
Rumi terkejut saat mendengar hal yang ingin Raisa lakukan adalah menghilangkan kutukan ciptaan Tuan Rommy.
"Jadi, dari tadi kau jadi banyak diam karena memikirkan hal lain soal menghilangkan kutukan?" tanya Rumi
Raisa pun mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku sudah salah paham," kata Rumi
"Tapi, apa Raisa bisa menghilangkan kutukan ciptaan ayah?" tanya Rumi
"Oh ... rupanya kau tidak percaya pada kemampuan Raisa, ya, Rumi? Aku tidak menyangka," ujar Nona Rina
"Bukan seperti itu. Hanya saja itu mungkin akan bahaya untuk Raisa. Lagi pula ini bukan kutukan yang dipasang pada sebuah alat, tapi pada tubuh seseorang dan kutukan yang ayah ciptakan itu termasuk yang terkuat," ucap Rumi
"Kekhawatiran pada seseorang juga bisa berarti kau ragu bahwa orang tersebut mampu. Tuan Rommy saja sudah memberi izin yang artinya dia percaya bahwa Raisa mampu melakukannya," jelas Nona Rina
"Tuan Rommy saja percaya, masa kau tidak? Atau kau merasa Tuan Rommy sembarangan memberi izin karena tidak peduli pada keselamatan Raisa atau ingin mencelakai Raisa? Tidak mungkin seperti itu, Rumi. Ayahmu itu sudah berubah, tidak lagi jahat seperti dulu. Apa lagi kali ini tentang orang yang kau pedulikan. Tuan Rommy tidak mungkin tidak mempertimbangkan hal seperti ini," sambung Nona Rina
Rumi menatap ke arah Raisa yang sudah lebih dulu menatapnya. Jujur saja, Rumi memang merasa khawatir, tapi bukan berarti ia tidak percaya pada Raisa.
"Jadi, kau percaya padaku atau tidak, Rumi?" tanya Raisa
Rumi terdiam. Tatapan cemas terlihat jelas dari sorot matanya.
"Kau memang aneh belakangan ini. Padahal biasanya kau selalu percaya dan mendukung setiap tindakan yang kulakukan sambil terus berjaga-jaga dan siap melindungiku. Rupanya kau sudah berubah," sambung Raisa
"Tidak seperti itu. Aku selalu percaya padamu dan tidak akan pernah berubah," kata Rumi
Raisa pun tersenyum senang mendengarnya.
"Jadi, kapan kau akan pergi menghilangkan kutukan pada tubuh Johan?" tanya Nona Rina
"Sekarang juga aku akan pergi," jawab Raisa
"Tapi, malam ini malam bulan purnama. Terlalu bahaya karena kutukan Johan sedang lepas kendali sepenuhnya. Kenapa tidak menunggu saat Johan kembali saja?" tanya Rumi
"Itu terlalu lama. Aku memang sengaja ingin menghilangkan kutukannya saat sedang lepas kendali. Akan sangat bagus jika saat kita datang, kutukan itu belum lepas kendali. Supaya Tuan Johan tidak lagi merasakan penderitaan karena kutukannya yang lepas kendali," jawab Raisa
Bulan purnama memang tidak berlangsung sepanjang malam di suatu malam. Periode bulan purnama hanya berlangsung beberapa saat di malam tertentu saja. Bahkan bisa hanya berlangsung dalam beberapa detik saja.
Jika memang lepas kendalinya kutukan pada tubuh Tuan Johan hanya terjadi saat periode malam purnama, Raisa ingin memanfaatkan waktu periode bulan purnama yang singkat itu untuk menghilangkan penderitaan terhadap kutukan tersebut.
"Kau tahu tempat Tuan Johan bersembunyi bersama Tuan Garry, kan, Rumi? Kau mau menemaniku ke sana, kan?" tanya Raisa
Rumi hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu, kita bersiap untuk pergi sekarang juga," ujar Raisa
Usai bersiap-siap, Raisa dan Rumi pun pergi meninggalkan kediaman Tuan Rommy menuju ke tempat persembunyian Tuan Johan dan Tuan Garry di perbatasan desa di dekat Desa Kabut, Negera Air.
...
Rumi yang ingin selalu bersama Raisa mau tidak mau harus menemani Raisa untuk menemui Tuan Johan bersama Tuan Garry. Meski tujuan Raisa yang ingin menghilangkan kutukan akan sangat beresiko karena berbahaya, Rumi akan selalu mendukung Raisa dan melindunginya.
Setelah menempuh perjalanan bersama, akhirnya Raisa dan Rumi sampai dan menemukan goa persembunyian Tuan Johan dan Tuan Garry.
