
Saat ini, Raisa dan rombongannya sudah berada di dalam bus untuk bersiap-siap kembali menuju ke vila.
Di dekat tempat parkir itu, ada gerai penjual kecil. Rumi yang melihat itu, langsung bangkit hendak beranjak ke luar bus.
"Kau mau ke mana, Rumi?" tanya Raisa yang memang duduk di kursi yang bersebelahan dengan Rumi.
"Aku mau turun dulu sebentar," jawab Rumi
"Baiklah. Silakan," kata Raisa yang mengira Rumi ingin pergi ke toilet.
Rumi pun beranjak turun dari bus.
"Kang Arif, tunggu sebentar dulu, ya. Rumi sedang ke luar sebentar," ucap Raisa
"Oke, Neng," kata Kang Arif
"Bagaimana tadi jalan-jalannya sama Teh Sinta di Taman Safari? Seru gak?" tanya Raisa
"Iya, Neng. Menyenangkan. Terima kasih udah bolehin saya dan Sinta ikut, bahkan dibiayai tiketnya," jawab Arif
"Iya, Neng Raisa. Terima kasih. Kami berdua jadi bisa ikut liburan," ucap Sinta
"Gak usah sungkan. Justru saya yang harus bilang terima kasih karena Kang Arif udah mau setir busnya buat kami semua liburan," ujar Raisa
"Aduh, Neng. Gak usah bilang terima kasih gitu. Kan, saya dibayar," kata Arif
"Kalau boleh saya mau minta tolong Kang Arif buat bawa bus ini lagi besok untuk antar kami semua ke Jakarta. Besok ada jadwal kerja, soalnya. Bisa gak, ya, Kang?" tanya Raisa
"Besok, Neng? Pagi-pagi?" tanya balik Arif
"Iya, Kang. Mungkin perginya jam setengah 7 pagi. Kalau bisa, Kang Arif tunggu di sana juga sampai waktunya pulang kerja. Kang Arif juga boleh ajak Teh Sinta lagi ke Jakarta. Jadi, selama nunggu waktu pulang kerja, Kang Arif dan Teh Sinta bisa jalan-jalan di Jakarta. Tempat saya kerja itu dekat pusat kota. Banyak tempat hang out yang bagus di sana," jawab Raisa
"Boleh saya pikir-pikir dulu, Neng? Soalnya, saya harus bilang lagi ke Pak Wisnu untuk izin dari kerja," ujar Arif
"Silakan, Kang. Boleh aja. Kalau bisa, langsung datang aja besok ke vila kayak hari ini. Tapi, kalau emang gak bisa, tolong kabari Pak Danu aja, biar Pak Danu cari orang lain yang setir bus ini ke Jakarta besok," ucap Raisa
"Oke, Neng. Bisa atau enggaknya nanti saya kabari Pak Danu," kata Arif
Saat itu Rumi kembali naik, masuk ke dalam bus.
"Kau dari mana, Rumi? Kau beli itu?" tanya Ian
"Ah, iya. Ini untuk Raisa," jawab Rumi
Mendengar ada sesuatu yang Rumi beli untuknya, Raisa langsung melihat ke arah Rumi yang baru kembali masuk ke dalam bus. Ternyata, Rumi membeli dan membawa sebungkus permen kapas.
Rumi memang membawa uang mata uang dunia sana pemberian dari Raisa. Berjaga-jaga jika ingin sesuatu untuk dibeli. Tak hanya Rumi, teman-teman dari dunia asingnya juga Raisa beri uang. Raisa tak menyangka, Rumi menggunakan uang itu untuk membelikan permen kapas untuknya.
"Raisa, aku kembali. Dan, ini untukmu," kata Rumi
Rumi pun duduk di kursi di samping Raisa. Raisa tersenyum melihat lelaki itu membawakan permen kapas yang diinginkannya. Rumi benar-benar ingat dengan keinginannya, tentu saja Raisa merasa senang.
Setelah semua orang sudah lengkap berada di dalam bus. Arif pun mulai menjalankan bus untuk kembali menuju vila.
"Kau membeli permen kapan ini untukku? Kau tahu permintaanku, kan? Aku ingin disuapi permen kapas oleh orang yang kusuka. Suapi aku," ujar Raisa
"Tentu saja, aku ingat," kata Rumi
Rumi pun membuka bungkus permen kapas untuk menyuapi Raisa. Rumi pun memberi suapan pertama pada Raisa dan gadis cantik itu menerimanya dengan perasaan senang hati.
