Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
128 - Penghambat Misi.


__ADS_3

"Siapa yang mengizinkan kalian pergi dari sini?"


Langkah kaki mereka mendadak berhenti karena kedatangan tamu yang tak diundang. Yang mendatangi mereka adalah dua target lain yang menemui target di acara sebelumnya!


"Sudah kuduga, pria mes*m seperti Dominic tidak dapat dipercaya untuk menjalankan misi pertukaran seperti ini. Dia itu sangat lalai!"


"Sepertinya mereka berdua sengaja menunggu di sini untuk menghentikan kita." Kata Ian


"Bagaimana ini? Mereka tahu kita ada di sini... Apa pertukaran tadi hanya tipuan mereka? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Chilla


"Cih, merepotkan sekali! Kita akan tahu kebenarannya setelah mengalahkan mereka!" Ucap Devan


Devan sudah bilang begitu... Itu adalah perintah dari ketua untuk bersiap-siap bertarung!


Mereka pun memasang posisi siaga. Beberapa dari mereka langsung mengeluarkan belati sebagai senjata...


"Jangan harap kalian semua bisa meninggalkan tempat ini!"


"Jangan hanya banyak bicara! Coba saja kalau bisa menghentikan kami! Ayo, maju!" Geram Morgan yang lebih dulu maju untuk menyerang.


Pertarungan pun tak terhindarkan. Mau tak mau mereka harus bertarung menghadapi lawan untuk bisa meninggalkan tempat itu secepatnya.


"Cih, mereka hanya berdua... Tapi, merepotkan sekali!" Dumel Devan


Mereka yang menghadang hanya ada dua orang, tapi keduanya adalah orang dewasa dan kemampuan kedua orang tersebut bukanlah main-main. Bagi siapa pun yang berniat mencampuri urusan mereka terlebih lagi dalam misi pasti akan dibuat seperti debu yang tak dianggap dan akan menghilang lenyap dari kehidupan.


Mereka yang menghadapi kedua lawan itu memang berada dalam jumlah yang lebih banyak, tapi mereka sudah hampir kewalahan.


Devan berada di paling belakang untuk menjaga sesuatu yang mereka dapatkan dari si target sebelumnya dan hanya bertarung dari jarak jauh menggunakan jurus pengendali bayangan dan sihir elemen angin. Raisa juga menemani Devan di belakang dan hanya berdiam diri. Rumi masih mengkhawatirkannya saat Raisa mengatakan sakit sebelumnya. Rumi meminta Raisa untuk tetap diam dan biarkan Rumi juga yang lain saja yang bertindak. Raisa tidak berniat untuk hanya diam saja dan melihat teman-temannya kesulitan. Raisa diam bukan tanpa rencana, tapi ia sedang berusaha menekan rasa sakitnya dengan mengumpulkan tenaga sihirnya dalam jumlah tertentu untuk mengatasi situasi seperti ini.


Di saat yang lain hampir mencapai titik terakhir, Raisa baru maju untuk membantu. Raisa mengeluarkan pedangnya dari dimensi penyimpanan sihir miliknya dan memberi lawan sambaran petir menggunakan pedangnya.


"Ian, jangan lengah! Hati-hati, kau hampir terkena serangannya!" Pekik Raisa setelah menyelamatkan Ian dari salah satu serangan lawan.


Ian terlalu fokus pada satu lawan untuk memerangkapnya menggunakan sihir pengendali pikiran miliknya, namun ia tak menyadari bahwa lawan lainnya hendak menyerangnya dari arah belakang. Kalau saja bukan karena Raisa yang menyelamatkannya, mungkin saja Ian akan dalam keadaan yang gawat.


"Ah, terima kasih, Raisa." Ucap Ian yang merasa lega setelah Raisa menyelamatkannya.


Raisa pun mengangguk...


"Cih! Dasar, gadis pajangan! Ternyata kau juga memiliki jurus untuk menyerang kami. Kali ini, kami yang lengah karena tidak mempedulikanmu."


