
Selama Raisa terus berada di dalam kamar mandi, maka Rumi pun akan terus menunggu di samping pintu kamar mandi. Namun, rasanya Raisa sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi dan Rumi jadi merasa khawatir dan takut terjadi sesuatu pada sang istri di dalam kamar mandi.
Rumi yang terus menunggu sang istri ke luar dari kamar mandi sambil menatap ke arah jam dinding, akhirnya mengetuk pintu kamar mandi untuk karena merasa terlalu lama menunggu.
Tok-tok-tok.
"Raisa, apa kau masih belum selesai? Apa mungkin kau butuh bantuan, Sayang?" tanya Rumi dari luar kamar mandi
"Tidak kok. Sebentar lagi aku akan selesai," jawab Raisa dari dalam kamar mandi
Rumi pun memutuskan untuk kembali menunggu dengan tenang. Saat 20 menit telah berlalu setelah Raisa mengatakan akan selesai sebentar lagi, Rumi kembali diserang oleh rasa khawatir. Tepat 30 menit telah berlalu, Rumi merasa tidak bisa menunggu lagi dan akhirnya memutuskan untuk mendobrak masuk.
Entah untung atau bukan, sebenarnya kunci pintu kamar mandi di dalam Rumi sudah sedikit rusak dan bisa dipaksa untuk dibuka dengan dua kali hentakan meski sedang terkunci. Begitu berhasil membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam sana, Rumi langsung menatap ke arah Raisa yang masih dalam keadaan tubuh yang polos di bawah guyuran kran shower yang masih terus menyala.
"Ya ampun, Rumi ... kau membuatku terkejut saja. Kenapa kau masuk ke sini? Bagaimana bisa?" tanya Raisa sambil menutupi bagian tubuh polosnya secara spontan.
"Maaf karena sudah lancang, tapi kau sendiri kenapa terlalu lama berada di dalam kamar mandi? Apa terjadi sesuatu padamu? Atau mungkin kau sedang kesulitan?" tanya Rumi tanpa beralih dari pandangannya yang menatap ke arah sang istri.
"Tidak kok, aku hanya sedang mandi. Kenapa? Apa kau ingin memakai kamar mandinya juga? Maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama," ujar Raisa
"Aku memang sedang menunggumu sampai ke luar dari kamar mandi, tapi bukan karena ingin memakai kamar mamdinya. Kau juga jangan salah paham-" Perkataan Rumi terpotong karena Raisa sudah lebih dulu memulai bicaranya.
"Aku mengerti. Bisakah kau tidak berbuat dan bertanya apa pun? Lalu, tolong ke luar dari sini? Aku akan segera ke luar dari kamar mandi setelah menyelesaikan mandi sebentar lagi. Kali ini aku tidak akan lama lagi," ujar Raisa
"Baiklah. Segera panggil aku jika kau butuh bantuan," kata Rumi
"Baiklah. Aku sudah mengerti," sahut Raisa
Rumi pun beranjak ke luar dari kamar mandi dan kembali menunggu sang istri di depan pintu kamar mandi.
Entah apa yang dilakukan Raisa hingga begitu lama berada di dalam kamar mandi, akhirnya wanita cantik itu ke luar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi di tubuhnya.
Raisa terkejut ketika mendapati sang suami berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
"Oh, ya ampun! Kau membuatku terkejut lagi!" seru Raisa sambil memegangi dadanya.
"Sebenarnya apa yang membuatmu mandi hingga begitu lama seperti tadi?" tanya Rumi
"Tidak ada. Aku hanya merasa ingin mandi lebih lama dari biasanya. Itu saja," jawab Raisa yang langsung berjalan melewati sisi samping sang suami.
"Saat ini musim dingin masih sedang berlangsung, tapi kau mandi sangat lama. Apa kau tidak merasa kedinginan?" tanya Rumi
"Aku mandi dengan menggunakan air hangat kok," jawab Raisa
Rumi merasa kelakuan sang istri menjadi agak aneh. Tidak hanya dengan waktu mandinya yang lebih lama dari pada yang biasa dilakukannya, pria itu sepertinya juga melihat ekspresi wajah sang istri yang agak aneh meski hanya sebentar.
