Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 160 - Bermain di Wilayah Bersalju.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Raisa berdiri di dekat jendela rumah dan pandangan kedua matanya terarah ke luar. Di luar sana masih saja penuh dengan pemandangan putih karena bersalju. Namun, wanita itu mulai merasa jenuh hanya berada di dalam dan menatap ke luar rumah.


"Rumi, apa kau masih enggan memberi izin padaku untuk ke luar?" tanya Raisa yang menoleh ke arah sang suami


"Memangnya apa yang mau kau melakukan di luar sana? Bukankah kau yang bilang sendiri padaku bahwa jika kau ke luar malah tidak tahu mau melakukan apa?" tanya balik Rumi


"Itu adalah perkataanku beberapa hari yang lalu, sekarang aku merasa bosan karena terus berada di dalam rumah. Bukan aku merasa bosan saat bersamamu, tapi aku butuh melihat suasana baru. Aku memang bingung ingin melakukan apa sat ke luar rumah, tapi siapa yang tahu kalau belum mencoba? Mungkin aku akan melakukan sesuatu jika sudah berada di luar," jawab Raisa


"Aku pikir kau masih butuh lebih banyak waktu untuk istirahat. Lagi pula, di luar masih sedang turun salju. Kau tidak akan tahan dengan hawa dingin itu," kata Rumi


"Rumi, apa kau ingin membuatku seperti sedang berada di dalam penjara dengan alasan peduli karena cinta? Apa kau ingin mengurungku di dalam sangkar seperti burung dan mengekangku? Apa kau ingin aku jadi tidak bisa bebas lagi?" tanya Raisa


"Tentu saja, tidak. Sayang, aku hanya merasa khawatir jika kau akan kedinginan di luar rumah dan mungkin kau masih butuh istirahat," jawab Rumi


Raisa dan Rumi sama-sama menghela nafas panjang. Keduanya saling merasa tidak habis pikir dengan satu sama lain. Di satu sisi, Raisa merasa sang suami mulai tidak adil dan di sisi lain, Rumi merasa telah bertindak demi kebaikan sang istri.


"Rumi, aku bisa mengerti dengan rasa khawatirmu itu, tapi sudah hampir satu minggu aku terus istirahat dan berada di dalam rumah setelah kejadian penculikan itu. Nyatanya aku baik-baik saja. Aku mengaku salah karena saat itu telah bertindak ceroboh hingga membuatmu merasa sangat khawatir sampai seperti ini. Namun, bukankah kau sendiri yang bilang padaku bahwa kau percaya padaku? Kenapa sekarang kau malah seolah membatasi kebebasanku? Apa ucapanmu yang berkata kau percaya padaku itu sudah tidak berlaku atau malah palsu?" tanya Raisa


"Tidak, Sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu. Saat kejadian penculikan itu terjadi pssti kau sendiri yang merasa amat sulit. Itu bukan salahmu. Maafkan aku," jawab Rumi


"Aku tidak merasa harus memaafkanmu karena kau pun tidak bersalah," kata Raisa


"Baiklah. Kau mau ke luar, kan? Aku akan menemanimu," ujar Rumi


"Yang benar, nih? Asik!" sorak Raisa yang kegirangan.


Raisa langsung melompat untuk memeluk sang suami yang sedang duduk di tepi ranjang. Rumi pun membalas pelukan sang istri hingga menarik wanita cantik itu untuk duduk di atas pangkuannya.


"Tentu saja. Padahal kau belum ke luar, tapi apa kau sudah merasa senang? Bagaimana kalau kutarik kembali perkataanku tadi?" tanya Rumi


"Ya, aku merasa senang hanya karena ini. Namun, kalau kau membatalkan perkataanmu tadi, maka aku hanya akan melarikan diri darimu dan ke luar dari rumah. Lagi pula, apa kau sendiri tidak merasa bosan terus berada di dalam rumah?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari sang suami sambil merenggangkan pelukanya agar dapat menatap pria tampan yang sangat dekat dengannya itu.


"Tidak sama sekali. Aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun saat bersama denganmu," jawab Rumi


"Kalau begitu, mungkin memang rasa cintamu lebih besar dariku. Padahal selama ini aku tidak merasa seperti itu. Maaf," ujar Raisa


"Dari pada bilang maaf, apa kau tidak bisa melakukan hal lain untuk menebus kebaikanku ini? Apa aku tidak bisa mendapatkan sesuatu darimu? Bukankah ini masih terbilang pagi?" tanya Rumi yang menyiratkan sesuatu.


