Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
143 - Sudah Mau Pergi.


__ADS_3

Seperti kata Daffa, benar saja! Kelima gadis yang sedang berkumpul itu langsung makan-makan bersama setelah pergi dari studio. Mereka berlima makan di restoran sederhana sambil berbincang ria...


"Video pemotretan kamu yang aku rekam hasilnya lumayan bagus, Raisa. Daffa, juga udah kirim file video yang dia rekam ke aku. Gak sabar deh nau upload videonya, sayangnya harus tunggu foto aslinya muncul di peredaran." Ujar Nilam


"Kamu keren lho tadi, Raisa." Kata Maura


Raisa menyimak obrolan teman-temannya sambil terus memakan makanan miliknya.


"Cie, yang bakal terkenal! Raisa, otw jadi artis!" Goda Hasna


"Aku biasa aja kok." Sahut Raisa


"Kalau begitu, kita harus foto bareng! Sebelum, Raisa, makin terkenal nanti!" Ucap Andien


"Setiap ketemu, kan, kita juga foto bareng. Ayo, kalau mau foto, mah!" Ujar Raisa


"Beda dong! Sebelumnya, kan, kamu belum jadi calon artis!" Kata Andien


Andien pun langsung mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk berfoto bersama.


Cekrik! Cekriik...


Cekriiikk~


"Kamu, kan, juga tahu aku masih 'calon' artis, itu juga kalau terwujud, bisa juga sebaliknya." Ucap Raisa


"Kesannya kamu jadi gak rela banget foto bareng kita-kita." Murung Andien


"Tentu, bukan! Buktinya aku mau foto bareng kalian tadi. Aku cuma gak pernah berpikir bisa jadi artis aja." Timpal Raisa


"Kamu itu bukannya gak pernah berpikir ke sana, tapi-" Ucapan Maura terpotong.


"Tapi, kamu terlalu merendah dan gak percaya diri." Sahut Nilam menyambung ucapan Maura yang terpotong.


"Betul! Dari kamu mulai jadi model dadakan tadi, kamu pasti punya sedikit bayangan kalau kamu benar-benar jadi terkenal. Kamu cuma gak percaya diri dan gak yakin kalau kamu bisa jadi artis." Ucap Hasna


"Ya, aku cuma gak yakin aja. Apa aku bisa jadi sosok yang baik kalau benar aku bisa jadi artis nanti. Lagi pula, itu masih lama, kan? Ini cuma berandai-andai aja." Ujar Raisa


"Tuh, kan! Kamu mulai merendah lagi... Dari awal kamu bantu Daffa untuk jadi model dadakannya, harusnya kamu yakin dan percaya diri bisa jadi model yang baik kalau seandainya emang terwujud." Ucap Andien


"Ini emang cuma berandai-andai, tapi aku yakin kemungkinan terwujudnya lebih besar!" Kata Hasna


"Dari awal kenal kamu, kayaknya kamu emang orang yang kurang percaya diri, ya, Raisa..." Ujar Nilam


"Benar! Waktu awal rencana kita mau bikin konten pun awalnya kamu gak percaya diri, kan? Tapi, channel kamu sekarang udah cukup terkenal, lho!" Tutur Maura


"Iya, deh. Mulai sekarang aku bakal lebih percaya diri lagi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi." Kata Raisa


"Nah, begitu dong!" Girang Hasna


"Ngomong-ngomong, apa kalian tahu aku pernah punya teman dekat selain kalian?" Tanya Raisa tiba-tiba.


"Siapa yang kamu maksud, Raisa?" Tanya balik Hasna


"Aku juga gak tahu pasti, tapi aku merasa punya teman lebih banyak selain kalian." Jawab Raisa


"Apa kamu ingat sesuatu, Raisa?" Tanya Andien


"Gak tahu. Aku seperti ingat sesuatu, tapi rasanya sangat sulit untuk ingat lagi." Jawab Raisa


Raisa, Andien, dan Hasna langsung melirik ke arah Maura dan Nilam. Karena masing-masing dari mereka semua juga tahu, Raisa lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama Maura dan Nilam.


