
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dan melelahkan, akhirnya mereka semua menemukan tempat setidaknya untuk beristirahat dan makan walau terlihat sangat sederhana. Karena sudah larut malam tempat yang ditemukan itu sudah hampir tutup, namun mereka masih meminta izin untuk masuk walau dengan sedikit memaksa.
"Maaf, para pengunjung. Tapi, tempat ini sudah mau tutup sebentar lagi, kami hanya tinggal membersihkannya. Kami tidak lagi menerima pengunjung." Ucap pemilik tempat tersebut.
"Tolong, izinkan kami semua masuk. Kami semua mengembara ke sini dan butuh tempat untuk istirahat karena sudah sangat malam." Mohon Aqila
"Karena sudah malam, kami akan tutup. Kami juga kehabisan bahan masakan untuk menyuguhkan kalian makanan."
"Yah, padahal aku sudah sangat lapar karena tidak bisa makan dari pagi." Sesal Chilla yang mengeluh.
"Eunggh~ Rumi, apa kita sudah sampai dan menemukan tempat? Kalau begitu, kau bisa menurunkan aku di sini." Ujar Raisa yang tak sengaja tertidur di pelukan Rumi yang menggendongnya dan sudah kembi terbangun.
"Kau istirahat saja sebentar lagi, Raisa. Aku akan menurunkanmu saat kita sudah masuk nanti." Kata Rumi yang terkesan sangat perhatian.
Karena rasa sakit yang masih dirasakannya, Raisa pun hanya bisa diam tanpa mendebat Rumi. Wajah Raisa masih saja terlihat pucat walau tidak separah sebelumnya.
"Nona itu kenapa? Apa dia sakit?" Tanya pemilik tempat
"Dia hanya sedang tidak fit dan kelelahan." Jawab Rumi
"Tolonglah, Bibi. Izinkan kami masuk. Kami hanya sekelompok pengembara biasa dan sempat bertemu banyak penjahat. Teman kami yang sakit pun tadi masih sempat melawan penjahat dan sekarang sangat kelelahan. Kami butuh tempat istirahat dan juga makan, jika tidak ada makanan tidak apa. Tapi, tolong biarkanlah kami singgah untuk beristirahat satu malam ini saja. Besok pagi kami akan pergi, kami juga akan membayar." Ucap Morgan dengan bumbu sandiwara kebohongannya.
Saat menjalani misi seperti ini, mereka memang sering mengatakan bahwa mereka adalah sekelompok pengembara. Namun, karena situasi sudah sangat terdesak, Morgan pun menambahkan bumbu kebohongan lainnya yang terkesan berlebihan dengan ekspresinya yang bersandiwara itu. Morgan adalah orang yang paling ahli melebih-lebihkan situasi tertentu.
"Sebenarnya, kami masih punya sedikit bahan masakan. Baiklah, kalian semua boleh masuk. Kalian juga carilah tempat yang nyaman untuk duduk." Ucap pemilik tempat
"Terima kasih banyak, Bibi!" Serempak semuanya termasuk juga Raisa dengan suaranya yang terdengar lemah.
Mereka semua pun masuk setelah mendapat izin dengan susah payah. Mereka mencari tempat yang paling nyaman untuk duduk yaitu di suatu sudut di sana. Rumi membawa Raisa untuk duduk dan menurunkannya di dekat dinding supaya lebih mudah untuk bersandar dengan nyaman.
"Terima kasih, Rumi. Maaf, sudah sangat merepotkanmu selama perjalanan. Kau pasti lelah, makanlah yang banyak nanti." Ucap Raisa
"Yang sedang sakit bukan aku, tapi kau. Kau saja yang makan banyak nanti." Kata Rumi
"Baiklah! Aku saja yang makan paling banyak jika kalian berdua masih meributkannya!" Sahut Chilla
"Kau ini tidak seperti mereka berdua yang sedang sakit mau pun kelelahan membawa beban lebih, kecuali beban tubuhmu sendiri! Jangan makan terlalu banyak... Dasar, gendut!" Omel Ian
"Tidak ada yang bisa makan banyak kali ini! Apa kalian tidak dengar tadi bahwa bahan masakannya hanya tinggal tersisa sedikit saja?" Ujar Devan
"Kau benar, Devan. Makan saja secukupnya." Kata Raisa
Tempat tersebut seharusnya sudah tutup dan tidak lagi menerima pengunjung. Namun, pemilik tempat tersebut merasa kasihan pada sekelompok pengembara yang datang terlebih lagi ada seorang gadis yang sedang sakit. Jadi, ia menerima kunjungan khusus untuk mereka saja dan langsung menutup tempat itu supaya tak ada lagi pengunjung lain yang datang. Tempat tersebut pun sudah langsung diberi tanda TUTUP dan menutupi kaca jendela dengan gorden-gorden penutup.
