
Berkat doa dari Farah, kini Raisa semakin sibuk. Raisa sudah dua kali memainkan ftv sebagai peran utama.
Bahkan saat ini Raisa sedang memenuhi undangan sebagai bintang tamu pada acara Talk Show di salah satu channel TV karena sedang dalam kontroversial bermain akting seni bela diri tanpa stand woman atau stand man, juga aksi viral menggagalkan perampokan saat syuting.
"Nah, sekarang kita sedang bersama Raisa! Yang lagi dalam kontroversi dan naik daun itu, lho!"
"Halo! Saya, Raisa Putri! Selamat siang semuanya!" sapa Raisa pada para penonton, memperkenalkan diri.
Mereka pun berbincang-bincang kecil.
"Apa, sih, alasan Raisa masuk dunia akting? Awalnya, Raisa, itu model, kan?"
"Gak ada alasan khusus, sih. Senang aja. Awalnya, bahkan saya gak kepikiran jadi model. Dulu, ada teman yang menawarkan saya jadi model freelance. Meski awalnya ragu, saya terima. Sampai akhirnya jadi model resmi dia. Waktu ada tawaran casting di mana-mana, tempat biasa saya pemotretan masuk penawaran pencarian untuk audisi. Saya yang sudah semakin menikmati pekerjaan jadi model ini tertarik dan dapat dukungan. Dari sanalah, saya mulai merambah ke dunia akting," jelas Raisa
"Lalu, dari yang terdengar, Raisa, ini jago bela diri, ya? Sampai-sampai jadi kontroversi waktu syuting adegan penuh aksi tanpa stand man atau stand woman? Itu gimana ceritanya?"
"Gak bisa dibilang jago juga, sih. Hanya sekadar bisa aja. Saya senang saat belajar atau berlatih bela diri," jawab Raisa
"Waktu syuting, sutradara cukup keteteran dan bingung mau mulai adegan yang mana karena saat itu cuaca lagi kurang mendukung padahal di hari itu hanya tinggal syuting yang di luar ruangan. Di sisi lain hanya ada adegan saya yang cocok untuk situasi cuaca saat itu, tapi stand man masih belum datang dan sulit dihubungi. Karena ingin syuting terus berjalan, akhirnya saya memutuskan dan bilang kalau saya tidak perlu peran pengganti dan sanggup melakukan sendiri. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya syuting dilanjutkan untuk adegan tersebut," ungkap Raisa bercerita lebih lanjut.
"Lewat adegan ini, Raisa jadi dapat banyak pujian, lho! Ada yang bilang, cewek idaman! Keren! Hebat! Cantik-cantik jago bela diri!"
"Senang, ya, dapat pujian begitu. Tapi, kalau ada yang pro, pasti ada yang kontra. Ada salah satu komentar netizen yang bilang, Belagu! Paling juga cuma cari perhatian dan sok hebat ke staf dan di mata penonton! Pengen banget cepat terkenal! Padahal kalau ternyata pas syuting dapat insiden yang ada cuma bikin masalah! Ribut dan kehebohan, terus paling kerjanya juga ngomel-ngomel sambil tercengeng-cengeng! Waduh, gimana, tuh, tanggapan Raisa soal komentar ini?"
"Saya, sih, udah maklum, ya. Wajarlah. Seperti yang tadi udah dibilang, kalau ada pro pasti ada yang kontra. Tapi, saya emang agak sedih," tanggap Raisa
"Lalu, ada satu hal lagi, nih! Katanya, di hari yang sama setelah adegan bela diri itu ... Raisa juga masuk kabar viral karena menggagalkan aksi perampokan di lokasi syuting, ya! Perampoknya bahkan bawa senjata tajam! Coba diklarifikasi dulu ...."
"Itu memang benar. Saya gak tahu kalau ada yang merekam kejadian tersebut sampai jadi viral, tapi mungkin staf di sana yang merekamnya," jelas Raisa
"Bagaimana perasaan Raisa setelah bisa menggagalkan aksi perampokan saat itu?"
