Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
76 - Menyuapi.


__ADS_3

"Sebenarnya seberapa banyak tenaga sihir yang kau miliki, Raisa?" Tanya Guru Kevin


"Raisa pernah mengatakan padaku, dia pun tidak tau pasti. Tapi dia bilang sendiri kemungkinan dia memiliki tenaga sihir yang tidak terbatas." Jawab Rumi menggantikan Raisa.


"Pantas saja!" Kata Guru Kevin


"Apa maksudnya itu? Kau tidak terkejut saat tahu Raisa memiliki tenaga sihir sebanyak itu? Padahal dia kan hanya gadis remaja biasa!?" Heran Morgan


"Kalian pasti sudah pernah lihat sendiri kemampuan seperti apa yang Raisa miliki. Dia berbeda dari kita, toh dunianya berasal saja bukan dari sini. Mungkin itu penyebab utama perbedaan yang sangat jauh antara dirinya dan kita semua. Saat mulai bertarung dengan Raisa, aku sudah seperti melihat dan bertarung langsung dengan Ayahmu, Morgan, Pemimpin Desa. Memiliki daya tahan yang kuat dan lama, tenaganya juga tak terbatas." Jelas Guru Kevin


"Apa karena dunia asal kita berbeda, lalu sihir pada diri kita pun berbeda, Guru? Dan itu pun mencakup tegaga sihir dan jenis sihirnya?" Tanya Aqila


"Sebenarnya, aku pun tak tau pasti karena aku bukanlah orang yang menyaksikan langsung dengan bisa beepindah dimensi seperti Raisa atau Ayahmu. Tapi, dengan adanya contoh langsung dengan adanya diri Raisa bersama kita sekarang, bukankah itu cukup untuk menjelaskan teori yang kau pertanyakan itu, Aqila." Jawab Guru Kevin pada pertanyaan murid perempuannya.


"Berikutnya, kita berlatih seperti apa lagi, Guru?" Tanya Rumi


"Untuk hari ini, cukup sampai sini saja ya. Setelah ini aku ada janji dengan Pemimpin Desa di kantornya dalam waktu dekat ini." Jawab Guru Kevin


"Ah, bilang saja kau sudah kehabisan banyak tenagamu karena bertarung dengan Raisa tadi! Sulit dipercaya, kau yang senior dikalahkan oleh gadis yang baru saja menjadi muridmu. Bahkan Raisa terlihat baik-baik saja, tapi kau bukan hanya kehabisan tenaga namun juga nafasmu!" Olok Morgan


"Guru tidak kalah, aku yang menyerah." Elak Raisa


"Itu hanya alasanmu yang lagi-lagi merendah!" Kata Morgan


"Terserah katamu saja. Tapi, aku benar-benar tidak bisa melanggar janjiku apa lagi dengan Tuan Pemimpin Desa. Lelaki itu yang dipegang adalah ucapan janjinya." Ucap Guru Kevin


"Guru, sudah harus pergi sekarang? Aku belum memberi apa pun sebagai tanda terima kasih, tapi aku tidak memiliki atau membawa apa-apa. Kalau begitu, aku akan berikan hadiah sederhana untuk pertemuan dan juga sebagai tanda terima kasihku sekarang saja." Ujar Raisa


"Tidak perlu, Raisa. Jangan sungkan padaku, Gurumu sendiri. Sebagai guru aku tidak membimbing seorang murid dengan maksud untuk mengharap pamrih." Tolak Guru Kevin


"Hadiah dariku ini tidak seberapa bahkan tidak ada artinya bagi Guru yang sudah berbaik hati mau menerima dan membimbingku sebagai murid, tidak juga akan membuat repot Guru untuk membawanya. Mohon, Guru, jangan tolak niat baikku ini. Ulurkanlah tanganmu, Guru." Pinta Raisa


Guru Kevin pun mengulurkan salah satu tangannya. Entah apa yang akan Raisa berikan padanya, kedua tangan Raisa pun saling menggenggam.


"Padahal kau tidak perlu memberiku apa pun. Sesuai katamu, jika hadiah ini besar dan berharga, aku akan mengembalikannya padamu dan menolaknya." Syarat Guru Kevin


"Guru takkan mengembalikannya padaku. Lagi pula hadiah dariku ini bukan sesuatu yang bisa dikembalikan, Anda pasti takkan kecewa." Ujar Raisa


Raisa pun mulai memfokuskan dirinya. Dia masih belum memberi sesuatu pada Guru Kevin.


