
Setelah kepergian Maura dan Nilam, Raisa dibuat canggung oleh keadaan. Terlebih lagi, perkataan Nilam sebelumnya mampu membuatnya salah tingkah karena sahabatnya itu mampu menebak dirinya.
"Ah, kalian kapan sampai? Sudah lama? Sulit tidak mencari keberadaanku?" Tanya Raisa mematahkan rasa canggungnya.
"Lumayan lama dan lumayan sulit mencarimu." Jawab Billy
"Ya. Dan itu sangat merepotkan!" Keluh Devan
"Ah, maafkan aku yang tidak menyadari kehadiran kalian semua. Lalu, kalian punya rencana apa pada kedatangan kali ini?" Ujar Raisa
"Entahlah... Kami terlalu bosan karena tak kunjung ada tugas, makanya kami pergi datang ke mari. Dan, beberapa hari ini telah diumumkan libur panjang." Ungkap Marcel
"Kalau begitu, kita sama! Aku juga sedang jenuh karena terus di rumah. Sekolahku diliburkan karena kerusuhan tempo hari membuat satu gedung sekolahku runtuh. Padahal kerusakannya tidak terlalu parah, tapi tidak tau kenapa sekolah masih terus diliburkan." Cerita Raisa
"Bukankah asik jika libur? Kita tak perlu buang-buang tenaga dan pikiran." Sambar Chilla dan seperti biasa diselingi dengan memakan camilan kesukaannya yang berupa keripik.
"Menurutku sih, tidak juga. Karena aku tak ada aktivitas lain selain belajar di sekolah. Tapi, aku bersyukur juga kalian telah datang. Baiklah, karena kalian datang dan tidak ada rencana apapun... Kalau begitu, ikutlah jalan-jalan denganku. Sekedar mengusir bosan. Jadi, kalian mau ke tempat seperti apa?" Ucap Raisa
Di dalam hatinya, Raisa sangat senang. Di hari ini, di kala jenuh, ternyata ada hikmah dari itu semua. Ia bisa bertemu dengan teman-temannya yang berasal dari dimensi lain. Ia benar-benar beruntung, dirinya terus menerus mengalami keajaiban yang tak dapat dipungkiri lagi. Hatinya sangat bahagia tiada tara~
Namun, ia tak mau terlalu lupa diri hingga mungkin akhirnya kebahagiaan itu lenyap dari hidupnya dan digantikan oleh ketakutan. Raisa tak mau itu terjadi. Namun, ia hanya ingin menjalaninya hari ini tanpa memikirkan banyak hal lain yang tak pasti di kemudian hari...
"Itu sih, terserah kau saja. Di sini kan duniamu, kau lebih tau daripada kami." Ujar Morgan
"Jika, ke tempat makan, maka itu lebih baik!" Kata Chilla
"Dasar, gendut! Di pikiranmu hanya ada makan dan makanan saja!" Timpal Ian
"Baiklah... Jika, gadis cantik sudah berucap aku hanya bisa menurutinya." Ujar Raisa
"Hei, Raisa! Matamu rabun atau apa?!" Cela Ian
"Hehehe... Tujuan selanjutnya, tempat makan! Berangkat~" Sorak Raisa
"Makanan, Ibu, datang!" Girang Chilla
"Kalian mau makan apa?" Tanya Raisa
"Terserah kau, Raisa, yang penting tidak merepotkanmu..." Jawab Sanari
"Tenang saja, aku yang traktir... Kalian tidak perlu sungkan." Kata Raisa
•••
Raisa bersama yang lainnya sedang duduk di kursi beberapa meja yang disatukan karena mereka datang rombongan. Masing-masing kelompok mereka memegang satu buku menu, kecuali Raisa.
