Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 143 - Kunjungan Pertama.


__ADS_3

Yeni, Citra, dan Galih baru bisa bernafas lega setelah Raisa dan Nilam beranjak menjauh.


"Fira, kenapa gak bilang kalau bu Raisa ada di sini?" tanya Galih


"Kan, udah aku bilang jangan bergosip tentang bu boss. Kalian aja yang gak mau dengar," jelas Fira


"Kamu cuma bilang gitu, tapi gak bilang kalau bu Raisa datang," ujar Galih


"Kira-kira bu Raisa dengar yang kita omongin tentang dia gak, ya? Aduh, gimana, nih? Bu Raisa gak akan marah atau pecat kita, kan?" tanya Citra merasa gelisah.


"Semoga aja bu Raisa gak dengar, deh ... " kata Yeni


"Kamu juga, Yeni. Padahal kamu sendiri yang bocorin info tentang bukanya Kafe Putri punya bu Raisa ke wartawan, tapi kamu malah gak terima pas bu Raisa bilang harus izin kalau panggil wartawan. Kamu sendiri yang duluan berulah, tapi malah bilang bu Raisa sewot, sombong, dan gak adil. Kamu, tuh, kerja sama bu Raisa, harus sopan dan jangan bisanya bicara di belakang aja," ujar Fira


"Apa lagi bu Raisa itu publik figur. Kamu gak boleh asal bicara tentang dia, untung aja di sini lagi gak ada pelanggan. Bisa-bisa jadi fitnah dan hati-hati malah kena pasal pencemaran nama baik," sanbung Fira


"Jadi, yang panggil wartawan ke sini itu kamu, Yeni? Kok kamu malah jelek-jelekin bu Raisa di depan kami? Bukannya kamu itu fans bu Raisa, ya?" tanya Citra


"Aku gak panggil wartawan kok. Kamu gak usah ngarang cerita deh, Fira. Kebetulan aja pas aku ngecek e-mail tentang penerimaan kerja di sini aku lagi sama temanku yang kerja jadi wartawan, jadi dia gak sengaja ikut tahu kalau ini kafe punya bu Raisa," jelas Yeni yang berusaha mengelak dan tidak ingin disalahkan oleh perkataan Fira.


"Mau gak sengaja atau cuma kebetulan, tetap aja wartawan tahu karena kamu. Harusnya kamu sekalian kasih tahu ke bu Raisa soal wartawan itu, bukannya malah gak terima dan jelekin bu Raisa karena masalah izin saat ada wartawan datang," ucap Fira


"Kalian berdua juga, Citra, Galih ... jangan mau dihasut sama Yeni atau terima mentah-mentah gosip kayak tadi dong. Udah gitu tanpa tahu kebenarannya kalian berdua malah ikut-ikutan bergosip," sambung Fira


"Kok kamu belain bu Raisa sampai segitunya? Kamu ini juga fansnya bu Raisa, ya?" tanya Yeni


"Bu Raisa itu boss aku dan teman sekolah aku dulu. Aku bukan belain dia, tapi aku tahu dia itu orang yang seperti apa dan dia bukan orang yang kayak kalian bicarain tadi. Bu Raisa bukannya gak adil, dia cuma mau tahu dulu kinerja kita sebelum mempercayakan kita atau naikin jabatan kita dan bukan pilih kasih juga," ungkap Fira


"Halah ... bilang aja kalau mau ngejilat boss dan cari muka. Ternyata, teman sekolahnya boss, toh. Mau sok jadi pengadu, ya?" tanya Galih


"Udahlah, ngomong sama kalian mah percuma aja, gak guna. Pasti gak bakal didengar juga," ujar Fira


Fira pun beralih meninggalkan ketiga rekan kerjanya untuk mengurus hal lain.


Raisa dan Nilam pun menghampiri Gita yang sedang membuat adonan kue.


"Gita, kamu lagi bikin apa?" tanya Nilam


"Bu Raisa, Bu Nilam ... " Gita yang baru menyadari kedatangan atasannya langsung hendak membuka sarung tangan plastiknya yang digunakan untuk mengaduk adonan kue.


