
Saat berkumpul dengan teman-teman, maka yang dilakukan adalah rumpi gosip.
Sama halnya seperti Nilam dan Andien yang kembali berkumpul dengan Hasna dan Maura.
Hasna dan Maura tentu saja merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan atau dilakukan oleh Andien dan Nilam di ruang manager tadi.
"Kalian berdua, ngapain aja di ruang manager tadi?" tanya Maura
"Kami cuma bicarain tentang semacam peraturan di sini. Seperti itulah," jawab Andien
"Dan, kalian tahu gak? Yang bocorin soal pembukaan kafe baru punya Raisa ini ternyata yang jadi staf kasir di sini. Namanya Yeni," ujar Nilam seraya berbisik.
"Terus, gimana dia dihukum gak? Reaksi Raisa gimana? Marah gak?" tanya Hasna sambil berbisik.
Andien dan Nilam menggeleng pelan.
Yup, yang mengaku memberi informasi pembukaan kafe baru milik Raisa pada wartawan hingga orang-orang yang bekerja pada pihak media itu datang ke Kefe Putri adalah pegawai yang bernama Yeni.
"Raisa mah santuy. Dia malah bilang terima kasih karena bisa promosi kafe dan toko bunga sekalian klarifikasi pernikahannya sama Rumi. Tapi, bisa dibilang si Yeni dikasih semacam peringatan gitu. Kalau mau panggil wartawan boleh, tapi harus izin dulu," jelas Andien
"Raisa emang seperti itu dari dulu. Dia orangnya baik banget," kata Nilam
"Untung ruginya tetap ada. Untungnya, bisa promosi dan klarifikasi. Ruginya, kalau tiba-tiba ada wartawan tanpa tahu lebih dulu, kan, bisa ribet jadinya. Tapi, untungnya para wartawan tadi bisa diajak kerja sama pas disuruh tunggu," ujar Maura
"Lebih banyak untungnya dong, tapi dari dulu Raisa emang orang yang beruntung. Dia juga semacam punya bakat untuk buat menenangkan orang-orang yang buat ribut gitu," ucap Hasna
"Terus, nih ... selain Yeni, ada koki namanya Gita dan waitress namanya Fira. Kita ngegosip seperti ini semoga mereka gak dengar, ya," ujar Nilam
Rumi bisa mendengar percakapan teman-teman Raisa itu.
"Jadi, yang buat wartawan datang ke sini adalah pegawai kafe?" tanya Rumi yang ingin tahu reaksi jawaban sang istri.
"Ya, seperti itulah. Dia berteman dengan salah satu wartawan yang datang. Kebetulan saat kabar penerimaan kerjanya di sini saat dia sedang bersama dengan teman wartawannya itu. Jadi, secara tidak sengaja wartawan itu mengetahui kafe baru ini milikku," jelas Raisa
"Lalu, kau membiarkannya seperti itu saja?" tanya Rumi
"Memangnya aku harus apa?" tanya balik Raisa
"Ya, kau memang orang yang seperti ini. Kau sangat baik hati," kata Rumi
"Tidak juga kok," elak Raisa
Raisa pun tersenyum.
"Apa rencanamu setelah ini, Sayang? Katamu, hari Valentine itu hari kasih sayang ... bagaimana kalau kita merayakannya saja?" tanya Rumi
"Memangnya kau tahu cara seperti apa untuk merayakannya?" tanya balik Raisa
"Tidak tahu. Makanya, aku bertanya dan kita bisa lakukan sesuatu sesuai keinginanmu saja," jawab Rumi
"Sebenarnya, aku berencana ingin mengajakmu ke studio untuk melakukan pemotretan. Bukan bekerja, kita lakukan pemotretan khusus untuk kita merayakan hari Valentine ini," ucap Raisa
"Kalau kau memang inhin seperti itu, ayo kita lakukan saja," ujar Rumi
"Tapi, meski bukan untuk bekerja ... kalau Daffa memintamu melakukan pemotretan untuk kerja model, kau pasti menyetujuinya," sambung Rumi
"Apa ini? Kok kau bisa tahu pikiranku?" tanya Raisa
"Karena nyatanya wanita cantik yang baik hati ini adalah istriku," jawab Rumi
Raisa terkekeh kecil.
