Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 131 - Senam Bibir.


__ADS_3

Malam hari ini, Raisa sudah selesai memasak untuk makan malam. Rumi pun sudah menunggu di hadapan meja makan yang sudah tersaji hidangan buatan sang istri tercinta. Namun, Raisa malah lebih dulu memberi makan pada Mina si kucing putih peliharaannya.


"Mina harus lebih dulu diberi makan supaya dia tidak mengganggu kita saat sedang makan," kata Raisa


Raisa pun meletakkan mangkuk makanan kucing di hadapan Mina di atas lantai. Lalu, wanita itu mencuci kedua tangannya dengan sabun di bawah air yang mengalir pada washtafel hingga akhirnya mrngelap kedua tangannya yang basah dengan serbet motif kotak-kotak yang berada di dapur.


Setelah itu, barulah Raisa menghampiri Rumi dan duduk bersebrangan dengan suaminya itu yang berbataskan meja makan di hadapan keduanya.


"Kenapa makanannya belum kau sentuh?" tanya Raisa


"Aku menunggumu supaya kita bisa makan bersama," jawab Rumi


"Aku hanya memberi makan untuk Mina sebentar, tidak masalah jika kau ingin makan lebih dulu. Itu bukan berarti kita tidak bisa makan bersama," ucap Raisa


"Tidak apa. Aku tetap ingin menunggumu supaya bisa makan sambil memandang wajahmu yang cantik," ujar Rumi


"Baiklah-baiklah ... kita sudah bisa makan sekarang," kata Raisa sambil tersenyum karena mendengar perkataan manis dari sang suami.


"Selamat makan!" Raisa dan Rumi menyerukan saat bersamaan.


Raisa dan Rumi pun makan malam bersama. Ralat. Kali ini mereka berdua telah menambah personil karena sudah ada Mina si kucing putih sebagai anggota baru rumah tersebut.


Usai makan, Mina masuk ke dalam rumah kucingnya. Sedangkan Raisa dan Rumi naik ke lantai atas lalu masuk ke dalam kamar.


Rumi terduduk di tepi ranjang usai mengenakan pakaian tidurnya. Pria itu menunggu sang istri yang masih berada di dalam kamar mandi.


Saat Raisa ke luar dari kamar mandi, Rumi langsung memandangi wanita cantik itu.


Raisa ke luar dari kamar mandi dengan memakai gaun berwarna biru langit sebawah lutut yang sempat dipilihkan Rumi untuknya saat berbelanja di Desa Daun. Raisa sengaja memakainya untuk diperlihatkan pada Rumi dan meminta pendapat sang suami tentang penampilannya memakai gaun tersebut saat ini.


Rumi terpana melihat penampilan Raisa karena terbilang jarang melihat istri cantiknya memakai gaun. Wanita itu lebih suka mengenakan setelan pakaian dengan celana panjang sebagai bawahannya.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Raisa


"Bagaimana ... apanya? Memangnya kenapa?" tanya balik Rumi masih dengan tatapan terpesona.


"Ternyata, kau tidak ingat. Padahal ini adalah gaun yang kau pilihkan sendiri untukku saat di Desa Daun. Aku ingin menanyakan pendapatmu tentang penampilanku. Selain tidak ingat bahwa ini gaun pilihanmu, sepertinya kau tidak menyukai penampilanku karena aku tidak cantik," ujar Raisa yang langsung memasang ekspresi cemberut karena kecewa dengan respon sang suami yang tampak biasa saja.


Melihat raut wajah kecewa sang istri, Rumi langsung bangkit berdiri dan menghampiri Raisa sambil tersenyum tipis.


"Maaf, Sayang ... aku hanya merasa heran saat kau memakai gaun karena biasanya kau lebih suka memakai setelan dengan celana. Aku memang lupa sempat memilihkan gaun yang kau pakai sekarang ini," ucap Rumi


"Ternyata, aku memang tidak cantik, ya ... responmu biasa saja," kata Raisa


"Aku memang selalu seperti ini dan seperti biasa kau selalu terlihat sangat cantik. Tidak peduli dengan pakaian apa pun yang kau gunakan. Makanya, aku sudah tidak heran lagi karena ... istriku ini senantiasa sangat cantik," ungkap Rumi


"Tidak memakai apa pun kau juga tetap terlihat cantik, Sayang ... " sambung Rumi sambil berbisik.


