Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
113 - Ini Baru Adil!


__ADS_3

Setelah hidangan utama, yaitu nasi tumpeng sudah habis dimakan bersama... Kini, hanya tersisa beberapa jenis kue panggang yang asik dimakan sebagai camilan bersama.


Sambil memakan camilan kue bersama, semuanya asik mengobrol dan bersenda gurau...


"Sebenarnya, aku merasa tidak enak dengan kalian semua. Aku berhasil lulus juga karena kalian membantuku dalam belajar, setelah lulus kalian yang malah repot merayakannya untukku, bahkan sampai ada yang memberiku hadiah kelulusan." Tutur Raisa


"Kau ini terlalu sungkan pada kami, semua temanmu, Raisa!" Kata Billy


"Kau lulus dengan kerja kerasmu. Saat ujian adalah usahamu, lulus adalah keberhasilanmu. Bukan karena kami, kami hanya sedikit memberimu dorongan dengan membantumu." Ujar Dennis


"Yang jelas, aku sangat berterima kasih pada kalian semua. Terima kasih banyak! Sudah banyak merepotkan kalian..." Ucap Raisa


"Sudahlah... Di saat seperti ini kita harus bergembira, itu yang terpenting!" Kata Chilla


"Ah, benar juga! Kalian ingat, aku pernah bilang ingin berkeliling sambil berkuda? Kalau kalian tertarik, aku ingin mengajak kalian ke tempat berkuda di sini. Karena ada kesempatan, aku ingin berlatih menaiki kuda bersama kalian semua." Ujar Raisa


"Di sini ada tempat pelatihan berkuda?" Tanya Morgan


"Aku yang mengajak kalian, tentu saja, ada! Lokasi di sini adalah pedesaan. Sangat cocok untuk berternak dan mengembang biakkan kuda, dan juga ada jasa pelatihan menunggang kuda. Aku sangat ingin mengajak kalian pergi bersama ke sana. Aku sudah pernah sekali ke sana, tapi hanya ada kesempatan berfoto di atas punggung kuda karena saat itu sudah terlalu sore dan kondisinya juga sedang hujan. Kali ini aku sangat bersemangat ingin berpacu sambil menunggung kuda! Ah, aku sendiri sudah tidak sabar!" Ungkap Raisa


"Kalau kau sendiri saja sudah seantusias ini, kami hanya bisa ikut denganmu." Kata Aqila


"Sepertinya akan seru!" Kata Amy


"Lakukanlah apa pun yang membuatmu bahagia dan kami pun akan ikut dalam kebahagiaanmu itu, Raisa." Ucap Rumi


Setelah merayakan kelulusan Raisa dengan perayaan kecil-kecilan yang sederhana dan membereskan semua bekas peralatan perayaan, semuanya pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak untuk segera bersiap pergi ke tempat pelatihan berkuda.


Di dalam kamar, Raisa sedang menyiapkan barang yang akan dibawanya ke tempat pelatihan berkuda dan memasukkannya ke dalam tas pinggang miliknya. Raisa dan semua teman yang lain sudah menyepakati waktu mereka pergi ke tempat pelatihan berkuda tersebut. Sebentar lagi waktu janji tiba dan semua akan berkumpul sebelum berangkat pergi bersama-sama.


Untuk hal yang ditunggu-tunggu satu ini, Raisa sangat bersemangat dan tidak sabar. Raisa sudah membayangkan dirinya saat menunggangi kuda sejak kecil dan ingin segera merealisasikannya saat baru memiliki kesempatan di usia remaja ini.


Saat sedang sibuk berkemas, pintu kamar berbunyi ketukan dari arah luar. Raisa pun mendekat ke arah pintu masuk kamarnya...


"Siapa ya?" Tanya Raisa dari dalam kamarnya.


"Ini aku... Bolehkah aku masuk, Raisa?" Ujarnya dari luar kamar.


Raisa mengenali suara ini yang sudah sangat dihafalnya.


..."Ada apa lagi harus menemuiku diam-diam seperti ini?" Batin Raisa...


"Rumi, mau apa kau datang?" Tanya Raisa yang masih belum membukakan pintu kamarnya.


"Aku ingin bicara sebentar saja. Bisakah?" Katanya, yang ternyata adalah Rumi.


"Hanya sebentar? Kau janji?" Raisa ingin memastikan ucapan lelaki yang menunggunya di luar pintu kamarnya.


"Benar, aku janji!" Yakin Rumi


Kriiett~~


Pintu kamar pun terbuka pertanda Raisa mengizinkan Rumi untuk masuk dan berbicara sebentar dengannya.


Setelah Rumi masuk, Raisa kembali menutup pintu kamarnya... Dan langsung berhadapan dengan Rumi untuk bicara~


"Kau ada perlu denganku?" Tanya Raisa


"Iya. Wah, kau sudah selesai bersiap ya, Raisa?" Ujar Rumi yang melihat sebuah tas pinggang yang sudah Raisa persiapkan sebelumnya.


