Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
39 - Mengirim Mereka Kembali.


__ADS_3

Dengan sangat kuat, Raisa mencoba menahan kesedihannya agar tidak pecah seperti Amy.


Dengan berat hati, ia harus berpisah lagi dengan teman-teman yang selalu ia rindukan. Terlebih lagi, dia sendiri yang akan mengirim mereka semua pergi untuk kembali ke dunia mereka yang berbeda dengan dunia tempatnya tinggal! Ini sungguh sulit lagi menyakitkan bagi perasaannya! Tapi, ia harus menerima kenyataan bahwa dunia mereka berbeda~


Ia harus rela, ikhlas, dan ekstra sabar menghadapi kenyataan pahit ini...


Dengan sangat berat hati, Raisa pun mengembangkan senyum ramah nan manisnya walau dengan sedikit paksaan.


"Hei, Raisa! Walau harus berpisah, kau jangan sampai rindu padaku ya... Kita kan akan segera ketemu lagi seperti katamu." Ucap Chilla diselingi dengan suapan keripik kentang ke dalam mulutnya.


"Hehe, aku tidak bisa berjanji untuk itu. Karena sepertinya di antara yang lainnya, kaulah yang paling kurindu..." Ujar Raisa


"Heh, menjadi gadis cantik yang seksi memang susah untuk tidak dirindukan. Jadi, akan kumaklumi perasaanmu." Kata Chilla dengan kepercayaan dirinya.


"Benar! Terima kasih sudah mau memaklumiku." Tutur Raisa


"Tidak perlu berterima kasih, antara para gadis memang harus saling memahami. Seperti kita, sahabat sejati!" Timpal Chilla


"Ah, Chilla, memang yang terbaik!" Sambar Raisa


"Tentu saja!" Kata Chilla


"Hei, percakapan apa yang kalian lakukan itu!? Menggelikan! Raisa, apa kau buta? Chilla gendut yang jelek ini, kau setuju mengatakannya cantik dan seksi?! Itu jauh sekali! Seperti bumi dan angkasa!" Tukas Ian dengan sinisnya.


"Hei, Ian yang bermulut tajam! Kau kaum para lelaki sampai kapan pun takkan mengerti selera pandangan serta penilaian para gadis... Jadi, kau diam saja!" Serang balik Chilla


Raisa hanya terkekeh pelan~


Sedangkan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya...


"Hei, Raisa, aku tak tau pertemuan kita selanjutnya kita yang datang ke mari atau kau yang berkunjung ke sana... Tapi, aku akan sangat menantikan datangnya kau ke dunia kami. Kau harus menepati janjimu untuk bertarung satu lawan satu denganku. Kau ingatlah dan camkan itu!" Ucap Sandra


"Baiklah, aku mengerti... Tak perlu kau ingatkan lagi." Balas Raisa


"Raisa, jaga dirimu baik-baik di sini. Semoga tak ada lagi kesulitan yang menghampirimu." Ujar Sanari


"Ya, terima kasih sudah mau memikirkanku." Kata Raisa


Raisa pun menarik nafas panjangnya...


Tangannya terulur untuk mengeluarkan sihir~


Syuuuhh~


Shaaa~~


Dari sihir yang dikeluarkannya, muncullah lingkaran hitam yang terus berputar dan kemudian terbuka seperti lubang pintu yang misterius!


"Yap, lokasinya sudah terdeteksi dengan tepat! Di seberang sana adalah dunia kalian. Desa Daun~


Kalian pulanglah..." Ujar Raisa


"Sampai jumpa lagi, Raisa!!" Serempak Billy, Marcel, dan Dennis.


Raisa pun mengangguk cepat!


Saat, Raisa mengedarkan pandangannya pada yang lain, tiba-tiba saja, Rumi sudah berada tepat di hadapan pandangannya...


"Oh, hai! Rumi... Emm, baik-baiklah kau dan kalian semua di sana, ya." Ucap Raisa sedikit gelagapan karena terkejut dengan adanya Rumi yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


Raisa memberi senyuman ramah yang manis khas dirinya. Namun, Rumi hanya berdiam diri menatapnya tepat di hadapannya. Itu membuat Raisa gugup!


Tubuh Raisa menegang! Darahnya mendesir hebat~


Hingga Raisa merasa sedikit gemetar mendapat tatapan yang begitu intens dari Rumi...


Senyuman manisnya kini berubah menjadi canggung karena menyadari jantungnya yang berdetak lebih cepat.