"Kalian pesanlah apa yang kalian mau dari menu itu, bisa dilihat dari gambarnya. Makanannya mungkin agak berbeda dengan yang ada di dunia kalian, tapi kujamin rasanya tak kalah enaknya. Masalah membayar nanti, pasti uang di sini berbeda mata uang dengan di sana. Tapi, tak perlu khawatir, aku yang menanggung. Kan aku yang menraktir..." Ucap Raisa
"Apa tidak masalah? Kami tak ada yang bisa membayar. Bukankah kau akan menanggung banyak?" Tanya Dennis
"Tak usah pikirkan itu. Makan saja dulu, isi perut kalian hingga kenyang." Jawab Raisa
Raisa pun memanggil pelayan datang~
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi!" Kata Chilla
Mereka semua pun mulai memesan makanan beserta minumannya. Kecuali, Raisa. Ia hanya memesan minuman berupa jus.
"Kau tidak ikut makan, Raisa? Masa yang menraktir tidak makan? Kami tidak enak jadinya..." Ujar Amy
"Sebenarnya belum lama tadi, aku sudah makan. Aku tidak terbiasa makan banyak di pagi hari. Aku akan makan lagi di tengah hari atau bahkan menunggu sore. Itu sudah seperti kebiasaan..." Ungkap Raisa
"Benarkah tidak jadi masalah?" Sungkan Wanda
"Tak usah sungkan, jangan pedulikan aku. Aku tak apa... Aku hanya menjamu tamu dengan baik di duniaku. Karena ini duniaku, maka akan memakai aturanku. Tak boleh dibantah! Santai saja." Ucap Raisa
"Baiklah..."
__ADS_1
Raisa sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Makanya ia sudah mempersiapkan banyak hal sejak lama. Ia sudah makin giat menabung sejak kepulangannya dari dunia lain beda dimensi itu. Semua telah dipersiapkan dengan matang~
"Lalu, apa rencana kalian selama di sini? Kalian tak mungkin dengan sangat cepat untuk pulang, kan?" Tanya Raisa
"Kami berencana menetap beberapa waktu. Kalau kau tak keberatan..." Jawab Rumi
"Kalian semua akan menginap? Benarkah? Benar, kan!?" Antusias Raisa
"Itu benar..." Sahut Sandra
"Itu bagus! Aku sangat menantikan ini... Tentu, aku tidak keberatan sama sekali." Senang Raisa dengan apa yang didengarnya
"Lalu, di mana kami akan tinggal?" Tanya Morgan
"Serahkan saja padaku! Aku jadi tidak sabar... Ah, aku sangat mensyukuri liburan kali ini! Karena kalian yang menemaniku berlibur dan tentunya aku juga menemani liburan kalian di sini." Ujar Raisa
"Kau terlihat sangat senang, Raisa..." Kata Chilla
"Kau bergurau?! Tentu, aku sangat bahagia... Aku sangat senang dengan kedatangan kalian ke duniaku. Aku sudah merencanakan beberapa hal yang nanti akan kita lakukan bersama. Hariku akan jadi lebih berarti!" Ungkap Raisa
Usai makan, mereka semua pun langsung meninggalkan restoran...
"Apa yang kalian inginkan setelah ini? Bermain atau beristirahat?" Tanya Raisa
"Kurasa, kita sebaiknya istirahat dulu." Jawab Aqila
"Setelah makan memang paling enak istirahat dengan santai." Sahut Chilla
"Dasar, gendut! Setelah makan banyak kau mau langsung istirahat. Enak sekali kau! Kau bahkan tidak memperhatikan porsi makanmu tadi. Apa kau tidak merasa tidak enak pada, Raisa? Dia membayar makan kita sendirian, tapi kau malah terus asik menambah pesanan. Tak tau malu!" Sambar Ian
"Hei, Ian! Kau tak tau seberapa keras aku menahan nafsuku melihat semua makanan tadi. Dan yang tadi adalah hanya sedikit dari porsi biasaku, aku sudah sangat menahan diri, tau!" Celoteh Chilla
"Paling sedikit 8 porsi, kau bilang itu menahan diri?! Dasar, gendut rakus!" Omel Ian
"Sudahlah. Apa yang sudah dimakan tidak boleh dibicarakan. Di sini itu sebuah larangan... Tidak boleh menyesal atau disesali. Toh, juga sudah lewat, masuk perut." Lerai Raisa
"Sebelum kita pergi ke tempat kalian menginap nanti, aku mau mengabari orangtuaku dulu. Tunggu sebentar ya." Ujar Raisa
"Raisa, minta izin ya, Bu. Jadi ga bisa pulang. Aku mau menginap bersama menemani mereka."
