
Saat Raisa sedang bersiap hendak pergi, Yeni, Citra, dan Galih langsung menghampiri Bu Boss-nya itu.
"Sebelum Bu Raisa pulang, kami bertiga mau bicara sesuatu," kata Yeni memberanikan diri untuk membuka suara pertama kali.
"Ya, ada apa? Langsung bicara aja," ujar Raisa
"Bu Raisa, saya mau minta maaf sekali lagi buat masalah yang kemarin," ucap Yeni
"Kami berdua juga minta maaf, Bu," kata Citra dan Galih di saat yang bersamaan.
"Lho, Yeni ... bukannya masalah kemarin itu udah tuntas dan selesai dibicarakan kemarin juga? Itu juga bukan masalah kok. Kenapa kamu harus minta maaf lagi?" tanya Raisa merasa heran.
"Kalian berdua juga, Citra dan Galih, kenapa malah harus ikut-ikutan minta maaf? Emangnya kalian berdua buat salah apa?" tanya Raisa lagi.
"Salah salah, makanya saya minta maaf," jawab Yeni
"Pokoknya kami berdua minta maaf sama Bu Raisa," kata Citra dan Galih secara bersamaan.
"Saya gak anggap yang kemarin itu sebagai masalah atau kesalahan kok, Yeni. Kita jadikan itu sebagai pelajaran aja. Lalu, Citra dan Galih, kalian berdua gak buat salah apa-apa jadi gak harus minta maaf. Kalian semua jangan jadi sungkan atau segan sama saya. Kita semua harus jadi akur dan akrab, ya," ucap Raisa
Raisa memang tidak ingin mpermasalahkan atau memperpanjang masalah tentang datangnya wartawan dengan Yeni atau masalah ketiga pegawai kafenya itu yang bergosip jelek tentangnya. Dan meski ketiganya tidak mengakui kesalahan saat bergosip jelek tentangnya dan tidak berkata dengan jelas ingin minta maaf karena apa, Raisa pun tidak masalah dan tetap ingin merangkul ketiga pegawainya itu agar mereka semua dapat menjadi akrab.
Yeni, Citra, dan Galih yang awalnya bicara sambil menundukkan wajah pun langsung menegakkan kembali pandangan mereka.
"Terima kasih, Bu Raisa," ucap Yeni, Citra, dan Galih secara bersamaan.
"Udah dibilang, jangan sungkan atau segan sama saya. Kalau ada masalah apa pun bilang ... cerita, jangan cuma dipendam di dalam hati. Kita emang atasan dan bawahan, tapi anggap aja hubungan kerja kita seperti hubungan layaknya keluarga," ujar Raisa
"Baik, Bu. Sekali lagi, terima kasih," ucap Yeni, Citra, dan Galih secara bersamaan.
"Iya, sama-sama," balas Raisa
"Ya udah. Kalau begitu saya pergi dulu. Titip dan jaga kafe dengan baik, ya. Dan tolong bilang sama Gita kalau rencananya ditunda dulu. Saya mau pulang. Permisi," sambung Raisa
"Baik. Bu Raisa dan keluarga, hati-hati di jalan," kata Yeni
Raisa hanya mengangguk menanggapi perkataan Yeni. Lalu, beralih menghampiri keluarganya yang sudah menunggu untuk pulang bersama.
"Ada masalah apa tadi, Kak?" tanya Raihan
"Gak ada apa-apa kok. Cuma pamitan aja," jawab Raisa
"Yuk, kita pulang," sambung Raisa
"Yeay, pulang bareng Onty Icha!" seru Farah
Raisa pun beranjak pergi ke luar dari Kafe Putri dan berlalu untuk pulang bersama keluarganya.
"Tadi yang dimaksud bu Raisa rencananya ditunda itu apa, ya?" tanya Citra
"Aku juga gak tahu. Itu urusannya Bu Raisa sama Gita. Kita cuma perlu sampaikan ke Gita dan gak usah kepo atau ikut campur," jawab Yeni
"Betul, tuh ... yang penting kalian udah merasa lega karena udah minta maaf sama bu Raisa," kata Fira yang ikut menimbrung pembicaraan rekan kerjamya.
