Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 89 - Menjadi Pesta Karaoke.


__ADS_3

Meski Bu Vani berkata pada para juru rias untuk menunggu selama 15 menit sebelum masuk ke dalam kamar utama, mereka menunggu sampai setidaknya 30 menit waktu berlalu. Mungkin karena kamar yang harus mereka masuki adalah kamar pengantin, jadi mereka merasa segan dan tidak boleh masuk sembarangan.


Setelah berselang 30 menit, para juru rias itu pun mengetuk pintu kamar utama. Dan Raisa langsung membuka pintu kamar di dalam.


"Maaf, kalian pasti sudah lama menunggu. Silakan masuk," ujar Raisa


Kedua juru rias itu pun masuk ke dalam kamar utama setelah dipersilakan masuk oleh Raisa. Mereka tidak menanyakan keberadaan suami Raisa meski tidak menemukan Rumi di dalam sana.


Raisa pun langsung bersiap dan duduk di atas kursi di depan meja rias di dalam kamar tersebut.


"Hari ini hanya melangsungkan pesta sederhana. Jadi, apa bisa riasannya dibuat natural saja? Saya kurang terbiasa pakai riasan tebal full make-up seperti kemarin," pinta Raisa


"Meski begitu, saya juga tidak terbisa merias wajah karena biasanya selalu ada bantuan dari teman atau penata rias lainnya. Jadi, mohon bantuannya," sambung Raisa


"Bisa kok ... bisa diatur. Karena mau riasan natural, mungkin meriasnya juga gak butuh waktu lama seperti kemarin."


Kedua juru rias yang datang dari Wedding Organizer itu pun mulai merias wajah Raisa secara bergantian. Dan benar saja hanya butuh sedikit waktu, riasan wajah Raisa sudah hampir selesai. Karena Raisa memang meminta riasan natural.


Saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Rumi langsung masuk begitu saja ke dalam kamar tersebut.


"Maaf, aku lupa mengetuk pintu lebih dulu. Apa aku mengganggu?" tanya Rumi


"Tidak apa. Aku sudah hampir selesai dirias kok," jawab Raisa


"Sayang, pakaianku untuk pesta hari ini ada di mana?" tanya Rumi


"Aku sudah menyiapkannya. Ada di dalam lemari paling pojok sebelah kiri. Yang warna pakaiannya sama persis dengan yang kupakai ini," jawab Raisa


Rumi pun membuka lemari pakaian dan mengambil pakaian untuk pesta hari ini dari dalam sana. Rumi memang tidak membawa ganti pakaian untuk pesta hari ini. Ia pun kembali masih dengan memakai piyama tidurnya semalam walau sudah mandi di kamar mandi lain di dalam kamar yang digunakanp oleh Aqila dan Morgan.


"Ah ... itu, suamiku habis mandi pakai kamar mandi lain dan lupa membawa ganti pakaian untuk pesta nanti. Salahku juga yang tidak memberikan pakaiannya lebih dulu," ungkap Raisa yang entah kenapa merasa harus menjelaskannya pada kedua penata rias yang ada di sana saat itu.


"Kenapa gak mandi bareng aja?" Salah satu penata rias itu bergumam pelan.


"Pertanyaannya sama seperti yang diajukan oleh Morgan tadi," batin Rumi yang masih sibuk melihat ke arah Raisa yang sedang dirias oleh dua penata rias.


Rumi saja yang berdiri cukup jauh dari meja rias mendengar gumaman salah satu penata rias itu. Mungkin satu penata rias lainnya juga mendengar gumaman rekannya itu.


"Sekarang tinggal memakai lipstiknya."


"Rumi, kenapa kau masih diam saja di situ?" tanya Raisa


"Aku ingin terus memandangi wajah cantikmu yang sedang dirias," jawab Rumi


"Aku sudah hampir selesai. Tapi, apa kau masih ingin terus memakai pakaian tidur semalam itu saja?" tanya Raisa menyindir suaminya


"Maaf. Aku akan segera berganti pakaian," kata Rumi yang tersadar masih memakai piyama tidur.