Ekspresi cemberut pada wajah Raisa kini telah berganti dengan senyuman manis serta rona merah di kedua pipinya setelah mendengar pujian dari sang suami.


"Kau ini bisa saja," kata Raisa


"Terima kasih karena sudah menghargai pilihanku dengan memakai gaun ini, Sayang," ucap Rumi


"Jadi, apa kau menyukainya?" tanya Raisa


"Sangat suka. Aku menyukaimu," ungkap Rumi


"Baguslah. Aku hanya ingin menunjukkannya padamu. Kalau begitu, aku ganti dulu dengan pakaian tidur," ujar Raisa


Raisa yang memang hanya ingin menunjukkan penampilannya dengan gaun pilihan suaminya itu merasa kurang nyaman jika harus tidur dengan penampilannya yang sekarang, jadi wanita itu pun hendak mengganti pakaian dengan piyama tidur seperti biasa. Namun, Rumi menahannya saat hendak beranjak.


Rumi menarik Raisa seolah memeluknya, tapi sebenarnya pria itu sedang berusaha menurunkan resleting gaun di balik punggung sang istri dengan posisi mesra itu.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Raisa


"Aku akan membantumu melepas gaun ini," jawab Rumi

__ADS_1


Setelah resleting gaun terbuka sempurna, Rumi pun membelai punggung mulus Raisa dengan jemari dan telapak tangannya.


Seketika saja tubuh Raisa langsung meremang merasakan sentuhan tangan sang suami yang mampu membuatnya seperti meleleh. Namun, saat Rumi bahkan berusaha membuka pengait br* miliknya, Raisa pun tersadar dari buaiannya.


"Rumi, kau ingin apa?" tanya Raisa


"Sudah kubilang, aku ingin membantumu melepas gaun ini," jawab Rumi


"Lalu, kenapa tanganmu juga membuka yang lain?" tanya Raisa


"Aku akan memberimu hadiah karena sudah berusaha membuatku merasa senang dengan memakai gaun pilihanku ini," ungkap Rumi


Rumi pun mulai beraksi menjelajahi leher jenjang Raisa dengan bibir dan lidahnya. Tanpa sadar Raisa langsung memberi akses lebih dengan mendongakkan kepalanya agar sang suami dapat mengeksplor lebih. Raisa bahkan mengeluarkan suara lenguhan dengan bebas dari mulutnya.


Tangan Rumi tidak tinggal diam. Beralih meraba paha Raisa dengan menyingkap gaun yang masih membalut tubuh indah sang istri.


Rumi pun menarik diri untuk menatap Raisa lekat-lekat. Raisa tersenyum manis.


"Jadi, siapa yang akan mendapat hadiah setelah ini?" tanya Raisa


"Kita berdua. Meski pun bukan hadiah, kita akan sama-sama merasa senang dan puas," jawab Rumi


"Jangan sampai merusak gaunnya. Ini masih baru dan merupakan pilihanmu untukku," ucap Raisa


"Tidak akan," kata Rumi


Rumi langsung menyambar bibir dan mencium Raisa dengan mesra. Awalnya, Raisa membiarkan sang suami bermain pada bibirnya. Namun, kemudian wanita itu pun membalas permainan bibir sang suami sambil nengalungkan kedua tangannya pada leher pria tercintanya itu.


Mendapat lampu hijau dan respon baik dari Raisa, Rumi pun langsung mengangkat pinggang sang istri untuk memindahkan tubuh istri tercinta untuk duduk di atas ranjang.


Rumi menyempatkan untuk melepaskan ciuman untuk menanggalkan atasan yang masih dipakainya serta melepas gaun dan br* sang istri dengan gerakan cepat.


Rumi pun kembali menyerang sang istri dan bermain pada leher hingga turun ke dada. Mulutnya bergerilya pada dua gundukan indah milik istri cantiknya. Raisa pun membusungkan dada untuk memberi kemudahan pada sang suami.


