Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
22 - [RAISA:] Aku Pulang!~


__ADS_3

Raisa pun mengucapkan semua yang harus ia ucapkan. Mengungkapkan semua termasuk mengucapkankan banyak terima kasih. Terutama pada Sanari yang memperbolehkan ia menginap di rumahnya...


"Kau terlalu sungkan, Raisa. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Sudah pasti kami menerimamu sebagai tamu yang berjasa. Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Ujar Sanari


"Iya..."


"Benar!"


"Sudah pasti kami menerimamu dan akan selalu begitu kapan pun kau kembali ke sini." Ucap Aqila


"Kau juga jagalah dirimu baik-baik, Raisa..." Ujar Amy dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ian, sekali lagi, terima kasih untuk bunganya. Aku akan merawatnya di rumahku di sana. Sampaikan ini juga pada Bibi Irene." Ucap Raisa yang membawa buket bunga pemberian Ian di pangkuan satu tangannya. Yang sempat ia rawat pula di rumah Sanari.


"Ya, sama-sama." Balas Ian


Raisa pun menggerakkan sebelah tangannya. Pergelangan tangannya bergerak berputar secara perlahan... Dan portal antar dimensi pun terbuka~


Lingkaran hitam pun muncul!


"Biar bagaimana pun keluargaku menungguku kembali pulang... Aku harus pergi!" Ujar Raisa


"Sepertinya kau masih belum menceritakan semua tentangmu pada kami. Kau curang! Padahal kau mengetahui banyak tentang kami melalui mimpimu. Kau berhutang cerita pada kami di pertemuan kita selanjutnya. Ceritakan semua tentangmu, Raisa! Kami menunggu..." Ucap Morgan bermaksud ingin mengetahui kehidupan Raisa yang sebenarnya.


Raisa terkekeh kecil...


"Ya!" Singkat Raisa


Setelah saling mengenal, Raisa selalu mengetahui tentang mereka semua. Mereka saling melewati hari dengan santai bersama. Tapi, mereka melupakan, bisa saja atau bahkan pasti Raisa mempunyai keluarga sendiri. Mereka melupakan hal yang penting! Bahwa Raisa memiliki orang-orang terkasihnya sendiri yang menunggu kepulangannya.


Keluarga!~


"Selamat jalan, Raisa!" Kata Wanda


"Sampai jumpa lagi!!~" Serentak semuanya...


Saat itu juga, Raisa terus berusaha menahan emosinya. Berusaha keras agar air matanya tak terjatuh maupun mengeluarkan suara isakan.


Raisa menggenggam erat tas yang dibawanya, bahkan sampai meremasnya. Berusaha keras menguatkan diri pada perpisahan kali ini.


Raisa pun menoleh~


Memperhatikan dan menatap teman-teman beda dimensinya itu satu persatu...


Saat itu, tangan Rumi tergerak untuk terulur menggenggam tangan Raisa. Raisa sedikit tersentak, kebingungan.


"Kau baik-baiklah di sana, Raisa... Kami semua akan selalu menunggu dan menyambut kehadiranmu lagi kapan pun kau datang ke sini." Ucap Rumi


Raisa pun balik menggenggam tangan Rumi dengan satu tangannya yang lain...


Menggenggamnya dengan erat! Seolah tak ingin melepaskan~


"Terima kasih! Dan, sampai jumpa lagi, Rumi..." Ujar Raisa


Dengan perasaan enggan, Raisa pun melepaskan genggaman tangan Rumi dari tangannya~


"Semuanya... SAMPAI JUMPA LAGI...!~" Kata Raisa


Raisa pun berbalik. Menghadapkan dirinya dengan portal antar dimensi yang telah menunggunya untuk memasukinya.


Dada Raisa terasa sesak seiring momen perpisahan ini. Ia tak sanggup lagi menahannya. Setetas air pun menitik dari sudut matanya...


Suara isak tangis pun terdengar kecil dari bibirnya~


Namun, ia menghapus tetesan air matanya. Kembali menguatkan dirinya!


Raisa menoleh sejenak untuk melambaikan tangannya.


Lalu, Raisa pun menasuki portal antar dimensi yang telah ditentukan tujuannya.


Syuuuhh...!


Shaaa~


Portal pun menutup kemudian menghilang dari pandangan...


"Sampai jumpa lagi, Raisa~" Gumam Rumi dengan pelan.

__ADS_1


HUWWAAAAAAAAA...!!~


Setelah Raisa benar-benar pergi, tangisan Amy pun pecah!