Rumi pun beranjak menuju ke kamar mandi dengan langkah perlahan karena keduanya masih fokus menatap ke arah Raisa.


Penata rias pun memberi sentuhan akhir dengan memakaikan lipstik tipis pada bibir cantik milik Raisa.


"Untuk suamiku itu, biar dia tanpa riasan saja. Dia tidak betah memakai riasan. Kemarin saja setelah dirias langsung dihapus lagi riasannya," ucap Raisa


"Ya, gak masalah. Suaminya emang udah ganteng tanpa riasan juga."


"Bilang aja gak mau kalau kami menyentuh wajah suaminya yang ganteng itu." Lagi-lagi salah satu penata rias itu bergumam pelan seolah mengatakan Raisa adalah tipe istri pencemburu.


Rumi terkekeh kecil setelah mendengar gumaman pelan salah satu penata rias itu sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Untuk pengantin lelaki, sering kali saat menikah, wajahnya juga diberi riasan sederhana untuk sekadar memoles bedak dan lipstik tipis. Namun, biasanya pengantin lelaki tidak suka dirias dan lebih memilih menghapus riasan wajahnya.


"Terima kasih atas pujiannya untuk suamiku," ucap Raisa


"Maaf. Raisa juga cantik kok. Kalian cocok banget. Cantik sama ganteng."


Raisa hanya tersenyum menanggapi pujian dari salah satu penata rias dengan mulut nyinyir itu.


"Maaf. Kalau begitu, kami berdua permisi ke luar."


"Silakan. Terima kasih untuk riasan wajahnya," ucap Raisa


Kedua penata rias itu pun mengangguk kecil dan berlalu ke luar dari kamar utama tersebut.


Tak selang berapa lama setelah kedua penata rias ke luar dari kamar, Rumi pun ke luar dari kamar mandi dengan memakai setelan kemeja untuk pesta hari ini.


Tak semewah kemarin, karena hari ini hanya mengadakan pesta sederhana untuk teman-teman Raisa dan Rumi saja.


Hari ini pun Raisa tidak mengenakan gaun mewah seperti kemarin. Gadis cantik itu hanya memakai dress dengan panjang hingga sebawah lutut berwarna hijau tosca. Begitu pun dengan Rumi. Lelaki tampan itu tidak memakai setelan jas seperti kemarin, hanya memakai setelan kemeja dan celana panjang dengan warna senada dan selaras dengan yang dipakai oleh Raisa. Yaitu, berwarna hijau tosca. Namun, keduanya tetap terlihat cantik dan tampan dan tentunya tampak sangat serasi.


Raisa berbalik saat Rumi telah ke luar dari kamar mandi. Lalu, gadis cantik itu menghampiri sang suami untuk merapikan pakaian yang dikenakan suami tampannya itu.


"Mana dua penata rias tadi? Sudah pergi?" tanya Rumi


"Ya. Mereka sudah ke luar saat kau masih di dalam kamar mandi tadi. Kenapa kau menanyakan tentang mereka? Ingin tebar pesona? Kau pasti merasa senang dibilang ganteng alias tampan oleh mereka berdua tadi," ujar Raisa


"Kenapa? Apa kau merasa cemburu?" tanya Rumi yang mencoba menggoda sang istri.


"Tidak. Aku hanya sedikit kesal dengan ucapan salah satu dari mereka yang malah terdengar seolah ikut campur bagiku. Dia mengatakannya dengan pelan, tapi bermaksud ingin menyindir," jelas Raisa


"Apa kau marah dan tidak suka dengan orang yang seperti itu?" tanya Rumi


"Tidak. Aku hanya merasa lucu dengannya," jawab Raisa


"Bukannya marah atau tidak suka, kau malah merasa dia lucu?" tanya Rumi yang merasa bingung.


"Ya ... kan, tipe orang berbeda-beda. Tidak heran lagi, hanya merasa agak lucu saja dengan tipe orang yang seperti itu. Terkadang banyak tipe orang yang seperti itu yang tidak bisa mengontrol ucapannya tanpa disadari oleh dirinya sendiri," ungkap Raisa


Raisa merapikan pakaian Rumi hingga membenarkan kerah kemeja yang dipakai suaminya itu.