Saat Rumi terus menjelajah ke bawah, Raisa tak tahan lagi untuk menahan tubuhnya untuk tetap terduduk hingga akhirnya wanita itu menjatuhkan tubuhnya pada kasur yang empuk dan nyaman itu. Saat itulah, Rumi melepaskan kain yang tersisa yang masih menghalangi tubuh keduanya. Hingga akhirnya sepasang insan itu pun telah bertubuh polos tanpa sehelai benang.


•••


Hari-H Acara Pembukaan Kafe Putri.


Raisa dan Rumi sedang bersiap. Ralat. Tentu saja, Rumi sedang menunggu sang istri yang masih bersiap karena dirinya sendiri telah siap dari beberapa menit yang lalu.


Raisa memakai gaun sebawah lutut dengan warna putih, sedangkan Rumi memakai kemeja warna putih dan celana bahan berwarna biru keabu-abuan. Karena memang warna tema kali ini adalah putih bagi Raisa dan Rumi.


"Apa yang harus kulakukan saat bersamamu di kedai kopi milikmu nanti?" tanya Rumi


"Tentu saja, menemaniku," jawab Raisa


"Hanya itu? Apa aku hanya perlu berdiam diri?" tanya Rumi


"Kau tidak perlu hanya berdiam diri seperti patung. Lakukan saja apa yang kau mau di sana nanti. Aku tidak perlu membatasimu dan tidak ingin mengaturmu, kau bebas," jawab Raisa


"Sebenarnya aku pun tidak tahu apa yang akan kulakukan saat ada di sana nanti. Aku baru pertama kali mengadakan acara seperti ini dan pengalamanku melihat acara yang serupa pun tidak ada. Mungkin aku akan sedikut berpidato tentang kesan dan pesan kedai kopi tersebut atau mungkin juga menarik pelanggan untuk datang," sambung Raisa


"Mungkin kau juga akan menemaniku untuk menarik pelanggan. Dengan wajahmu yang tampan pasti banyak perempuan yang berdatangan. Apa aku terkesan seperti memanfaatkan suamiku sendiri? Atau aku tidak usah mengajakmu pergi ke sana saja? Aku pun sebenarnya tidak rela membawamu karena takut kau dikerubungi oleh para perempuan cantik," tambah Raisa yang sedari tadi nyerocos begitu Rumi mengajukan pertanyaan.


Dilihat dari tingkahnya, Raisa jelas sedang menutupi rasa gugupnya dengan kehebohannya berbicara dan Rumi tahu itu.


"Sebanyak atau seperti apa pun perempuan yang ada, bagiku tetap hanya kau seorang yang tercantik. Tenang saja karena aku tidak akan menatapi perempuan lain selain istriku yang cantik ini. Jadi, ajaklah aku pergi karena aku ingin terus bersama denganmu," ujar Rumi


"Aku pun ingin terus bersama dengamu, Suami tampanku," kata Raisa


"Tampaknya kau sangat bersemangat. Apa kau merasa gugup, Sayang?" tanya Rumi


"Sedikit. Bohong jika aku bilang tidak gugup," ungkap Raisa


"Katamu, aku boleh melakukan apa yang kumau di sana. Lalu, apa aku boleh mendekatimu dan memelukmu seperti ini?" tanya Rumi yang langsung menghampiri, menarik, dan merangkul pinggang Raisa hingga tubuh bagian depan keduanya saling bersentuhan.

__ADS_1


"Sayang, kau jangan macam-macam. Di sana nanti akan ada banyak orang karena itu adalah tempat umum," ujar Raisa memperingati sang suami sambil hendak memukul dada Rumi.


Namun, Rumi lebih dulu menangkap pergelangan tangan kiri Raisa sebelum mendarat di dadanya. Bahkan pria itu juga mengurai kepalan dan menundukkan wajahnya untuk mengecup punggung tangan kiri Raisa yang hampir mengenai dadanya. Raisa hanya terdiam.


"Aku mengerti, Sayang. Tenangkan saja dirimu dan tidak perlu merasa gugup," kata Rumi


"Kau tidak perlu khawatir. Dari pada mengerubungi aku, orang-orang pasti lebih memilih mengerubungi dirimu yang merupakan seorang artis cantik. Atau paling tidak mereka hanya akan sedikit melirikku karena aku adalah suami dari artis cantik yang terkenal dan mereka akan berpendapat ... tentu saja harus tampan karena dia adalah suami dari artis yang cantik. Seperti itu baru sepadan. Kau tidak perlu gugup karena kau pasti sudah sering mengalami hal seperti itu," sambung Rumi


"Justru karena sudah sering mengalaminya, entah kenapa aku jadi tidak pernah terlepas dari rasa gugup," ucap Raisa


"Tapi, topik perkataanmu tadi adalah artis cantik, ya? Padahal nanti aku hanya akan menjadi pemilik kedai kopi biasa," sambung Raisa sambil tertawa kecil dengan manis.


