Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
71 - Kembali Ke Desa Daun.


__ADS_3

"Kami menunggu semua lengkap, baru akan mulai makan." Ujar Tuan Rommy


"Berarti hanya tinggal menunggu Morgan kembali dari toilet." Kata Rumi


Tak butuh waktu lama, Morgan pun datang di ruang makan tersebut. Ia baru saja kembali dari toilet.


"Aku kembali!" Seru Morgan


"Cepat duduklah, Morgan. Kami menunggumu datang." Kata Devan


Morgan pun duduk di kursi yang tersisa.


Setelah Morgan datang, makan bersama pun dimulai...


"Aku sudah tidak sabar dari tadi. Selamat makan, semuanya!" Ucap Chilla


"Aku sudah makan tadi. Aku tidak makan lagi." Kata Rumi


"Tidak, kau harus makan! Walau tidak benar-benar dalam kondisi sakit, tapi dengan kejadian sebelumnya kau tetap harus makan untuk asupan yang akan menjadi tenaga untukmu. Jadi, sekarang oun kau harus makan, Rumi." Ujar Raisa


"Baiklah, kalau kau berkata begitu." Patuh Rumi


Semua pun mengambil makanannya masing-masing...


"Rumi yang menuruti kata Raisa seperti anak yang nenuruti perkataan Ibunya. Terlihat lucu!" Kata Morgan


"Tidak, itu seperti suami yang menuruti apa saja kata istrinya. Ayah dan Ibuku selalu begitu." Sambar Ian menyahut.


Semua terkekeh kecil. Kecuali Raisa yang malah menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya. Mendengar Ian berkata seperti itu membuatnya salah tingkah dan muncul semburat kemerahan pada kedua pipinya.


Setelah itu, semuanya hanya sibuk makan dan menatap makanan mereka. Semua teman Rumi merasa tegang dan takut saat harus duduk di kursi pada meja yang sama bersama dengan Ayah dan kerabatnya yang terlihat galak dan menyeramkan. Jadi, semuanya hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun pada di saat-saat ini.


Sampai saat setelah makan bersama berakhir pun semua hanya diam. Sampai akhirnya Ayah Rumi sendiri yang memecahkan keheningan yang berlangsung lama di sana. Tuan Rommy mengatakan sesuatu dan angkat bicara saat semuanya legang...


"Rumi, kau ingin kembali ke Desa Daun bersama teman-temanmu? Kudengar, kalian juga ingin membawa Rumi kembali ke Desa Daun. Benar, begitu?" Tanya Tuan Rommy


"Ya, Ayah." Jawab Rumi


"Benar, Tuan. Kami mohon izin padamu untuk mengizinkan kami kembali ke Desa Daun bersama-sama Rumi." Ujar Devan


Saat itu, Bibi Rina bangkit dari posisi duduknya untuk membereskan, merapikan, dan membawa piring-piring bekas semuanya makan ke dapur.


"Aku akan merapikan piring-piring ini dulu. Kalian lanjutkan saja bicaranya." Ucap Bibi Rina


"Biar kubantu, Bibi." Kata Raisa menawarkan diri untuk membantu Bibi Rina.


"Tidak usah. Kau di sini saja, mana tau ada yang ingin kau bicarakan juga nantinya." Tolak halus Bibi Rina pada Raisa yang menawarkan diri untuk membantunya.


"Ah, baiklah." Kata Raisa


Baru saja Raisa bangkit dari posisi duduknya. Karena tidak jadi membantu Bibi Rina, ia pun kembali duduk di kursinya semula.


"Garry, kau saja yang bantu aku membereskan semua ini." Pinta Bibi Rina


"Ah, ya. Baiklah." Patuh Paman Garry


Paman Garry tak ingin ambil pusing dan tak ingin bertengkar dengan Bibi Rina jika ia menolak permintaan Bibi Rina. Ia pun membantu Bibi Rina untuk merapikan, membereskan, dan memnawa semua piring bekas makan ke dapur. Ia pun ingin pembicaraan Tuan Rommy dengan teman-teman Rumi berjalan lancar. Ia tak ingin jadi pengganggu di sana.


"Apa kalian bisa memastikan dan menjamin keselamatan Rumi saat dalam perjalanan kembali ke Desa Daun?" Tanya Tuan Rommy


"Kalau untuk itu, aku bisa menggunakan sihir teleportasiku membuka portal langsung ke Desa Daun. Kalau Tuan tidak keberatan mengizinkan Rumi untuk kembali bersama dengan kami. Dengan itu akan lebih memudahkan kami semua sampai di Desa Daun dengan cepat dan aman." Ucap Raisa ikut angkat bicara.


