
Rumi tidak suka! Kenapa Raisa harus meminta bantuan Dennis jika ada dirinya? Kenapa Raisa tidak meminta bantuan padanya saja? Rasa cemburu Rumi mulai muncul dan merabah ke luar lagi dari dalam dirinya!
Rumi pernah dimintai bantuan oleh Raisa untuk mengambil foto dengan menggunakan ponselnya. Kenapa kali ini, Raisa malah meminta bantuan dengan Dennis untuk merekam aksinya berduel dengan Sandra? Kenapa tidak meminta bantuan Rumi saja? Rumi ingin perhatian Raisa hanya ada padanya, ia ingin Raisa selalu bergantung padanya untuk hal sekecil apa pun termasuk selalu meminta bantuan dengannya. Rumi tidak mau ada orang lain untuk Raisa selain dirinya!
"Aku juga pernah mengambil foto dengan ponselmu. Kenapa kau tidak meminta bantuanku saja untuk merekam, Raisa?" Tanya Rumi
"Maaf, Rumi. Aku minta bantuan Dennis karena dia sudah sering merekam untuk menganalisa kekuatan lawan dengan menggunakan laptopnya. Itulah alasanku meminta bantuan darinya, bukan aku tidak percayakan hal ini padamu. Untukmu, kau lebih baik fokus menontonku saja di kursi penonton. Kau hanya perlu fokus melihatku. Aku akan senang jika kau fokus melihatku nanti. Apa kau keberatan?" Ujar Raisa
"Aku mengerti. Baiklah, jika itu yang kau mau." Kata Rumi
"Ternyata Raisa ingin aku memperhatikannya, fokus melihat ke arahnya langsung. Tentu saja! Perhatianku memang hanya padamu, Raisa. Sama seperti hatiku yang hanya untukmu!" Batin Rumi
..."Rumi adalah tipe lelaki pencemburu. Hanya merasa suka padaku saja dia sudah sampai seperti ini. Aku mengatakan padanya untuk fokus melihatku maksudnya agar dia tidak merasa cemburu lagi denganku dan Dennis. Tapi, aku malah seperti meminta perhatian darinya. Ini seperti aku memberinya harapan! Ah, aku bodoh sekali!" Batin Raisa merutuki dirinya sendiri....
"Sepertinya ini sudah waktu untukku masuk ke dalam aula, menuju arena bertarung." Ucap Raisa
"Baik, aku juga akan menuju kursi penonton untuk melihatmu. Semangatlah, Raisa!" Ujar Rumi
"Ya, terima kasih, Rumi." Kata Raisa
Satu persatu mengisi kursi penonton di aula akademi yang merupakan arena bertarung. Raisa pun segera masuk menuju arena. Di sana sudah ada Sandra yang sudah masuk terlebih dulu dan Paman Rico sebagai pengawas pertarungan. Paman Rico adalah Ayah dari Marcel. Di kursi penonton pun sudah ada teman-teman lainnya yang menonton, ada juga penonton lainnya yang tak Raisa kenal, mungkin mereka adalah murid akademi sihir lainnya.
"Raisa, kau datang! Persiapkanlah dirimu!" Ucap Sandra yang posisinya bersebrangan dengan posisi Raisa saat ini.
"Hmm, baiklah!" Sahut Raisa
"Baik! Saat ini akan diadakan duel antara Sandra dan Raisa. Sandra, di sisi kiri. Dan, Raisa, di sini kanan. Apa kalian sudah siap?!" Ujar Paman Rico sebagai pengawas pertarungan yang berada di tengah posisi antara Raisa dan Sandra.
"Aku siap!" Pekik Raisa dan Sandra secara serempak.
Baik Raisa maupun Sandra, keduanya sudah dalam posisi bersiap untuk bertarung!
Sandra menunjukkan ekspresi antuasias untuk melawan Raisa. Sedangkan, Raisa hanya terlihat santai dengan fokus memandang lawannya...