"Aku mengerti. Kita masih belum melakukannya. Morning kiss," kata Raisa


Raisa pun langsung mendaratkan ciuman pada bibir sang suami. Rumi yang merasa senang karena keinginannya mendapat ciuman dari sang istri terkabul pun langsung membalas ciuman itu.


"Sekarang bersiaplah. Kita akan segera ke luar," kata Rumi usai mengakhiri ciuman dengan sang istri sambil mengusap bibir merah sang istri yang basah karena ulahnya.


"Baiklah," patuh Raisa


Raisa langsung bangkit dari atas pangkuan sang suami untuk segera bersiap sebelum pergi ke luar rumah. Dirinya harus memakai pakaian tebal dan tak lupa juga menyiapkan mantel untuk sang suami.


"Rumi, kau juga harus bersiap dan jangan diam saja," kata Raisa


"Baiklah," patuh Rumi


Rumi pun ikut bangkit dan bersiap mengenakan pakaian serba tebal sebelum pergi ke luar bersama sang istri. Pria itu tersenyum dan ikut merasa senang saat melihat antusiasme istri cantiknya itu.


Usai bersiap, keduanya pun beranjak ke luar dari rumah.


Raisa terus tersenyum senang. Wanita cantik itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan panjang. Ternyata, seperti inilah rasanya. Ia akan memulai pengalaman dan momen baru menikmati suasana bersalju bersama sang suami.


"Rumi, terima kasih karena sudah memberi izin sekaligus menemaniku ke luar rumah," ucap Raisa


"Ini masih terlalu awal untukmu mengatakannya. Sekarang kau ingin pergi ke mana dan melakukan apa?" tanya Rumi


"Sudah lama aku tidak bermain, aku ingin ke tempat yang luas. Mungkin kita bisa pergi ke taman," jawab Raisa


"Baiklah, ayo. Kita pergi ke taman," kata Rumi


Raisa mengangguk sambil tersenyum. Wanita cantik itu saling bergenggaman dan menarik tangan sang suami dengan berjalan lebih dulu di depan. Pasangan suami istri itu pun berjalan bersama menuju ke taman yang kini bersalju.


"Tapi, kini sedang tidak ada apa pun di taman dan hanya penuh dengan warna putih dari tumpukan salju. Tidak ada rumput, bunga, dan pohon pun akan tertutup dengan salju," ucap Rumi


"Tidak apa-apa karena aku hanya ingin bermain," kata Raisa


Saat tiba di taman, benar saja. Tempat itu hanya luas, tapi tertutupi dengan salju.


Raisa langsung melepas genggaman tangannya dengan sang suami dan berlari dengan amat bebas sambil tertawa kecil menikmati kesenangan saat itu.

__ADS_1


"Kau jangan lari, Sayang. Nanti kakimu bisa saja terperosok ke dalam salju yang tebal dan terjatuh," ujar Rumi


"Tidak akan. Lagi pula, kalau memang akhirnya terjatuh, biarkan saja. Salju di taman sangat tebal, jadi mungkin akan terasa empuk saat terjatuh," ucap Raisa


Akhirnya, Rumi mengikuti arah sang istri yang berlari di sekitar taman tersebut. Raisa mendekat ke arah pohon yang diselimuti dengan salju dan menendang pohon tersebut dengan kuat. Alhasil, salju yang menutupi permukaan pohon langsung berjatuhan ke dirinya dan sang suami. Setelah membuat ulah jahil, Raisa langsung berlarian lagi.


"Sayang, jangan terlalu asik bermain. Nanti kau akan merasa kedinginan," kata Rumi


"Justru itu, saat seperti ini harus banyak bergerak dan bermain. Karena jika banyak bergerak jadi tidak akan merasa kedinginan," ujar Raisa


Raisa pun berhenti berlari saat berada tepat di tengah-tengah taman yang luas. Wanita itu mengubah tanah taman yang bersalju menjadi tanah yang dilapisi dengan es dengan menggunakan kemampuan sihir miliknya.


Lalu, Raisa pun beranjak untuk menari di atas tanah berlapis es itu. Seolah melakukan ice skating sambil menari balet. Di sela-sela gerak tariannya, Raisa merentangkan satu tangannya yang diulurkan seolah menunjuk dan meminta sang suami untuk ikut mendekat.