"Ya, Tuan. Biarkan Rumi kembali ke Desa Daun bersama kami. Izinkan kami membawa Rumi bersama kami." Ujar Morgan


"Memangnya tenaga sihirmu sudah pulih, Raisa? Bukankah membutuhkan tenaga yang banyak untuk membuka portal teleportasi? Aku tidak ingin ada kendala saat kalian memasuki portal karena tenaga sihirmu masih belum cukup." Tanya Tuan Rommy untuk memastikan.


"Berkat diizinkan istirahat dan diberi makan di sini, tenagaku sudah pulih. Aku sudah bisa menggunakan sihir teleportasiku itu." Ucap Raisa


"Walau tenaga Raisa tidak cukup pun, kami semua masih bisa mentransfer tenaga kami pada Raisa sampai dia bisa membuka portal." Ujar Aqila


"Kami bisa menggunakan cara itu juga. Tapi, aku yakin masih bisa menggunakan tenaga milikku sendiri." Kata Raisa dengan yakin.


"Lalu, bagaimana saat di Desa Daun? Masalah yang menjaga dan merawat Rumi, siapa yang akan melakukannya? Raisa, bagaimana? Kudengar yang lain memilih dan memintamu yang melakukannya. Kau bisa?" Tanya Bibi Rina yang kembali untuk mengambil piring kotor lainnya.


"Ah, ya! Itu... Aku bisa. Aku yang akan menjaga di sisi Rumi." Jawab Raisa


"Kau seharusnya berterima kasih padaku, Rumi! Berkat diriku kau memiliki kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Raisa, gadis yang kau sukai itu." Batin Bibi Rina


"Sekali lagi terima kasih atas kebersediaanmu, Raisa." Ucap Tuan Rommy


..."Kau sudah berkata begitu, bagaimana bisa aku berkata tidak atau menolak. Aku hanya berpikir... Apa ini hal yang benar? Apa ini boleh dan pantas untuk dilakukan? Aku menjaga Rumi? Akan hanya ada aku dan dia... Aku tak bisa membayangkannya!" Batin Raisa...


"Jadi, Anda mengizinkan Rumi kembali bersama kami ke Desa Daun?" Tanya Devan memastikan.

__ADS_1


"Ya, aku izinkan. Aku serahkan anakku pada kalian dan Desa Daun." Jawab Tuan Rommy


"Tolong jaga Rumi bersama kalian. Terutama kau yang menjaganya, Raisa." Pesan Paman Garry


"Baik!" Serempak semua kecuali Raisa.


"Ya, aku akan menjaga Rumi, Paman, Bibi, dan juga Tuan Rommy." Kata Raisa


Sebenarnya kondisi Rumi tidak sampai membutuhkan seseorang untuk menjaga atau merawatnya. Ini hanya inisiatif dari Bibi Rina agar Rumi dan Raisa bisa menjalin hubungan yang lebih dekat. Tuan Rommy dan Paman Garry pun tidak berkata apa-apa untuk hal ini. Sepertinya mereka berdua pun hanya membiarkannya, setuju dengan ide untuk lebih mendekatkan Rumi dan Raisa.


Bibi Rina tidak mengungkapkan rencana tersembunyi miliknya, tentu saja ia berpikir demi kebaikan hubungan Rumi dan Raisa. Dan Raisa hanya bisa menerima dan menuruti kata Bibi Rina. Ia berpikir untuk berjaga-jaga saja jika kondisi Rumi tiba-tiba memburuk atau seseorang menyelinap untuk melukainya lagi saat sudah ada di Desa Daun nanti. Ia tidak tau sebenarnya kondisi Rumi sudah benar-benar baik-baik saja. Rumi pun bahkan hanya diam menerima dan mengikuti rencana Bibi Rina. Ia berharap dengan adanya kesempatan ini, ia benar-benar bisa menjadi lebih dekat dengan Raisa.


"Kalian bersiaplah jika ingin kembali ke Desa Daun. Aku akan mengantarkan kalian ke depan." Ujar Tuan Rommy


---


Setelah semua siap, usai makan bersama berakhir... Rumi akhirnya akan kembali ke Desa Daun bersama teman-temannya. Tuan Rommy, Bibi Rina, dan Paman Garry pun mengantar Rumi dan semua teman sampai ke depan kediaman mereka. Untuk menyaksikan kepergian oara remaja itu dengan sihir teleportasi milik Raisa.


"Akhirnya bisa kembali ke Desa Daun bersama Raisa menggunakan sihir portalnya, aku tidak akan lagi lelah menempuh perjalanan jauh." Ucap Wanda


"Ya, aku juga sangat ingin kembali. Kalian tau kan, rumah sendiri itu adalah tempat ternyaman!" Ujar Sandra


"Ya, akhirnya kita semua bisa kembali ke Desa Daun." Kata Amy yang sedari tadi ingin kembali pulang karena terus merasa takut bersama di tempat orangtua Rumi tinggal itu.


