Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 130 - Tetangga Sebelah.


__ADS_3

Farah, Raisa, dan Rumi pun jalan-jalan dengan tenang berkeliling sekitar perumahan nenuju ke minimarket untuk membeli es krim.


"Farah, kenapa gak ajak Mami Papi juga?" tanya Raisa


"Aku maunya sama Onty Icha dan Uncle Rumi aja," jawab Farah


"Farah, sedang cari apa?" tanya Rumi saat melihat gadis kecil itu celingukan ke sana ke mari.


"Cari Mina. Kucingnya Onty Icha gak kelihatan," jawab Farah


"Onty Icha juga udah jarang lihat Mina karena sering pergi bekerja," kata Raisa


Saat itu pun ada seorang lelaki dewasa yang mendekat sambil menggendong kucing putih.


"Apa kucing putih itu adalah Mina, kucing peliharaanmu, Raisa? Lalu, siapa lelaki itu?" tanya Rumi


"Iya, itu Mina!" seru Farah


Kucing berwarna putih itu langsung melompat turun dari gendongan lelaki dewasa itu.


"Kak Arga, apa kabar?" tanya Raisa menyapa.


"Aku baik. Aku mau mengembalikan kucing itu. Itu kucing punya kamu, kan?" tanya baliknya. Lelaki bernama Arga.


"Iya, benar ... " jawab Raisa


"Tadi dia lagi main sama kucing lain, terus lari sampai hampir ketabrak motor. Makanya, aku bawa ke sini untuk kembalikan ke kamu," jelas Arga


"Padahal biasanya dia kucing yang kalem. Ya ampun, tangan Kak Arga luka. Itu pasti bekas cakaran Mina, terlihat masih baru," ujar Raisa


"Ini mungkin karena aku bukan orang yang dikenal sama kucing kamu," kata Arga


"Kenapa gak diobati dulu?" tanya Raisa


"Udah aku basuh pakai air. Kasih obatnya nanti aja," jawab Arga


"Permukaan yang kena air malah lebih mudah ditempeli debu, bisa-bisa lukanya jadi infeksi. Harusnya Kak Arga pasang plester," ucap Raisa


"Gak apa-apa. Aku udah biasa. Kamu lagi jalan-jalan, ya? Ini Farah? Udah besar, ya? Terus apa ini suami kamu?" tanya Arga


"Oh, iya ... maaf, sampai lupa. Ini Rumi, suamiku. Dan, ya ... ini Farah. Sekarang usianya 8 tahun," ujar Raisa memperkenalkan sang suami pada Arga.


"Rumi, ini Kak Arga yang tinggal di samping rumah persis di sebelah kanan," sambung Raisa memperkenalkan tetangganya pada sang suami.


"Halo, Om Arga ... " sapa Farah


"Hai, Farah ... " sahut Arga


Lalu, Arga pun mengulurkan satu tangannya mengajak berjabat tangan dengan Rumi untuk berkenalan.


"Arga ...."


"Aku suami Raisa, Rumi ...."


"Jadi, ini Arga. Lelaki yang pernah disukai oleh Raisa dulu," batin Rumi


Rumi pun mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan dengan Arga.


"Sepertinya udah sangat lama kita gak ketemu, Kak. Waktu aku masih tinggal di sini sepertinya Kak Arga juga jarang bisa ditemui, sepertinya sangat sibuk," kata Raisa


"Ya, seperti itulah. Dan sekarang kamu yang lebih sibuk dan aku cuma sering lihat kamu dari TV. Kamu sudah sangat terkenal setelah menjadi artis," ujar Arga


"Apa aku harus minta tanda tangan dan foto bareng juga sekarang, ya?" tanya Arga menambahkan.


"Kak Arga, berlebihan. Emang buat apa? Atau pacar Kak Arga itu fans aku? Atau malah pacar Kak Arga bakal cemburu kalau Kak Arga ketahuan lagi ketemu sama aku?" tanya balik Raisa


"Pacar apanya? Aku mana punya pacar alias jomblo. Kamu yang mendahului aku," jawab Arga


"Oh, ya ... masa, sih? Maaf, aku gak tahu. Aku pikir malah gak mungkin kalau Kak Arga masih menjomblo," ujar Raisa


"Kamu gak nyangka, ya, kalau aku masih jomblo dengan muka ganteng seperti ini?" tanya Arga disertai dengan tawa kecilnya.