"Sudah selesai dan rapi," kata Raisa sambil tersenyum manis.


Raisa melangkah mundur untuk memastikan pakaian yang dipakai oleh Rumi telah rapi. Namun, Rumi malah menarik dan merengkuh pinggang rampingnya untuk merapatkan tubuh dan menghapus jarak antara keduanya.


Raisa pun menatap ke arah Rumi seolah bertanya atas perbuatan suaminya saat itu.


"Kan, tadi kau sudah berjanji ingin menberimu ciuman lebih dari sekadar di pipi," kata Rumi


"Tapi, kita harus segera datang ke pesta yang kita adakan sendiri," elak Raisa


"Kau sendiri yang bilang aku harus menunggu dan mandi dulu. Aku sudah menunggumu dan sekarang aku juga sudah mandi bahkan sudah rapi," ujar Rumi seolah sedang merengek seperti anak kecil.


"Tapi, wajahku sudah dirias. Nanti lipstikku berantakan," kata Raisa


Wajah Rumi langsung berubah murung dan lesu seolah tak bersemangat. Raisa terkekeh kecil melihat ekspresi wajah suaminya yang sedang merajuk itu.


"Baiklah. Nanti aku bisa mengulang pakai lipstik lagi, tapi kita tidak bisa lama," ujar Raisa


Rumi langsung tersenyum senang dan wajahnya berubah ceria dan menjadi semangat seketika.


"Ini takkan lama," kata Rumi


Rumi pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah istri cantiknya. Raisa pun menyambut Rumi dengan memejamkan kedua matanya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher suami tampannya itu.


Rumi menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. Diraupnya bibir Raisa. Lelaki tampan itu ******* bibir manis istri tercinta. Ciuman itu terasa sangat manis bagi kedua insan sepasang suami istri itu.


Keduanya saling membalas dan beralih membuka mulut satu sama lain hingga lidah keduanya saling bertemu sapa dan menari bersama. Saling mengecap, membelit, *******, dan berbagi nafas.


Keduanya saling memeringkan kepala secara bersilangan untuk sesekali meraih oksigen yang terasa semakin menipis. Lenguh*n dan des*han tertahan membuat sensasi dan menambah nikmat aksi keduanya dalam berbagi ciuman yang mengg*irahk*n.


Cukup panjang ciuman itu bertahan hingga 5 menit lamanya.


Setelah itu, keduanya saling menjauhkan wajah masing-masing. Rumi pun mengelap bibir sang istri yang basah karena ulahnya. Raisa pun sibuk mengatir nafasnya yang terengah-engah karena kehabisan oksigen. Begitu pun dengan Rumi dan keduanya tersenyum di akhir permainan cinta itu.


"Sudah cukup," kata Raisa


"Terima kasih, Sayang," ucap Rumi


Raisa mengangguk pelan dan mengalihkan diri memandang pantulan dirinya di dalam cermin meja hias. Benar saja, lipstiknya berantakan.


"Kau ke luar dulu saja. Aku akan merapikan sedikit riasanku dulu sebentar," ujar Raisa


Rumi pun beranjak ke luar dari kamar. Sedangkan Raisa menghapus lipstik pada bibirnya yang sudah tak karuan itu dan menggantinya dengan memoleskan lip balm hingga merata. Raisa memang lebih nyaman hanya memakai lip balm dari pada lipstik.


Merasa riasannya sudah cukup bagus, Raisa pun segera menyusul Rumi ke luar dari kamar tersebut. Ternyata, Rumi masih menunggunya di depan pintu kamar tersebut.


"Kok kamu masih di sini? Kenapa tidak mulai acaranya lebih dulu?" tanya Raisa

__ADS_1


"Aku menunggumu, Raisa. Kan, tidak mungkin aku mulai pestanya tanpa dirimu," jawab Rumi


"Baiklah. Ayo, kita mulai pestanya bersama. Yang lain pasti sudah menunggu," kata Raisa


Rumi mengangguk. Rumi pun mengulurkan satu tangannya, meminta Raisa untuk menggenggamnya. Raisa pun menerima uluran tangan Rumi dan keduanya pun saling bergandengan tangan dengan erat dan mesra.


