
"Rumi, Raisa, kami datang!" Soraknya terdengar seperti suara seorang gadis. Yang itu adalah Wanda.
Mereka semua pun satu persatu masuk ke dalam ruang pemeriksaan menampakkan diri masing-masing. Morgan, Aqila, Devan, Ian, Chilla, Amy, Wanda, dan Sandra.
Mereka semua menghampiri Rumi dan Raisa di sana.
Dari Desa Daun sampai ke tempat orangtua Rumi tinggal berada terbilang jauh dan mengharuskan menempuh waktu perjalanan yang cukup lama.
"Kalian sudah datang!" Seru Raisa
Raisa dan Rumi pun menyambut kedatangan teman yang lain di sana.
"Rumi, bagaimana keadaanmu? Apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tanya Morgan
"Raisa, syukurlah kau berhasil menemukan Rumi dan menolongnya." Kata Aqila
"Aku juga sangat bersyukur saat tadi menemukan Rumi dan berhasil menolongnya. Aku senang sekarang dia terlihat baik-baik saja." Ungkap Raisa
"Saat sedang dalam perjalanan ke sini, aku diserang beberapa orang tak dikenal dan mereka berhasil meracuniku. Aku tak sadarkan diri, saat sadar sudah ada Raisa di sampingku. Aku bersyukur dia telah menemukan dan menyelamatkanku. Kami berdua langsung kembali menuju ke sini dan saat tiba aku langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan Ayahku." Jelas Rumi
"Lalu, apa hasil pemeriksaannya?" Tanya Ian
"Racunnya sudah hampir semua lenyap dari tubuhku kecuali yang masih dalam proses penguapan ke luar dari dalam tubuhku. Ayah sedang berusaha mengidentifikasi racunnya untuk membuat penawar untuk sisa racun yang dalam proses penguapan bisa cepat ke luar dari tubuhku. Saat ini aku baik-baik saja." Ungkap Rumi
"Untunglah Raisa bisa cepat menemukan dan menyelamatkanmu, Rumi." Ujar Devan
"Ya, berkat Raisa aku bisa selamat. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih padanya." Kata Rumi
"Sudahlah, itu sudah jadi tugas sesama teman untuk saling menolong." Tutur Raisa
"Kami bawakan buah-buahan untukmu, Rumi. Kami hanya sempat membelikan ini saat perjalanan ke sini karena Morgan terus mendesak kami untuk cepat ke mari." Ucap Sandra
Sandra pun memberikan bingkisan parsel buah-buahan pada Rumi. Dan Rumi menerimanya dari tangan Sandra.
"Terima kasih, semuanya." Kata Rumi
"Syukurlah, kau dan Raisa baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan kalian." Ujar Amy sambil menahan tangisnya.
"Rasa khawatirmu berlebihan, Amy. Kau kan sudah lihat, kami baik-baik saja." Kata Raisa
Akhirnya, Rumi dan Raisa melupakan topik yang mereka berdua bicarakan tadi. Dan Raisa merasa sedikit bersyukur karena Rumi teralihkan oleh teman-teman yang datang sampai akhirnya melupakan pembahasan mereka berdua. Raisa merasa sangat senang dengan kedatangan teman-temannya itu.
Di sela pembicaraan mereka, Bibi Rina kembali datang. Ia menyapa semua yang telah datang...
"Kukira ada apa ramai-ramai, ternyata tempat ini kedatangan banyak tamu." Ujar Bibi Rina
"Ah, Bibi Rina, aku yang bilang pada mereka akan mengantarkan Rumi ke sini setelah menemukannya. Jadi mereka semua menyusul datang ke mari." Ungkap Raisa
"Begitu rupanya. Bagaimana kabarmu, Aqila?" Tanya Bibi Rina
"Aku baik-baik saja, Bibi." Jawab Aqila
"Tamu yang datang cukup banyak. Aku akan menyiapkan camilan untuk kalian semua." Ucap Bibi Rina
"Yak, camilan! Aku menunggumu kembali, Bibi." Girang Chilla
Bibi Rina pun beranjak pergi menyiapkan camilan untuk semua teman Rumi yang sudah datang.
"Chilla, kau ini tidak merasa malu sudah datang bukannya menanyakan keadaan Rumi malah kegirangan mendengar akan dibawakan makanan. Dasar, gendut!" Cibir Ian
"Kalian semua kan sudah menanyakan keadaannya. Orang sakit itu harus tenang, kalau aku bertanya juga dia akan merasa pusing. Lagi pula aku senang melihatnya baik-baik saja." Tutur Chilla
"Sudah, jangan berisik! Kita datang ke sini untuk menenggok keadaan Rumi. Jangan sampai dia terganggu dengan ulah kalian yang selalu bertengkar. Merepotkan saja!" Tegur Devan
"Tidak apa-apa kok. Aku sudah sering nelihat pemandangan unik ini." Kata Rumi memaklumi.
