
Raisa pun mencoba untuk tenang dan melakukan seperti yang Dokter katakan.
Sudah berusaha mengatur nafas pun, tekanan batinnya masih saja bergejolak. Raisa tak menyangka jika dirinya telah melupakan sesuatu, walau begitu ia berusaha untuk tetap tenang...
"Bagus... Raisa sudah tenang kan? Sekarang coba jawab pertanyaan dari saya. Apa Raisa ingat kenapa bisa sampai ada di rumah sakit ini?" Ujar Dokter sambil bertanya.
"Yang saya ingat sudah seminggu saya sakit. Demam, naik dan turun, terus seperti itu. Saya juga tidak tahu apa-apa, begitu bangun saya sudah ada di kamar rumah sakit ini. Saya tidak tahu apa pun tentang kecelakaan dan penyebab tubuh saya banyak terdapat luka seperti ini, saya juga bingung..." Jelas Raisa
"Untuk sekarang, Raisa tidak perlu mengingat apa yang tidak bisa diingat. Coba ceritakan saja apa yang Raisa ingat. Ibu dan Bapak di sini, Raisa ingat siapa mereka? Kalau keluarga yang datang menjenguk pagi ini, apa Raisa mengenal mereka semua?" Lanjut Dokter bertanya.
"Ibu dan Bapak di sini adalah orangtua kandung saya. Yang menjenguk saya, ada adik saya Raihan, Kakak perempuan saya Raina, Kakak ipar lelaki saya Arka, dan saya juga masih ingat jelas nama lengkap saya. Raisa Putri Atmawidjaya. Lahir di Jakarta, 18 Juli. Yang tidak saya ingat adalah anak kecil yang bersama kakak saya tadi. Katanya, namanya Farah, keponakan saya. Melihatnya kebingungan saat saya tidak mengingatnya dengan mata malaikat itu, saya jadi tidak tega. Bagaimana ini, Dokter? Saya merasa bersalah karena tidak mampu mengingatnya sama sekali, saya takut melukai hati kecilnya yang masih suci itu." Ungkap Raisa
"Tidak apa, Raisa. Jangan cemas, semua akan baik-baik saja dan pasti ada solusinya. Sekarang apa yang terakhir kali kamu ingat, seperti aktivitasmu sehari-hari?" Ujar Dokter
"Tidak ada yang spesial. Saya baru lulus SMP dan belum lama sedang liburan di rumah. Saat belum lama libur dan terus berada di rumah, saya sakit. Itu yang saya ingat." Ucap Raisa
"Apa kamu ingat, bulan dan tahun berapa sekarang ini?" Tanya Dokter
"Bulan Agustus 20xx." Jawab Raisa
"Kamu yakin?" Ulang Dokter
Raisa hanya mampu mengangguk walau ia meragukan ingatannya.
"Apa yang terjadi pada saya, Dok?" Tanya Raisa
Dokter itu hanya tersenyum ramah...
"Tidak apa ya, Raisa. Jangan terlalu mencemaskan apa yang sudah terjadi, fokus saja pada pemulihanmu. Cukup fokus dan ingat hal yang membuatmu bahagia, maka kamu akan cepat sembuh. Tidak usah memaksakan diri, biarkan semua berjalan apa adanya, semua akan baik-baik saja..." Ucap Dokter
Dokter pun bicara berbisik pada Suster yang mendampinginya dalam pemeriksaan. Suster tersebut pun mengangguk dan mulai mencatat sesuatu pada lembaran data pasien...
"Ibu, Bapak, ada yang perlu saya sampaikan. Mari, ikut saya sebentar. Raisa, pinjam Ibu dan Bapaknya dulu ya." Ujar Dokter
"Raihan, kamu temani kakak kamu di sini." Ucap Pak Hilman
"Jangan bahas yang kakak kamu gak ingat." Bisik Bu Vani
Raihan pun mengangguk...