"Sandra! Raisa... Duel dimulai!!" Pekik Paman Rico yang mengucapkan aba-aba dimulainya duel.
Setelah memberikan aba-aba, Paman Rico pun menyingkir ke pinggir aula.
Sandra pun mengeluarkan tatapan sengitnya dan berlarian kecil untuk maju melawan lebih dulu...
Saat Sandra maju ke arahnya untuk memulai perlawanan, Raisa langsung menangkis serangannya.
Sandra sangat aktif menyerang dari segala arah. Ia terlihat antusias untuk menemukan titik lemah Raisa sebagai lawannya. Tak cukup dengan serangan langsung, Sandra pun beralih mengeluarkan dan menggunakan alat dan senjata sihir yang ada padanya. Namun, baik itu alat maupun senjata sihir bisa Raisa hindari dengan cepat dan juga mengendalikan senjata sihir itu agar menyerang balik ke arah Sandra dengan kemampuan sihir yang dimilikinya. Begitu banyak senjata sihir yang menghujani ke arah Raisa, tapi dengan mudahnya Raisa memutar-balik arah serangan senjata sihir itu pada lawan yang merupakan pemiliknya itu sendiri. Senjata sihir itu pun kembali ke arah Sandra dan menghujaninya. Saat itu Sandra terlihat kewalahan menghindari serbuan senjata sihir yang menghujani ke arahnya hingga akhirnya ia mendapati luka goresan pada beberapa bagian tubuhnya, yaitu di pipi kanan, lengan kiri atas dan paha kirinya. Alisnya mengernyit dan ke luar suara ringisan kecil dari mulutnya menandakan Sandra sedang menahan rasa sakit akibat luka goresan pada tubuhnya.
Tak terima hanya diri sendiri yang terluka, Sandra mulai menyerang dengan menggunakan pedang kesayangan miliknya. Tanpa melepas sarung pedangnya, Sandra menyerang Raisa dengan pedangnya yang masih ditutupi pembungkusnya. Mendapati serangan itu, Raisa terus menghindar dan menangkisnya dengan tangan kosong.
"Gawat! Sandra mulai menggunakan pedangnya! Akan sangat gawat jika pedang itu ditarik ke luar dari sarungnya! Berbahaya sekali!" Ucap Amy di kursi penonton.
"Apa akan segawat itu?" Tanya Marcel
"Benar. Sandra adalah pengguna tenaga sihir yang dialirkan pada senjatanya. Jika, pedang itu dicabut dari sarungnya dan dialiri tenaga sihir pemiliknya, itu akan menjadi serangan mematikan dari pemiliknya. Itu bahkan bisa membelah ribuan pohon yang ada di hutan! Kami sudah pernah melihatnya langsung!" Jelas Wanda
"Kalau begitu, bukankan duel ini tidak adil? Sedari tadi Sandra terus menyerang menggunakan alat dan senjata sihir, tapi Raisa tak memiliki satu pun senjata dan hanya menggunakan tangan kosong!" Ujar Morgan
"Iya. Bukankah bertarung di aula akademi memiliki aturan yang adil?" Tanya Billy
"Itu benar! Pertarungan ini tidak seimbang!" Kata Paman Rico
Aula bertarung akademi memiliki peraturan adil jika ingin diadakan pertarungan di sana. Awalnya hanya memperbolehkan duel dengan tangan kosong dan hanya mengandalkan kemampuan sihir pribadi masing-masing. Namun, seiringnya zaman penggunaan senjata diperbolehkan dengan ketentuan kedua peserta duel sama-sama memiliki senjata yang digunakan masing-masing.
Sebagai peserta duel, Raisa dan Sandra dapat mebdengar apa yang sedang dipermasalahkan di antara penonton dan juga Paman Rico sebagai pengawas pertarungan.