Dan, Raisa pun merutuki dirinya sendiri karena tubuhnya yang memberi respon aneh setiap berhadapan dengan lelaki yang satu ini...

__ADS_1


...'Uh, kenapa tiba-tiba Rumi berdiri sangat dekat di depanku? Oh, ayolah... Aku terus menahan rinduku yang memuncak dan sekarang pun dia bersama yang lain akan pergi, kita akan berpisah lagi! Kenapa aku harus berhadapan dengannya sedekat ini!? Rasanya seperti perlahan-lahan kehabisan nafasku! Tak bisakah dia pergi saja dengan tenang dan menjauh dariku sekarang juga?!' Batin Raisa...


Walaupun merasa begitu, Raisa tak bisa menolak ataupun mencegah apa lagi membenci Rumi, lelaki yang saat ini tepat berada di hadapannya~


"Uhm... Rumi, ada apa denganmu?" Tanya Raisa


Tanpa langsung menjawab, dengan gerakan secepat kilat Rumi malah memberi respon dengan langsung memeluk Raisa!


Dengan tubuh yang hampir terjungkal ke belakang, Raisa menerima pelukan itu dengan penuh tanda tanya(?)~


...'Apa ini... Nyata? Rumi memelukku!? Sungguh, aku tak mengerti! Sebenarnya, ada apa dengannya? Ya ampun, jantungku mau meledak!' Batin Raisa...


"Eh, R-Rumi?! Kenapa kau, tiba-tiba...?" Heran Raisa penuh tanya.


"Tak apa kan, kalau aku memelukmu seperti ini? Raisa...?" Tanya Rumi dengan penuh kehati-hatian.


"Ah! Hmm... Ya, tentu. Boleh saja." Kata Raisa tanpa penolakan.


...'Bagaimana aku bisa menolak jika kau saja sudah memelukku seperti ini? Kau tau, aku sungguh tak bisa menolakmu, Rumi... Sampai kapan pun itu! Dan, sebenarnya~ Ini...' Batin Raisa...


'Sungguh, terasa sangat nyaman!!' Batin Raisa dan Rumi bersamaan dalam hati, tanpa mengungkapkannya.


"Heh, kalian lihat, bukan? Senenarnya bukan aku yang sangat mengkhawatikan Raisa, melainkan, Rumi! Itulah buktinya... Rumi sangat mengkhawatirkannya sampai tak tahan bahkan hingga memeluknya." Ucap Morgan yang menyangkal pernyataan semua temannya sebelumnya. Padahal kenyataan bahwa ia sangat mengkhawatirkan Raisa adalah benar adanya. Karena sebenarnya, Morgan adalah pribadi yang sangat peduli dengan semua temannya. Tak terkecuali satu pun, termasuk juga Raisa...


"Heh, kau masih berusaha menyangkalnya? Sudahlah, kau dan Rumi... Kalian berdua itu sama saja! Bedanya hanya, jika kau yang terus berkoar dan memperlihatkan kekhawatiranmu sebelumnya, lalu jika Rumi, dia menyembunyikan kekhawatirannya sebelumnya dan lebih bertindak saat bertemu dan saat hendak berpisah. Itu saja!" Ujar Aqila


"Aqila, benar! Kau dan Rumi sama saja namun dalam kepribadian yang berbeda... Cara menunjukkan kekhawatiran kalian pada Raisa juga tentu berbeda. Tapi, apa kalian lihat? Kenapa Rumi sampai berprilaku segitunya terhadap Raisa? Aku merasa sedikit aneh terlebih mengingat Rumi yang selalu bersikap dingin... Ah, kalian benar-benar merepotkan!" Kata Devan


"Benar! Aku juga heran..." Serempak Ian dan Aqila


Aqila, Morgan, Devan, Ian, pun saling bertukar pandang dengan penuh tanda tanya(?)


Sedangkan Chilla hanya asik dengan camilan keripik kentangnya..


Dan yang lainnya hanya bingung sambil menatap Rumi yang memeluk Raisa~


Hanya si pelaku saja yang tak peduli.


Hup!


UGH...


Raisa membekap mulutnya~


Mendengar penuturan Rumi membuat Raisa tersentak! Hampir saja Raisa menangis saat mendengar apa yang Rumi ungkapkan. Jika saja Raisa tak langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, mungkin Rumi sudah dibuat terkejut dengan suara tangisannya...


