
Rumi hendak membantu Raisa yang ingin pergi ke kamar mandi, tapi baru membantu Raisa sampai terduduk, seseorang masuk ke dalam ruang rawat tersebut.
Kriiett~~
Bibi Sierra masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Rumi dan Raisa memang tidak melakukan hal yang aneh, tapi posisi Rumi yang sedang membantu Raisa untuk bangkit tetap saja bisa membuat orang salah paham saat melihat mrreka berdua yang saling berdekatan.
Melihat kedatangan Bibi Sierra yang tiba-tiba, Raisa pun langsung berbisik.
"Rumi, kau duduk saja dulu," bisik Raisa
Seperti seorang anak kecil yang penurut, Rumi pun langsung bergerak untuk duduk di kursi samping ranjang rawat~
"Sepertinya aku sudah mengganggu, harusnya aku mengetuk pintu dulu sebelum datang atau datang nanti saja," ucap Bibi Sierra
"Bibi Sierra, bicara apa? Kau sama sekali tidak mengganggu. Silakan masuk," ujar Raisa sambil tersenyum seperti biasa.
Karena tidak dilarang, Bibi Sierra pun berjalan mendekati Raisa~
"Baiklah. Bagaimana dengan kondisimu sekarang, Raisa?" tanya Bibi Sierra sambil melakukan pemeriksaan ulang pada Raisa.
"Sangat fit! Aku sudah baik-baik saja dan pulih sepenuhnya setelah pemulihan kemarin, harusnya aku sudah bisa langsung pulang, tapi Bibi tidak percaya padaku," jawab Raisa
"Siapa yang bisa percaya begitu saja saat melihat kondisimu seperti kemarin? Bahkan pacarmu saja sangat panik dan khawatir denganmu," ujar Bibi Sierra
"Kalian hanya khawatir berlebihan," kata Raisa
"Baiklah! Karena kau terus ribut ingin pulang dan cairan infusmu juga sudah habis, kau bisa pulang setelah ini. Aku sudah membawa pakaian Aqila untuk kau pakai saat ke luar dari rumah sakit karena tidak bisa mengambil pakaian di rumahmu yang terkunci," ucap Bibi Sierra sambil melepaskan selang infus dari tangan Raisa.
"Terima kasih! Akan segera kukembalikan setelah dicuci," kata Raisa
"Tidak perlu terburu-buru mengembalikannya. Aqila juga tidak masalah dengan itu," kata Bibi Sierra
"Oh, iya. Bagaimana dengan keadaan Aqila?" tanya Raisa
"Dia dan Morgan baik-baik saja seperti Rumi, mereka hanya mengkhawatirkanmu. Kemarin juga ada Chilla yang membantu mereka kembali. Sepertinya nanti mereka juga akan datang untuk menjemputmu pulang dari rumah sakit ini," jawab Bibi Sierra
"Kemarin aku juga sudah bertanya pada Rumi tentang keadaan mereka, tapi rasanya masih mengganjal jika tidak melihat dan memastikannya langsung," ucap Raisa
"Tidak seperti Rumi, mereka langsung pulang setelah ikut melakukan pemeriksaan," kata Bibi Sierra
"Rumi bersikeras ingin tetap di sini walau sudah kusuruh pulang dan istirahat di rumah. Dia menjadi keras kepala," ujar Raisa
"Itu karena dia sangat peduli dan sayang padamu. Dia menjadi keras kepala demi kebaikanmu dan memastikan kau baik-baik saja. Sepertinya Rumi tipe orang yang bisa diandalkan dan patuh demi dirimu," ucap Bibi Sierra
"Terima kasih karena bisa mengerti itu, Bibi Sierra," ucap Rumi
"Tapi, hati-hati! Karena ada juga tipe orang yang akan jenuh dan merasa sesak dengan perhatian yang berlebihan. Baik-baiklah dalam mengatur komunikasi kalian agar hubungan kalian tetap terjalin dengan baik," pesan Bibi Sierra
"Kami sudah saling memahami tentang hal seperti itu. Tenang saja, Bibi. Tapi, terima kasih atas nasehatmu," ucap Rumi
"Selang infusnya sudah kulepas, aku ke luar dulu," ujar Bibi Sierra
"Terima kasih," ucap Raisa
Bibi Sierra pun berlalu ke luar dari ruang rawat tersebut.
