
Chilla langsung berkata ingin mencoba saat Daffa menawarkan sesi pemotretan.
"Bagus. Chilla, ya. Kamu bisa langsung ganti pakaian di ruang ganti. Di sana ada karyawan di sini yang bakal bantu kamu merias wajah. Kamu bisa minta mereka dan bilang tolong buat pilihkan baju untuk pemotretan bareng Raisa. Seperti itu," ucap Daffa
"Baik," kata Chilla
"Kau yakin ingin ikut sesi pemotretan, Chilla?" tanya Raisa
"Kan, aku memang bilang ingin mencobanya sejak sebelum datang ke sini," jawab Chilla
"Kalau begitu, aku ke ruang ganti dulu. Aku sendiri saja ke sana," sambung Chilla
"Baiklah," kata Raisa
Chilla pun beranjak menuju ke ruang ganti seorang diri.
Chilla pada dasarnya bertubuh gemuk dan memiliki kemampuan sihir untuk mengubah ukuran tubuhnya dengan bebas. Saat ini Chilla sedang dalam mode tubuh seksi hingga mempermudah ia untuk ikut sesi pemotretan.
Usai berganti busana dan merias wajah, Chilla pun kembali dari ruang ganti.
"Oke. Chilla, udah siap?" tanya Daffa
Chilla pun mengangguk mantap.
"Kali ini sesi pemotretan Chilla bertiga, ya, sama Raisa dan Rumi. Kita ambil tema cinta segitiga," ujar Daffa
Chilla, Raisa, dan Rumi pun sibuk saling memandang satu sama lain karena terkejut mendengar tema pemotretan yang akan diambil. Di benak ketiganya sibuk memikirkan hal yang berbeda.
Chilla berpikir jika Raisa dan Rumi akan merasa keberatan dengan tema pemotretan yang sudah ditetapkan, Rumi berpikir jika Raisa akan merasa keberatan karena sebelumnya pernah merasa tidak percaya diri dengan hubungan pertemanannya dengan Chilla di tengah hubungan asmara mereka berdua, sedangkan Raisa berpikir tema pemotretan kali ini adalah tantangan baru untuknya. Raisa memang pernah merasa tidak percaya diri dengan hubungan asmaranya dengan Rumi saat tahu Chilla pernah menyukai lelaki yang sama. Namun, itu sudah berlalu. Sekarang Raisa tidak lagi memiliki kekhawatiran itu dan sudah percaya diri pada apa pun yang memang dan sudah terjadi saat ini.
Raisa tersenyum penuh percaya diri.
"Kita bertiga dapat tantangan untuk melakukan sesi pemotretan sesuai dengan tema yang tidak sesuai dengan pribadi kita bertiga. Ayo, kita lakukan dan buktikan kalau kita bisa melakukan peran ini," ucap Raisa
"Baiklah," kata Rumi yang merasa senang melihat Raisa yang sudah lebih percaya diri dan tidak mempermasalahkan tema pemotretan yang Daffa tetapkan.
"Kalau kau berkata seperti itu ... ayo, kita lakukan!" Chilla pun jadi ikut merasa percaya diri.
Pemotretan bertiga antara Raisa, Rumi, dan Chilla dengan tema cinta segitiga dalam persahabatan pun dimulai.
Saat pemotretan berlangsung, Daffa banyak melakukan pengarahan karena bagaimana pun juga Chilla dan Rumi adalah orang yang memulai pengalaman pertama di dunia permodelan. Raisa pun sesekali ikut membantu memberi arahan untuk dua temannya yang lebih pemula.
Pemotretan pun dilakukan dengan banyak gaya. Yang pasti dalam tema cinta segitiga yang diambil kali ini seolah bercerita tentang persahabatan tiga orang antara Chilla, Raisa, dan Rumi. Diam-diam Chilla menyukai Rumi. Namun, Rumi menyukai Raisa dan Raisa pun menyukai Rumi. Hanya Chilla-lah yang mengalami cinta sepihak yang bertepuk sebelah tangan. Namun, persahabatan antara ketiganya tetap terjalin.
