Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 20 - Sistem Mekanisme Pertahanan Diri.


__ADS_3

Semua telah berakhir. Sang Dewa telah berhasil dikalahkan dan tewas.


Setelah pertarungannya dengan Sang Dewa berakhir dan telah mengalahkan Sang Dewa, tubuh Raisa langsung terasa lemas. Namun, Raisa masih sanggup berdiri dengan tegak.


Saat itu, Tuan Nathan dan Paman Elvano, beserta yang lainnya langsung menghampiri Raisa.


"Raisa, bagaimana dengan keadaanmu? Kau baik-baik saja?" tanya Rumi karena merasa cemas.


"Ya, aku baik-baik saja. Sang Dewa sudah dikalahkan, semua sudah berakhir. Sekarang kau aman," jawab Raisa sambil tersenyum puas.


"Apanya yang aman dan baik-baik saja? Aku mencemaskan dirimu. Akulah yang tidak baik-baik saja," ujar Rumi


"Bukankah sudah kubilang agar kau tetap tenang? Bukan pertama kali hal seperti ini terjadi. Aku juga sudah terbiasa," ujar Raisa


"Jika itu dirimu, aku tidak ingin jadi terbiasa ... " kata Rumi


"Sudah biasa, apanya!? Bukankah ini baru pertama kali terjadi? Katanya, kau kehilangan seluruh kemampuan sihirmu ... tapi, kami semua melihat kau melawan Sang Dewa itu dengan sihir! Kau pikir kami semua bodoh atau buta!? Pembohong ... kau penipu! Kau menyembunyikan kenyataan ini semua karena kau adalah komplotan Sang Dewa yang kau bunuh itu dan hanya sedang berpura-pura, kan!?" tanya Amon dengan amarah yang meluap-luap.


"Meski sudah terbiasa, aku pun merasa lelah. Amon, bisakah hal ini dibicarakan nanti saja? Akan kuungkap sekalian saat memberi laporan pada Tuan Nathan saja," ujar Raisa


"Benar. Hal ini bisa kita bahas nanti. Akan kusuruh orang untuk mengurus jasad Sang Dewa ini dulu," ucap Tuan Nathan


"Ya. Aku juga akan memeriksa ... jika, mungkin masih ada bawahan Sang Dewa yang lainnya di sini," kata Paman Elvano


"Bawahan Sang Dewa itu memang masih ada di sini. Harusnya kau membawa Raisa untuk diintrogasi," ucap Amon


"Raisa, bukan bawahan siapa pun. Dia bukan penjahat," bela Rumi


"Raisa adalah pihak kita. Aku memang akan menanyakan apa yang telah terjadi padanya di tempat lain," ucap Tuan Nathan


"Aku tidak menyadari kehadiran Tuan Nathan dan Paman Elvano di sini. Sungguh ... aku minta maaf," ucap Raisa


"Tidak apa," kata Tuan Nathan


"Raisa, kau bilang kau lelah, kan? Kau harus istirahat, kau juga harus diperiksa. Haruskah aku mengantarmu ke rumah sakit? Kau bisa melakukan pemeriksaan di sana," ujar Rumi


Rumi langsung merengkuh tubuh Raisa dan sudah bersiap untuk membawa gadis itu pergi. Namun, Raisa malah menjauhkan dirinya dengan mendorong pelan tubuh Rumi.


"Aku tidak mau ke rumah sakit, aku baik-baik saja. Kalau diperkenankan, aku mau ke rumah saja. Tuan Nathan dan Paman Elvano juga yang lain bisa menanyaiku apa saja di rumahku. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Raisa


"Baiklah. Kita ke rumahmu saja," kata Tuan Nathan

__ADS_1


"Aku akan membawamu pulang." Rumi langsung menggendong (ala bride style) Raisa dalam pelukannya dan membawa pergi gadis itu ke rumahnya.


"Rumi, apa-apaan kau ini di depan Tuan Nathan dan Paman Elvano juga yang lain!? Buat malu saja," bisik Raisa


Meski begitu, Rumi malah mengeratkan pelukannya pada Raisa yang sedang berada dalam gendongannya.