Butiran bening menetes dari kelopak mata Raisa. Hatinya tersentuh! Kata-kata yang ia dengar menyejukkan kalbunya~


Untuk saat ini saja, rasanya pertahanan yang selalu ia jaga serasa runtuh begitu saja... Namun, sekeras mungkin ia berusaha menahannya.


...'Rumi, apa kau sungguh tau dan menyadari apa yang sudah kau katakan itu? Apa aku boleh berharap sekarang? Apa dengan begini, aku bisa menyimpulkan bahwa perasaanku terbalaskan? Apa aku sungguh boleh mengharapkan sesuatu darimu? Apa kau dan aku sungguh bisa menyatu menjadi suatu kesatuan... 'KITA'!? Apa aku sudah boleh tidak khawatir dan merasa takut lagi?' Batin Raisa...


Dengan semua keteguhan hatinya, Raisa mengakhiri tangusannya yang tertahan itu... Ia menghapus air matanya yang berjatuhan. Kedua tangannya berangsur membalas pelukan Rumi.


Dan saat itu juga, Rumi mengeratkan pelukannya pada Raisa~


Namun, itu tak bertahan lama... Karena Raisa yang menyudahi pelukan mereka. Ia melepaskan pelukannya dan sedikit memaksa Rumi untuk melakukan hal yang sama...


Dengan lepasnya pelukan antara keduanya, Raisa menyunggingkan senyuman termanis paling indahnya pada Rumi, lelaki di hadapannya~


"Aku sungguh tak tau bahwa kau sebegitu khawatirnya padaku. Tapi, aku sungguh tisak apa... Aku baik-baik saja! Sampai kapan pun aku akan baik-baik saja. Tenanglah... Kau lihat, kan? Aku masih bisa berdiri tegak di depanmu! Aku pun masih mau menghabiskan banyak waktu dengan kalian semua nantinya... Kau percaya padaku, kan? Akulah orang yang pertama kali senang bertemu dengan kalian semua walau hanya dalam mimpi. Aku bersyukur memiliki takdir untuk bertemu dengan kalian semua. Jadi, percayalah padaku... Aku akan selalu menjaga diriku dan akan tetap baik-baik saja agar bisa bertemu kalian lagi di kemudian hari. Sampai kapan pun akan selalu begitu. Aku berjanji!" Jujur Raisa


"Aku sungguh merasa tenang setelah mendengarnya. Berusahalah untuk terus dan tetap tepati janjimu yang barusan kau katakan itu! Jika kau sampai lupa, aku sendiri yang akan mendatangimu langsung untuk menagih janjimu itu... Ingatlah itu selalu!" Ujar Rumi


Raisa terkekeh geli mendengar apa yang Rumi katakan. Ia merasa Rumi sangat lucu saat ini. Ia merasa ingin sekali mencubit pipi Rumi, tapi itu hanya sekedar keinginannya saja... _Menggemaskan sekali!_


Rumi yang melihat Raisa berekspresi seperti itu tepat di hadapannya, membuatnya ingin sekali kembali menariknya dalam dekapan. Namun, ia hanya bisa terpaku melihat pemandangan indah yang Raisa tunjukkan padanya~


"Baik, baiklah... Aku mengerti! Akan kuingat selalu~ Karena itu pun adalah keinginan terbesarku sendiri... Aku takkan melupakannya, sungguh!" Kata Raisa

__ADS_1


Merasa cukup menyaksikan pemandangan langka yang aneh itu, Devan dan yang lain pun kembali bersiap...


"Baiklah, kami berangkat ya, Raisa." Pamit Devan


"Ah iya, aku serahkan pelaku ini pada kalian. Mohon bantuannya..." Ucap Raisa


"Ya, serahkan saja pada kami!" Kata Morgan


"Sekali lagi, terima kasih sudah mau datang mengunjungi dan membantuku. Aku sangat senang bertemu dan mendapat bantuan dari kalian... Selain aku jadi dimudahkan, aku bisa melepas rindu dengan mengobrol walau sebentar dengan kalian semua. Aku senang sekali!" Ujar Raisa


"Kau berlebihan, Raisa! Kami tidak melakukan apa-apa, kau menyelesaikan urusanmu sendiri." Kata Aqila


"Tidak kok! Aku sungguh terbantu saat di antara kalian yang menjaga dan menahan lima orang yang terpengaruh sihir pengendali pikiran tadi. Dan, sekarang kalian mengantikanku membawanya untuk diberi pengadilan dan menghukumnya. Terima kasih banyak..." Ungkap Raisa


"Sudahlah, yang kami lakukan juga tidak banyak. Jadi, kau juga tak perlu berlebihan. Jaga saja dirimu baik-baik." Ucap Ian


"Benar. Jagalah dirimu selama kita tak bersama..." Ujar Rumi yang menepuk dan mendaratkan tangannya pada bahu Raisa.