"Iya, aku sudah tidak sabar untuk pergi! Oh, kau datang mencariku untuk menjemputku pergi secepatnya ya, Rumi? Baiklah, ayo! Kita cepat berangkat dan temui teman yang lain sekarang juga!" Ucap Raisa dengan semangat antusiasnya yang menggebu-gebu.


"Kau sudah sangat tidak sabar bertemu kuda-kuda di sana nantinya sampai aku pun cemburu dengan itu. Sebelumnya, bahkan aku cemburu dengan Farah, keponakan kecilmu itu..." Ujar Rumi


"Kau cemburu?" Heran Raisa seolah bertanya, 'apa yang patut membuatmu cemburu sampai seperti ini?'


"Ya, benar. Bolehkah aku menyampaikan maksudku?" Kata Rumi


"Tentu saja, katakanlah! Apa maksudmu?" Ujar Raisa


"Tapi, kau jangan marah ya. Sebenarnya, aku cemburu saat Farah mencium pipimu pagi hari ini tadi. Sekarang, kau bahkan sangat menanti pertemuanmu dan waktu bermainmu dengan berkuda sampai mengabaikan maksud kedatanganku yang mencarimu ke sini. Aku juga tidak menyangka akan jadi pencemburu seperti ini, tapi inilah yang kurasakan. Apa yang harus kulakukan, Raisa?" Ungkap Rumi


"Pfft! Aku bahkan sudah kehabisan kata untuk merespon sikap pencemburumu ini, Rumi. Masa aku masih harus menjelaskan padamu? Kau tenang saja, perasaan cemburumu itu memang cukup beralasan walau sedikit berlebihan, tapi perasaan cemburu itu hanyalah perasaan saat kau merasa posisimu terancam. Bukankah kemarin sudah kubilang, aku mencintaimu!? Posisimu di hatiku akan tetap sama dan takkan tergantikan, jadi tidak perlu khawatir. Tapi, hal yang kau cemburukan itu tetap bagian dari hidupku. Tidak bisakah kau menerimanya juga seperti kau menerimaku?" Jelas Raisa


"Syukurlah... Aku sudah senang dan tenang saat dapat mendengar suaramu dan melihatmu. Terserah apa pun yang akan kau lakukan, yang penting kita bisa bersama." Kata Rumi


"Selalu saja seperti ini. Jika kau tahu akan seperti ini, untuk apa lagi kau merasa cemburu?" Ujar Raisa

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Seperti itu sudah tertanam dalam diriku yang bisa muncul kapan saja." Ucap Rumi


"Sudah kan? Ayo, kita temui teman yang lain dan segera pergi!" Kata Raisa


"Sebelum itu, satu lagi... Bolehkah aku menciummu?" Ujar Rumi yang bertanya untuk meminta izin.


"Kau ini! Sesering apa kau ingin men...ciumku sih!? Tidak baik sering melakukan hal itu, tahu! Aku menolak!" Tegas Raisa yang sebenarnya merasa malu-malu.


..."Aku memintamu untuk selalu meminta izinku terlebih dulu bukan berarti saat kau ingin kau terus langsung menanyakan izinku! Tidak sehat bagi jantung jika kau sering melakukannya!" Batin Raisa yang bermaksud jantungnya selalu berdebar tak karuan setiap Rumi meminta izin untuk menciumnya....


"Aku hanya ingin mencium pipimu saja kok..." Kata Rumi meminta.


"Oh!" Raisa hanya ber-'oh' ria


"Boleh ya?" Rumi yang langsung mendekat dan menundukkan pandangannya langsung pada Raisa.


Melihat raut wajah Rumi yang seolah memohon padanya tentu saja membuatnya menjadi lemah dan tidak tega...


"Kau ini selalu saja membuatku tidak bisa menolak!" Ucap Raisa pertanda telah mengizinkan.


CUP!


Seolah tahu Raisa telah memberinya izin, Rumi langsung mengecup pipi kiri Raisa~


"Karena Farah sudah mencium pipi kananmu, setidaknya aku juga harus meninggalkan jejak di pipi kirimu. Ini baru adil! Terima kasih, Raisa." Ucap Rumi


"Adil, apanya!? Anak kecil saja bisa membuatmu cemburu sampai seperti sedang kebakaran jenggot saja!" Kata Raisa seolah sedang memberi kritik sambil memukul pelan dada Rumi.