"Apa kau bilang? Gadis pajangan!? Hanya karena aku diam saja dari tadi, bukan berarti kalian bisa dengan mudah menghinaku! Kau sebut aku apa tadi?! Coba katakan sekali lagi, maka akan kurobek mulut busukmu itu!" Marah Raisa mulai tak bisa menahan emosinya.


"Ternyata selama kau diam tadi hanya untuk mengatur siasat serangan. Baiklah, aku akan lebih dulu mengatasimu supaya kau tidak bisa sombong lagi!"


"Kalian berdua lah yang sombong! Dan akulah yang akan mengatasi kalian lebih dulu! Sudah kalah jumlah, masih saja berlagak! Walau teman-temanku sudah tidak memiliki tenaga lagi, aku sendiri pun cukup untuk menghabisi kalian berdua!" Geram Raisa


"Gadis sepertimu hanya bisa banyak bicara! Ayo, serang!"


Kedua lawan baru saja membuat ancang-ancang untuk menyerang...


"Yang lain, merunduklah!" Seru Raisa


Karena yang lain sudah mulai kehabisan tenaga lebih dulu untuk menyerang kedua lawan tersebut, mereka pun hanya bisa mengikuti intruksi Raisa untuk segera merunduk ke tanah.


Melihat teman-temannya menurutinya untuk merunduk dan kedua lawan yang belum mulai menyerang, maka Raisa lebih dulu melakukan serangan dengan mengayunkan pedangnya ke depan. Maka ke luarlah sihir angin membelah bumi dari bilah pedangnya, persis seperti serangan andalan milik Sandra. Dengan satu serangan dari Raisa kedua lawan pun tersungkur jatuh layaknya pohon yang tumbang karena badai yang tercipta di sana karena serangan Raisa tadi. Namun, karena teman-teman Raisa sempat merunduk sebelum serangan terjadi, mereka semua masih baik-baik saja.


"Tidak mungkin! Itu mirip seperti serangan milik Sandra!" Kata Morgan


"Raisa juga bisa meniru serangan yang pernah dilihatnya?" Bingung Aqila bertanya-tanya karena kemampuan Raisa memiliki kemiripan dengan kemampuannya yang mampu meniru serangan hanya dengan sekali lihat.


"Hanya karena terlihat diam saja, jangan pernah meremehkannya. Karena justru yang tenang akan sangat mengerikan jika mulai menyerang." Ucap Chilla


"Raisa, kau tidak apa? Apa mereka berdua tadi sempat menyerangmu?" Tanya Rumi yang merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja." Jawab Raisa


"Karena serangan besar Raisa, orang lain bisa saja menyadari keberadaan kita di sini dan mulai berdatangan ke sini." Ucap Devan


"Tenang saja, aku akan mengatasi ini dengan cepat. Kita bisa segera pergi setelahnya." Kata Raisa

__ADS_1


Kedua lawan mendapat luka setelah serangan Raisa tadi dan mulai berusaha untuk bangkit kembali. Dan sebelum itu terjadi, Raisa lebih dulu menyerang mereka lagi.


Raisa kembali menggunakan sihirnya dengan mengeluarkan rambat tanaman untuk mengikat tubuh kedua lawan. Setelah terikat, Raisa kembali menyambar kedua lawan dengan sihir elemen petir sampai terkulai lemah lalu memerangkap mereka berdua dengan sihir elemen tanah dari batas leher sampai kaki mereka berdua supaya tak lagi dapat berkutik.


"Apa aku juga harus benar-benar menghabisi mereka di sini sekarang?" Tanya Raisa


"Tidak perlu. Mereka sudah tidak bisa bergerak dalam beberapa waktu." Jawab Morgan yang walau paling benci dengan penjahat, tapi juga masih punya hati nurani.


