Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 91 - Tak Seindah Kenyataan.


__ADS_3

"Kau pasti merasa lelah, Raisa. Istirahatlah lebih dulu," kata Rumi


"Aku tidak merasa lelah, tapi kau pasti lapar. Aku akan masak sesuatu untuk kita makan bersama," ujar Raisa


Raisa pun beralih menuju ke dapur untuk segera memasak.


Meski peralatan dan kebutuhan rumah tangga di rumah baru itu telah lengkap hingga seluruh isi dapur, namun karena rumah sempat dikosongkan saat-saat sebelum menikah, jadi di sana hanya ada bahan makanan mentah.


Raisa pun hanya membuat spagethi dan kentang goreng untuk makan malam. Raisa memasak sambil sesekali memandangi cincin yang telah melingkar dan menghiasi kedua-dua jari manis pada kedua tangannya.


Di jari manis pada tangan kirinya dihiasi cincin pertunangan pemberian Rumi dulu. Dan di jari manis pada tangan kanannya kini telah dihiasi cincin pernikahannya dengan Rumi yang kini telah menjadi suami sahnya pada 3 hari yang lalu.


Raisa memandangi dua cincin miliknya itu sambil sesekali menyentuhnya dengan perasaan haru bahagia. Gadis cantik itu pun kembali mengingat momen paling membahagiakan dalam hidupnya yang telah melengkapi dirinya itu. Yaitu, saat Rumi melamarnya, saat calon suaminya itu memasangkan cincin sebagai simbol pertunangan di jari manis pada tangan kirinya, serta saat pemasangan cincin pernikahan yang dilakukan oleh lelaki yang baru sah menjadi suaminya 3 hari yang lalu di jari manis pada tangan kanaannya. Dan kini dirinya telah resmi menjadi seorang istri bagi lelaki yang paling dicintainya.


Raisa memasak sambil tersenyum bahagia karena mengingat kembali momen indah dalam hidupnya. Raisa yang sedang memotong kentang setelah mencucinya dan sebelum menggorengnya itu dikejutkan dengan sepasang tangan yang melingkar pada pinggang rampingnya dan memeluknya dari belakang serta dagu yang diletakkan pada bahunya.


"Jangan melamun, Sayang. Hati-hati jari cantikmu nanti jadi tersayat pisau," pesan Rumi yang ikut hadir dalam acara memasak Raisa di dapur.


"Ya ampun, Rumi ... kau mengagetkan aku saja! Yang ada jariku tersayat bukan karena melamun, tapi karena kau yang datang mengejutkan aku seperti ini," tegur Raisa yang merasa terkejut dengan kehadiran Rumi di sana.


"Kau tidak akan terkejut jika kau tidak melamun seperti tadi. Fokuslah saat memasak agar kau tidak terluka," kata Rumi


"Lalu, kau datang karena ingin memperingatkan sekaligus menghukum aku yang melamun saat sedang memasak, begitu?" tanya Raisa


"Tidak. Aku datang karena ingin membantumu masak," jawab Rumi


"Kalau kau memang ingin membantuku memasak, jangan seperti ini dong. Lepaskan aku dulu. Kalau seperti ini aku malah jadi kesulitan dan tidak bisa fokus memasak," ujar Raisa


Rumi pun menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher milik Raisa dan menghirup dalam-dalam aroma menenangkan pada tubuh sang istri serta menciumi leher putih jenjang itu hingga berhasil membuat Raisa menggeliat karena merasa geli. Lalu, sebagai langkah terakhir, Rumi mengecup pipi sebelah kanan Raisa dari belakang dengan sedikit memajukan wajahnya. Setelah merasa puas, barulah Rumi melepaskan dirinya dari istri cantiknya itu. Kini Rumi beralih dari belakang Raisa menjadi berdiri di sampingnya.


"Rumi, kau menggangguku!" pekik Raisa


"Maaf, hanya saja aku menyukai harum aroma tubuhmu," kata Rumi


"Baiklah. Sekarang aku harus membantumu melakukan apa?" tanya Rumi yang kini telah berdiri di samping Raisa.