Raisa berbalik ingin ke luar dari kamarnya juga dengan mengajak Rumi bersamanya. Namun, tanpa aba-aba Raisa kembali berbalik menghadap Rumi di belakangnya~


"Oh ya, satu lagi! Aku tidak suka dan sudah lelah dengan sifatmu yang terus mengeluh tentang rasa cemburumu itu. Cobalah menahannya dan mengatasinya sendiri! Bukan untuk dibesar-besarkan, tapi cobalah untuk lebih bersabar dan hilangkan rasa cemburumu itu dengan caramu sendiri." Ungkap Raisa


"Ugh, baiklah!" Patuh Rumi dengan perasaan pasrah.


Setelah mengungkap uneg-unegnya, Raisa langsung mengajak Rumi untuk ke luar dari dalam kamarnya.


Saat menemui teman yang lain, ternyata semua teman yang lain sudah lengkap bersiap dan tinggal menunggu Raisa dan Rumi saja. Setelah ke luar dari kamar, yang lain melihat Rumi sedang merangkul Raisa yang sedang berjalan bersamanya.


"Kau kenapa, Raisa?" Tanya Morgan


"Makanya, aku berjaja di sisinya." Kata Rumi


"Kalau begini, bagaimana kau ingin bermain nanti?" Tanya Devan


"Ini hanya sementara saja. Setelah sampai dan melihat banyak kuda di sana, semangatku pasti pulih lagi!" Jawab Raisa


"Kalian semua sudah siap? Kalau begitu, kita langsung berangkat saja." Ujar Raisa yang akhirnya mengajak semua temannya untuk pergi.


Setelah semua lengkap berkumpul, mereka semua pun pergi berangkat dengan berjalan kaki. Karena walau tidak begitu dekat, lokasi pelatihan berkuda tersebut masih berada di desa yang sama dengan vila tempat mereka semua menginap...


Setelah mengobrol ria selama berjalan, akhirnya mereka semua pun sampai di tempat tujuan.


"Akhirnya, kita semua sampai! Di sinilah tempatnya!" Kata Raisa


"Tempatnya luas juga!" Seru Billy


"Benar! Awalnya, di sini hanya ada peternakan kuda di lahan yang kecil. Lalu, semenjak sukses, tempat ini diperluas menjadi tanah yang lapang dan perternakannya pun diperbesar." Jelas Raisa


"Ternyata, tamunya sudah datang!" Seru seseorang yang baru saja muncul di sana.


"Ah, dengan Pak Wisnu ya? Saya Raisa, yang meminta Pak Danu untuk menelpon tempat ini jika kami semua akan datang hari ini." Ungkap Raisa lalu berjabat tangan dengan seorang bernama Wisnu.


"Ini, Neng Raisa yang waktu kecil pernah ke sini itu ya? Sekarang sudah jadi gadis, ternyata makin cantik!" Ujar Pak Wisnu disertai pujian manis.


"Haha, bisa saja! Itu kejadian sudah lama sekali, ternyata masih ada yang ingat." Kata Raisa


"Eh, pasti ingat dong! Waktu itu keluarga Eneng lagi liburan ke sini juga, terus Neng Raisa merengek mau naik kuda sambil berkeliling, tapi cuma dapat kesempatan foto di atas kuda doang karena sudah turun hujan. Waktu itu saya juga yang bantu Neng Raisa nsik ke atas kuda dan Neng panggil saya dengan sebutan kakak. Gak sangka pas ketemu lagi sekarang sudah tua, Neng Raisa sudah panggil saya dengan sebutan Bapak..." Ungkap Pak Wisnu


"Belum terlalu tua juga kok, yang penting kan sehat, Pak." Ucap Raisa


"Benar juga! Ya sudah, ayo! Pada mau menunggang kuda kan? Sama-sama kita pilih kudanya yang ke dalam kandang, kebetulan kandang kudanya juga baru selesai dibersihkan. Mari, ikut saya." Ujar Pak Wisnu


Semua pun mengikuti Pak Wisnu untuk masuk ke dalam kandang kuda dan memilih kuda untung ditunggangi.


"Wah, kuda di sini makin banyak ya, Pak." Kagum Raisa begitu melihat banyaknya kuda di sana.


"Benar. Ini semua kuda hasil ternak kami. Neng Raisa dan semua temannya ingin menunggang kuda seorang sendiri?" Ujar Pak Wisnu

__ADS_1


"Ah, soal itu saya kurang tahu. Soalnya, datang ke sini adalah rencana dadakan dan bisa dibilang saya yang memaksa semua teman saya untuk ikut karena keinginan saya yang sudah membayangkan menunggang kuda sejak kecil dulu." Ungkap Raisa


"Oh, kalau begitu kalian semua bisa ikut lihat-lihat dulu. Kalau tertarik saat melihat kuda, akan langsung saya periksa. Apa kudanya cocok untuk dipakai atau tidak." Ucap Pak Wisnu


Karena awal tempat tersebut adalah untuk tujuan peternakan, Raisa dan teman-teman dibawa oleh Pak Wisnu untik lebih ke dalam kandang memilih jenis kuda tunggang.