"Iya. Omong-omong, keluarga bu Raisa tadi belum bayar," ujar Galih
"Seperti kalian yang khusus dapat gratis coba menu kafe, keluarga Raisa juga kali ini dikasih gratis," ucap Nilam yang juga ikut menimbrung obrolah yang lain.
"Oh, iya! Aku lupa lagi mau minta foto bareng sama bu Raisa!" seru Yeni
"Tapi, gak apa-apa, deh ... masih bisa minta foto bareng lain kali," sambung Yeni
Raisa ikut pulang bersama keluarga ke rumah orangtua karena tidak ingin merasa kesepian dan terbawa perasaan sedih mengingat sang suami yang sedang berada jauh dengannya saat sedang sendiri di rumah. Wanita itu ingin mengalihkan pikirannya dan menghibur diri dengan cara pulang dan kembali berkumpul dengan keluarga. Karena mungkin jika bersama keluarganya yang ramai, ia tak lagi merasa sedih karena rindu saat berjauhan dengan sang suami tercinta.
"Raisa, boleh aja kamu main ke rumah, tapi gak baik juga kalau kamu ninggalin rumah saat suami kamu lagi gak ada di rumah. Dengan alasan apa pun, harusnya kamu tetap di rumah kalian untuk jaga harta benda di sana saat suami lagi pergi. Itu adalah yang telah dianjurkan dari dulu dan harusnya kamu izin sama suami sebelum pergi ke luar rumah," ucap Bu Vani
"Iya, Bu, aku juga mengerti soal itu kok. Tapi, susah juga dapat izin suami dalam kondisi kami yang seperti ini. Kan, Ibu juga tahu sendiri dengan fakta pekerjaan Rumi yang harus pergi ke kampung halamannya, paling aku cuma akan laporan kalau aku lagi di sini ke Rumi nanti," ujar Raisa
"Cuma sekali ini aja kok, Bu. Ini pertama kalinya aku sendirian setelah menikah. Rasanya aneh. Sebelum nikah aku selalu sama keluarga di rumah ini dan setelah nikah aku selalu sama Rumi, gak terbiasa sendirian aja. Lain kali aku tetap di rumah, deh. Ini juga karena Farah yang ajak. Farah mau aku temani dia dan aku gak mau sendiri, makanya aku ke sini. Kan, Farah cuma menginap semalam. Setelah Farah pulang ke rumah sama Mami Papi-nya, aku juga akan pulang," sambung Raisa
"Yang butuh ditemani bukan cuma Farah, tapi aku juga, nih ... " kata Raihan
__ADS_1
"Tumben kamu minta ditemani. Biasanya asik main sendiri," sahut Raisa
"Kak Raisa, lupa, ya? Kan, Kakak udah janji mau latih aku cara berpedang. Mumpung Farah lagi tidur siang, ayo kita mulai latihannya," ujar Raihan
"Kakak ingat kok. Kakak kira kamu masih belum mau latihan," kata Raisa
"Ayo, kita ke halaman belakang untuk mulai latihannya," sambung Raisa
"Yes!" seru Raihan yang merasa kegirangan karena hendak mulai berlatih cara berpedang bersama sang kakak.
Raisa dan Raihan pun beranjak bersama menuju ke halaman belakang rumah untuk berlatih cara berpedang di sana.
"Sekarang aku harus apa?" tanya Raihan.
"Lakukan pemanasan lebih dulu," jawab Raisa
"Harus banget pemanasan dulu, ya?" tanya Raihan seolah enggan.
"Semua olahraga atau latihan harus dimulai dari pemanasan dulu," jawab Raisa
"Oke, deh ... " patuh Raihan
Lelaki SMA itu pun mulai melakukan pemanasan solo, sedangkan Raisa hanya memerhatikan adik lelakinyal.
"Kak Raisa, yang bilang mau lapor ke kak Rumi kalau lagi ada di sini itu gimana caranya? Pakai ular sihir lagi?" tanya Raihan
"Ya, cuma itu cara satu-satunya. Seenggaknya itu mempermudah komunikasi dari sini ke dimensi dunia yang beda di sana," jawab Raisa
"Selagi ingat, sementara kamu lagi pemanasan, Kakak mau kirim kabar lewat ular sihir dulu. Setelah itu baru kita mulai latihan pedangnya," sambung Raisa
Raisa pun mengambil tas yang dibawa olehnya dan mengeluarkan ular sihir milik sang suami untuk mengirim kabar pada suami tercintanya sambil terus mengawasi sang adik lelaki yang masih melakukan pemanasan.