"Itu kejadian saat malam hari. Semuanya sedang istirahat, termasuk staf keamanan. Saat memergoki pelaku, saya gak memikirkan apa pun, selain berharap semua tetap aman. Baik itu barang atau orang yang ada di sana. Melihat pelaku membawa senjata, gak tahu kenapa ... saya malah langsung maju karena takut mereka melakukan hal berbahaya. Setelah berhasil menggagalkan mereka, saya langsung merasa lega. Lalu, pelaku langsung dilaporkan ke polisi," ungkap Raisa
"Mungkin karena malam hari. Pelaku yang memegang senjata kurang bisa menggunakan senjata dengan baik karena gelap, saya tidak tahu pasti, tapi saya bersyukur karena tidak terluka. Pelaku memang tidak sendiri, tapi untunglah hanya satu orang yang membawa senjata. Usai kejadian itu, semua jadi heboh. Terutama teman-teman manager saya yang memarahi saya karena bertindak nekat," tambah Raisa melanjutkan.
"Jadi, tindakan yang Raisa lakukan saat itu murni dari hati karena rasa manusiawi untuk mencegah kejahatan, ya?"
Raisa pun membenarkan pertanyaan yang diajukan untuknya.
"Lewati soal kontroversi dan pekerjaan. Saat ini, bagaimana keseharian Raisa?"
"Sejauh ini baik-baik saja. Saya menikmati keseharian saya dengan bekerja. Selain itu, saya punya hobi traveling, itu sebabnya pada awalnya saya tidak terpikir untuk bekerja di bidang ini. Tapi, karena merasa senang, saya jadi terus menekuni dua bidang pekerjaan saya saat ini," jawab Raisa
"Lalu, bagaimana dengan nasib percintaan Raisa saat ini?"
Raisa terdiam sejenak ....
"Ayo, dong! Spill! Penonton pasti penasaran dan mau tahu kebenarannya ...."
"Masih jomblo. Single and happy! Tapi, saya punya orang yang disukai," ungkap Raisa
"Wah, pasti penonton yang berharap langsung patah hati seketika begitu mendengarnya!"
Raisa tersenyum kecil ....
"Jadi, siapa, nih, lelaki yang beruntung itu?"
"Tidak ada bocoran. No comment!" jawab Raisa dengan tegas.
"Ayo, dong! Kasih tahu sedikit aja ...."
"Kalau begitu, coba pilih ... mau tahu namanya, asalnya, atau ciri-ciri lelaki yang buat saya bisa menyukainya?" ujar Raisa bertanya dalam mengajukan pilihan.
"Raisa, benar-benar gak mau asal mengungkap orangnya secara keseluruhan, ya. Kalau begitu, pilih dua, deh. Ciri-ciri dan asalnya!"
"Ciri-cirinya ... yang pasti dia orang yang baik, tampan. Seperti lelaki lainnya, dia itu cool, gak banyak bicara kalau gak perlu, agak pendiam juga, tapi dia peduli dengan teman-temannya. Karena pilih lebih dari satu ... untuk asalnya, saya hanya bisa bilang, dia bukan dari negara ini," ungkap Raisa
"Kasih tahu namanya juga, dong! Paling enggak, inisialnya aja, deh!"
"Inisialnya sama dengan saya," ungkap Raisa
"Berarti inisialnya R, ya. Beruntung banget, lelaki ini bisa disukai sama Raisa."
"Enggak kok. Saya yang beruntung bisa bertemu sama dia," ucap Raisa
__ADS_1
"Kalau begini, saya membocorkan semuanya seperti keinginan Anda, dong. Curang, nih," sambung Raisa
Mereka pun tertawa.
"Balik lagi ke pekerjaan, nih! Raisa, lebih suka genre apa kalau buat akting? Lebih suka kalau main peran protagonis atau antagonis?"