"Nah, mulai dari sini... Semuanya adalah jenis kuda tunggang dan ada juga beberapa kuda pacuan." Ucap PakWisnu


"Wah, kuda ini gagah sekali!" Kata Morgan


"Jenis kuda hitam ini disebut kuda Morgan. Tentu saja dia termasuk kuda yang paling gagah!" Ungkap Pak Wisnu


"Sepertinya kau akan cocok menunggangi kuda itu, Morgan! Nama kalian saja sama!" Kata Devan


"Ya sudah, aku mau pilih kuda ini!" Kata Morgan


Selain Morgan, yang lain pun memilih kuda tunggang masing-masing...


"Aku tidak mau menunggang kuda! Paman, apa satu kuda bisa dinaiki dua orang? Sepertinya lebih baik aku menunggang kuda yang sama dengan Aqila saja." Ujar Chilla


"Tentu saja, bisa!" Kata Pak Wisnu


"Sudah kuduga, kau terlalu malas untuk naik kuda. Tapi, apa kau tidak kasihan dengan kuda yang dipilih Aqila? Tubuhmu kan berat, kuda itu pasti akan cepat lelah." Ujar Ian


"Berisik!" Marah Chilla


"Aku juga tidak mau menunggang sendirian! Aku takut akan terjatuh dari atas kuda. Aku ikut naik kuda pilihanmu saja ya, Wanda." Ucap Amy


"Kenapa begitu? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa ini akan seru?" Tanya Sandra


"Entahlah. Pokoknya aku ikut bersama dengan Wanda saja." Kata Amy yang tubuhnya sedikit bergetar. Sepertinya Amy takut saat melihat kuda.


"Kau juga tidak ikut memilih kuda, Dennis?" Tanya Marcel


"Sebenarnya aku kurang tertarik. Aku di sini melihat-lihat saja." Jawab Dennis


"Tak ada yang memaksamu juga sih. Kalau kau juga takut, kau naik kuda bersama denganku saja." Ucap Marcel


"Baiklah. Kau yang menawarkan padaku, akan kuterima!" Kata Dennis


Semua yang ingin menakmi kuda sudah memilih kudanya masing-masing, kecuali Raisa...


"Wah, kuda putih! Cantik sekali! Kau cocok dengan kuda pilihanmu, Rumi! Kau seperti tokoh dalam dongeng saja... Pangeran tampan berkuda putih!" Kata Raisa


"Kukira tidak akan ada kuda yang mau dipilih oleh lelaki ular sepertimu. Hehehe." Bisik Raisa bergurau. Lelaki ular yang Raisa maksud adalah ciri khas sihir yang dimiliki Rumi.


"Kau sendiri kenapa tidak memilih kudamu sendiri, Raisa?" Tanya Rumi


"Jangan bilang kalau kau ternyata juga takut? Padahal, kau yang sudah semangat sebelum datang ke sini..." Ujar Billy


"Haha, tidak. Aku begitu mengagumi hewan ini, aku hanya membiarkan kalian memilih lebih dulu, dan menjadi pemilih yang terakhir." Ucap Raisa


"Kukira malah kau yang akan memilih lebih dulu karena takut kuda incaranmu dipilih orang lain." Ujar Aqila


"Tidak juga, bagiku yang penting itu adalah kuda. Aku akan senang menikmati waktu bermain menunggang kuda." Kata Raisa


"Bagi yang sudah mendapat kuda pilihan, bisa lewat sini untuk memasang pelana kuda dan langsung menunggu di luar. Kalau Neng Raisa mau pilih kuda yang seperti apa?" Ujar Pak Wisnu seraya menunjuk arah pemasangan pelana kuda dan beralih pada Raisa yang ingin memilih kuda.


Kecuali Raisa, semuanya pun beranjak membawa kuda pilihannya masing-masing untuk dipasangkan pelana dan langsung menuju lapangan. Sedangkan Raisa masih tetap bersama Pak Wisnu untuk memilih kudanya sendiri...


"Saya juga ingin kuda yang gagah. Apa di sini hanya ada jenis kuda tunggang? Apa ada kuda pacuan juga? Apa area khusus pacuan juga ada?" Ujar Raisa


"Beberapa kuda tunggang di sini juga bisa dipakai untuk pacuan kuda. Untuk pemula, biasanya hanya belajar cara sederhana menunggang kuda." Ucap Pak Wisnu


"Tapi, saya percaya bisa cepat menguasai cara belajarnya. Apa boleh saya mencobanya langsung?" Ujar Raisa


"Ingin mencoba juga harus dari tahap awal." Kata Pak Wisnu


"Saya akan berusaha!" Girang Raisa


Raisa pun memilih kudanya sendiri. Apa pun jenisnya yang penting adalah pelari cepat, gagah, dan cantik!


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2