"Kalian saat menuju ke sini pasti lelah ya? Kalau aku saat membawa Rumi ke sini setelah menemukannya, aku membawanya terbang bersamaku. Jadi, tidak terlalu lelah." Ucap Raisa


"Sihir milikmu memang banyak yang praktis saat menggunakannya ya, Raisa. Itu lebih memudahkan dirimu." Kata Chilla


"Kali ini aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri kau menggunakan sihir teleportasimu, Raisa." Ungkap Tuan Rommy


"Rina, terima kasih untuk hari ini. Makanan darimu rasanya enak." Ucap Rumi


"Ya, sama-sama. Aku juga dibantu Aqila dan Raisa." Ujar Bibi Rina


Bibi Rina tau, sebenarnya ucapan terima kasih Rumi bermaksud tentang hal yang membuatnya memiliki kesempatan menjadi lebih dekat dengan Raisa saat menjaganya di Desa Daun nanti. Makanan hanyalah alasan bagi Rumi untuk mengatakan terima kasih pada Bibi Rina.


"Benar, sudah seharusnya kau berterima kasih padaku, Rumi! Aku sudah sangat membantumu dengan rencana yang kubuat ini. Gunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin nanti!" Batin Bibi Rina


"Maaf, aku tidak bisa membantumu membereskan bekas makan bersama tadi, Bibi Rina." Ucap Raisa


"Tidak apa, bukan masalah. Sebagai gantinya, baik-baiklah menjaga Rumi ya, Raisa." Ujar Bibi Rina


"Baiklah, Bibi." Kata Raisa


"Hati-hatilah saat sudah kembali ke Desa Daun nanti." Pesan Paman Garry


Raisa mengangguk mengerti.


Disaksikan oleh Tuan Rommy, Bibi Rina, Paman Garry, dan semua penjaga kediaman mereka, Raisa pun menggunakan sihir teleportasinya untuk membuka portal menuju Desa Daun.


Syuuuhh...


Shaa~


Saat Raisa mengulurkan tangannya, lingkaran hitam misterius pun muncul. Gerbang portal teleportasi pun terbuka.


"Itu benar-benar sihir teleportasi!" Takjub Paman Garry


"Raisa, dia benar-benar bisa melakukannya!" Takjub Bibi Rina


"Gadis itu memang berbakat!" Sanjung Tuan Rommy


Semua perjaga kediaman tersebut pun terperangah dengan apa yang mereka lihat. Bukan hanya sekedar romor saja! Sihir tingkat tinggi yang sulit dan langka ini, seorang gadis bahkan bisa melakukannya!


"Ayah, aku pergi." Pamit Rumi


"Bibi Rina, kami pamit." Kata Aqila


"Semuanya, kami pergi dulu." Pamit Raisa


Satu persatu remaja itu masuk ke dalam lingkaran misterius yang merupakan gerbang portal teleportasi itu. Setelah Raisa sebagai orang terakhir yang memasukinya, gerbang portal teleportasi itu pun kembali menutup dan menghilang secara ajaib!


---


Setelah semua memasuki gerbang portal telepotasi itu, selanjutnya mereka pun tiba dan menginjakkan kaki mereka kembali di Desa Daun.


"Akhirnya pulang juga!" Lega Ian


"Hari ini sudah malam, aku pulang dulu ya. Kita bertemu lagi besok!" Ucap Sandra


"Aku juga ingin pulang. Terima kasih ya, Raisa. Berkatmu kita semua bisa cepat pulang." Ujar Wanda


"Ya, sama-sama." Balas Raiaa disertai senyuman manisnya.

__ADS_1


"Aku juga harus pulang. Raisa, semuanya, kita bertemu lagi besok ya." Kata Amy


"Ya, kalian para gadis memang harus kembali pulang ke rumah lebih dulu." Ucap Raisa. Ia merasa ada yang mengganjal, seperti melupakan sesuatu.


Saat mereka semua kembali ke Desa Daun, hari memang sudah mulai malam. Amy, Wanda, dan Sandra pun kembali pulang ke rumahnya masing-masing lebih dulu dari yang lain.


..."Hari memang sudah mulai malam, semuanya harus kembali ke rumah masing-masing. Lalu, bagaimana denganku? Aku kan dititipkan untuk harus menjaga Rumi. Apa yang harus kulakukan?" Batin Raisa...