"Kau lanjutkan saja memotong kentang ini, ya. Aku mau memasak spagethi dan membuat bumbu saus pastanya," jawab Raisa


"Untuk ukuran potongan kentangnya kau ikuti saja ukuran potongan kentang yang sudah kupotong sebelumnya," sambung Raisa


"Baiklah. Aku mengerti," kata Rumi


Rumi pun mengambil alih pisau dan kentang dari tangan Raisa. Sementara Rumi memotong kentang, Raisa beralih memasak spagethi serta menbuat bumbu saus pasta sebagai pelengkapnya.


Sementara mie pasta atau spagethi kering sedang direbus di dalam air mendidih, Raisa pun membuat bumbu saus pasta dengan mem-blender potongan tomat, cabai, bawang putih, dan lain sebagainya.


Setelah spagethi direbus hingga menjadi lunak, mie pasta itu pun ditiriskan dan diletakkan di atas piring. Lalu, Raisa beralih menumis bumbu saus pasta yang telah diblebder sebelumnya.


"Katamu kau tidak suka kentang dan tidak bisa makan yang terlalu pedas?" tanya Rumi


"Berbeda dengan kentang rebus, aku suka kentang goreng. Aku tidak terlalu bisa makan pedas, tapi kalau hanya sekadar saus tomat aku bisa memakannya," jelas Raisa


Setelah bumbu saus tomat telah harum yang menandakannya telah matang, Raisa pun menyajikannya di atas spagethi yang telah disisihkan tadi.


"Apa kentangnya sudah selesai dipotong semua?" tanya Raisa


"Sudah semuanya," jawab Rumi


"Kalau begitu, kali ini tolong potongkan sosis. Potong tipis saja seperti ini," ujar Raisa yang lebih dulu memberikan contoh memotong sosis dengan tipis pada Rumi.


Rumi pun memerhatikan cara Raisa memotong sosis dengan porongan tipis.


"Baiklah. Aku mengerti," kata Rumi


Rumi pun kembali mengambil alih pisau dan sosis dari tangan Raisa. Lalu, Raisa pun beralih untuk menggoreng kentang yang telah dipotong oleh Rumi.

__ADS_1


"Kau memotong kentangnya dengan rapi. Kukira potongannya akan tidak rapi atau terlalu besar atau malah terlalu tipis. Kerja bagus, Suamiku," ucap Raisa sambil memberikan pujian.


"Aku senang bisa membantumu, Sayang,"ujar Rumi


"Apa di rumahmu sebelumnya kau pernah memasak?" tanya Raisa


"Aku hanya memasak hidangan sederhana saja," jawab Rumi


"Pantas saja kau terlihat biasa dengan pisau," kata Raisa


"Akan diapakan lagi sosisnya setelah selesai dipotong?" tanya Rumi


"Aku akan menggorengnya untuk pelengkap spagethinya," jawab Raisa


Setelah menyajikan kentang yang telah digoreng hingga matang di atas piring di oinggiran spagethi, Raisa kini beralih menggoreng sosis yang telah selesai dipotong oleh Rumi.


"Biar aku menyelesaikan sisanya, hanya tinggal sedikit lagi. Kau tunggu saja di meja makan hingga aku selesai memasak di dapur," ucap Raisa


"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Sayang," kata Rumi


Rumi pun mengecup sekilas pipi sebelah kiri Raisa. Barulah setelah itu ia beranjak pergi menuju ke meja makan untuk menunggu Raisa hingga selesai masak di sana.


"Dasar, lelaki itu ... suka sekali mencuri kesempatan untuk menciumku. Untung saja sudah sah," gumam Raisa


Letak meja makan berdekatan dengan dapur. Rumi pun duduk di kursi meja makan dengan pandangannya tetap tertuju ke arah dapur untuk memandangi Raisa dari sana. Meski hanya bisa melihat tampak belakang alias punggung dari sosok istri tercintanya, Rumi sudah merasa senang dan cukup puas.


Tak butuh waktu lama, Raisa pun menghampirinya ke meja makan sambil membawa 2 piring spagethi di kedua tangannya.


Raisa meletakkan 2 piring spagethi yang dibawanya di atas meja makan. Lalu, ia pun duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan Rumi.