"Oke, bagus! Pemotretannya selesai. Cukup sampai di sini," kata Daffa
"Akhirnya selesai juga. Meski hanya memperlihatkan ekspresi pada mimik wajah dan gestur tubuh, ini tetap sulit karena aku harus memperlihatkan rasa sedih yang kurasakan saat menyukai seseorang yang menyukai orang lain dalam lingkaran persahabatan. Ini sangat bertentangan dengan pribadiku yang tidak pernah ingin menjadi orang ketiga," ungkap Chilla
"Kan, ini cuma tema pemotretan. Lagi pula, temanya kamu bukan jadi orang ketiga, tapi orang yang memendam cinta sepihak yang bertepuk sebelah tangan," ucap Daffa
"Bukankah ini cukup bagus? Dengan berhasilnya sesi pemotretan kali ini bisa membuktikan kalau kau baru saja menemukan dan mengungkap bakat lain dalam dirimu, Chilla. Apa sekarang kau punya niat untuk beralih profesi?" tanya Raisa
"Percuma saja. Ini hanya bisa kulakukan saat berada di sini. Di tempat asalku sepertinya tidak memungkinkan aku untuk beralih profesi. Kecuali ... bisakah kau beri aku pekerjaan ini saat aku ada di sini?" tanya balik Chilla usai menjawab.
"Aku tidak memiliki kuasa untuk mempekerjakan orang saat aku juga baru merintis karir. Kecuali ... kau bisa bicarakan masalah ini dengan Daffa. Bagaimana pun juga dia adalah bosnya dan fotografer di sini," ujar Raisa
"Lupakan saja. Lagi pula, aku hanya ingin mencoba-coba," kata Chilla
"Pada awalnya aku juga hanya membantu jadi model dadakan, lalu terus mencoba-coba, tapi lihatlah ... sekarang aku sudah jadi model sungguhan," ucap Raisa
"Pekerjaan di tempat asalmu mungkin memang tidak bisa diubah atau ditinggalkan, tapi kau juga bisa mencoba bekerja menjadi model saat kau ada di sini bersamaku. Itu tidak akan jadi masalah atau menghambatmu," sambung Raisa
"Ya, datang aja ke sini kapan pun kamu mau kerja jadi model. Aku dengan senang hati menerima dan menyambut dengan sangat baik," ujar Daffa
"Ini dibicarakan nanti saja," kata Chilla
"Kau bisa mempertimbangkannya baik-baik jika memang ingin. Aku bukannya mau memaksa, tapi aku senang melihat saat kau menikmati sesi pemotretan tadi," ucap Raisa
Chilla mengangguk pelan.
"Apa yang lain gak ada yang mau coba ikut pemotretan juga?" tanya Daffa
Semuanya hening hanya terdiam.
"Kak Rumi ikut pemotretan. Ganteng banget! Pemotretannya juga bisa sama Kak Raisa atau temannya yang lain. Mungkin lain kali aku bisa minta Boss Daffa untuk pasangin aku sama Kak Rumi saat pemotretan. Bayanginnya aja udah senang banget," batin Lina yang masih setia berada di sana.
__ADS_1
Saat itu, Monica menghampiri Raisa.
"Kak Raisa, Kak Chilla, Kak Rumi, tadi itu keren sekali! Apa rasanya jadi model yang melakukan pemotretan seperti itu?" tanya Monica
"Ini tidak semudah yang terlihat. Bisa dibilang seperti sedang akting hanya saja tanpa dialog. Meski tidak mudah juga bukan berarti tidak bisa dilakukan," jawab Raisa
"Kalau mau tahu rasanya jadi model, kenapa Monica gak coba ikut pemotretannya aja? Nanti bisa dibantu kasih arahan kok," tawar Daffa
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya," tolak Monica
"Jangan gitu, coba aja dulu. Biar nyaman pemotretannya bisa bareng pasangan. Apa di sini ada pasangan Monica?" tanya Daffa
Saat itu Ian langsung didorong untuk maju oleh Devan.
"Itu ... Ian, pacar Monica," ungkap Chilla
"Kalau begitu, kalian berdua bisa langsung ganti pakaian dulu," ujar Daffa
"Terserah pada kalian berdua ingin melakukannya atau tidak," kata Raisa
"Baiklah," pasrah Monica saat tatapan semua orang seperti sedang menantikan penampilannya.