"Apa ini hanya perasaanku saja? Sepertinya saat Raisa ke luar dari kamar mandi tadi, aku melihat ekspresi murung di wajahnya meski hanya sebentar dan Raisa langsung mengubah ekspresi wajahnya saat terkejut melihatku. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apa ada yang dia sembunyikan dariku?" batin Rumi bertanya-tanya.
Rumi pun mengikuti langkah kaki sang istri.
"Aku akan memakai baju. Kau mandi saja lebih dulu," kata Raisa
"Benar juga. Aku harus membeli makanan untuk kita makan. Kalau begitu, aku akan mandi dulu sebentar. Atau kau inngin aku membeli makanan lebih dulu? Apa kau sudah merasa lapar dan ingin makan sesuatu?" tanya Rumi
"Tidak apa. Kau mandi saja dulu, aku bisa menunggu. Lagi pula, aku belum tahu ingin makan apa," jawab Raisa
"Baiklah, aku akan mandi dulu sebentar. Tunggu saja. Aku akan cepat dan tidak akan lama," ujar Rumi
"Baiklah. Aku akan menunggu dengan sabar," kata Raisa sambil tersenyum.
Rumi pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan Raisa pun beralih untuk mengenakan pakaian dengan rapi dan lengkal. Karena sedang musim dingin, Raisa pun mengenakan pakaian yang lebih tebal dan tidak lupa juga untuk memilihkan pakaian untuk digunakan oleh sang suami selepas mandi nanti.
...
Usai ke luar dari kamar mandi, Rumi yang masih hanya mengenakan jubah mandi langsung mendekati sang istri yang sedang santai dengan duduk bersandar pada dipan di atas ranjang sambil membaca sebuah buku. Raisa menyelimuti bagian kakinya agar tidak jadi kedinginan.
"Katakanlah ... apa yang ingin kau makan?" tanya Rumi
"Kau pakailah bajumu lebih dulu, aku sudah menyiapkan bajumu. Aku masih belum memutuskannya karena ingin memilihnya sambil berdiskusi denganmu," jawab Raisa
"Hanya soal makanan, padahal kau tidak perlu berdiskusi denganmu untuk memilih. Aku akan memakan juga apa pun yang kau mau," ujar Rumi
__ADS_1
"Tidak boleh selalu seperti itu. Aku ingin memilih menu makan kita bersama denganmu," kata Raisa
Rumi pun bergerak mengenakan pakaiannya dengan cepat. Namun, usai berpakaian dengan rapi, terdengar suara ketukan pada pintu rumah.
"Sepertinya ada yang datang," kata Raisa
"Tetaplah di situ. Biar aku saja yang membuka pintu," sahut Rumi
Rumi pun beralih untuk membukakan pintu rumah dan melihat siapa yang datang.
Saat membuka pintu, rupanya yang datang adalah teman-temannya. Sepertinya mereka telah mendengar kabar tentang Raisa yang baru kembali dari peristiwa penculikan dengan selamat.
"Kalian semua, datang!" seru Rumi
"Kami semua datang ingin menjenguk kak Raisa. Kak Rumi, permisi ... izin masuk, ya," ujar Monica
"Silakan masuk," ucap Rumi
"Di mana Raisa?" tanya Sanari
"Dia ada di dalam. Masuk saja, kalian pasti bisa langsung menemukannya dengan mudah karena rumah ini tidak besar hingga tidak akan membuat tersasar," jawab Rumi
"Bagaimana dengan keadaan Raisa?" tanya Morgan
"Istriku baik-baik saja dan sudah istirahat dengan baik," jawab Rumi
Satu per satu dari mereka pun masuk. Sebagian dari mereka membawa sesuatu. Ada yang nembawa camilan, buah-buahan, sebuket bunga, dan makanan hangat.
Mereka semua pun menemui Raisa yang sedang terduduk di atas ranjang.
"Kukira ada apa ... yang membuat terdengar suara ramai dari luar? Ternyata kalian semua datang," ujar Raisa sambil tersenyum saat melihat teman-teman yang datang untuk menjenguknya.