Kriiiett~~
Pintu ruang rawat terbuka dari dalam...
Dokter dan Suster bersama Bu Vani dan Pak Hilman pun ke luar dari ruang rawat inap Raisa. Melihatnya, yang sedari tadi menggendong Farah, Raina langsung menyerahkan Farah pada Arka, suaminya.
"Farah, jajan dulu sama Papi ya. Pih, ajak anaknya jajan dulu. Aku mau ikut bicara sama Dokternya Raisa." Ujar Raina yang memelankan suaranya sampai berbisik di akhir kalimatnya.
Arka pun mengangguk mengerti...
"Yang anteng sama Papi ya, Pintar..." Kata Raina
"Ayo, Farah! Kita lihat, di rumah sakit ini ada jajanan apa aja sih!?" Kata Arka yang lalu mengajak Farah pergi dalam gendongannya.
Setelah suami dan anaknya pergi, Raina langsung bergabung dengan kedua orangtuanya, Bu Vani dan PakHilman, yang sedang berhadapan dengan Dokter dan Suster yang baru saja memeriksa Raisa.
"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi sama adik saya, Raisa?" Tanya Raina
"Begini... Setelah kepalanya terbentur akibat kecelakaan, pasien mengalami trauma di kepala yang menyebabkan pasien mengalami apa yang disebut amnesia sementara yang membuat ingatannya terhenti tepat pada sekitar 4 tahun yang lalu. Biasanya karena adanya perasaan stress atau perasaan sedih yang berlebihan yang dialami pasien pada waktu-waktu ini ditambah trauma yang dialami setelah kecekakaan baru sampai terjadi kondisi seperti yang sekarang ini. Gejala dari diagnosis ini dapat diartikan sebagai lepasnya kesadaran diri dari pikiran, memori, emosi atau perasaan, hingga perbuatan yang bersifat sebagian atau penuh yang menyebabkan sulit mengingat bagian-bagian tertentu dari peristiwa yang yang menyebabkan trauma tersebut dan juga penolakan yang membuatnya merasa tidak terkait atau tidak mengalami peristiwa tersebut atau melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang orang ketiga. Jika kondisi ini terus berlanjut maka pasien bisa mengalami gangguan kecemasan pasca trauma. Untuk pengobatannya akan saya resepkan obat untuk jangka waktu pendek. Lalu, pasien tidak boleh disinggung mengenai hal yang membuatnya stress atau sedih, atau orang sekitarnya bisa mengubah cara berpikirnya mengenai trauma yang dialami. Jadi, pasien harus dapat dukungan dari keluarga dan orang sekitarnya agar cepat pulih." Jelas Dokter
"Tapi, anak saya masih bisa sembuh kan, Dok? Raisa masih bisa ingat lagi tentang apa yang sudah dia lupakan kan, Dokter?" Tanya Bu Vani
"Ini sebenarnya tergantung dengan kesadaran alam bawah sadarnya yang sudah mengubur ingatan itu. Kondisi ini masih mungkin bisa sembuh, tapi secara perlahan dan bertahap. Prosesnya mungkin tidak mudah, jadi harap keluarga bersabar. Juga jangan memaksa sampai membuat pasien merasa tertekan, kalau tidak proses penyembuhannya akan semakin lama dan tak hanya itu pasien juga bisa saja selamanya kehilangan ingatan yang terlupakan saat ini atau yang bahkan lebih parah pasien bisa saja jadi kehilangan semua ingatan dalam hidupnya." Ungkap Dokter
Mereka yang mendengarkan penjelasan Dokter pun sampai tercengang...
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Ujar Dokter
"Terima kasih, Dokter, Suster." Ucap Pak Hilman
"Permisi..." Kata Suster
Dokter dan Suster pun beranjak pergi.