Mengerti dengan isyarat yang diberikan padanya, Rumi pun berjalan mendekat ke arah sang istri di atas tanah berlapis es. Akhirnya, keduanya pun menari bersama. Degup jantung keduanya yang berdetak seirama seolah menjadi iringan musik untuk tarian pasangan suami istri itu.


"Rupanya, kau ke luar rumah hanya karena ingin bermain salju dan es. Seperti anak kecil saja," ujar Rumi


"Memang benar. Aku belum pernah bermain di wilayah bersalju pada musim dingin, jadi aku ingin merasakannya juga. Seperti inilah istrimu," ucap Raisa


"Kau adalah istriku yang mampu dan selalu membuatku terpana dengan pesonamu saat apa pun yang kau lakukan," kata Rumi


Raisa pun hanya tersenyum. Saat dirasa cukup menari bersama sang suami, wanita cantik itu beralih untuk membuat patung es berbentuk hati tepat di tengah tanah taman berlapis es di sana.


"Aku tidak akan dimarahi atsu diminta tanggung jawab karena telah membuat patung hati di sini, kan?" tanya Raisa


"Entahlah, mungkin tidak. Karena patung hati itu akan langsung mencair dengan sendirinya saat musim semi nanti," jawab Rumi


"Aku ingin istirahat dan duduk dulu," kata Raisa


"Kau ingin duduk di mana? Jika di atas salju nanti kau bisa kedinginan," ujar Rumi


"Sebentar saja kok," sahut Raisa


Raisa pun beranjak untuk duduk di atas tanah bersalju. Rumi pun langsung mengikuti dan duduk tepat di samping sang istri.


"Duduk di sini akan terasa dingin, lho, Sayang ... " kata Rumi


"Tidak kok, karena ada kau yang menemaniku di sini," elak Raisa sambil tersenyum.


"Lihatlah ... rambutmu sudah berubah menjadi putih karena salju," ujar Rumi


"Tidak sama sekali. Kau akan tetap dan selalu tampak cantik," jawab Rumi sambil tersenyum.


Rumi mengulurkan kedua tangannya setelah membuka sarung tangan untuk menangkup wajah sang istri. Pria tampan itu menggosok-gosokkan masing-masing tangannya pada kedua pipi Raisa agar wanita cantik itu merasa lebih hangat.


"Rumi, kenapa kau membuka sarung tanganmu? Pakailah lagi atau kau akan kedinginan dan tanganmu akan membeku," ujar Raisa


"Aku sudah terbiasa dengan rasa dingin dan tidak akan jadi selemah itu, tapi kau harus tetap hangat," ucap Rumi


"Aku pun tidak akan merasa dingin karena memang baru berada di luar sebentar," kata Raisa


"Lalu, memangnya akan berapa lama kau berada di luar sini?" tanya Rumi


"Entahlah. Mungkin dari sini aku ingin pergi makan makanan berkuah yang hangat bersamamu. Itu adalah suatu hal yang tidak boleh dilewatkan saat musim dingin," jawab Raisa


"Baiklah," sahut Rumi


"Berhentilah menggosok-gosokkan tanganmu di wajahku. Nanti aku jadi terlihat jelek," ujar Raisa sambil menggembungkan kedua pipinya seolah sedang merajuk.


"Sudah kubilang, kau itu selalu tampak cantik, Sayang," kata Rumi


"Berhenti menggombal atau menggodaku," timpal Raisa


"Aku tidak sedang menggombal dan kalau menggoda itu seperti ini," ujar Rumi yang langsung menarik wajah dan mencium bibir sang istri.


Kedua mata Raisa langsung terbelalak kaget saat sang suami menciumnya tepat di bibir, sedangkan Rumi malah memejamkan kedua matanya. Namun, pada detik selanjutnya wanita cantik itu ikut memejamkan kedua matanya karena terhanyut dalam cumbu mesra suami tampannya itu.


Keduanya saling berbagi oksigen yang kian terasa menipis pada wilayah bermisim dingin itu. Setelah cukup lama berciuman, keduanya pun saling menarik diri dan melepaskan ciuman kala itu. Raisa pun langsung memukul pelan dada milik sang suami.


"Apa yang kau lakukan, sih? Untung saja tidak ada orang lain yang melihat," ujar Raisa


"Tapi, kau juga menikmatinya, kan, Sayang?" tanya Rumi dengan nada suara menggoda.


"Itu karena aku suka. Tidak tahu, ah. Setidaknya kau harus tahu dan ingat tempat saat melakukannya dong," jawab Raisa


Raisa langsung bangkit berdiri dan Rumi segera mengikuti gerakan sang istri. Pria tampan itu langsung menarik Raisa untuk masuk ke dalam pelukannya sebelum wanita cantik itu bergerak.