"Kalau dari saya pribadi ... saya gak pilih-pilih karena pada dasarnya saya emang suka dan senang berakting. Apa pun peran atau genrenya, akan saya coba lakukan sebaik mungkin," jawab Raisa
"Kalau begitu ... Raisa, lebih suka berakting atau bernyanyi? Dari yang kita tahu, jauh sebelum masuk dunia akting dan sebelum masuk dunia model ... Raisa, kan, pernah jadi pembuat konten cover lagu yang bahkan masih dilakukan sampai sekarang ...."
"Walau saya tidak pilih-pilih dalam melakukan sesuatu, saya pasti gak melakukan hal yang saya gak suka. Dari dua hal tadi, keduanya sama-sama saya suka. Tapi, kalau harus pilih satu, sebenarnya saya lebih suka berakting," ungkap Raisa
"Berarti kalau diminta untuk pilih jadi penyanyi atau pemain film/pesinetron ... Raisa, bakal pilih pemain film/pesinetron, dong? Apa ada alasannya?"
"Benar. Alasannya ... dari segi kemampuan, saya sendiri merasa lebih condong ke akting. Lalu, saya lebih pilih menghafal skenario dibanding harus menghafal banyaknya lagu dari beberapa album kalau harus mengadakan konser musik jika jadi penyanyi sungguhan," jelas Raisa
"Jadi, begitu. Kenapa merasa lebih mampu berakting dari pada bernyanyi? Bukannya selama ini buat konten cover lagu dapat banyak respon positif?"
"Emang, sih. Sebenarnya saya juga suka keduanya. Keduanya juga sama-sama melibatkan perasaan, yaitu menghayati dan mendalami peran. Baik itu, berakting atau bernyanyi. Tapi, kalau bernyanyi, saya merasa masih kurang dalam hal mengolah vokal. Jadi, hanya sekadar bisa aja dan lebih percaya diri jika berakting," jawab Raisa
"Begitu, rupanya. Kalau begitu, semoga pekerjaan Raisa berjalan lancar, sukses terus, dan semakin banyak tawaran yang datang. Apa pun pekerjaannya. Lalu, semoga Raisa juga sehat selalu."
"Ya, semoga aja. Terima kasih atas doanya," ucap Raisa
"Terima kasih juga untuk Raisa yang udah mau datang ke acara kesayangan kita ini."
"Saya juga ... terima kasih kembali. Terima kasih banyak karena udah mau mengundang saya untuk jadi tamu di acara ini," balas Raisa
Setelah melewati acara tanya jawab bersama pembawa acara, Raisa pun diminta untuk melakukan beberapa permainan, lalu bernyanyi di akhir acara.
...
Usai dari acara talk show, seperti biasa ... Raisa berkumpul bersama Maura dan Nilam.
Sambil menyeruput jus buah segar, ketiganya berbincang soal pekerjaan.
"Semoga setelah dari acara ini, Raisa makin dikenal banyak orang dan makin banyak job berdatangan. Seperti yang diharapkan selama ini," ucap Maura
Raisa mengangguk-angguk kecil.
"Nilam, dari acara tadi, masih ada jadwal apa lagi setelah ini?" tanya Raisa
"Iya, Raisa. Maaf, ya," kata Maura
"Iya, gak apa. Kalian berdua ada acara, kan? Aku bisa pergi sendiri kok. Jadi, kita langsung pisah di sini, ya?" ujar Raisa bertanya.