"Raisa, bagaimana dengan keadaanmu? Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Aqila
"Aku tidak apa-apa, aku tidak sakit, dan sudah baik-baik saja. Aku hanya kelelahan dan sudah istirahat dengan baik," jawab Raisa
"Raisa, syukurlah kalau kau baik-baik saja," kata Amy
"Kenapa kau tidak bilang kalau terjadi suatu masalah, sih, Raisa?" tanya Sandra
"Maafkan aku, kejadian kali ini adalah salahku. Kalau saja malam itu aku tidak mengajak Kak Raisa pergi jalan-jalan, maka Kak Raisa tidak akan bertemu dan dibawa pergi dengan paksa oleh Sang Dewa yang menggunakan aku sebagai ancaman," ucap Monica
"Kejadian kali ini bukan salahmu, Monica. Sejak awal penculiknya memang mengincarku dan kau hanya dijadikan sebagai peluang keberhasilannya untuk menculikku karena pengalamannya menculik bibi dan ibumu dulu. Namun, baik kejadian kemarin atau dulu, penculikannya tidak pernah berhasil dan selalu digagalkan," ujar Raisa
"Maaf, kami tidak tahu saat kejadiannya terjadi. Kami juga tidak bermaksud menyalahkan dirimu, Monica," kata Wanda
"Lalu, bagaimana dengan penculiknya? Sang Dewa itu, apa kalian membunuhnya?" tanya Marcel
"Tidak. Raisa tidak hanya membiarkannya tetap hidup, tapi juga merubahnya menjadi orang baik," ungkap Devan
"Memang seperti itulah Raisa," kata Dennis
"Tapi, Raisa ... apa kau tidak bisa merubah kebiasaanmu yang menanggung masalah seorang diri? Kan, kau bisa meminta bantuan dengan menggunakan sihir transmisi suara. Kau tidak menggunakan kemampuan milikmu dengan baik dan malah pasrah begitu saja saat penculik itu meminta kau ikut pergi dengannya," ujar Billy
"Benar. Aku juga sudah berkata seperti itu padanya," sahut Morgan
"Ya. Memang salahku sudah bertindak dengan gegabah. Aku tidak bisa berpikir dengan baik saat itu," kata Raisa
"Itu karena Kak Raisa memprioritaskan untuk melindungiku. Aku sangat berterima kasih untuk itu," ujar Monica
"Aku juga mengucapkan terima kasih karena kalian semua sudah mau datang untuk menjengukku," ucap Raisa
"Kemarin itu pasti Rumi sangat kacau," kata Amon
"Jangan ditanya lagi. Bukan hanya kacau, Rumi juga sangat panik. Begitu mendengar istrinya diculik, hampir saja dia pergi seorang diri untuk mencari sang istri tanpa bantuan petunjuk apa pun. Rumi juga nyaris bertindak dengan gegabah," ujar Ian
"Biarkanlah apa yang sudah terjadi. Yang penting sekarang Raisa sudah baik-baik saja. Lanjutkanlah istirahat dan kami membawakan makanan untukmu," ucap Chilla
"Alu juga membawakan bunga untukmu, Raisa. Katanya bunga lavender baik untuk pemulihan karena aromanya yang bisa membuat tenang," kata Ian
"Hampir saja aku lupa. Aku juga membawakan bubur. Aku ingat sebelum dibawa pergi dengan paksa, Kak Raisa ingin makan bubur jangung dan bubur kacang merah. Saat tahu Kak Raisa sudah kembali dengan selamat, di rumah aku langsung meminta pada ibu untuk membantuku buat dua bubur ini. Dengan resep ibu, aku jamin dua bubur ini rasanya lebih enak dari pada yang dijual di kedai," ujar Monica
__ADS_1
"Terima kasih banyak, semuanya. Maaf karena jadi merepotkan," ucap Raisa
"Kebetulan Raisa memang belum makan. Aku akan mengambil mangkuk agar Raisa bisa langsung makan buburnya sekarang juga," kata Rumi
Rumi pun langsung beralih menuju ke dapur untuk mengambil mangkuk dan sendok untuk menaruh bubur untuk sang istri makan. Namun, saat kembali, mangkuk dan sendok yang dibawa oleh Rumi langsung diambil alih oleh Monica.