"Kau ingin makan sesuatu, Chilla? Tadi Bibi Rina memberiku camilan ini. Kau makan yang ini saja dulu sambil menunggu Bibi Rina membawakan yang lain." Ujar Raisa
Raisa pun memberikan camilan yang disiapkan Bibi Rina untuknya pada Chilla. Chilla pun menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, Raisa. Kau memang teman yang pengertian! Sangat mengerti diriku! Kau baik sekali." Ucap Chilla
"Ya, sama-sama." Balas Raisa
"Camilan itu untuk Raisa, gendut! Malah kau yang memakannya... Kau memberikan camilan punyamu pada Chilla itu salah besar, Raisa. Dalam hitungan detik saja makanan itu akan langsung habis dilahapnya." Ujar Ian
"Tidak apa, aku sudah cukup banyak memakannya. Lagi pula Bibi Rina pun akan membawakan yang lain untuk kita semua." Kata Raisa
__ADS_1
"Kau sudah akrab dengan Bibi Rina itu tadi, Raisa?" Tanya Morgan
"Tidak sampai akrab, kami hanya sudah mengobrol saja. Mereka cukup baik padaku." Jawab Raisa
"Mereka? Siapa yang lainnya?" Tanya Wanda
"Bibi Rina dan Paman Garry. Tuan Rommy, Ayah Rumi juga." Jawab Raisa
"Kau juga sudah bertemu mereka ya, Raisa? Seperti sudah kenal baik saja." Ujar Aqila
"Itu karena aku sudah mengetahui mereka dari mimpiku. Walau sedang tidak ada dan belum bertemu, aku juga tau Tuan Johan dan Tuan Logan, kakak Rumi." Jelas Raisa
"Padahal kukira hanya Aqila dam aku yang bisa akrab dengan mereka. Tertanya kau juga ya, Raisa." Kata Morgan
"Aku belum pernah bertemu dengan mereka. Ini kali pertamaku. Katanya, mereka galak dan seram ya, Raisa?" Ujar Amy
"Aku juga baru kali ini bertemu Bibi Rina tadi." Kata Wanda
"Apa lagi aku yang baru benar-bebar tau." Sahut Sandra
"Tidak kok, mereka baik pada orang baik. Kau kan gadis baik, Amy." Kata Raisa
"Tapi, mereka memang sedikit galak denganku!" Sahut Morgan
"Itu karena kau sedikit sombong, Morgan." Timpal Raisa
"Itu memang benar!" Sahut Ian
"Kau sama saja, Ian. Beberapa dari kalian memiliki sifat yang sama saja." Kata Raisa
"Kapan penawar racun itu diproduksi dan butuh berapa lama? Kapan kau bisa kembali ke Desa Daun, Rumi?" Tanya Devan
"Entahlah, tapi aku ingin segera kembali." Jawab Rumi
"Sebegitu tak betahkah kau di sini, Rumi? Bukankan ini juga rumahmu? Di sini juga ada keluargamu." Ujar Tuan Rommy yang datang.
Tuan Rommy tiba-tiba datang di saat mereka semua mengobrol bersama.
Semua pun melihatnya datang dan mencoba menatap Tuan Rommy. Mereka semua langsung bergidik ngeri karena melihat wajahnya yang terlihat menyeramkan. Walau beberapa dari mereka sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya, tetap saja kesan seram tidak pernah lepas dari sosoknya itu. Mereka semua susah payah menelan ludahnya karena merasa takut. Amy bahkan sampai bersembunyi di balik tubuh Raisa sambil memeluknya dan bergemetar ketakutan sejak Ayah Rumi itu datang menghampiri.
"Raisa, aku takut!" Bisik Amy yang tubuhnya bergetar hebat karna takut.
Melihat Amy memeluk Raisa lagi untuk kedua kalinya membuat Rumi merasa sedikit kesal dan terbesit rasa cemburu di dalam hatinya yang sebenarnya ia sendiri tidak tau alasan sampai merasakan perasaaan tak enak di dalam hatinya saat melihat Raisa dipeluk oleh orang lain selain dirinya. Seolah-olah tak ada yang boleh memeluk Raisa selain hanya dirinya saja. Ia bahkan cemburu dengan kedekatan Raisa dengan teman sesama gadisnya yang juga temannya sendiri. Ia benar-benar tak ingin melihat Raisa dekat dengan siapa pun selain dirinya saja. Benar-benar sifat seorang lelaki yang posesif!
