
Ke luar dari bioskop, Raisa dan Rumi terus bergandengan tangan seolah tak ingin lepas. Namun, keduanya hanya terus diam seribu bahasa.
Baik Raisa mau pun Rumi baru pertama kali menonton film romantis berdua di bioskop seperti ini. Keduanya tak tahu harus apa setelah menyaksikan film mengharukan dan romantis tersebut.
"Filmnya bagus, ya, Rumi ... " kata Raisa yang lebih dulu membuka suara agar suasana tidak canggung.
"Benar. Banyak pesan moral yang bisa dipetik walau itu film romantis. Dan yang terpenting, semoga kita bisa terus bersama meski banyak cobaan seperti pasangan di film tadi," ucap Rumi
"Ternyata, kau menonton filmya dengan serius sampai bisa berkomentar seperti itu," ujar Raisa
"Tentu saja. Filmnya, kan, bagus! Bisa dijadikan pelajaran untuk hubungan kita berdua," kata Rumi
Raisa tersenyum diam-diam. Ia tak menyangka Rumi akan seserius itu hanya untuk menonton film. Bahkan sampai menjadikan film sebagai pelajaran. Karena bagaimana pun juga film hanyalah karya fiksi.
"Raisa, kau serius ingin ikut denganku ke duniaku?" tanya Rumi
"Tentu saja. Karena kau sudah datang, sekalian saja aku ikut denganmu saat kau pergi. Selagi aku punya waktu libur. Karena sekarang aku tidak bisa membuka jalan menuju ke sana, jadi aku hanya bisa memanfaatkan saat pihak sana membuka jalan untuk pergi ke sana," jawab Raisa
Yang Raisa maksud dengan membuka jalan adalah membuka portal teleportasi dengan kemampuan sihir.
"Aku hanya perlu meminta izin dari keluargaku," sambung Raisa
"Kalau begitu, pulang dari jalan-jalan ... aku akan ikut ke rumahmu untuk bicara dengan Bibi. Aku yang akan memintaimu izin untuk pergi karena kau akan pergi bersamaku," ujar Rumi
"Tidak perlu sampai seperti itu. Biar aku saja yang mengurus izinku. Jika kau memang ingin bicara untukku, bicaralah saat kita hendak pergi. Kita akan membuka jalan di halaman belakang rumahku. Saat itu kau temuilah ibuku bicaralah dengannya. Itu pun juga kalau aku diizinkan pergi," ucap Raisa
..."Kalau kau langsung meminta izin untukku yang ingin pergi denganmu, itu terdengar seperti kau ingin melamarku untuk pergi menikah dan hidup denganmu. Tolong jangan ucapakan hal dan ucapan yang ambigu dan membuatku salah paham," batin Raisa...
Usai menonton film di bioskop, Raisa pun mengantarkan Rumi untuk kembali ke rumah Daffa.
Rumi pun turun dari taksi yang ia naiki bersama Raisa. Tujuan arah pulang memang lebih dulu melewati jalur pulang rumah Daffa. Jadi, taksi lebih dulu menurunkan Rumi di pinggir jalan.
Raisa tetap berada di dalam taksi dan bicara dengan Rumi setelah menurunkan kaca mobil.
"Kembalilah ke rumah Daffa. Aku akan meminta izin dan mengabarimu jika aku diizinkan pergi, saat itu kau putuskanlah kapan ingin pergi dan kabari aku. Itu juga kalau aku dapat izin," ucap Raisa
"Semoga saja kau diizinkan pergi bersamaku. Aku tunggu kabar darimu," kata Rumi
"Ya. Kalau begitu, aku pulang dulu," pamit Raisa
"Hati-hati," pesan Rumi
Raisa mengangguk dan melambaikan tangan. Taksi pun kembali berjalan ke tujuan akhir setelah Raisa menaikan kaca mobil.
...
Saat ini, Raisa sedang makan malam bersama kedua orangtuanya dan adik lelakinya.
"Gimana jalan-jalannya sama kak Rumi, Kak? Seru gak?" tanya Raihan
Mengingatnya membuat Raisa terkekeh pelan.
