Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
139 - Tidak Bisa Dimintai Keterangan.


__ADS_3

Walau tak bisa mengingatnya, Raisa tak ingin menjauh dari Farah. Mencoba mulai untuk kembali akrab dengan keponakannya, mungkin dapat merangsang ingatannya untuk pulih. Itulah harapan Raisa...


Setelah asik bermain dan terus tertawa bersama, Farah akhirnya tertidur dengan berbaring di sofa kamar rawat inap Raisa.


"Farah, tidurnya pulas ya..." Kata Raisa yang melihat Farah tidur dari ranjang rawatnya.


"Apa yang kamu rasain setelah main sama Farah? Kepala kamu sakit lagi gak, Raisa?" Tanya Raina


"Enggak kok, Kak. Malah terasa seru, asik!" Jawab Raisa


"Terus, kenapa tadi kamu sempat sakit kepala ya?" Tanya Raina


"Itu karena aku gak ingat sama Farah. Kata Dokter, aku ini lupa ingatan kan?" Ujar Raisa


"Kok kamu tahu? Kamu dengar waktu Dokter bicara di luar tadi ya?" Tanya Raina


Raisa menggeleng pelan...


"Aku gak dengar, aku hanya asal menebak. Nasehat Dokter itu penting untuk pasiennya. Dokter terus menekankan untuk aku bisa tenang, gak mikir tentang hal yang aku gak ingat, gak boleh terbebani dengan itu semua, pikirin aja yang buat aku senang. Semua bertumpu pada pikiran! Dan dari sakit kepalaku tadi, aku tebak susunan ingatanku lagi gak normal sekarang sampai aku melupakan sesuatu. Aku hanya mau ikut kata Dokter yang pastinya terbaik untuk kondisi aku. Mungkin sekarang ini ingatan aku seperti aliran sungai yang terhambat sesuatu, suatu saat nanti pasti akan ada caranya untuk aliran sungai itu kembali lancar dan aku bisa ingat semuanya lagi. Itu yang bisa aku pikirin sekarang. Aku hanya sedikit gak habis pikir... Farah, keponakan aku dan aku lupa sama dia padahal dia pasti termasuk ingatan yang penting untuk aku. Terus, ingatan penting apa lagi yang aku lupain?" Ungkap Raisa


Semuanya cukup terkejut mendengar Raisa bisa menebak semua itu...


"Anak Ibu emang cerdas! Udah sakit sampai lupa ingatan juga masih aja bisa nebak apa yang terjadi." Ucap Bu Vani


"Jadi, aku benar-benar kecelakaan ya? Padahal yang aku ingat aku lagi sakit. Apa kecelakaan kali ini berhubungan sama sakit yang aku ingat? Apa sakitku kambuh di jalan terus jadi kecelakaan?" Tanya Raisa


"Enggak. Selain karena adanya kecelakaan itu, kamu itu sehat, Sayang. Sakit yang kamu maksud itu sudah lama sembuh. Kamu kan anak Bapak yang kuat!" Jawab Pak Hilman


"Oh, begitu... Ibu, Bapak, juga semuanya pasti kaget dan khawatir banget waktu dengar kabar aku kecelakaan. Maafin aku yang udah buat kalian semua khawatir ya, ini pasti salah aku yang gak hati-hati." Ujar Raisa


"Itu udah lewat, Kak. Yang penting Kak Raisa selamat dan sekarang bisa dibilang baik-baik aja, walau banyak lukanya sih." Kata Raihan


Raisa tersenyum kecil...


"Aku emang baik-baik aja kok. Aku janji, bakal cepat sembuh, bakal cepat pulih ingatannya juga, supaya semuanya kembali normal lagi." Ucap Raisa


"Iya, kamu fokus buat sembuh aja jangan pikirin yang lain." Kata Arka


"Ngomong-ngomong, sebenarnya sekarang ini... Hari, tanggal, bulan, dan tahun berapa ya?" Tanya Raisa


Semuanya saling pandang memandang. Mereka bimbang antara beri tahu atau tidak. Yang mereka takutkan adalah saat Raisa tahu waktu saat ini, itu akan memicu ingatannya berputar menelaah kembali waktu yang telah ia lupakan.


"Kasih tahu dong. Gak apa, aku gak bakal maksa buat ingat kok, hanya mau tahu waktu akurat saat ini aja..." Kata Raisa


"Sekarang ini sudah Minggu, xx - xx - 20xx." Akhirnya Bu Vani menjawab pertanyaan Raisa.


Raisa menunduk.