"Kalau kau sudah menyelesaikan makanmu, ayo kita pergi sekarang," ujar Raisa
"Ayo!" seru Rumi yang bangkit berdiri lebih dulu.
Rumi mengulurkan satu tangannya di hadapan Raisa karena ingin bergenggaman dan membantu sang istri untuk bangkit berdiri.
Raisa pun menerima uluran tangan sang suami dan bangkit berdiri dengan bantuan suami tampannya itu.
Seperti biasa, Raisa dan Rumi berjalan bersama sambil bergenggaman tangan.
Raisa lebih dulu membawa Rumi menghampiri meja kasir.
"Yeni, makanan dan minuman yang keempat teman saya makan gak usah dimasukkan ke dalam tagihan, ya. Sama yang saya dan suami saya makan juga. Lalu, kalau kamu, Gita, dan Fira mau makan dan minum menu di sini juga gak apa. Khusus hari ini aja semua itu gratis. Meski gratis tetap dicatat aja, biar besok saya yang bayar," ucap Raisa
__ADS_1
"Baik, Bu. Bu Boss dan suami, udah mau pergi?" tanya Yeni, staf kasir.
"Akhirnya kamu malah panggil saya dengan panggilan itu juga. Terserah ajalah. Ya, saya dan Rumi mau pergi. Jaga kafe dengan baik dan yang akur sama yang lain, ya," jawab Raisa
"Oh, ya ... bunga mawar dari toko bunga masih ada?" tanya balik Raisa
"Masih ada lumayan banyak, Bu. Kan, emang sengaja ambil banyak buat setiap pelanggan yang datang hari ini," jawab Yeni
"Kalau misalkan habis saat pelanggan masih berdatangan, kamu telepon toko bunga untuk sediakan bunganya lagi. Bilang aja disuruh sama saya. Kalau malah gak habis, kamu dan yangg lain boleh bawa pulang. Terserah mau buat apa," ujar Raisa
"Baik, Bu," kata Yeni
"Saya juga mau ... berikan satu tangkai bunga mawar merahnya untuk saya," pinta Raisa
Yeni pun langsung mengambilkan satu tangkai bunga mawar merah dan memberikannya pada Raisa.
"Terima kasih. Kami pergi dulu," pamit Raisa setelah mengambil setangkai bunga mawar merah dari tangan Yeni.
Raisa dan Rumi pun berjalan menuju pintu ke luar-masuk.
"Semuanya, kami berdua pergi dulu, ya. Titip jaga kafe!" seru Raisa
"Siap, Bu Boss!" serempak Andien, Hasna, Maura, dan Nilam.
"Baik, Bu!" seru Fira, Gita, dan Yeni secara bersamaan.
Raisa pun melambaikan satu tangannya dan berlalu ke luar dari kafe bersama sang suami.
"Sejak usia belasan tahun, aku sudah dipanggil Onty oleh keponakanku dan sekarang aku dipanggil Ibu. Aku merasa sudah sangat tua sekarang," gumam Raisa
"Kau masih sangat muda, Sayang. Jangan khawatir. Kau akan selalu cantik meski sudah tua nanti. Dan aku akan selalu mencintaimu," ucap Rumi
"Kau harus menepati ucapanmu. Kalau tidak aku yang akan meninggalkanmu lebih dulu lagi," ujar Raisa seolah seperti ancaman cinta.
"Ucapanku adalah janji setia. Kau bisa mengingatnya sampai kapan pun bahwa kau tidak akan pernah bisa meninggalkan aku," kata Rumi
Raisa tersenyum senang mendengar ucapan suaminya. Namun, ia beralih fokus pada ponselnya untuk memesan mobil online.
"Sebenarnya, untuk apa kau meminta setangkai bunga mawar merah itu? Apa kau memang menginginkannya? Sepertinya tidak?" tanya Rumi
Raisa langsung memberikan setangkai bunga mawar merah yang ada di tangannya pada Rumi setelah membuang secarik kertas kecil yang bertuliskan nama dan alamat toko bunga yang tertempel.