"Sekitar 4 tahun yang lalu, itu sebabnya Raisa gak ingat tentang Farah, waktu itu Farah emang belum lahir dan aku masih hamil. Berarti Raisa juga gak ingat tentang identitas lainnya yang punya keistimewaan itu, semua tentang temannya dari dunia lain itu juga!" Ucap Raina
"Kamu benar, Raina. Untuk sementara waktu, jangan ada yang ungkit tentang kemampuan spesialnya itu sampai dirasa mungkin untuk mengungkitnya lagi nanti." Kata Bu Vani
"Ibu dan Bapak, masuk duluan. Kasih tahu Raihan tentang kondisi Raisa, ajak dia untuk kerja sama juga, dan jangan lupa kasih sedikit hiburan untuk Raisa. Aku mau nunggu Arka dan Farah dulu..." Ujar Raina
Bu Vani dan Pak Hilman pun kembali masuk ke dalam ruang rawat Raisa...
"Raisa, gimana perasaan kamu? Apa yang kamu rasain sekarang? Masih sakit kepala?" Tanya Bu Vani begitu kembali masuk ke dalam ruang rawat Raisa.
__ADS_1
"Kamu ngobrol apa aja sama adikmu, Raihan? Dia gak bikin kamu tambah pusing kan?" Tambah Pak Hilman bertanya.
"Eh, kok aku sih? Aku gak ngapa-ngapain dari tadi loh! Kak Raisa diam aja, gak mau diajak ngobrol. Ditanya mau apa juga, cuma geleng kepala." Ujar Raihan
"Raisa sudah tidak apa kok, Bu, Pak." Jawab Raisa atas pertanyaan Bu Vani dan Pak Hilman.
"Ya sudah, kalau gak apa. Raihan, sini! Ibu mau bicara sebentar." Ujar Bu Vani
Bu Vani pun menarik Raihan untuk sedikit menjauh dari Raisa. Melihat sang istri menjauh, Pak Hilman langsung mendekati Raisa.
"Habis makan tadi, masih lapar gak? Mau makan sesuatu lagi?" Tanya Pak Hilman
Raisa menggeleng pelan...
"Pak, tadi Dokter bilang apa?" Tanya Raisa
"Dokter bilang, kamu pasti bisa sembuh. Emang butuh proses, tapi pasti baik-baik aja. Kamu cukup fokus dan pikirin aja yang buat kamu senang supaya cepat bisa sembuh, yang lainnya gak usah kamu pikirin." Jawab Pak Hilman tanpa memberi tahu pada Raisa yang sebenarnya.
Raisa pun tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.
"Apa sih, Bu? Aku gak ada salah apa-apa loh..." Ujar Raihan
"Ibu juga bukan mau menyalahkan kamu, Ibu mau kasih tahu kamu tentang kondisi kakakmu sekarang." Ucap Bu Vani
"Oh, iya... Kak Raisa kenapa, Bu?" Tanya Raihan
Bu Vani pun menjelaskan apa yang sudah dikatakan Dokter pada Raihan dengan bahasa yang cepat dapat dimengerti.
Di luar ruangan...
Raina yang masih menunggu pun akhirnya melihat suami dan anaknya yang berjalan mendekat.
"Hei, anak Mami beli jajan apa aja nih? Beli buat Mami juga gak?" Tanya Raina
Farah yang berjalan sambil berpegangan tangan dengan Arka pun berjalan menghampiri Raina.
"Ada banyak loh, Mih. Kita makan sama-sama aja." Jawab Farah
"Wah, banyak ya... Tapi, kayaknya kurang enak kalau makan di sini deh. Tadi kita kan sempat lihat ada taman di rumah sakit ini, kita ke sana aja buat makan yuk..." Ucap Raina
"Ke taman? Ayo, Mih! Ayo, Pih!" Girang Farah
"Kamu udah bicara sama Dokter tadi?" Tanya Arka sambil berbisik.
"Oke, ayo! Kita ke taman!" Kata Arka
Sepasang suami istri berserta seorang anak itu pun beranjak pergi menunu ke taman yang berada di rumah sakit tersebut.