"Biar aku saja yang menyiapkan bubur untuk Kak Raisa makan," kata Monica
"Karena Kak Raisa belum makan, maka lebih baik makan bubur jangungnya lebih dulu. Jagung merupakan sumber karbohidrat yang sama seperti nasi dan baik untuk dimakan walau dalam keadaan perut kosong," sambung Monica
"Padahal aku ingin makan bubur kacang merahnya lebih dulu," sahut Raisa
"Bubur kacang merahnya bisa Kak Raisa makan nanti setelah dipanaskan ulang," kata Monica
Raisa tersenyum kecil saat mendengar Monica yang seolah menasehatinya. Biasanya selalu wanita itu yang lebih dulu menasehati orang lain, kali ini dirinyalah yang mendapat nasehat.
Usai menuang bubur jagung ke dalam wadah mangkuk, Monica menyerahkan mangkuk tersebut pada Rumi.
"Awalnya aku ingin menyuapi Kak Raisa makan bubur ini secara langsung, tapi sepertinya lebih baik Kak Rumi saja yang melakukannya," ujar Monica
"Padahal aku bisa makan sendiri, lho ... " sahut Raisa
"Tidak apa. Biar aku yang menyuapimu saja," kata Rumi
Rumi pun duduk di tepi ranjang di dekat posisi duduk sang istri untuk menyuapi istri tercinta makan bubur jagung. Meski pun merasa tidak enak karena diperhatikan banyak teman, Raisa tidak punya pilihan selain menerima suapan bubur dari Rumi, sesendok demi sesendok.
"Rasanya enak sekali," ungkap Raisa
"Syukurlah kalau sesuai dengan selera Kak Raisa," kata Monica
"Sepertinya lebih baik kita pergi saja. Raisa masih harus banyak istirahat. Jangan sampai kita hanya mengganggu di sini," ujar Aqila
"Kalian tidak mengganggu kok, aku juga sudah istirahat sangat lama tadi, tapi kalau kalian sudah mau pergi ... sampai jumpa lagi," ucap Raisa
"Istirahatlah dengan baik, Raisa," kata Sanari
Sebenarnya alasan mereka pergi selain tidak ingin mengganggu istirahat Raisa adalah karena mereka juga tidak ingin mengganggu kebersamaan Raisa dan Rumi.
Monica pun memeluk Raisa sebelum pergi. Raisa pun membalas pelukan adik Morgan sekaligus pacar Ian itu.
"Terima kasih sudah mau datang menjengukku ke sini," ucap Raisa
"Terima kasih juga karena kemarin sudah mau menyelamatkan aku," balas Monica
Monica pun melepaskan pelukannya dengan Raisa dan beranjak bangkit berdiri.
"Terima kasih untuk kalian semua karena sudah mau datang menjengukku," ucap Raisa
"Kami semua pergi dulu."
Rumi pun lebih dulu mengantar kepergian teman-teman hingga ke luar dari rumah. Lalu, barulah pria itu kembali untuk menyuapi sang istri.
"Mereka semua sudah pergi?" tanya Raisa
Rumi hanya mengangguk kecil sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari sang istri.
"Katanya, Arion bersikap sangat baik denganmu sampai menyiapkan banyak makanan untukmu. Tapi, kenapa kau bilang kau tidak makan dengan baik?" tanya Rumi
"Karena meski ada banyak makanan untukku, aku tetap tidak mau makan. Khawatir kalau makanan itu diberi racun atau sihir, jadi aku hanya minum segelas air putih. Karena aku masih bisa menetralisir racun yang ada di dalam air dengan menggunakan sihir medis tanpa bantuan penawar racun," jelas Raisa
"Kau juga makanlah bubur jagungnya beberapa suap. Kan, kau juga belum makan," sambung Raisa
Rumi mengangguk. Pria itu pun menyuapi sang istri sambil ikut makan makan bubur jagung bersama hingga habis.
"Katanya, kau tidak mau membahas soal Arion, tapi lagi-lagi kau menanyakan tentang dia," ujar Raisa
"Alu hanya ingin tahu soal satu hal tadi itu saja," kata Rumi
Rumi pun membantu Raisa untuk minum air putih usai makan bubur jangung.
.
__ADS_1
•
Bersambung.