Pasangan suami istri itu pun melenggang bersama ke luar dari vila. Di halaman vila tersebut, sudah ada banyak teman-teman mereka yang menunggu untuk memulai pesta.


Pesta hari ini memang lebih sederhana dari pada pesta resepsi pernikahan di hari sebelumnya. Hari ini hanya pesta khusus kalangan anak muda untuk saling bercengkrama hangat bersama.


Orang-orang menghadiri pesta pun benar-benar hanya para teman dari Raisa dan Rumi.


Begitu Raisa dan Rumi melangkah menuju halaman vila, Daffa sudah bersiap untuk memotret keduanya. Peranan Daffa hari ini masih sama seperti kemarin, merangkap sebagai tamu dan fotografer.


"Akhirnya yang punya pestanya muncul juga!" seru Daffa


Tentu saja semua sudah menunggu Raisa dan Rumi sebagai tokoh utama pesta hari ini. Pasangan suami istri itu masih saja menjadi sorotan utama pada acara kali ini. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Semua ikut merasa senang atas kebahagiaan pernikahan dua teman mereka yang akhirnya bisa bersatu setelah melewati banyak rintangan yang menghadang.


"Duh ... enaknya jadi pengantin baru. Bisa barengan terus. Sampai lupa lagi bikin acara pesta," sindir Nilam


"Maaf, sudah buat kalian semua menunggu," kata Raisa


"Kalau begitu, ayo ... kita mulai aja pestanya," sambung Raisa


Pesta kali ini hanya menyiapkan satu meja panjang yang sudah menghidangkan banyak makanan di atasnya. Banyak kursi untuk pemilik pesta dan para tamunya saling bercengkrama hangat bersama mengelilingi meja makan panjang tersebut.


Pesta sederhana itu kini sudah seperti pesta minum teh.


Saat pesta tersebut telah dimulai dan semua anggota pesta berbincang dengan seru, Bu Vani datang menghampiri.


"Raisa ... " panggilnya, seorang wanita paruh baya dengan suara lembut.


"Ibu ... ada apa?" tanya Raisa


"Maaf ganggu pestanya. Ibu cuma mau bilang, Ibu, Bapak, Raihan, mau pulang," jawab Bu Vani


"Gak ganggu kok, Bu. Tapi, mau pulang sekarang? Gak nanti aja? Terus, Bapak sama Raihan mana? Kok Ibu datang sendirian?" tanya Raisa lagi.


"Nanti mau kapan lagi? Kalau lama-lama ada di sini yang ada cuma ganggu. Bapak sama adikmu juga gak mau ganggu makanya nunggu di mobil aja," ujar Bu Vani


"Udah lagi di mobil? Udah mau langsung pulang dong?" tanya Raisa


"Iya, Raisa. Makanya Ibu ke sini mau bilang dulu sebelum pergi, takutnya kamu nyariin. Harusnya tadi Ibu kabarin aja lewat chat atau telepon," jelas Bu Vani


"Gak gitu juga dong, Bu. Gak apa kok. Ya udah, kalau udah mau pulang ... hati-hati, ya, Bu. Bilang ke Bapak juga, hati-hati bawa mobilnya," kata Raisa


Bu Vani pun mengangguk.


"Rumi, tolong jaga Raisa," pesan Bu Vani


"Baik, Bu. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam Rumi buat Bapak dan Raihan," ujar Rumi


"Ya. Ibu pergi dulu," pamit Bu Vani


Bu Vani pun beranjak pergi dari sana.


"Jadi, sekarang sudah panggil Bibi dengan sebutan Ibu, ya? Sudah jadi menantu yang baik, kah?" tanya Chilla bermaksud mengejek.


"Aku akan senantiasa berusaha untuk menjadi suami dan menantu yang baik," jawab Rumi


"Itu bagus, Rumi!" seru Aqila memuji.