"Kalian para pengembara, ingin makanan dan mimuman yang seperti apa? Kami akan menyiapkannya dengan segera." Tanyanya
"Tolong sediakan untuk kami makanan berkuah yang hangat, untuk minumannya juga sama dan jangan yang terlalu manis." Jawab Raisa
"Kalau boleh, kami juga ingin meminta air mineralnya lebih dulu. Kami kehausan setelah menempuh perjalanan yang panjang." Ujar Aqila
"Maaf, sudah merepotkan di tengah malam begini, Bibi." Kata Morgan
"Baiklah. Kami akan menyediakan sesuai permintaan. Mohon, tunggu sebentar."
Sementara saat sedang memasak, pihak sana lebih dulu memberikan air mineral untuk minum.
"Minum dulu airnya, Raisa." Ucap Rumi yang memberikan segelas air mineral untuk Raisa.
"Kau juga minum, Rumi." Raisa pun menerima segelas air mineral pemberian Rumi dan meneguknya.
"Aku setelahmu." Kata Rumi
"Maaf, aku sudah lancang memesan makanan untuk kita malam ini. Padahal aku yang sudah paling merepotkan kalian semua." Ucap Raisa
"Kau memang agak merepotkan, tapi kau juga sudah banyak membantu, Raisa." Kata Devan
"Tidak apa, Raisa. Makanan yang kau pesankan memang yang paling cocok untuk dimakan aaat tengah malam seperti ini." Ucap Chilla
Karena sudah larut malam dan persediaan bahan masakan juga hanya tinggal sedikit saja, makanan pun tidak lama saat memasaknya dan langsung disuguhkan setelah selesai memasaknya. Makan sederhana namun tetap menggugah selera pun telah dihidangkan! Jamur, daging, dan kentang yang direbus dan dijadikan satu dalam bentuk sup adalah menu makanan yang disajikan. Dan teh lemon hangat adalah minuman pendampingnya...
"Makanan sudah di sajikan! Maaf, hanya ini saja yang bisa kami sajikan dengan bahan masakan yang masih ada." Ucapnya
"Tidak apa, Bibi. Ini sudah sangat cukup dan terlihat sangat enak. Terima kasih banyak." Sopan Raisa
"Katakan saja jika merasa kurang. Kami masih punya sisa supnya cukup banyak karena memasak semua bahan masakan yang masih ada sekaligus."
Setelah menyajikan makanan, Bibi pemilik tempat meninggalkan mereka di ruang makan tersebut. Memberikan privasi bagi para pengunjung saat mereka sedang makan...
"Baiklah, selamat makan!"
__ADS_1
"Apa Bibi tadi sudah benar-benar pergi?" Tanya Raisa sambil sedikit mengintip ke arah Bibi pemilik tadi pergi.
"Sudah. Memangnya kenapa?" Ujar Ian
Raisa menyendok dari dalam mangkuk supnya... Memindahkan semua potongan daging dan kentang ke mangkuk sup milik Chilla.
"Aku sedang tidak ingin makan daging dan aku tidak suka kentang yang direbus karena teksturnya yang terasa aneh menurutku, jadi itu untukmu saja, Chilla." Pelan Raisa
"Wah, terima kasih banyak, Raisa!" Girang Chilla yang dengan senang hati menerima sumbangan makanan dari Raisa.