Setelah itu, barulah keduanya mulai fokus berlatih menggunakan pedang.
Dimulai dari Raihan yang mengubah bandul kalungnya menjadi belati es dan berlatih dengan menggunakannya lebih dulu. Setelah itu baru lelaki remaja itu mengubah gelang bulu menjadi pedang es dan mulai berlatih untuk menggunakannya.
Raihan berlatih dengan Raisa yang menjadi gurunya.
•••
Dan ini adalah hari kedua Raisa di rumah sendiri setelah pulang dari rumah orangtuanya. Saat ini Raisa sedang bersiap-siap untuk pergi menyusul ke kampung halaman sang suami.
Sebelum benar-benar pergi, Raosa lebih dulu memberi tahu pada keluarga melalui pesan chat bahwa ia akan pergi menyusul ke kampung halaman suaminya. Lalu, ia juga memberi tahu dan meminta pada pihak keamanan komplek perumahannya untuk menjaga keamanan rumahnya selama ia pergi. Setelah memastikan keamanan rumahnya akan terjamin, barulah Raisa menggunakan kemampuan sihir miliknya untuk membuka portal sihir teleportasi di halaman kecil belakang rumahnya untuk menuju ke Desa Daun aka kampung halaman sang suami.
Begitu memijakkan kaki ke tanah Desa Daun, Raisa pun menutup portal sihir teleportasi yang telah dibuka olehnya.
Di perjalanan menuju ke rumah di Desa Daun, Raisa bertemu dengan Monica dan Bibi Hani yang juga hendak menuju ke rumah mereka.
"Kak Raisa!" seru Monica
"Monica, Bibi Hani ... "
Raisa menunduk hormat pada Bibi Hani selaku orang yang lebih tua darinya.
"Raisa, baru datang, ya?" tanya Bibi Hani
"Benar, Bibi. Aku baru saja sampai," jawab Raisa
"Sebagai informasi untukmu saja, Rumi sedang pergi dari desa untuk menjalankan misi bersama Morgan dan Aqilah," ucap Bibi Hani
"Dengan Kak Ian dan timnya juga. Dua tim digabung dalam misi mereka saat ini," ungkap Monica
"Aku mengerti. Terima kasih sudah memberi tahukannya padaku," ucap Raisa
"Sama-sama, Raisa," balas Bibi Hani
"Karena Kak Raisa sedang sendiri, bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama?" tanya Monica
"Minica, Kak Raisa baru saja sampai. Pasti dia ingin istirahat," kata Bibi Hani
"Kalau begitu, bagaimana kalau nanti malam saja?" tanya Monica
__ADS_1
"Kalau sekarang aku harus pulang dan membersihkan rumah sebelum Rumi pulang, tapi kalau nanti malam aku bisa. Baiklah, ayo kita jalan-jalan bersama," jawab Raisa
"Malam ini pakailah pakaian yang tebal karena sekarang sudah mulai masuk musim dingin," kata Monica
"Baiklah, aku mengerti. Tapi, Monica, apa kau tahu Rumi tinggal di rumahnya atau di rumahku? Setelah menikah, kedua-duanya memang sudah menjadi rumah milik kami bersama. Namun, tetap saja Rumi pasti hanya menempati satu rumah saja," ujar Raisa bertanya.
"Maaf, Kak, soal itu aku tidak tahu. Menurut Kak Raisa sendiri, kemungkinan Kak Rumi akan menempati rumah yang mana?" tanya balik Monica
"Kalau Rumi, mungkin akan menempati rumahnya sendiri karena sudah terbiasa tinggal di sana sedari kecil. Baiklah, aku akan ke rumahnya saja," jelas Raisa
"Baiklah, Kak. Selamat datang dan istrirahatlah. Jangan lupa nanti malam, ya. Aku dan Ibu pulang dulu. Nanti malam aku akan menjemput Kak Raisa," ucap Monica
"Baiklah. Sampai jumpa lagi," kata Raisa
Mereka pun berpisah di sana. Monica dan Bibi Hani menuju ke rumah mereka sendiri, sedagkan Raisa menuju ke rumah sang suami.