"Rumi, ayo! Ikut aku! Kita akan melakukan pemeriksaan terakhir dan untuk mencocokkan penawar pada tubuhmu." Ucap Tuan Rommy
"Baik, Ayah." Sahut Rumi nenurut.
Rumi pun bangkit dari duduknya. Mendekati Sang Ayah...
"Aku sekali lagi berterima kasih padamu, Raisa. Berkat bantuan darimu, aku jadi bisa cepat menangani masalah racun yang menyerang tubuh Rumi." Ucap Tuan Rommy
"Tidak masalah, Tuan. Anda tidak perlu begitu sungkan padaku. Rumi adalah temanku, sudah seharusnya aku menyelamatkannya dan menolongmu." Balas Raisa
"Aku tau kalian semua sudah jauh-jauh menengok putraku. Tapi, aku bawa dulu Rumi bersamaku untuk langkah akhir pemeriksaan." Ujar Tuan Rommy
"Tidak apa. Kami akan menunggu." Kata Morgan
"Teman-teman, aku tinggal dulu sebentar." Kata Rumi
Rumi pun pergi bersama mengikuti Tuan Rommy menuju ke ruangan laboratorium. Meninggalkan yang lain untuk menunggunya.
Saat Rumi dan Tuan Rommy pergi, Bibi Rina baru datang untuk mengantarkan camilan untuk semua teman Rumi yang datang. Ia membawakan cukup banyak makanan camilan untuk disuguhkan pada semua teman Rumi...
"Ini camilan untuk kalian, sudah kubawakan." Kata Bibi Rina
"Yeay, terima kasih banyak, Bibi!" Sorak Chilla
"Sama-sama. Di mana, Rumi?" Ujar Bibi Rina
"Dia dibawa Tuan Rommy untuk melakukan pemeriksaan terakhir dan mencoba penawar racun pada tubuhnya." Ungkap Raisa memberitau.
"Oh, begitu. Pasti tidak akan lama, kalian tunggu saja." Kata Bibi Rina
"Bibi, kapan Rumi diperbolehkan kembali ke Desa Daun?" Tanya Morgan
"Keputusan itu tergantung pada Tuan Rommy dan terserah pada Rumi. Aku juga tidak tau." Jawab Bibi Rina
__ADS_1
"Padahal kami ingin segera membawa Rumi kembali ke Desa Daun bersama-sama." Ujar Ian
"Itu mungkin bisa saja jika ada yang mau menjamin Rumi seperti menjaga dan merawat dirinya dalam beberapa hari ini." Ucap Bibi Rina seolah sedang memberi kode keras!
"Kalau begitu, siapa yang bisa melakukannya?" Tanya Sandra
"Kenapa tidak Raisa saja? Raisa kan yang sudah menyelamatkan Rumi sebelumnya dia pasti bisa melakukannya." Ujar Amy
"Eh, aku?" Bingung Raisa harus merespon seperti apa.
"Amy, benar! Kau bisa kan, Raisa? Ayolah, supaya Rumi kembali ke Desa Daun bersama kita semua." Ujar Morgan
"Eh? Memangnya Rumi sudah langsung diperbolehkan kembali menempuh perjalanan?" Bingung harus bagaimana menanggapinya. Raisa hanya berkata demikian.
"Itu bisa kita tanyakan nanti pada Tuan Rommy." Kata Devan
"Semoga kita bisa kembali bersama Rumi ke Desa Daun." Harap Wanda
"Semoga bisa secepatnya kembali." Kata Aqila
Chilla hanya mengangguk kecil sambil terus melahap camilan yang disiapkan Bibi Rina...
"Yasudah, aku tinggal dulu melihat keadaan Rumi ya. Kalian tunggu saja di sini." Ucap Bibi Rina
"Baik, Bibi. Terima kasih..." Serempak semuanya
Bibi Rina pun beranjak pergi meninggalkan mereka semua di ruang peneriksaan. Ia langsung menuju ruangan laboratorium untuk melihat keadaan pemeriksaan Rumi.
---
Saat pemeriksaan terakhir ini, Tuan Rommy benar-benar fokus memeriksa keadaan menyeluruh dari anaknya dibantu oleh Garry. Tubuh Rumi diperiksa sekali lagi untuk terakhir kalinya secara menyeluruh dan mencobakan efek penawar racun ke dalam tubuhnya.