Raisa mengangguk tanda mengerti...


Ia meraih tangan Rumi yang berada di bahunya. Menggenggamnya perlahan dan berangsur melepaskannya~


"Terima kasih atas perhatian kalian semua. Kalian juga harus baik-baik di sana tanpaku, ya." Pesan Raisa


"Oh ya, aku hampir lupa mengingatkan! Jika, kalian datang berkunjung ke mari dengan penyamaran pula... Setidaknya pakailah jubah berwarna putih, jangan hitam! Dengan warna putih menandakan kalian berada di pihakku. Seperti lambang inti kekuatan sihirku, Bunga Teratai 'Putih'! Tadinya, hampir saja aku mengira kalian adalah bala bantuan dari pihak musuh dengan jubah hitam kalian itu!" Sambung Raisa mengingatkan.


"Ah, ya! Kami tidak memikirkan itu sebelumnya. Baiklah, akan kami ingat!" Ucap Wanda


"Kalau sampai ada yang lupa, tenang saja... Ada aku yang akan mengingatkan yang lain." Kata Amy


"Hei, Paman! Maafkan aku, ya. Padahal dengan keadaan kau sekarang seperti sudah terbebas dari masalah, tapi setelah ini kau malah akan masuk ke dalam penjara." Tutur Raisa pada si pelaku jahat.


"Kau tadi memanggilku apa?" Tanyanya, heran.


"Aku memanggilmu, Paman... Karena sepertinya usiamu memang melebihiku. Tapi, terlalu muda juga jika kupanggil kau dengan sebutan Kakak. Kau tak salah dengar kok. Aku juga tak salah, kan?" Ujar Raisa


"Oh! Ya, aku tidak apa. Aku yang memilih untuk terus hidup bersama kawanku, di mana pun mereka berada. Di penjara sekali pun, jika kita bersama orang-orang yang kita sayang, maka akan terasa indah. Kebersamaan akan melengkapi hidupku. Aku malah merasa kau lebih kasihan dari pada aku." Ungkap si pelaku tersebut.


"Hahaha, Paman, kau tak perlu mengasihaniku. Tapi, terima kasih juga sudah mau memikirkanku. Bagaimana pun kami masih punya banyak waktu untuk saling mengunjungi dunia masing-masing." Ucap Raisa


"Kau ini terlalu baik, Raisa! Kau terlalu terlalu memikirkan orang lain! Padahal dia telah mencari masalah di duniamu, menyebarkan terror dengan sihir pengendali pikiran!" Kata Billy


"Sudahlah, jadi manusia itu harus bisa saling memaafkan. Dengan begitu, dunia baru terasa damai dan tentram!" Ungkap Raisa


"Yasudah, kami pergi, Raisa..." Kata Dennis


"Kami menantikan waktu kita bertemu kembali. Sampai jumpa, Raisa!" Ucap Marcel


Setelah lama berbasa-basi menunda perpisahan mereka, satu persatu dari mereka pun memasuki portal antar dimensi. Bersama si pelaku yang ikut dibawa bersama untuk mendapat hukuman yang sepantasnya di dunia sana...


Shaaa!


Setelah semua pergi, perlahan pintu portal antar dimensi pun tertutup! Menyisakan Raisa seorang diri di sana~


Tetap dengan senyuman yang terlihat dipaksakan itu, Raisa mengusap ujung matanya yang mengeluarkan titik air bening...


...'Rasa kesedihan itu memang menghampiri lagi, tapi setidaknya perasaan terasa sedikit lega karena sudah melihat mereka walau hanya sebentar saja.' Batin Raisa...


"Yap, tugasku di sini sudah selesai! Waktunya pulang! Semoga orang rumah ga terlalu khawatir karena aku pergi cukup lama." Gumam Raisa


.



Bersambung...


¤: [Interaksi Dengan Pembaca] 》


"Dalam ungkapan batin Raisa, ada yang mengatakan dia 'khawatir dan merasa takut' saat berada di pelukan Rumi. Kira-kira kenapa dia merasa begitu, ya?

__ADS_1


Menurut kalian, apa jawabannya?"


__ADS_2