Begitu sampai di depan rumah Rumi, karena pubtu rumah tersebut terkunci, Raisa tidak punya pilihan lain selain membuka kunci pintu dengan menggunakan kemampuan sihirnya seolah membobolnya.
Karena seperangkat kunci pintu biasanya terbuat dari logam, itu mempermudah Raisa untuk membukanya dengan menggunakan kemampuan sihir pengendali logam miliknya.
Setelah lintu berhasil terbuka, Raisa langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ternyata, Rumi lagi gak ada di rumah atau di desa ini. Gak apa, aku jadi bisa buat kejutan untuknya saat pulang nanti," gumam Raisa
"Aku lupa bertanya pada Monica dan Bibi Hani, berapa lama dan di mana lokasi misi Rumi saat ini."
..."Aku akan istirahat sebentar, baru akan mulai bersih-bersih nanti," batin Raisa...
Raisa pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk istirahat. Berniat hanya ingin tidur sebentar, Raisa pun mulai memejam kedua matanya perlahan.
...
Saat ini Raisa baru saja selesai bersiap-siap usai membersihkan rumah. Hari sudah gelap yang artinya wanita itu akan pergi berjalan-jalan setelah Monica datang menjemputnya. Itulah yang sudah disepakati sebelumnya.
Raisa juga sudah siap dan memastikan mengenakan pakaian tebal karena saat ini musim dingin telah tiba dan karena wanita cantik itu tidak tahan dengan hawa dingin.
Raisa sangat bersemangat karena ingin pergi jalan-jalan malam ini. Karena sang suami masih tidak ada di rumah jadi ia bisa menghilangkan rasa sedih dan sepi di hatinya serta menghibur diri dengan cara pergi jalan-jalan.
Saat pintu rumah diketuk dari luar, Raisa langsung bergegas membukanya.
Gadis cantik adik Morgan sekaligus pacar Ian itu langsung melambaikan tangan pada Raisa.
"Halo, Kak. Sudah siap dari tadi, ya?" tanya Monica usai menyapa.
"Aku baru selesai siap-siap kok. Hanya saja rasanya sudah tidak sabar ingin jalan-jalan," jelas Raisa
"Aku juga dan rasanya senang bisa jalan-jalan dengan Kak Raisa. Ayo, kita pergi, Kak!" seru Monica
"Ya, ayo ... " sahut Raisa
Raisa pun ke luar dari rumah dan tak lupa mengunci pintu rumah dengan menggunakan kemampuan sihir pengendali logam miliknya seperti saat ia membuka kunci pintu rumah tersebut.
Raisa pun mulai jalan-jalan malamnya bersama Monica.
"Kau pergi jalan-jalan denganku sudah lebih dulu izin dengan orangtuamu, kan, Monica?" tanya Raisa
"Sudah kok, Kak. Lagi pula, kan, ibu sudah tahu kalau kita ingin jalan-jalan," jawab Monica
"Apa yang ingin kita lakukan lebih dulu?" tanya balik Monica
"Aku tidak tahu denganmu, tapi dari tadi aku sudah memikirkan ingin makan. Bahkan saat datang aku masih belum makan apa pun selain minum teh hangat karena aku ingin banyak makan saat pergi denganmu malam ini," ungkap Raisa
"Jalan-jalan wisata kuliner saat malam hari juga bukan ide yang buruk. Saat ini Kak Raisa ingin makan apa?" tanya Monica lagi.
"Saat musim dingin seperti ini yang paling enak adalah makanan hangat yang berkuah. Sesuai kriteria makanan itu, terserah kau saja ingin merekomendasikan makanan apa untuk kita makan," jawab Raisa
"Baiklah. Ayo, kita makan makanan kuah yang hangat!" seru Monica
Monica tampak sangat antusias saat jalan-jalan dengan Raisa. Begitu pun dengan Raisa yang merasa senang berjalan-jalan ditemani oleh adik Morgan yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Meski keduanya baru bertemu dan menjadi akrab belum terlalu lama, bagi Raisa, ia sudah mengenal Monica sangat lama karena selalu melihat gadis itu sejak kecil melalui mimpi ajaibnya. Sama seperti Raisa yang melihat Rumi, Morgan, Aqila, dan yang lainnya di dalam mimpi ajaibnya juga.
.
__ADS_1
•
Bersambung.