"Aku sendiri juga gak nyangka. Tapi, sepertinya yang cemburu itu bukan dari pihak aku, deh ... sepertinya suami kamu yang sekarang lagi cemburu, tuh," sambung Arga


Sekilas Raisa menoleh ke arah Rumi sambil tersenyum kecil.


"Ya udah, deh ... kalau begitu, aku duluan, ya, Raisa, Rumi, Farah. Masih ada urusan," ujar Arga


"Ya, Kak. Jangan lupa lukanya diobati dulu," kata Raisa


Arga hanya mengangguk kecil dan akhirnya melenggang pergi dari sana.


Setelah Arga pergi, Raisa beralih pada Rumi dan akhirnya menatap Farah yang sedang asik bermain dengan kucing putih peliharaannya, Mina.

__ADS_1


"Farah, kita mau lanjut pergi beli es krim atau pulang ke rumah aja main sama Mina?" tanya Raisa


"Tujuan utama itu tetap beli es krim dong, Onty. Pulang beli es krim baru kita main sama Mina di rumah," jawab Farah


"Oke. Kalau begitu, ayo," kata Raisa


"Mina, pulanglah ke rumah. Kalau gak ingat jalan pulang, tunggu aja di sini nanti kami akan kembali menemuimu," sambung Raisa seolah dapat berkomunikasi dengan kucing peliharaannya.


"Meong~" Seolah mengerti dengan ucapan Raisa, Mina mengeluarkan suaranya.


Lalu, kucing putih itu pun berlarian pergi ke arah yang bertolak belakang dengan arah yang ingin dituju oleh Raisa, Rumi, dan Farah.


Farah pun melambaikan tangannya saat melihat Mina si kucing putih itu pergi.


"Apa kucingmu itu akan mengerti dengan yang kau bicarakan?" tanya Rumi


"Sepertinya dia selalu bisa nengerti dengan ucapanku," jawab Raisa


"Ayo, kita pergi beli es krim, Onty Icha, Uncle Rumi!" seru Farah


Raisa mengangguk.


Farah berjalan lebih dulu di depan. Sedangkan Raisa dan Rumi mengikuti gadis kecil itu dengan berjalan di belakangnya.


Mereka berjalan hingga ke minimarket dan langsung masuk ke dalamnya. Begitu berada di dalam minimarket, Farah langsung berlarian mencari peti es krim.


Farah langsung bersemangat saat melihat peti berisi penuh dengan es krim. Ia langsung membuka peti es tersebut dan sibuk memilih es krim yang akan dibeli.


"Onty Icha sama Uncle Rumi, mau pilih es krim yang mana?" tanya Farah


"Kalau untuk Uncle Rumi, biar Onty Icha saja yang pilihkan," jawab Rumi


"Kita beli agak banyak, ya, sekalian untuk orang rumah," kata Raisa


"Onty, selain es krim kita beli makanan kucing, ya? Aku mau kasih makan Mina di rumah," pinta Farah


"Iya, boleh. Pilih aja yang mau Farah beli, ambil yang banyak juga gak apa. Onty Icha yang traktir," ujar Raisa


"Benar, nih, Onty? Gak apa-apa?" tanya Farah untuk lebih memastikan.


Raisa mengangguk sambil tersenyum.


"Asik!" seru Farah


"Kau juga, Rumi. Jika ingin sesuatu, beli saja. Selagi kita di sini," ucap Raisa


"Dasar, kau ini. Jangan protes jika pilihanku tidak sesuai dengan seleramu atau kau ingin sesuatu yang lain dari semua yang kubeli," ujar Raisa


"Aku tidak akan protes. Seleramu akan jadi seleraku juga. Lagi pula, yang benar-benar aku inginkan hanyalah dirimu," bisik Rumi pada telinga Raisa.


"Hati-hati kalau bicara. Nanti orang lain bisa mendengar, lagi pula kita juga sedang bersama dengan Farah saat ini," tegur Raisa balas berbisik.