"Nah, seperti ini baru benar. Kau hanya perlu tertawa manis dan berakhir dengan tersenyum cantik. Meski kau hanya pemilik kedai kopi sekali pun, kau akan diingat sebagai pemilik kedai kopi paling cantik yang pernah ada," ujar Rumi


"Bagaimana kalau tawaku jadi terlihat sinis dan senyumku jadi tampak buruk karena gugup yang kurasakan?" tanya Raisa


"Tidak akan. Percaya padaku. Mungkin kau hanya akan sedikit bertingkah malu-malu, tapi kau akan selalu terlihat sangat cantik. Buktinya adalah aku yang selalu terpesona dengn kecantikanmu," jelas Rumi


Wajah Raisa merona merah dan wanita itu tersenyum malu. Lalu, Raisa pun menghela nafas kasar demi mencoba membuang rasa gugupnya.


Rumi pun tersenyum.


"Bagaimana kalau kita sedikit bersenam untuk menghilangkan rasa gugupmu?" tanya Rumi memberi saran.


"Senam apa?" tanya balik Raisa


"Senam bibir dan mulut. Maksudku morning kiss ... aku masih belum mendapatkannya," jawab Rumi


"Waktunya sudah dekat. Kita harus segera berangkat agar tidak terlambat," kata Raisa


Raisa menoleh ke arah jam dinding untuk memeriksa waktu saat ini. Namun, Rumi menarik wajah Raisa agar kembali menatap ke arahnya.


"Di saat seperti ini kau hanya perlu fokus menatap ke arahku. Sebentar saja. Ini tidak akan membuang waktu lama," ucap Rumi


Rumi pun langsung menarik tengkuk Raisa untuk saling menempelkan bibir keduanya. Morning kiss yang sudah menjadi rutinitas biasa kini menjadi cara untuk menghilangkan rasa gugup. Seperti itulah saran Rumi untuk Raisa.


Rumi tersenyum saat mengakhiri ciumannya dan langsung mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya dengan ibu jarinya.


"Untung saja aku hanya memakai pelembab bibir tanpa warna. Kalau tidak pewarna bibirku sudah jadi berantakan karena ulahmu," ujar Raisa


"Apa kau sudah siap, Sayang? Apa kita harus berangkat sekarang juga?" tanya Rumi mengalihkan topik pembicaraan agar sang istri tidak berlama-lama marah padanya.


"Apa penampilanku masih rapi? Apa aku harus bersiap sekali lagi?" tanya balik Raisa


"Tidak perlu. Seperti yang sudah kukatakan, kau sangat cantik. Kau sempurna, Sayangku," jawab Rumi


"Kau juga sangat tampan," kata Raisa


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang saja," ujar Rumi


Raisa mengangguk. Namun, wanita itu lebih dulu sedikit merapikan pakaian sang suami. Lalu, Raisa dan Rumi pun bergerak ke luar dari kamar. Menuruni lantai atas bersama hingga beranjak ke luar dari rumah dengan saling bergenggaman tangan.


"Kau memberi nama apa untuk kedai kopi milikmu?" tanya Rumi


"Dengan nama tengahku. Kafe Putri. Begitu juga dengan toko bungaku yang diberi nama Putri Bunga," jawab Raisa


"Aku tahu kau juga nemiliki toko bunga, tapi kau belum banyak menceritakan padaku tentang toko bunga milikmu itu," ucap Rumi


"Akan aku ceritakan nanti, tapi tidak banyak juga yang bisa diceritakan. Itu hanya tempat usaha biasa," kata Raisa


Mobil online yang dipesan oleh Raisa sudah datang menjemput. Raisa dan Rumi memang akan pergi menggunakan mobil online.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil tersebut untuk berangkat menuju ke lokasi Kafe Putri.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2