"Duel ini tidak boleh dihentikan!" Tekad Sandra yang ingin mengetahui kemampuan Raisa melalui duel mereka berdua saat ini.
__ADS_1
Walau pun Sandra memakai pedang miliknya, Raisa masih biaa memukul mundur lawannya itu~
"Jangan hentikan duel ini! Kalau masalahnya ada pada senjata yang digunakan, apa bisa aku mendapat keringanan?" Ujar Raisa
"Kalau begitu, Ian! Tolong pinjamkan pedangmu padaku!" Pekik Raisa akhirnya meminta bantuan pada Ian dengan meminjam pedang miliknya.
Ian adalah satu-satunya yang Raisa kenal memiliki senjata pedang selain Sandra. Karena itulah Raisa meminta bantuan dengan meminjam persenjataan darinya...
"Oh, boleh saja!" Kata Ian
"Tolong, lemparkan ke bawah sini!" Pinta Raisa
"Baiklah. Ambil ini!" Pekik Ian
Ian pun meraih pedang di balik punggungnya dan segera melemparkannya ke bawah dari kursi penonton yang berada di atas arena, seperti permintaan Raisa.
Pedang milik Ian pun dilemparkan ke bawah. Raisa pun segera menggunakan sihirnya untuk mengendalikan pedang yang dilemparkan itu sampai ia bisa meraih dan menggengamnya dengan tangannya sendiri.
Hap!
Raisa pun mendapatkan pedang tersebut di genggaman tangannya.
"Kalau begini, duel masih bisa dilanjutkan kan, Paman Rico?" Tanya Raisa
"Tentu saja! Duel dilanjutkan!" Pekik Paman Rico untuk melanjutkan duel yang sudah ada.
"Bagaimana? Sesuai harapanmu kan, Sandra? Duel ini tidak dihentikan..." Ujar Raisa
"Benar! Berkat itu, aku bisa mulai serius saat ini dan menyerangmu lagi!" Kata Sandra
Duel sempat terhenti karena permasalahan senjata yang digunakan tak berimbang. Tapi, setelah masalah itu teratasi duel pun dilanjutkan.
Sandra pun langsung melakukan penyerangan lagi dan berlari menuju lawan...
Pertarungan memang terlihat seimbang. Yang nampak di mata memang demikian, namun yang sebenarnya terjadi dan dirasakan peserta duel tidaklah begitu... Sandra memang terlihat santai. Namun, selain keringatnya yang mulai berkucuran, ia juga telah menguras cukup banyak tenaga dalam duelnya kali ini. Sedangkan Raisa selain kucuran keringatnya, ia terlihat benar-benar santai menikmati duel yang ia lakukan...
Teknik pertarungan yang baik adalah bertahan, menghindar, dan menyerang. Tiga cara bertarung itulah yang terjadi pada duel kali ini. Sandra terus melakukan ketiga hal itu, tapi ia selalu dapat dipukul mundur. Sedangkan Raisa masih belum melakukan penyerangan yang berarti, ia hanya sering melakukan teknik bertahan dan menghindar, selain itu ia hanya melakukan penyerangan untuk mengecoh lawan.
Melihat usahanya yang terus seperti percuma membuat Sandra geram! Kobaran api semangatnya pun mulai menyala-nyala hingga meluap-luap terlihat dari sorotan matanya. Sandra pun menggenggam pedang miliknya dengan sangat erat dan berdiri dengan tegak!
"Aku mengajakmu berduel tapi kau malah mempermainkanku, Raisa! Kenapa kau tidak berusaha serius untuk menyerangku!?" Kesal Sandra
"Eh, aku tidak begitu." Sangkal Raisa
Dari awal Raisa memang takut melukai temannya atau orang lain jika ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sandra pun tahu itu, tapi jika terus seperti ini ia takkan pernah tau kemampuan Raisa yang sesungguhnya dan ia akan terus penasaran tentang itu. Sandra pun berusaha memancing Raisa agar ia mengeluarkan kemampuannya dan Raisa pun menyadari taktik lawannya ini...