"Sstt~ Jangan bicara terlalu kencang! Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Bibi tadi yang sudah memasak ini. Makanlah lebih dulu yang kuberikan tadi, supaya aku merasa lebih baik saat Bibi tidak jadi curiga." Bisik Raisa
"Tidak bisa begitu, Raisa! Kalau kau tidak makan yang lain selain jamur, kau bisa saja masih kekurangan tenaga setelah makan. Kau seharusnya makan yang banyak." Protes Rumi
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak terlalu berselera untuk makan saat seperti ini. Kalau bukan karena ingin memaksa makan untuk memulihkan tenaga, aku tidak ingin makan sama sekali. Akan buruk jadinya jika aku memaksa memakannya. Lagi pula, makanannya juga sudah kuberikan pada Chilla. Yang sudah diberikan, tidak boleh diambil lagi." Ujar Raisa
"Lagi pula, kau tidak bisa mengambilnya lagi, Raisa. Yang kau berikan tadi sudah habis dimakan Chilla si gendut." Kata Ian
"Kalau begitu, caranya... Ini, ambillah jamur milikku. Untukmu saja." Ujar Rumi yang lalu memindahkan semua potongan jamur pada mangkuk supnya untuk diberikan dan ditaruh ke dalam mangkuk milik Raisa.
"Apa yang kau lakukan, Rumi?! Kau tidak perlu berbuat seperti ini, kau juga harus makan banyak! Aku tidak menginginkan ini darimu, aku tidak akan memakannya!" Protes Raisa yang tidak berpikir Rumi akan melakukan yang seperti itu.
"Sudah kubilang, kau harus makan yang banyak. Jangan pikirkan aku, aku masih punya daging dalam mangkuk supku. Apa yang sudah diberikan, tidak boleh diambil lagi, jadi kau harus memakannya." Ucap Rumi
"Huh, kau malah membalikkan kata-kata dariku. Sengaja mau membuatku tidak dapat menolak. Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya aku bertukar potongan makanan di supnya denganmu saja!" Dumel Raisa sambil berbisik karena tidak enak jika Chilla sampai mendengarnya.
Kali ini, Rumi membuat Raisa tak bisa kembantah dan mendebatnya lagi... Raisa tahu yang dilakukan Rumi adalah bentuk peduli dan perhatiannya, tapi Raisa merasa tak enak hati menerima terlalu banyak kebaikan darinya.
"Sudahlah, makan saja. Saat makan tidak boleh ribut!" Tegur Devan
"Bibi, aku ingin tambah lagi!" Pinta Chilla
"Oh, baik."
"Bibi, kata Nona ini jamurnya terasa sangat enak karena itu makanan favoritnya. Dia juga ingin tambah, tapi tolong ambilkan jamurnya saja. Dia bilang masakan Bibi mengingatkannya pada rumahan Ibunya." Ucap Rumi yang melakukan siasatnya sendiri agar Raisa bisa makan lebih banyak.
*Nona yang dimaksud adalah Raisa.
"Saya jadi merasa terhormat! Baiklah, akan Bibi ambilkan. Jamurnya saja untuk Nona ini ya? Mohon ditunggu..."
Bibi itu pun kembali menuju ke dapur untuk mengambilkan porsi sup tambahan yang diminta. Begitu Bibi itu pergi, mata Raisa langsung terbelalak menatap ke arah Rumi~
"Rumi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bilang begitu tadi? Aku kan tidak meminta porsi tambahan... Aku ini sedang tidak berselera makan! Kenapa kau ini sih?" Protes Raisa dengan kesal.
"Kau ini, Rumi! Baiklah, kali ini aku akan memakannya. Tapi, setelah itu jangan kau bilang aku ingin tambah lagi!" Kata Raisa yang merasa dirinya sudah dikelabuhi.
"Ya, tidak akan lagi jika kau menghabiskan sup jamurnya nanti." Setuju Rumi
Bibi pemilik pun kembali dengan membawa pesanan porsi tambahan. Bibi pun memberikan dua mangkuk yang berbeda pada Chilla dan juga Raisa.
"Pesanan tambahannya sudah datang! Tapi, maaf... Selain dua porsi tambahan ini, supnya sudah benar-benar habis. Maafkan keterbatasan kami, ini batas terakhir yang bisa kami berikan."