Raisa pun kembali pada tujuannya menuju ke kamar mandi. Ke luar dari kamar mandi, Raisa langsung menuju cermin kecil yang ada di dalam ruang rawat tersebut~
"Aku mau cepat-cepat pulang," gumam Raisa sambil melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
"Memangnya kenapa?" tanya Rumi yang dapat mendengar gumaman Raisa.
"Aku ingin segera menukar pakaian yang kupakai. Pakaian yang selalu Aqila pakai ini terlalu melekat dan pas di tubuh, terlihat ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh. Aku jadi terlihat gemuk saat memakainya, aku jadi merasa agak risih. Aku melihat Aqila cocok memakai pakaian seperti ini, tapi tidak denganku," jawab Raisa
Rumi berjalan mendekati Raisa yang sedang bercermin. Lalu, memeluk gadis cantik itu dari belakang. Rumi meletakkan dagunya pada pundak Raisa.
"Tubuhmu ini kecil dan ramping, tidak terlihat gemuk sama sekali. Selain itu kau sangat cantik dan tetap selalu cantik saat memakai pakaian mana pun," ucap Rumi memuji kecantikan yang dimiliki Raisa.
"Apa kau tidak merasa risih saat aku memakai pakaian yang seperti ini?" tanya Raisa
"Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Rumi bertanya balik.
"Karena ada sebagian tipe lelaki yang tidak suka ketika pacarnya memakai pakaian yang memperlihatkan postur tubuhnya dengan jelas pada khalayak umum," jelas Raisa
"Aku tidak berpikir sampai ke sana, tapi setelah kau mengatakannya sepertinya aku juga jadi tidak suka," kata Rumi
Sebelumnya, Bibi Sierra mengatakan akan ada yang datang menjemput Raisa yang hari ini pulang dari rumah sakit. Sepertinya itu adalah sekarang, karena Raisa mendengar suara obrolan dan langkah kaki beberapa orang yang mendekati ruang rawatnya itu.
"Rumi, lepaskan aku! Sepertinya akan ada yang datang," kata Raisa
"Tidak apa. Semua sudah tahu kalau kita berpacaran," enggan Rumi untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Raisa.
"Kau tidak mengerti. Ini tidak baik," kata Raisa
Kriiett~~
Benar saja, ada yang datang!
Tidak hanya Aqila dan Morgan, tapi teman lainnya juga. Mereka datang untuk menemani dan menjemput Raisa yang akan ke luar dari rumah sakit.
"Oh! Ada Rumi juga," kata Amy
"Sedang apa kalian di sana? Kenapa kalian berdua terlihat aneh begitu?" tanya Chilla
Begitu mendengar ada rombongan datang dan membuka pintu, Rumi langsung melepaskan pelukannya dari Raisa dan Raisa segera menjaga jarak dari Rumi~
"Aku baru saja selesai menukar pakaian pasiennya dari kamar mandi," kata Raisa dengan sedikit kikuk.
__ADS_1
"Kalian datang sangat cepat," kata Rumi sambil tersenyum tipis.
"Pakaian yang kau pakai itu punya Aqila, kan, Raisa?" tanya Morgan
"Benar. Bibi Sierra yang memberikannya padaku, katanya meminjam dari Aqila sementara waktu karena tidak bisa mengambil pakaian di rumahku yang terkunci," jelas Raisa
"Tidak usah pikirkan soal pakaian itu. Bagaimana keadaanmu, Raisa?" ujar Aqila bertanya.
"Sebenarnya aku sudah baik-baik saja dari kemarin, tapi aku tidak diperbolehkan untuk langsung pulang oleh Bibi Sierra," ungkap Raisa
"Raisa, kau jadi terlihat mirip dengan Aqila saat memakai pakaian miliknya," ucap Marcel
"Ya. Seperti saudara kembar yang sama-sama cantik," kata Dennis seraya memuji.
