
Raisa melihat hasil foto bersama yang diambil oleh Daffa.
"Bagus, Daff. Terima kasih," ucap Raisa
"Yo. Sama-sama," balas Daffa
Setelah itu, Raisa mengecek ponselnya. Rumi pun menghampirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Raisa?" tanya Rumi
"Aku sedang melihat foto yang kau ambil dan kirim tadi saat di dalam bus," jawab Raisa
"Bagaimana menurutmu hasil fotonya?" tanya Rumi
"Bagus, aku suka. Sepertinya kau punya bakat jadi fotografer. Apa kau punya minat jadi fotografer seperti Daffa?" tanya balik Raisa usai menjawab.
"Entahlah. Aku hanya tertarik mengabadikan momen tentang dan bersama denganmu," jawab Rumi
"Kalau kau memang berminat, kau bisa belajar tentang fotografi dengan Daffa. Aku yakin dia bersedia dan senang hati mengajarimu sebagai muridnya," ujar Raisa
Tiba-tiba saja dari arah luar studio pemotretan terdengar suara ribut banyak orang.
"Sepertinya di luar sangat ramai," kata Maura
"Ada ribut-ribut apa, ya?" tanya Nilam
"Coba ... biar aku tanya security dulu. Kalian semua tetap di sini," ujar Daffa
Daffa pun beranjak untuk melihat ke luar studio pemotretannya dan menemui penjaga di sana.
Tampaknya di luar sana ada banyak reporter yang berdatangan. Tiga orang penjaga mencoba mengamankan dan menghalangi para reporter tersebut.
*reporter\= wartawan.
"Boss, banyak wartawan yang datang mencari Raisa." Seolah tahu bossnya meminta penjelasan, penjaga di sana pun menjelaskannya tanpa perlu ditanya lebih dulu.
"Mereka datang lagi? Bukannya katanya semalam mereka semua sudah pergi?" tanya Daffa
"Semalam mereka emang pergi, tapi gak semua. Ada beberapa yang menunggu di luar. Namun, tadi pagi mereka sudah tidak ada. Sekarang mereka semua muncul lagi," jelasnya
"Sepertinya mereka punya informan yang memberitahu kedatangan Raisa ke sini hari ini," kata Daffa
Para reporter itu datang dan terus menyerukan nama Raisa untuk memanggilnya ke luar dari luar studio pemotretan.
Mendengar namanya disebut-sebut, Raisa pun hendak beranjak untuk melihat ke luar studio pemotretan.
"Raisa, kau ingin ke mana?" tanya Rumi
"Aku ingin melihat ke luar. Sepertinya mereka terus menyebut namaku," jawab Raisa
"Di luar mungkin saja berbahaya," kata Rumi hendak melarang Raisa pergi ke luar.
"Mungkin itu hanya para reporter yang datang. Biarkan aku memeriksa dan menemui mereka. Tidak apa. Ada penjaga di luar," ucap Raisa
"Kalian semua tunggu di sini saja," sambung Raisa
Raisa pun beranjak menuju ke luar dan lebih dulu menghampiri Daffa.
Dilihatnya memang ada banyak reporter di luar studio pemotretan. Raisa memang mengira akan ada reporter yang akan menanyainya tentang gosipnya dengan Rumi. Namun, Raisa tidak menyangka jika reporter yang datang akan sebanyak itu. Sangat banyak. Raisa benar-benar sedang jadi sorotan.
"Itu ... Raisa!"
"Raisa, mohon wawancaranya sebentar."
"Raisa, tolong ke luar sebentar saja!"
Daffa yang melihat Raisa pun menghampirinya.
"Banyak yang cari kamu, Raisa. Gimana, nih?" tanya Daffa
"Mereka semua reporter, kan? Banyak banget," kata Raisa
"Sebenarnya mereka udah datang dari kemarin, tapi malamnya udah pada bubar. Aku kira mereka gak bakal datang lagi. Mungkin mereka punya informan tentang kedatangan kamu ke sini hari ini," jelas Daffa
"Maaf, ya, Daff. Kedatangan banyak reporter seperti ini pasti udah ganggu kegiatan di studio ini," ujar Raisa
"Santai aja. Aku udah maklum kok, udah duga juga bakal jadi kayak gini. Kan, aku mempekerjakan artis populer yang lagi naik daun. Bukan peetama kali juga walau pun kali ini yang datang lebih banyak dari yang sebelum-sebelumnya, sih. Kali ini reporter yang datang banyak banget," ucap Daffa
"Aku akan terima wawancara dan temui mereka," kata Raisa
"Kamu yakin, nih? Kalau emang yakin, aku bakal minta security-nya jaga-jaga di dekat kamu," ujar Daffa
"Iya, mohon bantuannya." Raisa mengangguk kecil.