"Wah, ingatanku hilang kurang lebih 4 tahun! Lama juga... Pantas aja, Farah sudah sebesar sekarang ini." Gumam Pelan Raisa


Raisa kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum.


"Mendingan, Kak Raina dan Kak Arka pulang aja... Bawa Farah, kasihan dia kalau terus tidur di sofa kayak gitu. Raihan juga ikut pulang aja, temanin Farah main di rumah. Aku sama Ibu dan Bapak aja di sini, gak apa kok." Ucap Raisa


"Benar kata, Raisa. Kalian pulang aja." Kata Bu Vani


"Ya, biar Raisa Ibu dan Bapak yang jaga di sini. Gak usah khawatir lagi, kalian kan udah tahu kondisi Raisa sekarang." Ujar Pak Hilman


"Benar gak apa nih, kalau kita pulang?" Tanya Arka


"Iya, pulang aja. Istirahat di rumah." Jawab Bu Vani


"Ya udah, kalau ada hal penting langsung kasih kabar ya." Kata Raina yang perlahan sedang menggendong Farah.


"Raihan, ikut Kak Raina pulang ya." Pamit Raihan


"Kak, kalau ada kesempatan tolong sampaikan maaf Raisa untuk Farah. Maaf, karena udah lupa sama anak lucu sepintar dia..." Pinta Raisa


"Santai, Sa. Kondisi kamu sekarang ini kan bukan maunya kamu, kakak juga udah kasih pengertian ke Farah kok dan dia cukup mengerti kondisi kamu. Nanti kakak sampein ya..." Ucap Raina


Raisa pun tersenyum...


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya." Pamit Raina


"Pamit, Bu, Pak. Cepet sembuh ya, Raisa." Kata Arka


"Hati-hati di jalan ya." Pesan Raisa


Raina, Raihan, Farah, dan Arka pun pamit untuk pulang...


Tinggallah Raisa bersama dengan Bu Vani dan Pak Hilman seperti sebelumnya...


•••


Keesokan harinya...


Setelah waktu sarapan pagi, seperti biasa Dokter datang berkunjung untuk melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


"Selamat pagi, Raisa..." Sapa Dokter


"Pagi juga, Dok." Balas Raisa sambil tersenyum.


"Wah, ceria sekali! Sekarang, bagaimana keadaannya? Apa yang dirasakan?" Ujar Dokter bertanya.


"Baik sih, Dok, walau badan masih pada sakit. Rasanya ngilu seluruh badan." Jawab Raisa


"Yah, kondisi seperti itu memang wajar dirasakan pasca kecelakaan." Ucap Dokter


"Dok, sepertinya saya mengerti tentang kondisi saya. Tapi, apa boleh saya dengar langsung dari mulut Dokter? Sebenarnya apa yang saya alami ini?" Ujar Raisa bertanya.


Dokter tersenyum ramah.


"Karena terjadi benturan di kepala saat kecelakaan, saat ini ingatan kamu terhenti di sekitar 4 tahun yang lalu, sementara memori dalam kurun waktu itu seolah hilang terlupakan. Raisa mengalami apa yang namanya Amnesia Sementara. Kamu akan pulih jika menuruti semua saran saya kemarin..." Jelas Dokter


"Ternyata, emang benar begitu. Terus, kapan ingatan saya bisa pulih lagi? Kapan gipsnya bisa lepas? Tangan saya ini retak atau patah?" Sambung Raisa bertanya.


"Hanya kamu yang bisa membangkitkan semua ingatan yang sudah kamu lupakan. Saat ini, bisa dibilang semua ingatan yang hilang seolah terkubur di bagian paling dalam pada memori kamu yang tersusun secara acak. Ingatan yang hilang itu bissanya adalah yang paling penting atau yang paling menyakitkan untuk kamu sampai ketika kecelakaan terjadi semua itu terlepas seperti lepas dari kendali memori yang memenuhi otak kamu. Kamu boleh saja meminta orang terdekat kamu untuk mengulang kegiatan yang pernah kamu lakukan dulu, ini bisa jadi terapi agar ingatan yang terlepas itu kembali ke tempatnya semula dan ingatan kamu bisa pulih secara perlahan. Tapi saat prosesnya terjadi kamu tidak boleh memaksa untuk mengingat, kalau dipaksakan akan membuat kondisimu semakin parah. Kalau gips di tanganmu baru bisa dilepas setelah 2 atau 3 bulan pemasangan karena tulang tangan kamu patah." Ungkap Dokter


Raisa pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Hari ini, Raisa akan melakukan pengecekan ulang ya, tapi sebelum itu... Setelah ini akan ada pihak polisi yang datang untuk menanyakan sesuatu tentang kecelakaan tempo hari. Raisa, bersedia atau tidak? Kalau tidak, saya bisa melarang polisi itu..." Ujar Dokter


Raisa pun melihat ke arah kedua orangtuanya untuk minta pendapat dari mereka. Dilihatnya, baik Bu Vani atau Pak Hilman seolah sama-sama menyerahkan keputuaan pada Raisa...