'...'
"Aku masih belum siap ngenalin mereka sama Ibu Bapak juga yang lainnya ataupun sebaliknya. Kenalannya kapan-kapan aja ya..."
'...'
"Iya, nanti Raisa ngabarin Ibu terus deh. Gapapa, kan?"
'...'
"Iya, terima kasih, Bu. Ibu yang terbaik! Raisa, tutup teleponnya ya, Bu."
Tut!
Panggilan diakhiri.
Raisa pun kembali pada teman-temannya.
"Raisa, tadi itu apa? Kau menelepon dengan ponselmu? Dengan siapa?" Tanya Dennis
"Ya, sudah pernah kuberitau fungsi ponsel pada kalian, kan? Aku tadi menelpon Ibuku." Jawab Raisa
"Apa kami akan menginap di rumahmu bersama Ibu dan keluargamu?" Tanya Rumi
"Ah, haha. Tidak. Rumah tempatku tinggal tidak bisa cukup menampung kalian semua bersama. Jumlah kita kan banyak... Aku akan membawa kalian ke vila keluarga besarku. Tadi, aku sudah sekalian menelpon Pamanku yang biasa memegang kendali di vila itu. Minta izin padanya membawa teman-temanku menginap di sana. Katanya, silahkan saja. Vila itu kan memang untuk bersama, lagi pula sedang kosong tidak ada yang menginap di sana." Jelas Raisa
"Kukira kami akan bisa berkenalan dengan keluargamu." Kata Morgan
__ADS_1
"Aku juga ingin seperti itu. Tapi, kurasa aku yang belum siap memperkenalkan kalian pada keluargaku. Tapi, pasti akan kukenalkan kalian pada keluargaku nanti. Sekarang, fokus saja pada liburan kita, para anak muda. Ayo, cari tempat sepi untuk membuka sihir portal ke vila keluarga besarku." Ucap Raisa
"Memangnya tempat itu jauh sampai harus menggunakan sihir portal?" Tanya Devan
"Ya, pergi ke sana harus dengan kendaraan. Selain memakai sihir portal bisa lebih praktis juga bisa menghemat biaya..." Ungkap Raisa
"Kuharap, kedatangan kami tidak merepotkanmu, Raisa." Ujar Sanari
"Tidak kok. Sudah kubilang, aku senang kalian datang. Tak perlu sungkan denganku di duniaku ya." Kata Raisa
Raisa pun membawa mereka semua, teman-temannya ke tempat yang sepi tersembunyi untuk membuka sihir portal menuju vila keluarga besarnya.
Sesampainya di sekitar vila, Raisa terlihat menghubungi seseorang. Dan, tak menunggu lama, ada yang menghampirinya.
Seorang lelaki paruh baya yang memberikan beberapa kunci yang menggantung pada sebuah gantungan kunci.
"Eh, Neng Raisa yang datang. Sama teman-temannya ya." Ucapnya, Sang Penjaga Vila.
"Iya, Pak Danu. Biar Raisa aja yang urus semuanya ya. Raisa ambil kuncinya." Ujar Raisa yang menerima kunci darinya.
"Eneng, ga perlu bantuan Bapak?" Tanyanya bernama Pak Danu.
"Terima kasih, Pak. Raisa, bisa hendle. Kami juga ga ada acara khusus kok, cuma santai-santai menginap bersama." Jawab Raisa
"Yaudah, kalau gitu. Bahan makanan masih lengkap ya, Neng. Kebetulan baru dua hari yang lalu belanja kebutuhan vila. Kalau ada apa-apa, hubungin Bapak aja. Neng, juga tau rumah Bapak, kan?" Ujarnya
"Iya, tau kok. Kalau Bapak ga pindah sih, Raisa masih ingat." Kata Raisa
"Enggak kok, Neng. Yaudah, Bapak pamit ya."