Raisa pun beranjak melangkah ke luar dari pintu studio pemotretan yang terbuat dari kaca transparan. Daffa juga ikut ke luar dan mendampingi Raisa dari belakang.
"Security, tolong tetap berjaga-jaga di sekitar Raisa," pinta Daffa
__ADS_1
"Baik, Boss."
Dari pintu studio pemotretan yang terbuat dari kaca transparan, para reporter yang berada di luar langsung tahu ketika Raisa mendekat ke arah pintu. Sejak itu pun, mereka sudah mulai banyak mengambil foto Raisa. Suara kamera beserta flash pencahayaannya pun ramai terdengar.
Saat Raisa berjalan ke luar, para reporter itu seolah ingin langsung menyerbu Raisa. Namun, tiga penjaga di sana langsung menghadang dan membatasi langkah para reporter. Para reporter pun hanya bisa menyerbu Raisa dengan banyak pertanyaan.
"Halo, Raisa."
"Hai, semuanya." Raisa balas menyapa sambil tersenyum ramah.
"Raisa, siapa lelaki yang ke luar bareng kamu di belakang itu?"
"Dia boss sekaligus pemilik studio ini," jawab Raisa
"Apa hubungan kalian berdua?"
"Apa Raisa,diam-diam punya hubungan spesial dengan boss di sini? Lalu, bagaimana dengan R? Apa dia adalah R yang sebenarnya? Apa yang selalu terlihat di samping Raisa selama ini bukan R?"
"Tolong hati-hati. Dia bukan R, melainkan namanya adalah Daffa. Dia juga teman semasa sekolah saya dulu. Sedangkan R bukan orang lokal, melainkan dari luar negeri," jelas Raisa
"Aduh ... jangan sampai pertanyaan-pertanyaan gosip ini sampai terdengar sama Rumi. Kalau enggak ... ngebayangin mukanya yang marah aja udah ngeri. Omong-omong, R yang dimaksud itu Rumi, kan? Jadi, ini gosip Raisa sama Rumi? Cuma gosip percintaan aja yang datang bisa sebanyak ini. Raisa benar-benar udah jadi terkenal sekarang," batin Daffa
"Lalu, siapa R sebenarnya?"
"Apa benar nama asli R adalah Rumi?"
"Apa benar Raisa dan R baru habis pulang dari liburan di tempat wisata Taman Safari Indonesia?"
"Dari negara mana R berasal sebenarnya?"
"Benar. Nama lengkap asli R sebenarnya adalah Rumi Ryan. Kami memang liburan bersama di Taman Safari kemarin, tapi kami tidak hanya berdua. Kami bersama teman lainnya, juga ada manager dan penata fashion saya. Kalau memang para teman reporter tahu dari unggahan media sosial, pasti kalian juga tahu kebenaran yang sebenarnya," jawab Raisa
"Lalu, asal negara Rumi dan teman-teman saya yang lain adalah Jepang," sambung Raisa dengan bumbu dusta.
Kebohongan yang disampaikan pada Maura dan Nilam bahwa teman-teman Raisa datang dari negara sakura Jepang kali ini pun juga diberitahukan pada para reporter yang datang kali ini. Raisa terpaksa dan mau tidak mau mengatakan kebohongan tersebut.
"Apa hubungan Raisa dengan Rumi selama ini?"
"Kami berteman baik," jawab Raisa
"Apa benar hanya teman? Bukannya Raisa bilang dia adalah orang yang disukai?"
"Ah, haha. Jadi, saya harus mengungkap dengan jujur kali ini, ya ... " Raisa berkata dengan menunda-nunda jawabannya dan membuat para reporter semakin penasaran.