"Biarkan polisi itu datang, Dok. Saya juga mau tahu sesuatu dari mereka." Ucap Raisa


"Baik. Sus, mereka bilang kapan akan datang? Akan lebih baik jika Polisi yang datang saat saya masih ada di sini." Ujar Dokter


"Mereka tidak bilang tepatnya, tapi katanya pagi hari." Jawab Suster


Toktoktok!


Yang dibicarakan rupanya datang juga...


Pintu kamar rawat terbuka dengan seorang Suster yang diikuti oleh dua orang berseragam polisi di belakangnya...


"Permisi... Saya mengantarkan Polisi yang katanya ada perlu dengan pasien Raisa. Kalau begitu, saya kembali dulu." Ujar Suster yang kembali ke luar dari ruang rawat tersebut.


"Apa benar Anda adalah korban kecelakaan pada 2 hari yang lalu, bernama Raisa Putri Atmawidjaya?" Tanya seorang polisi.


Raisa mengangguk...


"Benar, itu saya." Jawab Raisa


"Silakan tanyakan yang mau ditanyakan, saya akan tetap di sini memantau kondisi pasien." Kata Dokter


"Sebenarnya, selain tahu fakta bahwa terjadi kecelakaan, saya tidak tahu lagi. Saya tidak ingat apa-apa... Karena kecelakaan itu, saya divonis kehilangan sebagian ingatan saya, termasuk hal yang baru-baru ini terjadi juga tentang kecelakaan itu. Maaf, saya tidak bisa banyak membantu." Ungkap Raisa


Kedua polisi yang datang itu saling memandang satu sama lain. Tak menyangka satu-satunya kunci dari kecelakaan yang terjadi dua hari yang lalu malah telah lupa ingatan, mungkin mereka juga merasa kesal karena usahanya mendatangi rumah sakit tersebut hanya sia-sia tanpa dapat membuahkan hasil sedikit pun.


"Tapi, maaf... Kalau boleh saya rahu, apa saja yang sudah kedua Pak Polisi tahu tentang kecelakaan itu? Siapa tahu, informasi yang Anda berdua berikan bisa membuat saya ingat sesuatu walau hanya sedikit. Saya boleh tahu tentang ini kan, Dokter?" Ujar Raisa


"Asal Raisa tetap tenang, boleh saja." Kata Dokter


Raisa pun mengangguk menyetujui untuk tetap tenang...


"Saksi yang melihat kejadian dan yang mengamankan supir pengendara truk yang menabrak Anda mengatakan kejadiannya begitu cepat terjadi. Selain truk yang melaju kencang, gerakan Anda yang ingin menyebrang juga cepat sehingga kecelakaan pun terjadi. Sedangkan menurut supir truk, Anda tiba-tiba saja muncul dan berhenti di tengah jalan sambil mengulurkan satu tangan Anda menyuruh untuk supir itu menghentikan truknya. Supir pun menginjak remnya, namun tetap tidak bisa menghindari kecelakaan terjadi." Jelas Polisi


"Ternyata, seperti itu. Terima kasih sudah memberi tahu saya tentang kecelakaan itu." Ucap Raisa


^^^"Sebenarnya secepat apa gerakanku saat menyebrang sampai kesaksian yang ada mengatakan seperti itu? Apa saat itu aku sedang terburu-buru akan sesuatu sampai akhirnya terjadi kecelakaan?" Batin Raisa bertanya-tanya.^^^


"Karena yang bersangkutan tidak bisa dimintai keterangan sementara ini... Bisakah kami meminta keterangan dari Dokter dan wali dari Nona Raisa tentang yang terjadi setelah kecelakaan terjadi?" Ujar Polisi bertanya.


"Boleh. Mari, bicarakan di luar." Kata Dokter


"Raisa, Ibu dan Bapak ke luar dulu ya." Ucap Pak Hilman


"Tunggu ya, Sayang..." Kata Bu Vani


Raisa pun mengangguk.


Semua yang berada di dalam ruang rawat tersebut pun ke luar, kecuali Raisa yang tetap berada di atas ranjang rawatnya.


"Apa Anda berdua adalah orangtua dari Raisa Putri Atmawidjaya?" Tanya Polisi saat mereka sudah berada di luar ruang rawat Raisa.