"Kami mengerti, Bibi. Ini memang salah kami yang datang saat persediaan di sini sudah tipis, maaf sudah merepotkan. Masakan Bibi benar-benar membuatku teringat dengan rumahku yang sangat jauh, terima kasih banyak!" Ucap Raisa
"Yah, sayang sekali! Padahal setelah ini niatnya aku ingin minta tambah lagi. Supnya sangat enak!" Kata Chilla
"Ulahmu juga yang membuat supnya cepat habis, Chilla!" Omel Ian
"Bibi, di sini juga menyediakan penginapan kan? Apa masih ada kamar yang tersisa?" Tanya Devan
"Penginapan memang ada, tapi itu di gedung sebelah. Maklumlah, kami hanya punya gedung kecil untuk membuka usaha. Sepertinya masih ada beberapa kamar yang tersisa. Mau pesan berapa kamar untuk berapa malam?"
"Hanya untuk malam ini saja. Kani pesan dua kamar yang bisa dipakai tiga sampai empat orang." Jawab Devan
"Baik, akan segera disiapkan kamarnya. Setelah makan selesai, kalian bisa langsung masuk ke gedung tepat di sebelah kiri gedung makan ini."
"Maaf, Bibi. Kamar mandi atau toiletnya di mana ya? Rasanya ingin buang air kecil..." Ujar Morgan bertanya.
"Ah, itu ada di gedung sebelah bersama penginapannya. Yang ingin ke toilet atau kamar mandi, mari ikuti Bibi saja. Bibi yang tunjukkan letaknya."
Morgan, Ian, dan Devan pun ikut bersama Bibi yang ingin mempersiapkan kamar sambil menunjukkan letak kamar mandi ke gedung penginapan yang berada tepat di sebelah kiri gedung makan.
"Para lelaki itu ingin pergi ke toilet saja seperti sudah janjian yang direncanakan. Kau tidak ikut dengan mereka juga, Rumi?" Ujar Aqila
"Tidak aku tidak ingin ke toilet. Aku di sini saja." Kata Rumi
Selang beberapa waktu, Bibi pemilik tempat yang katanya ingin menyiapkan kamar atau ketiga lelaki yang katanya ingin ke toilet itu masih juga belum kembali.
"Kenapa satu pun dari mereka belum juga ada yang kembali? Aku juga ingin ke toilet, haruskah aku susul saja mereka? Apa kalian ingin ikut?" Tanya Aqila
__ADS_1
"Aku ikut denganmu, Aqila!" Jawab Chilla
"Aku masih ingin duduk sebentar lagi, rasanya tenagaku pulih lambat sekali. Kalian saja yang pergi." Jawab Raisa
"Aku juga masih mau di sini dulu." Jawab Rumi
"Baguslah! Rumi, kau tetap di sini temani Raisa saja. Sepertinya Raisa butuh teman yang menjaganya." Ucap Chilla
"Memang itulah yang ingin kulakukan! Aku akan di sini bersama Raisa untuk menjaga dan menemaninya." Batin Rumi
"Baiklah, kalau begitu kami berdua pergi dulu. Kalau kamarnya sudah selesai disiapkan, aku akan kembali untuk mengatakannya dan menjemout kalian di sini." Kata Aqila
Aqila dan Chilla pun beranjak pergi meninggalkan Raisa dan Rumi berdua saja di sana.
"Apa perutmu masih terasa sakit, Raisa?" Tanya Rumi yang melihat Raisa masih saja memegangi bagian perutnya.
"Sedikit. Inilah alasan kenapa aku tak ingin makan banyak, sesuatu yang berlebihan juga tidak baik, tahu. Apa lagi kekenyangan saat perut lagi sakit seperti ini..." Jawab Raisa
"Kau juga hanya menambah makan jamur sedikit saja. Saat ini saja aku masih khawatir karena pemulihan tenagamu lebih lambat." Ucap Rumi
"Ya, saat seperti ini memang nelakukan apa pun terasa serba salah. Jika bukan karena rasa sakit ini, aku akan baik-baik saja. Ini sudah biasa kualami, aku sungguh tidak apa. Terima kasih sudah peduli dan perhatian padaku, kau tidak perlu merasa khawatir lagi." Ungkap Raisa
Rumi pun lebih mendekatkan tubuhnya pada Raisa. Lalu, menyingkirkan tangan Raisa yang berada di perutnya dan digantikan dengan tangannya sendiri yang menyentuh bagian perut Raisa. Tentu saja, itu membuat Raisa terkejut!
