnya Raisa hanya diam dan membiarkan Rumi yang membereskan bekas malam malam tadi meski hanya untuk menaruh piring kotor ke dapur.
Tak butuh berlama-lama, saat kembali Rumi melihat Raisa yang masih terdiam duduk di tepi ranjang.
"Rupanya, Istriku tidak patuh. Bukannya istirahat, malah melamun di sini," ujar Rumi
Raisa tersadar. Namun, Rumi malah lebih dulu merebahkan diri di atas ranjang. Lalu, pria itu merentangkan satu tangannya saat berbaring dan menepuk tangannya itu seolah memberi isyarat agar Raisa berbaring dan menggunakan tangannya sebagai bantalan.
Raisa tersenyum. Kali ini, ia menuruti sang suami dan segera ikut merebahkan diri di samping Rumi dan menjadikan lengan pria yang merupakan suaminya itu sebagai bantal.
Begitu merebahkan dirinya, Rumi langsung membelai rambutnya dengan lembut dan Raisa pun menatap wajah suaminya itu dengan lekat.
Rumi pun membalas dengan menatap ke dalam manik mata indah sang istri. Dilihatnya, ada perasaan dan permintaan yang tersirat di dalam sepasang mata cantik Raisa. Saat istrinya itu berusaha mendekatkan diri, Rumi langsung menarik wajah istrinya itu agar lebih leluasa untuk mencium bibir ranum itu.
Rumi mengerti, Raisa sedang merasa sedih dan ingin menghibur diri dengan bermanja mesra dengan pria tercinta sekaligus suaminya itu. Dan Rumi pun mengabulkan keinginan istri cantiknya.
.
•
__ADS_1
Bersambung.