Goa tersebut berada di dekat sebuah danau, tepat seperti yang ada dalam mimpi ajaib Raisa.
"Ternyata di sini tempat persembunyian mereka," gumam Raisa
Begitu mendengar ada suara orang yang mendekati tempat tersebut, Tuan Garry ke luar dari dalam goa persembunyiannya.
"Kukira siapa yang datang ... ternyata, Rumi dan Raisa. Kenapa kalian berdua ke sini? Rumi, kenapa kau membawa Raisa datang ke sini?" tanya Tuan Garry
"Senang bertemu denganmu lagi, Tuan Garry. Aku datang karena ingin menemui Tuan Johan," jawab Raisa sambil menyapa.
"Aku tidak tahu kau sudah tahu atau tidak, tapi ini berbahaya jika kau menemui Johan sekarang," ujar Tuan Garry
"Raisa datang karena ingin menghilangkan kutukan pada tubuh Johan," ungkap Rumi
"Apa!? Mungkinkah?" tanya Tuan Garry
__ADS_1
Tuan Garry langsung menampakkan raut wajah terkejut dan sulit berkata-kata. Namun, saat melihat ke arah Raisa, yang dilihatnya hanya tersenyum santai.
"Hei, jangan bercanda. Jangan main-main di sini," kata Tuan Garry
"Aku tahu apa yang Tuan Garry khawatirkan dan ini memang berbahaya, tapi kami berdua tidak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk main-main. Aku tidak sedang bercanda dan sangat serius," ucap Raisa
"Ayah juga sudah memberi izin dan mempercayakan Raisa untuk hal ini," ungkap Rumi
"Baiklah, kalau kalian berdua sudah bicara seperti itu. Tapi, Johan akan sangat sensitif di saat seperti ini. Kuserahkan dia padamu, Raisa," ujar Tuan Garry
Raisa mengangguk dengan mantap.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Percaya saja padaku," kata Raisa dengan sangat percaya diri.
"Aku akan mengantarkanmu pada Johan. Ayo, ikut aku," ucap Tuan Garry
Raisa dan Rumi pun mengikuti Tuan Garry masuk ke dalam goa buatan di hadapan mereka.
Saat berjalan masuk, Rumi langsung menggenggam tangan Raisa. Raisa yang sadar jika Rumi terus merasa khawatir padanya pun membalas genggaman tangan Rumi untuk memberikan perasaan tenang pada lelaki tampan itu.
"Siapa yang datang, Garry? Tidak ada yang mendekati goa ini, kan?" tanya Johan
Tuan Johan bertanya pada Tuan Garry. Tuan Johan berada di balik penjara tanah buatannya sendiri di dalam goa tersebut. Tuan Johan sengaja memenjarakan dirinya sendiri agar ia bisa menjauh dari orang-orang supaya tidak melukai orang-orang saat ia tak sadarkan diri akibat kutukannya yang lepas kendali saat periode bulan purnama yang akan berlangsung tak lama lagi.
Saat itu Raisa melepaskan genggaman tangannya dari Rumi dan berjalan mendekati penjara buatan Tuan Johan.
"Johan, ada yang datang ingin bertemu denganmu," kata Tuan Garry
"Senang bisa betemu denganmu lagi, Tuan Johan," sapa Raisa sambil tersenyum hangat.
"Menjauhlah dariku," pekik Tuan Johan saat mengetahui bukan Tuan Garry yang mendekatinya.
Tuan Johan pun berjalan mundur di dalam penjara buatannya. Ia tidak ingin melihat orang lain karena ia bisa saja langsung memiliki niat untuk membunuh dan tidak bisa mengontrol kutukan dalam tubuhnya dengan baik.
"Johan, Raisa datang untuk menghilangkan kutukanmu," ungkap Tuan Garry
"Apa maksudnya itu? Bagaimana bisa?" tanya Tuan Johan
"Ayah sudah mengetahui hal ini." Tanpa menjawab pertanyaan Tuan Johan, Rumi mengungkapkan hal lain.
"Kau bisa percaya pada Raisa," kata Rumi
"Setelah sekian lama ... tapi, tidak bisa," gumam Tuan Johan
"Apa maksudmu kau tidak ingin Raisa menghilangkan kutukan pada tubuhmu? Kau ini kenapa? Bukankah ini kesempatan bagus supaya kau bebas dari penderitaan yang kau alami selama ini?" tanya Tuan Garry yang mendengar hal yang digumamkan Tuan Johan.
"Kau dan Rumi sama saja. Berlagak ingin patuh padahal diri sendiri tahu resikonya. Aku benar-benar tidak bisa mengerti," sambung Tuan Garry
"Ini berbeda," kata Tuan Johan
"Apanya yang berbeda!? Pada tubuh kalian berdua sama-sama terdapat kutukan yang sama-sama berbahaya bagi kalian berdua," ujar Tuan Garry berkata dengan geram.