"Benar, kami orangtua kandungnya." Jawab Bu Vani


"Apa Anda berdua ada bersama Raisa di tempat saat kecelakaan terjadi dua hari yang lalu?" Tanya Polisi


"Tidak. Kemarin lusa kami sedang ada di rumah. Lalu, ada telepon yang mengatakan anak kami ada di rumah sakit ini setelah terjadi kecelakaan dan kami pun bergegas ke mari." Jelas Pak Hilman


"Apa Raisa bilang akan pergi ke mana pada Anda saat ingin pergi dari rumah?" Tanya Polisi


"Raisa bilang mau bertemu temannya. Sebelum pergi saya berpesan untuk minta Raisa ambilkan kue pesanan di toko kue. Raisa juga sempat mengabari akan pulang dan sedang dalam perjalanan, tapi dia akan mampir ke toko kue dulu sebelum pulang. Tak lama setelah itu, rumah sakit menelepon mengabari tentang kecelakaan itu." Ungkap Bu Vani

__ADS_1


"Berarti benar. Kecelakaan terjadi setelah Raisa mengambil kue di toko kue. Tak jauh dari TKP, ada bingkisan kue yang terjatuh." Ucap Polisi


"Apa kecelakaan itu terjadi karena Ibu minta Raisa ambil kue itu dari toko? Jadi, Raisa celaka gara-gara Ibu?!" Gumam Bu Vani yang merasa menyesal.


"Bukan salah Ibu, Raisa jadi celaka. Semua yang terjadi atas kehendak Tuhan, jangan salahkan diri Ibu sendiri." Ucap Pak Hilman yang merangkul sang istri untuk menenangkannya.


"Bagaimana keadaan Raisa setelah kecelakaan terjadi, Dokter?" Tanya Polisi


"Selain luka di kepala akibat benturan yang menyebabkan pasien Amnesia dan tangan kiri yang patah, selain itu hanya ada luka ringan. Dari pada kecelakaan tertabrak mobil truk, pasien seperti hanya mengalami jatuh dari sepeda motor. Entah pasien memiliki keberuntungan atau apa... Setelah ini, kami baru akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk mengetahui apa ada luka dalam yang berbahaya." Ungkap Dokter


"Sejak kapan Raisa diketahui amnesia? Kenapa kondisi seperti ini tidak diberi tahu pada pihak kami?" Tanya Polisi


"Bapak polisi sekalian lah yang menelepon pihak rumah sakit dan mengatakan ingin memintai pasien keterangan perihal kecelakaan tersebut, saat menelepon pun tidak menanyakan tentang kondisi pasien. Saat datang pun sama, tidak bertanya pada saya, Dokter yang menanganinya, tapi langsung bertanya pada pasien. Saya rasa Bapak Polisi lah yang terlalu terburu-buru." Jawab Dokter


"Karena tidak bisa melakukan apa pun di sini... Kalau begitu, kami pamit dulu. Masih banyak pekerjaan kami di kantor. Permisi..." Ujar Polisi


Setelah berpamitan, kedua polisi tersebut pun beranjak pergidari rumah sakit...


"Kacau! Bukannya kita yang dapat informasi dari korban kecelakaan, tapi korban yang menggali informasi dari kita!" Gumam polisi tersebut menggerutu saat melangkah pergi dari sana.


Setelah polisi pergi, Dokter dan Suster pun juga pamit untuk kembali bekerja. Sedangkan Bu Vani dan Pak Hilman pun kembali masuk ke dalam ruang rawat Raisa.


"Polisi tadi udah pergi ya?" Tanya Raisa begitu melihat Bu Vani dan Pak Hilman kembali masuk ke ruang rawatnya.


"Ya, karena gak bisa dapat info apa-apa tentang kecelakaan itu, mereka langsung pergi. Dokter dan Suster juga pergi tadi." Jawab Pak Hilman


"Bu, Pak, aku rasa kecelakaan itu bukan karena kesalahan supir truknya, tapi karena aku yang gak hati-hati. Setelah dengar tentang kecelakaan itu dari Pak Polisi tadi, aku terus merasa bersalah. Nanti, setelah ingatanku tentang kecelakaan itu jelas dan sudah ke luar dari rumah sakit... Boleh gak, aku buat keputusanku sendiri dan pergi ke kantor polisi?" Ujar Raisa seraya bertanya.


"Kalau kondisi kamu udah pulih, kamu boleh kok lakuin apa aja yang menurut kamu benar." Jawab Bu Vani


Menurut perkataan Raisa, ia berniat untuk membebaskan supir truk yang menabraknya dari tuduhan kesalahan yang ada karena Raisa merasa kecelakaan itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Dan Bu Vani pun menyerahkan keputusan tentang itu pada Raisa setelah kondisinya kembali pulih nanti...