"Mng.. Aku juga gak tahu siapa yang kamu maksud, Raisa. Kita semua, kan, sebenarnya punya banyak teman sewaktu sekolah. Jadi, aku gak tahu siapa teman selain kami yang dekat sama kamu." Ucap Nilam dengan bumbu kebohongan.


"Apa kamu bisa merujuk ke ciri-ciri tertentu? Kayak lelaki atau perempuan, ciri-ciri fisiknya? Apa kamu bisa ingat detail yang kayak gitu?" Tanya Maura pura-pura tidak tahu.


Raisa pun menggeleng pelan...


"Udahlah... Mungkin suatu saat aku juga bakal ingat. Gak apa, ini cuma masalah waktu." Ucap Raisa


"Maaf, ya, kita gak bisa bantu." Kata Andien


"Sabar, ya, Raisa." Serempak Maura dan Nilam


•••


..."Aku berharap bisa ketemu sama orang-orang yang sekarang aku lupa itu. Supaya rasa rindu ini bisa terbalas! Waktu awal aku gak ingat Maura dan Nilam pun setelah terus bertemu dan bersama mereka ingatanku tentang mereka jadi pulih lagi. Jadi, aku berharap bisa bertemu mereka yang aku lupakan itu supaya ingatan tentang mereka juga pulih lagi." Batin Raisa di suatu malam....


"Tapi, kapan aku bisa ketemu mereka, ya? Keluarga dan teman-teman juga gak pernah ada yang mengungkit tentang mereka yang asing yang harusnya aku ingat itu. Mereka semua pasti terus menyembunyikannya demi kebaikan aku juga, aku juga jadi gak berani tanya kalau mereka semua terus diam." Gumam Raisa yang sedang termenung.


•••


Blub~


Blubub...


Seseorang yang terus berada di dalam tabung perawatan berukuran raksasa terus bernafas dan hidup dalam kondisi kritis. Beberapa selang termasik selang oksigen yang membantunya terus bernafas hidup terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Ia hidup dan menunjukkan pergerakan statis dalam beberapa lama waktu ini.


Namun, dalam tabung berisi yang dipenuhi air yang mengelilinginya itu banyak terdapat gelembung dari aktivitas pernafasannya yang terlihat meningkat menandakan adanya peningkatan emosi yang terjadi padanya. Entah apa yang dialaminya di alam bawah sadarnya itu, ini bisa saja jadi pertanda baik atau pun sebaliknya...


Ia terus bernafas dan tampak terengah-engah dan tiba-tiba saja... Ia menggumamkan suatu nama dan secara langsung membuka kedua matanya!


"Raisa!"


AKH!


UKH~


"Aku harus menemuinya! Harus bertemu dengannya!"


Seseorang yang menyadari sesuatu terjadi pun datang melihatnya...


"Rumi!?"


"Kau sudah sadar? Aku akan segera mengeluarkanmu!" Ujarnya


Seseorang itu mengeluarkannya dari tabung inkubasi raksasa itu...


Air yang berada di dalam tabung terkuras sampai habis, ia yang berada di dalamnya pun terjatuh duduk lemas di bawah. Tabung pun dibuka dan seseorang membantunya berjalan ke luar dari sana...


"Kau? Apa yang terjadi?"


"Kau baru saja sadar, tapi sudah melupakan pernah memanggilku dengan sebutan 'Ayah'. Ya, aku bisa mengerti kondisimu."


Baru saja ia dibantu untuk duduk di ranjang rawat, namun ia sudah bergegas bangkit berdiri lagi...


"Aku harus menemui Raisa!"

__ADS_1


"Tidak bisa! Kau tidak boleh bergerak dulu saat ini. Rumi, ingatlah kau baru saja sadar dari masa kritismu!"


"Aku harus pergi!"


Seseorang itu membantunya untuk kembali duduk sampai merebahkan tubuhnya yang masih lemah...


"Kau harus menjaga kondisimu yang masih lemah! Apa kau tidak ingat yang terjadi padamu? Kau terluka parah sebelumnya! Aku sudah berhasil membuatmu kembali sadar, setidaknya sayangilah nyawamu ini!"


"Bagaimana keadaan Morgan dan yang lain?" Tanyanya yang adalah Rumi yang baru saja sadar dari KOMA.


