
Setelah tiba di sekolah, Raisa langsung mencari ruang kelas yang telah ditentukan untuk melaksanakan ujian kelulusan.
Setelah menemukan kelas tempat ujian akan berlangsung, Raisa langsung memasuki kelas tersebut. Kelas cukup sepi karena di dalam satu ruang kelas tidak akan terisi penuh dengan murid, murid yang lain akan dibagi dengan beberapa kelas lain, itu sebabnya kelas masih terasa sepi. Murid lain pun belum semua memasuki ruang kelas.
Setelah memasuki kelas, Raisa pun mencari meja dan tempat duduk yang juga telah ditentukan untuk para siswa-siswi. Saat itu ia melihat, ternyata ia satu ruang kelas dengan dua sahabat karibnya, yaitu Maura dan Nilam. Kedua sahabatnya pun menyapa dan menghampirinya...
"Raisa, kamu di kelas ini juga?" Tanya Maura
"Aku ga nyangka kita bakal sekelas, tapi baguslah!" Kata Nilam
"Maura, Nilam, kalian apa kabar?" Tanya Raisa
"Baik dong!" Jawab Maura dan Nilam secara serempak.
"Syukurlah. Senang deh ketemu lagi setelah liburan." Ujar Raisa
"Tapi, gugup nih udah mau ujian." Kata Maura
"Aku ada oleh-oleh nih buat kalian!" Ucap Raisa
"Asik! Kayaknya cuma kamu ya yang ingin kasih oleh-oleh, oleh-oleh yang aku bawa dari liburan kemarin udah habis semua. Maaf ya." Ujar Nilam
"Aku juga cuma beli sedikit pas liburan, jadi udah ga ada yang tersisa." Ucap Maura
"Gapapa. Nih, untuk kalian berdua." Kata Raisa
Raisa pun memberikan dua bingkisan untuk masing-masing satu sahabatnya.
"Oleh-oleh kali ini spesial lho, makanya aku ga sabar kasih untuk kalian berdua." Ucap Raisa
"Terima kasih, Raisa! Kamu yang terbaik!" Kata Maura dan Nilam secara serempak.
"Langsung kubuka ya, Raisa?" Ujar Maura
"Wah, ada makanannya juga! Makan bareng, yuk!" Kata Nilam
"Kalian berdua makan aja, nikmati deh! Kalau aku mau belajar ulqng buat ujian yang sebentar lagi mau mulai." Ucap Raisa
"Oh, kamu mau belajar ya? Ya udah, kita berdua ga ganggu lagi deh." Ujar Nilam
"Selamat belajar, Raisa!" Seru Maura
"Kita bertiga yang semangat ya buat ujian ini!" Kata Raisa
Maura dan Nilam pun meninggalkan Rausa di tempat duduknya yang ingin belajar...
Raisa pun kembali membuka buku pelajaran yang dibawanya sesuai dengan bidang study yang akan diberlangsungkan ujian. Ia kembali mengulang pemahaman belajarnya sebelum ujian dimulai.
•••
Ujian telah berlangsung di beberapa hari terakhir dan akhirnya tiba di mana hari terakhir ujian!
Di hari terakhir ujian, hari ini Raisa terbangun di pagi hari dengan semangat sempurna yang membara. Ia berangkat menuju ke sekolah dengan senyuman cerah yang tak pernah luntur sedetik pun dari wajah dan bibirnya. Di setiap hari ujiannya, ia selalu percaya diri dengan kemampuannya yang selalu berusaha sekuat dan sebisanya. Dan perasaannya sedikit lebih ringan ketika mengingat hari ini adalah ujian terakhirnya.. .
Sesampainya Raisa memasuki ruang kelas tempat ujiannya berlangsung, ia langsung berjalan menuju tempat duduknya. Ditaruhnya tas yang dibawanya dan ia pun duduk di kursinya...
Sebelum ujian dimulai, lagi-lagi Raisa mengambil dan membuka buku pelajarannya dari dalam tas untuk kembali mengulang pemahamannya pada pelajarang yang akan dilangsungkan ujiannya sebentar lagi nanti.
Saat Raisa baru saja membaca sedikit dari bukunya, kedua sahabatnya datang menghampirinya...