"Padahal kau sudah berusaha keras menahannya tadi, Amy. Ternyata tangisanmu pacah juga setelah Raisa pergi." Ucap Wanda


"Amy, tenanglah..." Kata Sanari


"Aku tak sanggup menahannya lagi!" Ujar Amy


•••


Hiks!


Hik hiks~


Air mata Raisa akhirnya mengalir bebas setelah ia sampai pada tujuannya.


Kini, Raisa telah kembali ke dunianya di dimensi yang berbeda dengan sebelumnya.


"Sudahlah, Raisa... Jangan menangis! Kau pasti akan bisa kembali lagi ke sana suatu saat nanti. Sekarang, kau sudah kembali ke dunia asalmu... Harusnya kau bahagia~" Gumam Raisa


Raisa pun menghapus jejak bekas air matanya...


Lslu, melihat sekeliling~


Untung saja, sekarang sedang jamnya sibuk bekerja. Tempat itu terlihat sepi untuk saat ini.


Raisa pun menyadari satu hal...


...'Tempat ini...!?!' Batin Raisa...


Itu adalah di atas atap minimarket!


"Ini tempat pertama kali aku bertemu mereka yang dari dimensi asing! Tempat aku menanti firasatku yang benar-benar terwujud saat itu..." Gumam Raisa


Cuaca cerah bahkan cukup terik. Sebentar lagi waktunya orang-orang keluar untuk jam makan siang saat bekerja. Ini gawat!


...'Semoga tak ada yang melihat dan menyadari keberadaanku di sini...' Batin Raisa...


"Eh!? Apa tadi gua salah liat? Kayaknya tadi gua liat orang di atas situ... Gua kira bakal ada yang bunuh diri. Tapi, sekarang ga ada, ngilang! Di depan gedungnya juga ga ada orang jatuh... Apa gua halusinasi di tengah hari? Aneh!~" Seseorang pun kemudian berlalu begitu saja.





Raisa terus berjalan sepanjang jalan menuju rumahnya...


Angkutan umum yang berlalu lalang terlihat penuh. Taxi yang lewat pun tak menerima penumpang karena sudah waktunya istirahat makan siang.


Raisa melihat ponselnya. Memperhatikan layar ponselnya...


Setelah berusaha memulihkan sinyal setelah kepulangannya, baterai ponselnya malah habis! Ponselnya pun mati~


"Hhh~ Benar saja... Baterai hpku habis! Aku jadi tidak bisa memesan taxi online. Bisa membuka aplikasinya pun belum tentu dapat, karena mereka sibuk makan siang dan beristirahat di jam ini." Gumam Raisa


Tempat Raisa berada tidak terlalu jauh dari rumahnya. Jarak tempuh dengan berjalan kaki pun tidak akan terlalu lama. Yang jadi masalah adalah alasan yang dibuatnya sebelum pergi adalah karena penyakitnya kambuh. Jika begini, Raisa takut ada orang yang nengenalinya dan beranggapan dirinya berbohong dan membolos sekolah selama kurang lebih satu minggu.


...'Semoga tidak ada yang memperhatikanku. Aku akan memilih jalan yang sepi untuk pulang.' Batin Raisa...


...'Tutur bahasaku jadi berbeda setelah menetap di sana beberapa waktu. Menyadari itu jadi terasa aneh! Semoga mereka yang mendengar nanti tidak kaget dengan ucapanku...' Batin Raisa lagi....


"Aku harus mengubah cara bicaraku lagi. Menyesuaikan dengan awal bagaimana aku bicara, seperti sebelumnya!" Gumam Raisa


Raisa pun terkekeh...


Menyadari bahasa dan tempat keberadaannya sekarang berbeda, ia merasa aneh sendiri. Orang lain pasti akan menganggapnya kolot dengan bahasa formalnya itu...


•••


Setelah terus berjalan kaki dengan sabar, akhirnya Raisa pun sampai di rumahnya~


Melihat halaman rumahnya yang kosong dan terasa sepi, Raisa pun terus berjalan masuk menuju pintu rumahnya.


Toktoktok!

__ADS_1


Raisa mengetuk pintu sebelum masuk.


Setelah tidak ada respon, Raisa pun membuka pintu rumahnya.


Ternyata pintu rumah tak terkunci. Raisa pun melangkah masuk ke dalam rumahnya...





"Bu, kenapa? Kok diem aja, melamun begitu?" Tanyanya, Pak Hilman. Bapak-nya Raisa.


"Semalem Ibu mimpiin Raisa, Pak. Ibu kangen dia... Gimana kabarnya, keadaannya? Apa dia sehat dan baik-baik aja? Apa dia nemuin kesulitan di tempat jauh yang kita ga tau di mana? Ibu khawatir, Pak." Ungkapnya, Bu Vani. Ibu-nya Raisa...