"Bagaimana kau membelinya? Maksudku, kau tidak kesulitan dengan cara pembelian di sini, kan?" tanya Raisa
"Tidak, itu mudah. Semua pembelian sama saja dengan cara membayar dengan uang," jawab Rumi
"Berapa harga saat kau membelinya?" tanya Raisa
"Aku belum bertanya atau mendengar harga dari penjualnya, tapi aku langsung membayar dengan uang lembaran biru Rp.50.000 . Dan kubiarkan penjualnya mengambil kembaliannya," jelas Rumi
"Sebungkus permen kapas mungkin seharga Rp.5000 . Jika itu dijual di tempat wisata mungkin itu bisa melonjak hingga Rp.10.000 atau paling mahal Rp.20.000, kau memberinya dengan uang Rp.50.000 . Harusnya kau masih bisa mendapat kembalian mingkin sebesar Rp.30.000," ujar Raisa
"Apa aku melakukan kesalahan? Uang selalu berharga. Apa tadi harusnya aku ambil uang kembaliannya?" tanya Rumi
"Tidak, anggap saja itu untuk bersedekah. Aku malah khawatir kau kekurangan jumlah uang saat melakukan pembayaran, tapi kau malah berkata pada penjualnya untuk mengambil uang kembaliannya atau langsung pergi begitu saja. Kalau begitu, akan kasihan penjualnya atau memalukan bagimu," jawab Raisa
"Sepertinya harusnya tadi aku tunggu dan ambil uang kembaliannya saja. Aku membeli dengan uang pemberian darimu. Harusnya aku beri uang kembaliannya untukmu," ujar Rumi
"Aku sungguh tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Kau tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak padaku. Kau bahkan memberikan upah pembayaran pemotretanmu padaku. Anggap saja tadi kau menggunakan uangmu yang kau titipkan padaku," ucap Raisa
"Upah pembayaran pemotretan itu kuberikan padamu dan untukmu bukan menitipkannya di tempatmu," kata Rumi
"Kalau begitu, tidak perlu salong merasa tidak enak. Anggap saja impas," ujar Raisa
Raisa tersenyum. Rumi pun terus menyuapinya permen kapas.
__ADS_1
"Kau juga makan. Kita bagi bersama permen kapasnya," kata Raisa
Rumi mengangguk patuh dan setuju.
Setelah menyuapi Raisa sekali, Rumi ikut makan satu suapan. Keduanya makan permen kapas bersama dengan Rumi yang menyuapi Raisa dan dirinya sendiri.
"Rasa permen kapas sangat manis. Aku tidak tahu kau suka makanan yang manis atau tidak. Jadi, apa kau suka permen kapasnya?" tanya Raisa
"Aku suka semua hal yang kau suka. Meski menurutku, rasa permen kapas ini tidak semanis dirimu," jawab Rumi
Selalu saja seperti itu, Rumi selalu menggombal dan membuat Raisa senang dengan mendengar kata-kata darinya.
"Omong-omong, kau beli permen kapas di mana? Sepertinya aku tidak lihat ada yang jual permen kapas tadi?" tanya Raisa
"Ada yang menjual di dekat tempat parkir tadi. Kau hanya tidak melihatnya saja," jawab Rumi
"Begitu rupanya. Aku senang sekali. Keinginanku terwujud berkat dirimu," ujar Raisa
Raisa pun menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi dan tangannya bergerak memeluk satu tangan lelaki tampan itu.
"Alasanku ingin disuapi makan permen kapas oleh orang yang kusuka adalah karena rasa manisnya. Aku jadi berharap semoga kisah kita selalu manis seperti rasa permen kapas ini," ungkap Raisa
"Baik permen kapas atau ucapanmu barusan, aku akan memastikan semua keinginanmu dapat terwujud. Jadi, tolong izinkan aku untuk berada di sampingmu selamanya," ucap Rumi
Raisa hanya bisa tersenyum sambil menatap Rumi.
..."Tentu, aku mengizinkanmu karena itu keinginanku. Tapi, tidak tahu apa takdir juga mengizinkannya," batin Raisa...
Raisa teralihkan dan fokusnya terbagi dengan ponsel yang saat ini sedang ia mainkan.
Sampai saat suapan permen kapas terakhir, Raisa masih saja terfokus pada ponsel miliknya. Melihat itu, Rumi jadi tidak suka. Ia merasa kesal telah diabaikan oleh Raisa. Raisa bahkan tidak sadar bahwa permen kapasnya sudah habis.
"Permen kapasnya sudah habis? Suapan terakhir kau berikan padaku? Kau tidak kebagian lagi dong? Sayang sekali. Sepertinya kau menikmati permen kapas itu," ujar Raisa
"Ya. Aku menginginkannya lagi," kata Rumi
Baru saja Raisa ingin mengeluarkan suara, Rumi sudah mendekat dengan cepat dan menyambar bibir Raisa.
