
Begitu sampai di kantor Pemimpin Desa, Raisa, Rumi, Chilla, dan Sanari bertemu dan saling berpapasan dengan Amon di sana.
"Amon, kau di sini juga?" tanya Chilla
"Ya. Sejak Morgan dan Aqila menikah, aku sudah seperti pesuruh yang bolak-balik datang ke sini. Apa lagi Rumi juga sudah menikah dengan Raisa," jawab Amon dengan wajah kesalnya.
"Rumi, Raisa, kapan kalian datang?" tanya Amon menambahkan.
"Kami berdua baru datang belum lama ini dan langsung ke sini setelah dari pusat perbelanjaan," jawab Raisa
"Baguslah. Tuan Pemimpin Desa sudah ingin bertemu kalian berdua sejak kemarin," ujar Amon
"Ya. Kami datang juga karena Sanari bilang Tuan Pemimpin Desa ingin bertemu," kata Rumi
"Ya sudah, kita masuk bersama saja. Kau juga ingin menemui Tuan Pemimpin Desa, kan, Amon?" tanya Sanari
Amon mengangguk sebagai ganti jawaban untuk pertanyaan dari Sanari.
Mereka berlima pun beranjak menuju ruang kerja Pemimpin Desa bersama. Begitu ingin masuk, muncul Devan dan Ian yang ke luar dari dalam ruangan tersebut.
"Devan, Ian, kalian berdua di sini juga? Sedang apa?" tanya Chilla
"Kami berdua habis menerima misi baru dari Tuan Pemimpin Desa untuk tim kita," jawab Devan
"Kan, kita satu tim. Kenapa tidak ajak aku juga?" tanya Chilla
"Kaulah yang sudah sibuk belanja lebih dulu hingga kami terpaksa hanya pergi berdua. Di dalam pikiranmu hanya ada makanan saja," jawab Ian
"Kalau begitu, aku hanya bisa ikut mengantar kalian sampai di sini saja, ya. Aku akan ikut nembahas misi bersama Devan dan Ian," ujar Chilla
"Baiklah, Chilla. Tidak apa. Terima kasih sudah mau mengantar kami sampai sini," ucap Raisa
"Hei, pengantin baru! Setelah dari sini, kita bertemu di tempat kumpul seperti biasa, ya," ajak Devan
"Baiklah," sahut Rumi
Raisa pun hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
Chilla pun beranjak pergi bersama Devan dan Ian. Sedangkan, Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari pun masuk ke dalam ruang kerja Pemimpin Desa bersama.
"Tuan Pemimpin Desa, aku datang mengantar Raisa dan Rumi karena sebelummnya Anda berkata ingin bertemu dengan mereka berdua," ucap Sanari
"Amon, hal yang kuminta sebelumnya kita bahas nanti saja di rumah," kata Tuan Nathan selaku Tuan Pemimpin Desa yang menunda urusannya dengan Amon, anak angkatnya.
"Kalian ... pengantin baru sudah datang, rupanya. Maaf, aku tidak bisa hadir saat acara pernikahan kalian," sambung Tuan Nathan
"Tidak masalah, Tuan Nathan. Kami mengerti jika kau memang sibuk," kata Raisa
"Jadi, ada perlu apa hingga Anda ingin bertemu dengan kami berdua, Tuan Pemimpin Desa?" tanya Rumi
"Karena kalian berempat sudah ada di sini, jadi sekalian saja ... sebenarnya maksudku adalah memberi misi baru untuk kalian berempat. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Raisa dan Rumi yang masih dalam masa pengantin baru, tapi aku membutuhkan kalian berdua mengingat pengalaman misi yang telah dilakukan sebelumnya," ujar Tuan Nathan
Raisa menoleh dan menatap ke arah Rumi yang berada di sampingnya seolah menanyakan persetujuan dari suaminya itu soal misi baru yang akan diberikan Tuan Nathan. Setelah menikah, baginya persetujuan dari suami adalah yang utama. Rumi pun membalas tatapan Raisa dan mengangguk untuk memberi isyarat pada istrinya itu dan menyetujui untuk menerima misi baru tersebut. Perhatian Raisa pun kembali mengarah pada Tuan Nathan setelah mendapat persetujuan dari sang suami.