"Spagethi-nya sudah jadi. Maaf, ya, kali ini aku hanya bisa buatkan hidangan sederhana ini untuk makan malam kita berdua," ujar Raisa


"Sudah selesai, ya. Sayang sekali," kata Rumi


"Lho, kenapa? Bukankah kau sudah merasa lapar?" tanya Raisa


Raisa dibuat tersenyum oleh Rumi.


..."Bukannya merasa lapar, tapi Rumi hanya bilang ingin makan bersamaku. Lalu, dia juga bilang ingin memandangiku yang sedang memasak. Padahal dari sini pun dia hanya bisa melihat punggungku saja. Dasar, aneh ... " batin Raisa...


"Sudahlah ... jangan berkata gombal lagi. Kita makan saja," kata Raisa


"Padahal aku mengatakan yang sebenarnya dengan jujur. Ya sudah, ayo, kita makan saja," ujar Rumi


Hidangan makan malam kali ini adalah spagethi kering dengan bumbu saus pasta tomat, parutan keju, dan sosis di atasnya sebagai topping, serta kentang goreng yang diletakkan di pinggiran piring sebagai pelengkap karbohidrat pengganti nasi.


Raisa dan Rumi pun makan malam bersama.


"Bagaimana dengan rasanya? Enak tidak?" tanya Raisa


"Masakan buatanmu selalu terasa enak. Aku menyukainya," jawab Rumi


"Ingatlah untuk memperingatkan aku dengan kekuranganku termasuk dengan rasa masakan buatanku. Katakan saja jika memang ada yang tidak kau suka. Kau sudah berjanji akan memberi tahu padaku tentang apa saja yang kau suka," ucap Raisa


"Aku baru pertama kali membuat bumbu saus pasta secara langsung. Tidak tahu apakah rasanya sesuai dengan seleramu atau tidak," sambung Raisa


"Sepertinya seleramu akan menjadi seleraku juga. Aku akan mengatakannya jika memang rasa masakanmu terasa ada yang kurang, tapi sejauh ini aku selalu menyukai masakan buatanmu. Sungguh," ujar Rumi


"Syukurlah, kalau begitu ... " kata Raisa


"Oh, ya, Sayang ... kan, kita sudah mengurus proses pembuatan Kartu Tanda Pengenal untukku, apa artinya setelah ini aku sudah diakui menjadi warga lokal di sini?" tanya Rumi


"Masih belum dan yang benar itu Kartu Tanda Penduduk alias KTP. Karena kau termasuk warga negara asing, pada KTP milikmu nanti masih berlaku sementara dan menggunakan keterangan warga negara asing. Setelah tinggal di sini dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun atau lebih, baru kau bisa mengubah KTP dengan masa berlaku selamanya dan keterangan Warga Negara Indonesia melui proses pewarganegaraan," jelas Raisa


"Begitu, rupanya ... " kata Rumi sambil mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


"Tuan Philip benar-benar telah banyak membantu kita," sambung Rumi


"Rumi, sebenarnya aku masih merasa ragu dengan apa yang sejauh ini kita lakukan. Apakah yang kita lakukan ini sudah benar? Namun, maksudku bukan ingin menyesalinya," ujar Raisa


"Aku pernah membaca sebuah novel yang bahkan ceritanya sudah diangkat menjadi sebuah film. Ada seseorang yang membuat identitasnya di sebuah tempat dengan cara yang tidak sepatutnya. Namun, dalam proses kehidupan sehari-harinya mengalami kesulitan karena identitas aslinya terbongkar. Meski memang tetap bahagia dan baik-baik saja pada akhirnya," sambung Raisa


"Pada akhirnya cerita itu tetap berakhir bahagia dan baik-baik saja, kan?" tanya Rumi


"Itulah masalahnya. Cerita di dalam novel dengan kehidupan asli itu jauh berbeda. Novel itu hanyalah cerita fiksi yang bebas dibuat seperti apa pun juga. Sesulit apa pun akan berakhir bahagia jika memang penulisnya ingin membuatnya seperti itu, tapi faktanya tidak akan seindah kenyataan. Kenyataannya banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan di dalam kehidupan asli seperti ini. Sama seperti ... bicara memang mudah, tapi kenyataannya tidak akan semudah saat kita bicara," jelas Raisa


"Kau sudah berpikir terlalu jauh, Raisa. Kita hanya perlu menikmati saat-saat ini dan berusaha menjaga kebahagiaan ini agar selalu terjaga dan baik-baik saja. Bukankah dulu kau juga pernah mengalami yang seperti ini saat kita masih belum menikah dulu? Pada akhirnya kita tetap baik-baik saja bahkan sampai menikah seperti sekarang, kan?" tanya Rumi


"Kau benar. Sepertinya memang aku berpikir terlalu jauh saja," jawab Raisa


Rumi pun bergerak menggenggam tangan Raisa untuk menguatkan hatinya dan menyalurkan rasa tenang pada istri tercintanya itu.