"Lanjutin aja buat adonan kuenya. Santai aja, kami cuma mau tanya-tanya sedikit," kata Raisa


"Sebenarnya saya lagi mau buat kue resep saya sendiri, Bu. Maaf, saya malah pakai bahan dari kafe ini tanpa bilang dulu," ungkap Gita


"Gak salah kalau kamu jadi koki. Ternyata udah hobi bikin kue," ujar Nilam


"Apa itu kue lain dari yang udah ada di menu kafe ini?" tanya Raisa


"Ya, Bu. Kue yang mau saya buat belum ada di menu kafe ini," jawab Gita


"Ya udah, gak apa-apa. Selama gak ganggu kamu bikin kue untuk pelanggan itu gak masalah. Nanti kasih ke saya buat coba kuenya juga, ya. Sama Nilam juga. Kalau emang belum ada di menu, kita bisa masukin ke daftar menu setelah saya tahu dan periksa resepnya," ujar Raisa


"Betulan, nih, Bu?" tanya Gita


"Iya, dong. Ini juga termasuk pundi-pundi rezeki karena emang ini tempat jualan kue selain varian kopi dan teh susu," jawab Raisa


"Atau kamu merasa keberatan kalau resep kamu dipakai buat berjualan, ya? Tenang aja, nanti resepnya biar saya bayar sebagai kompensasi," sambung Raisa


"Saya gak keberatan kok, Bu. Saya justru senang dan takut Bu Raisa yang merasa keberatan," kata Gita


"Saya akan kasih Bu Raisa dan Bu Nilam buat coba kuenya setelah jadi nanti," sambung Gita


"Mohon kerja samanya, ya, Gita," ujar Raisa


"Terima kasih, Bu," ucap Gita


"Gak usah sungkan. Kalau ada apa-apa, bilang aja. Kan, kamu juga teman saya," kata Raisa


"Tapi, sekarang saya lagi kerja sama Bu Raisa," sahut Gita


"Kalian berteman?" tanya Nilam


"Ya. Sebenarnya, Gita dan Fira itu teman SMP aku. Setelah lama gak ketemu gak sangka kita malah ketemu pas kerja di sini," ungkap Raisa


Nilam hanya mengangguk tanda mengerti.


Memang benar. Gita dan Fira adalah teman Raisa semasa SMP dulu. Sama seperti Daffa. Setelah lama tidak bertemu, mereka kembali dipertemukan melalui pekerjaan.


"Bagus. Dapurnya juga bersih. Tolong tetap kerja sama dengan yang lain untuk jaga kebersihan dapur. Karena kebersihan sangat penting. Gak cuma di dapur aja," ucap Raisa


"Baik, Bu," sahut Gita


"Kalau begitu, saya dan Nilam tinggal dulu, ya. Semangat buat kuenya," ujar Raisa


"Ya, Bu," kata Gita


Raisa dan Nilam pun beranjak pergi dari dapur. Kemudian, kembali berpapasan dengan Fira, Yeni, Citra, dan Galih.

__ADS_1


Keempat pegawai kafe itu pun langsung kembali menjaga sikap di depan kedua atasan.


"Oh, ya ... untuk Citra dan Galih, selagi masih luang karena gak ada pelanggan. Kalian berdua boleh ambil makanan dan minuman dari menu penjualan untuk dicoba, terserah mau yang mana. Khusus hari ini aja, gratis. Supaya adil karena kemarin Gita, Fira, dan Yeni juga udah coba bagian dari menu secara gratis," ujar Raisa


"Betulan, nih, Bu?" tanya Galih


"Ya, tapi kalau ada pelanggan yang datang tetap harus dilayani dengan baik," jawab Raisa


"Baik, Bu," sahut Citra


Saat Raisa hendak beralih bersama Nilam, pintu kafe dibuka oleh beberapa pelanggan yang masuk.


Raisa pun menoleh. Sedangkan Nilam sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang manager untuk kembali berkutat di sana.


"Ada pelanggan yang datang!" seru Raisa


"Yang lain, silakan lanjutin istirahat kalian. Pelanggan yang datang ini biar saya yang layani," sambung Raisa yang bicara pada para pegawai kafenya.


Citra dan Galih pun sedikit membungkuk hormat ke arah Raisa sebelum akhirnya keduanya beralih menuju dapur. Namun, Yeni langsung masuk ke belakang meja kasir dan Fira langsung melanjutkan bersih-bersih.


"Biar saya bantu layani pelanggannya, Bu," kata Fira


"Silakan duduk," sambung Fira yang langsung mempersilakan pelanggan yang datang untuk duduk.


Namun, salah satu pelanggan kecil yang datang di sana langsung berhambur memeluk Raisa.


"Onty Icha! Aku rindu!" serunya


"Farah, Onty juga rindu. Padahal seminggu yang lalu kita baru habis liburan bareng," ujar Raisa sambil membalas pelukan yang ternyata adalah keponakan perempuannya.