"Kau belum pernah mendapat bunga dari seorang wanita sebelumnya, kan? Karena ini hari Valentine, maka aku khusus memberikannya padamu. Bagaimana perasaanmu? Atau aku salah? Apa kau sudah pernah menerima bunga dari wanita lain sebelum ini? Mungkin bunga yang lebih besar dan indah?" tanya Raisa
"Ini adalah kali pertamaku menerima bunga dari seorang wanita yang bahkan lebih cantik dan indah dari bunga yang diberikannya padaku. Aku sangat senang dan suka. Terima kasih, Sayang," ungkap Rumi
"Namun, sepertinya malah aku yang belum pernah memberikan bunga padamu," sambung Rumi
"Entahlah, aku tidak ingat dan tidak peduli. Karena yang penting hanyalah dirimu untukku saja," kata Raisa
"Kalau begitu, apa yang kau inginkan di hari Valentine ini? Akan kuberikan untukmu. Namun, maaf ... harusnya aku lebih dulu memberimu hadiah kejutan, tapi karena aku baru tahu tentang hari Velentine ini, tidak apa kalau aku meminta kau beri tahu apa yang kau inginkan itu, kan?" tanya Rumi
"Tentu saja, itu tidak masalah. Aku masih belum tahu apa yang kuinginkan, nanti saja aku beri tahu. Tapi, bukankah aku yang ingin mengajakmu untuk melakukan pemotreran bersamaku saja sudah cukup? Aku tidak perlu hadiah," ujar Raisa
"Tidak bisa seperti itu. Coba kau pikirkan lagi, apa yang kau inginkan?" tanya Rumi lagi.
"Ah, itu saja ... sebenarnya dari dulu aku selalu ingin ada yang memberiku sebatang coklat saat hari Valentine, tapi itu belum pernah terwujud. Kau saja yang mewujudkannya untukku," jawab Raisa
"Baiklah. Suamimu ini akan mewujudkan keinginanmu," kata Rumi
"Aku ingin salah satu merk coklat dan tidak ingin yang lain. Kau harus memberikan coklat yang sesuai dengan yang kumau itu. Nanti akan kutunjukkan fotonya padamu," ucap Raisa
"Atau kau bisa cari sendiri di internet. Tenang saja, coklat ini banyak dijual di sini kok dan sepertinya tidak begitu mahal. Merknya adalah ###," sambung Raisa
"Aku pastikan tidak akan salah membeli untukmu, Sayang," kata Rumi
"Sebenarnya asalkan itu dari suamiku, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati," sahut Raisa
Saat itu, mobil yang dipesan secara online oleh Raisa pun datang menjemput. Raisa dan Rumi pun masuk ke dalam mobil tersebut untuk pergi menuju ke studio pemotretan.
Begitu sampai, Raisa dan Rumi langsung masuk ke dalam studio.
"Daff, apa kabar?" tanya Raisa menyapa.
"Aku baik, tapi apa itu? Rumi bawa bunga mawar? Apa itu untuk aku?" tanya balik Daffa
__ADS_1
"Jangan harap kau bisa menyentuhnya. Ini adalah bunga mawar dari Raisa untukku," jawab Rumi
"Maaf, deh, kalau begitu ... tapi, bukannya Raisa masih cuti?" tanya Daffa lagi.
"Sebenarnya hari ini aku mau minta pemotretan lain selain kerja," jawab Raisa
"Aku mengerti. Pemotretan bareng suami saat Hari Valentine," kata Daffa
Raisa mengangguk memberi pembenaran atas perkataan Daffa.
"Sebenarnya pemotretan majalah udah menumpuk. Bisa gak kalian berdua bantu aku untuk pemotretan satu majalah aja?" tanya Daffa
"Apa maksudmu itu? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa Raisa masih cuti? Lalu, apa lagi maksudnya dengan pemotretan satu majalah saja? Memang biasanya dalam sehari kau meminta Raisa melakukan pemotretan untuk berapa majalah? Kau memintanya bekerja atau menyiksanya dengan pekerjaan? Apa memang seperti ini kau memperlakukan model berhargamu, Daffa?" tanya Rumi menyerocos marah.
"Kau jangan seperti ini, Rumi. Aku bekerja dengan Daffa dan dia adalah bossku. Kau tidak boleh marah padanya," tegur Raisa
Rumi melontarkan banyak pertanyaan karena marah setelah tahu sang istri bekerja seolah tiada henti dan Daffa takut dengan pria itu. Namun, Raisa langsung menegur sang suami untuk menenangkannya.