"Ibu tenang ya. Jangan khawatir... Kita harus percaya sama Raisa, anak kita. Dia itu orang yang hebat. Anak kita punya kemampuan yang ga sembarang orang punya. Raisa spesial! Dia juga pintar... Anak kita pasti bisa melewati apa pun yang harus dia lewati. Kita doakan saja. Semoga dia bisa cepat pulang." Ucap Pak Hilman


"Ibu, Bapak...?!"


"Ada yang datang..." Kata Bu Vani


"Siapa ya?" Tanya Pak Hilman


"Bu, Pak? Ade... Ini, Raisa. Aku pulang!~" Ujarnya, Raisa yang terus menyusuri ruangan di rumahnya.


Raisa terus masuk ke dalam rumahnya. Mencari keberadaan orang di rumahnya. Hingga akhirnya melihat adanya bayangan manusia. Itu adalah Ibu dan Bapaknya!


"Itu suaranya Raisa, Pak! Raisa...?" Bu Vani berdiri dari duduknya hendak mencari arah datangnya suara tersebut.


"RAISA!"


Pada akhirnya, Raisa-lah yang terlebih dulu menemukan keberadaan Ibu dan Bapaknya.


"Ibu, Bapak... Raisa pulang." Kata Raisa


Raisa pun mendekat, sampai akhirnya memeluk tubuh Sang Ibu.


"Raisa, kamu pulang, Nak? Syukurlah... Kamu baik-baik aja dan udah pulang sekarang." Ujar Bu Vani, mengusap-usap kepala putri terkasihnya, Raisa.


"Syukurlah, kamu selamat, Raisa." Kata Pak Hilman


"Iya, Bu, Pak. Raisa udah pulang dan baik-baik aja." Ucap Raisa


"Kamu sehat kan, Nak? Ga ada yang luka atau apa kan, Raisa?" Tanya Bu Vani yang khawatir.


"Raisa kan udah pulang dengan selamat, Bu. Ga kurang ga lebih. Sehat sentosa!" Jawab Raisa


"Syukurlah... Selama ini Ibu khawatir tau ga!?" Kata Bu Vani


"Iya, Ibumu ini kamu tau sendiri. Dia khawatir sampai susah tidur, makan pun cuma sedikit. Terus aja ngomongin kamu..." Ungkap Pak Hilman


Raisa pun melepaskan pelukannya dengan Sang Ibu.


"Terus, Ibu jadi kurus dong? Tapi, Ibu tetap mandi kan? Siapa tau kan Ibu jadi kayak yang orang bilang, 'Mandi tak basah, makan tak habis, tidur tak nyenyak'." Tanya Raisa disertai candaannya.


"Kamu ini masih aja bisa becanda!" Tegur Bu Vani


"Habis... Ibu segitu ga percayanya ya sama Raisa? Ga percaya sama anak sendiri? Aku sedih lho... Lagi pula, aku ini hebat! Ibu Bapak sendiri yang bilang kalo aku tuh spesial... Aku tuh beda, Bu. Lain kali Ibu ga boleh gini lagi! Karena ini udah takdir aku, Bu. Dan, aku rasa setelah ini pun masih ada hal serupa lain kali lagi. Jadi, Ibu dan yang lain pun harus membiasakan diri." Jelas Raisa


"Bapak juga udah bilang begitu. Tapi, Ibumu masih aja tetap gelisah." Ujar Pak Hilman


"Ibu mana sih yang ga khawatir kalo anak lagi jauh, terus cuek bebek gitu aja? Gimana pun kan ini pertama kalinya." Ucap Bu Vani


"Ini pengalaman baru Raisa sama Ibu dan yang lain begini ya? Iya sih... Tapi, Ibu juga gimana pun harus terbiasa dengan ini ya, Bu. Raisa ga mau setelah Raisa pulang di lain kesempatan nanti, malah ngeliat Ibu sakit karena mikirin Raisa." Ucap Raisa


"Ibu harus lebih tegar ya? Ya, Ibu akan coba tegar lain kali. Gimana pun ini takdir kamu sebagai anak yang terlahir spesial, ya kan? Tapi, kamu juga harus selamat dan baik-baik aja ya..." Ujar Bu Vani


"Pasti dong, Bu. Percaya deh sama Raisa." Kata Raisa


"Sekarang, coba ceritain ke mana aja dan ngapain aja kamu selama dua minggu ini..." Pinta Pak Hilman


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2