 


Di rumahnya, Raisa duduk di sofa menunggu kedatangan Tuan Nathan dan Paman Elvano yang sedang mengurus masalah jasad Sang Dewa lebih dulu sebelum menanyainya.


Di sana, ada Rumi, Morgan, Amon, Aqila, Chilla, Devan, dan Ian yang menemaninya.


"Raisa, apa kau tidak mau berbaring di ranjang saja? Kau pasti lelah, kan?" tanya Rumi


"Tidak perlu, tidak apa. Aku di sini saja karena Tuan Nathan dan Paman Elvano akan datang," jawab Raisa


"Raisa, kami masuk, ya ... " Paman Elvano masuk ke dalam rumah Raisa bersama Tuan Nathan setelah mengetuk pintu.


"Silakan. Maaf, jika kondisi rumahku kurang berkenan ... " ujar Raisa


"Tidak apa. Tidak perlu sungkan dengan kami," ucap Tuan Nathan


Raisa merasa sedang diintrogasi sungguhan. Karena di antara banyak orang yang ada, hanya dirinya yang duduk dan harus menjawab pertanyaan yang diberikan.


"Katakan dulu tentang informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh Morgan dan Aqila. Katanya, informasi itu datang dan berasal darimu. Bagaimana kau tahu detail tentang itu semua?" tanya Tuan Nathan karena tahu Raisa merasa bingung harus mulai menjelaskan dari mana.


"Tentang kelemahan dan cara mengatasi Sang Dewa! Itu karena aku adalah pemilik asli dari kemampuan sihir yang digunakan Sang Dewa. Aku tahu konsekuensi yang didapat jika menggunakan kemampuan ini dengan niat yang salah dan jahat, aku juga pernah mengalaminya sendiri," ungkap Raisa


"Pada umumnya, konsekuensi yang didapat jika menggunakan kemampuan suci ini dengan niat yang salah dan jahat adalah penggunanya akan merasakan sakit dan tenaga sihirnya melemah. Namun, berbeda dengan kasus Sang Dewa. Karena memiliki pribadi yang kuat, Sang Dewa pasti tidak merasakan rasa sakit itu, tapi sebagai gantinya ... karena terus menerus berbuat jahat dengan menggunakan kemampuan suci ini, tenaga Sang Dewa akan semakin melemah hingga akhirnya kemampuannya akan lenyap sepenuhnya dengan sendirinya," sambung Raisa menjelaskan.


"Tapi, tadi yang kami lihat kau sendiri yang menghilangkan kemampuan sihir Sang Dewa dengan menyerap kembali tenaga sihir yang awalnya kau miliki, kan?" tanya Paman Elvano


"Benar. Membiarkan Sang Dewa berbuat sesuka hati dengan membabi buta sampai kemampuan sihirnya lenyap sepenuhnya dengan sendirinya adalah rencana awal. Namun, karena kemampuan sihirku telah pulih dan kembali ... aku memilih untuk mengakhirinya dengan tanganku sendiri. Karena kalau diteruskan dan menunggu kemampuan sihir Sang Dewa lenyap, yang ada kekacauan yang ditimbulkannya akan semakin parah," jawab Raisa


"Lalu, bagaimana bisa kemampuan sihirmu pulih kembali setelah inti sihirmu dirampas 4 tahun yang lalu? Bukankah harusnya kaulah yang telah kehilangan kemampuan sihirmu?" tanya Paman Elvano lagi.


"Itu karena ... sebenarnya inti sihir yang dirampas oleh Sang Dewa 4 tahun yang lalu hanyalah cangkang kosong yang berisi tenaga sihir cadangan. Sedangkan seluruh kemampuan sihir yang seharusnya ada di dalam inti sihir itu telah terserap ke dalam tubuhku dan mengalir di seluruh darahku," ungkap Raisa


"Bagaimana kami bisa memastikan jika ucapanmu itu benar? Kau bisa saja hanya mengada-ada cerita untuk menipu kami," ujar Amon menyangkal ucapan Raisa karena enggan percaya pada gadis itu.