"Iya, aku dan Nilam bakal langsung pergi begitu ke luar dari sini. Jadwal di studio Daffa gak terlalu mepet kok, jadi kamu bisa santai dulu sebentar," ucap Maura
"Bagus, deh. Aku emang ada rencana mampir ke suatu tempat dulu buat menyegarkan pikiran," kata Raisa
"Setelah jadwal hari ini, aku udah kosongin jadwal untuk sementara waktu buat kita libur sejenak. Seenggaknya mungkin selama seminggu. Karena setelah acara talk show hari ini, kemungkinan jadwal bakal makin banyak berdatangan dari yang sebelumnya, jadi hitung-hitung waktu istirahat buat kita sebelum kerja padat lebih keras lagi. Aku bakal atur jadwalnya sebaik mungkin," tutur Nilam
"Wah, udah lama gak libur. Walau hanya sebentar, terima kasih. Kalau begitu ... sampai ketemu lagi di minggu selanjutnya," ujar Raisa
"Iya, tetap semangat!" serempak Maura dan Nilam.
Setelah menghabiskan hidangan yang telah dipesan di restoran tersebut, Raisa, Maura, dan Nilam pun beranjak pergi membubarkan diri.
"Selalu hati-hati, ya, Raisa," pesan Nilam
"Ya. Kalian berdua juga," balas Raisa
"Ya udah, kita pisah di sini. Sampai ketemu lagi," kata Maura
Raisa pergi ke arah dan tempat yang berbeda dengan Maura dan Nilam. Mereka berpisah di restoran.
Dari restoran, Raisa beranjak pergi menuju ke taman di tengah kota.
Meski cukup panas, setidaknya Raisa merasa disejukkan oleh hijaunya pemandangan taman teesebut. Raisa memang selalu mencari taman jika perlu ketenangan dan menenangkan diri atau menyegarkan pikiran. Selain karena memang suka pemandangan hijau, taman jufa mengingatkannya dengan kenangan bersama Rumi yang sering keduanya lakukan. Meski bukan di taman yang sama, setidaknya taman adalah tempat yang berhubungan dengan kenangan bersama lelaki yang disukainya.
Taman di tengah kota pastilah ramai dikunjungi. Banyak juga orang yang mengenal Raisa sebagai artis berdatangan mengajaknya foto bersama atau memintainya tanda tangan. Namun, Raisa tidak masalah dengan itu dan dengan baik serta rendah hati menanggapi keinginan para penggemarnya. Tentu dengan senyuman lembut andalannya.
Usai berurusan dengan penggemarnya, Raisa berjalan mengasingkan diri. Mencari tempat yang tenang untuknya menyendiri di suatu tempat di taman tersebut.
Raisa menemukan bangku taman dan duduk di sana seorang diri.
__ADS_1
"Cukup melelahkan berhadapan dengan penggemar. Sekarang setiap pergi, pasti ada aja yang minta foto dan tanda tangan. Mungkin lain waktu, kalau bepergian aku harus pakai kacamata hitam, masker, dan topi. Repot juga, padahal gak nyaman berpenampilan seperti itu," gumam Raisa mengoceh seorang diri.
Raisa pun berdiam diri di sana menikmati semilir angin seperti angin di musim panas. Ia melemaskan otot-ototnya, membuatnya santai, dan rileks. Rasanya begitu tenang dan damai.
•••
Di sisi lain. Dunia lain, dimensi asing.
"Bisakah, Aqila?" tanya Rumi
"Apa kau yakin, Rumi? Apa tidak masalah?" tanya balik Aqila
"Aku yakin. Raisa pasti tidak mempermasalahkannya, tapi hanya aku yang akan pergi," jawab Rumi
"Baiklah. Kubuka sekarang. Berhati-hatilah," kata Aqila
Portal teleportasi terbuka dan Rumi segera masuk ke dalam sana.
Setelah 4 tahun berlalu, Aqila telah menguasai sihir teleportasi yang diajarkan Paman Elvano padanya. Kini Aqila bisa menggunakan sihir tersebut untuk membantu Rumi pergi ke dunia di mana Raisa berada.
•••
Saat Raisa bersantai, tas yang dibawanya bergerak tak karuan seperti ada yang mendesak ingin ke luar dari dalamnya. Raisa menyadari bahwa itu tanda ada seseorang yang menghubunginya dari dunia lain melalui ular sihir yang selalu dibawanya.