Seketika saja Tuan Johan merenung. Sejak menjadi anak buah Tuan Rommy, memang banyak penderitaan yang dialami oleh Tuan Johan, tapi ia tidak bisa menolak karena butuh tempat bernaung. Ia pun sudah lama menderita karena kutukan yang dipasangkan pada tubuhnya. Ia merasa sangat kesakitan dan bersalah karena niat membunuhnya saat kutukannya jadi lepas kendali. Namun, sudah cukup lama Tuan Johan juga menemukan manfaat baik pada kutukan di tubuhnya.
Sejak perang berakhir setelah sekian lama, banyak sekali ilmuwan bermunculan. Tak jarang ilmuwan tersebut memiliki pemikiran gila seperti Tuan Rommy yang mampu melakukan hal terlarang seperti menciptakan kutukan. Bahkan memasang kutukan pada sejumlah hewan tidak bersalah untuk dijadikan monster sebagai alat yang dikendalikan.
Sejak itu Tuan Rommy menggunakan kutukannya untuk menyerap kutukan lain dari hewan-hewan tidak bersalah itu hingga lenyap sepenuhnya. Namun, karena itu jugalah kutukan Tuan Johan semakin sulit dikendalikan oleh dirinya sendiri hingga membuatnya sangat menderita.
Tuan Johan tidak ingin ada makhluk lain yang mengalami penderitaan dari kutukan seperti dirinya. Jadi, ia terus menerus memanfaatkan kutukan pada tubuhnya untuk menghilangkan kutukan pada makhluk lain dengan cara menyerap kutukannya. Setidaknya untuk hal ini ia ingin menjadi bermanfaat setelah ikut melakukan hal jahat bersama Tuan Rommy dulu. Jadi, Tuan Johan ingin terus mempertahankan kutukan pada tubuhnya.
"Tuan Johan, aku ingin bicara. Kali ini tolong tatap aku," ucap Raisa
Tuan Johan menjauhi Raisa yang mendekatinya karena tidak ingin melukai gadis itu. Namun, karena Raisa berkata agar Tuan Johan menatapnya, ia jadi tidak tahan karena niat membunuh dalam dirinya terus mendorongnya untuk mendapat mangsa empuk untuk dimusnahkan.
Saat Tuan Johan berbalik mendekati Raisa karena njat membunuhnya itu, seketika saja Tuan Johan menjadi tenang saat menatap mata Raisa. Cahaya terpancar dari tatapan kedua mata Raisa dan mampu membuat niat membunuh dalam diri Tuan Johan lenyap berganti dengan rasa tenang dan damai.
"Aku menjadi tenang setelah menatap matamu, Raisa. Tapi, bukan berarti aku tidak berbahaya. Lebih baik kau dan Rumi pergi saja dari sini. Tinggalkan tempat ini sekarang juga," ucap Tuan Johan
"Bagus kalau kau sudah tenang. Kita bisa bicara dulu baik-baik," kata Raisa
"Tuan Johan, aku tahu apa yang jadi pertimbanganmu dan membuatmu ragu dalam hal ini. Aku mengerti bahwa ada manfaat tersembunyi dari kutukan yang ada pada tubuhmu, tapi juga bukan berarti tidak ada cara mengatasi dan solusi yang tepat untuk itu," sambung Raisa
__ADS_1
"Tuan Rommy saja mempercayakan Raisa untuk menghilangkan kutukanmu, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Percaya saja padanya," ujar Tuan Garry
"Tunggu ... kau bilang ada cara dan solusi untuk manfaat di balik kutukan ini. Raisa, apa maksudmu kau bisa menghilangkan kutukannya tanpa menghilangkan pengaruh dari manfaat kutukan itu?" tanya Tuan Garry
Raisa hanya tersenyum penuh arti.
"Apa kau sungguh-sungguh, Raisa? Apa kau bisa melakukannya sesuai yang kuinginkan?" tanya Tuan Johan
"Kau hanya perlu percaya padaku, Tuan Johan," kata Raisa
Dengan sihir pengendali tanahnya, Raisa dengan mudah masuk ke dalam penjara buatan dan berhadapan langsung dengan Tuan Johan.
"Untungnya saat ini bulan purnama masih belum muncul hingga kau masih ada dalam kendali dirimu sendiri," ujar Raisa
"Ini tidak akan bertahan lama. Aku merasa semakin tidak bisa mengendalikan diriku sendiri meski terus menahan diri. Sepertinya bulan purnama sebentar lagi akan muncul," ucap Tuan Johan
"Raisa, hati-hati," pesan Rumi
Rumi sangat ingin menghampiri Raisa agar bisa melindungi gadis cantik itu dari dekat. Namun, Tuan Garry sudah lebih dulu menahannya.