"Ada yang memberitahu padaku tentang ini semua. Saat aku pingsan setelah terkena pukulan Sang Dewa tadi, itu karena alam bawah sadarku memaksaku masuk ke dalamnya. Di sana aku bertemu Burung Api Legenda yang sebelumnya telah merasuki diriku. Burung Api Legenda sendiri yang mengatakan padaku bahwa ia telah melindungi kemampuan sihir suci milikku di dalam diriku selama 4 tahun aku tidak menggunakannya," ungkap Raisa

__ADS_1


"Burung Api Legenda menjelaskan padaku ... alasan aku tidak bisa menggunakan kemampuan sihir selama 4 tahun ini adalah karena penghubung antara alam bawah sadarku dan kesadaran roh sihir milikku terputus. Tanpa sadar, aku ingin memblokir ingatan tentang kemampuan sihir yang kumiliki karena mengalami trauma setelah inti sihirku dirampas. Ini mirip seperti sistem mekanisme pertahanan diri dengan mengubur dalam-dalam atau melupakan suatu ingatan dan berakhir dengan aku mengabaikan tentang kemampuan sihir yang kumiliki karena trauma dan kesedihan," sambung Raisa


"Sekarang, kau sedang membual apa? Burung Api Legenda, ya hanya ada dalam legenda. Mana mungkin burung itu ada dalam dirimu!?" tanya Amon yang lagi-lagi menolak untuk percaya.


"Raisa, tidak berbohong. Akulah saksi bahwa Burung Api Legenda memang merasuk ke dalam diri Raisa," ucap Rumi


"Ya. Aku dan Rumi yang menyaksikan dengan mata kami sendiri saat Burung Api Legenda ditaklukan dan akhirnya merasuki diri Raisa," ungkap Aqila


"Aku mengatakan yang sesungguhnya, tapi aku tidak bisa memanggil Burung Api Legendaris itu ke luar dari tubuhku untuk membuktikannya karena jika aku melakukannya rumah ini mungkin terbakar karena ukuran Burung Api Legendaris yang sangat besar," ucap Raisa


"Apa kau bisa membuktikannya dengan cara lain selain memanggil Burung Api itu ke luar dari tubuhmu?" tanya Paman Elvano


"Bisa. Aku bisa meminjam api suci abadi milik Burung Api Legendaris untuk diperiksa keaslian keberadaan hewan suci itu. Paman Elvano dan Tuan Nathan, bisa memeriksanya, kan?" tanya balik Raisa setelah menjawab.


Tuan Nathan dan Paman Elvano pun mengangguk secara bersamaan.


Raisa pin menjentikkan jarinya dan dari ujung jarinya muncul sepercik api kecil yang merupakan api suci abadi milik Burung Api Legendaris alias Phoenix.


"Kau bilang api kecil ini adalah api suci abadi milik Burung Api Legendaris?" tanya Amon dengan nada meremehkan.


Raisa mengangguk.


"Aku harap tidak ada lagi yang meragukan ucapanku setelah api ini diperiksa," kata Raisa


"Aku tidak suka dengan lelaki bernama Amon itu," Helio Sang Phoenix bicara dari dalam diri Raisa.


"Tenangkan dirimu, Helio. Dia juga termasuk temanku, meski dia belum percaya padaku saat ini." Raisa membalas ucapan Helio.


Tuan Nathan dan Paman Elvano pun memeriksa api di ujung jari Raisa dengan kemampuan sihir mereka masing-masing.


"Api ini memanglah api suci abadi milik Burung Api Legendaris," ungkap Paman Elvano


"Aku juga mendengar pembicaraanmu dengan Burung Api Legendaris yang ada di dalam dirimu. Apa kau menyebutnya Phoenix dan namanya adalah Helio? Ia juga mengatakan tidak suka dengan Amon karena selalu berkata kasar dan tidak percaya padamu," ujar Tuan Nathan


"Ya. Itu memang benar," kata Raisa seraya terkeleh kecil.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2