"Raisa, kita ikut belajar bareng sama kamu ya." Ucap Nilam
"Iya, kita mau belajar bareng untuk ujian terakhir hari ini aja." Ujar Maura
__ADS_1
"Kalian kayak sama siapa aja, sih... Boleh kok, sini. Duduk aja!" Kata Raisa
Maura dan Nilam pun duduk di dekat Raisa untuk belajar bersama sebelum ujian terakhir dimulai hari ini. Mereka bertiga membuka buku pada pelajaran dan memahami isi buku masing-masing.
"Gak terasa udah hari terakhir ujian aja ya." Ujar Nilam
"Iya, selama ini kita sibuk belajar masing-masing. Kangen deh rasanya ngumpul kayak biasanya." Ucap Maura
"Selesai ujian nanti, kita ngumpul dulu yuk. Ceritain pengalaman masing-masjng waktu liburan kemarin." Ajak Nilam
"Boleh aja. Berarti harus saling tunggu selesai ujian satu sama lain ya!" Kata Raisa menyetujui keinginan kedua sahabatnya.
Saat membuka lembar demi lembaran bukunya, Raisa menemukan sebuah catatan yang bukan merupakan hasil tulisan tangannya. Raisa membaca catatan kecil tersebut yang berbunyi...
"Raisa, aku menyukai tulisan tanganmu. Tulisan tangan seseorang dapat menggambarkan si penulis aslinya, yang menurutku sama-sama cantik!
Semoga kau beruntung pada setiap ujian kelulusanmu. Aku selalu mengharapkan keberhasilanmu...
Dariku yang tak pernah bosan mengatakan 'Aku menyukaimu!': Rumi.
(Sebagai tambahan:) Saat kau membaca catatan ini, di tempat lain aku selalu merindukanmu. Raisa, sayangku."
Tanpa sadar seutas senyuman manis berkembang indah pada bibir Raisa. Raisa berpikir, mungkin catatan kecil tersebut ditulis oleh Rumi saat di malam hari ketika keduanya belajar bersama alias saat Rumi menemani Raisa belajar di dunia berbeda dimensi itu...
Raisa tak pernah tahu dan belum pernah membaca catatan kecil yang ditulis Rumi tersebut sebelumnya. Raisa tak menyadarinya dan tak menyangka akan membaca kata-kata manis yang romantis seperti itu, walau hanya berbentuk sebuah tulisan. Ia sangat senang setelah mengetahuinya...
..."Tulisan tanganmu juga bagus, Rumi. Aku tak menyangka kau mampu menuliskan kata-kata seperti ini untukku. Aku juga baru menyadari adanya catatan kecil darimu di dalam buku milikku, padahal aku sering kali membuka buku ini. Aku di sini juga sangat merindukanmu, Rumi!" Batin Raisa...
Setelah membaca catatan kecil tersebut, Raisa langsung menutup buku itu rapat-rapat. Ia tak ingin ada yang tahu bahwa lelaki pujaan hatinya menuliskan memo cinta untuknya. Setelah buku ditutup, Raisa menggenggamnya dengan erat seolah sedang menggenggam erat tangan lelaki terkasihnya. Senyuman manisnya terus mengembang dan tidak pudar, ia pun juga sampai terkekeh kecil saking bahagianya...
"Kalau begitu, udah sepakat ya!" Seru Maura
"Sepakat dong! Karena Raisa juga harus cerita alasannya sekarang sampai senyam-senyum gitu, kayaknya lagi bahagia banget tuh!" Ucap Nilam
..."Aku ga tau apa hal ini bisa aku ceritakan sama kalian atau enggak. Apa aku harus cerita tentang aku dan Rumi?" Batin Raisa...
Setelah melakukan perbincangan kecil ini, ketiganya kembali pada pemahaman belajar mereka...
...
Bel tanda akhir ujian telah berbunyi...
Semua siswa-siswi pun mengumpulkan hasil ujian yang telah mereka kerjakan. Sebagian dari semua murid menunjukkan ekspresi wajahnya yang masam, mungkin karena soal ujian yang terbilang sulit dan karena waktu ujian berakhir mereka pun terpaksa mengakhiri pengerjaan ujian dan lalu mau tak mau mengumpulkannya pada guru pengawas. Mau bagaimana pun hasilnya nanti, mereka hanya berharap pada keberuntungan yang mereka miliki.