"Kau juga ... percaya saja pada Raisa. Kau sendiri juga mengatakan hal ini," kata Tuan Garry
Raisa pun duduk di dekat Tuan Johan sambil terus tersenyum.
"Kalau begitu, biarkan saja bulan purnama muncul dan silakan lepas kendali. Aku yang akan menahanmu dan mengatasi semuanya," ujar Raisa
"Jangan main-main, Raisa. Aku memperingatkanmu," kata Tuan Johan
"Tidak akan terjadi apa-apa. Kau hanya perlu percaya padaku. Itu saja," ucap Raisa
"Kau sudah mengatakannya padaku. Makanya, aku membiarkanmu masuk dan mendekatiku. Aku mengandalkanmu," ujar Tuan Johan
"Itu bagus," kata Raisa
Raisa memperhatikan tubuh bagian atas Tuan Johan yang hanya dibungkus jubah hitam.
"Ini mungkin akan terasa menyakitkan seolah membekukan dan membakar dirimu, tapi tidak akan lama. Tahanlah sebentar saja," jelas Raisa
"Aku sudah terbiasa dengan rasa menyakitkan sejak dulu. Lakukan saja seperti yang sudah kau katakan," ucap Tuan Johan
Kutukan pada tubuh Tuan Johan berpusat pada lehernya. Jika Tuan Johan melanggar aturan yang sudah ditentukan Tuan Rommy saat memasang kutukan pada tubuhnya, maka secara otomatis dan tidak sadar, maka Tuan Johan akan memenggal lehernya sendiri.
"Maafkan aku," gumam Raisa
Raisa pun mulai menyentuh leher yang menjadi pusat kutukan pada tubuh Tuan Johan seolah sedang mencekiknya.
Raisa menggunakan kemampuan sihirnya untuk menghilangkan kutukan pada tubuh Tuan Johan. Raisa mulai dengan sihir es yang menyelimuti seluruh permukaan leher Tuan Johan hingga menjadi beku.
Biasanya untuk menggunakan sihir air atau es, Raisa butuh zat cair langsung sebagai media sihirnya. Namun, setelah kemampuan sihirnya kembali dan bangkit dengan sempurna, Raisa tidak lagi membutuhkan media untuk sihir air dan es. Ia bisa melakukan semua sihir dengan bebas tanpa merasa kelelahan seperti dulu.
"Raisa? Apa yang ingin kau lakukan dengan kutukan orang ini? Pengaruh sihirmu memang bisa menahan hasrat membunuhnya, tapi bagaimana caramu menghilangkan kutukan itu sepenuhnya?" Sang Phoenix mencoba untuk berkomunikasi dari dalam diri Raisa.
"Kau masih tidak tahu caraku melakukannya setelah melihat ini, Helio? Tenang saja, aku tahu kau juga merasa khawatir untukku, tapi aku yakin bisa menghilangkan kutukan ini. Namun, untuk melakukannya aku butuh bantuan darimu. Kumohon bagikan sedikit api abadimu padaku," balas Raisa
"Kau bisa menggunakan api abadiku kapan pun kau mau. Kau bebas mengambil sebanyak apa pun, Raisa. Tidak perlu izin dariku karena kau adalah Tuanku. Tapi, apa kau bisa mempercayainya? Dulunya dia adalah orang jahat."
"Itu hanya bagian dari masa lalunya. Sekarang dia sudah berubah menjadi baik. Terima kasih banyak atas kerja sama darimu, Helio."
Raisa mengunci pergerakan serta penyebaran kutukan pada tubuh Tuan Johan dengan membekukan lehernya. Setelah kutukan itu terkunci oleh sihir es miliknya, Raisa menggunakan api abadi milik Sang Phoenix untuk membakarnya hingga lenyap tanpa melukai Tuan Johan.
"Aku mengerti sekarang. Setelah membekukan kutukannya, kau menghilangkannya dengan menggunakan api abadi. Tidak terpikirkan olehku cara seperti ini. Sungguh bijak."
"Ini juga berkat bantuan darimu, Helio. Sekali lagi terima kasih banyak."
"Tidak perlu sungkan padaku, Raisa."
Raisa pun menghilangkan kutukan pada tubuh Tuan Johan, setelah membekukannya dengan cara membakarnya menggunakan api abadi. Setelah api abadi tersebut padam, maka kutukan pada Tuan Johan telah lenyap dan hilang sepenuhnya.
Tuan Johan pun terus menahan rasa es yang membekukan serta api yang membakar lehernya.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...