Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 147 - Mirip.


__ADS_3

Sang Dewa sudah sampai membawa Raisa ke dunia tempat tinggalnya yang telah Raisa ketahui bahwa tempat itu adalah dunia dongeng atau ilusi yang diciptakan oleh Sang Dewa itu sendiri. Yaitu, yang disebut sebagai Negeri di Balik Bulan atau Negeri Rembulan.


Namun, pemandangan yang tampak adalah tempat yang sama persis seperti di dunia atau bumi. Hanya saja di sana memang telah diatur dengan sesuka hati penciptanya. Tempat itu adalah replika dari bumi yang terletak di permukaan ilusi bulan. Atau sebenarnya Raisa tidak tahu pasti di mana tempat itu berada, wanita itu hanya mengetahui sebutan dari tempat tersebut. Namun, yang pasti tempat itu berada di dimensi pada belahan dunia yang lain.


Sang Dewa mengulurkan tangannya untuk membantu Raisa turun dari permukaan tanah sihir yang mengapung di udara bagaikan karpet permadani itu.


Raisa hanya bisa terus menurut dengan patuh tanpa membantah. Kini tatapan kedua matanya tampak kosong, hanya bisa pasrah dan seolah tidak punya semangat hidup lagi.


"Ayo, Dewi-ku ... kubawa kau menuju istana termegah milikku!" seru Sang Dewa


Raisa hanya terus diam tanpa bicara atau mengeluarkan suara sedikit pun. Wanita itu hanya patuh mengikuti langkah Sang Dewa yang telah membawanya pergi. Hingga tanpa sadar ia telah dibawa masuk ke dalam suatu kamar di dalam istana megah dengan nuansa yang sangat klasik.


"Karena sekarang sudah malam, kau tidurlah saja. Karena ini adalah kali pertamamu ke sini mungkin kau akan merasa asing dengan tempat ini. Karena itu cepatlah berusaha untuk tidur saja dan kuharap kau bisa beradaptasi dengan cepat di tempat tinggalmu yang baru ini. Mulai sekarang hingga seterusnya kau hanya akan terus tinggal di sini. Kecuali dengan izin dariku, kau tidak boleh meninggalkan kamar ini. Aku akan meninggalkanmu di sini dan kita akan bicara lagi besok. Kau tidak perlu khawatir akan merasa kedinginan di sini. Sampai jumpa lagi, Dewi-ku," ucap Sang Dewa


Raisa tetap diam seribu bahasa bagai boneka. Wanita itu pun langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar di sana dan saat memejamkan kedua matanya, ada setitik air yang mengalir ke luar dari sudut sana.


---


Tuan Nathan masih saja terlihat tenang meski sudah mendengar rincian cerita dari sang putri mengenai kejadian Raisa yang dibawa pergi dengan paksa oleh sekelompok orang berjubah putih.


"Ayah, kenapa masih diam saja? Kan, aku sudah meceritakan semua yang terjadi. Ayo, cepat buat rencana dan minta pasukan untuk menyelamatkan kak Raisa!" seru Monica


"Bukankah Ayah sudah memintamu untuk tenang, Monica? Sabarlah. Menurut dari ceritamu, musuh memiliki kekuatan yang besar dan saat ini semua tim dan pasukan sudah memiliki misi dan tugas masing-masing. Untuk bisa menyelamatkan Raisa, selain harus menyusun rencana yang baik, kita harus mengirim tim pasukan yang hebat. Untuk sementara ini kita harus menunggu hingga tim kakak dan pacarmu kembali ke desa. Mereka termasuk tim terbebat di desa, di antara mereka juga ada suami Raisa. Setidaknya kita juga harus memberi tahu masalah ini pada Rumi," ujar Tuan Nathan


"Ayah, akan mengirim pesan ke lokasi misi mereka agar mereka bisa segera kembali ke Desa Daun secepatnya," sambung Tuan Nathan


"Lalu, bagaimana dengan kak Raisa? Bagaimana kalau semakin kita menunda penyelamatan, maka kak Raisa malah akan semakin berada di dalam bahaya?" tanya Monica


"Tidak akan. Menurut dari ceritamu tadi, Ayah sudah tahu siapa dan apa tujuan pelaku yang menculik Raisa. Dia tidak akan membahayakan Raisa, malah akan menjaga Raisa dengan baik sebelum akhirnya memanfaatkan Raisa untuk kepentingannya. Itulah menurut Ayah yang sudah pernah berhadapan langsung dengan mereka. Kita masih punya waktu untuk merencanakan semuanya degan baik," jawab Tuan Nathan