Karena Monica menerimanya, mau tidak mau Ian pun akan ikut. Karena ia akan selalu menuruti keinginan pacar manisnya.
Monica dan Ian pun berganti busana. Saat kembali keduanya memakai busana seragam SMA dengan tema sekolah seperti yang diputuskan oleh Daffa.
"Melihat karakter kalian berdua, kita pakai tema kisah kasih di sekolah untuk sesi pemotretannya. Kita mulai, ya ... " Daffa sudah bersiap dengan kameranya.
Dengan arahan yang diberikan, Monica dan Ian pun melakukan pemotretan dengan tema kisah kasih di sekolah. Keduanya juga sesekali memakai properti yang sudah disediakan dalam melakukannya saat pemotretan. Seperti buku, tas, atau pun bola, dan lain-lain.
"Mereka berdua cukup lucu, terlihat imut. Aku jadi ingin mencobanya juga," gumam Amy
"Kau ingin mencobanya? Coba saja ... sepertinya kita juga bisa melakukannya," pelan Dennis
"Kudengar Amy dan Dennis juga ingin coba ikut melakukan pemotretan. Mereka berdua adalah pasangan yang baru mengungkapkan hubungan asmaranya di sini," ungkap Chilla
Setelah terungkap, Amy dan Dennis didesak untuk ikut melakukan pemotretan bersama Monica dan Ian dengan tema yang sama, yaitu kisah kasih di sekolah. Amy dan Dennis pun berganti busana dengan seragam SMA.
Kali ini pemotretan pun digabungkan berempat antara pasangan Monica dan Ian dengan Amy dan Dennis yang seolah dua pasangan sari sekolah yang sama.
Usai melakukan pemotretan berempat ada juga saatnya Amy dan Dennis melakukan sesi pemotretan berdua saja.
Pemotretan pun berakhir.
"Gak ada lagi yang mau hadi model dan ikut pemotretan?" tanya Daffa
Semua terdiam.
"Oke. Pemotretan diakhiri sampai sini," kata Daffa
"Kerja bagus, semuanya!"
Semua yang ikut pemotretan hari ini pun kembali berganti busana dengan pakaian milik masing-masing seperti semula.
Kembali menemui Daffa, ternyata Lina sudah pergi dari studio pemotretan.
"Oh, ya, Rumi ... soal pemotretan pertama kamu sebelumnya hasil fotonya udah ada. Aku udah kirim ke Raisa hasil fotonya, kalau kamu mau lihat. Aku mau nanya hasil foto sebelumnya boleh disebar gak? Terus, soal bayarannya gimana? Mau uang cash atau kirim lewat rekening?" tanya Daffa
"Soal foto, terserah mau disebar atau tidak. Soal upah bayaran serahkan pada Raisa saja," jawab Rumi
"Yakin, nih? Kalau yang lain yang pemotretan barusan?" tanya Daffa
Rumi mengangguk.
"Aku juga ... soal foto disebar atau tidak terserah saja, upah bayaran serahkan pada Raisa saja," jawab Amy
"Sepertinya lebih baik seperti itu. Kami pun ikut seperti yang Rumi katakan tadi saja," ujar Ian
Chilla mengangguk. Monica dan Dennis pun setuju.
"Kenapa upah kalian malah diserahkan ke Raisa?" tanya Daffa
"Biar kami titip pada Kak Raisa saja dulu," jawab Monica
"Raisa, untuk upah teman-teman kamu berarti aku kirim lewat rekening seperti biasa aja, ya?" tanya Daffa
__ADS_1
Raisa msngangguk tanda terima.
"Kalau begitu, hasil fotonya pun akan aku sebar jadikan majalah saja," ujar Daffa
"Soal itu yang bersangkutan, kan, sudah memberi izin. Terserah kamu saja," kata Raisa
"Kalau begitu, pemotretan kali ini udah selesai semua, kan? Kami semua udah bisa pergi, kan, Daff?" tanya Nilam
"Ya. Semua udah selesai untuk hari ini," jawab Daffa
"Besok yang mau pemotretan lagi, ikut Raisa aja," sambung Daffa
"Kami semua pergi, ya, Daffa," pamit Maura
Mereka semua pun beranjak ke luar dan pergi dari studio pemotretan.