"Wah, tamannya gede! Aku main ke sana sambil lihat bunga sebentar ya, Mih?" Ujar Farah yang meminta izin dari Raina.
"Boleh, nih sambil bawa dan makan jajanannya. Jangan main jauh-jauh, lihat aja bunganya jangan dicabut ya. Jangan nakal juga." Ucap Raina
Farah mengangguk dan bergegas berlarian kecil menghampiri tanaman berbunga yang ada di taman rumah sakit tersebut.
"Jadi, apa kata Dokter? Raisa sakit apa? Apa dia lupa ingatan?" Tanya Arka
Raina pun mulai menjelaskan pada suaminya tentang kondisi adik perempuannya...
Setelah asik bermain sambil berlarian ke sana ke mari untuk melihat bunga dan air mancur mini yang ada di taman rumah sakit, Farah pun kembali menghampiri Mami Papinya yang sedang duduk di bangku taman tersebut.
"Mih, haus... Minum dong." Pinta Farah
"Minum ya? Ini, sayang. Minum pelan-pelan ya..." Kata Raina
Raina pun memberika botol minum khusus milik Farah untuk anak kesayangannya. Setelah selesai minum, Farah pun memberikan kembali botol minum miliknya pada Raina.
"Mih, aku mau buang sampah ke tempat sampah itu ya..." Kata Farah sambil menunjuk tempat sampah yang disediakan di sekitar taman tersebut.
Raina mengangguk.
Farah pun berlari untuk membuang sampah pada tempatnya...
Raina dan Arka pun menghampiri Farah...
"Farah, sayang... Kita balik ke kamar Onty Icha tadi yuk!" Ajak Raina
Membahas Raisa, raut wajah Farah berubah menjadi agak sedih.
"Onty Icha, itu sakit apa sih? Kok Onty sampe lupa sama aku?" Tanya Farah dengan wajah muramnya.
"Pasti sedih ya karena Onty Icha lupa sama Farah? Pasti kesal juga!" Ujar Raina yang berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan anaknya.
Farah mengangguk kecil...
__ADS_1
"Anak pintar, dengar Mami ya... Farah tahu gak kenapa Onty sakit sampai masuk rumah sakit?" Tanya Raina
Farah menggeleng cepat...
"Onty Icha, itu bukan sakit biasa. Farah lihat kan tadi, Onty Icha banyak lukanya. Kemarin Onty tuh jatuh waktu gak hati-hati nyebrang jalan, waktu jatuh kepalanya kebentur keras ke jalanan, jadi sekarang kepala Onty sakit. Kepala Onty sakit banget sampai lupa sama sebagian ingatannya, termasuk lupa juga sama Farah. Farah tahu kan kalau sebelum anak lahir, pasti sebelum itu Ibunya hamil duluan... Nah, Onty Icha imgatnya sampai pas Farah masih di dalam perut Mami, pas Mami masih hamil kamu. Begitu, Sayang..." Jelas Raina
"Emang ada ya, sakit kayak gitu, Mih?" Tanya Farah
"Ada dong! Buktinya, Onty Icha sakit kayak gitu..." Jawab Arka menyambar pertanyaan sang anak.