"Monica, lebih baik sekarang kau pulang dan istirahatlah. Kalau ada perkembangan atau akan ada langkah yang dibuat, Ayah akan langsung memberi tahukannya padamu," sambung Tuan Nathan


"Ayah, apa benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantu masalah ini?" tanya Monica


"Untuk saat ini tidak ada. Kau istirahat saja dulu di rumah. Kau juga pasti merasa syok atas kejadian ini. Tenangkan dulu dirimu sebelum akhirnya keputusan akan dibuat," jawab Tuan Nathan


"Baiklah, Ayah. Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar Monica


Monica pun hanya bisa menuruti perkataan sang ayah untuk pulang dan istirahat di rumah. Karena lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa. Meski begitu, hatinya tetap merasa gusar, gelisah, bersalah, dan menyesal.


Di masa lalu, Tuan Nathan memang pernah berhadapan dengan Sang Dewa yang kini telah membawa pergi Raisa dengan paksa dan licik.


Dengan kasus yang serupa, dulu yang diculik adalah Hellen dan Hani. Semasa Hellen remaja dan Hani dewasa sebelum menikah dengan Nathan. Raisa juga mengetahui kejadian masa lalu itu dari penglihatan mimpi ajaibnya.


Karena sama-sama merupakan Putri Suci dari keturunan keluarga bangsawan Dewa-Dewi, Sang Dewa itu menculik kedua bersaudara itu. Yang satu dicuri kekuatan mata sucinya dan satu lainnya hendak dimanfaatkan sebagai istri pembuat keturunan. Itulah alasan kedua Putri Suci utu divulik. Karena Sang Dewa telah membunuh semua keturunan Dewa dan Dewi yang tersisa di dunia Dewa-Dewi karena ingin menjadi Dewa tertinggi, Sang Dewa itu ingin memanfaatkan Hani untuk menikah dengannya dan memiliki keturunan yang banyak untuk mengisi kekosongan dunia Dewa-Dewi tempat tinggalnya itu serta mengambil kekuatan mata Hellen untuk menghancurkan bumi agar tempat tinggalnya menjadi satu-satunya dunia yang sempurna.


Saat itulah Nathan dan timnya pergi untuk menyelamatkan Hani dan Hellen di Negara Rembulan dan berhadapan dengan Sang Dewa yang bernama Arion yang disebut sebagai Dewa Naga itu. Berhasil mengalahkan Dewa Naga Arion, kekuatan mata suci milik Hellen pulih kembali dan Nathan jadi menyadari perasaannya dengan Hani yang ternyata sudah sangat lama mencintainya.


Setelah itu Nathan dan Hani pun memutuskan untuk berpacaran dan akhirnya keduanya pun menikah.


Namun, saat menyelamatkan dua Putri Suci, Nathan tidak membunuh Dewa Naga Arion karena Sang Dewa itu menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan hendak berubah menjadi baik. Rupanya, itu hanya siasatnya untuk bertahan hidup. Hingga saat ini Sang Dewa itu kembali berulah dengan menculik Raisa.


•••


Keesokan harinya.


Di suatu penginapan.

__ADS_1


Fajar sudah hampir tiba. Matahari baru terlihat sedikit di bagian pucuknya seolah masih malu-malu untuk muncul dan menampakkan diri.


Saat itu, Rumi dan anggota tim lainnya satu per satu mulai terbangun. Aqila yang tertidur di dekat jendela melihat ada seekor burung yang hinggap di jendela penginapan tersebut.


Aqila pun membuka jendela kamar penginapan karena yang ada di sana adalah burung pengantar pesan. Burung tersebut langsung mendekat setelah Aqila membuka jendela. Wanita itu pun langsung membuka tali pengikat gulungan kertas pesan yang diikat pada bagian kaki burung dan langsung membaca pesan tersebut setelah mengurai secarik kertas yang digulung menjadi kecil itu.


"Ini aku, Pemimpin Desa Daun. Untuk kalian 2 tim yang sedang menjalankan misi, segeralah kembali ke Desa Daun setelah menemukan dan membaca pesan ini. Ini adalah perintah.


^^^Nathan."^^^


Aqila pun langsung membangunkan Chilla yang berada di dalam satu kamar yang sama dengannya.


"Chilla, cepat bangun. Kita dapat pesan dari Desa Daun untuk segera kembali ke desa. Ini adalah perintah dari Tuan Pemimpin Desa," ucap Aqila


"Bukankah ini masih terlalu pagi?" tanya Chilla


"Memang. Tetap saja, ini adalah perintah," jawab Aqila


"Kau bangunlah dan sadarkan dirimu. Aku akan mandi lebih dulu. Setelah itu baru aku akan memberi tahu pesan ini pada anggota tim lelaki kita. Kau jandan sampai tidur lagi," sambung Aqila


"Baiklah. Aku mengerti," kata Chilla


Meski dengan enggan, Chilla pun membuka kedua matanya dengan paksa. Aqila pun beranjak untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Setelah itu, giliran Chilla yang mandi dan Aqila beralih menuju kamar tim lelaki untuk memberi tahu mengenai pesan yang dikirim untuk mereka semua.