"Selain rasa bersalah karena kecelakaan itu, aku masih merasa bersalah karena hal lain dan juga merasa khawatir entah kenapa... Menurut kronologi yang diceritakan polisi tadi, kemungkinan kecelakaan itu terjadi karena aku yang terlalu buru-buru. Tapi, terburu-buru untuk hal apa, rasa khawatir, dan rasa bersalah itu untuk apa dan untuk siapa aku gak tahu karena gak bisa ingat...!" Ucap Raisa


"Tenang, Raisa. Hal yang gak diingat jangan dipaksa buat ingat sekarang." Ujar Pak Hilman


"Iya, Pak. Raisa mengerti..." Kata Raisa


•••


Beberapa hari kemudian...


Setelah lebih dari seminggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Raisa diperbolehkan untuk pulang. Setelah mengurus segala prosedur sebelum pulang, akhirnya Raisa bersama Bu Vani dan Pak Hilman pun meninggalkan rumah sakit...


Raina dan Raihan menunggu kepulangan Raisa di luar rumah.


"Akhirnya, Kak Raisa pulang juga!" Sambut Raihan setelah Raisa kembali menapaki halaman rumahnya.


Langkah kaki Raisa masih terlihat sedikit berat, pergerakannya juga dibatasi karena tangan kirinya yang dibalut gips.


"Kak Arka dan Farah mana, Kak Raina?" Tanya Raisa


"Dari tadi pagi Farah udah kegirangan duluan dengar kabar kamu mau pulang, jadi kecapekan duluan terus ketiduran sendiri. Arka lagi temenin Farah tidur di kamar." Jawab Raina


"Iya, nih. Sebelum pulang masih harus banyak yang diurus, jadi lama di sana dulu." Ujar Pak Hilman


"Mumpung Farah juga lagi tidur, kamu bisa langsung istirahat, Raisa. Kalau ada Farah, kamu juga pasti gak bisa nolak dia yang ngajak main bareng." Ucap Bu Vani


"Iya, Bu. Kalau begitu, Raisa mau langsung ke kamar aja." Kata Raisa


"Iya, Ibu bantu kamu masuk kamar ya." Ujar Bu Vani


Raisa pun mengangguk...


Bu Vani pun membantu Raisa sampai masuk ke dalam kamar dan juga membantunya duduk di bibir ranjang tidurnya.


"Kamu istirahat dulu ya, kalau butuh sesuatu panggil siapa aja di kuar. Oh ya, ini tas kamu yang tempo hari kamu bawa waktu terjadinya kecelakaan. Ibu taruh di samping bantal kamu di sini ya." Ujar Bu Vani


"Iya, Bu. Terima kasih..."Ucap Raisa


"Ibu ke luar dulu ya. Mau bantu Bapak ngeluarin barang dari mobil." Kata Bu Vani


Raisa pun mengangguk seraya tersenyum...


Setelah berada sendiri dalam kamar, Raisa pun membuka kain selempang penganggah tangannya dan hanya menyisakan perban yang membalut tangannya yang patah. Lalu, perlahan Raisa pun merebahkan dirinya di kasur yang sudah lama ia rindukan itu...


"Emang paling nyaman kasur sendiri, dari pada kasur mana pun... Kamar ini pun gak banyak berubah dari yang aku ingat." Gumam Raisa


..."Aneh! Rasanya kayak aku pernah tidur di banyak kasur selain kasur di rumah dan yang di rumah sakit. Tapi, aku kan anak rumahan... Emangnya aku pernah tidur di kasur mana lagi?" Batin Raisa bertanya....


Saat rebahan di atas kasur ternyamannya, Raisa meeaih tas miliknya yang diletakkan di samping bantal tidurnya.


"Di dalam sini, katanya ada barang-barang yang aku bawa sewaktu terjadinya kecelakaan. Barangnya emang beda dari yang aku ingat dulu... HP atau dompet pun udah ganti dari yang kuingat waktu SMP dulu. Gak nyangka ternyata aku udah lulus SMA!" Oceh Raisa seorang diri.


..."Aku udah sempat lihat isi tasnya dan ada gelang ini. Gelangnya bagus dan aku merasa ini barang berharga untukku. Kalau aku udah lulus SMA, berarti aku udah punya KTP dong? Eh, ini... Di balik KTP ada foto! Ini foto aku sama siapa? Di foto ini selain aku, ada banyak orang yang gak aku ingat sama sekali!" Batin Raisa...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2