Rumi menjulurkan tangannya seolah ingin menghalangi tubuh Raisa walau tidak bisa sampai menyembunyikan seluruh kecantikan sang kekasih~
"Sejak kemarin Raisa sudah ribut ingin pulang ke rumah. Ayo kita segera ke luar dari rumah sakit ini," ujar Rumi
Rumi tampak tidak suka saat yang lain begitu memperhatikan penampilan Raisa yang berbeda. Ia mulai meresahkan hal yang dikatakan Raisa.
..."Sepertinya Rumi mulai mempermasalahkan penampilanku dan mereka yang melihatku berbeda dari biasanya. Seolah dia ingin aku cepat-cepat pulang untuk mengganti pakaian. Semudah itukah mempengaruhi cara pikirnya atau dia cemburu?" batin Raisa...
"Ya, ayo! Tidak nyaman terus berada di rumah sakit," setuju Ian dengan Rumi yang ingin segera pergi dari rumah sakit.
"Baiklah, ayo! Sepertinya juga akan lebih menyenangkan mengobrol di tempat lain atau di rumah Raisa," ucap Wanda
Mereka semua pun beranjak ke luar bersama-sama.
"Sepertinya kau jadi sering bolak-balik dari rumah sakit, ya, Raisa?" ujar Billy bertanya.
"Iya. Padahal aku sudah bertekad untuk tidak ingin masuk rumah sakit lagi setelah pernah dirawat dalam waktu yang lama saat di duniaku dulu," ucap Raisa menjawab.
"Memang kita tidak bisa mengatur atau memprediksi apa yang akan terjadi. Hal yang tidak diinginkan pun bisa saja malah jadi sering terjadi," kata Sandra
"Ya. Itu terdengar sangat merepotkan," sahut Devan
Setelah tiba di rumahnya, Raisa langsung izin ke kamar pribadinya karena ingin segera berganti pakaian. Begitu ke luar menggunakan pakaian miliknya sendiri, Raisa terlihat lebih nyaman dari pada saat memakai pakaian milik Aqila. Begitu juga dengan Rumi yang tampak tidak mempermasalahkan penampilannya lagi dan malah terlihat senang saat Raisa telah menukar pakaiannya.
Di rumah Raisa, mereka semua mengobrol bersama juga mengadakan acara makan-makan. Semua makanannya disiapkan oleh teman-teman, sedangkan Raisa diminta untuk duduk diam karena baru saja ke luar dari rumah sakit.
•••
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Raisa dipanggil ke kantor Pemimpin Desa bersama Aqila, Morgan, dan Rumi. Jika itu panggilan dari Pemimpin Desa langsung artinya ada misi yang penting atau mendesak.
"Maaf, sudah memanggil kalian pagi-pagi sekali. Lalu, bagaimana kabarmu, Raisa?" ujar Pemimpin Desa, Tuan Nathan bertanya.