"Sebelum sadar kau memanggil nama Raisa, sekarang kau malah menanyakan tentang Morgan! Cemaskan saja dirimu sendiri!" Ujarnya, yang pernah dipanggil dengan sebutan 'Ayah' oleh Rumi adalah Rommy.


"Aku ingat, berada di dalam kekacauan di Desa Daun sebelumnya. Morgan juga ada di sana, apa dia baik-baik saja?" Tutur Rumi bertanya.


"Dia, Aqila, dan semua warga desa baik-baik saja. Ada Tuan Pemimpin Desa yang melindungi mereka semua, dan juga yang telah nenyelamatkanmu. Rekan satu timmu itulah yang membawamu ke sini dan menetap dalam beberapa waktu, tapi mereka sudah kembali ke Desa Daun karena panggilan misi." Jawab Tuan Rommy


"Aku harus segera menemui Raisa!" Gumam Rumi


"Kalau begitu, pulihkan dulu kesehatanmu." Kata Tuan Rommy


"Kau yang paling ahli dalam hal itu. Aku mengandalkanmu untuk secepatnya membuatku pulih, Ayah." Ucap Rumi


"Dasar, kau ini! Kalau sudah menyangkut Raisa, baru kau mau memanggilku dengan sebutan itu. Kalau begitu, kau harus menuruti kata Ayahmu ini! Istirahatlah dengan baik!" Ujar Tuan Rommy


•••


Di rumah keluarga Pemimpin Desa sedang sarapan bersama pagi hari ini. Paman Nathan, Bibi Hani, Morgan, dan juga adiknya Monica, sedang duduk bersama di depan meja makan...


"Kediaman Rommy belum lama ini menghubungi untuk memberi kabar." Ucap Paman Nathan


"Kapan? Apa ada kabar tentang Rumi?" Tanya Morgan


"Dia menelpon semalam. Kabarnya setelah seminggu sejak Rumi sadar, ia ingin bertemu dengan rekan setimnya." Jawab Paman Nathan


"Apa!? Dia sudah sadar sejak seminggu yang lalu? Kalau Ayah sudah dapat kabar dari sana, kenapa Ayah tidak segera memberi tahu padaku?" Tanya Morgan


"Karena saat Ayah pulang semalam kau sudah tidur, jadi Ayah hanya bisa memberi tahu padamu sekarang." Jawab Paman Nathan


"Itu karena Ayah selalu saja pulang saat larut malam dan berangkat kerja pagi-pagi sekali! Hanya hari ini Ayah menyempatkan sarapan di rumah, kalau tidak pasti Ayah terus menunda untuk memberi tahu padaku kabar ini! Tapi, kalau Rumi sudah sadar seminggu yang lalu... Kenapa dari sana baru memberi kabar baik ini semalam?" Gumam Morgan


"Selain hari ini, Ayah juga terkadang makan di rumah, tahu! Kabar baru disampaikan pasti karena kebaikan kondisi Rumi juga, karena mereka pasti tahu kalau kau sudah mendengar kabar ini kau pasti langsung pergi ke sana dan hanya mengganggu pemulihan Rumi." Ujar Paman Nathan


"Aku tidak akan seperti itu, tahu!" Kata Morgan


"Lalu, bagaimana dengan kondisi Rumi setelah sadar?" Tanya Bibi Hani


"Katanya, dia langsung menanyakan tentang teman-temannya saat tersadar dan pemulihannya pun berjalan baik sampai saat ini." Jawab Paman Nathan


"Sarapanku sudah selesai! Aku pergi dulu! Kalau tidak ada misi hari ini, aku akan pergi menjenguk Rumi di kediaman Ayahnya!" Ucap Morgan yang langsung bangkit dan berlari dengan cepat.


"Morgan, hati-hati dan perhatikan langkahmu!" Pesan Bibi Hani


"Baik, Ibu!" Pekik Morgan


"Kakak, hati-hati! Dan sampaikan salamku jika kakak pergi menjenguk Kak Rumi hari ini!" Pekik Monica berpesan.


"Siap, Monica!" Teriak Morgan dari kejauhan.