"Sudah. Guru, lihatlah apa yang ada di tanganmu." Kata Raisa


"Apa? Sudah? Tapi aku tidak menerima apa pun." Bingung Guru Kevin


Guru Kevin pun melihat pada tangannya seperti yang Raisa katakan. Ternyata di telapak tangannya muncul suatu simbol...


"Anda lihat gambar Bunga Teratai Putih itu, Guru? Itulah hadiah dariku. Sihirku terhubung dengan tanda itu, sebenarnya itu adalah lambang inti kekuatanku. Morgan dan yang lain juga memilikinya, itu adalah pendeteksi. Jika seseorang yang memiliki tanda yang sama sepertimu dalam keadaan bahaya, tanda itu akan muncul dengan warna merah. Untuk saat ini hanya itu saja fungsinya karena sihirku masih lemah. Jadi, saat Anda melihat tanda itu muncul berwarna merah, tolonglah cari siapa yang sedang dalam bahaya atau mengkonfirmasinya segera dengan yang lain. Dengan hadiahku ini aku ingin meminta bantuanmu untuk melindungi yang lain saat aku tidak ada juga sekaligus memberimu sedikit bantuan karena saat Anda dalam bahaya yang lain pun akan segera tau kondisimu. Meski kalian masih harus mencari siapa yang dalam bahaya itu, aku harap hadiah dariku ini bisa sedikit membantu kalian semua." Jelas Raisa


"Ah, ini sih terlihat kecil tapi berharga. Aku sangat berterima kasih padamu, Raisa." Ujar Guru Kevin


"Guru Kevin, tidak perlu berterima kasih padaku. Justru hadiah dariku itu sebagai tanda ucapan terima kasih padamu karena Anda sudah berbaik hati menjadikan aku muridmu. Walau jika kau tidak menerimaku sebagai muridmu pun aku akan tetap memberikan itu padamu. Jika, Anda masih bingung dengan fungsi tanda itu, tanyalah dengan yang lain saja ya, Guru. Karena jujur, aku lelah harus menjelaskannya pada semua orang yang telah kuberikan tanda itu. Hehehe." Ucap Raisa disertai tawa kecilnya.


"Sudah kuduga, kau akan memberikan tanda itu pada Guru Kevin. Tapi, aku sedikit tidak percaya kau memberikannya pada kami semua." Ujar Morgan


"Ya. Bukankah akan membuatmu merasa cemas saat kau tak bersama kami tapi tanda itu muncul dengan warna merah di telapak tanganmu? Kau kan tidak selalu bisa datang ke dunia kami ini?" Heran Aqila bertanya.


"Benar, sih. Tapi, setidaknya aku tahu kalian di sini akan saling menolong dan melindungi. Biar pun tanda itu muncul dengan warna merah dan tak juga reda dan berubah jadi lebih baik, aku akan nekad untuk langsung datang ke dunia ini." Jawab Raisa


"Aku sudah menyampaikannya. Aku juga sudah memulihkan tenagamu ya, Guru. Jika, Anda sekarang sudah pada waktu janjimu, Anda bisa pergi, Guru. Aku takkan menahanmu lagi. Sekali lagi, Terima kasih." Imbuh Raisa menambahkan


"Terima kasih kembali padamu, Raisa. Kau bahkan sampai memulihkan tenaga sihirku. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian bebas setelah ini, istirahatlah dan nikmati waktu kalian." Ucap Guru Kevin


"Hati-hati, Guru." Pesan Rumi


Guru Kevin pun langsung pergi beranjak dari sana menuju kantor pemimpin desa karena sudah ada janji di tempat itu.


"Baiklah, sekarang kalian ada rencana apa? Aku ikut dengan kalian ya. Kalian mau ke mana?" Ujar Raisa


"Biasanya setelah berkumpul dan latihan dengan Guru, kami akan istirahat sambil makan dan berkumpul dengan teman yang lain." Ungkap Aqila


"Oh, aku tahu itu. Aku boleh ikut serta, kan?" Antusias Raisa


"Tentu saja! Ayo, ikut saja dengan kami!" Kata Morgan


"Mari, Raisa, jalan bersamaku." Ajak Rumi


Mereka bertiga pun akan pergi dengan Raisa yang ikut serta bersama mereka.


Morgan dan Aqila berjalan lebih dulu di depan. Sedangkan, Rumi dan Raisa berjalan bersama di belakang.