"Kalau begitu, ayo! Cepat, pergi dari sini!" Kata Raisa


"Tunggu sebentar! Aku akan lihat barang bawaan mereka, mana tahu ada sesuatu yang dibutuhkan untuk misi kali ini." Ucap Devan yang sudah mulai menggeledah barang bawaan kedua lawan tadi dan mengambil sesuatu yang dinilai perlu untuk melengkapi misi kali ini.


"Sudah selesai. Ayo, pergi!" Kata Devan


Yang lain pun mulai bangkit kembali dan segera pergi meninggalkan tempat itu...


"Raisa, jika kau bisa dengan mudah mengalahkan mereka... Kenapa tidak dari awal saja kau menyerang mereka?" Tanya Devan


"Maaf, sebenarnya aku merasa kurang fit. Aku sempat diam tadi untuk mengumpulkan lebih banyak tenaga untuk menyerang saat kondisiku yang sedang seperti ini. Mereka bisa dengan mudah aku kalahkan juga karena tenaga mereka sudah cukup terkuras saat menghadapi kalian." Jawab Raisa


"Kau benar, Raisa... Wajahmu terlihat pucat!" Kata Aqila


"Apa ini karena kau terlalu menggunakan banyak tenaga saat menyerang mereka berdua tadi?" Tanya Rumi


"Bukan masalah besar, aku tidak apa. Ini adalah hal yang biasa terjadi." Jawab Raisa


"Gawat! Tidak ada jembatan untuk kita melewati danau panjang ini. Bagaimana kita bisa dengan mudah melewatinya dengan kondisi kita yang seperti ini? Bagaimana jika ada yang mengejar kita sampai ke sini?" Ujar Chilla yang tiba-tiba berhenti pertama kali karena adanya sebuah danau yang menghambat perjalanan.


"Jika hanya seperti ini kita bisa dengan mudah melewatinya dengan seribu langkah cepat seperti biasa." Kata Devan


"Tapi, benar yang dibilang Chilla. Dengan kondisi kita yang lemah setelah menyerang tadi, kita tidak bisa mudah melewatinya." Ucap Ian


"Aku bisa membawa kita semua melewatinya dengan mudah dan mungkin juga tidak akan ada yang menyadari keberadaan kita. Kalian hanya perlu mengikuti aku." Kata Raisa


"Tapi, kau sudah banyak menggunakan tenagamu saat menyerang tadi." Cemas Rumi


"Kali ini tidak akan membutuhkan banyak tenaga. Tapi, kita harus berjalan sambil saling merapat." Ucap Raisa


"Kalau begitu, kami mengandalkanmu, Raisa." Kata Morgan


"Kita akan berjalan di bawah permukaan air di atas tanah, jadi jangan terlalu terkejut." Tutur Raisa


Raisa menggunakan sihir elemen air untuk menghalau air dari sekitarnya yang mulai melangkah masuk ke dalam danau. Raisa juga meminta yang lainnya untuk mengikutinya dengan tetap berjalan sambil saling merapat. Sihir yang Raisa lakukan membuat mereka semua berjalan di atas permukaan tanah di bawah permukaan air danau dan membuat keberadaan mereka tidak terlihat dari daratan sana karena posisi mereka tertutup air danau yang tetap tenang.


"Kau juga bisa melakukan hal yang seperti ini, Raisa? Ini sangat berguna untuk bersembunyi dari kejaran musuh walau kita tetap harus bepergian." Ujar Morgan


"Ini hanya sebuah trik saja." Kata Raisa


"Tapi, di bawah sini gelap. Cahaya bulan dan bintangnya pun tidak cukup. Sepertinya danau ini dangkal juga." Ucap Ian


Raisa pun menengadahkan tangannya ke atas dan lalu dari telapak tangannya ke luar seberkas api yang termasuk kemampuan sihir miliknya.