"Lalu, Daffa, aku terima pemotretan yang kamu bilang tadi itu, tapi hanya untuk satu majalah saja," ucap Raisa
"Kalau begitu, aku juga akan ikut pemotretan majalah itu bersama Raisa," ujar Rumi
"Oke, siap! Terima kasih, Raisa, Rumi!" seru Daffa
"Kalau begitu, kita pemotretan di luar pekerjaan dulu untuk kalian berdua. Mau pakai konsep seperti apa?" tanya Daffa
"Soal itu aku butuh rekomendasi dari kamu dan sekarang Maura atau Nilam gak ikut, jadi aku butuh bantuan dari pihak studio untuk fitting dan riasan," jawab Raisa
"Kalau begitu, aku bakal jadi juru foto terbaik untuk kalian berdua dan staf studio pasti senang bisa bantu kalian berdua," ujar Daffa
"Kalian berdua bisa bersiap dulu di dalam ruang ganti," sambung Daffa
Raisa dan Rumi mengangguk, lalu pasangan suami istri itu pun masuk ke dalam ruang ganti setelah Daffa menentukan konsep pemotretan untuk keduanya.
Setelah itu, keduanya melakukan sesi pemotretan bebas bersama di hari Valentine dengan Daffa yang menjadi juru foto alias fotografer-nya.
Raisa dan Rumi menggunakan cukup banyak konsep pada pemotretan kali ini. Mulai dari kesan manis percintaan remaja masa kini hingga romansa dewasa yang mesra.
Dengan keserasian antara pasangan suami istri yang saling mencintai, Daffa pun senang memotret keduanya karena hasilnya pun terlihat sangat bagus. Ini adalah kebahagiaan dari pekerjaan yang diperoleh lelaki yang masih berstatus lajang itu dan juga untuk Raisa dan Rumi, tentunya.
Usai pemotretan bebas, pasangan suami istri itu kembali melakukan pemotretan untuk salah satu majalah fashion.
"Oke, sip ... pemotretannya udah selesai," kata Daffa
Raisa dan Rumi pun melihat hasil foto bersama Daffa.
Saat itu, ada suara bising dari luar.
"Suara apa itu? Kenapa di luar ramai sekali?" tanya Daffa
"Boss, di luar ada wartawan yang datang." Salah satu penjaga masuk ke dalam studiilo untuk melapor pada Daffa.
"Wartawan lagi?" tanya Raisa dan Rumi secera serempak.
"Lagi? Emangnya sebelum ini udah ada wartawan yang datangi kalian berdua?" tanya Daffa
"Ya. Sebelum datang ke sini, para wartawan datang untuk mewawancarai kami berdua saat pembukaan kafe baruku," jawab Raisa
"Oh, kafe baru itu udah buka, ternyata ... Tapi, wajar aja kalau banyak wartawan yang cari kalian berdua. Apa lagi setelah kalian berdua menikah baru kali ini kalian muncul lagi. Mungkin ada pertanyaan yang belum ditanyakan sebelumnya, makanya mereka datang memburu kalian lagi ke sini," ujar Daffa
"Tapi, bagaimana bisa para wartawan itu tahu kalau kami berdua ada di sini? Sebelumnya mereka tahu karena ada staf kafe yang memberi informasi tentang pembukaan kafe milik Raisa ke salah satu teman wartawannya, tapi kali ini siapa? Tidak mungkin staf kafe itu lagi karena kau sudah menegurnya, kan, Raisa?" tanya Rumi
"Memang benar. Mungkin saja kali ini ulah staf studio di ruang ganti. Tadi ada staf yang minta foto bersamaku dan sepertinya setelah foto, dia memasukksn foto kami ke akun media sosial. Para wartawan sudah tahu kalau aku selalu melakukan pemotretan di sini, jadi mereka datang lagi ke sini setelah melihat foto itu," jawab Raisa berasumsi.
"Terus, mau bagaimana? Apa ku harus meminta para penjaga untuk mengusir para wartawan itu dan menegur staf di sini yang menyebar foto Raisa?" tanya Daffa
"Gak perlu. Toh, kami hanya perlu menjawab pertanyaan lagi aja. Biarkan mereka mewawancarai kami lagi," jawab Raisa
"Apa kau yakin, Sayang?" tanya Rumi
Raisa mengangguk sebagai ganti jawabannya atas pertanyaan dari sang suami.
.
•
__ADS_1
Bersambung.