"Iya, Raisa. Mohon jawaban jujurnya."
Raisa tersenyum kecil. Di balik senyumnya itu adalah jeda untuknya mempersiapkan diri.
"Benar, Rumi adalah lelaki yang saya suka. Bahkan kami berdua pun sudah saling mengungkap perasaan dan saling menyukai. Namun, hanya sebatas itulah hubungan kami berdua. Kami berdua tetap berteman dengan baik," ungkap Raisa
"Kalau kata orang-orang, bisa dibilang hubungan kami berdua adalah HTS-an. Hubungan tanpa status," sambung Raisa
Akhirnya, Raisa nengungkapkan tentang hubungannya dengan Rumi. Rasanya, ia sudah bisa sedikit lega.
Para reporter yang datang pun langsung terheran-heran.
"HTS-an? Hubungan tanpa status?"
"Apa itu benar, Raisa? Tolong, katakan lebih jelas lagi!"
"Ya. Raisa, tolong klarifikasinya!"
"Saya sendiri yang mengatakannya ... tentu saja, itu benar," kata Raisa
"Sebenarnya diri sayalah masalahnya. Saya adalah tipe orang yang tidak percaya diri dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis selain hanya sebatas teman, apa lagi jika harus menjalin hubungan jarak jauh. Saya merasa saya ini masih banyak kekurangannya. Meski begitu, saya senang dan merasa bersyukur bahwa orang yang saya suka menerima saya apa adanya dengan segala kekurangan saya bahkan menerima hubungan tanpa status yang tidak jelas seperti ini. Setelah banyak yang kami lalui, saya merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan Rumi dan teman-teman lainnya juga. Mereka semua adalah orang yang baik dan sangat berharga bagi saya," sambung Raisa
Rumi sedari tadi terus melirik ke arah jalan masuk. Ia berharap Raisa cepat kembali. Namun, Raisa masih belum kembali juga.
Suara bising yang terdengar memang sudah tidak separah saat orang-orang memanggil dan menyerukan nama Raisa. Mungkin juga memang tidak ada bahaya yang perlu dikhawatirkan. Namun, Rumi ingin cepat melihat wajah Raisa lagi. Padahal belum terlalu lama Raisa pergi, tapi Rumi sudah merindukan gadis berparas cantik itu.
"Kalau memang yang datang itu para reporter, mungkin saat ini Raisa sedang diwawancara oleh mereka. Kau tidak perlu khawatir, Rumi. Tenang saja ... Raisa pasti akan segera kembali," ucap Dennis
"Tidak bisa, aku ingin melihat Raisa. Aku akan menyusulnya," kata Rumi
Setelah memutuskan untuk menyusul demi bisa melihat Raisa, Rumi pun bangkit berdiri dan beranjak pergi.
"Padahal Raisa baru pergi sebentar dan tidak jauh juga, tapi sepertinya Rumi sudah merasa rindu. Sampai tidak tahan ingin bertemu," kata Ian
"Apa kau masih tidak mengerti padahal sedang berpacaran? Sebentar saja tidak melihat sosok dan wajah sang pujaan hati, akan terasa seabad tidak bertemu. Itulah tanda orang yang sedang dimabuk cinta," ungkap Chilla
"Bucin alay," sebut Maura
"Maksudnya adalah budak cinta yang berlebihan. Rumi sudah diperbudak oleh perasaan cintanya pada Raisa," jelas Nilam dengan sebutan yang Maura katakan.
Dilihat dari dalam dekat pintu studio pemotretan, Rumi sudah bisa melihat banyak sekali reporter yang datang. Di tengah banyaknya orang di luar, Rumi mencari sosok Raisa sang pujaan hatinya. Rumi pun menemukan tampak belakang sosok yang dicintainya, alias punggung mempesona milik si gadis cantik, Raisa.
"Oh, itu ... Rumi! Dia ada di dalam studio!"
__ADS_1
"Ambil gambarnya!"
Para reporter pun mengarahkan kameranya ke studio pemotretan yang dapat terlihat jelas sosok Rumi dari pintu kaca transparan itu.
Saat semua perhatian para reporter tertuju ke arah studio, Raisa pun ikut membalikkan badannya dan melihat sosok yang berdiri di dekat pintu di dalam studio pemotretan. Benar, itu adalah Rumi.