Berbeda dengan itu, Raisa tetap terus tersenyum bagaimana pun hasil ujiannya nanti. Yang terpenting ia sudah berusaha melakukannya sebisa mungkin. Kini perasaannya sudah tidak ada lagi beban dan merasa lega. Setidaknya semua sudah usai dan tak ada lagi yang mengganggu pikirannya.
Setelah mengumpulkan kertas ujian dan merapikan alat tulis yang digunakannya untuk ujian serta memasukkannya ke dalam tas, Raisa pun melenggang ke luar dari ruang kelas tempat ujiannya berlangsung...
Selain ia, semua siswa-siwsi pun ke luar dari ruang kelas. Dan Raisa berdiam di depan kelas menunggu kedua sahabatnya juga ke luar dari kelas. Karena ia sudah berjanji untuk berkumpul setelah ujian terakhir ini usai. Sambil menunggu kedua sahabatnya, Raisa mengabari orang di rumahnya bahwa ia akan pulang lebih lambat hari ini.
Setelah kedua sahabatnya, Maura dan Nilam menghampirinya di luar kelas, ketiganya pun langsung memulai rencana mereka. Setelah ke luar dari area sekolah, mereka bertiga langsung mencari tempat berkumpul dan nongkrong yang asik. Dan tempat yang mereka tuju adalah caffe!
Setelah duduk di dalam caffe dan memesan pesanan, mereka bertiga memulai perbincangan hangat.
"Pertama, cerita liburan Raisa dulu deh! Aku mau tahu, soalnya oleh-oleh yang dikasih kemarin aku belum pernah lihat. Kamu habis liburan di mana, Raisa?" Ujar Maura
..."Sudah kuduga, sebenarnya ide ini kurang bagus! Aku harus cerita bohong kayak apa lagi!? Aku setuju ikut mereka cuma karena kangen, tapi bingung bagaimana harus cerita." Batin Raisa...
Setelah terhimpit kondisi, Raisa hanya mampu mengandalkan kemampuannya dalam berbicara dan mengarang cerita.
"Wajar kalau kalian baru pertama kali lihat, itu dari daerah asing. Liburan kemarin aku pergi berlibur ke tempat teman-temanku yang waktu itu pernah bertemu kalian berdua." Ucap Raisa
"Oh ya? Gimana ceritanya? Kamu ngapain aja di sana? Tempat di sana bagus ga?" Tanya Maura
__ADS_1
"Aku berlibur selama seminggu di sana. Kalau tempat di sana sih sama aja kayak di sini, yang beda cuma suasananya. Di sana ga ramai kayak di sini, tempat yang ramai cuma di pusat desa atau kota, pasar, dan kalau lagi ada perayaan doang. Di sana aku berlibur kayak orang liburan, yang bikin agak istimewanya aku bisa ikut kerja sama dalam pekerjaan yang sering dikerjakan di sana, walau cuma sekali pun rasanya beda banget deh! Awalnya agak sedih karena pas aku datang, ada salah satu temanku di sana yang lagi sakit. Paling sering sih cuma ngobrol dan nongkrong kayak yang lagi kita lakuin ini. Di hari-hari terakhir, mereka menemani aku belanja membeli oleh-oleh untuk kalian dan keluargaku. Aku bisa ke sana karena teman-temanku di sana mengirim tiket keberangkatan ke sana. Mereka baik sekali!" Cerita Raisa
Tiket keberangkatan adalah dusta! Raisa bebas bisa pergi ke sana kapan pun ia ingin karena dirinya sendirilah tiket keberangkatan itu. Alias dirinya memiliki kemampuan untuk pergi ke mana pun seperti pintu ke mana saja milik Doraemon, bedanya yang dimilikinya adalah kemampuan sihir teleportasi...
"Di sana itu di mana sih? Di luar negerinya di mana?" Tanya Nilam
"Jauh, di negaranya pun mereka tinggal di desa pedalaman dekat hutan. Aku udah selesai cerita, kalau kamu, Maura? Gimana, jadi ga ke Singapura?" Ujar Raisa yang tisak memberikan jawaban sama sekali atas pertanyaan dari Nilam.