Memang benar yang dikatakan Rumi. Dulu saat keduanya berpacaran, Raisa juga pernah merasa ragu karena keduanya tinggal di dunia yang berbeda dan berakhir dengan putusnya hubungan keduanya. Namun, akhirnya keduanya tetap bisa menikah dan keraguan yang dulu telah sirna. Harusnya Raisa tidak lagi merasa ragu seperti dulu dan hanya fokus pada kebahagiaan saat ini yang telah berada di depan mata.


Tak terasa keduanya mengobrol bersama sampai menghabiskan sepiring spagethi masing-masing dan makan malam pun telah usai.


"Makan malam sudah selesai. Aku akan mencuci piring dan peralatan masaknya," ucap Raisa


"Aku akan membantu," kata Rumi


"Tidak perlu. Kau mandi saja lebih dulu," ujar Raisa


"Oh, iya ... aku hanya ingin memberi tahu padamu bahwa kita akan memakai kamar tidur utama di lantai atas. Di sana sudah ada kamar mandi di dalamnya," sambung Raisa


Raisa pun membawa dua piring bekas makan malam tadi menuju ke dapur untuk dicuci.


"Memangnya kenapa? Aku bau, ya?" tanya Rumi


"Bukan seperti itu, Sayang. Kalau memang seperti itu, aku pasti lebih bau lagi. Tapi-"


Perkataan Raisa terhenti karena tiba-tiba saja Rumi menghampirinya dan menciumi aroma tubuhnya pada tengkuknya lagi. Membuat Raisa merasa terkejut akan sentuhan dari suaminya itu.


"Sayangku tidak pernah bau. Kau selalu wangi sepanjang hari," kata Rumi yang memuji sang istri.


"Baiklah. Aku akan mandi lebih dulu. Jangan rindu padaku. Aku akan langsung pergi ke kamar tidur utama di lantai atas," sambung Rumi


Setelah menggoda Raisa dengan menciumi tengkuknya, Rumi langsung melarikan diri menaiki anak tangga menuju ke lantai atas rumah.


Sesampainya di lantai atas Rumi langsung masuk ke dalam kamar tidur utama yang pernah Raisa tunjukkan padanya sebelumnya. Begitu masuk, Rumi terkejut dengan suasana dalam kamar tersebut. Namun, ia malah tersenyum.


Rumi pun langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan melakukan sesuatu.


"Raisa tidak memeriksanya. Mungkin dia masih sedang mencuci piring," gumam Rumi


Rumi pun memilih beralih untuk mandi lebih dulu dan mengabaikan suasana kamar yang membuatnya senyum-senyum sendiri itu.


 


Ponsel Raisa yang menggunakan mode getar mendapat pesan masuk dan bergetar di dalam saku pakaiannya. Namun, karena masih mencuci piring, Raisa mengabaikan notifikasi pesan yang masuk itu.


Setelah menyelesaikan kegiatannya mencuci piring, Raisa langsuung mengelap kedua tangannya yang basah menggunakan kain serbet yang ada di dapur itu. Lalu, ia pun langsung mengecek ponsel miliknya yang bergetar sebelumnya.


Pada barisan notifikasi terdapat pesan chat yang masuk. Saat memeriksanya, ternyata itu adalah pesan chat dari Rumi. Suaminya mengirimkan sebuah foto melalui pesan chat.


Begitu Raisa membuka pesan chat tersebut, ia tampak terkejut setelah melihat tampilan foto yang dikirimkan oleh suami tercintanya itu.


"Apa ini? Kenapa seperti ini jadinya?"


Raisa sangat tidak menyangka begitu melihat foto baru yang dikirim oleh Rumi beberapa menit yang lalu itu.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2