
Belati es mini itu benar-benar berubah menjadi belati es berukuran normal di dalam genggaman tangan kiri Raihan.
Raihan pun merasa senang dan takjub saat dirinya bisa mengubah ukuran benda sihir itu hanya dengan tekad miliknya meski lelaki itu tidak memiliki kemampuan sihir sekali pun.
"Berhasil! Aku bisa ubah ukuran belati esnya!" seru Raihan dengan girang.
"Sekarang aku bakal coba ubah bentuk bulu es ini," sambung Raihan
"Ya ... cobalah," kata Raisa
Dengan tangan kanannya, Raihan mulai percobaan yang sama seperti sebelumnya. Lelaki SMA itu memegang tangkai bulu es sihir pemberian dari Raisa dan berharap dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh ingin belajar cara menggunakan pedang dengan baik juga berucap dalam hati, "aku akan menggunakannya dengan baik!"
Bulu es sihir itu pun berubah bentuk menjadi pedang es yang memenuhi genggaman tangan kanannya.
Semua kembali terperangah tak menyangka melihat pemandangan ajaib yang terjadi di depan mata dan Raihan tampak senang dengan apa yang terjadi dan dilakukan olehnya.
"Berhasil!" seru Raihan
"Great job, Raihan!" sorak Raisa
"Om Ehan, keren! Onty Icha, hebat!" puji Farah
Raisa pun merasa lega karena bisa memberikan suatu hadiah pada adik lelakinya itu yang membuat Raihan tampak merasa senang. Raisa pun ikut tersenyum senang dan tak lagi merasa bersalah karena batal memberi hadiah pada sang adik lelaki.
"Gimana cara balikin wujud dua senjata ini ke wujud awal?" tanya Raihan
"Kamu harus pilih dan nyatakan dengan yakin bahwa pada waktu itu adalah saat yang tepat kamu selesai menggunakan dua senjata itu, maka keduanya akan kembali pada wujud semula. Yaitu, menjadi bulu es dan belati es mini. Kamu gak boleh ragu kalau gak itu gak akan berubah jadi wujud awal dan hati-hati jangan sampai orang lain melihat kamu bisa mengubah bentuk benda secara ajaib seperti itu. Kamu sendiri yang akan repot nantinya," jelas Raisa
"Bagaimana kau bisa terpikirkan untuk membuat senjata dengan teknik sihir seperti ini?" tanya Rumi
"Aku hanya berpikir keras karena ingin memberi hadiah untuk Raihan, lalu cara ini terlintas begitu saja," jawab Raisa
"Terima kasih, Kak Raisa," ucap Raihan
"Sama-sama," balas Raisa
"Jangan salah sangka dulu. Kakak hanya gak mau kamu jadi merasa iri sama Farah karena gak dapat hadiah," sambung Raisa
"Aku gak sedangkal itu kali, Kak ... " kata Raihan
"Gak ada yang tahu selain Tuhan dan kamu sendiri," sahut Raisa
Semua pun tertawa.
"Kau memang selalu hebat dan luar biasa, Raisa. Kau tak henti-hentinya membuatku merasa takjub dan kagum padamu," ucap Rumi
Raisa hanya tersenyum.
"Ada yang belum Kakak kasih tahu sama kamu, Raihan. Dua senjata itu terbuat dari es, air suci abadi yang dibekukan itu tidak membuat tangan kamu kedinginan meski kamu berlama-lama memegangnya, ketajamannya akurat seperti es gantung runcing yang menggantung di goa kutub utara. Pada bentuk senjata maka akan terlihat seperti benda berbahan kaca di mata orang lain dan pada bentuk samarannya, yaitu gelang bulu dan belati mini, itu hanya akan terlihat seperti mainan plastik biasa di mata orang lain," ungkap Raisa
"Lalu, karena sebenarnya terbuat dari air suci abadi, senjata itu tidak akan mencelakai orang yang salah. Jika kamu kesulitan saat menggendalikan senjata itu hingga mendekati ke tahap yang berbahaya, maka senjata itu akan membuat pergerakan kamu terhenti dengan sendirinya jadi gak akan ada yang celaka. Jadi, kamu akan terbantu dengan dua senjata sihir itu dan bisa coba latihan sendiri secara mandiri di waktu senggang. Yang artinya dalam pertarungan asli kamu gak akan bisa melukai orang yang salah jika menggunakan dua senjata sihir itu. Melukai orang emang bukan perbuatan yang dibenarkan, jadi maksudnya kamu hanya bisa menggunakan dua senjata sihir itu pada orang yang memang bersalah atau orang jahat dan untuk melindungi diri," sambung Raisa
"Aku mengerti, Kak," kata Raihan
Lalu, Raihan pun mengubah kembali dua senjata sihir tersebut. Pedang es menjadi bulu es dan belati es menjadi mini belati es. Lelaki itu pun kembali bergabung dengan yang lain untuk bermain.