Saat Aqila mengetuk pintu kamar, Devan yang kebetulan sudah bangun dari tidurnya pun membuka pintu kamar penginapan.


Di dalam kamar tersebut, setelah mendengar suara ketukan dan terbukanya pintu kamar, Ian dan Rumi pun terbangun dari tidurnya.


"Ada apa, Aqila? Apa kau tidak sabar bertemu dengan suamimu si Morgan?" tanya Devan


"Ian dan Rumi baru saja bangun, tapi tidak dengan suamimu. Morgan masih tidur," jawab Devan


"Sudah kuduga. Cepat bangunkan dia. Kita diperintahkan untuk segera kembali ke Desa Daun oleh Tuan Pemimpin Desa Daun. Tadi ada burung pengantar pesan yang datang dan hinggap ke jendela kamar penginapanku," ungkap Aqila sambil memberikan secarik kertas kecil yang berisi pesan perintah yang dikirim oleh burung tadi pada Devan.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan menyuruh yang lain untuk mulai bersiap-siap," ucap Devan setelah menerima dan membaca pesan dari secarik kertas yang diberikan oleh Aqila.


"Cepatlah bersiap dan setelah itu kita semua akan langsung berkumpul. Aku dan Chilla akan menunggu," ujar Aqila


"Baiklah," kata Devan sambil mengangguk kecil.


Aqila pun berlalu pergi dari sana dan Devan kembali masuk ke dalam kamar penginapannya.


"Ian, cepat bangunkan Morgan," kata Devan


"Baiklah," patuh Ian yang langsung bergerak mendekat ke arah Morgan yang masih tertidur dan mengguncang tubuh pria itu untuk membangunkannya.


"Rumi, kau sedang apa di sana?" tanya Devan yang melihat Rumi sedang berjongkok di dekat kolong ranjang.


"Bunga mawar merah dari Raisa tadi menghilang dan aku mencarinya. Ternyata, terjatuh ke bawah ranjang," jawab Rumi sambil memperlihatkan setangkai bunga mawar merah yang berada di dalam genggaman tangannya.


"Bukankah biasanya kau selalu menyimpannya sebelum tidur, Rumi?" tanya Ian


"Semalam aku memeluknya saat tidur," jawab Rumi


"Rumi pasti sangat rindu dengan Raisa. Kenapa aku dibangunkan saat hari masih terlalu pagi?" tanya Morgan yang baru setengah sadar setelah Ian membangunkannya.

__ADS_1


"Ada surat yang datang oleh seekor burung pengantar pesan dari Tuan Pemimpin Desa Daun dengan perintah untuk segera kembali ke Desa Daun," ungkap Devan


"Semuanya, cepat bersiap. Kita akan segera kembali ke Desa Daun setelah berkumpul dengan Aqila dan Chilla nanti," sambung Devan


"Baiklah," kata Ian dan Rumi secara serempak.


"Dasar, ayah merepotkan," dumel Morgan yang mengumpati sang ayah selaku Pemimpin Desa Daun.


Setelah semua bersiap, keempat lelaki itu pun berkumpul dengan Aqila dan Chilla. Semua pun langsung bersiap untuk kembali menuju ke Desa Daun.


"Apa kita tidak bisa makan sarapan pagi dulu sebelum pergi?" tanya Chilla


"Tidak bisa. Ada perintah darurat yang menyuruh kita untuk segera kembali ke Desa Daun. Pasti telah terjadi sesuatu di desa saat kita sedang dalam misi di sini dan tidak sedang ada di desa," jawab Devan


"Bukankah kau sudah nembeli banyak makanan semalam setelah misi selesai? Kau bisa makan itu selama perjalanan kembali ke Desa Daun, tapi kita tidak bisa menunda untuk segera kembali ke sana," sambung Devan


"Baiklah. Aku mengerti," kata Chilla


"Ada sesuatu yang terjadi di Desa Daun, tapi kenapa pikiranku selalu tertuju pada Raisa dengan perasaan yang tidak biasa? Semoga Raisa baik-baik saja," batin Rumi yang belum tahu bahwa Raisa telah diculik setelah datang dan berada di Desa Daun.


Mereka berenam pun mulai beranjak pergi untuk kembali menuju ke Desa Daun.