"Raisa, kamu mau ke mana lagi setelah ini? Apa masih mau kami berdua temani ke tempat lain sama teman-teman kamu?" tanya Nilam
"Kayaknya sampai sini aja. Kalian berdua pulang aja. Kami semua mungkin akan pergi ke tempat yang jauh setelah ini. Besok juga jadwalku, kan, hanya pemotretan seperti hari ini ... kalian gak ikut datang juga gak apa. Aku sendiri aja dan mungkin teman-temanku akan ikut lagi seperti hari ini," jawab Raisa
"Oke. Kalau begitu, kami berdia gak ganggu acara kalian lagi, deh," ujar Maura
Maura dan Nilam pun pergi meninggalkan Raisa dan teman-temannya.
"Nah, karena sekarang hanya ada kita ... bagaimana kalau kita langsung pergi ke vila saja? Kalian semua pasti lelah dan ingin istirahat, kan? Sebelum itu kita cari tempat yang cocok dulu untuk buka portal," ujar Raisa
Senua pun hanya mengikuti perkataan Raisa. Dengan mengikuti Raisa, mereka semua pergi ke tempat yang sepi dan agak terpencil di sekitar sana. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sana, Raisa langsung menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi menuju ke vila.
Semuanya pun memasuki portal sihir teleportasi yang telah dibuka oleh Raisa dan di detik dan langkah selanjutnya, mereka semua sudah berada di halaman belakang vila milik keluarga besar Raisa.
"Sekarang kita berada di mana?" tanya Amon
"Sepertinya kita sudah berada di halaman belakang vila seperti yang Raisa bilang tadi," jawab Billy
"Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Rasanya aku sudah rindu," ucap Sanari
"Aku juga ... rindu," kata Raisa
"Setahuku ... bukankah kunci vila ini diserahkan pada penjaga vila? Apa sekarang kita sudah bisa masuk ke dalam?" tanya Wanda
"Terakhir kali kita menginap di sini, aku sudah menduplikat kunci vila ini," jawab Raisa
"Nanti aku hanya tinggal memberitahu penjaga vila dan orangtuaku jika aku akan menginap di sini bersama kalian semua," sambung Raisa
Raisa pun mengeluarkan kunci vila dari dalam tas miliknya dan membuka pintu belakang vila agar bisa segera masuk ke dalam.
"Untuk pembagian kamar ... Amon akan sekamar dengar Billy, Marcel, dan Dennis. Sedangkan Sanari dan Monica akan sekamar dengan Aqila dan Chilla. Yang lain, kamar kalian masih sama seperti yangbdulu," ucap Raisa
"Kita istirahat dulu sebentar, setelah itu baru menyiapkan makanan. Aku akan lihat ke dapur, tapi mungkin kita akan makan makanan yang tersedia di dapur dulu untuk saat ini," sambung Raisa
"Soal menyiapkan makanan, kau tidak perlu ikut Raisa. Kau pasti lebih lelah dari pada kami. Kami yang akan menyiapkan makanannya. Lau istirahat saja," ujar Aqila
"Memangnya tidak apa?" tanya Raisa
"Ya, tidak apa. Kami juga sudah familiar dengan tata letak di vila ini. Serahkan saja pada kami," kata Sandra
"Baiklah. Terima kasih," ucap Raisa
Mulai hari ini karena kedatangan teman-temannya, Raisa pun menginap di vila. Saat itu juga Raisa memberitahu pada penjaga vila dan orangtuanya jika ia akan menginap di vila bersama teman-temannya.
•••
Keesokan harinya ...
Di pagi hari, usai bersiap setelah sarapan bersama, Raisa langsung menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal teleportasi.
Hari ini, Raisa dan teman-temannya pergi ke studio pemotretan seperti kemarin. Namun, bedanya kali ini mereka pergi menggunakan portal sihir teleportasi. Maura dan Nilam juga tidak ikut datang karena alasan tertentu.
"Raisa, kamu datang sama teman-teman kamu lagi, ya?" tanya Daffa menyapa.
"Iya, Daff. Gak apa, kan?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Kayak baru pertama kali aja. Santailah," jawab Daffa
.
__ADS_1
•
Bersambung ...