"Tidak masalah, Tuan Nathan. Aku senang bisa mendapat misi baru lagi," kata Raisa
"Kali ini kami berempat diberi misi seperti apa?" tanya Amon
"Kali ini misi barunya pun sama seperti misi sebelumnya, tapi dengan lokasi tujuan yang berbeda," jawab Tuan Nathan
"Sama seperti misi sebelumnya? Apa itu adalah tentang munculnya monster misterius?" tanya Sanari sambil berusaha menebak.
"Tepat sekali," jawab Tuan Nathan
"Lalu, kali ini lokasi misinya berada di mana?" tanya Amon
"Kali ini lokasinya berada di Negera Salju, Desa Es yang berada di Utara," ungkap Tuan Nathan
"Karena kalian berempat sudah pernah menjalankan misi yang serupa, diharapkan kalian bisa belajar dari pengalaman tersebut dan menyelesaikan misi dengan baik sama seperti sebelumnya," sambung Tuan Nathan
"Kapan kami harus berangkat untuk menjalankan misi kali ini?" tanya Rumi
__ADS_1
"Besok. Karena lokasi tujuan misi kali ini sama dengan lokasi tujuan misi tim Devan, kalian boleh pergi bersama dengan mereka besok. Untuk hal lainnya, bisa kalian rundingkan bersama dengan tim Devan," jelas Tuan Nathan
"Baik, kami mengerti. Kalau begitu, kami permisi," ujar Rumi
Setelah itu, Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari pun ke luar dari ruang kerja Pemimpin Desa.
"Sepertinya kita harus bertemu dengan Devan untuk berunding kapan akan pergi ke Negara Salju bersama-sama," ucap Sanari
"Ya. Tadi Devan juga sudah berpesan agar bertemu di tempat kumpul biasa. Kita langsung ke sana saja," ujar Raisa
"Ayo, kita temui mereka," kata Amon
Mereka berempat pun melenggang pergi bersama menuju ke tempat kumpul biasa dengan teman lainnya, yaitu ke Resto Burger Petir.
Selama perjalanan Rumi terus terdiam membisu hingga sampai ke tempat kumpul biasa. Begitu hendak masuk ke dalam Resto Burger Petir, Rumi menahan langkah Raisa dengan mencekal tangan istrinya itu. Raisa pun berbalik dan menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Raisa, ada yang ingin kubicarakan dulu denganmu sebelum masuk ke dalam," ucap Rumi
"Amon, Sanari, kalian berdua masuk dulu saja. Kami berdua akan segera menyusul nanti," sambung Rumi
"Baiklah. Jangan terlalu lama," kata Amon
Amon dan Sanari pun lebih dulu masuk ke dalam Resto Burger Petir tanpa Raisa dan Rumi.
"Amon, Sanari, kalian berdua sudah datang. Di mana Raisa dan Rumi? Bukankah tadi kalian bersama mereka?" tanya Chilla
"Raisa dan Rumi sudah datang? Kapan mereka sampai?" tanya Morgan yang juga ada di sana. Tak hanya pria yang juga termasuk sebagai pengantin baru saja yang ada di sana. Teman lainnya pun berkumpul dengan formasi lengkap di sana. Mereka semua hanya tinggal menunggu Raisa dan Rumi saja.
"Raisa dan Rumi baru datang belum lama ini. Mereka berdua ada di luar resto ini karena ingin lebih dulu membicarakan sesuatu berdua. Jadi, aku dan Amon diminta untuk masuk lebih dulu," ungkap Sanari
Raisa menatap ke arah Rumi dengan berhadapan dengan suaminya itu tepat di depan Resto Burger Petir.