Tak hanya ******* dan menyes*p bibir gadis tercintanya itu, Rumi juga menyapu isi rongga mulut Raisa dalam waktu singkat. Terakhir, Rumi mengecup bibir manis gadis cantik itu. Saat Rumi menyudahi ciuman pendek itu, sepasang mata Raisa sudah membola.
"Bukan tidak ada cara untuk mendapatkan dan merasakannya lagi. Humm ... manis," ucap Rumi
Rumi pun mengusap bibir Raisa yang basah akibat aksi singkatnya.
"Aku jamin tidak ada yang melihat," bisik Rumi
Memang benar. Setelah dilihat-lihat, semuanya sibuk masing-masing. Bahkan kebanyakan mereka sedang memejamkan matanya untuk beristirahat karena lelah setelah bermain puas di Taman Safari.
"Tetap saja. Tindakanmu sudah kelewatan batas," tegur Raisa
"Kau juga kelewatan sudah tidak memedulikan aku. Aku ingin saat kita bersama, kau hanya fokus padaku," ucap Rumi
..."Rupanya Rumi merasa terabaikan olehku," batin Raisa...
Raisa menghela nafas pelan.
"Aku juga ... bukannya berniat mengabaikanmu. Coba kau cek ponselmu, ada pesan masuk di chat-mu. Kan, sudah kubilang akan kirimkan foto yang diambil tadi ke ponselmu saat di dalam bus," ujar Raisa
Rumi pun mengeluarkan dan mengecek ponselnya. Raisa telah mengirim foto mereka berdua lewat pesan chat.
"Begitu rupanya. Terima kasih sudah mengirimkan fotonya padaku," ucap Rumi
"Kau bahkan tidak merasa bersalah," sebal Raisa
"Karena aku memang menginginkannya lagi ... menciummu. Tapi, aku minta maaf karena sudah membuatmu merasa kesal," ujar Rumi
"Huh, sudahlah. Masih ada waktu sebelum sampai di vila. Biasanya kalau ada waktu aku akan tidur siang. Jadi, aku akan tidur sebentar. Bangunkan aku saat sudah sampai di vila," ucap Raisa
"Baiklah. Tidur saja dengan tenang. Aku akan menjagamu," kata Rumi
Awalnya Raisa memejamkan mata dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kursi bus tersebut. Namun, Rumi menarik lembut kepala Raisa agar bisa menyandar pada bahunya.
..."Gawat sekali. Aku juga menginginkannya lagi ... ciuman itu. Aku benar-benar sudah gila!" batin Raisa...
Selain menyandarkan kepala Raisa pada bahunya, Rumi juga memeluk pinggang Raisa melalui belakang tubuhnya. Menjaga posisi tidur Raisa agar tetap nyaman dan aman. Bahkan, Rumi juga membelai lembut rambut Raisa dan bersenandung pelan untuk menina-bobokan gadis tercintanya itu.
Saat telah tiba di vila, Raisa masih saja tertidur pulas. Tak tega membangunkan kekasihnya yang wajahnya tampak kelelahan, mau tak mau Rumi pun menggendong Raisa ala bridal sytle ke dalam pelukannya, lalu turun dari bus.
Semua pun turun dari bus.
"Neng Raisa, ketiduran di dalam bus, ya? Kalau begitu, saya langsung pamit pulang aja," ujar Arif
"Iya. Kayaknya Raisa kecapekan," kata Maura
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari ini, Kang Arif, Teh Sinta," ucap Nilam
"Sama-sama, Neng. Saya pamit," kata Arif
Arif pun berlalu pergi dari sana bersama Sinta.
"Bagaimana cara kita masuk? Kunci vilanya ada pada Raisa, kan?" tanya Morgan
"Tapi, aku tidak tega membangunkannya," kata Rumi yang masih menggendong Raisa dalam pelukannya.
Posisi mereka semua sedang berada di depan pintu masuik utama vila.
"Kunci vilanya pasti ada di tas Raisa. Biar aku yang mencarinya. Rumi, tahan dulu posisimu sebentar," ujar Aqila
"Sebentar ... maaf, ya, Raisa," sambung Aqila yang tangannya merogoh masuk ke dalam tas pinggang Raisa untuk mencari kunci vila.
Setelah menemukan kuncinya, Aqila mengeluarkannya untuk membuka pintu vila.
Setelah pintu vila berhaalsil terbuka dan mereka semua masuk ke dalam vila, Aqila memasukkan kembali kunci vila ke dalam pas pinggang yang Raisa gunakan.