---


Morgan pergi memeriksa daftar panggilan misi hari ini dan ia bebas dari misi hari ini. Di tempat daftar panggilan misi, Morgan bertemu dengan Aqila dan tim Dennis (, Marcel dan Billy).


"Kenapa kau seperti terburu-buru, Morgan? Bukankah hari ini kita sedang tidak ada misi?" Tanya Aqila


"Tim Devan (, Ian dan Chilla) dan Tim Wanda (, Amy dan Sandra) sedang pergi menjalankan misi hari ini." Jawab Dennis atas pertanyaan Morgan sebelumnya.


"Bagus! Karena hanya ada kalian, kalau begitu kalian ikutlah denganku! Kita pergi menjenguk Rumi di kediaman Ayahnya, dia sudah sadar dan sedang menunggu kita datang!" Ujar Morgan


"Apa sudah aman jika kita pergi ke sana? Apa sudah tidak ada mata-mata di sana?" Tanya Marcel


"Dari awal, mata-mata hanya ancaman saja, nyatanya di sana sangat aman. Ada banyak penjaga juga di sana, jadi tidak masalah." Jawab Morgan


"Bagus! Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang saja!" Kata Billy


---


"Rumi, di mana kau? Aku sudah datang!" Pekik Morgan saat sampai dan memasuki kediaman Tuan Rommy.


"Aduh, dia itu membuatku malu saja! Seharusnya aku bersikeras tidak ingin satu tim dengannya dulu!" Gumam Aqila


"Memang begitulah tingah Morgan!" Kata Marcel


"Dia selalu ceria dan terburu-buru." Sahut Dennis


"Memang ada-ada saja tingkahnya!" Kata Billy


Mereka semua berjalan dengan tenang, kecuali Morgan yang tampak sangat tergesa-gesa. Morgan sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Rumi, sahabat karibnya itu...


"Aku di sini!" Sahut Rumi dari dalam kediaman. Sudah dapat ditebak ia pasti dapat mendengar suara teriakan Morgan.


Morgan pun akhirnya menemukan Rumi di salah satu ruang perawatan di dalam laboratorium di sana dan yang lainnya hanya tinggal mengikuti langkah Morgan yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Rumi sedang terduduk di tepi ranjang rawatnya menunggu teman-temannya datang...


"Rumi, akhirnya kau sadar juga! Aku sangat khawatir dan rindu padamu! Kenapa kau tidak mengabariku langsung saat kau sadar seminggu yang lalu?" Ujar Morgan bertanya sambil kegirangan.


"Maaf, aku inginnya langsung mengabarimu sejak awal, tapi Ayahku melarangnya." Ucap Rumi


"Yang penting kau sudah sadar. Kami sangat lega saat mendengar kabar baik itu." Kata Dennis


"Hei! Kau ini bisa tenang tidak, Morgan?! Rumi masih butuh banyak istirahat, dia bisa sangat terganggu dengan suaramu yang amat nyaring itu!" Geram Aqila sambil memukul kepala Morgan.


"Maaf-maaf! Ini karena aku sangat senang saat tahu Rumi sudah sadar!" Kata Morgan sambil meringis memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Jadi, kau sudah sadar sejak seminggu yang lalu, ya, Rumi? Morgan tidak memberi tahu kami tentang itu saat dia mengajak kami datang ke sini." Ujar Marcel bertanya.


Rumi hanya menganggukkan kepalanya...


"Jadi, bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Billy


"Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja dan terus berangsur pulih." Jawab Rumi


"Syukurlah..." Lega Aqila


"Jadi, kapan kau akan kembali? Tim menjadi sepi karena tidak ada dirimu, Rumi." Ujar Morgan bertanya.


"Aku juga ingin segera kembali. Tapi, sebelumnya apa kalian tahu bagaimana kabar Raisa? Apa dia ada datang berkunjung ke dunia ini saat aku tidak sadar?" Ujar Rumi balik bertanya tentang hal lain. Hal tentang Raisa yang menurutnya penting.