Saling bertemu pandang, Raisa melambaikan tangan sambil tersenyum. Rumi pun ikut tersenyum membalasnya.
"Rumi melihat ke arah sini. Dia melihat ke arah Raisa!"
"Dia tersenyum!"
"Terus ambil gambarnya!"
Para reporter terus mengambil gambar Rumi dan sesekali beralih pada Raisa untuk mendokumentasikan sosok dua sejoli itu.
"Rumi, bisa ke luar sebentar?"
"Rumi, tolong ke luar!"
"Rumi, mohon wawancaranya sebentar saja!"
Para reporter ikut menargetkan Rumi dan memintanya ke luar untuk memenuhi sesi wawancara seperti dan bersama Raisa.
Raisa menatapnya sambil menggeleng kecil.
"Jangan ke luar. Biar aku yang akan masuk," pesan Raisa pada Raisa menggunakan sihir transmisi suara.
Rumi tidak membalas pesan sihir suara dari Raisa, sebagai gantinya ia mengangguk patuh.
Raisa pun memberi isyarat pada Daffa yang seolah mengatakan ia ingin kembali masuk ke dalam studio pemotretan. Daffa pun mengangguk mengerti setelah mendapat isyarat dari Raisa.
Raisa pun berjalan ke arah pintu masuk studio pemotretan dengan Daffa yang ikut mengawal Raisa dan masuk ke dalam studio pemotretan bersama. Ketiga security pun jadi sibuk menghalangi para reporter yang ingin mendekat bahkan ingin ikut masuk ke dalam studio pemotretan.
Raisa dan Daffa pun berhasil kembali masuk ke dalam studio pemotretan dengan selamat(?).
"Akhirnya berhasil lolos dari para wartawan dan masuk lagi ke sini," kata Daffa
"Rumi, kenapa kau menyusul ke sini, tidak menunggu saja di dalam?" tanya Raisa
"Aku hanya ingin melihatmu," jawab Rumi
"Udah ... ayo, kita masuk ke dalam lagi," ajak Daffa
Raisa mengangguk.
Sebelum melangkah pergi, Rumi menggenggam satu tangan Raisa. Raisa pun membalas genggaman tangan Rumi sambil tersenyum.
"Raisa dan Rumi berpegangan tangan! Cepat ambil fotonya!"
"Mereka berdua terlihat sangat mesra!"
"Ambil foto mereka berdua yang banyak!"
Para reporter menjadi sangat ribut hanya karena kedapatan melihat Raisa dan Rumi saling berpegangan tangan.
Raisa, Rumi, dan Daffa pun kembali menemui yang lain.
"Kalian sudah kembali," kata Amy
"Ya. Aku punya profesi tambahan sekarang ... jadi pengawalnya Raisa," celetuk Daffa
"Padahal tadi kamu gak perlu ikut ke luar, cukup penjaga aja yang berjaga-jaga. Maaf, udah merepotkan," ucap Raisa
"Gak apa. Soal jadi pengawal itu tadi cuma candaan kok. Mau gak mau aku harus ikut berjaga di dekat kamu. Kamu model di sini. Jangan sampai ada sesuatu terjadi sama kamu," ujar Daffa
"Terima kasih sudah ikut menjaga Raisa tadi," ucap Rumi
"Ini lagi ... pakai bilang terima kasih segala. Raisa juga teman aku. Santai aja," kata Daffa
"Apa yang mereka ributkan di luar tadi, Raisa?" tanya Devan
"Itu hanya tentang liburan kita bersama kemarin dan aku juga beri klarifikasi tentang Rumi," jawab Raisa
"Aku tidak menduga hanya untuk hal seperti itu, reporter yang datang banyak sekali. Padahal hal ini mudah berlalu dan aku hanya artis kecil," sambung Raisa
"Jadi, masalah kau dan Rumi sudah terungkap dan terselesaikan?" tanya Morgan
"Ya," jawab Raisa dengan singkat sambil mengangguk kecil.
Yang dimaksud artis kecil adalah artis yang belum lama berada di industri hiburan.
"Itu tandanya kamu udah jadi terkenal, Raisa. Selamat," kata Daffa
.
•
__ADS_1
Bersambung ...