"Ada apa, Rumi? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Raisa
"Awalnya aku memang tidak masalah mendapat misi baru, tapi sekarang aku ragu jika kau harus pergi ke Negara Salju. Di sana sangat dingin. Aku khawatir denganmu yang tidak tahan dengan hawa dingin," tutur Rumi
"Kenapa harus khawatir? Kan, aku tidak pergi ke sana sendiri, kau juga pergi bersamaku. Ada kau yang akan menjaga dan kau bisa memberikan kehangatan padaku di sana," ujar Raisa
"Kita tidak bisa melakukan itu di sana karena kita pergi untuk menjalankan misi dan kita pergi tidak hanya berdua saja," kata Rumi
"Hei, apa yang kau pikirkan? Maksudku dengan memberi kehangatan itu kau bisa menggenggam tangan atau memeluk tubuhku dengan erat. Bukan hal lain seperti yang kau pikirkan itu," jelas Raisa
"Ternyata seperti itu, tapi-"
"Ayolah, Rumi. Sebenarnya aku ingin melihat dan merasakan berada di tempat bersalju. Aku hanya pernah sekali melihat salju bersamamu dan itu hanya berlangsung sebentar saja. Aku akan merasa senang jika bisa pergi ke Negara Salju dan tidak perlu merasa khawatir karena ada kau bersamaku. Lagi pula kita sudah menerima misi baru ini dan kita harus membantu menyelesaikan kesulitan di sana," ucap Raisa
"Kalau begitu, kau tidak boleh pergi jauh dan harus selalu berada di dekatku," ujar Rumi
Raisa langsung mengangguk dengan cepat.
"Memangnya aku bisa pergi ke mana lagi selain berada di dekat suami tercintaku yang tampan ini? Kau sudah tidak khawatir lagi, kan, Sayangku?" tanya Raisa sambil tersenyum.
"Ya. Kau benar, Istriku Sayang," jawab Rumi sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam. Yang lain pasti sudah menunggu kita," ujar Raisa
Rumi pun mengangguk. Ia pun melangkah masuk ke dalam Resto Burger Petir bersama Raisa dengan saling bergenggaman tangan dengan istri cantiknya itu.
"Yo! Ini dia ... satu lagi pasangan pengantin baru yang datang!" seru Billy
"Raisa! Ternyata, benar, ya. Kau sudah datang," sapa Amy
"Apa kabar, Raisa, Rumi?" tanya Aqila
"Seperti yang kalian lihat ... kami berdua baik-baik saja," jawab Raisa
"Raisa, kita sekalian makan saja di sini," kata Rumi
Raisa mengangguk kecil. Rumi pun mengajak Raisa untuk duduk bersama di dekat Amon dan Sanari yang sudah lebih dulu duduk dekat dengan Devan, Ian, dan Chilla untuk membahas keberangkatan misi besok.
Raisa dan Rumi pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
__ADS_1
"Sekarang waktunya kita bahas tentang misi besok," kata Amon
"Belum lama menikah, kalian berdua sudah mendapatkan misi baru?" tanya Ian pada Raisa dan Rumi
"Ya. Bersama Sanari dan Amon," jawab Raisa
"Aku dan Aqila sedang kosong. Kenapa tidak bersama kami berdua saja?" tanya Morgan
"Mungkin karena tidak enak jika harus mengirim dua pasang pengantin baru sekaligus untuk menjalankan misi," tebak Marcel
"Tapi, Rumi dan Raisa baru menikah tidak lama dari pada kami berdua. Kalau begitu, harusnya biar kami saja dengan Amon dan Sanari. Lebih baik dari pada Rumi dan Raisa," ujar Morgan
"Bukan seperti itu. Hanya saja misi baru kali ini pun serupa dengan misi yang kami berempat jalankan sebelumnya. Karena ada pengalaman itu, kami yang dimirim untuk misi baru kali ini," ungkap Rumi
"Misi tentang adanya gangguan monster misterius?" tanya Dennis
"Ya. Lalu, apa misi baru tim Devan besok?" tanya Sanari pada tim Devan setelah menjawab singkat pertanyaan dari Dennis.