"Tidak! Dia tidak pernah datang sekali pun saat kau terluka sampai tak sadarkan diri bahkan hingga sekarang kau sudah sadar. Mengingat itu membuatku merasa kesal!" Ucap Morgan

__ADS_1


"Itu... Mungkin karena dia sibuk di dunianya sampai berhalangan datang ke sini. Sebenarnya aku merindukannya." Kata Dennis


"Ya, aku juga sangat rindu padanya. Dia pasti sibuk sampai tidak sempat datang." Sahut Rumi


"Tapi, sebenarnya sesibuk apa dirinya sampai tidak pernah muncul walau sebentar saja?" Tanya Morgan


"Benar. Padahal dia memberi kita lambang sihirnya yang katanya untuk mendeteksi keadaan dan keberadaan kita, harusnya dia tahu Rumi sedang terluka dan datang untuk melihat kondisi Rumi." Ucap Billy


"Aku agak khawatir. Sebenarnya sesaat sebelum tersadar, aku sempat mendengar suaranya, seperti dia sedang bertelepati padaku. Dia seperti sedang kesulitan." Ungkap Rumi


"Apa kau yakin itu bukan sekadar halusinasi alam bawah sadarmu?" Tanya Aqila


"Aku 99% yakin itu suara asli Raisa, dia seperti berbisik dan itu terasa nyata. Suaranya itulah yang membuatku langsung tersadar." Jawab Rumi


"Tapi, kami tidak mendengar atau merasakan apa pun." Kata Marcel


"Apa ada alasan yang membuat hanya Rumi yang mendengar transmisi suara Raisa?" Tanya Dennis


"Seperti dia sedang dalam kesulitan dan tenaga sihirnya hanya ada sedikit, makanya hanya satu orang yang dapat mendengarnya?" Tebak Aqila


"Itulah yang aku takutkan. Apa kalian tidak pernah berpikir kalau Raisa juga menemukan kesulitan di sana bahkan sampai terluka, makanya dia tidak bisa datang. Aku sangat khawatir itu benar-benar terjadi padanya." Ucap Rumi


"Tidak seperti yang kita duga saat pertama kali bertemu dengannya, Raisa itu sangat kuat, kan?" Ujar Morgan


"Sekuat apa pun itu, manusia pasti punya kelemahan. Sama halnya dengan Raisa, kalian juga tahu itu, kan..." Kata Rumi


Semua pun terdiam membayangkan kemungkinan buruk tersebut...


Benar!


Setiap manusia pasti punya kelemahan, termasuk Raisa! Dan kelemahan Raisa yang sebenarnya bukanlah air atau rasa dingin, melainkan adalah Rumi...


Benar juga, Raisa sedang dalam kesulitan. Kesulitannya adalah ia mengalami kecelakaan dan amnesia karena itu. Penyebab kecelakaan yang Raisa alami adalah ia mengetahui Rumi dalam masalah dan ingin segera mendatanginya hingga tidak menyadari bahaya dari mobil truk yang mendekat sampai-sampai nasib nahas tak luput darinya. Hal yang lebih sulit bagi Raisa saat ini adalah ketidak-mampuannya mengingat semua yang berkaitan dengan sihir, termasuk dunia dan orang-orang yang ia kenal di dalamnya...


Keesokan harinya...


Morgan dan Aqila sedang mengobrol dengan Rumi setelah menemaninya makan siang.


"Apa kalian beristirahat dengan baik semalam?" Tanya Rumi


"Tentu saja! Jangan khawatir, aku sangat pandai beradaptasi di tempat baru." Jawab Morgan


"Aku juga tidur lumayan nyenyak." Jawab Aqila


"Oh, iya! Dennis, Marcel, dan Billy sudah kembali ke Desa Daun kemarin sore. Ayahmu, Paman Rommy, menyampaikan pada mereka ada telepin dari Desa Daun yang meminta mereka kembali karena harus memenuhi panggilan misi esok harinya, yaitu hari ini. Mereka tidak sempat berpamitan karena kau sedang istirahat dan hanya menitipkan salam untukmu. Oh, iya! Adikku, Monica, juga titip salam untukmu, Rumi." Ungkap Morgan


Rumi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis...


"Morgan, Aqila... Apa kalian bisa membantuku?" Ujar Rumi bertanya.


"Apa itu?" Tanya balik Morgan


"Aku ingin menemui Raisa, aku ingin bertemu dengannya untuk memastikan keadaannya." Jawab Rumi


"Apa kau yakin? Kau sedang berada dalam masa pemulihan." Tanya Aqila dengan cemas.