"Ga jadi, saudaraku yang datang ke sini. Akhirnya kita sama-sama pergi liburan ke Bogor, tapi tetap seru kok." Ungkap Maura
Maura pun menceritakan pengalamannya saat berlibur bersama keluarganya di kota hujan, Bogor. Dengan cerita dari Maura, Raisa bisa tenang karena tidak lagi diberi pertanyaan tentang di mana lokasi tempatnya berlibur di daerah asing itu.
"Asalkan sama orang yang kita sayang sih ga masalah ada di mana yang penting kita bersama. Kalau kamu, Nilam? Gimana liburan kamu kemarin?" Ujar Raisa
"Kalau aku, beneran pergi liburan ke Bali..." Ucap Nilam
Kini giliran Nilam yang bercerita tentang masa liburannya bersama keluarga ke tempat saudaranya di Bali.
"Sekarang giliran Raisa yang cerita lagi! Aku masih belum puas sama cerita kamu, aku masih mau dengar cerita yang lain!" Ucap Nilam
"Cerita yang lain, tentang apa?" Tanya Raisa
Raisa mulai khawatir dan was-was! Ia takut kedua sahabatnya akan bertanya tentang hal yang tidak bisa diungkapkannya karena banyak sekali hal yang harus dirahasiakan olehnya. Nilam lah sebab kekhawatirannya karena dia yang paling teliti dalam suatu hal.
"Ituloh, hal yang sampai buat kamu senyam-senyum sebelum mulai ujian tadi!" Kata Nilam
Baru saja nafas Raisa terasa tercekat dan kini ia dapat sedikit bernafas lega. Ternyata yang ditanyakan bukanlah sesuatu yang sangat dikhawatirkan olehnya. Walau hal yang ditanyakan adalah sebagian dari kegelisahannya yang lain.
"Oh, itu! Sebenarnya ada sedikit kabar baik. Menurutku aja sih tapi semoga terus terdengar baik." Ujar Raisa
"Kabar baik apa itu yang buat kamu tersenyum manis kayak tadi?" Tanya Maura
"Ingat lelaki yang bernama Rumi? Aku dan dia udah sama-sama nyatain saling suka, walau menurutku kita ga sampai pacaran cuma menjalin hubungan tanpa status, tapi itu jauh lebih baik karena sepertinya itu yang aku ingingkan karena jujur aja aku masih punya keraguan tentang hubungan ini. Yang penting sekarang aku cuma mau menjalani yang seperti ini sama dia." Ungkap Raisa
Akhirnya Raisa mengungkapkan perihalnya dengan Rumi, lelaki terkasihnya yang jauh di sana...
"Kenapa gitu? Kenapa ga pacaran? Apa yang masih buat kamu ragu?" Tanya Maura
"Kami ga pacaran karena cuma sama-sama bilang suka aja, bagiku itu bukan pacaran dan aku pun ga mau begitu. Aku ragu tentang kelanjutan hubungan ini, aku benar-benar hanya mau menikmati seperti sekarang ini aja. Yang aku khawatirin tetap karena tempat tinggal kami. Tapi aku cukup bahagia walau hanya seperti sekarang ini. Jadi, biarlah waktu yang menentukan!" Jelas Raisa
"Aku sih ga bisa bilang apa-apa karena yang menjalaninya itu kamu. Cuma bisa berharap kamu bisa terus bahagia." Ujar Nilam
"Bahagialah selalu sama apa yang jadi pilihanmu, Raisa!" Kata Maura
"Ya, terima kasih!" Ucap Raisa
•••
Hari yang ditunggu pun tiba!
Perayaan kelulusan pun berlangsung!
Raisa telah berhasil lulus dengan hasil yang cukup memuaskan baginya...
Saat ini, Raisa sedang menanti acara kelulusannya di sekolah. Setelah menerima hasil ujian dan kelulusannya pihak sekolah mengadakan acara perayaan kelulusan bagi tingkat akhir seperti Raisa dan semua yang lainnya.
Dengan pakaian bebas casual, Raisa menunggu acara perayaan itu dimulai...
.
•
Bersambung....
__ADS_1