"Baiklah, Sayangku ... " patuh Rumi berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda pula.


Raisa terkekeh pelan melihat tingkah laku sang suami.


Usai memilih es krim, Farah pun mengambil beberapa jajanan seperti susu kotak, teh kemasan botol, roti sobek, dan ciki. Raisa pun ikut mengambil beberapa makanan yang sekiranya bisa dimakan oleh semua orang untuk anggota keluarganya yang lain.


Setelah memenuhi satu keranjang belanja, ketiganya beralih menuju meja kasir untuk menghitung jumlah belanjaan sekaligus biaya yang harus dibayarkan.


"Anaknya cantik, Kak."


"Terima kasih," sahut Farah saat tahu pujian itu untuknya.


"Emang cantik, tapi ini keponakan saya bukan anak saya," jelas Raisa demi memenuhi rasa penasaran sang pegawai kasir.


"Benar, apa lagi kami berdua belum lama menikah," ungkap Rumi sambil merangkul pundak Raisa.


"Maaf, tapi apa boleh minta foto bareng? Saya fans-nya Kak Raisa."


"Boleh kok," kata Raisa


Pegawai kasir itu pun menghampiri Raisa setelah merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Lalu, keduanya foto bersama dengan kamera depan ponsel milik pegawai kasir tersebut.


"Terima kasih, Kak Raisa."


"Sama-sama, tapi maaf ... apa mesin ATM-nya berfungsi?" tanya Raisa


"Berfungsi, Kak. Silakan kalau mau pakai dan belanjaannya udah ditotal. Jumlahnya Rp.128.000,-"


Raisa pun lebih dulu membayar total belanjaan. Baru setelah itu beralih pada mesin ATM yang tak jauh dari sana.


"Farah, Onty Icha ke mesin ATM dulu, ya. Sayang, tolong bawakan belanjaannya," ucap Raisa yang bicara pada keponakan perempuannya dan juga suami tampannya.

__ADS_1


Rumi dan Farah mengangguk di saat yang bersamaan, lalu mengikuti Raisa menuju ke mesin ATM.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Rumi


"Aku akan mengambil uang," jawab Raisa


Raisa lebih dulu memasukkan kartu ATM-nya pada lubang mesin ATM. Lalu, sesuai prosedur penarikan tunai, Raisa mengambil uang sejumlah Rp.500.000,-


"Rumi, bisakah kau berikan dompet milikmu padaku?" tanya Raisa meminta.


"Tentu saja. Namun, untuk apa?" tanya balik Rumi sambil memberikan dompet miliknya pada sang istri.


"Mengembalikan uang milikmu," jawab Raisa


Raisa pun menaruh uang yang baru saja ditarik olehnya ke dalam dompet milik sang suami begitu juga dengan kartu ATM yang tadi digunakannya.


"Ini ada uang sejumlah lima ratus ribu yang bisa kau gunakan saat berada di sini. Semua adalah milikmu. Upah pemotretan milikmu yang kau berikan padaku selama ini aku simpan secara terpisah di dalam sebuah kartu kredit yang baru saja aku ambil uangnya tadi. Jadi, aku hanya mengembalikannya padamu," jelas Raisa


"Kau bisa menggunakan uang tunai atau kartu kredit itu sebagai sarana transaksi. Jika kau membeli sesuatu kau bisa menggunakan keduanya. Tanyalah ... apa bisa pakai kartu kredit? Kalau dijawab bisa, maka kau bisa membayar menggunakan kartu tadi. Kalau tidak, maka kau bisa pakai uang tunai saja. Aku sengaja mengembalikan uang milikmu karena suatu saat kau pasti butuh dan menggunakannya," sambung Raisa yang lalu mengembalikan dompet berwarna hitam itu pada sang suami.


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Sayang," ucap Rumi


"Sama-sama," balas Raisa sambil tersenyum.


Raisa, Rumi, dan Farah pun beranjak ke luar dari minimarket untuk kembali menuju rumah.