Rumi mengangguk...


Morgan tampak berpikir.


"Aku baru akan senang, tenang, dan lega setelah bertemu dan memastikannya secara langsung." Kata Rumi


"Baiklah, aku akan menemanimu! Aku juga berpikir lebih baik untuk memastikan tentang hal ini supaya aku tidak merasa bingung dan kesal sendirian tanpa tahu alasan sebenarnya. Aku tidak ingin menjadi seperti itu!" Ucap Morgan


"Bukankah sifat kalian sama saja keras kepalanya!? Morgan, memang orang yang seperti itu. Tapi, kau... Rumi pasti sudah terpengaruh dengan kepribadian Morgan karena berteman dekat dengannya!" Gumam Aqila


Rumi dan Morgan pun menatap Aqila secara bersamaan. Masalahnya, jika ingin bertemu dengan Raisa, mereka membutuhkan bantuan Aqila. Lebih tepatnya bantuan dari Ayahnya yang mempunyai jurus teleportasi antar dimensi, sedangkan Aqila masih belum menguasai jurus tersebut.


Aqila pun menghela nafas berat karena mengerti arti tatapan kedua teman lelakinya itu~~


"Hahh... Agar kita bisa pergi kita butuh bantuan Papa, tapi kalian tahu srndiri... Papa tidak selalu berada di Desa Daun. Walau dia tak lagi menjelajah ruang antar dimensi, sekarang dia berada di perbatasan Desa Daun dan Desa Batu untuk bekerja sebagai penjaga fasilitas penelitian alat sihir modern di sana." Tutur Aqila


"Kalau begitu, kita pergi saja ke sana untuk menemuinya lebih dulu. Kau sanggup, kan, Rumi?" Ujar Morgan


Rumi mengangguk...


Ia sudah membulatkan tekadnya.


"Kami baru saja sampai, tapi kalian sudah mau pergi?"


"Kalian ingin pergi ke mana?"


"Kalau harus pergi sekarang, aku tidak akan sanggup! Setidaknya biarkan aku beristirahat dan makan di sini sebentar."


Tiga orang teman lainnya datang untuk menjenguk Rumi saat ia sedang berencana untuk pergi... Mereka adalah Devan, Ian, dan Chilla.


"Wah, kalian datang juga! Devan, Ian, Chilla!" Sambut Morgan


"Aku lelah sekali!" Gumam Chilla


"Terima kasih sudah mau datang!" Ucap Rumi


"Tapi, tadi kalian bilang ingin pergi?" Tanya Ian


"Rencana apa yang sedang kalian bicarakan tadi?" Tanya Devan


"Rumi, berencana untuk pergi menemui Raisa di dunianya. Kami akan menemaninya ke sana dan akan menemui Papa-ku lebih dulu." Bantu jawab Aqila


"Apa itu tidak masalah bagi Rumi yang baru-baru ini tersadar dari KOMA?" Tanya Devan


"Iya juga, Rumi. Apa Paman akan mengizinkanmu pergi?" Tanya Morgan


Rumi pun tampak berpikir. Jika, tidak diizinkan pun ia akan tetap pergi.


"Walau aku tidak mengizinkan pun, kau akan tetap pergi? Bukan, begitu? Itulah sifatmu, Rumi! Kau keras kepala!" Ujar Tuan Rommy yang tiba-tiba saja sudah masuk dan berada di sana.


"Jadi, kau mengizinkanku atau tidak, Ayah?" Tanya Rumi


"Aku harus bagaimana, jika kau tetap bersikeras? Tapi, kalian harus berhati-hati karena aku tidak akan menemani atau membantu kalian." Ujar Tuan Rommy


"Izin darimu saja sudah sangat cukup. Baiklah, kita akan berangkat setelah aku bersiap dan kalian bisa beristirahat sebentar." Kata Rumi


"Jaga diri kalian." Pesan Tuan Rommy


Setelah semuanya siap, mereka berenam pun berangkat pergi untuk menemui Paman Elvano lebih dulu untuk meminta bantuannya membukakan pintu jalan antar dimensi, yaitu jurus berteleportasi.


-

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2