"Aku akan mengantarkan Raisa ke dalam kamarnya dulu," ucap Rumi
"Terlihat sekali kau sangat menyayangi Raisa," kata Devan
"Kalau begitu, kami semua duluan masuk ke kamar, ya," ujar Ian
Rumi hanya mengangguk singkat dan langsung beranjak menuju ke kamar utama untuk mengantar Raisa yang tertidur.
Di dalam kamar utama, Rumi langsung merebahkan tubuh Raisa di atas ranjang. Lalu, Rumi melepaskan sepatu yang dipakai Raisa dengan sangat telaten dan hati-hati agar tidak sampai membangunkan tidurnya. Rumi juga melepas tas pinggang yang Raisa pakai dan membenarkan posisi tidur gadis cantik itu.
Tiba-tiba, Raisa meraih dan menggenggam tangan Rumi dalam keadaan mata yang masih terpejam.
"Aku di sini. Tidurlah dengan nyaman," gumam pelan Rumi yang melepaskan genggaman tangan Raisa pada tangannya.
Rumi beralih menyibak rambut Raisa yang menutupi wajah cantiknya. Rumi bahkan membelai pelan rambut halus Raisa dan menatap lekat wajah cantik menawan kekasihnya itu. Lalu, Rumi duduk di tepi ranjang.
"Cantik ... semakin dilihat semakin membuatku jatuh cinta dan tergila-gila padamu."
Perlahan, Rumi mendekatkan wajahnya untuk menatap Raisa sedekat mungkin. Ia ingin fokus mengabadikan kecantikan itu ke dalam memori otaknya.
Mulai dari helaian rambut halusnya, keningnya yang cerah, mata indah serta bulu mata lentiknya, hidungnya yang menggemaskan, pipi mulusnya, dan pandangan Rumi terhenti pada bibir ranum gagis cantik di hadapannya itu. Rumi bahkan menyentuh bibir yang selalu menggodanya itu dengan jari-jemarinya.
"Dari sini selalu terlihat senyuman yang indah, ke luar kata-kata yang manis, rasanya juga ... sangat manis. Sudah jadi canduku."
Semakin ditatap, semakin membuat Rumi menginginkannya lagi dan lagi. Merasakannya lagi.
Tanpa sadar, kini wajah Rumi sudah berada tepat di depan wajah Raisa. Posisinya sangat dekat. Jari Rumi pun masih terus menyentuh bibir Raisa.
"Apa aku boleh melakukan ini saat dia sedang tertidur dan mencuri ciuman darinya? Sekali saja. Maafkan kelancanganku, Raisa ... " batin Rumi
CUP!
Berawal dari kecupan, Rumi semakin berani dengan lidahnya yang menerobos masuk ke dalam rongga mulit Raisa dan mengabsen seluruh isi mulut gadis itu.
Lenguh*n tertahan lolos dari bibir manis yang masih enggan Rumi lepaskan meski terkejut.
Rumi semakin terkejut. Namun, aksi lancangnya itu justru semakin menggila saat Raisa yang masih dalam keadaan mata terpejam malah mengalungkan kedua tangannya di leher Rumi dan membalas ciuman darinya.
Rumi yang dalam keadaan sadar dan Raisa yang masih memejamkan mata dan tertidur. Keduanya saling mengeluarkan suara des*han nan merdu. Sadar akan aksinya yang sudah melewati batas, Rumi melepaskan tautan bibirnya dan juga melepaskan kedua tangan Raisa yang mengalung pada lehernya.
"Aku sudah berbuat lancang. Sungguh ... maafkan aku, Raisa."
Rumi mengusap wajahnya dengan kasar untuk membuatnya sadar diri dari nafsu yang menjeratnya.
"Raisa membalas ciumanku meski dia masih dalam keadaan tertidur. Dia seperti sedang mabuk. Apa dia sedang bermimpi? Di dalam mimpinya lelaki yang diciumnya adalah aku dan bukannya lelaki lain, kan?" batin Rumi
Rumi pun memutuskan untuk pergi.
"Aku mencintaimu, Sayangku."
Setelah mengatakan kalimat cinta, Rumi pun beranjak pergi ke luar dari kamar Raisa agar tidak semakin berbuat khilaf. Rumi pun langsung menuju ke kamarnya yang digunakan bersama Morgan, Devan, dan Ian.
Rumi langsung merebahkan diri di ranjang kosong yang tersisa di dalam kamar tersebut. Ia juga langsung memejamkan mata untuk tidur dan melupakan aksi nekatnya tadi yang masih terus terngiang-ngiang di pikirannya.
---
"Manja banget, sih, pakai digendong segala. Sadar diri kek, bangun ... jangan merepotkan orang begitu," dumel Lina yang sempat melihat Rumi menggendong Raisa masuk ke dalam vila.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1