"Tadi Dokter bilang, sementara waktu Onty gak boleh dipaksa biat ingat tentang apa yang dia lupa, jadi Farah gak boleh paksa Onty buat ingat sama Farah ya. Farah harus sabar, Onty pasti bisa sembuh dan ingat sama Farah lagi, Onty cuma butuh waktu buat bisa sembuh. Farah boleh kok ngobrol dan main sama Onty Icha, tapi Farah gak boleh paksa kalau Onty gak ingat tentang sesuatu... Dan juga, satu lagi! Sekarang Onty Icha juga gak ingat kalau Onty bisa sulap, jadi Farah gak boleh minta atau ngomong tentang sulap dulu sampai Onty sembuh ya..." Ungkap Raina
"Begitu ya, Mih... Onty sembuhnya lama gak?" Tanya Farah
"Kata Om Dokter, bisa sama bisa enggak. Dan kalau misalnya Farah coba paksa Onty untuk ingat sesuatu yang dia lupa, bisa aja sembuhnya makin lama loh. Bukan itu aja, selain makin lama sembuhnya bisa juga Onty malah lupa srmuanya dan gak bisa ingat apa-apa lagi, termasuk Mami Papi, Nenek Kakek, dan Om Ehan juga. Jadi, Farah harus pintar bersabar dan jangan paksa Onty ya..." Jawab Raina
"Kalau begitu kepalanya Onty Icha sakit banget ya, Mih..." Kata Farah
"Iya, Sayang. Farah gak mau kan Onty Icha makin lama sembuhnya atau malah gak bida ingat Farah selama-lamanya dan gak ingat apa-apa?" Tanya Raina
Farah pun menggeleng cepat.
"Gak mau! Aku maunya Onty cepat sembuh, biar bisa main kayak dulu lagi terus bisa main sulap lagi!" Jawab Farah
"Jadi, Farah harus gimana?" Tanya Arka
"Halus sabal dan jangan paksa Onty buat ingat yang lupanya." Jawab Farah yang masih bicara cadel.
"Anak pintar!" Puji Raina dan Arka secara serempak.
Raina pun kembali bangkit berdiri...
"Ya udah, sekarang kita bakik ke kamar Onty tadi. Yuk!" Ajak Raina
Farah mengangguk dan merentangkan kedua tangannya ke atas untuk minta digendong.
"Anak Papi, capek abis main di taman ini ya? Sini, Papi gendong!" Ujar Arka yang langsung sigap menggendong putri kecilnya.
Setelah pembicaraan panjang itu, mereka bertiga pun kembali menuju ruang rawat inap Raisa...
Kriiieett~~
Ketiga anggota keluarga kecil itu pun masuk ke dalam ruang rawat inap Raisa...
Sejak masuk, Farah terus berada di balik sepasang kaki Raina dan bersembunyi di sana.
"Dari mana aja? Kok baru masuk lagi?" Tanya Raihan
"Habis lihat-lihat taman tadi sambil makan jajanan." Jawab Arka
"Satpam penjaganya masih gak ada?" Tanya Pak Hilman
"Iya, gak ada di posnya." Jawab Raina
"Farah mana nih? Kok gak kelihatan?" Tanya Raisa dengan senyuman ramahnya.
Farah pun mencoba mengintip dari balik sepasang kaki Raina...
"Onty Icha, nyariin tuh..." Kata Raina
"Emang aku boleh ke sana, Mih?" Tanya Farah dengan suara kecilnya.
Raina pun mengangguk.
Walau sedikit ragu dan malu-malu, Farah mendekati ranjang rawat Raisa...
"Sini, Om bantu duduk di kursi." Kata Raihan yang lalu mengangkat Farah dan mendudukkannya di kursi di samping ranjang rawat Raisa.
"Katanya, Farah kangen sama Aunty ya?" Tanya Raisa
Farah mengangguk kecil.
"Main sama Aunty, yuk! Tapi, mainnya yang gampang aja ya, satu tangan Aunty lagi sakit soalnya..." Ujar Raisa mengajak Farah bermain bersama.
"Om, ikutan ya..." Sambar Raihan yang menimbrung di antara Farah dan Raisa.
Akhirnya, Farah, Raihan, dan Raisa pun larut dalam permainan yang mereka mainkan bersama.
Walau tak bisa mengingatnya, Raisa tak ingin menjauh dari Farah. Mencoba mulai untuk kembali akrab dengan keponakannya, mungkin dapat merangsang ingatannya untuk pulih. Itulah harapan Raisa...
.
•
__ADS_1
Bersambung...