Raisa pun melihat ke sekeliling untuk memastikan semua aman. Di sekitarnya tidak banyak orang berlalu lalang, cukup aman berkomunikasi dengan ular sihir tanpa diketahui.
Raisa membuka tas miliknya. Ia mengeluarkan dan memakai headset nirkabel (bluetooth) untuk mengelabuhi agar orang yang melihatnya mengira sedang melakukan panggilan. Raisa juga berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasnya untuk mengelabuhi jika sebenarnya sedang bicara dengan ular sihir di dalam tasnya.
Ternyata, yang menghubunginya adalah pemilik dari pemberi ular sihir yang selalu Raisa bawa. Yaitu, Rumi.
"Halo, ada apa? Menghubungi tiba-tiba seperti ini... apa ada sesuatu yang mendesak?"
"Halo, Raisa. Ini aku, Rumi. Raisa, bolehkah aku pergi le duniamu sekarang? Aku bisa meminta Aqila membantuku ke sana dengan kemampuannya sekarang."
"Kenapa mendadak sekali? Saat ini masih belum waktunya kita bertemu mengingat janji yang dulu dibuat. Masih belum sampai 5 tahun."
"Tapi, aku sudah tiba di duniamu setelah Aqila membuka portalnya."
"Apa!? Sekarang kau di mana? Kau pergi ke tempat seperti apa di sini? Coba, beri tahu aku di mana kira-kira kau berada sekarang! Apa kau melihat sesuatu yang bisa kau jadikan petunjuk lokasi?"
Raisa pun bangkit dari duduknya. Ia menduga-duga, di mana Rumi berada sekarang. Tempat yang mungkin untuk membuka tutup portal teleportasi seperti yang dulu pernah dilakukannya.
Setelah Rumi memberi tahunya petunjuk lokasi keberadaannya di sana, Raisa pun segera menuju ke sana.
"Kau tunggulah, aku segera ke sana. Jangan lakukan apa pun yang menarik perhatian orang seperti sihir dan sembunyikanlah ular sihir milikmu."
"Baiklah, Raisa. Aku akan menunggumu."
Raisa pun mencari kendaraan untuk menuju ke tempat Rumi berada.
Setelah sampai di tempat yang Rumi beri tahukan, Raisa langsung mencari keberadaan sosok lelaki tersebut.
Saat mencari, kedua pasang mata kedua insan itu saling bertemu. Keduanya pun tersenyum. Rumi melambaikan tangannya dan Raisa pun bergegas menghampirinya.
"Rumi, kenapa kau datang tiba-tiba sekali? Kau baru memberi tahu padaku saat kau sudah sampai di sini," ujar Raisa bertanya.
Rumi berhambur memeluk tubuh Raisa.
"Aku merindukanmu, Raisa. Biar aku peluk sebentar saja," kata Rumi
Meski Rumi berkata seperti itu, Raisa langsung melepaskan pelukannya.
"Tidak bisa, Rumi. Maaf. Ini tempat umum. Lagi pula, seperti yang kuberi tahu ... sekarang aku sudah menjadi figur publik yang segala tingkahku bisa saja sangat diperhatikan. Bisa jadi, setelah kau memelukkku akan ada gosip negatif tentangku," jelas Raisa menolak halus.
"Begitu, rupanya. Maaf, aku tidak tahu. Tidak apa. Yang penting sekarang aku sudah bertemu denganmu," ucap Rumi
"Kau datang seorang diri ke sini? Benar-benar sendiri?" tanya Raisa
"Ya, aku hanya sendiri. Ini seperti meminta hak istimewa pada yang lainnya agar membiarkan aku pergi menemuimu seorang diri ke sini," jawab Rumi
"Kau masih belum memberi tahu padaku alasanmu datang ke sini," kata Raisa menuntut penjelasan.
Namun, Rumi hanya diam. Ia tersenyum tanpa memberi penjelasan seperti yang Raisa inginkan.
.
__ADS_1
•
Bersambung...