Saat mengkhawatirkan dirinya sendiri harus melakukan hal apa, Raisa teringat sesuatu miliknya yang tidak ada dengannya. Barang-barang yang ia bawa bersama ke dunia ini! Tas koper dan tas ranselnya! Sebelum ia tergesa-gesa pergi mencari Rumi yang kabarnya dalam bahaya, ia menitipkan kedua tasnya itu bersama teman-teman di Desa Daun. Lalu, pergi begitu saja...


"Ah, ya, aku lupa! Sebelum aku pergi mencari Rumi, aku menitipkan dua tasku bersama kalian di Desa ini. Di mana tasku ya?" Ujar Raisa


"Dua tasmu itu kutaruh di rumahku, Raisa. Kau harus ikut aku ke rumah untuk mengambilnya." Tutur Aqila


"Kalau begitu, aku mengambil tasku dulu di rumah Aqila. Kalian semua tunggu dulu di sini ya. Rumi, kau juga tunggu baik-baik di sini." Ujar Raisa


"Aku sekalian langsung pulang ke rumah ya. Tidak kembali lagi berkumpul dengan kalian nanti." Kata Aqila


Raisa pun pergi bersama Aqila ke rumahnya untuk mengambil dua tasnya itu yang dititipkan di sana sebelum Raisa pergi.


---


Saat tiba di rumah Aqila. Aqila mempersilakan Raisa untuk masuk ke dalam rumahnya bersama dengannya.


"Ayo, masuk, Raisa!" Ajak Aqila


"Alu masuk ya, permisi..." Kata Raisa


Aqila dan Raisa pun melepaskan alas kakinya dan masuk ke dalam rumah...


"Kau tunggu dulu di sini ya, Raisa. Aku ambilkan dulu tasmu." Ujar Aqila


"Baik. Maaf merepotkanmu ya, Aqila." Sopan Raisa


"Tidak masalah." Kata Aqila


"Sepertinya dua tas milik Raisa kutaruh di dekat dapur." Gumam pelan Aqila


Aqila pun berlalu untuk mengambilkan dua tas milik Raisa dengan meminta pemiliknya untuk menunggu.


Tak lama, Aqila pun kembali ke tempat Raisa untuk mengembalikan dua tas kepadanya.


"Ini dua tas milikmu, Raisa." Kata Aqila dengan membawa tas koper dan tas ransel milik Raisa bersamanya.


Aqila pun menyerahkan kedua tas itu pada pemiliknya. Raisa pun menerimanya dan langsung menggunakan sihirnya untuk menyimpan kedua tas berukuran cukup besar itu ke dalam inti sihir miliknya.


"Terima kasih ya, Aqila. Padahal dua tasku ini cukup besar, aku sudah merepotkanmu untuk membawanya ke mari dan menyimpannya untukku." Ucap Raisa


"Sama-sama dan tidak perlu sungkan. Kau harus menjaga Rumi, berarti malam ini kau tinggal bersamanya di rumahnya dong, Raisa?" Ujar Aqila


Pertanyaan Aqila membuat Raisa kembali merasakan kegelisahannya. Ia masih tak tau harus berbuat apa saat menjaga Rumi di rumahnya hanya berdua nanti. Pasti akan sangat canggung!


"Ya, sepertinya begitu." Kata Raisa


Tiba-tiba Bibi Sierra muncul dari lantai kedua rumahnya.


"Eh, Aqila pulang bersama Raisa. Raisa kau kembali datang ke sini?" Ujar Bibi Sierra yang datang dari lantai atas.


"Kukira Mama masih belum pulang dari Rumah Sakit Desa." Ucap Aqila


"Selamat malam, Bibi. Di duniaku sedang libur panjang jadi aku ke mari untuk berlibur." Ungkap Raisa


"Kalau begitu, kau sekalian menginap di sini saja, Raisa." Ujar Bibi Sierra


"Terima kasih, Bibi. Tapi, aku sudah berjanji menginap di rumah teman. Aku je sini hanya mengambil barang yang kutitipkan. Maaf ya sudah menolak tawaranmu, Bibi." Ucap Raisa


"Tidak apa, kau tidak perlu sungkan begitu." Kata Bibi Sierra


"Aku mengantar Raisa ke luar dulu ya, Ma." Ujar Aqila


"Aku pamit ya, Bibi Sierra." Kata Raisa


Aqila pun mengantarkan Raisa sampai ke depan pintu rumahnya.


"Aku mengantarmu hanya sampai sini ya, Raisa. Aku tidak mengantarmu kembali ke tempat tadi. Kau bisa kembali sendiri kan?" Ujar Aqila


"Aku bisa sendiri kok. Terima kaaih banyak ya, Aqila. Aku pergi dulu." Ucap Raisa


"Sama-sama. Hati-hati, Raisa!" Kata Aqila


Raisa pun berbalik beranjak pergi dari rumah Aqila kembali ke tempat yang lain tadi masih berkumpul.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2