"Sekarang sudah cukup terang dan tidak terlalu gelap lagi." Kata Raisa


"Kenapa kau menyalakan api saat seperti ini? Bagaimana kalau di bawah sini ada makhluk seperti monster dan apimu itu memancing mereka untuk mendekat dan menyerang kita di sini?" Tanya Chilla


"Tenang saja, Chilla. Kau tidak sendiri. Kita semua di sini bersama-sama dan aku tidak mungkin mencelakai kita semua, aku juga akan melindungi kita semua." Jawab Raisa


"Apa danau ini besar dan luas sekali? Kita sudah berjalan cukup jauh, tapi belum juga sampai di ujung danau sebelahnya lagi." Ujar Morgan


"Kita akan segera sampai dan menemukan daratan kembali. Kau jangan terlalu mengkhawatirkan itu." Kata Aqila


Cukup membutuhkan waktu mereka berjalan di dasar danau, akhirnya mereka menemukan daratan lanjutan di sisi lain danau tersebut. Kembali menemukan daratan, Raisa pun melenyapkan sihir elemen api untuk penerangan perjalanan di dasar danau sebelumnya.


"Akhirnya, daratan!" Girang Morgan


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Ini sudah malam, walau penjahat tadi tidak sampai mengejar kita, mungkin saja ada penjahat lain di situasi malam seperti ini." Kata Devan


"Kalian jalan duluan saja, aku akan berjalan mengikuti kalian dari belakang." Ucap Raisa


Yang lain pun mulai kembali berjalan, kecuali Rumi yang menunggu di samping Raisa.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Raisa? Kau yakin tidak ada masalah?" Tanya Rumi


"Tidak apa, Rumi. Aku baik-baik saja, sungguh." Jawab Raisa


"Kalau begitu, aku akan menemanimu berjalan di belakang." Kata Rumi


"Baiklah. Terima kasih. Ayo, lanjutkan berjalan." Ucap Raisa


Raisa pun berjalan di belakang bersama Rumi yang terus menemaninya. Semakin lama, Raisa berjalan semakin lambat perlahan-lahan. Raisa juga terus memegangi perutnya yang masih saja terasa sakit. Langkah kakinya mulai memberat seiring rasa sakit yang dirasakannya. Saat merasa hampir tidak sanggup menahan rasa sakitnya lagi, Raisa dengan cepat mencengkram lengan Rumi untuk berpegangan. Ingin menahan dan menyembunyikan rasa sakitnya lebih lama, namun Raisa terjatuh berlutut di tanah saking sakit perutnya.


"Raisa, ada apa denganmu?" Tanya Rumi dengan suara yang sedikit memekik karena khawatir.


Mendengar itu, mereka yang berjalan di depan pun menghentikan langkahnya dan memoleh serta berbalik ke belakang.


"Ugh... Aku hanya merasa sedikit sakit, tapi tidak apa. Kita... Hh~ Lanjutkan lagi saja perjalanannya. Jangan sampai aku menghambat kalian di sini. Sshhh!" Tutur Raisa sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Apanya yang tidak apa?! Kau terlihat kesakitan dan wajahmu bertambah pucat!" Ujar Rumi yang bertambah khawatir.


"Beginilah... Perempuan selalu saja bilang tidak apa, padahal merasa sebaliknya. Merepotkan saja!" Oceh Devan


"Apa siklus bulananmu tidak lancar, Raisa? Apa itu yang menyebabkan kau merasa sakit?" Tanya Chilla saat menyadari Raisa memegangi bahkan sampai meremas bagian perutnya.


Chilla sudah menyadarinya dan bertanya seperti itu, membuat Raisa merasa malu di tengah rasa sakit yang cukup dahsyat yang dirasakannya. Benar, yang Raisa alami adalah siklus bulanan yang hanya dialami para perempuan. Membahasnya di depan para lelaki terasa sedikit canggung dan lebih memalukan. Itulah yang dinamakan Datang Bulan!


"Kau terlalu terus terang dalam bertanya, membuatku malu, Chilla. Memang terkadang sakit di awal, tapi tidak pernah sampai sesakit ini. Mungkin aku terlalu banyak menggunakan tenaga, jadi menambah rasa sakitnya." Ungkap Raisa sambil malu-malu.