Saat itu, Bibi Rina datang masuk ke dalam ruangan rersebut untuk bergabung melihat pemeriksaan kondisi tubuh Rumi.
"Apa semua baik-baik saja? Bagaimana hasilnya?" Tanya Bibi Rina
"Berkat sampel racun yang Raisa ambil dan berikan, semua prosedur berjalan lancar. Karena sampel racunnya juga tercampur dengan darah Rumi, penawar yang dibuat pun sudah dipastikan kecocokannya pada tubuh Rumi dan meminimalkan efeknya nanti. Sekarang, kita hanya tinggal memberi penawar racun itu pada Rumi." Jelas Tuan Rommy
"Memang apa efek dari penawarnya?" Tanya Bibi Rina
"Hanya akan membuat lemas sementara dan menghilangkan tenaga cadangan di dalam tubuh Rumi untuk sementara waktu." Ungkap Tuan Rommy
"Bukankah itu tetap merugikan bagi Rumi?" Tanya Bibi Rina
"Yang penting kita sudah menawar racunnya supaya tidak kembali memperparah kondisi Rumi." Ujar Paman Garry
"Efeknya hanya bekerja sebentar, hanya 15 sampai 30 menit." Jawab Tuan Rommy pada pertaanyaan Bibi Rina
"Aku akan mulai memasukkan penawar racunnya pada tubuhmu ya, Rumi." Ucap Paman Garry
"Baiklah." Patuh Rumi
Paman Garry pun mulai memasukkan penawar racun pada tubuh Rumi dengan menyuntikannya dalam jumlah dosis yang signifikan yang telah ditentukan dengan menelitinya terlebih dulu.
Setelah melakukan penyuntikan penawar racun, Rumi kembali melakukan sedikit pemeriksaan. Dan terlihat jelas, penawar racunnya mulai bekerja dengan efektif pada tubuh Rumi.
"Racun dalam tubuhku sudah dihilangkan oleh Raisa dan sekarang sudah ditawarkan sampai lenyap sepenuhnya. Kapan aku bisa kembali ke Deaa Daun lagi?" Ujar Rumi
"Bukankah sebaiknya kau tetap di sini sementara waktu, Rumi? Kau selalu saja begini, padahal sudah pulang tapi ternyata hanya mengunjungi kami sebentar saja dan lansung kembali ke Desa Daun selang beberapa waktu." Ucap Paman Garry
"Teman-teman Rumi yang datang juga berkata, berharap bisa membawa Rumi kembali ke Desa Daun." Kata Bibi Rina
"Kau benar-benar ingin kembali ke sana ya? Baiklah, tunggu setelah penawar racunnya benar-benar berhenti bekerja di dalam tubuhmu itu. Setelah efeknya sudah tidak ada, kau bisa kembali ke Desa Daun." Ucap Tuan Rommy
"Tadi saat mereka bertanya padaku, kapan dan bisakah Rumi kembali bersama mereka ke Desa Daun? Aku mengatakan, mungkin bisa dan diperbolehkan jika ada yang memastikan kondisi Rumi seperti menjaga dan merawatnya saat sudah berada di Desa Daun." Ungkap Bibi Rina
"Untuk apa lagi memerlukan seperti itu? Setelah ini kan aku akan kembali baik-baik saja." Ucap Rumi
"Kau tidak mengerti, Rumi? Kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk meminta Raisa merawatmu dan kau bisa dekat dengannya beberapa waktu sementara setelah ini. Karena saat aku berkata seperti itu, temanmu yang lain memilih dan meminta Raisa yang melakukannya dan sepertinya pun Raisa mau saja menerimanya jika itu demi dirimu. Raisa itu sangat peduli dan perhatian denganmu!" Ujar Bibi Rina
"Oho! Jadi, kau berusaha mendekatkan Rumi dan Raisa ya, Rina? Memangnya mereka berdua aaling suka?" Tanya Paman Garry
"Bukankah terlihat jelas dan kau juga menyadarinya, Garry?" Kata Bibi Rina
Rumi terdiam seperti memikirkan sesuatu. Apakah Raisa benar bersedia menjaganya? Bibi Rina dan Paman Garry sudah menyadari jika mereka berdua saling suka. Tapi, saat Rumi mengatakan bahwa ia menyukai Raisa, kenapa Raisa mengatakan hanya menyukainya sebatas teman saja? Padahal ia pun cukup yakin jika Raisa juga menyukai dirinya sepertinya menyukai Raisa. Sebenarnya siapa yang salah paham? Apa ia dan kedua kerabatnya yang salah paham atau Raisa yang menyembunyikan perasaannya?
.
__ADS_1
•
Bersambung...