__ADS_1
"Karena pedang bulu es itu bisa dijadikan gelang, maka kamu bisa jadikan belati super mini itu sebagai bandul kalung. Gak akan berbahaya juga kalau sedang dalam bentuk samarannya. Ukurannya bahkan sangat kecil dan memang cocok sebagai bandul kalung," ucap Raisa
"Ide bagus, tuh, Kak ... aku emang sempat bingung gimana caranya biar aku bisa selalu bawa belatinya ke mana-mana. Ya, nanti bakal aku jadikan bandul kalung aja," ujar Raihan
Di tengah waktu bermain, akhirnya lama-lama Farah pun tertidur setelah terlalu seru bermain. Gadis kecil itu pun dipindahkan agar bisa tidur di atas ranjang di dalam kamar tamu rumah tersebut.
Saat Farah sedang tidur, semua kembali berkumpul, bahkan termasuk juga Bu Vani dan Pak Hilman.
Raisa yang sedari tadi merasakan sesuatu sudah menduga hal ini akan terjadi. Sepertinya akan berlangsung sesi introgasi sesaat lagi.
"Setelah makan siang nanti aku mau tidur siang sebentar. Aku bilang seperti ini karena sepertinya sebentar lagi akan ada sesi introgasi di sini," kata Raisa
"Katakan saja apa yang ingin kalian tanyakan," sambung Raisa
"Kami udah lama mau tanya ini, jadi tolong jawab yang jujur," pinta Raina
Raisa hanya mengangguk tanda patuh dan mengerti.
Semua pun menatap ke arah Raisa dan Rumi dengan serius.
"Sebenarnya seperti apa misi kerja kalian berdua di sana? Raisa, kenapa kamu selalu menekankan kata bahaya, jangan khawatir atau jangan takut, dan tenang aja? Bukannya itu seolah di saat yang bersamaan kamu gak mau kasih tahu, tapi juga mengungkap sama kami kalau misi kerja kalian itu emang bahaya?" tanya Bu Vani
"Itu karena Raisa memang tidak mau kalian semua jadi merasa khawatir dan kebanyakan misi kami memang berbahaya," jawab Rumi karena melihat Raisa yang terdiam seolah merasa bingung ingin menjawab apa.
"Kalau ditanya seperti apa misinya ... itu adalah tugas seperti seorang relawan medis di medan perang atau bahkan seolah menjadi tentara, seorang pengawal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua tergantung jenis panggilan misinya," ungkap Raisa
"Sistemnya adalah ada seseorang atau sekelompok orang mengajukan permintaan jasa bantuan pada suatu lembaga, lalu lembaga tersebut yang akan memilih siapa yang akan dikirim untuk menjalankan misi atas permintaan bantuan tersebut, dan jika terpilih maka kami akan mengerjakan misi tersebut. Terlepas seperti apa pun misinya, kami harus berjuang untuk menyelesaikannya," sambung Raisa
"Apa kalian berdua pernah terluka? Seberapa parah?" tanya Pak Hilman
"Untuk Rumi yang udah lebih sering menjalankan misi sedari kecil, memang iya. Suamiku ini udah sering mengganti anggota tubuhnya dengan yang baru," ungkap Raisa
"Karena notabennya aku adalah manusia buatan ayahku, ayahku bisa dengan mudah menciptakan anggota tubuh baru dengan kemampuannya untuk menjaga kesehatan dan penampilanku supaya terlihat seperti manusia sempurna. Jika prosesnya memakan waktu yang lama, ayahku akan memindahkan anggota tubuh kakakku untukku, barulah ayahku membuatkan anggota tubuh baru untuk kakakku," jelas Rumi
"Kalau aku sendiri selain dulu pernah koma di sini saat kecelakaan yang menyebabkan aku kehilangan ingatan, di sana sudah pernah nyaris mati dan koma di saat yang bersamaan sekali, bukan ....saat itu aku bahkan udah dinyatakan meninggal dunia dan hidup kembali, tapi dalam keadaan koma. Kalau untuk luka ringan atau berat, sudah gak terhitung lagi," ungkap Raisa
"Tapi, tenang aja ... itu sudah berulang kali kami lewati. Jangan khawatir karena kami berdua baik-baik aja sampai saat ini. Lagi pula, semakin bahaya misinya makin besar pula bayarannya. Buktinya Rumi bisa mengirimkan banyak kotak perhiasan untuk biaya pernikahan kami. Itu adalah hasil dari upah yang selama ini dikumpulkannya dan akhirnya kami bisa bersama setelah menikah," sambung Raisa
"Kak, ini bukan soal uang, tapi keselamatan. Bahaya banget, tahu ... jangan bikin lelucon di saat yang gak tepat, deh," kata Raihan
Raisa dan Rumi sama-sama tersenyum dan saling menggenggam tangan saru sama lain. Karena diminta untuk menjawab dengan jujur, maka pasangan suami istri itu bertekad untuk mengungkap semua dengan yang sebenar-benarnya.