Saat itu Rumi dan Morgan saling bertukar pandang seolah sedang mengisyaratkan sesuatu. Dennis yang ikut melihat oun tersenyum kecil.


Rumi pun bangkit berdiri.


"Rumi, kau mau ke mana?" tanya Raisa


"Aku ingin ke belakang sebentar," jawab Rumi


Yang Raisa tangkap adalah Rumi hendak pergi ke toilet. Raisa pun hanya mengangguk dan membiarkan Rumi beranjak pergi dari sana. Namun, Raisa tidak memperhatikan saat Rumi pergi dan fokus pada semua temannya yang ada di sana.


Tak butuh waktu lama, Rumi pun kembali. Namun, sepertinya ia enggan untuk kembali duduk.


"Sudah?" Raisa bertanya singkat karena merasa terlalu sedikit waktu jika Rumi benar-benar pergi ke toilet dan sudah kembali secepat ini.


Saat itu terdengar suara musik yang mengalun dengan merdu dan saat itu juga Rumi mengangkat sebelah tangannya yang memegang suatu benda. Itu adalah sebuah mikrofon.


Dalam suatu ketukan tempo lagu, Rumi mengeluarksn suaranya untuk masuk mengiringi musik dan mulai bernyanyi.


Raisa tampak terkejut.


Suara Rumi yang terdengar serak-serak basah itu menguringi nada lagu yang sudah lebih dulu diaransemen agar cocok dengan jenis suaranya.


Tujuan pengaransemenan lagu karena jenis suara Rumi berbeda dengan penyanyi asli yang membawakan lagu tersebut.


Itu adalah lagu dari penyanyi Rizky Febian dengan judul Penantian Berharga.


Dahulu kita terbiasa


Selalu menunggu, terus menunggu


Berharap datang seseorang


Untuk melengkapi kisah hidup ini


Terlalu sulit melangkah


'Tuk temukan yang selalu dinantikan


Hingga kita pun berjumpa


Tiada lagi alasan untuk menunda


Akhirnya kita bersama


Setelah menanti lama


Semoga s'lalu terjaga


Ah-ha-uh-oh-oh


Waktu telah berbicara


Menanti tak sia-sia


Kar'na kau yang kini ada


Ah-ha-uh-oh-oh


Sangatlah berharga


Bertahan di kesendirian


Telah menuntunku menemukanmu


Tanpa ragu aku berikan


Semua rasa cinta yang tersimpan lama


Penantian s'lama ini


Tak membuatku jera, tetap berharap


Ku yakin seseorang 'kan datang kepadaku


Menggenggam tanganku


Akhirnya kita bersama


Setelah menanti lama


Semoga s'lalu terjaga


Ah-ha-uh-oh-oh


Waktu telah berbicara

__ADS_1


Menanti tak sia-sia


Kar'na kau yang kini ada


Ah-ha-uh-oh-oh


Sangatlah berharga


Sangat berharga


Penantian


Sangatlah berharga


Penantian


Raisa terperangah saat melihat sekaligus mendengar Rumi bernyanyi untuk pertama kalinya. Bahkan itu dilakukan bukan hanya di depannya saja.


Saat itu juga Raisa teringat ketika dirinya iseng melontarkan permintaan ingin mendengar suara Rumi bernyanyi untuknya. Kala itu Rumi mengiyakan dan berkata akan memenuhi permintaannya itu saat keduanya menikah. Inilah saatnya mengabulkan permintaannya itu.


Raisa tidak menyangka, Rumi akan mengingat permintaannya yang sebenarnya tidak serius itu bahkan sampai mengabulkannya.


Semua bertepuk tangan saat Rumi telah selesai bernyanyi.