"Kenapa bertanya? Kenapa kau bisa tahu kami akan berangkat besok untuk misi baru?" tanya balik Chilla
"Karena kami juga berangkat besok untuk misi baru dan lokasi tujuan misi kita sama, Negara Salju. Tuan Pemimpin Desa bahkan menyuruh kita untuk berangkat bersamaan besok," jelas Amon
"Misi kami tentang adanya orang-orang yang menghilang di Desa Es Utara sana. Kami berangkat sekitar jam 8 pagi nenggunakan kereta listrik," jawab Devan
"Kalau misi tentang adanya gangguan monster misterius ... apa kali lini pun monster itu adalah hewan sihir suci seperti yang sebelumnya kalian ceritakan?" tanya Wanda
"Entahlah. Tidak ada yang tahu karena lokasinya kali ini pun berbeda," jawab Raisa
"Monster misterius ... misinya pun akan jadi misterius. Mungkin saja orang-orang yang hilang ada kaitannya dengan monster misterius itu. Kalian bisa menyelidikinya bersama-sama," ucap Sandra
"Mungkin saja ucapanmu ada benarnya, Sandra," kata Chilla
Pesanan Raisa dan Rumi pun tiba. Semuanya pun makan bersama sambil mengobrol.
Mereka semua mengobrol banyak cukup lama. Saat tersadar dan saling membubarkan diri, hari sudah mulai gelap dan malam pun tiba.
Raisa dan Rumi pun kembali pulang. Keduanya masuk ke dalam rumah bersama.
"Malam ini kita harus cepat istirahat karena besok harus berangkat pagi untuk pergi menjalankan misi," ucap Raisa sambil menutup sekaligus mengunci pintu rumah.
"Meski begitu, kita tidak boleh lupa melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan di siang hari tadi," ujar Rumi
Rumi pun langsung menggendong tubuh Raisa ala bridal style dan menyambar bibir ramum istrinya itu dengan penuh semangat.
Tak sempat berteriak karena kaget, Raisa jadi kewalahan mengimbangi ciuman dari sang suami yang tengah menggendong tubuhnya itu.
Saat Rumi kesulitan untuk membuka pintu kamar karena kedua tangannya digunakan untuk menggendong tubuh Raisa, istrinya itu pun mendorong dadanya untuk menghentikan ciuman mereka.
"Rumi, aku ingin mandi lebih dulu," kata Raisa dengan nafas yang tersenggal-sengggal sambil mengusap bibirnya yang basah karena ulah sang suami.
"Kalau begitu, kita mandi bersama saja. Jangan lupa, kita harus cepat istirahat malam ini," ujar Rumi dengan kata-kata modus penuh arti itu.
Rumi pun beralih menuju ke kamar mandi masih dengan membawa Raisa dalam gendongannya.
Di dalam kamar mandi, selain suara gemericik air, semuanya nampak tenang karena Raisa dan Rumi benar-benar hanya mandi di dalamnya.
Namun, begitu ke luar dari kamar mandi, Rumi langsung kembali melancarkan aksinya.
Saat Raisa berjalan lebih dulu ke luar dari kamar mandi, dengan cepat Rumi menarik tangan istrinya itu hingga berbalik ke arahnya dan pria itu langsung memagut kembali bibir seksi Raisa yang sudah sangat menggoda baginya dari dalam kamar mandi. Tak ada kesempatan untuk menolak, Raisa hanya terus membalas ciuman dari suaminya itu.
Rumi terus berjalan ke depan, sedangkan Raisa melangkah mundur ke belakang. Karena letak kamar mandi yang terpisah dengan kamar tidur, keduanya terus bergerak seperti itu hingga akhirnya masuk ke dalam kamar.
Ciuman yang tidak terlepaskan itu semakin panas saat keduanya tiba di atas ranjang.
Rumi pun langsung nenindih tubuh Raisa sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan lututnya yang bertumpu pada kasur. Karena keduanya hanya memakai handuk kimono sehabis mandi, dengan sangat mudah handuk itu ditanggalkan dari tubuh keduanya hingga kini pasangan suami istri yang hasratnya telah membara itu sudah berada dalam keadaan tubuh yang polos tanpa sehelai benang.
Permainan terus berlangsung tanpa henti hingga... ya, you know-lah~
Aktivitas olahraga malam penyatuan raga sepasang insan ini berlangsung dengan sangat mengg*irahkan hingga keduanya merasa puas dan akhirnya hanya melanjutkan dengan tidur bersama dalam keadaan tubuh yang masih polos di balik selimut tebal. Keduanya meringkuk sambil berpelukan untuk saling memberi kehangatan bagi satu sama lain.
.
__ADS_1
•
Bersambung.