"Seperti yang Anda lihat, aku baik-baik saja, Tuan," jawab Raisa
"Apa Ayah memanggil kami untuk memberikan misi? Kau keterlaluan, Ayah! Kau sendiri juga tahu, Raisa baru saja ke luar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, tapi Ayah sudah memanggilnya untuk melakukan misi," protes Morgan
"Raisa tidak keberatan pasti karena dia sungkan dengan Ayah! Rumi yang pacarnya saja pasti sangat keberatan, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak pasti punya pilihan! Apa lagi Aqila. Dia pasti sangat sungkan padamu yang merupakan idolanya yang disegani," kesal Morgan
"Cobalah untuk tenang sedikit," pelan Aqila
"Sudah tugasku untuk memenuhi panggilan misi. Walau pun harus ikut nelakukan misi, akan lebih bagus jika memang Raisa ditempatkan di tim yang sama denganku. Aku jadi lebih mudah untuk melindunginya. Karena itu aku tidak keberatan," ucap Rumi
"Biar bagaimana pun harus dipisahkan secara jelas antara tugas yang sudah menjadi kewajiban dengan urusan pribadi. Aku seratus persen baik-baik saja, jadi tidak ada yang membuatku untuk merasa keberatan. Lagi pula, aku sudah sangat bersemangat dengan apa pun misinya. Jadi, tidak apa dan terima kasih sudah mengkhawatirkanku," tutur Raisa
"Baiklah. Aku minta maaf karena tidak ada pilihan lain selain memanggil kalian, tim yang lain sudah punya misi mereka masing-masing, dan hanya tersisa tim kalian. Aku juga butuh Raisa untuk menambah anggota tim kalian, karena permintaan yang datang sebenarnya untuk dua tim. Ini misi yang mendesak juga penting, jadi mohon kerja sama kalian," ujar Tuan Nathan
"Jadi, apa misi kami kali ini, Tuan Pemimpin Desa?" tanya Aqila
"Apa kalian ingat, Andrew, anak Petinggi Negara Api? Dia akan menjalani sebuah pelatihan di desa ini dan kalian akan menjadi pengawalnya. Aku ingat Morgan juga pernah diminta menjadi pengawal pribadinya, kan? Kali ini dia minta lebih banyak pengawal," ujar Tuan Nathan mengungkapkan.
"Hah?! Dia!? Memangnya apa yang dia lakukan sampai meminta banyak orang untuk menjadi pengawalnya? Paling-paling dia hanya bermain-main saja," oceh Morgan
"Kau juga pasti ingat dia pernah mengalami hal buruk saat terakhir kali dia ke sini, kan? Dia jadi lebih berhati-hati dan meminta banyak pengawal untuk melindungi keamanannya," ujar Tuan Nathan
"Memangnya pelatihan apa yang dilakukannya di sini?" tanya Aqila
"Dia hanya mengirim permintaan dan tidak memberi tahu kegiatannya. Kalian bisa tahu setelah bertemu dengannya nanti," jawab Tuan Nathan
"Anak Petinggi Negara itu," gumam Raisa
"Kau tahu dia, Raisa?" tanya Rumi
"Ya. Aku ingat pernah melihatnya di dalam mimpiku," jawab Raisa
"Harusnya dia meminta pengawal lain, kenapa harus aku lagi, sih?" gumam Morgan
"Bukankah kau senang akan bertemu teman lama, Morgan? Jika dia hanya bermain-main, bukankah itu lebih bagus? Jadi, kita tidak perlu buang-buang tenaga selama menjadi pengawalnya. Ini akan mudah," ujar Raisa
"Ya, tapi itu sama saja buang-buang waktu," kata Morgan
"Kau ini, sebenarnya apa maumu!? Tadi kau protes saat Raisa diikut-sertakan dalam misi karena dia baru saja ke luar dari rumah sakit, harusnya kau bersyukur saat kita dapat misi yang mudah saat bersama Raisa. Mungkin ini juga lebih aman untuk Raisa, tapi sekarang kau juga protes setelah mengetahui misi kita. Seolah-olah kau malah meminta misi yang sulit. Sudah, jangan banyak mengeluh dan protes lagi! Terima saja misi kali ini dengan baik!" tegur Aqila
"Baiklah. Baik," patuh Morgan yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat pacarnya menegurnya dengan keras.
"Kapan kami akan mulai melakukan misi ini?" tanya Rumi
"Besok! Temuilah dia di Hotel AA," jawab Tuan Nathan
"Hotel itu lagi!"
"Itu bagus! Kau bisa memandu kami ke sana, Morgan. Karena hanya kau yang pernah ke sana sebelumnya saat jadi pengawalnya saat itu," ucap Rumi
•••
__ADS_1
Keesokan harinya.