"Kami berdua mengungkap hal ini karena kalian yang bertanya dan meminta kami menjawab dengan jujur. Kami hanya melakukan apa yang diminta, lalu kami juga memang mau kalian untuk gak khawatir, makanya selama ini gak pernah bilang. Lagi pula, kami memang selalu melewati semuanya dengan baik," ucap Raisa
"Di saat seperti ini bukannya mau sombong, tapi kami adalah reinkarnasi dari Dewa dan Dewi. Meski sebenarnya kami pun gak bisa percaya itu, tapi dengan keadaan kami yang seperti ini kenyataannya kami punya kemampuan dan semua pasti akan baik-baik aja. Kami hanya mau kalian percaya pada kami dan jangan terlalu khawatir," sambung Raisa
Semua pun langsung terdiam. Nyatanya akan sulit untuk tidak merasa khawatir dengan orang yang sering menemui bahaya dalam pekerjaannya. Namun, yang lebih sulit pasti adalah orang yang menemui bahaya itu sendiri dan meloloskan diri dari kondisi bahaya yang telah banyak ditemuinya. Yang paling diperlukan adalah dukungan bagi orang yang sering kali menemui bahaya itu. Namun, rasanya pun sulit untuk sekadar memberi dukungan saat sedang merasa khawatir akan kehilangan setelah mengetahui kondisi seperti ini.
"Oke, hilangkan rasa khawatir yang ada dan tenanglah. Sekarang karena udah kumpul di sini seperti ini, apa Ibu, Bapak, Kak Raina, dan Kak Arka juga mau hadiah? Raihan, gak ikut disebut karena udah dapat lebih dulu," ujar Raisa menawarkan.
"Gak usah. Yang paling penting itu kita semua baik-baik aja dan bisa kumpul seperti ini. Gak ada yang lebih baik dari pada momen berkumpul seperti saat ini," tolak Bu Vani
"Rasanya gak perlu-perlu amat. Ya, kalau bisa kasih kita jimat atau jaminan pelindung pasti berguna banget. Aku mau," kata Arka
"Hei, bukannya permintaan seperti itu terlalu berlebihan? Jangan buat adikku kesulitan," ujar Raina
__ADS_1
"Aku sudah memiliknya dan itu Raisa yang memberikannya padaku," ungkap Rumi
"Apa-apaan itu? Cuma Kak Rumi aja yang punya? Ini gak adil," protes Raihan mendumel.
"Aku kira Raisa juga sudah buatkan untuk keluarga juga," kata Rumi
"Aku memang sudah memberikannya, tapi secara diam-diam," ungkap Raisa
"Tapi, kami gak menerima apa pun. Kan, gak mungkin kalau kami gak sadar kalau udah diberi sesuatu," kata Raihan
"Karena pemberian ini memang antara ada dan tiada. Coba tunjukkan telapak tangan kalian semua," ujar Raisa meminta.
Semua pun menunjukkan kedua telapak tangan masing-masing sesuai permintaan Raisa, termasuk Rumi. Namun, Rumi hanya menunjukkan salah satu telapak tangan miliknya.
Raisa pun menggenggam pergelangan tangan Rumi yang terulur untuk menunjukkan telapak tangannya itu. Dan pada telapak tangan suaminya itu terdapat simbol sihir Bunga Teratai Putih milik Raisa.