"Ke mana kita akan pergi sekarang? Kalian sering berkumpul di tempat makan favorit Morgan. Apa kita akan menuju ke sana?" Tanya Raisa


"Benar, kita akan ke sana!" Jawab Morgan

__ADS_1


"Kau juga tahu tentang itu. Sebelumnya kau bilang pada Guru, kau lelah menjelaskan fungsi tanda yang kau berikan pada kami semua. Sekarang sepertinya kami yang lelah untuk menanyakan seberapa banyak yang kau tahu sebenarnya." Ucap Aqila


"Terasa sedikit aneh dan lucu. Sebelumnya kalian terus dengan gencar menanyakan seberapa banyak yang kutahu dan siapa aku. Tapi, sekarang kalian malah merasa lelah untuk terus menanyakannya. Namun, lagi-lagi aku bersyukur telah bertemu dengan kalian dan kalian pun sudah lebih menerimaku dari pada pertama kali kita bertemu." Ungkap Raisa


"Aku pun bersyukur karena kita telah dipertemukan dan kau hadir untuk mengisi hari-hariku." Ucap Rumi


"Ahahaha. Justru kalianlah yang melengkapi hidupku!" Balas Raisa


Lagi-lagi Rumi mengucapkan kata-kata manisnya dan menujukannya pada Raisa. Tak ingin menjadi salah tingkah seperti yang selalu ia rasakan, Raisa pun membalas ucapan manis dari Rumi. Namun, perkataannya bukan hanya ia tujukan pada Rumi tapi untuk semua temannya di sana. Walau yang mendengar selain Rumi pun hanya ada Morgan dan Aqila. Raisa menanggapi ucapan Rumi tapi tak ingin yang lain salah paham akan dirinya dan Rumi.


..."Huh, dasar, gombal! Aku tidak akan lagi salah tingkah dengan mendengar ucapanmu, tahu! Aku akan membiasakan diri dengan ucapan yang menimbulkan kesalah-pahaman darimu dan menganggapnya biasa saja!" Batin Raisa...


Dalam hatinya, Raisa bisa saja berkata seperti itu. Sebenarnya dirinya masih saja merasa salah tingkah saat Rumi mengucapkan kata-kata manis yang bisa membuatnya salah paham. Terbukti dengan jantungnya kini yang berdebar dengan kencang dan cepat. Namun, Raisa masih saja menutupi dan menyangkal perasaannya. Ia benar-benar bertekad untuk memiliki hubungan yang biasa saja dengan Rumi. Pertemanan biasa, normal pada umumnya!


Saat sampai ke tempat yang dituju, mereka berempat pun masuk ke dalam tempat makan tersebut.


Ternyata di sana sudah lengkap ada teman-teman yang lain berkumpul.


Amy, Wanda, Sandra, Chilla, Ian, Devan, Marcel, Billy, dan Dennis. Hanya tidak terdapat Sanari. Mungkin ia memang sudah disibukkan dengan aktivitas penelitian alat ilmiah di tempatnya bekerja.


Di sana terdapat bilik tempat duduk. Dan mereka semua sudah duduk berkumpul di beberapa bilik yang bersebrangan atau berbalikan. Posisi bilik mereka berdekatan. Satu bilik bisa cukup untuk 4 atau lebih orang. Dan Raisa yang datang bersama Aqila, Rumi dan Morgan duduk pada satu bilik yang sama.


"Kalian sudah datang?! Oh, ada Raisa juga!" Sambut Ian


"Akhirnya kita lengkap juga berkumpul di sini." Ujar Chilla sembari memasukkan kentang goreng favoritnya ke dalam mulutnya.


Saat duduk, Rumi sudah terlebih dulu duduk di bangku bagian dalam dekat jendela dan menarik Raisa untuk duduk bersama di sampingnya. Morgan pun duduk di bagian dalam dekat meja di seberang meja sisi lain bersama Aqila yang duduk di sampingnya.


"Kalian sudah lebih dulu berkumpul di sini ternyata." Ucap Morgan


"Ya, kami hanya tinggal menunggumu datang." Kata Billy


"Kami juga sudah mendengar Raisa ada di sini sejak kemarin." Ujar Marcel


"Saat Raisa datang kalian sedang menjalankan tugas sih. Katanya, semalam kalian baru pulang dari tugas ya?" Ujar Aqila


"Benar. Kami minta maaf tidak bisa ikut mengunjungi Rumi di rumah orangtuanya. Maaf ya, Rumi." Ucap Dennis


"Tidak apa." Kata Rumi


"Bagaimana kondisimu, Rumi?" Tanya Devan


"Aku sudah baik-baik saja dan jadi lebih baik lagi setelah Raisa memeriksaku sekali lagi pagi tadi." Jawab Rumi


"Kalian tahu?! Raisa melakukan pengendalian darahnya pada Rumi! Ternyata, kemampuan ini memang berbahaya saat digunakan saat bertarung karena bisa sampai membunuh lawan, tapi juga bisa digunakan umtuk pengobatan! Bisa menangani masalah aliran peredaran darah dan organ dalam tubuh! Awalnya aku panik, tapi ternyata ada penjelasan seperti ini!" Ungkap Morgan bercerita.