"Jadi, ini tempatnya! Sepertinya hotel ini sudah di-booking lagi seperti waktu itu," ujar Raisa
"Aku pikir dia takkan mau datang ke sini lagi, terlebih lagi di sinilah saat dia diculik waktu itu," ucap Morgan
"Itu karena sebagian besar saham hotel ini milik Ayahnya yang merupakan Petinggi Negara Api, jadi lebih mudah untuk mengurus masalah penginapannya di sini," ungkap Aqila
"Ayo kita masuk," kata Rumi
Raisa, Rumi, Aqila, dan Morgan sudah sampai di pintu nasuk Hotel AA untuk menjalankan misi menjadi seorang pengawal untuk seorang Anak Petinggi Negara. Sejak mereka datang, di lobi hotel sudah dipenuhi dengan jajaran pria berseragam khusus yang diatur oleh Petinggi Negara untuk mengamankan Hotel.
"Sudah banyak sekali penjaga di sini, tapi kenapa dia masih butuh kita untuk menjadi pengawalnya?" heran Morgan bertanya.
"Entah itu karena dia hanya bermain-main atau malah kebanyakan uang, tapi kurasa alasan dia meminta pengawalan karena dia ingin bertemu denganmu lagi. Sepertinya Andrew rindu padamu," ucap Raisa
Seseorang dari jajaran penjaga menghampiri mereka berempat.
"Apa kalian adalah orang-orang yang diminta datang untuk menjadi pengawal Tuan Muda Andrew?" tanyanya
"Benar. Kami pengawal dari Desa Daun yang diminta datang hari ini," jawab Aqila
"Kalau begitu, mari ikuti saya untuk bertemu Tuan Muda."
Ia pun menunjukkan jalan menuju tempat Andrew berada.
"Tuan Muda, orang-orang dari Desa Daun sudah datang," lapornya
"Baik. Biarkan mereka tetap berada di sini, kau sudah boleh kembali ke tempatmu," ucap seorang Tuan Muda, Andrew.
Seperti kata sang majikan, ia pun kembali pada posisi penjagaannya di hotel tersebut.
"Sudah lama, ya, Morgan! Akhirnya kita punya kesempatan untuk bertemu lagi," sambut Andrew hanya pada Morgan.
Andrew yang duduk membelakangi mereka yang datang pun berbalik untuk melihat para pengawal barunya, terutama Morgan yang sudah lama sejak berpisah dengannya~
"Ya, Andrew! Bagaimana kabarmu?" sapa Morgan bertanya.
"Aku baik. Tapi, tunggu! Kenapa kalian hanya berempat? Aku memesan dua tim untuk jadi pengawalku. Bukankah itu seharusnya ada enam orang?" ujar Andrew bertanya dengan tatapan kecewa.
"Maafkan kami, Tuan Muda. Desa Daun kami sedang kekurangan orang untuk memenuhi permintaan panggilan misi, jadi hanya kami yang bisa memenuhi permintaan Anda," jelas Aqila
"Aku tidak peduli dengan alasannya. Yang penting aku sudah memesan dua tim dan di antara dua tim itu harus ada Morgan sebagai salah satu anggotanya. Itu artinya dua dari kalian anggota satu tim dengan Morgan dan satu tim yang lain hanya ada satu orang untuk menggantikannya? Apa dia yang seorang diri pantas menggantikan satu tim yang terdiri dari tiga orang? Apa kemampuannya sehebat itu?" protes Andrew tak terima dengan pengaturan Desa Daun untuk memilihkan pengawal untuknya.
"Hei, bocah! Kau masih sama seperti dulu, suka meremehkan kemampuan orang! Asal kau tahu, kemampuan Raisa itu termasuk yang paling hebat! Walau pun sekarang dia sedikit lemah, tapi dia masih mampu memerangi lebih dari sepuluh orang jahat, tahu!" geram Morgan
"Tenanglah, Morgan! Dia adalah prioritas kita dalam misi kali ini," ucap Aqila
"Wah, hanya seorang gadis bisa dibandingkan dengan tiga orang yang bekerja sama dalam satu tim?! Kau juga bilang dia sedang dalam keadaan lemah? Aku jadi ragu. Apa dia benar-benar pantas?" ujar Andrew bertanya-tanya.