Awalnya, para lelaki kurang mengerti apa yang sedang dibahas ini. Tapi, saat mereka sadar, mereka merasa canggung juga sedikit malu. Kecuali Rumi yang terkesan biasa saja dan malah masih terlihat sangat khawatir.


"Sudahlah, tidak apa. Raisa, biar kami sesama perempuan yang membantu dan menemaninya. Rumi, kau jalan di depan saja bersama yang lain." Ucap Aqila yang langsung menarik Chilla untuk mengajaknya mendampingi Raisa berjalan di belakang.


Saat menghampiri Raisa, Aqila sengaja mendorong Rumi agar berjalan lebih dulu. Tapi, setelah didorong, Rumi diam bergeming. Lelaki itu masih saja memikirkan dan mengkhawatirkan kondisi Raisa.


"Terima kasih, Aqila, Chilla. Rumi, kau jalan saja duluan." Kata Raisa


"Apa harusnya aku memggendong Raisa saja?" Tanya Rumi


"Eh, entahlah. Terserah kau saja." Jawab Devan dengan kikuk.


"Tidak perlu. Raisa, biar bersama kami saja." Kata Aqila


Tanpa mempedulikan pendapat yang lain, Rumi langsung kembali mendekati Raisa dan merangkul lalu menggendongnya (ala bride style).


"Apa yang kau lakukan, Rumi? Aku masih bisa berjalan, biar Aqila dan Chilla yang menemaniku. Turunkan aku, cepat!" Ujar Raisa yang merasa sungkan dan tidak enak dengan Rumi.


"Tidak apa. Jika seperti ini akan lebih cepat juga kita berjalan." Kata Rumi


Raisa pun menundukkan dan menyembunyikan pandangannya di dalam pelukan Rumi yang menggendongnya. Malu, canggung, merasa bersalah... Perasaannya cukup bercampur aduk!


"Terima kasih dan maaf! Untuk kalian semua juga... Maaf jika aku hanya jadi penghambat kalian semua. Aku tidak mengira akan sampai jadi seperti ini." Ucap Raisa


"Sudahlah, Raisa. Rumi sendiri yang menawarkan dirinya dan langsung menggendongmu. Itu artinya dia kuat dan itu bukan masalah baginya." Kata Chilla


"Sudahlah, tidak apa, Raisa. Kami mengerti sekaligus juga tidak mengerti apa yang kau rasakan. Rumi juga tidak masalah, jadi kau tidak perlu merasa bersalah. Kau juga banyak membantu kami kok." Tutur Morgan


Semua pun mulai kembali berjalan. Dengan Rumi yang menggendong Raisa juga Aqila dan Chilla yang masih berjalan di dekat sepasang kekasih yang terlihat mesra itu, jaga-jaga jika Raisa memerlukan bantuan dari sesama perempuan seperti mereka.


"Jadi, dari tadi itu kau merasa perutmu sakit? Kenapa tidak bilang saja dan malah diam sambil terus menahannya?" Tanya Rumi


"Yang sampai seperti ini baru kali ini kurasakan. Sudahlah, kujelaskan padamu juga kau tidak mungkin akan mengerti. Yang seperti ini hanya para perempuan yang merasakan dan mengerti." Jawab Raisa


"Kita harus apa setelah ini?" Tanya Ian


"Mungkin kita harus menemukan tempat untuk beristirahat dulu. Ini sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan, juga masih harus memulihkan kondisi dan tenaga kita." Jawab Devan


"Kita juga harus cari tempat makan! Aku lapar sekali karena hanya makan sedikit selama terus diam memata-matai target seharian tadi." Ucap Chilla


"Kau bisa istirahat dan memejamkan matamu, Raisa. Kau juga boleh tertidur, aku yang akan menjagamu." Tutur Rumi


Raisa hanya mengangguk kecil. Ia tak banyak bergerak supaya tidak lebih merepotkan bagi Rumi yang menanggung beban tubuhnya yang berat yang digendong itu.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2