"Ini adalah lambang inti sihir milikku, Bunga Teratai Putih. Fungsinya seperti lingkaran sihir. Ini adalah sihir pelindung yang akan melindungi kalian dari bahaya kecil dan sihir pendeteksi. Ini tidak akan bisa langsung melindungi kalian semua jika terjadi bahaya yang besar, tapi karena adanya fungsi sihir pendeteksi, dengan adanya lambang sihir ini kalian semua terhubung langsung dengan inti sihir milikku dan aku bisa mendeteksi kalian serta bahaya yang kalian alami. Saat itulah aku bisa datang dan langsung melindungi kalian atau bahkan menyembuhkan kalian jika terluka," jelas Raisa
"Aku memberi tahu pada Rumi saat aku memberi lambang sihir ini pada telapak tangannya, jadi dia langsung mengetahuinya, tapi tidak dengan kalian semua karena aku memberikan lambang sihir ini secara diam-diam. Sebenarnya lambang ini gak muncul setiap saat, tapi karena hari ini aku mau menunjukkannya pada kalian, maka lambang sihir pada telapak tangan Rumi ini bisa muncul. Makanya, aku bilang ini adalah suatu yang antara ada dan tiada. Kalian juga punya tanda seperti ini di salah satu telapak tangan kalian," sambung Raisa
Saat itu barulah muncul simbol yang sama seperti pada telapak tangan Rumi di salah satu telapak tangan Bu Vani, Pak Hilman, Raihan, Raina, dan Arka. Yaitu, lambang sihir Bunga Teratai Putih.
"Wah, Kak Raisa, benar-benar bisa buat apa aja, ya ... keren, hebat," puji Raihan
"Farah juga punya lambang sihir seperti ini. Syukurlah lambang sihir ini belum pernah berfungsi langsung pada kalian semua. Maksudnya belum pernah ada bahaya yang menyebabkan lambang sihir ini jadi berfungsi pada kalian dan semoga aja lambang ini gak akan pernah berfungsi langsung yang artinya kalian semua selalu baik-baik aja," ucap Raisa
"Gak, deh ... kalau diingat-ingat lagi, lambang sihir ini pernah berfungsi pada Kak Arka dan Farah dulu," sambung Raisa
"Eh, emang iya? Masa, sih? Kapan?" tanya Arka
"Ingat gak waktu nendekati sebelum munculnya Putri Burung Teratai Putih pernah ada gempa yang hampir buat tanah runtuh di dekat gedung perkantoran tempat kerja Kak Arka? Saat itu Putri Burung Teratai Putih yang sebenarnya adalah aku muncul untuk menolong Kak Arka. Lalu, kalau Farah ... saat dia masih sekolah TK," jawab Raisa
"Oh, yang waktu itu kata kamu gempanya ulah dari orang pelintas dimensi pengguna sihir, ya? Terus, pas Farah TK itu yang waktu dia diikuti hantu dari sekolahnya, kan? Apa itu sebabnya kamu tiba-tiba aja datang tanpa aku kasih tahu masalahnya?" tanya Raina
"Oh, yang waktu itu ... dan bahkan sihir ini bisa melindungi dari makhluk halus?" tanya Arka lagi.
Raisa menjawab dengan anggukan kepala.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku, Raisa?" tanya Rumi
"Karena aku masih menganggap ini adalah hal yang menakutkan untuk diceritakan. Tidak semua orang suka mendengar cerita tentang hantu," jawab Raisa
"Lambang sihir ini juga sudah sering berfungsi padaku dan Raisa sudah sering menyelamatkan aku saat bahaya terjadi. Termasuk saat Raisa kecelakaan dan hilang ingatan. Saat itu sebenarnya Raisa menyadari diriku yang sedang dalam bahaya dan karena terburu-buru ingin menyelamatkan aku Raisa jadi kecelakaan. Maaf, karena aku saat itu Raisa jadi terluka bahkan sampai hilang ingatan," ungkap Rumi
"Itu bukan salahmu, Rumi. Akulah yang tidak hati-hati hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Kau tidak perlu merasa bersalah atau minta maaf," ucap Raisa
"Benar kata, Raisa ... kamu gak salah, Rumi. Lagi pula, itu sudah berlalu lama. Gak perlu diungkit lagi," kata Pak Hilman
Setelah pembahasan itu, mereka semua pun makan siang bersama.
.
•
Bersambung.
__ADS_1