"Pantas aja mau turun tangan layani pelanggan, ternyata keluarganya sendiri. Fira juga pasti tahu itu keluarganya boss, makanya mau sok cari muka," gumam pelan Yeni


Yang datang saat itu memang adalah keluarga Raisa yang baru kali pertama mencoba mampir di Kafe Putri milik Raisa.


Selain Farah, keluarga Raisa yang lain pun beralih mencari tempat yang nyaman untuk duduk.


"Farah dan Raihan, bagaimana dengan sekolahnya? Seru gak? Lancar gak?" tanya Raisa


"Ya, seperti itu-itu aja, sih, Kak ... " jawab Raihan


"Lancar dan seru kok, Onty. Bisa ketemu teman-teman lagi," jawab Farah sambil melepaskan pelukannya pada sang onty secara perlahan.


"Bagus. Belajar yang rajin, ya," kata Raisa


Farah dan Raihan pun langsung mengangguk tanda mengerti.


"Onty, aku mau pipis. Kamar mandinya di mana, ya?" tanya Farah


Farah pun mengangguk kecil sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari Onty-nya.


"Farah, Mami bilang juga apa. Harusnya sebelum pergi ke sini kamu pipis dulu di rumah," ujar Raina


"Kan, aku gak sabar mau lihat kafe baru dan ketemu sama Onty Icha, Mih," kata Farah


"Gak apa-apa, Kak. Biar aku aja yang antar Farah ke toilet. Kak Raina dan yang lain pesan aja duluan," ucap Raisa


"Fira, tolong bantu layani dulu, ya. Saya mau antar keponakan saya ke toilet dulu," sambung Raisa


"Baik, Bu," sahut Fira


"Kalau begitu, aku pesannya nyusul nanti aja," ujar Farah


"Ayo, kita ke toilet, Farah," kata Raisa


"Farah, jangan nakal. Yang nurut sama Onty Icha," pesan Raina


"Iya, Mih. Aku cuma minta diantar ke toilet sama Onty Icha kok," sahut Farah


Raisa pun menggenggam tangan keponakan perempuannya dan beralih bersama menuju ke toilet di kafe tersebut.


"Silakan. Mau pesan apa?" tanya Fira


Yang lain pun mengambil daftar menu dan bersiap untuk memesan. Fira ada di sana untuk melayani.


Saat Farah kembali bersama Raisa, ternyata yang lain sudah selesai memesan dan sedang mencoba menu di Kafe Putri yang telah mereka pesan.


"Farah, sini ... duduk di dekat Papi sama Mami," ajak Arka


Farah pun menghampiri Mami da Papi-nya untuk duduk di dekat kedua orangtuanya itu. Raisa juga ikut duduk bersama keluarganya.


"Semuanya udah pada pesan makanan dan minumnya, ya," gumam Farah


"Farah, jangan minum kopi, ya. Pesan yang lain aja," kata Bu Vani


"Terus, aku pesan apa dong, Nek? Aku bingung," ujar Farah


"Selain varian kopi, di sini juga ada beberapa varian teh susu juga kok. Farah pesan ice boba milk tea aja. Kalau makanannya, terserah Farah aja mau pesan kue apa," ucap Raisa

__ADS_1


"Ya udah, aku pesan itu aja. Ice boba milk tea, kalau makanannya ... aku mau pesan kue coklat blueberry," kata Farah


Fira yang masih setia di sana pun langsung mencatat pesanan gadis kecil itu.


"Fira, tolong, ya ... " kata Raisa


"Baik, Bu. Kalau Bu Raisa, apa mau ikut pesan sesuatu untuk sendiri?" tanya Fira


"Boleh, deh. Saya mau kue tirramissu dan teh kamomil hangat," jawab Raisa


"Baik. Kalau begitu, saya ambilkan pesanan tambahannya dulu," ujar Fira yang kemudian beralih dari sana.


Setelah pesanan tambahan untuknya dan Farah datang, Raisa pun menemani keluarganya di sana dan makan bersama sambil mengobrol.