"Menyenangkan. Semua reaksinya terlihat lucu karena dia selalu berwajah datar," jawab Raisa
__ADS_1
"Anak Bapak lagi kasmaran, ya? Sampai senyum-senyum kesenangan seperti itu," ujar Pak Hilman
"Enggak kok, Pak. Biasa aja. Kami cuma berteman," kata Raisa
"Itu, sih, cuma penyangkalan Kakak aja," sambar Raihan
"Kamu bilangnya cuma berteman, tapi mungkin Rumi gak menganggapnya seperti itu. Rumi bilang sama Ibu, kalau dia sayang dan suka sama kamu," ucap Bu Vani
"Tuh, kan. Kak Rumi aja bilang sendiri kalau ada rasa sama Kakak. Kak Raisa juga pasti punya perasaan yang sama, kan?" tanya Raihan
"Kapan dia bilang seperti itu sama Ibu?" tanya Raisa pada Bu Vani tanpa menjawab pertanyaan Raihan.
"Kemarin. Waktu kamu tinggal buat cari koper," jawab Bu Vani
Raisa langsung terdiam. Ia tidak menyangka Rumi nekat berani mengatakan perasaannya secara langsung di depan Sang Ibu.
"Apa ada yang mau kamu bicarakan, Raisa?" tanya Bu Vani
"Rumi datang cuma mau merayakan ulang tahunnya sama aku di sini, sebentar lagi dia bakal pulang. Jadi, kalau boleh nanti aku mau ikut dia pergi," ungkap Raisa
"Mau pergi? Terus, gimana sama kerjaan Kakak di sini?" tanya Raihan
"Aku dapat jatah hari libur dari temanku yang jadi manager-ku. Jadi, aku pergi hitung-hitung buat liburan," jawab Raisa
"Liburan gak harus selalu ke sana, kan? Apa gak mau liburan di sini aja? Ke luar kota, ke pantai, atau ke mana gitu?" tanya Raihan
"Aku tetap mau ke sana," jawab Raisa
Raisa menjulurkan lidahnya pada Raihan karena merasa kesal adiknya selalu mengomentarinya.
"Boleh, ya, Bu, Pak?" tanya Raisa meminta izin sambil merengek.
"Boleh kok, tapi tetap harus jaga diri," jawab Pak Hilman
"Pasti, dong! Yes! Terima kasih," ucap Raisa kegirangan.
"Apa, sih, enaknya liburan di sana? Paling cuma mau pacaran! Kan, enak, tuh, di sana gak ada Ibu dan Bapak, jadi gak ada yang melarang," ujar Raihan
"Hei! Di sana, tuh, gak cuma ada Rumi, tapi ada banyak temanku yang lain. Terus, aku di sana juga kerja kok, jadi bukan cuma liburan malas-malasan aja," ungkap Raisa
"Tuh, kan! Pas aku bilang pacaran, Kakak langsung sebut nama Rumi. Walau pun terus mrngelak, sebenarnya Kakak pacaran diam-diam sama kak Rumi, kan?" selidik Raihan
"Apaan, sih!? Enggak kok," elak Raisa
"Kalau emang seru berlibur di sana, ajak aku dan yang lain berlibur ke sana juga, dong ... " ujar Raihan
"Iya, tapi nanti, ya. Gak sekarang," kata Raisa
"Kamu di sana kerja juga, Raisa? Katanya, cuma bantu-bantu? Kamu kerja apa di sana?" tanya Bu Vani
Raisa langsung tercekat. Ia merutuki dirinya yang keceplosan saat kemampuan sihirnya telah menghilang. Sekarang apa yang harus ia jelaskan?
Jika berada di sana sekarang pun mungkin Raisa sudah tidak bisa bekerja untuk melakukan misi lagi karena kemampuan sihirnya telah lenyap.
__ADS_1
"Aku emang bantu-bantu, tapi aku juga dibayar. Itu artinya aku kerja juga, kan. Di sana setiap hari pasti ada misi. Tapi, gak semua orang dapat misi setiap hari karena harus disesuaikan pemilihan orang yang ikut misi dengan misinya dan kemampuan orang yang ikut misi. Kadang-kadang aku ikut misi tertentu. Gak cuma sendiri, satu kali misi biasanya dilakukan untuk paling sedikit dua orang atau lebih," jelas Raisa tanpa mengungkap tentang kemampuan sihirnya yang menghilang.