"Hei, Tuan Muda! Tolong jaga sikapmu! Raisa itu adalah orang yang sering membantu kami di desa. Kami masih harus bekerja sama untuk nelindungimu, jadi mohon sedikit rasa hormatmu!" Aqila pun mulai kesal dengan tingkah Tuan Muda Andrew yang sangat meninggikan dirinya sendiri.
"Begitukah? Kalau begitu, aku nantikan pertunjukan kalian," kata Andrew
"Akan lebih gawat kalau Aqila yang marah, itu jauh lebih berbahaya!" Batin Morgan
"Sudahlah, Aqila. Kau menyuruhku untuk tenang, jadi kau pun harus tenang," kata Morgan
"Pertunjukan, katanya?! Memangnya kita orang-orang sirkus!?!" kesal Aqila
Aqila terlihat sedang berusaha menahan amarahnya dan Morgan pun sibuk menenangkan pacarnya itu~
Sedangkan, Raisa yang sedari tadi diremehkan hanya terus tersenyum kecil. Entah di hatinya sedang berperang untuk menahan amarahnya juga atau tidak.
"Sabar, ya, Raisa! Kau pasti yang paling merasa kesal mendengar ucapannya," ucap Rumi
"Tidak apa. Dia hanya anak kecil yang berusaha memiliki perlindungannya sendiri dengan ucapannya yang terdengar kasar itu. Ini seperti aku sedang menghadapi sikap keras kepala adikku sendiri, Raihan dan aku juga sering bertengkar kecil seperti itu," ujar Raisa
"Oh, jadi kau yang namanya Raisa yang hebat itu, ya? Aku ini bukan anak kecil lagi, aku terus bertumbuh dewasa dan sedang dalam pelatihan untuk menjadi lebih kuat. Akan kubuktikan pada kalian bahwa aku juga bukan orang yang lemah," ujar Andrew
"Begitu, ya? Kalau begitu, akan kami nantikan pembuktian darimu, Tuan Muda. Lalu, kau masih belum dewasa, walau kau bukan lagi anak kecil tetap saja kau ini masih dalam masa pertumbuhan. Kenalkan, namaku Raisa dan bukan 'yang hebat itu'. Tolong jangan terlalu mengharapkan pertunjukan karena itu artinya kau menginginkan sesuatu terjadi padamu. Kami hanya minta kau bekerja sama dengan baik," ucap Raisa membalas.
"Ternyata kau gadis yang memiliki sikap baik, itu bagus! Oh, ya. Karena kalian teman Morgan, jadi panggil saja aku Andrew. Teman Morgan, temanku juga! Kalau kau Raisa, berarti kau Aqila dan kau itu Rumi, ya?" Andrew sudah memiliki informasi tentang orang-orang yang akan jadi pengawalnya.
"Kau sudah tahu nama-nama kami? Tapi, kenapa kau masih mengajak kami ribut saat pertemuan pertama ini?" tanya Aqila
"Itu karena aku masih kecewa dengan pengaturan Desa Daun untuk kalian yang jadi pengawalku," jawab Andrew
"Jadi, pelatihan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Morgan yang mengalihkan pembicaraan saat melihat Aqila sudah mulai merasa kesal lagi.
"Pelatihan apa lagi yang kulakukan untuk jadi kuat? Ya, tidak jauh dari latihan yang sering kalian lakukan juga," jawab Andrew
"Kalau begitu, kenapa kau tidak sekalian masuk ke akademi saja?" tanya Rumi
"Belajar di akademi itu terlalu merepotkan! Akan lebih mudah jika memanggil guru untuk latihan secara pribadi," jawab Andrew
"Lagi-lagi, kau mengasingkan diri dan tidak mau bersosialisasi. Pantas saja sikap sombongmu itu masih saja belum hilang, kau tidak berubah dan sama saja seperti dulu," ucap Morgan
"Jadi, siapa yang kau minta untuk jadi gurumu kali ini?" tanya Raisa
"Ah, itu dia! Guruku baru datang," kata Andrew
Seorang pria dengan dua ekor anjing datang.
"Paman Mario!"
.
•
__ADS_1
Bersambung...