"Onty Icha, aku mau makan es krimnya sekarang aja. Kalau tunggu sampai rumah bisa meleleh duluan," ucap Farah


"Tapi, nanti pas yang lain makan es krim di rumah, Farah jadi gak bisa makan es krim bareng dong ... " ujar Raisa


"Makan es krimnya di rumah aja. Onty Icha bisa pakai sulap supaya es krimnya gak meleleh kok," sambung Raisa sambil berbisik.


"Oke, deh ... makan es krimnya bareng-bareng aja di rumah," kata Farah


Ketiganya pun berjalan pulang bersama kembali menuju ke rumah.


Untungnya jalanan perumahan tersebut sedang sepi pejalan kaki dan hanya ada beberapa kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kalau tidak, mungkin Raisa sudah diserbu penggemar yang meminta tanda tangan atau mengajak foto bersama seperti pegawai kasir di minimarket sebelumnya.


Sesampainya di rumah, dengan perasaan riang dan girang, Farah langsung membagikan masing-masing satu es krim pada yang lainnya.


"Raisa, kok kamu beli banyak makanan lagi? Yang kita beli di kampung suami kamu aja masih banyak," ujar Bu Vani


"Gak apa, Bu. Buat isi kulkas," kata Raisa


Raisa dan Rumi pun membuka es krim dan makan bersama menemani Farah yang makan es krim sambil bermain bersama Mina si kucing putih.


"Mina, kamu mau makan es krim juga? Gak boleh. Tunggu sampai aku habisin es krimnya, nanti aku kasih kamu makan kok." Farah sedang mengajak Mina bicara.


"Aku memang sedang ingin makan es krim. Senang deh jadinya," gumam Raisa


"Jadi, itu adalah Mina. Kucing putih peliharaanmu yang kau bicarakan padaku. Apa kau jadi ingin membawa Mina ke rumah kita nanti?" tanya Rumi


"Ya, mungkin kita akan pulang besok. Jadi, ayo kita pindahkan Mina ke rumah kita saja," jawab Raisa


"Sayang, Mina ... kucing itu bisa mengerti ucapanmu bahkan bisa menemukan jalan pulang ke rumah seperti yang kau suruh tadi, lalu apa kau juga bisa mengerti bahasanya?" tanya Rumi


"Sulit untuk dijelaskan, tapi sepertinya aku bisa mengerti dia dari tingkah lakunya," ungkap Raisa


"Tak mengherankan lagi, sih ... setelah diingat-ingat, sepertinya kau selalu mengerti tingkah laku berbagai macam jenis hewan. Seperti kucing, kuda, ular, dan masih banyak lagi. Sepertinya kau juga mewarisi kemampuan dari Dewi Kebajikan Teratai Putih yang bisa mengerti bahasa hewan dari tingkah lakunya," ujar Rumi


Sebenarnya Rumi ingin sekali rasanya membicarakan dan menanyakan tentang Arga dengan Raisa. Namun, entah kenapa pria itu tidak bisa mengatakannya dan malah hanya bisa bicara tentang Mina si kucing putih peliharaan istri cantiknya itu.


Usai menghabiskan es krimnya, Farah memberikan makanan pada Mina dengan makanan kucing yang dibeli dari minimarket tadi.


"Main sama kucing terus. Farah, kita pulang aja, yuk ... " ujar Raina


"Gak mau. Pulangnya besok siang aja," kata Farah


•••


Keesokan harinya.


Seperti yang telah diputuskan, Farah, Raina, dan Arka kembali pulang ke rumah mereka saat siang hari. Sedangkan Raisa dan Rumi pulang ke rumah mereka berdua pada sore harinya. Tak lupa juga pasangan suami istri iru membawa Mina si kucing putih pulang bersama ke rumah baru itu.


"Karena kita hanya tinggal berdua, aku tidak akan kesepian jika kau tidak ada di rumah karena sekarang ada Mina," ucap Raisa


"Beberapa hari ini aku tetap di sini menemanimu kok," kata Rumi


"Oh, ya ... beberapa hari lagi akan ada acara pembukaan kedai kopi baru milikku. Kau ikut denganku saat acara itu, ya," pinta Raisa


"Tentu saja, aku akan ikut denganmu," kata Rumi


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2