"Uang dari bayaran misi di kemanain aja? Kakak pakai buat apa aja?" tanya Raihan
"Karena beda dunia, mata uang di sini dan di sana juga berbeda. Uangnya aku pakai buat kebutuhan sehari-hari selama di sana. Sisanya aku kumpulkan. Rencananya dengan tabungan uang di sana mau kubelikan barang di sana yang bisa dijual lagi di sini. Setelah menjual barang dari sana di sini, uangnya mau kupakai untuk modal buka usaha baru di sini," ungkap Raisa
"Perencanaan yang bagus," kata Bu Vani
"Jadi, Raisa ... dengan yang kamu bilang tadi dan apa yang adikmu tanyakan tadi, sebenarnya apa hubungan kamu sama Rumi?" tanya Pak Hilman
Raisa berasa sedang diintrogasi dengan pertanyaan dari Pak Hilman.
"Kami berteman dekat, tapi sebenarnya saling suka," jawab Raisa
"Tuh, kan! Ternyata dugaanku benar," kata Raihan
"Kenapa gak pacaran aja sekalian kalau emang saling suka?" tanya Pak Hilman
Raisa terkejut dengan mudahnya Pak Hilman bertanya seperti itu.
"Aku emang suka, tapi lebih baik mengabaikan dan melupakan perasaan suka itu. Kami dari dunia yang berbeda. Kalau gak bisa terus bersama buat apa dipertahankan. Jadi, anggap aja cuma cinta monyet," jelas Raisa
"Raisa, usia kamu bukan lagi waktunya untuk terlena sama yang namanya cinta monyet. Dulu, Ibu aja dibilang terlambat menikah di usia 25 tahun seperti kamu saat ini," tutur Bu Vani
"Ibu emang terlambat menikah, tapi mengingat kak Raina yang menikah di usia muda ... Ibu bilang jangan menikah terlalu cepat seperti kak Raina," ujar Raisa
"Kakakmu itu menikah di usia 20 tahun. Di usia itu di zaman sekarang emang terbilang masih muda untuk menikah, tapi usia kamu sekarang udah 25 tahun. Ibu harap meski bukan sama Rumi, kamu bisa buka hati kamu untuk orang lain dan memikirkan masa depan kamu dengan serius. Terutama soal jodoh dan calon suami," ucap Bu Vani
"Benar, Raisa. Berbahagialah dengan apa pun pilihan kamu. Sesuatu yang buat kamu menderita karena ketidak-pastian lebih baik dilepaskan dengan ikhlas. Masih banyak pilihan lain. Jangan sampai kamu terus seorang diri dan terpuruk dalam kesedihan," tutur Pak Hilman
"Iya. Salahku juga terlalu asik sendiri dan sering bersenang-senang. Sekarang aku mau kerja dulu buat cari uang dan bahagiakan Ibu dan Bapak. Soal apa yang dibicarakan kali ini, aku juga memikirkannya baik-baik kok. Cuma emang belum ketemu aja sama jodohnya," ucap Raisa
Sejak awal pertanyaan Pak Hilman tentang hubungannya dengan Rumi, Raisa terus nenunduk dengan alasan sedang fokus dengan makan malamnya. Raisa pun memang dengan mudahnya berbicara, tapi hatinya terasa sakit seakan teriris-iris. Membicarakan tentang Rumi dan dirinya yang diminta untuk membuka hati dan memilih lelaki lain, membuat hatinya sangat sakit. Raisa bahkan sudah hampir menangis dan sedang menahan suara isakan yang hampir ke luar dari mulutnya saking terasa sesak di dadanya.
..."Melupakannya dan mengabaikan perasaan ini bukanlah hal yang mudah. Karena sebenarnya ini bukan lagi soal perasaan suka melainkan cinta yang sesungguhnya," batin Raisa...
Raisa mengangkat pandangannya dan tersenyum simpul.
"Aku udah selesai makan, mau masuk ke kamar dulu. Nanti aku balik lagi buat cuci piringnya. Tenang aja," kata Raisa yang langsung bangkit berdiri dan beranjak pergi.
"Mau ngapain, sih? Pergi buru-buru amat?" tanya Raihan
"Mau beres-beres barang buat pergi liburan, dong! Karena mungkin besok mau langsung pergi," jawab Raisa
Raisa memaksakan tersenyum riang meski hatinya terasa sakit.
"Kak Raisa, emang tersenyum. Tapi, kayaknya dia merasa sedih. Seharusnya tadi aku gak bahas soal kak Rumi dan pacaran," batin Raihan
.
•
Bersambung...
__ADS_1