"Lalu, apa? Kau meremehkanku!?" Geram Sandra
Salah satu tangan Sandra pun meraih gagang pedangnya hendak menariknya ke luar dari sarung pelindungnya. Dan benarlah, itu yang terjadi!
Sriiingg!~~
Sandra menarik ke luar pedang dari sarung pelindungnya. Dan ia mengaliri pedangnya dengan tenaga sihirnya hingga bilah pedangnya bercahaya!
"Kalau begitu, cobalah tahan seranganku ini!" Tantang Sandra
Dengan tenaga sihirnya yang mengalir pada permukaan pedangnya, Sandra menebaskan pedangnya pada udara hampa yang menyebabkan angin badai di sekeliling~
Raisa sudah menduga serangan ini. Ia pun menarik pedang yang ada di tangannya ke luar dari sarung pelindungnya dan ia membelah angin badai yang menyerangnya menggunakan pedang tersebut. Angin badai itu pun lenyap begitu saja seperti tidak pernah ada~
"Bagaimana itu bisa terjadi? Serangan tenaga sihir dari senjata dilenyapkan begitu saja? Padahal dia tidak mengaliri pedangnya dengan tenaga sihir juga!" Bingung semua orang yang bertanya-tanya dengan heran. Termasuk juga yang melakukan serang tersebut, yaitu Sandra.
Sandra membelalakan matanya saat serangan besarnya bisa dilenyapkan dengan begitu mudahnya. Belum pernah terjadi yang seperti ini!
__ADS_1
Yang dipertanyakan orang-orang adalah kebenaran yang terjadi. Raisa tidak mengaliri pedang yang digenggamnya dengan tenaga sihir sama sekali, tapi ia bisa membatalkan serangan sihir dari Sandra begitu saja. Itu hal yang mudah bagi Raisa...
Tak ingin duel yang dilakukan berakhir begitu saja, Sandra pun kembali menyerang menggunakan pedannya yang kembali ia aliri tenaga sihir. Kali ini serangannya lebih besar dari sebelumnya.
Sandra bergerak memutar dengan menggenggam pedangnya yang lalu ia tebaskan pada udara hampa. Sama seperti sebelumnya, tapi ini adalah serangan pamungkasnya! Semua benda mulai berterbangan dan semua bebda itu berubah menjadi setajam pisau akibat serangan darinya. Serangan itu tak hanya menyerang Raisa yang ada di depannya, tapi juga semua yang ada di tempat itu. Raisa yang tak ingin ada hal buruk terjadi pun mengambil langkah pencegahan...
Tanpa memedulikan dirinya sendiri, Raisa berlari maju menerjang ke dalam serangan angin badai yang bahkan lebih besar dari pada sebelumnya.
"Apa yang Raisa lakukan?! Kenapa dia langsung menerjang serangan itu?!" Tanya Chilla dengan heran.
"Apa yang akan terjadi?!" Tanya Dennis yang penasaran saat terus merekam aksi duel yang terjadi di hadapannya dari kursi penonton dengan menggunakan ponsel milik Raisa.
"Aku harap Raisa baik-baik saja." Ucap Rumi yang berharap walau merasa khawatir.