"Aku sudah berjanji akan bernyanyi untukmu saat kita menikah. Tapi, maaf ... entah kemarin itu aku terlalu sibuk menerima tamu undangan bersamamu atau memang terlalu gugup, aku tidak ingin menjadikannya alasan lagi. Maaf. Aku baru bisa bernyanyi sekarang," ucap Rumi


"Kau ... bagaimana bisa?" tanya Raisa


"Aku terus berlatih, meminta bantuan Dennis untuk mengubah sedikit nada lagunya, lalu hari ini bekerja sama dengan pihak Wedding Organizer agar bisa bernyanyi di hadapan kalian semua. Lagu yang kunyanyikan kali ini kupersembahkan untukmu, Raisa ... Istriku," ungkap Rumi


"Pantas saja speaker bekas acara kemarin masih belum diambil oleh pihak Wedding Organizer. Ternyata kau sudah merencanakannya, bahkan sampai berlatih dan mengaransemen lagunya dengan bantuan Dennis. Tapi, itu tidak penting ... terima kasih sudah mengingat serta mengabulkan permintaanku dan bernyanyi untukku," ucap Raisa


"Sebenarnya saat aku mengatakan permintaan ini, aku tidak sepenuhnya serius. Tapi, ternyata kau benar-benar mewujudkannya untukku. Aku sungguh tidak menyangka. Suaramu bagus, Suamiku. Aku menyukainya," sambung Raisa


"Jika itu mengenai dirimu, apa lagi soal berbicara denganmu ... aku tidak pernah tidak serius. Aku sudah berkata akan bernyanyi, maka akan kulakukan," kata Rumi


"Aku baru pertama kali dengar Rumi bernyanyi. Mungkin kita semua juga. Suara Rumi bagus," ujar Nilam


"Ini juga berkat bantuan Dennis yang membantuku mengubah nada lagunya agar cocok dengan suaraku. Terima kasih, Dennis," ucap Rumi


"Sama-sama. Tak perlu sungkan denganku. Hanya saja, setelah ini jangan lagi merasa cemburu denganku. Karena aku pun sudah punya orang yang kucintai," ujar Dennis yang menatap ke arah Amy, pacarnya.


Saat itu juga Amy tersenyum malu mendengar perkataan manis dari sang pacar yang ditujukan untuknya.


"Sekarang saatnya Raisa yang bernyanyi untuk membalas nyanyian Rumi!" seru Maura


"Tapi, aku gak tahu mau bernyanyi lagu apa. Ini gak ada dalam rencana," kata Raisa


"Lagu apa saja, Kak. Aku juga mau dengar Kak Raisa bernyanyi secara langsung," pinta Monica


Saat itu pihak Wedding Organizer dipanggil dan Raisa merequest sebuah lagu untuk bernyanyi.


Setelah itu, musik dari sebuah lagu pun diputar dan Raisa pun mulai bernyanyi dengan menggunakan mikrofon yang tadi Rumi gunakan untuk bernyanyi.


Itu adalah lagu dari penyanyi Bunga Citra Lestari dengan judul Kerena Kucinta Kau.


Jika ada yang bilang ku lupa kau


Jangan kau dengar


Jika ada yang bilang ku tak setia


Jangan kau dengar


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Semua itu kar'na ku cinta kau


Jika ada yang bilang ku tak baik


Jangan kau dengar


Jika ada yang bilang ku berubah


Jangan kau dengar


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Semua itu kar'na ku cinta kau


Kau


Saat kau ingat aku, ku ingat kau


Saat kau rindu, aku juga rasa


Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku


Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan


Tuhan yang tahu ku cinta kau


Jika kau tak percaya padaku


Sakitnya aku


Jika kau lebih dengar mereka


Sedih hatiku


Banyak cinta yang datang mendekat


Ku menolak


Semua itu kar'na ku cinta kau


Kau


Saat kau ingat aku, ku ingat kau


Saat kau rindu, aku juga rasa


Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku


Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan


Tuhan yang tahu ku cinta kau


Saat kau ingat aku, ku ingat kau


Saat kau rindu, aku juga rasa


Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku


Kau tahu, ku juga ingin denganmu


Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku


Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan


Tuhan yang tahu ku cinta kau


Kau, hmmm~


Semua pun bertepuk tangan untuk Raisa yang baru saja usai bernyanyi.


Acara pesta hari ini pun berubah menjadi ajang karaoke bagi sebagian mereka yang bisa bernyanyi. Atau bahkan mereka pun bernyanyi bersama untuk bersenang-senang.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2