---


Usai bangun di pagi hari, Raisa dibawa menuju ke ruang makan oleh para pelayan untuk menemui Sang Dewa dan makan sarapan pagi bersama.


Tak ada lagi tatapan tajam pada kedua mata Raisa, hanya ada tatapan kosong yang hampa. Meski begitu, saat harus berhadapan dengan Sang Dewa tatapan kosong di kedua matanya berubah menjadi dingin yang meski tidak setajam tatapan mata semalam, tatapan mata yang dingin itu seolah mampu menusuk seperti es yang amat runcing. Namun, ekspresi wajah Raisa terlihat sangat datar.


"Bicaralah, Dewi-ku. Kau hanya diam setelah tiba di istana megahku ini? Apa kau tidak suka dengan gaya istana ini? Aku bisa mengubah sesuai keinginanmu," ujar Sang Dewa


"Yang aku tidak suka adalah panggilanmu untukku. Kutahu kau tahu namaku, panggil saja aku dengan namaku. Aku bukan Dewi-mu, terlebih lagi aku hanya manusia biasa," ungkap Raisa


"Tidak. Kau bukan hanya manusia biasa saat jiwa Sang Dewi berenkarnasi dalam tubuhmu. Kau tetap adalah Dewi-ku dan aku akan tetap memanggilmu seperti itu," ucap Sang Dewa


"Aku tidak percaya dengan yang namanya Dewa atau Dewi. Bagiku mereka tidak ada dan kau hanya pria dengan secuil keberuntungan. Keberuntungan milikmu yang hanya tersisa sedikit itu akan segera habis," kata Raisa


"Kau kembali menjadi galak. Aku menyukaimu dan aku menghargai itu. Kau cantik, Dewi-ku," ungkap Sang Dewa dengan mrngulas senyum di bibirnya.


"Apa kau sedang mengungkapkan perasaanmu padaku sekarang? Tapi, aku tidak menyukaimu! Kau tidak dan bukan menghargaiku, tapi kau semena-mena padaku! Kau tidak memanggilku dengan benar dan membuat panggilan untukku dengan seenaknya, kau membuatku ikut pergi denganmu dengan ancaman dan negosiasi itu hanya omong kosong! Bahkan aku tidak merasa diriku menjadi seseorang yang berharga lagi sekarang! Aku membencimu!" seru Raisa


"Harusnya kau merasa terhormat saat aku memilihmu," kata Sang Dewa


"Bagaimana aku bisa merasa terhormat dengan keadaan yang tidak kusukai? Aku tidak merasa terhormat sama sekali dan justru merasa kau sedang merendahkanku. Aku sungguh sangat benci," ujar Raisa


"Kau membenciku padahal aku adalah orang yang memiliki wajah yang mirip dengan suamimu? Apa itu artinya kau juga membenci suamimu? Bukankah pernikahan dengan suamimu itu hanya sia-sia saja?" tanya Sang Dewa


"Justru itu, aku membencimu yang memiliki wajah yang mirip dengan suamiku! Sedangkan aku hanya mencintai suamiku dan aku hanya membencimu! Rasa cinta terhadap suamiku sangat amat besar hingga kau pun tidak bisa menghitung jumlah besarnya serta tidak bisa diibaratkan dengan apa pun dan sebesar itulah rasa benciku padamu!" teriak Raisa


Saat melihat Sang Dewa dan Rumi di dalam mimpi abadinya pada periode waktu mimpi yang berbeda, Raisa juga tidak menyangka kalau wajah keduanya memiliki kemiripan yang begitu jelas.


Raisa tidak mengerti dengan kenapa wajah Rumi dan Sang Dewa itu terlihat mirip. Sama halnya Rumi yang mirip dengan kakak lelakinya, Logan. Padahal Sang Dewa bukanlah keluarga atau makhluk yang diciptakan oleh Tuan Rommy yang menciptakan Rumi dan Logan. Tuan Rommy pun menciptakan Rumi dan Logan bukan karena terinspirasi dari sosok wajah Sang Dewa itu.


Bahkan Sang Dewa pun bukan karena ingin berusaha merebut hati Raisa yang ingin dijadikan istri secara paksa olehnya baru merubah wujud wajahnya menjadi mirip dengan Rumi dan bahkan karakteristik tenaga sihir mereka pun sama, yaitu memiliki ciri khas ular naga. Itu semua bukanlah unsur kesengajaan. Memang semua seolah sudah ditakdirkan seperti itu.


Atau jawabannya adalah salah satu dari mereka adalah Dewa Naga yang sesungguhnya dan salah satunya lagi adalah Dewa Naga yang palsu? Entahlah. Tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti seperti apa itu takdir.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2