__ADS_1


"Biarkan dulu seperti ini sebentar saja. Aku tidak ingin kau merasa kedinginan," ujar Rumi


"Aku selalu merasa hangat karena ada kau yang mencintaiku. Terima kasih, Rumi," ucap Raisa


Rumi pun semakin memeluk Raisa dengan lebih erat.


"Maafkan aku jika perkataanku tadi menyakiti hatimu, ya," kata Raisa sambil membalas pelukan sang suami.


"Perkataanmu yang mana?" tanya Rumi


"Sebenarnya jika dipikirkan lagi, sepertinya aku tidak akan bisa melarikan diri ke luar dari rumah jika kau yang melarangku. Aku hanya akan menjadi istri yang baik yang menuruti perkataanmu. Tadi aku hanya kelepasan bicara dan egois sesaat. Maafkan aku," jelas Raisa


"Aku senang mendengarnya, tapi kau tidak perlu bilang maaf. Memang salahku juga sudah menahanmu di dalam rumah hanya karena alasan aku khawatir padamu. Aku tidak akan seperti itu lagi. Katakan saja jika kau ingin sesuatu dan jika aku bisa, maka aku akan mengabulkan keinginanmu," ujar Rumi


"Aku juga senang mendengarnya," sahut Raisa


Keduanya pun melepaskan pelukan masing-masing.


"Katanya, kau ingin makan makanan berkuah yang hangat. Ayo, kita pergi," kata Rumi


"Hmm ... kali ini kau yang menentukan tempat makannya. Aku ingin kau yang memilih," ucap Raisa


"Baiklah. Kalau begitu, kita jalan saja dulu. Mungkin baru bisa menentukan sambil berjalan," ujar Rumi


"Ya sudah, terserah kau saja," sahut Raisa


Pasangan suami istri itu pun berjalan bersama dan akhirnya memutuskan untuk singgah di salah satu kedai makan sup.


Di kedai tersebut, rupanya ada Aqila, Morgan, Amon, dan Sanari yang juga sedang makan bersama di sana. Raisa dan Rumi pun ikut bergabung duduk di sana.


"Kalian berdua juga ke sini, ya," kata Morgan


"Wah ... jadi seperti triple date," gumam Raisa


"Kalian berdua baru kelihatan lagi. Habis dari mana saja?" tanya Sanari


"Kami berdua hanya di rumah," jawab Rumi


"Aku tidak terlalu tahan dengan hawa dingin, jadi lebih sering di rumah. Kali ini aku sedang ingin coba ke luar, jadi meminta Rumi untuk menemaniku," jelas Raisa


"Bukan karena Rumi menahanmu, kan? Kukira suamimu tipe orang yang posesif dan protektif," ujar Amon


"Rumi tidak mungkin seperti itu. Ya, kan?" tanya Aqila


"Ya, suamiku tidak seperti itu kok. Rumi sangat baik," jawab Raisa


Rumi tertegun. Rupanya, sang istri menutupi keburukannya yang sempat melarang untuk ke luar rumah. Pria itu pun merasa tersentuh.


Saat itu, pelayan kedai pun datang menghampiri.


"Tuan dan Nyonya, ingin pesan apa?"


"Kami berdua ingin campuran sup tahu jamur dengan daging. Tolong jangan diberi kentang. Kalau minumannya, kau ingin apa, Sayang?" tanya Rumi pada sang istri saat sedang memesan.


"Dua teh lemon hangat saja," jawab Raisa


"Baik. Mohon ditunggu."


Pelayan kedai pun segera menyiapkan pesanan. Beberapa saat kemudian, pelayan kedai pun kembali untuk mengantar pesanan.


"Silakan dinikmati." Usai mengantar pesanan, pelayan kedai pun kembali ke tempatnya.


"Rupanya, kau masih ingat kalau aku tidak suka makan kentang rebusan, ya?" tanya Raisa


"Tentu saja. Aku masih ingat kita juga pernah makan seperti ini saat menjalankan misi dulu," ungkap Rumi


"Ya, benar. Saat itu aku sudah merepotkanmu karena sakit saat sedang menjalankan misi," ujar Raisa


"Tidak merepotkan kok," kata Rumi


Yang dimaksud adalah saat Raisa merasa nyeri saat datang bulan padahal sedang menjalankan misi dulu.


Keduanya pun memulai makan sup bersama.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2