"Sebenarnya apa yang Raisa pikirkan saat melakukan penerjangan ini?" Bingung Aqila
"Walau terbilang nekad, tapi Raisa pasti punya perhitungan sendiri." Ujar Devan
Raisa melakukan hal nekad ini untuk melakukan pencegahan dengan cepat sembari melakukan sedikit siasat. Di dalam kepungan angin badai yang ia terjang itu, Raisa kembali membatalkan serangan sihir Sandra tersebut secara perlahan. Usaha ini dilakukannya agar tak ada orang lain yang terluka meski harus mengorbankan dirinya sendiri karena jika dibiarkan lebih lama serangan ini akan terus menyebar ke seluruh penjuru dan melukai lebih banyak orang, tentu Raisa sangat tak ingin hal itu terjadi! Namun, dalam keputusan yang Raisa ambil ini, ia mendapati luka goresan di beberapa bagian tubuhnya akibat menerjang serangan angin badai~
Raisa membatal serangan sihir angin badai itu perlahan dari dalam kepungannya sambil terus berlari maju ke arah lawannya. Ini dilakukannya agar Sandra tak langsung menyadari keberadaannya yang terus mendekat. Inilah siasat bertarungnya!
Bertepatan serangan sihir angin badai itu dibatalkan sepenuhnya, tiba-tiba saja Raisa sudah berada di hadapan Sandra tanpa diketahui. Saat Sandra sadar keberadaan lawannya yang sudah berada di dekat dengannya, ia langsung menggunakan pedangnya untuk menahan serangan. Sampai akhirnya pedang Sabdra dan Raisa saling bertemu dan beradu...
Klang!~
Adu pedang pun tak terhindarkan!
Karena serangan mendadak yang tidak diketahui dari Raisa, Sandra tak sempat mengaliri pedangnya dengan tenaga sihirnya. Duel kali ini pun murni hanya saling beradu pedang antara keduanya. Sandra melihat beberapa luka goresan pada beberapa bagian tubuh Raisa yang sama seperti dirinya. Namun, keduanya kini serius dalam adu pedang mereka.
"Kau ingin aku bertarung serius sampai memancing emosiku, bukan? Baiklah, aku akan serius mulai saat ini! Aku takkan membiarkanmu mengeluarkan serangan pamungkasmu lagi! Dan perhatikanlah langkahmu!" Ujar Raisa
Karena Raisa tiba-tiba muncul dari balik badai buatannya dan menyerangnya, Sandra tak bisa mengimbangi kekuatan pedang Raisa dan sedikit kewalahan untuk melawan.
"Menyerang, menghindar, dan bertahan! Itulah tiga taktik dalam bertarung. Tapi, ada satu hal penting lagi... Jangan sampai kau kehilangan fokusmu terhadap lawan! Dan kau lalai untuk yang satu ini, Sandra!" Ungkap Raisa
Sandra tak kuasa membalas ucapan Raisa karena dirinya benar-benar lalai dan merasa seperti tertohok! Ia tak menyangka Raisa akan ke luar dari kepungan serangan badai dan menyerang balik.
Raisa terus memukul mundur Sandra dan tak memberi lawannya kesempatan untuk balik menyerangnya. Sampai akhirnya Raisa berhasil membuat pedang lawan terlepas dari genggaman dan membuang pedang itu jauh-jauh~
Sandra pun terjatuh tak berdaya! Raisa mengacungkan pedangnya sampai tepat di depan leher Sandra dan membuatnya tak mampu berkutik!
Sandra mengangkat pandangannya menatap Raisa yang berada di depannya. Luka yang terdapat di beberapa bagian tubuh Raisa tiba-tiba menghilang begitu saja. Itu adalah sihir medis penyembuhan diri otomatis dari kemampuan milik Raisa...
"Apa aku sudah cukup serius kali ini? Atau kau yang kehilangan rasa awasmu terhadap lawan?" Gumam Raisa yang telah mematikan posisi lawan.
Paman Rico pun mendekat!
"Duel dimenangkan oleh... - Raisa!" Pekik Paman Rico mengumumkan.
Paman Rico pun mengakhiri duel yang berlangsung.
Raisa pun melangkah mundur dan kembali memasukkan pedang ke dalam sarung pelindungnya.
Semua penonton pun bersorak!!~~
Raisa pun membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sandra berdiri.
Sandra pun menerima uluran tangan Raisa dan berdiri dengan bantuannya.
.
•
__ADS_1
Bersambung...