"Kami akan memesan dulu." Kata Aqila


"Aku baru datang. Lebih baik makan apa ya?" Bingung Raisa


"Kalau aku, samakan dengan Morgan saja!" Kata Rumi


"Kau selalu saja begitu, Rumi! Baik, akan kurekomendasikan makanan di sini untukmu, Raisa. Dan khusus untukmu saja hari ini, kau kutraktir!" Ucap Morgan


"Eh, tidak perlu! Aku akan bayar sendiri dengan uang yang kupunya. Aku masih memiliki mata uang sini yang kudapat dari Ayahmu tempo hari yang kusimpan. Terima kasih atas niat baikmu, Morgan." Tolak Raisa


"Tidak apa. Anggap saja ini sebagai perayaan untukmu yang bisa menyeimbangi Guru Kevin dalam latihan pengujian tadi. Jadi, jangan ditolak!" Ujar Morgan


"Kenapa hanya Raisa yang ditraktir? Aku juga mau dong!" Kata Chilla


"Tidak ada traktiran untukmu! Menraktirmu hanya akan membuat dompetku kesakitan!" Enggan Morgan


"Apa maksudnya tadi itu? Perayaan apa?" Tanya Amy


"Saat latihan tadi, Raisa ikut untuk mengawasi kondisi Rumi. Guru Kevin mengizinkannya untuk latihan bersama kami, Guru juga melakukan duel dengan Raisa untuk mengetahui sejauh apa kemampuan yang Raisa miliki." Jelas Aqila


"Aku merayakannya karena Raisa mampu menyeimbangi Guru Kevin dengan kemampuannya. Bahkan Guru sampai terlihat kehabisan tenaga!" Ungkap Morgan


"Aku yang menyerah tadi. Dan terima kasih untuk traktiranmu kali ini, Morgan." Ucap Raisa


"Ya, sama-sama. Tapi, tadi kau menyerah karena melihat Guru Kevin yang sudah terlihat kenabisan tenaga, kan?" Ujar Morgan


"Tidak. Aku meminta berhenti karena kalau terus lanjut hanya akan berlarut-larut, lagi pula tadi kan hanya latihan pengujian biasa saja." Kata Raisa


"Oho, reaksi Morgan saja sampai seperti itu melihat latihan duel antara Raisa dan Guru Kevin. Kau masih mau berduel dengan Raisa, Sanrda?" Ucap Ian


"Tentu saja! Mendengar reaksi Morgan, aku malah makin prnasaran dan ingin menyaksikan langsung saat berduel dengan Raisa." Ujar Sandra


"Kau masih saja bersemangat tentang ini, Sandra." Kata Raisa


"Kau tidak berniat mengingkari janjimu kan, Raisa? Karena sekarang sudah mengungkit hal ini, jadi kapan kita akan saling menghadapi satu sama lain?" Tanya Sandra


"Aku akan menepati janji! Terserah kau saja yang menentukan. Tapi, kalau kau ingin dalam waktu dekat ini... Aku bisa besok atau lusa!" Jawab Raisa

__ADS_1


"Baik, itu sudah ditentukan! Jangan sampai kau tidak hadir bila saatnya tiba!" Kata Sandra


"Aku mengerti! Apa kau sudah menentukan tempatnya? Lebih baik memilih tempat yang aman dan takkan melukai orang lain." Ujar Raisa


"Kalau belum ditentukan tempatnya... Bagaimana jika dilakukan di aula akademi saja? Jika ingin, di sana juga bisa meminta juri untuk menentukan pemenang." Saran Billy


"Memangnya boleh? Aku kan bukan murid akademi. Dan memangnya cukup aman? Kalau bertanding di sana pasti akan ada banyak yang menyaksikan, kan?" Tanya Raisa


"Boleh saja. Di sana akan ada yang mengawasi pertandingan, jadi lebih aman." Jawab Devan


"Kalau memang ingin dilangsungkan di sana, bukankah harus ada izin teelebih dulu?" Tanya Raisa lagi.