"Gimana sama kafe baru kamu ini, Raisa? Ramai? Lancar?" tanya Pak Hilman


"Ini baru hari kedua, tapi cukup ramai dan lancar kok, Pak," jawab Raisa


"Toko bunga kamu juga ada di dekat sini, kan? Semoga kedua usaha kamu ini sukses, ya," ujar Pak Hilman


"Pasti sukses, sih ... sampai ada sesi promo di acara gosip. Aku sama Raina nonton di TV," kata Arka


"Semoga aja," sahut Raisa


"Kok bisa ada wartawan datang, Kak? Emangnya Kak Raisa sebar info duluan? Bukannya enggak, ya?" tanya Raihan


"Ya, kebetulan aja mereka ada yang tahu. Biar ajalah, sekalian bisa promo juga, kan, lumayan," jawab Raisa


"Omong-omong, suami kamu ke mana, Raisa? Gak ikut datang ke kafe bareng?" tanya Bu Vani


"Gak, Bu. Tadi pagi Rumi baru aja pergi untuk balik kerja di kampung halamannya lagi. Makanya, aku ke sini. Dari pada sendirian di rumah," ungkap Raisa


"Pantas aja gak kelihatan. Kan, biasanya nempel terus sama kamu kayak lem perangko," kata Arka


Membahas tentang Rumi, Raisa jadi kembali teringat dan rindu dengan suami tampannya itu. Namun, wanita cantik itu hanya bisa mengalihkan pikiran dan perasaannya dengan cara mengobrol bersama keluarga.


Saat itu banyak pelanggan yang mulai berdatangan.


"Benar, kan ... ramai!" seru Arka


"Iya, untung aja kita datang ke sini pas masih belum jam istirahat makan siang. Kalau gak, keburu ramai dan gak dapat tempat duduk," kata Raina


"Udah makin ramai, nih. Aku tinggal dulu, ya. Mau ikut bantu layani pelanggan. Kasihan yang lain mulai kelihatan kewalahan," ujar Raisa


Raisa pun bangkit berdiri dan beralih untuk ikut membantu para pegawai kafenya melayani para pelanggang yang semakin banyak berdatangan.


Saat ramai Citra dan Galih bahkan ikut membantu melayani pelanggan. Bahkan Nilam juga ikut ke luar dari ruang manager untuk membantu melayani pelanggan. Ketika sudah banyak pelanggan yang bubar dan kafe menjadi kembali sepi, Citra dan Galih pun menghampiri dan berkumpul dengan Yeni.


"Ternyata, bu Raisa orangnya baik. Dia kasih kita gratis coba menu kafe dan ikut layani pelanggan," ucap Citra


"Tapi, pelanggan yang pertama datang saat hampir jam makan siang itu keluarganya dan ujung-ujungnya Fira juga yang melayani," kata Yeni


"Tetap aja akhirnya bu Raisa ikut layani pelanggan juga dan traktir kita gratis menu kafe. Itu udah bisa diartikan kalau dia emang baik," ujar Galih


"Bu Raisa emang orangnya baik kok dan itu artinya kalian harus minta maaf. Terutama kamu, Yeni," sambar Fira yang kebetulan mampir ikut berkumpul setelah mendengar perbincangan rekan kerjanya.


"Iya, deh ... aku mengerti," kata Yeni


"Aku jadi merasa bersalah udah gosipin bu Raisa tadi," sesal Galih


"Aku juga," sahut Citra


Saat itu keluarga Raisa terlihat bersiap untuk pergi meninggalkan kafe.


"Udah pada mau pulang, nih?" tanya Raisa


"Iya, nih ... tapi, mau bayar dulu," jawab Bu Vani


"Gak usah. Aku kasih gratis untuk kunjungan pertama," kata Raisa


"Gak bisa gitu, dong. Harus bayar," sahut Pak Hilman


"Gak apa-apa. Cuma kali ini aja kok, tapi lain kali tetap harus bayar," ujar Raisa


"Onty Icha, katanya sendirian di rumah, ya? Ikut pulang ke rumah Nenek Kakek aja, yuk. Aku sama Mami Papi juga bakal nginap semalam di sana," ajak Farah


"Tapi, apa gak masalah kalau kafenya kamu tinggal?" tanya Arka


"Gak apa-apa kok. Kalau mau pulang, pergi aja, Raisa. Kan, di kafe ada aku dan pegawai lainnya juga," sahut Nilam yang langsung menghampiri ke dekat Raisa.


"Kalau begitu, aku titip kafe dan yang lain juga, ya. Kalau ada masalah apa pun, langsung kasih kabar ke aku," ujar Raisa


"Siap, Bu Boss. Tenang aja," kata Nilam


Raisa pun bersiap-siap untuk meninggalkan kafe dan ikut pulang bersama keluarga ke rumah orangtuanya.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2