"Iya, Pak. Terima kasih banyak..."
Setelah Pak Danu Si penjaga vila pergi, Raisa bersama yang lainnya langsung memasuki vila tersebut dengan Raisa yang membuka kunci pintunya.
"Nah, ini vilanya. Lumayan besar, cukup ditinggali kita bersama-sama. Ada 2 lantai, 15 kamar dengan kapasitas yang berbeda. Mau langsung pilih kamar atau istirahat di ruang kumpul dulu?" Ujar Raisa
"Yang lain sih, terserah. Kalau, aku mau istirahat, duduk dulu deh." Kata Billy
"Kita serahkan para gadis dulu yang memilih kamar. Para gadis pasti akan sangat merepotkan dalam hal pilih memilih." Ujar Morgan
"Baiklah. Berarti para lelaki hanya bisa menempati kamar yang tersisa. Aku tinggal dulu, kalian para lelaki. Aku akan memandu para gadis cantik untuk memilih kamar..." Ucap Raisa
Raisa pun membawa teman para gadisnya untuk memilah-milih kamar yang akan mereka tempati. Sedangkan para lelaki lebih memilih tinggal menunggu di ruang berkumpul.
•••
Setelah memilih kamar dan masing-masing beristirahat. Akhirnya, tibalah malam hari waktunya kembali makan bersama.
Para gadis disibukkan dengan aktivitas dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah semuanya hampir siap, Aqila memanggil para lelaki untuk membantu mereka membawakan semua hidangan makan malam ke meja makan.
Makan malam berlangsung cukup tenang. Masing-masing tengah sibuk dengan makanannya di piring masing-masing. Sesekali terdengar obrolan ringan di antara mereka semua.
"Maaf ya, hanya seperti ini yang bisa kulakukan. Tak ada yang istimewa, bahkan kalian tidak dilayani dengan pelayanan khusus. Semua serba sederhana." Ujar Raisa
"Kurasa, kaulah yang menutup diri dengan keluargamu itu, Raisa. Kau seperti berusaha merahasiakan tentang kehidupanmu di sini. Padahal kau sudah mengetahui semua tentang kami. Ini agak kurang adil..." Ucap Morgan
"Eh, aku bukan bermaksud begitu. Bagaimana menyampaikannya ya... Sebelumnya, aku hanya mengetahui tentang kalian melalui mimpi dengan ajaibnya. Kurasa, nyatanya kita masih belum terlalu dekat. Jadi, aku ingin mengenal kalian lebih dekat. Barulah perlahan mengenalkan kalian pada keluargaku. Itu maksudku... Kalian tidak keberatan, kan?" Jelas Raisa
...'Keluargaku yang melihatku menggunakan sihir saja sudah sangat heboh. Bagaimana jika, aku mengenalkan kalian pada mereka. Sang tokoh, semua sosok yamg memiliki kemampuan sihir. Makanya, aku mau secara perlahan mengenalkan kalian semua pada mereka. Berawal dari cerita lalu baru bertatap muka. Tapi, mungkin rencana bertemu itu masih lama.' Batin Raisa...
"Kurasa, seperti itu memang lebih baik. Buatlah dirimu nyaman dengan mengenal kami, Raisa. Toh, memang kami yang bertamu ke sini. Jadi, semua terserah padamu." Ujar Aqila
"Makanlah dulu. Setelah ini beristirahatlah sebentar. Baru setelah itu, aku akan menceritakan semua tentang kehidupanku di sini pada kalian." Ucap Raisa
"Ya, kau memang berhutang tentang itu pada kami semua. Jadi, kau harus menepatinya!" Kata Morgan
.
__ADS_1
•
Bersambung...