"Kalau begitu, itu jadi urusan Sandra yang mengurus perizinannya. Bukankah Raisa memang sudah meminta Sandra yang mengurus tentang itu?" Ujar Rumi


"Baik! Setelah makan dari sini, aku akan langsung mengurus izinnya." Ucap Sandra


"Jadi, tidak sabar untuk menyaksikannya langsung!" Kata Marcel


Setelah tadi memesan makanan. Pesanan pun disajikan untuk Morgan, Rumi, Aqila, dan Raisa.


Menu pesanan yang disajikan adalah empat burger dengan rasa yang berbeda dan masing-masing seporsi kentang goreng. Tempat makan saat ini memang adalah yang lebih dikhususkan menyajikan burger, yaitu makanan kesukanan Morgan.


"Terima kasih untuk traktirannya ya, Morgan." Ucap Raisa


"Sama-sama. Makanlah!" Ujar Morgan


Raisa pun lebih dulu memakan kentang goreng...


"Kenapa burgermu tidak kau makan, Raisa? Kalau tidak mau, buatku saja!" Ujar Chilla


"Enak saja! Aku menraktir makanan untuk Raisa, bukan untukmu, Chilla!" Larang Morgan


"Karena kelihatannya burger itu berukuran besar, akan kumakan nanti. Entah kenapa, sepertinya tanganku tidak cukup untuk menggenggam burger sebesar itu." Ucap Raisa


"Kalau tak muat tanganmu, tanganku muat kok!" Ujar Chilla


"Hei, gendut! Sadarlah, makanan itu bukan punyamu!" Cibir Ian


"Aku kan hanya bicara saja!" Kata Chilla


"Bicaramu itu lebih pada berharap lebih, tahu!" Ucap Ian


"Tanganmu memang kecil ya, Raisa? Terlihat imut, seperti boneka!" Ujar Dennis


"Kuanggap itu pujian, terima kasih!" Ucap Raisa


"Itu memang pujian!" Kata Dennis


Mendengar Dennis yang memuji Raisa membuat Rumi merasa tidak suka! Hati Rumi bahkan memanas saat melihat Raisa yang tersenyum ke arah Dennis. Padahal Rumi sudah berada disampingnya, tapi Raisa masih saja melihat dan tersenyum ke arah lain. Itu membuat Rumi kesal!


"Jadi, kau kesulitan memegang burger itu di tanganmu ya, Raisa? Sini, biar aku suapi!" Ujar Rumi berinisiatif.


"Apa!? Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa sendiri." Tolak Raisa


Raisa memang berkata seperti itu. Tapi, Rumi sudah terlebih dulu mengambil burger milik Raisa dan menyodorkan ke arah mulut Raisa untuk menyuapinya.


"Ayo, buka mulutmu! Akan kusuapi kau." Kata Rumi


"Padahal kau tidak perlu melakukannya untukku. Aku hanya bisa berterima kasih padamu deh, kalau begitu." Ucap Raisa


Raisa pun menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya karena menghalangi dan menerima suapan dari Rumi.


Di dalam dadanya, jantung hati Raisa seakan ingin meledak menerima perlakukan seperti ini dari Rumi. Lelaki yang sungguh perhatian dan pengertian! Ini namanya Perlakuan Manis Tingkat Dewa!


Raisa hanya berharap tak ada yang salah paham dengan perlakuan Rumi pada dirinya itu!


"Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku padamu karena kau sudah menjagaku semalam dan sudah memperbaiki sekaligus memperlancar aliran peredaran darahku." Ucap Rumi


"Ahaha, terima kasih kembali untukmu, Rumi." Balas Raisa


"Kalian saling perhatian satu sama lain ya..." Kata Dennis


Di mata Rumi, ia memancarkan kemenangan! Ia merasa bangga karena bisa berkekakuan seperti ini pada Raisa. Seolah dirinya tiada tanding untuk sosok Raisa.


Raisa menerima suapan burger dari Rumi sampai lebih dari setengahnya. Lalu, ia mengambil alih burger miliknya dari tangan Rumi...


"Sudah cukup, aku akan melanjutkan makan sendiri. Seukuran ini sudah bisa kugenggam dengan tanganku sendiri. Terima kasih ya, Rumi." Ucap Raisa dengan memberilan senyuman manisnya pada Rumi.


"Ya, sama-sama." Balas Rumi


Rumi merasa sangat puas! Ia bahkan mendapat senyuman manis dari Raisa... Rasa hatinya sangat bahagia!


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2