"Apa yang kau-"
Ucapan Raisa terhenti saat merasakan pijatan lembut yang terasa hangat pada bagian perutnya.
"Aku tidak bisa berhenti khawatir padamu, biarkan aku membantumu." Kata Rumi yang membantu memijat bagian perut Raisa.
Raisa tertegun! Seharusnya ia nenolak perlakuan dari Rumi atau bahkan marah padanya karena lancang perbuatan lelaki itu. Tapi, Raisa tidak tega untuk marah dan terlebih lagi ia merasa pijatan Rumi dapat membuatnya nyaman. Raisa pun tak mampu berkata-kata...
"Apa kau merasa nyaman?" Tanya Rumi
Raisa nengangguk tanpa menjawab.
"Bagaimana kau bisa melakukan ini?" Tanya Raisa
"Dulu, saat masih kecil dan masih tinggal bersama keluargaku, aku sering lihat Rina melakukan ini saat perutnya sakit. Sepertinya rasa sakitnya sama seperti yang sekarang kau rasakan. Aku tahu kau seharusnya marah, tapi seperti kataku, aku tidak bisa berhenti khawatir saat melihatmu." Jawab Rumi
"Morgan sering makan makanan pedas, mungkin dia juga pernah atau bahkan sering merasa sakit perut. Apa kau juga pernah melakukan ini padanya?" Ujar Raisa bertanya.
"Memijat perutnya? Tidak, aku tidak pernah melakukannya! Aku baru kali ini mempraktekkan apa yang kulihat dari Rina padamu. Kau orang pertama yang kupijat perutnya." Kata Rumi
"Kalau tidak pernah, ya sudah. Aku juga hanya bertanya. Tidak perlu kau jelaskan berlebihan." Ucap Raisa
"Jika aku memang pernah melakukannya untuk orang lain, apa kau merasa cemburu?" Tanya Rumi
"Tidak, aku tidak akan cemburu. Sudah kubilang, aku hanya bertanya. Kalau kau memang melakukannya pun itu sudah lewat." Jawab Raisa
"Oh, baiklah." Kata Rumi
"Aku bilang aku tidak cemburu! Jadi, kau jangan salah paham atau berpikir yang aneh-aneh." Ucap Raisa
"Aku mengerti." Kata Rumi
..."Bodoh! Aku sendiri yang bilang padanya, tidak perlu menjelaskan berlebihan. Tapi, aku juga yang menjelaskan berlebihan. Sungguh, bodoh!" Batin Raisa...
"Kau sendiri yang sadar dan bilang, seharusnya aku marah! Jadi, jangan pernah melakukan ini lagi lain kali! Padaku juga tidak boleh!" Ucap Raisa
"Aku tidak bisa berjanji karena jika untukmu, apa pun akan kulakukan." Kata Rumi
"Raisa, Rumi, ayo! Pergi ke penginapannya. Kamarnya sudah selesai disiapkan." Ucap Aqila yang kembali dengan tiba-tiba.
Saat kemunculan Aqila yang terasa tiba-tiba di sana, Raisa langsung menepis tangan Rumi dari perutnya.
"Oh, baiklah." Kata Raisa
"Raisa, apa kau sudah bisa berjalan? Apa perlu bantuanku?" Tanya Aqila
"Apa aku harus menggendongmu lagi sampai pintu masuk kamar penginapan kalian?" Tanya Rumi
"Tidak usah. Biar Aqila menuntunku sambil berjalan saja. Aqila, mohon bantuanmu ya." Jawab Raisa
"Baiklah, sini kubantu." Kata Aqila yang membantu Raisa berdiri dan berjalan menuntunnya.
Rumi pun berjalan di belakang kedua gadis di depannya. Berjaga-jaga, jika Raisa membutuhkan bantuan lebih darinya. Mereka bertiga pun beralih menuju penginapan di gedung sebelah.
.
__ADS_1
•
Bersambung...